• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PEMBAHASAN

5.5. Pengaruh Risiko Bencana Tsunami terhadap Mobilisasi Sumber

Hasil analisis multivariat dengan uji statistik regresi linier menunjukkan variabel risiko bencana tsunami berpengaruh (p<0,05) terhadap mobilisasi sumber daya. Mengacu kepada hasil uji secara statistik, dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi tingkat risiko bencana tsunami yang dihadapi kepala keluarga maka mobilisasi sumber daya meningkat dalam menghadapi bencana tsunami pada wilayah pesisir.

Sesuai dengan Peraturan Kepala BNPB No. 10 Tahun 2008, bahwa mekanisme permintaan sumber daya untuk penanganan bencana dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Komandan Tanggap Darurat Bencana tingkat kabupaten/kota, atau tingkat provinsi yang terkena bencana, mengajukan permintaan kebutuhan sumberdaya kepada Kepala BPBD Kabupaten/Kota/Provinsi maupun kepada Kepala BNPB, berdasarkan atas ketersediaan sumberdaya di lokasi dan tingkatan bencana.

b. Kepala BPBD Kabupaten/Kota/Provinsi maupun Kepala BNPB, sesuai dengan lokasi dan tingkatan bencana, meminta dukungan sumberdaya manusia, logistik dan peralatan untuk menyelamatkan dan mengevakuasi korban, memenuhi kebutuhan dasar hidup dan memulihkan fungsi prasarana dan sarana vital yang rusak kepada pimpinan instansi/lembaga terkait sesuai tingkat kewenangannya.

c. Instansi/lembaga terkait dimaksud adalah: Departemen/Dinas Sosial, BULOG/DOLOG, Departemen/Dinas Kesehatan, Departemen/Dinas Pekerjaan Umum, Departemen/Dinas Perhubungan, Basarnas/Basarda Kabupaten/ Kota, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia, Palang Merah Indonesia, Departemen/Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral serta instansi/lembaga lainnya sesuai tingkat kewenangannya.

d. Instansi/lembaga terkait wajib segera mengirimkan serta memobilisasi sumberdaya manusia, logistik dan peralatan ke lokasi bencana.

e. Penerimaan serta penggunaan sumberdaya manusia, peralatan dan logistik di lokasi bencana sebagaimana dimaksud dilaksanakan dibawah kendali Kepala BPBD/BNPB dan atau Departemen Keuangan.

Pengerahan/mobilisasi sumber daya untuk penanganan bencana diselenggarakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Kepala BPBD yang terkena bencana mengerahkan sumberdaya manusia, peralatan dan logistik sesuai kebutuhan ke lokasi bencana.

b. Apabila kebutuhan tersebut tidak tersedia/tidak memadai, maka pemerintah daerah yang bersangkutan dapat meminta bantuan kepada daerah lain yang terdekat.

c. Apabila daerah yang dimintai bantuan tidak memiliki ketersediaan sumberdaya/tidak memadai, maka pemerintah daerah yang terkena bencana dapat meminta bantuan kepada pemerintah pusat.

d. Biaya yang timbul akibat pengerahan bantuan ini ditanggung oleh pemerintah daerah yang bersangkutan.

e. Pelaksanaan pengerahan sumber daya dari asal sampai dengan lokasi bencana dilaksanakan dibawah kendali Kepala BPBD yang terkena bencana.

f. Apabila terdapat keterbatasan sumberdaya manusia, peralatan dan logistik yang dikerahkan oleh Kepala BPBD, maka BNPB dapat membantu melalui pola pendampingan.

g. Pola pendampingan oleh BNPB dapat berupa dukungan biaya pengepakan, biaya pengiriman, jasa tenaga pengangkutan dan dukungan peralatan tanggap darurat

Sesuai dengan paradigma penanggulangan bencana yang lebih mengedepankan komunitas masyarakat, maka kesiapsiagaan dikembangkan melalui pembentukan lembaga kemasyarakatan dalam penanggulangan bencana.

