• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kerangka Konseptual

2.3.3 Pengaruh Return on Equity Rasio Terhadap Harga Saham

Menurut Van Horne dan Wachowicz (2009:361), “Rasio ROE menggambarkan tingkat kekuatan pendapatan yang akan diperoleh oleh para pemegang saham atas investasi yang dilakukan dan rasio ini pula dapat digunakan untuk membandingkan dua perusahaan atau lebih dalam satu industri. Bentuk modal yang digunakan oleh pemegang saham dalam rasio ini bisa digunakan untuk menggambarkan pasar.” ROE yang tinggi menandakan bahwa perusahaan tersebut memiliki peluang untuk memberikan pendapatan yang besar bagi pemilik saham. Kondisi perusahaan yang baik akan menghasilkan laba yang tinggi sehingga kemungkinan menghasilkan

tingkat pengembalian saham besar. Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:

H 3: Return on Equity Rasio berpengaruh terhadap Harga Saham

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.4 Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini merupakan pernyataan singkat yang disimpulkan dari tinjauan pustaka dan merupakan uraian sementara dari permasalahan yang perlu diujikan kembali. Suatu hipotesis akan diterima jika hasil analisis data empiris membuktikan bahwa hipotesis tersebut benar, begitu pula sebaliknya.

H 1 : Struktur modal yang diukur dengan Debt to Equity Ratio mempunyai pengaruh terhadap nilai harga saham suatu perusahaan

H 2 : Struktur modal yang diukur dengan Debt to Asset Rasio memiliki pengaruh terhadap nilai harga saham suatu perusahaan

H 3 : Profitabilitas yang diukur dengan Return on Equity memiliki pengaruh terhadap harga saham pada suatu perusahaan

Debt to Equity Rasio (DER) X1

Debt to Asset Rasio (DAR) X2

Harga Saham Return on Asset Rasio (ROE)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Persaingan dalam dunia bisnis yang semakin ketat telah membuat suatu perusahaan khususnya perusahaan manufaktur berusaha meningkatkan nilai dari perusahaan. Meningkatkan nilai perusahaan dapat dilakukan melalui peningkatan kemakmuran kepemilikan atau para pemegang saham. Keberadaan para pemegang saham dan peranan manajemen sangatlah penting dalam menentukan besar keuntungan yang nantinya akan diperoleh. Hal ini berarti setiap perusahaan manufaktur diharuskan untuk bisa mengatasi situasi yang terjadi sehingga dapat melakukan pengelolaan fungsi-fungsi manajemennya dengan baik agar dapat lebih unggul dalam persaingan.

Suatu keputusan yang diambil manajer dalam suatu pembelanjaan harus dipertimbangkan secara teliti sifat dan biaya dari sumber dana yang akan dipilih, karena masing-masing sumber dana tersebut memiliki konsekuensi finansial yang berbeda. Dalam keputusan pemenuhan dana mencakup berbagai pertimbangan, apakah perusahaan akan menggunakan sumber internal maupun sumber eksternal yang berasal dari hutang atau dengan emisi saham baru. Kebutuhan akan dana dapat dipenuhi dari berbagai sumber dan mempunyai jenis yang berbeda-beda. Modal diartikan sebagai sumber dana jangka panjang yang ada dalam perusahaan. Sumber modal perusahaan, terdiri dari modal sendiri (equity) dan utang jangka panjang (Henry, 2009:134).

Keputusan pendanaan oleh manajemen akan berpengaruh pada penilaian perusahaan yang terefleksi di harga saham. Oleh karena itu, salah satu tugas manajer keuangan adalah menentukan kebijakan pendanaan yang dapat memaksimalkan laba saham yang merupakan cerminan dari suatu nilai perusahaan (Harmono, 2011:137).

