BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
F. Pembahasan
2. Pengaruh Tax Minimization terhadap Keputusan Transfer Pricing
perusahaan. Semakin tinggi pajak yang harus ditanggung perusahaan maka semakin kecil laba yang diperoleh perusahaan. Dengan alasan inilah, perusahaan berusaha untuk meminimalkan pembayaran pajak mereka. Minimalisasi pembayaran pajak ini dapat dilakukan melalui pengelolaan pajak maupun manajemen laba dalam bentuk transfer pricing. Perusahaan multinasional cenderung memiliki pengelolaan pajak yang efisien bagi seluruh korporasinya, namun sumber pendapatan yang tidak hanya berasal dari satu negara terkadang mendorong perusahaan multinasional
melakukan praktik transfer pricing. Perusahaan tersebut mentransfer pendapatan ke negara dengan tarif pajak rendah (tax havens country) dengan tujuan meminimalkan beban pajak mereka.
Pajak dalam perusahaan tidak dapat dimasukkan ke dalam biaya produksi, karena pajak merupakan iuran wajib atas sejumlah pendapatan yang diperoleh wajib pajak baik perorangan maupun badan. Pajak dinilai sebagai pengurang laba perusahaan karena semakin besar pajak yang harus ditanggung perusahaan, maka laba perusahaan yang diperoleh akan semakin berkurang. Hal inilah yang dijadikan manajer atau direksi sebagai alasan untuk melakukan transfer pricing guna meminimalkan jumlah pajak yang harus mereka bayar.
Penelitian yang dilakukan Yuniasih dkk (2012) menunjukkan adanya pengaruh positif antara pajak dan transfer pricing. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Kiswanto dan Purwaningsih (2014) yang menyatakan pajak berpengaruh signifikan positif terhadap transfer pricing. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi beban pajak yang ditanggung oleh perusahaan, maka kecenderungan perusahaan untuk melakukan transfer pricing semakin tinggi. Hal ini dikarenakan pajak merupakan beban yang ditanggung oleh perusahaan, sehingga perusahaan akan mencoba untuk menekan pembayaran pajak untuk memaksimalkan laba melalui transfer pricing (Mangoting, 2000).
Penelitian mengenai pengaruh positif pajak terhadap transfer pricing ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Marfuah dan Azizah (2014) yang menyatakan bahwa pajak berpengaruh negatif
22
terhadap transfer pricing. Penelitian lain yang dilakukan oleh Mispiyanti (2015) juga menunjukkan bahwa pajak tidak perngaruh terhadap transfer pricing. Menurut dia, perusahaan cenderung meminimalisir beban pajak perusahaan bukan melalui transfer pricing tetapi melalui manajemen pajak. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merumuskan hipotesis kedua, yaitu:
H2 : Tax minimization berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing.
3. Pengaruh exchange rate terhadap transfer pricing
Exchange rate merupakan nilai tukar antara dua mata uang. Nilai tukar ini dapat mempengaruhi neraca perdagangan suatu negara. Exchange rate yang lebih tinggi akan mencerminkan harga produk domestik yang relatif lebih rendah dari harga produk lain, karena dengan Dollar yang sama akan memberikan jumlah Rupiah yang lebih banyak (Ginting, 2013). Hal tersebut juga dapat diterapkan pada pendapatan, dimana naiknya exchange rate atau nilai tukar akan mempengaruhi nilai suatu mata uang terhadap mata uang yang lain. Perusahaan yang menginginkan keuntungan lebih cenderung menggunakan mata uang yang lebih kuat untuk menyatakan pendapatanya.
Exchange rate mempengaruhi laba perusahaan secara keseluruhan. Perusahaan multinasional menggunakan transfer pricing untuk mengurangi risiko nilai tukar (exchange rate) dengan mentransfer dana ke mata uang yang kuat (Chan dkk, 2002).
