(Studi Empiris pada Perusahaan Non Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015)
THE INFLUENCE OF BONUS MECHANISM, TAX MINIMIZATION, EXCHANGE RATE AND MULTINATIONALITY TOWARDS
TRANSFER PRICING DECISION
(Empirical Study on Non Financial Company Listed in Indonesia Stock Exchange for Year 2011-2015)
Oleh
DENI ARDIYANTI 20130420384
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
i
PENGARUH MEKANISME BONUS, TAX MINIMIZATION, EXCHANGE RATE DAN MULTINATIONALITY TERHADAP KEPUTUSAN TRANSFER
PRICING
(Studi Empiris pada Perusahaan Non Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015)
THE INFLUENCE OF BONUS MECHANISM, TAX MINIMIZATION, EXCHANGE RATE AND MULTINATIONALITY TOWARDS
TRANSFER PRICING DECISION
(Empirical Study on Non Financial Company Listed in Indonesia Stock Exchange for Year 2011-2015)
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta
Oleh
DENI ARDIYANTI 20130420384
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
iv Dengan ini saya,
Nama : Deni Ardiyanti
Nomor Mahasiswa : 20130420384
Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul “PENGARUH MEKANISME BONUS, TAX MINIMIZATION, EXCHANGE RATE DAN MULTINATIONALITY TERHADAP KEPUTUSAN TRANSFER PRICING
(Studi Empiris pada Perusahaan Non Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015)” tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang
pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau
diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini
dan disebutkan dalam Daftar Pustaka. Apabila ternyata dalam skripsi ini diketahui
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain
maka saya bersedia karya tersebut dibatalkan.
Yogyakarta,...
Materai, 6.000,-
\
v MOTTO
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
(QS Al Insyirah:06)
“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan
petunjuk pada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS At-Taghaabun:11)
“Hidup tidak cukup hanya berpangku tangan, jika kau menyerah maka habislah sudah”
(unknown)
“Seberat apapun penderitaanku, Aku akan tetap melangkah”
“Kau gagal tetapi masih bisa bangkit kembali, menurutku itulah arti kuat yang sebenarnya”
vi
Skripsi ini saya persembahkan untuk:
Ayah (Sudi Armanto) dan Ibu (Arum Triningsih) yang sangat saya cintai
Adikku Yogi Andika yang aku sayangi
Sahabat tersayang
ix
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan limpahan nikmat, rahmat serta karunia dalam penyusunan skripsi dengan judul “Pengaruh Mekanisme Bonus, Tax Minimization, Exchange Rate dan Multinationality terhadap Keputusan Transfer Pricing (Studi Empiris Pada Perusahaan Non Keuangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015)”, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini tepat waktu tanpa halangan
yang berarti.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar
Sarjana pada fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta. Latar belakang pemilihan topik transfer pricing oleh penulis, dikarenakan penulis ingin meneliti kembali aspek-aspek yang mempengaruhi
perusahaan dalam mengambil keputusan transfer pricing yang diklaim sebagai isu penting bidang perpajakan di dunia. Adanya ketidak-konsistenan hasil penelitian
sebelumnya juga menjadi motivasi tersendiri bagi penulis dalam memilih
variabel-variabel dalam penelitian.
Terwujudnya skripsi ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak yang turut
andil dalam penyusunan skripsi ini. Untuk itu, penulis menyampaikan rasa terima
kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta yang telah memberikan petunjuk, bimbingan dan
kemudahan selama penulis menyelesaikan studi.
2. Ibu Ietje Nazaruddin, Dr., M.Si., Ak., CA yang telah memberikan
bimbingan serta arahan kepada penulis selama penyusunan skripsi.
3. Ayah, Ibu, Saudara serta Keluarga yang senantiasa memberikan doa,
motivasi dan perhatian kepada penulis hingga dapat menyelesaikan
x sandaran.
5. Eleven Family a.k.a Mba Yash, Tante Anarkhi, Astri, Tami, Mbah
Erlina, Mupid, Ipeh, Mbak Bil, Anni, Farikha untuk semangat dan
motivasi yang diberikan.