Keputusan pendanaan yang dilakukan secara tidak cermat akan menimbulkan biaya tetap dalam bentuk biaya modal yang tinggi, yang selanjutnya dapat berakibat pada rendahnya profitabilitas perusahaan. Ditinjau dari asalnya menurut Riyanto (2010:214), sumber dana dapat dibedakan menjadi sumber dana perusahanaan intern dan sumber dana perusahaan ekstern. Modal yang berasal dari sumber intern adalah dana yang dihasilkan sendiri didalam perusahaan (internal financing), sedangkan dana ekstern adalah sumber dana yang berasal dari luar perusahaan (external financing). Penentuan proporsi hutang dan modal dalam penggunaannya sebagai sumber dana perusahaan berkaitan erat dengan istilah struktur modal.

Dalam usaha peningkatan nilai perusahaan, hal yang tidak bisa dipisahkan adalah bagaimana penentuan struktur modal yang dilakukan oleh manajemen dan para pemegang saham perusahaan. Struktur modal adalah pembiayaan permanen yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen dan modal (Weston, 2010:19). Menurut Mulyadi dan Sisca, (2010:9), “Debt to equity ratio menggambarkan perbandingan antara total hutang dengan total ekuitas perusahaan yang digunakan sebagai sumber pendanaan usaha. Debt to equity ratio mengungkapkan bagaimana penggunaan pendanaan perusahaan dari struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan yang berasal dari utang jangka panjang dan

modal yang berasal dari ekuitas.” Semakin besar DER menandakan struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan utang-utang relatif terhadap ekuitas dan mencerminkan risiko perusahaan yang relatif tinggi. Kreditur jangka panjang lebih menyukai rasio DER yang kecil karena menunjukkan bahwa semakin besar jumlah aktiva yang didanai oleh pemilik modal sehingga semakin kecil resiko kreditur yang secara tidak langsung akan mempengaruhi peningkatan harga saham bagi pemilik modal. Rasio ini menunjukkan hubungan antara jumlah hutang yang diberikan oleh para kreditur dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan.

DAR digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah keseluruhan kebutuhan dana perusahaan dibiayai dengan total hutang (Retno, 2010:8). Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. DAR yang rendah menunjukkan bahwa dana perusahaan sedikit dibiayai oleh hutang, hal ini dapat mempengaruhi peningkatan harga saham. Rasio ini mengukur berapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur.

Profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan utang pada hasil operasi (Brigham & Houston, 2010:146). Sedangkan menurut (Sudana 2011: 22 ) profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan sumber - sumber yang dimiliki perusahaan. Pengertian lain menyatakan bahwa, rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu (Hanafi, 2008:42). Dalam penelitian ini rasio profitabilitas yang di gunakan adalah: Return on equity.

Menurut Van Horne dan Wachowicz (2009:361), “Rasio ROE menggambarkan tingkat kekuatan pendapatan yang akan diperoleh oleh para pemegang saham atas investasi yang dilakukan dan rasio ini pula dapat digunakan untuk membandingkan dua perusahaan atau lebih dalam satu industri. Bentuk modal yang digunakan oleh pemegang saham dalam rasio ini bisa digunakan untuk menggambarkan pasar.” ROE yang tinggi menandakan bahwa perusahaan tersebut memiliki peluang untuk memberikan pendapatan yang besar bagi pemilik saham. Kondisi perusahaan yang baik akan menghasilkan laba yang tinggi sehingga kemungkinan menghasilkan tingkat pengembalian saham besar.

Harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan. Apabila kinerja perusahaan go public meningkat, nilai perusahaan akan semakin tinggi pula. Di bursa efek, hal itu akan diapresiasi oleh pasar dalam bentuk kenaikan harga sahamnya. Sebaliknya, berita buruk tentang kinerja perusahaan akan diikuti dengan penurunan harga sahamnya di pasar modal. Hal tersebut merupakan argumentasi yang melandasi mengapa perubahan harga saham relevan dijadikan dasar penilaian kinerja perusahaan yang go public.