Penelitian yang dilakukan oleh Bernard dkk (2006) mengindikasikan adanya pengaruh perubahan nilai tukar dollar terhadap harga wajar (arm’s length) dan harga transfer pada perusahaan multinasional di Amerika Serikat. Sebagai tanggapan terhadap penilain mata uang dollar, perusahaan afiliasi dalam negeri akan menurunkan harga berbasis dolar untuk pelanggan yang berbasis harga wajar.
Cravens dan Shearon Jr (1996) menyatakan bahwa untuk mengendalikan risiko dari keuntungan maupun kerugian transaksi, perusahaan dapat menggunakan transfer pricing sebagai pagar pelindung untuk menghadapi perubahan nilai tukar. Transfer pricing dapat digunakan untuk mengurangi eksposur transaksi perusahaan multinasional terhadap risiko perubahan nilai tukar dengan memindahkan dana ke mata uang yang kuat.
Marfuah dan Azizah (2014) menyatakan bahwa pengaruh exchange rate terhadap keputusan transfer pricing perusahaan memiliki arah yang positif tetapi tidak siginifikan, yang mengindikasikan bahwa besar kecilnya perubahan nilai tukar mata uang tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan transfer pricing.
Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa exchange rate mempengaruhi trasaksi lintas negara. Perubahan nilai tukar akan mempengaruhi nilai suatu mata uang terhadap mata uang yang lain. Perubahan pada nilai tukar suatu mata uang akan membuat transaksi yang terjadi menguntungkan salah satu pihak yang terlibat dalam transaksi.
24
Oleh karena itu, perusahaan berusaha mengurangi risiko tersebut melalui praktik transfer pricing.
H3 : Exchange rate berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing
4. Pengaruh Multinationality terhadap transfer pricing
Perusahaan dikatakan sebagai perusahaan multinasional jika perusahaan tersebut memiliki cabang atau anak perusahaan di lebih dari satu negara. Anak perusahaan di negara yang satu dengan anak perusahaan di negara yang lain memiliki perpedaan regulasi pajak tergantung pada kebijakan setiap negara. Ada negara dengan tarif pajak yang tinggi dan ada pula negara dengan tarif pajak yang rendah. Adanya perbedaan tarif pajak tersebut, membuat perusahaan multinasional harus pandai menerapkan strategi guna mengatasi problem perpajakan yang berbeda antar anak perusahaan.
Praktik transfer pricing digunakan oleh perusahaan multinasional untuk menghindari pengenaan pajak yang tinggi dengan mentransfer laba kena pajak perusahaan ke anak perusahaan di negara dengan tarif pajak rendah. Melalui praktik ini, perusahaan dapat menghindari tarif pajak yang tinggi dan meminimalkan jumlah pembayaran pajak sehingga labanya dapat maksimal.
Perusahaan multinasional yang memiliki transaksi intragrup lintas nasional akan berusaha untuk memaksimalkan labanya secara global. Perusahaan multinasional yang beroperasi di lebih dari satu negara selalu berupaya untuk memperbaiki rantai suplainya (supply chain). Rantai suplai
pada perusahaan multinasional dapat berupa rantai suplai tersdesentralisasi dan tersentralisasi. Rantai suplai tersentralisasi cenderung lebih menguntungkan bagi perusahaan multinasional karena dapat mengurangi biaya-biaya korporasi. Perusahaan multinasional menghendaki laba yang optimal dan biasanya perusahaan memiliki perencanaan pajak yang efisien untuk mencapai tujuan tersebut (Siahaan, 2015).
Menurut Mangoting (2000), anak perusahaan yang didirikan pada suatu negara terkadang hanya bersifat sebagai transit place atau hanya sebatas tempat persinggahan. Perusahaan multinasional mendirikan perusahaan di negara-negara tax haven untuk digunakan sebagai tempat persinggahan dalam transaksi lintas negara perusahaan multinasional. Induk perusahaan yang berada di negara dengan tarif pajak tinggi akan mentransfer pendapatan atau objek transaksinya ke anak perusahaan di negara tax haven untuk meminimalkan beban pajak dan memaksimalkan laba.
