• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan 2. Pengaruh Priming Benih Padi Gogo pada Kondisi Sub Optimum Optimum

Hasil rekapitulasi sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara genotipe dan priming berpengaruh sangat nyata terhadap daya berkecambah dan panjang akar, berpengaruh nyata terhadap panjang plumula, tetapi tidak nyata terhadap bobot kering kecambah normal dan indeks vigor. Faktor tunggal genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap daya berkecambah, bobot kering kecambah normal dan panjang akar, serta berpengaruh nyata terhadap indeks vigor dan panjang plumula. Faktor tunggal priming menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap daya berkecambah, panjang plumula dan panjang akar, berpengaruh nyata terhadap bobot kering kecambah normal dan tidak nyata terhadap indeks vigor (Tabel 7).

Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Pengaruh Interaksi antara Genotipe dan Priming Tolok Ukur Viabilitas Potensial dan Vigor Benih pada Kondisi Substrat Sub Optimum

Tolok Ukur Perlakuan Koefisien

G P G x P

Keragaman (%) Viabilitas Potensial:

Daya Berkecambah (DB) ** ** ** 15.71a)

Bobot Kering Kecambah Normal (BKKN) ** * tn 23.89a) Vigor:

Indeks Vigor (IV) * tn tn 8.41a)

Panjang Plumula (PP) ** ** * 17.75

Panjang Akar (PA) ** ** ** 15.09

Keterangan : a) = Data ditransformasi ke (√x+0.5);

* = Berpengaruh nyata menurut Uji F pada taraf α 5 %, ** = Berpengaruh sangat nyata menurut Uji F pada taraf α 1 %, tn = Tidak berpengaruh nyata

Secara keseluruhan, daya berkecambah padi gogo pada kondisi sub optimum sangat rendah, antara 2.12% hingga 7.85%. Perlakuan priming P1 dan P2 dapat meningkatkan daya berkecambah pada genotipe B12648F-MR-1 sebesar 2.17% dan 2.40%, genotipe B12155D-MR-21 sebesar 1.93% dan 1.74% dan genotipe B12159D-MR-52 sebesar 3.82% dan sebesar 1.47%; selain itu, P2 juga dapat meningkatkan DB pada genotipe B11593F-MR-11-B-2-8 sebesar 2.04%. Perlakuan P3 hanya mampu meningkatkan DB secara nyata pada genotipe B12159D-MR-52 saja yaitu sebesar 1.47%. Pada genotipe B12159D-MR-52, seluruh perlakuan priming dapat meningkatkan daya berkecambah benih padi gogo sebesar 3.82% pada perlakuan KNO3, sebesar 1.47% pada perlakuan hydro-priming dan GA3 (Tabel 8). Perlakuan priming ternyata dapat membantu meningkatkan perkecambahan benih padi gogo pada kondisi sub optimum.

Tabel 8. Pengaruh Interaksi antara Genotipe dan Priming terhadap Daya Berkecambah (%) pada Kondisi Sub Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 B1289C-MR-69 2.12 m 2.65 lm 2.65 lm 3.54 h-m B12648F-MR-1 3.13 j-m 5.30 def (+2.17) 5.53 cde (+2.40) 4.51 e-j B12155D-MR-21 3.51 i-m 5.44 cde (+1.93) 5.25 def (+1.74) 3.89 f-l B12159D-MR-52 3.33 i-m 7.15 ab (+3.82) 4.80 e-h (+1.47) 4.80 e-h (+1.47) B11599D-TB-5-2-4 3.54 i-m 4.72 e-i 4.48 e-j 2.90 lm Batutugi 3.13 j-m 3.71 h-l 2.86 lm 3.54 h-m TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 4.51 e-j 5.19 def 5.33 c-f 5.07 d-g B11580E-TB-17-1-1-1 7.85 a 7.44 ab 7.50 ab 6.95 ab B11593F-MR-11-B-2-8 3.03 klm 3.98 f-l 5.07 d-g (+2.04) 3.13 j-m B11580E-MR-7-2-43 6.67 ab 7.52 ab 7.22 ab 6.29 abc

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 1%. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm. Angka bertanda (+) menunjukkan peningkatan nilai peubahdibandingkan kontrol (P0).