Muhammad Ircham (2013) yang berjudul “ pengaruh struktur modal dan profitabilitas terhadap harga saham pada perusahaan food and beverage di BEI periode 2009-2014. Penelitian ini Menunjukkan bahwa Variabel DER, DAR, EPS, dan ROE berpengaruh secara simultan terhadap Harga Saham. Variabel EPS berpengaruh dominan terhadap Harga Saham ( Hidly, 2012)

Rudi Sitepu dalam penelitiannya (2010) yang berjudul “Pengaruh Struktur Modal Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia”. Penelitian ini menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), Debt to

Asset Ratio (DAR), Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Equity to Asset Ratio (EAR) sebagai variabel independen dan harga saham sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukkan bahwa variable struktur modal Debt to Asset Ratio (DAR), Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Equity to Asset Ratio (EAR) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham perusahaan manufaktur. Secara parsial, variable DER adalah variable yang paling dominan.

Kesuma (2009) melakukan penelitian untuk menganalisis faktor

yang mempengaruhi struktur modal serta pengaruhnya terhadap harga

saham perusahaan real estate yang go public di BEI. Penelitian ini

menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan, dan rasio hutang

berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, profitabilitas berpengaruh

tidak signifikan terhadap strukur modal, pertumbuhan penjualan, struktur

aktiva, rasio hutang, struktur modal berpengaruh tidak signifikan terhadap

harga saham.

Penelitian yang dilakukan oleh Juventus (2008) menguji pengaruh ROA, ROE, DER, dan DAR terhadap harga saham perbankan di BEJ periode 2004-2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, semua variabel independen yang diteliti memiliki pengaruh positif terhadap harga saham. Secara

parsial, hanya variabel ROE dan DAR yang memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham.

Sumiati dalam penelitiannya (2007) yang berjudul “Pengaruh Struktur Modal Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Jakarta”. Variabel independennya adalah Debt to Equity Ratio (DER), Debt to Asset Ratio (DAR), Longterm Debt to Equity Ratio (LDER), Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR) dan Equity to Asset Ratio (EAR) dan variabel dependen adalah perubahan harga saham. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi. Hasil penelitian ini adalah variabel struktur modal Debt to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Equity Ratio (LDER), dan Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham perbankan. Secara parsial, variabel LDAR adalah variabel yang dominan.

Ulupui dalam penelitiannya (2005) yang berjudul Analisis pengaruh risiko likuiditas, leverage, aktivitas, dan profitabilitas terhadap harga

saham (studi pada perusahaan makanan dan minuman dengan kategori

industry barang konsumsi di BEJ) menghasilkan kesimpulan DER

berpengaruh positif tidak signifikan terhadap harga saham dan total Asset

Turnover.

Ketidakkonsistenan hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai pengaruh rasio keuangan tertentu terhadap harga saham, mendorong peneliti untuk mereplikasi

penelitian sebelumnya dengan menggunakan dua rasio keuangan yaitu Debt to Equity Rasio (DER), Debt to asset Rasio (DAR) dan Return on Equity (ROE). Penelitian ini menggunakan perusahaan food and beverage periode 2010-2014. Adapun data tentang dinamika pergerakan rasio-rasio keuangan pada perusahaan food and beverage periode 2010-2014, gambaran secara umum ditampilkan seperti pada Tabel 1.1 berikut ini:

Tabel 1.1

Dinamika Rasio Keuangan DER, DAR dan ROE

NO Nama Perusahaan Tahun DER DAR ROE

1 CEKA 2010 1.75 0.64 0.10 2011 1.03 0.51 0.24 2012 1.22 0.55 0.13 2013 1.02 0.51 0.12 2014 1.39 0.58 0.07 2 ICBP 2010 0.84 0.84 0.18 2011 0.54 0.38 0.19 2012 0.49 0.33 0.19 2013 0.60 0.38 0.17 2014 0.01 0.01 0.17 3 INDF 2010 0.67 0.67 0.45 2011 0.70 0.41 0.16 2012 0.74 0.42 0.14 2013 0.51 0.51 0.06 2014 0.91 0.91 0.06 4 MLBI 2010 0.04 0.04 0.45 2011 1.73 0.57 1.27 2012 2.54 0.71 1.40 2013 1.70 0.94 1.19 2014 1.43 0.36 1.44 5 PSDN 2010 1.15 0.53 0.12 2011 0.63 0.63 0.05