Chandraningrum (2014) berpendapat bahwa perusahaan multiasional memiliki fleksibilitas untuk memanfaatkan perbedaan antar yurisdiksi pajak nasional sehingga dapat menurunkan beban pajak perusahaan secara keseluruhan. Perusahaan multinasional melakukan pergeseran beban dan pendapatan melalui ikatan-ikatan dalam perusahaan yang memberikan peluang tambahan bagi perusahaan multinasional untuk meminimalkan pajak global yang dibayarkan.
Rahayu (2010) menyatakan adanya nature dari perusahaan induk dan anak perusahaan sebagai entitas legal terpisah membuka peluang
26
terjadinya praktik penghindaran pajak yang dilakukan melalui transaksi antar entitas yang berhubungan istimewa.
Rego (2003) juga menyataan bahwa perusahaan multinasional memiliki kesempatan untuk menghindari pajak penghasilan dengan menempatkan operasi di negara dengan pajak yang rendah, kemudian menggeser pendapatan dari negara dengan pajak yang tinggi ke negara dengan pajak yang rendah. Pergeseran pendapatan ini dilakukan dengan memanfaatkan perbedaan aturan pajak antara negara satu dengan yang lainnya dan mengambil keuntungan dari perjanjian subsidi pajak dengan negara tuan rumah.
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa semakin perusahaan itu bersifat multinasional, semakin besar kesempatan perusahaan untuk melakukan transfer pricing. Adanya tax haven countries mendukung perusahaan multinasional untuk melakukan praktik penghindaran pajak melalui transfer pricing. Oleh karena itu, penulis menurunkan hipotesis keempat yaitu:
H4 : Multinationality berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing
H
1+
H
2+
H
3+
H
4+
C. Model Penelitian
Gambar 2.1 Bagan Model Penelitian MEKANISME BONUS TAX MINIMIZATION EXCHANGE RATE MULTINATIONALI TY KEPUTUSAN TRANSFER PRICING
28 BAB III
METODE PENELITIAN A. Subyek/Obyek Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan non keuangan yang terdaftar (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2015. Pemilihan populasi perusahaan non keuangan dikarenakan perusahaan non keuangan memiliki jumlah yang cukup banyak untuk dijadikan populasi, mengingat penelitian ini menggunakan purposive sampling. Periode yang dipilih adalah tahun 2011-2015 dengan tujuan agar data yang diperoleh dapat digenerallisasikan dan hasil penelitian dapat relevan dengan keadaan yang ada saat ini.
B. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2011-2015 dan dapat diakses dari www.idx.co.id atau dari website masing-masing perusahaan.
Dalam penelitian ini, data arsip sekunder yang dimaksud menurut Kiswanto dan Purwaningsih (2014) adalah:
1) Data beban pajak penghasilan dan laba sebelum pajak penghasilan tahun 2011-2015.
2) Data persentase kepemilikan saham perusahaan asing tahun 2011-2015. 3) Data related party transaction (RPT) piutang perusahaan tahun 2011-2015. 4) Data laba bersih tahun 2010-2015.
5) Data laba rugi selisih kurs tahun 2011-2015.
6) Data jumlah anak perusahaan yang dimiliki perusahaan.
C. Teknik Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling, yakni pengambilan sampel dengan menetapkan kriteria-kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan dalam teknik purposive sampling pada penelitian ini, antara lain:
1) Perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2011-2015.
2) Perusahaan sampel dengan kepemilikan asing minimal 20%, sesuai dengan PSAK No. 15 yang menyatakan bahwa pemegang saham pengendali adalah pihak yang memiliki saham atau efek yang bersifat ekuitas sebesar 20% atau lebih.