Pada kondisi kekeringan, perlakuan priming juga mampu meningkatkan perkecambahan. Sesuai dengan hasil penelitian Liao et al., (2005) bahwa, priming GA3 dapat meningkatkan perkecambahan pada benih gandum pada

cekaman kekeringan PEG -0.5 MPa. Pada penelitian lain, perlakuan hydro-priming dapat meningkatkan daya berkecambah pada benih lentil pada cekaman PEG -0.6 MPa (Saglam et al., 2010).

Beberapa penelitian lain menyebutkan bahwa, pada kondisi cekaman suhu, perlakuan priming juga dapat meningkatkan daya berkecambah benihnya. Hasil penelitian Nascimento dan de Aragao (2004), Akman, (2009) dan Dursun dan Ekinci, (2010) menunjukkan bahwa, pada kondisi cekaman suhu rendah, larutan KNO3 pada benih muskmelon, perlakuan priming dengan GA3 pada benih padi, sorghum, perlakuan hydro-priming dan KNO3 pada benih parsley menunjukkan respon peningkatan nilai daya berkecambah. Pada cekaman suhu tinggi, perlakuan

priming GA3 benih jagung, serta perlakuan hydro-priming dan KNO3 pada benih

lettuce dapat meningkatkan daya berkecambah (Kenanoglu et al., 2007 dan Jahangir et al., 2009).

Pada cekaman salinitas, perlakuan priming juga dapat meningkatkan nilai daya berkecambah benih pada komoditas lainnya. Priming GA3 dapat meningkatkan perkecambahan benih bit gula pada cekaman sailinitas (Jamil dan Rha, 2007). Pada kondisi cekaman salinitas perlakuan hydro-priming juga dapat meningkatkan perkecambahan benih cabe (Amjad et al., 2007). Perlakuan KNO3

meningkatkan daya berkecambah benih kubis pada kondisi salinitas (Hassanpourghdam et al., 2007). Perlakuan hydro-priming dapat meningkatkan daya berkecambah benih jintan pada cekaman salinitas (Neamatollahi et al., 2009). Perlakuan hydro-priming tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap peningkatkan daya berkecambah, sedangkan GA3 dapat meningkatkan perkecambahan benih marigold dan sweet fennel pada kondisi cekaman salinitas (Sedghi et al., 2010).

Pada kondisi cekaman dan komoditas yang berbeda, perlakuan priming dapat menurunkan nilai daya berkecambah. Pada kondisi cekaman salinitas perlakuan priming GA3 tidak mampu meningkatkan perkecambahan gandum (Afzal et al., 2005). Perlakuan hydro-priming juga menurunkan perkecambahan benih kedelai pada cekaman suhu rendah (Mohammadi, 2009).

Peningkatan panjang plumula hanya pada perlakuan P1 pada genotipe B1289C-MR-69 sebesar 3.98 cm. kedua perlakuan lainnya yaitu perlakuan P2 dan

P3 justru menurunkan panjang plumula. Perlakuan P2 menunjukkan pengaruh nyata menurunkan panjang plumula pada salah satu genotipe yaitu Batutugi sebesar 4.66 cm. Perlakuan P3 berpengaruh nyata terhadap penurunan panjang plumula beberapa genotipe padi gogo, diantaranya adalah genotipe B12648F-MR-1 sebesar 4.97 cm, BB12648F-MR-12B12648F-MR-159D-MR-52 sebesar 7.05 cm, BB12648F-MR-1B12648F-MR-1599D-TB-5-2-4 sebesar 8.13 cm, Batutugi sebesar 6.80 cm, dan TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 sebesar 4.57 cm (Tabel 9).

Tabel 9. Pengaruh Interaksi antara Genotipe dan Priming terhadap Panjang Plumula (cm) pada Kondisi Sub Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 B1289C-MR-69 13.95 cde 17.93 ab (+3.98) 12.11 d-g 10.65 e-i B12648F-MR-1 13.93 cde 15.20 bcd 12.99 c-f 8.96 g-j (-4.97) B12155D-MR-21 15.96 abc 16.23 abc 16.41 abc 8.13 hij B12159D-MR-52 17.69 ab 18.26 ab 15.44 a-d 10.64 e-i

(-7.05) B11599D-TB-5-2-4 18.73 a 15.65 abc 16.49 abc 10.60 e-i

(-8.13) Batutugi 15.48 a-d 15.03 bcd 10.82 e-i

(-4.66)

8.68 g-j (-6.80) TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 11.55 e-h 9.09 g-j 9.33 g-j 6.98 j (-4.57) B11580E-TB-17-1-1-1 9.55 f-j 8.34 hij 8.95 g-j 8.15 hij B11593F-MR-11-B-2-8 9.78 f-j 8.72 g-j 8.16 hij 7.40 ij B11580E-MR-7-2-43 9.16 g-j 8.34 hij 9.70 g-j 8.14 hij

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 5 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm. Angka bertanda (-) di dalam kurung menunjukkan penurunan, angka bertanda (+) menunjukkan peningkatan nilai peubahdibandingkan kontrol (P0).