6. Teman-teman Tim KKN 33 UMY 2016 untuk kenangan dan
kebersamaan selama masa-masa KKN.
7. Semua pihak yang turut andil dalam studi penulis dan memberikan
dukungan, bantuan serta kemudahan dalam proses penyelesaian skripsi
ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan banyak terima kasih dan penulis
menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini. Oleh karena
itu, besar harapan penulis bahwa pembaca dapat memberikan kritik serta saran
yang membangun agar penelitian yang selanjutnya dapat lebih baik.
Yogyakarta,...
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
2. Advance Pricing Agreement ... 11
3. Transfer Rules ... 12
4. Mutual Agreement Procedure (MAP) ... 12
5. Tax Haven ... 13
6. Transfer pricing ... 15
7. Mekanisme Bonus ... 16
8. Pajak ... 17
xii
1. Pengaruh Mekanisme bonus terhadap keputusan transfer pricing ... 19
2. Pengaruh Tax minimization terhadap Keputusan Transfer pricing ... 21
3. Pengaruh exchange rate terhadap transfer pricing ... 22
4. Pengaruh Multinationality terhadap transfer pricing ... 24
C. Model Penelitian ... 27
BAB III METODE PENELITIAN ... 28
A. Subyek/Obyek Penelitian ... 28
B. Jenis Data ... 28
C. Teknik Pengambilan Sampel ... 29
D. Teknik Pengumpulan Data ... 30
E. Definisi Operasional Variabel ... 30
1. Variabel dependen ... 30
2. Variabel independen ... 31
F. Metode Analisis Data ... 32
1. Uji Statistik Deskriptif ... 32
2. Uji Multikolinearitas ... 32
3. Analisis Regresi Logiatik ... 33
a. Menilai Kelayakan Model Regresi ... 33
b. Menilai Model Fit dan Keseluruhan Model (Overall Model Fit) ... 33
c. Menguji Nilai Nagelkerke R Square ... 34
G. Uji Hipotesis ... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
A. Gambaran Umum Obyek/Subyek Penelitian ... 35
B. Analisis Deskriptif ... 35
C. Uji Multikolinearitas ... 37
D. Analisis Regresi Logistik ... 37
1. Menilai Kelayakan Model Regresi ... 37
2. Menilai Model Fit dan Keseluruhan Model (Overall Model Fit) ... 38
3. Menguji Nilai Nagelkerke R Square ... 38
E. Uji Hipotesis ... 39
xiii
2. Pengujian Hipotesis Kedua (H2) ... 40
3. Pengujian Hipotesis Ketiga (H3) ... 40
4. Pengujian Hipotesis Keempat (H4) ... 40
F. Pembahasan ... 40
1. Pengaruh Mekanisme Bonus terhadap Keputusan Transfer Pricing ... 40
2. Pengaruh Tax Minimization terhadap Keputusan Transfer Pricing ... 41
3. Pengaruh Exchange Rate terhadap Keputusan Transfer Pricing ... 43
4. Pengaruh Multinationality terhadap Keputusan Transfer Pricing ... 44
BAB V SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN ... 46
A. Simpulan ... 46
B. Keterbatasan ... 46
C. Saran ... 47 DAFTAR PUSTAKA
xiv
TABEL 2.1 ... 13
TABEL 2.2 ... 14
TABEL 4.1 ... 35
TABEL 4.2 ... 36
TABEL 4.3 ... 37
TABEL 4.4 ... 37
TABEL 4.5 ... 38
TABEL 4.6 ... 38
xv
DAFTAR GAMBAR
vii
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pengaruh Mekanisme Bonus, Tax Minimization, Exchange Rate dan Multinationality terhadap Keputusan Transfer Pricing pada Perusahaan Non Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2015. Dalam Penelitian ini sampel berjumlah 80 perusahaan yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Alat yang digunakan adalah SPSS versi 22
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa mekanisme bonus dan tax minimization berpengaruh signifikan terhadap keputusan perusahaan dalam melakukan transfer pricing, sementar exchange rate dan multinayionality tidak mempengaruhi perusahaan dalam mengambil keputusan transfer pricing.
viii ABSTRACT
This study aims to analyze the influence of bonus mechanism, tax minimization, exchange rate and multinationality towards transfer pricing decision on non financial companies listed in Indonesia Stock Exchange for year 2011-2015. In this study, the samples are counted to 80 companies which choosed with purposive sampling methods. Analyzed tool used is SPSS version 22.
