• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Praktik Manajemen Kualitas pada Knowledge Creation (KC)

2. Budaya organisasi memediasi pengaruh Knowledge Creation pada kinerja (H7) Bedasarkan nilai specifict indirect effect diperoleh nilai T statistik sebesar 4.778 >

4.3. Pembahasan Hasil

4.4.2. Pengaruh Praktik Manajemen Kualitas pada Knowledge Creation (KC)

Hasil pengujian hipotesis 2 yang menyatakan QMP berpengaruh positif pada Knowledge Ceration (KC) adalah didukung. Hasil ini menunjukkan bahwa proses KC di

tingkat prodi baik pada perguruan tinggi negeri ataupun swasta didukung dengan efektivitas implementasi QMP. Praktik manajemen kualitas (QMP) dengan kapabilitas peran kepemimpinan, perencanaan strategis, SDM, peran konsumen dan manajemen proses telah mendukung proses KC dimana pada tahap kombinasi pengetahuan prodi mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki prodi dengan memproses konsep secara sistematisasi dan menggabungkan berbagai pengetahuan eksplisit yaitu sebesar 4.26. Artinya prodi berupaya memadukan dan mendesain informasi-informasi agar menghasilkan pengetahuan baru/ide baru. Selanjutnya ditahap internalisas sebesar 4.24 yakni tahap proses mewujudkan pengetahuan ekplisit menjadi tacit artinya semua peran QMP mendukung proses penginternalisasian melalui aktivitas dalam penyampaian pengetahuan dilakukan secara formal dan informal, mengembangkan kreativitas mengemas pengetahuan menjadi ke berbagai bentuk fisik ( seperti buku panduan) maupun dan non fisik sehingga dapat membantu meningkatkan pengetahuan seluruh sivitas akademik.

Peran QMP pada KC ditahap eksternalisasi adalah sebesar 4.07. Eksternalisasi merupakan tahap proses mengartikulasikan pengetahuan tacit menjadi konsep eksplisit (perubahan pengetahuan dari ide/pikiran yang bersifat abstrak menjadi sebuah konsep jelas yang dapat dirancang/dikonsepsualisasikan), wujud nyata ari aktivitas eksternalisasi adanya sikap kerelaan berbagi pengetahuan melalui contoh aksi nyata (simulasi) dan kerelaan memberikan gagasan atas pengetahuan/ pengalaman pribadi. Sedangkan peran QMP pada KC ditahap sosialisasi adalah sebesar 4.04. yaitu sosialisasi merupakan proses berbagi pemikiran dan pengalaman untuk menciptakan pengetahuan tacit seperti pemikiran, persepsi, mental bersama dan keterampilan teknis sehingga sifat perubahan

pengetahuan tahap ini adalah pengetahuan dari tacit ke tacit. Pada tahap ini prodi berupaya menstimulus anggota organisasi prodi akan kesadaran sikap berbagi pengetahuan yang bersumber dari ide pikir dan pengalaman misalnya kesadaran belajar mandiri dengan mengamati, menyimak dan mempraktikkan hasil belajar yang didapat dari orang lain serta kerelaan atau kesediaan berbagi rasa, dan pengalaman dengan dosen dan staf atas informasi/ pengetahuan yang dimiliki.

Berpijak pada konsep Knowledge Based View (KBV) bahwa kemampuan KBV dalam menciptakan nilai tidak hanya didasarkan pada banyaknya sumber daya fisik dan keuangan melainkan pada kemampuan berbasis pengetahuan yang tidak berwujud (integible knowledge based capability) sehingga menghasilkan kompetensi inti (Grant, 1996). Anggapan mendasari KBV sebagai input penting dan sebagai sumber daya utama dalam keunggulan kompetitif adalah nilai dari pengetahuan itu sendiri sehingga untuk menghasilkan pengetahuan baru yang bernilai perlu didukung dengan praktik manajemen kualitas (Grant, 1996). Bahkan, konsep Deming (1994) berpendapat bahwa efforts upaya terbaik dan kerja keras organisasi, jika tidak dibimbing oleh pengetahuan baru, diibaratkan hanya menggali lebih dalam di lubang yang sudah ada. Ini menunjukkan bahwa pemahaman pengetahuan organisasi harus berperan sentral dalam memahami kegiatan peningkatan kinerja organisasi. Pendekatan teori Nonaka dan Takeuchi (1995) menjelaskan bahwa pandangan berbasis pengetahuan dapat memberikan upaya luas akan sifat dan pengertiannya termasuk cara mengelolanya termasuk mengelola proses penciptaan pengetahuan (Knowlege Creation Process) artinya strategi dalam pengelolaan pengetahuan merupakan proses menciptakan, mentransfer, membagikan, mengasimilasikan dan mengaplikasikan pengetahuan menjadi pengetahuan yang bernilai