Pada kondisi kekeringan, perlakuan priming tidak dapat merangsang pertumbuhan plumula. Hasil penelitan beberapa peneliti lain pada kondisi cekaman kekeringan tidak menunjukkan pengaruh penurunan terhadap nilai panjang plumula. Penurunan terhadap panjang plumula dengan perlakuan priming GA3 tidak terjadi pada benih gandum dibawah kondisi cekaman PEG -0.5 MPa (Liao et al., 2005). Perlakuan hydro-priming juga dapat meningkatkan panjang plumula benih jagung dan gandum pada cekaman kekeringan dan salinitas(Janmohammadi et al., 2008 dan Yagmur dan Kaydan, 2008). Pada

cekaman kekeringan dengan PEG, hydro-priming juga dapat meningkatkan pertumbuhan pertumbuhan plumula benih lentil (Saglam et al., 2010). Hal ini disebabkan oleh konsentrasi perlakuan priming dan tingkat cekaman kekeringan serta komoditas yang berbeda. Pada penelitian percobaan 2., konsentrasi PEG dapat menghambat pertumbuhan plumula pada perkecambahan padi gogo. Peningkatan panjang plumula pada salah satu genotipe benih padi gogo mungkin disebabkan karena pengaruh genetik dari genotipe tersebut yang responsive terhadap perlakuan KNO3 sehingga mampu meningkatkan panjang plumulanya.

Pada kondisi cekaman lain, salah satunya adalah cekaman salinitas, perlakuan priming juga menunjukkan penurunan panjang akar. Pada cekaman salinitas perlakuan priming GA3 tenyata tidak dapat untuk menstimulasi tumbuhnya plumula gandum (Afzal et al, 2005). Pada kondisi cekaman salinitas perlakuan priming juga dapat meningkatkan panjang plumula benih, seperti pada perlakuan hydro-priming dapat meningkatkan panjang plumula benih cabe (Amjad et al., 2007). Perlakuan hydro-priming mampu merangsang pertumbuhan plumula benih jintan pada cekaman salinitas (Neamatollahi et al., 2009). Pada cekaman salinitas, perlakuan GA3 meningkatkan panjang plumula, tetapi perlakuan hydro-priming juga tidak menunjukkan peningkatan pada benih marigold, sedangkan pada benih sweet fennel kedua perlakuan tersebut menunjukan pengaruh yang sama terhadap peningkatan panjang plumula (Sedghi et al., 2010).

Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa pada cekaman suhu tinggi, priming GA3 dapat menstimulasi pertumbuhan plumula pada benih padi, sorghum, dan jagung, sedangkan perlakuan hydro-priming dan KNO3

meningkatkan panjang plumula benih lettuce (Akman, 2009 dan Jahangir et al., 2009).

Perlakuan priming dapat meningkatkan panjang akar (PA) pada kondisi sub optimum. Perlakuan P1 dapat meningkatkan panjang akar pada semua nomor genotipe, kecuali genotipe B11580E-TB-17-1-1-1 dan B11593F-MR-11-B-2-8 antara 2.37 – 5.23 cm. Perlakuan P2 dapat meningkatkan nilai panjang akar rata-rata antara 2.01 – 3.04 cm. pada genotipe B12159D-MR-52, B11599D-TB-5-2-4, B11580E-TB-17-1-1-1 dan B11593F-MR-11-B-2-8. Nilai panjang akar genotipe

TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 dan B11580E-MR-7-2-43 meningkat pada perlakuan P3 antara 1.66 – 2.33 cm (Tabel 10). Perlakuan priming P1 sangat efektif untuk meningkatkan panjang akar benih padi gogo pada kondisi sub optimum.