Based on the analysis, the study give a result that bonus mechanism and tax minimization has significant effect on company’s transfer pricing decision, meanwhile exchange rate and multinationality didn’t give any effect on company’s transfer pricing decision.
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Adanya perusahaan multinasional membuat transfer sumber daya (baik
berupa barang, jasa, laba, maupun aset) tidak hanya dilakukan antardivisi namun
juga antarperusahaan yang memiliki hubungan istimewa. Robert dan
Govindarajan (1998) mendefinisikan bahwa:
“The term of transfer pricing is a value placed on a transfer of goods and
services between in transaction in which at least one of the two parties
involved is a profit center”.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa transfer pricing dilakukan antara
dua divisi yang merupakan profit center dan bertujuan untuk meningkatkan profit
perusahaan.
Transfer pricing saat ini menjadi isu global yang rumit dan tak kunjung
terselesaikan. Adanya gesekan kepentingan antara pelaku bisnis dengan kantor
pajak membuat isu transfer pricing ini tak menjumpai titik temu.Hingga saat ini,
transfer pricing telah menjadi isu utama dalam bidang perpajakan baik di dalam
maupun di luar negeri. Transfer pricing menjadi isu yang menarik karena praktik
transfer pricing telah dilakukan secara luas oleh perusahaan multinasional
2
Secara teoritis, transfer pricing sesungguhnya digunakan sebagai penilai
kinerja antardivisi pada suatu perusahaan namun seiring perkembangan zaman,
fungsi praktik transfer pricing bergeser untuk praktik penghindaran pajak
(Mangoting, 2000).
Menurut Horngren (2008), yang dimaksud dengan transfer pricing (harga
transfer) adalah harga yang dibebankan satu subunit (departemen atau divisi)
untuk suatu produk atau jasa yang dipasok ke subunit yang lain di organisasi yang
sama. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan oleh Organization for Economic
Co-operation and Development (OECD) bahwa transfer pricing adalah harga
yang disepakati dalam sebuah transaksi yang dilakukan antar anggota dalam suatu
perusahaan multinasional. Harga transfer yang disepakati dalam transaksi tersebut
dapat menyimpang dari harga pasar. Hal ini dapat terjadi sepanjang harga yang
ditentukan tersebut cocok dengan ketentuan dalam grup korporasi.
Menurut Mangoting (2000), transfer pricing dilakukan oleh perusahaan
untuk meminimalkan beban pajak yang harus dibayar. Semakin besar jumlah
pajak yang harus ditanggung perusahaan, semakin besar kemungkinan perusahaan
melakukan transfer pricing. Transfer pricing tersebut dapat dilakukan melalui
transfer pendapatan, transfer barang atau jasa maupun transfer aset tak berwujud
lainnya. Transfer barang atau jasa antar anak perusahaan atau antardivisi dalam
satu grup dilakukan dengan cara memperkecil harga jual barang atau jasa tersebut.
Perusahaan dalam satu grup dapat secara bebas menentukan harga transfer sesuai
dengan keinginan mereka. Meskipun pada dasarnya transaksi antardivisi atau
antarperusahaan dalam satu grup tidak boleh menyimpang dari harga wajar
cenderung menyimpang dari harga pasar wajar. Hal tersebut terjadi karena
kelompok divisi maupun anak perusahaan pada satu grup memiliki kebebasan
untuk mengadopsi prinsip yang sesuai dengan korporasinya. Dengan alasan
kebebasan untuk mengadopsi prinsip apapun yang tepat bagi korporasi tersebut,
saat ini banyak muncul praktik transfer pricing berupa penghindaran pajak dan
penetapan harga transfer yang tidak wajar.
Perusahaan seperti Starbucks, Google, dan Amazon di Inggris pernah
berurusan dengan aparatur pajak karena kasus penghindaran pajak.