bagi organisasi sehingga implementasi manajemen kualitas yang didukung dengan proses penciptaan pengetahuan organisasi akan menghasilkan kinerja organisasi. Diperkuat dengan Grant, (1996) mengungkapkan bahwa pengetahuan merupakan sumber daya organisasi yang penting dan penentu keunggulan kompetitif berkelanjutan, dan pengetahuan heterogen bisa memberikan keunggulan kompetitif yang bergantung pada QMP. Selanjutnya pendapat Curado, (2006) bahwa strategi sumberdaya pengetahuan untuk tata kelola organisasi berorientasi pada manajemen kualitas sehingga implementasi QMP mendukung proses KC (Linderman et al., 2004).

Pada konsep Ikujiro Nonaka (1994) menjelaskan implementasi QMP dapat mendukung proses konversi pengetahuan artinya organisasi dapat menciptakan lebih banyak pengetahuan menjadi pengetahuan yang baru sesuai dengan kedinamisan lingkungan dan kebutuhannya sebagai informasi yang bermanfaat bagi organisasi.

Menurutnya, penciptaan pengetahuan adalah proses interaksi yang saling menguatkan antara pengetahuan eksplisit dan tacit. Interaksi antara pengetahuan eksplisit dan tacit mengarah pada KC baru. Kombinasi dari dua kategori memungkinkan untuk mengonseptualisasikan empat pola konversi atau proses KC yang meliputi Sosialisasi, Eksternalisasi, Kombinasi, dan Internalisasi (SECI).

Tahap kombinasi pengetahuan dijelaskan oleh Nonaka (1994) sebagai proses menggabungkan berbagai jenis pengetahuan eksplisit ke dalam keseluruhan yang baru.

Pengetahuan eksplisit yang ada di katalog yang berulang dan diperluas menjadi pengetahuan eksplisit baru. Combination merupakan dimensi dengan nilai rata-rata tertinggi yaitu 4,26. Hal ini berarti kombinasi merupakan faktor yang tertinggi dalam penciptaan pengetahuan. Kombinasi merupakan proses konversi dapat dicapai melalui

groupware untuk menciptakan pengetahuan organisasi baru. Untuk itu perguruan tinggi harus mampu mempertahankan dan menambah groupware agar mampu menciptakan pengetahuan yang selalu baru.

KC pada tahap kombinasi (eksplisit ke eksplisit) terjadi di mana manajer menggabungkan data dari berbagai sumber untuk membuat keputusan berdasarkan informasi. Tahap kombinasi menyediakan cara untuk meningkatkan produk dan layanan dengan menyalurkan data dan informasi di antara layanan pelanggan, R&D, proses akademik dan fungsi organisasi lainnya. Beberapa hasil penelitian sebelumnya yang selaras dan mendukung konsep Nonaka (1994) mengungkapkan bahwa QMP menciptakan pengetahuan serta mengarah ke kinerja organisasi Choo et al., (2007), Shan et al., (2013), Ali Zwain et al., (2014) (Shan et al., 2013). Temuan lainya menemukan bahwa QMP berdampak langsung pada proses KC dan QMP berdampak tidak langsung pada proses KC. (Tsai, Li, Lee, dan Tung, 2011)

Tahap internalisasi pengetahuan dijelaskan oleh Nonaka (1994) sebagai proses konsep sistematisasi dan menggabungkan berbagai pengetahuan eksplisit melalui proses internalisasi, pengetahuan eksplisit dibuat menggunakan pengetahuan tacit dan dibagikan pada seluruh sivitas organisasi. Internalisasi sering terjadi melalui pengalaman ulang apa yang telah dipelajari, seperti yang sering terjadi dalam pembelajaran sambil bekerja (learning by doing). Jenis pengetahuan ini dapat digambarkan sebagai pengetahuan operasional. KC melalui internalisasi (eksplisit ke tacit) terjadi ketika karyawan menggunakan prosedur dan instruksi kerja untuk melaksanakan tugas mereka.