Salah satu komunitas masyarakat dalam membangun budaya keselamatan dan ketangguhan masyarakat di Aceh adalah Community Managed Disaster Risk Reduction (CMDRR) atau Pengurangan Risiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM). Demikian juga di Desa Pasir telah dibentuk Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB). Tugas utama dari KMPB adalah untuk mengurangi penderitaan masyarakat yang terkena bencana. Pada saat terjadi bencana KMPB akan bekerjasama dengan organisasi penanggulangan bencana lainnya

Menurut Yayasan Pusaka Indonesia (YPI), parameter yang dipakai dalam membangun budaya keselamatan dan ketangguhan dalam menghadapi bencana alam bisa dilihat dari 4 (empat) ciri khusus, yakni :

a. Ciri Pertama, memastikan agar masyarakat mampu mengenali, mengidentifikasi dan menilai risiko bencana, yang secara potential bisa terjadi di desa dimana mereka tinggal.

Dalam hal seperti ini, YPI bersama dengan masyarakat – mengajarkan prinsip-prinsip dan ilmu pengetahuan mengenai cara-cara (teknis) dalam melakukan Analisa Risiko Bencana (ARB), yang meliputi: (1) Penilaian Bahaya; (2) Penilaian Kerentanan; dan (3) Penilaian Kapasitas. Dalam literatur asing bidang ini dikenal dengan: Disaster Risk Analysis: Hazard

Assessment, Vulnerability Assessment and Capacity Assessment (HVC- Assessment).

Ciri pertama ini, dibagi menjadi 2 (dua) tahap, yakni: Tahap Teknis dan Tahap Praktik. Pada tahap tehnis, unsur-unsur yang diajarkan masih di seputar hal-hal tehnis, misalnya: memahami kebencanaan dari sisi produk undang-undang dan peraturan yang menjadi payung hukum pelaksanaan PRB itu sendiri, seperti: Permendagri No. 33/2006 tentang Mitigasi Bencana; UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana; Permendagri No. 27/2007 tentang Sarana dan Prasarana Penanggulangan Bencana; PP No. 21/2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; PP 22/2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana; PP 23/2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan NGO Dalam Penanggulangan Bencana. Hal lain yang diajarkan adalah berupa penggunaan alat-alat analisis (tools of analysis) dalam kaitan menilai bahaya (hazards), memahami karakterisktik bahaya (hazard characteristic), menilai kerentanan (vulnerability assessment) dan menilai kapasitas (capacity assessment) – serta alat-alat analisis lain terkait dengan ke tiga aspek tersebut. Ujung akhir tahap tehnis ini adalah memahamkan masyarakat (biasanya dalam kelompok-kelompok kecil) tentang seluk-beluk dan tatacara menganalisis elemen terkait dengan penilaian terhadap: HVC (Hazard, Vulnerability dan Capacity).

kelompok masyarakat, dibawa untuk langsung meninjau atau mengamati fenomena, ciri-ciri, sifat dan keadaan bentang alam di desa dimana mereka berdiam. Pada tahap ini, masyarakat diajarkan melakukan identifikasi langsung terhadap jenis bahaya yang ada di desa mereka, plus secara langsung diajak untuk melakukan identifikasi terhadap bentuk-bentuk kerentanan dan kapasitas yang ada pada mereka terkait dengan jenis bahaya yang paling potensial dihadapai dan sering terjadi di desa di mana mereka tinggal.

Praktik langsung dan pelibatan masyarakat seperti ini lah yang sering disebut dengan proses PRA (Participatory Rural Appraisal) atau Penaksiran Wilayah Desa secara Partisipatoris. Dikatakan sebagai proses penaksiran, karena seluruh wilayah pedesaan ditaksir keadaannya, di gambar transek-nya dan dinilai potensinya. Bila proses PRA tersebut dikaitkan dengan persoalan risiko bencana, maka proses tersebut bisa disebut sebagai proses PDRA (participatory Disaster risk analysis) atau Analisa Risiko Bencana secara partisipatoris.

b. Ciri KE DUA, memastikan agar masyarakat mampu mengembangkan langkah-langkah rencana aksi untuk mengurangi risiko bencana.