Perusahaan-perusahaan tersebut tidak membayar pajak korporasi dengan menyajikan kerugian
di laporan laba ruginya, padahal mereka berhasil mencetak penjualan yang tinggi
pada anak perusahaan mereka. Salah satu contohnya adalah Starbucks Inggris
yang pada tahun 2011 sama sekali tidak membayar pajak korporasi padahal
berhasil mencetak penjualan sebesar £398 juta. Selain itu, mereka juga mengaku
rugi sejak tahun 2008, dengan jumlah kerugiannya mencapai £112 juta atau
sekitar Rp1,7 triliun. Padahal dalam laporan kepada investornya di Amerika
Serikat, Starbucks mengatakan bahwa mereka memperoleh keuntungan yang
besar di Inggris dan penjualannya selama 3 tahun (2008-2010) mencapai £1,2
miliar atau sekitar Rp18 triliun. Dengan kerugian ini, Starbucks Inggris tidak
pernah membayar pajak korporasi. Bahkan selama 14 tahun beroperasi di Inggris,
Starbucks hanya membayar pajak sebesar £8,6 juta.
Praktik penghindaran pajak (tax avoidance) sendiri sesungguhnya
merupakan tindakan legal dan tidak melanggar hukum. Kegiatan penghindaran
pajak menjadi persoalan moral ketika praktiknya telah melampaui batas wajar.
4
tersebut menggunakan praktik transfer pricing untuk meminimalkan pembayaran
pajak mereka (tax minimization). Caranya tidak gampang, akan tetapi dengan
memanfaatkan celah-celah peraturan yang ada, mereka dapat memindahkan
keuntungan dari negara yang memiliki tarif pajak tinggi ke luar negeri dengan
tarif pajak yang jauh lebih rendah. Walaupun terlihat legal tetapi cara-cara seperti
ini dianggap sebagai cara yang amoral (Setiawan, 2013).
Meskipun legal, adanya praktik transfer pricing membuat penerimaan
negara menjadi berkurang. Indonesia sendiri telah mengalami kerugian hingga
triliunan rupiah per tahun disebabkan oleh adanya praktik transfer pricing.
Menurut pengamat pajak Piliang (2013) dalamartikel yang dikeluarkan oleh Biro
Analisis Anggaran dan Pelaksanaan APBN, kerugian negara akibat praktik transfer pricing mencapai Rp 1.300 triliun pada tahun 2009. Meskipun Ketua
Komisi Pengawas Perpajakan Suprijadi (2013) meragukan data potensi
kehilangan penerimaan pajak akibat transfer pricing bisa mencapai sebesar itu, ia
tetap mengakui bahwa transfer pricing telah banyak dilakukan perusahaan. Besar
potensi penerimaan pajak yang hilang akibat praktik negatif dari transfer pricing
sangat sulit di proyeksi, karena ketidakmungkinan mencari rujukan atau
pengenaan dasar bagi transaksi tersebut (www.kemenkeu.go.id). Oleh alasan
tersebut, pemerintah Indonesia menerapkan Undang-undang yang mengatur
tentang transfer pricing dan hubungan antara pihak-pihak yang memiliki
hubungan istimewa.
Peraturan tentang transfer pricing secara umum diatur dalam Pasal 18 (3)
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan yang
“Direktorat Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali
besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai
hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran
dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa
(arm’s length principle) dengan menggunakan metode perbandingan
harga antara pihak yang independen, metode harga penjualan kembali,
metode biaya-plus, atau metode lainnya.”
Adapun langkah-langkah yang dilakukan Dirjen Pajak dalam
mengantisipasi adanya praktik transfer pricing yaitu, melakukan Pricing dengan
mengadopsi transfer rules, Mutual Agreement Procedure dan Advance Pricing
Agreement.