Internalisasi mengarah pada KC dalam berbagai cara. Pertama, pelaksanaan tugas mengarah pada pembelajaran dengan melakukan bahkan untuk membantu meningkatkan

pemahaman proses. Elemen kognitif dari pengetahuan tacit memungkinkan individu untuk membingkai ulang pengetahuan mereka, yang mengarah pada kejelasan konseptual dan penciptaan pengetahuan di tingkat yang lebih tinggi. Kedua, pelaksanaan proses dan QMP selama periode waktu mengarah pada pengembangan rutinitas. Rutinitas tertanam dalam interaksi dinamis dari berbagai sumber pengetahuan dan lebih spesifik sehingga mengarah pada keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Asif et al., 2013). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menemukan bahwa implementasi QMP sebagai strategi yang efektif dan selaras dengan tujuan organisasi menjadi suatu kontribusi yang bernilai dalam proses KC sehingga mengarah pada terciptanya pengetahuan baru (Shan et al., 2013; Asif et al., 2013; Ali Zwain et al., 2014).

Tahap eksternalisasi dijelaskan dalam konsep Nonaka (1994) lebih berfokus pada menghubungkan dan mengkonversi pengetahuan tacit ke pengetahuan eksplisit sehingga membantu menciptakan pengetahuan baru, Proses eksternalisasi dapat diwujudkan dalam metafora, analogi, konsep, hipotesis dan model. Jenis konversi pengetahuan eksternalisasi ini dapat digambarkan sebagai pengetahuan konseptual. Begitu pula dengan tahap sosialisasi pengetahuan yang merupakan proses berbagi pengalaman sehinga menciptakan pengetahuan tacit seperti model mental bersama dan keterampilan teknis.

Namun pada tahap sosialisasi ini perguruan tinggi perlu berupaya menstimulus kembali kesadaran memabngun rasa empati atau kepedulian seluruh sivitas untuk berbagi pemikiran dan pengalaman antar anggota organisasi sehingga proses penciptaan pengetahuan ini benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kinerja organisasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi QMP dengan prinsip kepemimpinan, perencanaan strategis, manajemen proses, keterlibatan SDM dan orientasi kepuasan konsumen secara komprehensif berpengaruh terhadap proses KC. Berbeda dengan hasil peneltian sebelumnya yang menemukan bahwa QMP tidak berpengaruh pada KC (Shan et al. 2013) . Hasil dalam penelitian ini menunjukan keselarasan dengan teori Ikujiro Nonaka (1994) yang menjelaskan bahwa implementasi QMP dapat mendukung proses konversi pengetahuan artinya organisasi dapat menciptakan lebih banyak pengetahuan menjadi pengetahuan yang baru sesuai dengan kedinamisan lingkungan organisasi. Peran manajemen kualitas mendukung konsep KBV pada pengembangan konsep Resource Base View (RBV) sebagai faktor strategis yang terintegrasi pada sumberdaya pengetahuan terkait proses KC menjadi aset organisasi yang bernilai bagi kepentingan managerial sebagai alat pengambilan keputusan.

Disisi lain hasil penelitian ini menguatkan konsep QMP sebagai variabel prediktor sekaligus menjawab kesenjangan dari penelitian sebelumnya untuk pengujian QMP – KC menjadi tersimpulkan yaitu menunjukan pengaruh yang kuat . Hasil ini selaras dengan hasil penelitian sebelumnya bahwa QMP berpengaruh pada proses KC (Haorani, 2017;

Asif et al., 2013 dan Ali Zwain et al., 2014).

Dokumen terkait