Akhir proses PRA atau PDRA tersebut adalah terbitnya dokumen desa yang disebut dengan Rencana Aksi Desa (RA-Des). Rencana Aksi Desa adalah sebuah dokumen yang nantinya akan disepakati oleh seluruh elemen dan pemangku kepentingan (stakeholders) yang ada di desa. Rencana Aksi Desa biasanya dibuat dalam 2 jenis:

(1). Recana Pembangunan/Pengembangan (development plan) ;

Development Plan biasanya menunjuk kepada langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum bencana terjadi (before a disaster strikes). Berdasarkan pembagiannya, development plan bisa dipilah dalam dua corak kegiatan, yakni :

- Kegiatan Prevensi (prevention activities) dan Kegiatan Mitigasi (mitigation plan). Menurut tahap pelaksanannya, prevention activities menunjuk kepada corak kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan langkah-langkah prevensi untuk mencegah bencana agar tidak terjadi (tidak semua bencana bisa dicegah)

- Kegiatan Mitigasi (mitigation activities) menunjuk kepada corak kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan langkah-langkah untuk mengurangi dampak risiko bencana yang terjadi (pertimbangkan mana yang paling memungkinkan untuk dilakukan).

(2). Rencana Kontinjensi (contigency plan).

Contingency plan biasanya menunjuk kepada langkah-langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi (on a disaster situation). Berdasarkan pembagiannya, contingency plan dibagi kedalam 2 (dua) bagian, yakni :

- Ketahanan hidup indvidu maupun kolektif (individual and collective survavibilities)

- Kesiapsiagaan individu maupun komunitas (individual and community readiness).

Rencana kontinjensi diatas bisa dikembangkan dalam ragam dan bentuk, sesuai dengan keadaan lokal setempat, misalnya: mencari dan mengembangkan model pengganti makanan utama bagi masyarakat, semisal: nasi bisa diganti dengan ubi, keladi, sagu, dll; atau air biasa bisa diganti dengan air nira, air tebu, air kelapa, dll. Dengan kata lain, bila suatu desa sedang berada dalam situasi bencana dan secara total tertutup aksesnya jalan yang menghubungkan keluardan masuknya orang luar untuk datang membantu, maka desa tersebut tidak akan lumpuh dan masyarakat yang terdampak oleh kejadian tersebut masih bisa bertahan hidup dengan adanya bahan-bahan makanan dan minuman pengganti/substitusi.

Kesiapsiagaan komunitas bisa dicirikan dengan adanya system lokal yang bisa diaktifkan dan bekerja maksimal secara otomatis dan berada di tempat, semisal: adanya sistem stok obata-obatan, makanan, alat-alat penyelamatan (tandu, lokasi evakuasi, tenda pengungsian, dapur umur, sistem informasi cepat, perahu karet, genset, tenda, penerangan (lampu dan senter), dokter dan/atau paramedis siaga, dll).

c. Ciri KE TIGA, memastikan agar masyarakat mampu membentuk organisasi lokal/desa sebagai wadah untuk merumuskan dan merancang serta menjalankan usaha-usaha prevensi dan/atau mitigasi sebagaimana disebutkan diatas.

Tumbuhnya organisasi lokal seperti ini merupakan syarat wajib yang harus dilakukan, sebab bila tidak, rencana aksi desa (RA-Des) sebagaimana disebutkan diatas tidak akan ada gunanya. Organisasi PRB desa, sebagaimana dimaksudkan dalam hal ini, bisa mengambil bentuk dan corak sesuai budaya dan kebiasaan lokal dan harus tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai setempat. Dalam alasan tertentu, bentukan organisasi lokal ini bisa memanfaatkan organisasi lokal yang sudah ada. Namun, bila dalam hal tertentu organisasi lokal yang kuat belum ada, maka upaya untuk membangun kelompok baru akan merupakan opsi yang bisa dikembangkan. Lebih lanjut, organisasi lokal PRB yang tumbuh di desa-desa akan menjadi sumber tenaga penggerak utama, dalam konteks kebencanaan, baik pada saat sebelum, ketika maupun pasca bencana terjadi.