Praktik transfer pricing oleh perusahaan selain dimotivasi oleh alasan
pajak juga dilatar belakangi oleh alasan non pajak, dimana keputusan transfer
pricing diambil dalam rangka meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Profitabilitas akan mempengaruhi minat investor untuk menanamkan modalnya di
perusahaan. Investor cenderung menanamkan modalnya pada perusahaan dengan
profitabilitas yang tinggi, sehingga dalam laporan keuangannya perusahaan
berusaha menyajikan profitabilitas yang tinggi. Profitabilitas salah satunya
dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar. Perubahan nilai tukar (exchange rate) ini
akan mempengaruhi laba perusahaan secara keseluruhan.
Hal lain yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengambilan
keputusan perusahaan yakni proporsi kepemilikan perusahaan. Struktur
6
terkonsentrasi dan menyebar. Menurut Dynaty dkk (2011) perusahaan di Asia
kebanyakan memiliki struktur kepemilikan terkonsentrasi. Pada struktur
kepemilikan ini, informasi dapat diakses dengan lebih baik oleh pemegang saham
pengendali dari pemegang saham non pengendali. Menurut PSAK No. 15, suatu
entitas dapat memberikan pengaruh yang signifikan untuk mengendalikan
perusahaan jika entitas tersebut memiliki saham minimal 20% baik secara
langsung maupun tidak langsung. Semakin besar porsi kepemilikan yang dimiliki
pemegang saham, semakin besar pula kendali yang dimiliki pemegang saham
tersebut untuk menentukan keputusan perusahaan. Kepemilikan perusahaan dapat
dimiliki oleh orang secara individu, pemerintah, atau instansi lain baik instansi
dalam negeri maupun instansi asing. Apabila kepemilikan perusahaan didominasi
oleh kepemilikan asing, maka tidak menutup kemungkinan kendali asing akan
berpengaruh terhadap pengambil keputusan perusahaan. Hanlon dkk (2007)
mengungkapkan perusahaan yang dikendalikan oleh pihak asing cenderung
memiliki tingkat ketidakpatuhan terhadap pajak yang lebih besar.
Alasan lain yang dapat meningkatkan praktik transfer pricing yakni
diterapkannya mekanisme bonus pada perusahaan. Perusahaan yang menerapkan
mekanisme bonus akan menilai pekerjaan direksi dan manajer berdasarkan laba
perusahaan secara keseluruhan (Hartati dkk, 2015). Direksi dan manajer dianggap
berhasil mencapai kinerja yang baik apabila mampu menampilkan laba yang baik.
Dan untuk kinerja yang baik tersebut, direksi dan manajer akan diberi
penghargaan berupa bonus. Direksi dan manajer akan cenderung berusaha
menampilkan laba perusahaan yang baik pada laporan keungan perusahaan untuk
praktik transfer pricing, baik melalui penghindaran pajak dengan mentransfer
pengahsilan ke negara tax haven maupun transfer sumber daya dengan harga yang
tidak sesuai harga wajar.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Mekanisme Bonus, Tax minimization, Exchange rate dan Multinationality terhadap Keputusan Transfer
Pricing (Studi Empiris Pada Perusahaan Non Keuangan Yang Terdaftar Di Bursa
Efek Indonesia Tahun 2011-2015)”.
Penelitian ini merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Hartati dkk
(2014) serta Mafuah dan Azizah (2015). Variabel Mekanisme Bonus dan Tax
Minimixation merujuk pada penelitian Hartati dkk (2014), sedangkan variabel
exchange rate merujuk pada penelitian Marfuah dan Azizah (2015). Motivasi
peneliti dalam melakukan penelitian ini yaitu untuk meneliti kembali faktor-faktor
yang mempengaruhi keputusan transfer pricing pada perusahaan. Penelitian yang
telah banyak dilakukan belum menunjukkan hasil yang konsisten.
B. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis membatasi pembahasan
untuk menghindari meluasnya permasalahan dalam penelitian ini. Oleh karena itu
permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada pengaruh variabel Mekanisme
Bonus, Tax minimization, Exchange rate dan Multinationality terhadap keputusan
transfer pricing pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
8
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka pokok
permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah mekanisme bonus berpengaruh positif terhadap keputusan transfer
pricing?
2. Apakah tax minimization berpengaruh positif terhadap keputusan transfer
pricing?