3) Perusahaan sampel yang memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan asing dengan kepemilikan minimal 25%. Hal ini sesuai dengan Undang-undang No 36 Tahun 2008 tentang pajak penghasilan.
4) Perusahaan yang menyajikan laba atau rugi selisih kurs pada laporan keuangan tahunan.
5) Perusahaan sampel tidak mengalami kerugian selama periode pengamatan (Yuniasih dkk, 2011). Hal ini karena perusahaan yang mengalami kerugian tidak memiliki kewajiban perpajakan sehingga alasan pajak menjadi tidak relevan. Oleh karena itu, perusahaan yang mengalami kerugian dikeluarkan dari sampel.
30
D. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode dokumentasi dan studi pustaka. Teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi yaitu mengumpulkan data dari dokumen-dokumen yang sudah ada. Data perusahaan non keuangan selama periode 2011-2015 diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia ( www.idx.co.id) atau dari website perusahaan terkait.
Studi kepustakaan merupakan teknik pengumulan data yang dilakukan dengan mengumpulkan informasi yang diperoleh melalui literatur yang ada seperti jurnal, artikel, buku maupun sumber lain yang relevan.
E. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah transfer pricing yang merupakan harga jual khusus yang digunakan dalam pertukaran sumber daya antar divisi dalam perusahaan atau antar perusahaan yang berelasi (Simamora, 1999). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hartati dkk (2014), transfer pricing diukur dengan dijadikan varabel dummy. Perusahaan yang melakukan penjualan kepada pihak yang berelasi diberi nilai 1, sedangkan perusahaan yang tidak mengungkapkan penjualan dengan pihak yang berelasi diberi niali 0.
2. Variabel independen a. Mekanisme Bonus
Mekanisme bonus merupakan strategi atau motif perhitungan dalam akuntansi untuk memaksimalkan penerimaan kompensasi oleh direksi dengan cara meningkatkan laba perusahaan secara keseluruhan (Hartati dkk, 2015).Variabel ini diukur dengan rumus profitabilitas, yaitu berdasarkan persentase pencapaian laba bersih tahun t terhadap laba bersih tahun t-1 (Hartati dkk, 2015). Rumus untuk mengukur mekanisme bonus dapat ditulis sebagai berikut:
Mekanisme Bonus = b. Tax minimization
Tax minimization adalah upaya meminimalkan beban pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan secara (Hartati dkk, 2015). Variabel tax minimization diproksikan menggunakan ETR (Effective Tax Rate). Perhitungan ETR menggunakan model dari Lanis dan Richardson (2012):
ETR = c. Exchange rate
Exchange rate merupakan perubahan nilai tukar antara dua mata uang. Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Chan dkk (2002) yang mengukur exchange rate melalui keuntungan atau kerugian dari transaksi perusahaan yang melibatkan mata uang asing seperti yang digunakan dalam penelitian Marfuah dan Azizah (2014). Variabel exchange rate ini dihitung
32
dari laba atau rugi selisih kurs dibagi dengan laba atau rugi penjualan dengan rumus berikut ini:
Exchange rate= d. Multinationality
Multinationality diukur sebagai berikut: jumlah anak perusahaan asing dibagi dengan jumlah anak sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Rego (2003) dan Mills dan Newberry (2004). Rumus untuk menghitung multinationality dapat ditulis sebagai berikut:
Multinationality = F. Metode Analisis Data
1. Uji Statistik Deskriptif
Uji statistik deskriptif dilakukan untuk mengetahui statistik deskriptif dari variabel yang diteliti. Melalui uji statistik deskriptif dapat diketahui jumlah data yang diolah, rata-rata data serta standar deviasi dari data variabel. Selain itu, dapat dikatahui pula nilai minimum dan nilai maksimum dari data yang digunakan. Melalui uji statistik deskriptif ini, dapat diketahui ringkasan mengenai data yang digunakan dan diolah dalam penelitian.