2012 0.40 0.40 0.04 2013 0.63 0.39 0.05 2014 0.64 0.39 0.07 6 ROTI 2010 0.25 0.20 0.22 2011 0.39 0.28 0.21 2012 0.81 0.45 0.22 2013 1.32 0.57 0.20 2014 1.23 0.55 0.20 7 SKBM 2010 0.19 0.11 0.97 2011 0.82 0.45 0.07 2012 1.26 0.56 0.10 2013 1.47 0.60 0.29 2014 0.51 0.51 0.14 8 SKLT 2010 0.73 0.42 0.04 2011 0.74 0.43 0.05 2012 0.93 0.48 0.06 2013 1.16 0.54 0.08 2014 1.16 0.54 0.11 9 ULTJ 2010 0.32 0.22 0.09 2011 0.61 0.38 0.10 2012 0.15 0.10 0.21 2013 0.40 0.28 0.16 2014 0.29 0.22 0.13 Sumber:www.idx.co.id

Dari tabel di atas dapat kita lihat pada PT. Cahaya Kalbar Tbk bahwa DER pada tahun 2010 sebesar 1.75, dan pada tahun 2011 menurun sebesar 1.03, tahun 2012 meningkat sebesar 1.22, tahun 2013 meningkat sebesar 1.24, dan pada tahun 2014 menigkat kembali sebesar 1.39, maka dapat kita ketahui DER pada PT. Cahaya Kalbar Sejahtera meningkat setiap tahunnya, hal ini menunjukkan bahwa Semakin besar DER menandakan struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan hutang-hutang relatif terhadap ekuitas dan mencerminkan risiko perusahaan yang relatif tinggi. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Muliyadi (2010:9) Kreditur jangka panjang lebih menyukai rasio DER yang kecil karena menunjukkan bahwa semakin besar jumlah aktiva yang didanai oleh pemilik

modal sehingga semakin kecil resiko kreditur yang secara tidak langsung akan mempengaruhi peningkatan harga saham bagi pemilik modal.

Dilihat dari DAR dapat kita lihat pada PT. Cahaya Kalbar Tbk bahwa DAR pada tahun2010 sebesar 0.64, tahun 2011 menurun sebesar 0.51, tahun 2012 sebesar 1.55, tahun 2013 menurun sebesar 0.51, dan pada tahun 2014 menigkat kembali sebesar 0.59. Semakin tinggi rasio ini berarti menandakan semakin besar jumlah modal pinjamam yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. DAR yang rendah menunjukkan bahwa dana perusahaan sedikit dibiayai oleh hutang, hal ini dapat mempengaruhi peningkatan harga saham.

Kemudian jika dilihat dari ROE pada perusahaan PT. Cahaya Kalbar Tbk bahwa ROE pada tahun 2010 sebesar 0.10, pada tahun 2011 sebesar 0.12, kemudian pada tahun 2012 menurun sebesar 0.06, pada tahun 2013 sebesar 0.06 dan pada tahun 2014 menurun sebesar 0.03. maka dapat kita ketahui ROE pada PT. Cahaya Kalbar Tbk mengalami penurunan setiap tahunnya, ROE yang rendah menandakan bahwa perusahaan tersebut sedikit memiliki peluang untuk memberikan pendapatan yang besar bagi pemilik saham. Kondisi perusahaan yang buruk akan menghasilkan laba yang rendah sehingga kemungkinan menghasilkan tingkat pengembalian saham relatif kecil.

Melihat peran perusahaan makanan dan minuman yang strategis, maka peneliti memilih perusahaan-perusahaan pada industri tersebut sebagai objek penelitian. Meski disadari bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi perusahaan sangat luas dan kompleks yang cakupannya tidak hanya meliputi kondisi internal perusahaan tetapi juga kondisi makro ekonomi yang berada diluar

kendali perusahaan, oleh karena itu penelitian ini dibatasi hanya menganalisis faktor-faktor yang meliputi aspek kinerja keuangan yang diwakili oleh DER, dan DAR. Dari uraian tersebut, maka peneliti memberi judul: Analisis Pengaruh Struktur Modal dan Profitabilitas Terhadap Harga Saham Perusahaan Food

And Beverage Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2014.

Dokumen terkait