3. Apakah exchange rate berpengaruh positif terhadap keputusan transfer
pricing?
4. Apakah multinationality berpengaruh positif terhadap keputusan transfer
pricing?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah duraikan diatas, maka tujuan dari
dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Untuk memperoleh bukti empiris adanya pengaruh positif mekanisme
bonus terhadap keputusan transfer pricing.
2. Untuk memperoleh bukti empiris adanya pengaruh positif tax
minimization terhadap keputusan transfer pricing.
3. Untuk memperoleh bukti empiris adanya pengaruh positif exchange rate
terhadap keputusan transfer pricing.
4. Untuk memperoleh bukti empiris adanya pengaruh positif multinationality
E. Manfaat Penelitian
1. Memberikan gambaran kepada pemerintah, analis laporan keuangan,
manajemen perusahaan, dan investor/kreditor mengenai bagaimana
Mekanisme Bonus, Tax minimization, Exchange rate dan Multinationality
mempengaruhi perusahaan dalam mengambil keputusan untuk melakukan
transfer pricing yang dapat digunakan sebagai literatue untuk
meminimalisir terjadinya praktik transfer pricing.
Menambah pengetahuan bagi perkembangan studi akuntansi dengan memberikan
gambaran mengenai faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perusahaan dalam
mengambil keputusan untuk melakukan transfer pricing, khususnya perusahaan
manufaktur multinasional di Indonesia dan menambah referensi untuk penelitian
10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Teori Agensi
Teori agensi menurut Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan
hubungan antara agen dan prinsipal. Teori agensi muncul ketika ada dua
pihak yang saling berhubungan dan saling terikat, dimana salah satu pihak
(prinsipal) mempekerjakan pihak yang lain (agen) untuk melaksanakan
sejumlah jasa. Dalam mempekerjakan agen, pihak prinsipal mendelegasikan
sejumlah wewenang untuk mengambil keputusan kepada agen. Hubungan
keagenan ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan ketika terjadi asimetri
informasi, yaitu keadaan dimana agen memiliki lebih banyak informasi
daripada prinsipal. Oleh karena itu sebagai pengelola, agen memiliki
kewajiban untuk memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada
pemilik (Ujiyantho, 2007). Bila diasumsikan bahwa individu bertindak
untuk tujuan memaksimalkan kepentingan diri sendiri, maka agen akan
cenderung menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui
prinsipal. Ujiyantho (2007) juga mengungkapkan Asimetri informasi yang
terjadi antara agent dengan principal memberikan kesempatan kepada agen
untuk bertindak oportunis, yaitu bertindak demi memperoleh keuntungan
pribadi.
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa ada kecenderungan dimana
yang memiliki hubungan istimewa. Pihak yang memiliki hubungan
istimewa adalah pihak yang memiliki kendali atas pihak lain atau pihak
yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan (PSAK No. 7 Tahun
2010). Menurut Jensen dan Meckling (1976), transaksi antara pihak yang
memiliki hubungan istimewa dilihat sebagai transaksi yang opportunis dan
dapat menyebabkan gesekan kepentingan antara pihak yang bertransaksi
dimana hai inikonsisten dengan teori agensi.
Transaksi antar pihak yang berhubungan istimewa disebut dengan
transfer pricing yang digunakan untuk tujuan memaksimalkan laba
perusahaan. Apabila agen memanfaatkan asimetri informasi untuk
mengelabuhi prinsipal dan memaksimalkan kepentingan pribadi melalui
transfer pricing, maka terdapat kemungkinan bahwa agen melakukan
transfer pricing melalui manipulasi untuk meminimalkan pajak atau
transaksi dengan harga yang tidak wajar. Penelitian ini akan meneliti
mengenai ada tidaknya pengaruh usaha perusahaaan untuk meminimalkan
pembayaran pajak serta variabel lain terhadap keputusan transfer pricing.