2. Uji Multikolinearitas
Model regresi dikatakan baik bila tidak terdapat gejala korelasi yang kuat diantara variabel independen. Uji Multikolinearitas pada model regresi logistik menggunakan matriks korelasi antarvariabel independen. Melalui tabel matriks korelasi dapat diketahui korelasi antarvariabel
independen. Model regresi dikatakan bebas multikolinearitas jika korelasi antarvariabel independen > 0,8.
3. Analisis Regresi Logiatik
a. Menilai Kelayakan Model Regresi
Kelayakan model regresi dilakukan melalui Hosmer and L how’ Goo n of t T t. Ho n L how’ Goo n of Fit Test digunkaan untuk menguji bahwa suatu data sesuai dengan model. Suatu model regresi dianggap layak untuk selanjutnya digunakan dalam analisis apabila memenuhi syarat yaitu memiliki nilai probabilitas gn f n > h Ho n L how’ Goo n of t Test.
b. Menilai Model Fit dan Keseluruhan Model (Overall Model Fit)
Penilaian model fit dan keseluruhan model dilakukan untuk menunjukkan bahwa model regresi sesuai dengan data. Penilaian ini dilakukan dengan membandingkan nilai -2 Log Likelihood pada awal (Block Number 0) dengan nilai -2 Log Likelihood pada akhir (Block Number 1). Model regresi yang baik akan manunjukkan penurunan pada nilai -2 Log Likelihood akhir atau dengan kata lain nilai -2 Log Likelihood awal > nilai -2 Lpg Likelihood akhir.
c. Menguji Nilai Nagelkerke R Square
Pengujian pada nilai Nagelkerke R Square dilakukan untuk melihat besarnya koefisien determinasi pada model regresi logistik. Besaran koefisien determinasi ini menunjukkan seberapa besar variabilitas
34
variabel independen mampu menjelaskan variabilitas variabel dependen. Pengujian ini dilihat dari besarnya nilai Nagelkerke R Square pada regresi logistik.
G. Uji Hipotesis
Penelitian ini menggunakan metode data kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik melalui analisis regresi logistik. Analisis statistik dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows Versi 22. Persamaan regresi logistik sebagai berikut:
Logit (Y) = [ ] β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + e Keterangan:
Y = Variabel Dependen (Transfer pricing)
β0 = Konstanta
β1 - β4 = Koefisien
X1 = Variabel Independen (Mekanisme Bonus) X2 = Variabel Independen (Tax minimization) X3 = Variabel Independen (Exchange rate) X4 = Variabel Independen (Multinationlity)
e = Error
Pengujian hipotesis dilakukan dengan melihat nilai probabilitas signifikansi pada hasil regresi logistik. Hipotesis dinyatakan diterima apabila memiliki nilai probabilitas signifikansi < 0,05.
35 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek/Subyek Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan non keuangan yang gterdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2011-2015. Jumlah perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian sebanyak 68 perusahaan. Perusahaan sampel ditentukan melalui kriteria tertentu, dengan penjabaran sebagai berikut:
TABEL 4.1
Proses Pengambilan Sampel
B. Analisis Deskriptif
Statistik deskriptif dari variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:
Kriteria 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah perusahaan non keuangan yang terdaftar di BEI
407 428 451 474 490
Perusahaan yang tidak memiliki anak perusahaan asing
(326) (339) (360) (483) (399) Perusahaan yang memiliki
kepemilikan asing < 20% (59) (59) (59) (59) (59) Perusahaan yang mengalami
rugi (2) (10) (3) (14) (9)
Perusahaan yang tidak
menyajikan selisih kurs (4) (5) (16) (2) (0)
Data outlier (4) (0) (2) (2) (4)
36
TABEL 4.2 Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean
Std. Deviation Mekanisme Bonus 68 1,35 6,90 4,4856 ,87594 Tax Minimization 68 -4,02 4,30 3,0616 1,31463 Exchange Rate 68 -174,40 5633,28 83,0067 685,24681 Multinationality 68 3,57 100,00 42,2839 31,68772
Tabel 4.2 menunjukkan hasil analisis statistik deskriptif dari variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Berdasar output tabel diatas data yang berjumlah 68 data.