Selanjutnya, dengan tidak mengurangi arti pentingnya berbagai macam aturan dan produk perundang-undangan yang sudah ada sebelumnya, maka idealnya pemerintah desa juga sudah saatnya mulai memikirkan berbagai macam produk peraturan di tingkat desa yang nantinya akan menjadi pranata yang mengatur berbagai macam hal dan segi, semisal: menentukan jalur evakuasi, menentukan lokasi evakuasi, termasuk penegasan dan penentuan serta pembagian tanggung- jawab bersama antara para pemangku kepentingan di wilayah desa masing- masing. Idealnya, masyarakat dan segenap elemen yang ada di dalam desa-lah, yang merupakan peresponse pertama (the first responders) atas setiap kejadian bencana yang datang menghampiri kehidupan mereka dan mereka pula lah yang

Sebagai ilustrasi sederhana, misalnya, ketika sebuah bencana terjadi di sebuah desa pada satu malam buta katakanlah jam 2 dini hari, secara mendadak sontak, dan ketika seluruh masyarakat masih tertidur pulas, apa jadinya? Bayangkan, pada jam-jam seperti itu, peraturan dan perundangan tidak akan mampu segera bertindak cepat. Terlebih-lebih, petugas pemerintah juga sedang tidak berada di tempat kejadian barangkali sampai keesokan harinya masih belum juga datang. Bayangkan, siapa melakukan apa tidak jelas. Suara dan instruksi siapa yang harus didengar, tidak jelas. Kemana masyarakat hendak memohon bantuan cepat, tidak jelas. Kemana arah berlari dan tujuan evakuasi, tidak jelas. Apa jadinya kemudian? Jelas, yang terjadi adalah bencana dan malapetaka, yang tak terperikan. Penting untuk diingat, saat-saat awal kepanikan dalam suatu kejadian bencana adalah saat-saat yang sangat menentukan tinggi rendahnya tingkat risiko yang terjadi. Menurut sejumlah catatan, banyak angka kematian dalam kejadian bencana justru terjadi pada saat-saat kepanikan membubung tinggi dan tak terkendalikan yang seringkali terjadi justru “kekalapan”.

c. Ciri KE EMPAT, memastikan agar masyarakat mampu merancang dan mengembangkan perangkat Monitoring dan Evaluasi untuk mengetahui bahwa risiko bencana potensial yang ada, sudah terkurangi.

Perangkat monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksudkan dalam hal ini bisa dicirikan dalam bentuk adanya dokumen RA-Des yang mereka miliki, dengan langkah-langkah tindakan dan kegiatan yang bisa dimonitor pelaksanaannya dan bisa dievaluasi efektifitas dan dampaknya. Misalnya, pengembangan sebuah

kerangka kerja logis (log-frame) dan dokumen rencana kerja (work-plan). Dengan adanya log-frame dan work-plan tersebut, masyarakat memiliki panduan kerja yang benar, disamping sebagai alat untuk melakukan perancangan dan perumusan kerja lanjutan di tingkat masyarakat atau komunitas.

Melalui ke empat ciri Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB) tersebutlah, YPI menyimpulkan bahwa apa yang disebut sebagai budaya keselamatan dan ketangguhan dapat dibangun. Perjalanan menuju kondisi dan situasi seperti yang dibayangkan memang masih panjang dan membutuhkan proses dan pendekatan yang beragam, namun setidaknya harapan seperti itu bukanlah sekedar harapan belaka banyak yang sudah terjadi di Desa Pasir dalam konteks pelaksanaan program penanggulangan bencana.

Masalah selanjutnya adalah, tinggal bagaimana organisasi KMPB yang telah dibentuk tersebut, dapat kembangkan oleh semua pemangku kepentingan, layaknya kita semua merawat dan menghargai nilai hidup kita dan kehidupan anak cucu di masa depan, yang tak bisa semata-mata diukur dan disamakan dengan nilai apapun dan/atau berapa pun jumlah nominalnya.

Kerjasama segenap pihak terkait dan stakeholder lokal lainnya sangat dibutuhkan, terutama perhatian serius Pemerintah Kecamatan Johan Pahlawan maupun Kabupaten Aceh Barat akan menjadi suar yang tetap mampu mengawal dan menjaga serta menerangi jalan keselamatan ke masa depan.

Dokumen terkait