Tabel 10. Pengaruh Interaksi antara Genotipe dan Priming terhadap Panjang Akar (cm) pada Kondisi Sub Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 B1289C-MR-69 4.85 l 10.08 c-i (+5.23) 7.30 d-i (+2.45) 7.18 d-k (+2.33) B12648F-MR-1 7.34 d-j 9.71 abc (+2.37) 8.72 a-e 7.14 d-k B12155D-MR-21 4.37 l 8.09 a-e (+3.72) 5.67 i-l 4.55 l B12159D-MR-52 6.06 g-l 10.10 a (+4.04) 7.59 b-f (+1.53) 5.17 i-l B11599D-TB-5-2-4 4.95 j-l 9.86 ab (+4.91) 7.26 d-i (+2.31) 7.08 d-k Batutugi 5.96 g-l 8.91 a-e (+2.95) 6.16 g-l 7.36 d-i TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 4.26 l 8.60 a-f (+4.34) 5.37 j-l 6.33 f-k (+2.07) B11580E-TB-17-1-1-1 6.34 f-k 8.25 a-f 9.38 a-d

(+3.04) 6.61 e-k B11593F-MR-11-B-2-8 4.26 l 5.86 g-l 6.27 f-k (+2.01) 5.86 g-l B11580E-MR-7-2-43 4.61 l 7.51 c-i (+2.90) 5.85 g-l 6.27 f-k (+1.66)

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 1 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm. Angka di dalam kurung bertanda (+) menunjukkan peningkatandibandingkan kontrol (P0).

Perlakuan GA3 menunjukkan respon meningkatkan panjang akar pada kondisi cekaman kekeringan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Liao et al. (2005) bahwa, perlakuan priming GA3 dapat meningkatkan panjang akar bibit gandum pada kondisi cekaman PEG -0.5 MPa. Pada cekaman salinitas dan cekaman kekeringan dengan PEG, hydro-priming juga dapat meningkatkan panjang akar benih jagung dan gandum (Janmohammadi et al., 2008 dan Yagmur dan Kaydan 2008). Saglam et al. (2010) melaporkan bahwa, hydro-priming juga dapat meningkatkan pertumbuhan akar pada kondisi cekaman kekeringan hingga -0.6 MPa pada benih lentil. Sebagaimana mekanisme tanaman pada kondisi

cekaman kekeringan, ditunjukkan dengan akar yang lebih panjang dibanding kondisi lingkungan yang optimum; perlakuan priming ternyata mampu membantu benih untuk mensuplai nutrisi dalam benih untuk meningkatkan pertumbuhan akar.

Pada kondisi cekaman lain, antara lain cekaman salinitas dan cekaman suhu, perlakuan priming juga menunjukkan peningkatan panjang akar. Hal ini ditunjukkan oleh hasil-hasil penelitian sebagai berikut. Hasil penelitian Hassanpouraghdam et al., (2009) bahwa, pada cekaman salinitas, perlakuan KNO3

dapat meningkatkan panjang akar pada benih kubis. Neamatollahi et al. (2009), menambahkan, bahwa perlakuan hydro-priming juga meningkatkan panjang akar pada benih jintan. Sedghi et al. (2010), menguraikan bahwa, perlakuan GA3 pada benih marigold dapat meningkatkan panjang akar, tetapi perlakuan hydro-priming tidak menunjukkan peningkatan panjang akar pada benih marigold, sedangkan pada benih sweet fennel kedua perlakuan tersebut menunjukkan pengaruh yang sama terhadap peningkatan panjang akar. Pada cekaman suhu rendah, Akman, (2009) melaporkan bahwa, priming GA3 juga meningkatkan nilai panjang akar pada benih padi, sorghum, dan jagung. Demikian halnya dengan penelitian Jahangir et al., (2009) menunjukkan perlakuan hydro-priming dan KNO3 pada benih lettuce, dapat meningkatkan panjang akar pada kondisi cekaman suhu tinggi. Pada kondisi cekaman, priming membantu benih untuk mempercepat penyerapan air serta nutrisi pada larutan priming untuk membantu mempercepat dan meningkatkan pertumbuhnya akar yang sangat berperan mencari air yang diperlukan tanaman untuk dapat tumbuh normal.

Ketiga perlakuan priming dapat menurunkan nilai bobot kering kecambah normal (BKKN) secara nyata, masing-masing adalah sebesar sebesar 0.45 mg pada perlakuan P1, sebesar 0.56 mg pada perlakuan P2 dan sebesar 0.43 mg pada perlakuan P3. Genotipe yang mempunyai rata-rata bobot kering kecambah normal tertinggi adalah B11599D-TB-5-2-4 sebesar 4.01 mg dan terendah adalah B1289C-MR-69 sebesar 2.42 mg (Tabel 11).