Variabel mekanisme bonus memiliki nilai minimum sebesar 1,35 dan nilai maksimum sebesar 6,90. Rata-rata nilai dari variabel mekanisme bonus adalah 4,4856 dengan standar deviasi sebesar 0,87594.
Variabel tax minimization memiliiki nilai minimum sebesar -4,02 dan nilai maksimum sebesar 4,30. Rata-rata nilai dari variabel tax minimization adalah 3,0616 dan standar deviasi sebesar 1,31463.
Variabel exchange rate memiliki nilai minimum sebesar -174,40 dan nilai maksimum sebesar 5633,28. Rata-rata nilai dari variabel ini sebesar -83,0067 dengan standar deviasi sebesar 685,24681.
Variabel multinationality memiliki nilai minimum sebesar 3,57 dan nilai maksmimum sebesar 100,00. Rata-rata nilai dari variabel ini sebesar 42,2839 dengan standar deviasi sebesar 31,68772.
C. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat matriks korelasi antarvariabel bebas dengan hasil sebagai berikut:
TABEL 4.3 Tabel Matriks Korelasi
Constant Mekanisme Bonus Tax Minimization Exchange Rate Multinational ity Constant 1,000 -,908 -,624 ,006 -,304 Mekanisme Bonus -,908 1,000 ,428 -,010 ,008 Tax Minimization -,624 ,428 1,000 -,022 ,103 Exchange Rate ,006 -,010 -,022 1,000 -,004 Multinationality -,304 ,008 ,103 -,004 1,000
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa korelasi antarvariabel independen memiliki nilai < 0,8. Hal ini menandakan bahwa regresi bebas dari multikolinearitas.
D. Analisis Regresi Logistik
1. Menilai Kelayakan Model Regresi
Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer n L how’ Goo n of t Test dengan hasil sebagai berikut:
TABEL 4.4
Uji Hosmer and Lemeshow Step Chi-square df Sig.
1 11,987 8 ,152
Dari tabel diatas dapat diketahui nilai statistik Hosmer and L how’ Goo n of t T t 9 n o t signifikansi sebesar 0,152 > alpha 0,05. Dengan demikian dapat
38
disimpulkan bahwa model regresi layak dipakai untuk analisis selanjutnya.
2. Menilai Model Fit dan Keseluruhan Model (Overall Model Fit)
Penilaian terhadap Model Fit dan Keseluruhan Model dilkakukan dengan membandingkan nilai -2 Log Likelihood pada Block Number 0 dan -2 Log Likelihood pada Block Number 1 dengan hasil sebagai berikut:
TABEL 4.5 Nilai -2 Log Likelihood
-2 Log Likelihood Block N = 0 -2 Log Likelihood Block N = 1
51,142 37,126
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat terjadi penurunan dari nilai -2 Log Likelihood dari 51,14-2 menjadi 37,1-26. Adanya penurunan dari -2 Log Likelihood Block Number 0 ke -2 Log Likelihood Block Number 1 ini menunjukkan bahwa model regresi baik dan model yang dihipotesiskan fit dengan data.
3. Menguji Nilai Nagelkerke R Square
Dari regresi logistik yang dilakukan, diperoleh hasil Nagelkerke R Square sebagai berikut:
TABEL 4.6
Nilai Nagelkerke R Square
Step
-2 Log likelihood
Cox & Snell R
Square Nagelkerke R Square
1 37,126 ,163 ,317
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,317. Hasil tersebut menandakan variabilitas variabel dependen
dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel independen sebesar 31,7% sedangkan sisanya sebesar 68,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian.