Tabel 11. Pengaruh Faktor Tunggal Genotipedan Priming terhadap Bobot Kering Kecambah Normal (mg) pada Kondisi Sub Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 Rata-rata B1289C-MR-69 2.76 2.42 2.09 2.42 2.42 d B12648F-MR-1 4.39 3.17 3.05 3.27 3.47 abc B12155D-MR-21 3.07 3.13 3.14 2.27 2.90 dc B12159D-MR-52 3.64 3.18 3.12 3.35 3.47 abc B11599D-TB-5-2-4 4.33 4.09 3.72 3.89 4.01 a Batutugi 3.18 3.39 3.69 2.79 3.26 bc TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 3.77 3.69 3.63 3.08 3.54 abc B11580E-TB-17-1-1-1 4.18 2.83 2.66 4.99 3.67 ab B11593F-MR-11-B-2-8 4.23 3.19 2.51 3.13 3.27 bc B11580E-MR-7-2-43 3.13 3.11 3.47 3.23 3.24 bc Rata-rata 3.67 a 3.22 b (-0.45) 3.11 b (-0.56) 3.24 b (-0.43)

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 5 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm. Angka bertanda (-) di dalam kurung menunjukkan penurunandibandingkan kontrol (P0).

Penurunan nilai BKKN juga ditunjukkan oleh beberapa penelitian lain pada kondisi cekaman yang berbeda. Menurunnya nilai BKKN juga terjadi pada benih gandum yang diberi perlakuan priming GA3 25,50 dan 100 ppm dibawah kondisi cekaman salinitas (Afzal et al., 2005). Perlakuan hydro-priming juga menurunkan nilai BKKN benih kedelai pada cekaman suhu rendah (Mohammadi, 2009).

Penelitian lain, menunjukkan adanya peningkatan BKKN, salah satunya adalah pada kondisi cekaman salinitas, perlakuan hydro-priming dapat meningkatkan nilai BKKN benih cabe dan benih jagung, serta benih jagung pada cekaman kekeringan (Amjad et al, 2007 dan Janmohammadi et al., 2008). Hassanpouraghdam (2009) menambahkan bahwa, priming KNO3 pada kondisi cekaman salinitas juga dapat meningkatkan nilai BKKN benih Brassica napus L. Pada benih lentil perlakuan hydro-priming, juga dapat meningkatkan nilai BKKN pada kondisi cekaman PEG -0.3 MPa dan -0.6 MPa (Saglam et al., 2010).

Pada kondisi sub optimum seluruh genotipe padi gogo mempunyai vigor benih yang rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh viabilitas awal benih pada kondisi sub optimum yang sangat rendah, sehingga pertumbuhan kecambah jadi lambat, sehingga pada saat perngamatan perhitungan pertama, hamper seluruh

genotipe tidak mampu berkecambah. Genotipe B11580E-TB-17-1-1-1 menunjukkan nilai rata-rata indeks vigor tertinggi sebesar 1.06%.

Tabel 12. Pengaruh Faktor Tunggal Genotipe dan Priming terhadap Indeks Vigor (%) pada Kondisi Sub Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 Rata-rata B1289C-MR-69 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b B12648F-MR-1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b B12155D-MR-21 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b B12159D-MR-52 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b B11599D-TB-5-2-4 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b Batutugi 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b B11580E-TB-17-1-1-1 0.00 1.33 1.33 1.33 1.06 a B11593F-MR-11-B-2-8 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b B11580E-MR-7-2-43 0.00 1.33 0.00 0.00 0.33 b Rata-rata 0.00 0.27 0.13 0.13

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 5 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm.

Rendahnya vigor benih padi gogo ini, sesuai dengan hasil penelitian Richards (2005) bahwa, benih selada, radish dan gandum liar sudah tidak mampu berkecambah pada -0.46 Mpa. Pada kondisi cekaman lainnya, yaitu cekaman suhu rendah perlakuan KNO3 juga dapat meningkatkan indeks vigor benih labu siam, pada (Kenanoglu et al., 2007). Yagmur dan Kaydan (2008) menyebutkan bahwa konsentrasi PEG dapat menghambat dan mengganggu perkecambahan pada benih gandum yang menyebabkan rendahnya vigor benihnya. Hal ini pula yang menyebabkan benih tidak mampu berkecambah, sehingga menyebabkan rendahnya indeks vigor rata-rata benih padi gogo pada percoban kondisi sub optimum.