E. Uji Hipotesis
TABEL 4.7 Hasil Uji Hipotesis
Dilihat dari tabel hasil uji regresi logistik diatas, persamaan regresi yang diperoleh dapat ditulis sebagai berikut:
TP = [ ] -3,567 + 0,923BONUS + 0,567TAXMIN + e
1. Pengujian Hipotesis Pertama (H1)
Berdasarkan hasil regresi, variabel mekanisme bonus memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,923 dan nilai Sig. 0,043 < alpha 0,05 yang berarti bahwa variabel mekanisme bonus berpengaruh secara signifikan positif terhadap variabel transfer pricing. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama (H1) diterima.
2. Pengujian Hipotesis Kedua (H2)
Variabel tax minimization memiliki nilai Sig sebesar 0,018 < alpha 0,05 dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,567 yang berarti bahwa varaibel tax
B Sig. Exp(B) Mekanisme Bonus ,923 ,043 2,516 Tax Minimization ,567 ,018 1,764 Exchange Rate -,001 ,538 ,999 Multinationality ,004 ,787 1,004 Constant -3,567
40
minimization berpengaruh secara signifikan positif terhadap variabel transfer pricing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua (H2) diterima
3. Pengujian Hipotesis Ketiga (H3)
Variabel exchange rate memiliki nilai Sig sebesar 0,538 > alpha 0,05 dengan koefisien regresi sebesar -0,001; sehingga dapat dikatakan bahwa variabel exchange rate tidak berpengaruh terhadap variabel transfer pricing. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis ketiga (H3) ditolak.
4. Pengujian Hipotesis Keempat (H4)
Variabel multinationality memiliki nilai Sig 0,787 > alpha 0,05 dengan koefisien regresi sebesar 0,004 yang berarti bahwa variabel multinationality tidak berpengaruh terhadap variabel transfer pricing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis keempat (H4) ditolak.
B. Pembahasan
1. Pengaruh Mekanisme Bonus terhadap Keputusan Transfer Pricing Hasil pengujian terhadap hipotesis pertama menunjukan bahwa mekanisme bonus memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan transfer pricing pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2015. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartati dkk (2014) yang menyatakan bahawa mekanisme bonus berpengaruh positif terhadap
trnsfer pricing. Mekanisme bonus memiliki pengaruh terdahap pengambilan keputusan transfer pricing dikarenakan penerapan mekanisme bonus dilakukan melalui penilaian kinerja direksi secara menyeluruh dengan melihat laba perusahaan secara keseluruhan (Hartati dkk, 2014). Melalui mekanisme seperti ini, para petinggi perusahaan memberikan reward kepada direksi tanpa melihat proses pencapaian laba.
Direksi perusahaan secara bebas dapat melakukan berbagai cara untuk meningkatkan laba perusahaan salah satunya melalui transfer pricing. Direksi dapat membuat keputusan transfer barang atau jasa antar divisi dengan tujuan maksimalisasi laba atau transfer laba ke anak perusahaan di luar negeri yang memiliki tarif pajak rendah. Hal tersebut dilakukan oleh direksi dengan motivasi bonus sebagai reward atas pencapaian laba.
2. Pengaruh Tax Minimization terhadap Keputusan Transfer Pricing Hasil pengujian terhadap hipotesis kedua (H2) menunjukkan bahwa tax minimization memiliki pengaruh signifikan positif terhadap keputusan transfer pricing. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartati dkk (2015) yang menyatakan bahwa tax minimization berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing dimana perusahaan multinasional akan mentransfer sejumlah pendapatan ke negara dengan tarif pajak yang lebih rendah untuk meminimalkan pembayaran pajak.
42
Pajak dianggap sebagai beban oleh perusahaan, semakin besar pajak yang dibayarkan oleh perusahaan semakin kecil laba perusahaan. Yuniasih dkk (2012) berpendapat bahwa perusahaan mengambil keputusan keputusan transfer pricing dipicu oleh beban pajak yang