2. Advance Pricing Agreement
Dengan meluasnya priaktik transfer pricing yang dinilai
merugikan negara, aparatur pajak mencoba mencari jalan keluar untuk
menangani masalah tersebut. Salah satu cara yang dilakukan guna
mengatasi masalah transfer pricing ini yaitu dengan menerapkan advance
pricing agreement (APA). APA merupakan kesepakatan yang dilakukan
oleh Direktorat Jendral Pajak (DJP) dengan wajib pajak mengenai harga jual
12
(Santoso, 2004) . Undang-undang No 36 pasal 18 ayat 3a menjelaskan
tujuan dari diselenggarakannya APA adalah untuk mencegah
penyalahgunaan praktik transfer pricing oleh perusahaan multinasional.
Kesepakatan yang dibuat mencakup jumlah serta harga barang yang
diproduksi, jumlah royalti dan hal lain yang dikehendaki oleh kedua belah
pihak. APA dapat diberlakukan antara DJP dengan wajib pajak maupun DJP
dengan aparatur pajak di luar negeri dimana wajib pajak berada dalam
wilayah yuridiksinya.
3. Transfer Rules
Menurut Santoso (2004) trasnsfer rules merupakan kebijakan
dimana Negara diberikan kewenangan untuk mendistribusikan atau
mengalokasikan item-item yang mempengaruhi Pendapatan Kena Pajak
pada Wajib Pajak yang memiliki hubungan istimewa. Tujuan dari dari
penerapan transfer rules adalah agar wajib pajak yang memiliki hubungan
istimewa menjadi wajib bajak yang independen, sehingga transaksi yang
mereka lakukan memenuhi arm’s length principle.
4. Mutual Agreement Procedure (MAP)
Mutual Agreement Procedure (MAP) menurut Santoso (2004)
dapat dilakukan secara simultan dengan urutan mengajukan keberatan,
melakukan banding, permohonan pengurangan dan pembatalan. MAP
sendiri dapat diinisiasi oleh Wajib Pajak Dalam Negeri, Warga Negara
Indonesia dalam konteks kasus non-diskriminasi, serta Otoritas Pajak
pemberian kepastian hukum serta panduan dalam pelaksanaan prosedur
administratif pada P3B.
5. Tax Haven
Negara Tax Haven merupakan negara yang membebaskan wajib
pajaknya dari membayar pajak penghasilan atau bisa dikatakan pajak
penghasilannya 0%, negara dengan tarif pajak yang lebih rendah dari
Indonesia juga dapat dikategorikan sebagai negara tax haven (Santoso,
2004). Keberadaan negara tax heven ini tidak lepas dari sorotan karena
negara-negara tax haven biasanya dijadikan sebagai tempat persinggahan
bagi perusahaan yang ingin meminimalkan beban pajaknya dengan
mentransfer laba ke anak perusahaan yang berada di negara tax haven.
Berikut adalah daftar negara yang masuk ke dalam tax haven versi
European Union (EU) pada tahun 2013:
TABEL 2.1
Daftar Negara Tax Haven
1 Andorra 17 Liechtenstein
2 Anguilla 18 Maldives
3 Antigua and Barbuda 19 Marshall Island
4 Bahama 20 Mauritus 15 Guernsey, Sark and Alderney 31 Yunuatu
16 Hongkong
14
Sedangkan dibawah ini merupakan tarif pajak dari berbagai negara
di dunia, negara dengan tarif pajak lebih rendah dari tarif pajak Indonesia
(30%) juga dapat dikategorikan sebagai negara tax haven:
TABEL 2.2
Daftar Tarif Pajak Penghasilan Negara di Dunia
Negara
Papua Nugini 42 Amerika Serikat 39,6
Selandia Baru 33 Argentina 35
yang dipakai dalam pertukaran antar divisional untuk mencatat pendapatan
divisi penjual dan biaya divisi pembeli. Transfer pricing kebanyakan
barang atau jasa yang dipasok oleh divisi penjual kepada divisi pembeli
(Mangoting, 2000). Transaksi transfer pricing dapat terjadi antar divisi
dalam satu perusahaan, antar perusahaan lokal, atau perusahaan lokal
dengan perusahaan asing (Yuniasih dkk, 2011). Transaksi transfer pricing
biasanya dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa.
Seperti yang diungkapkan pada PSAK No 7 bahwa pihak yang mempunyai
hubungan istimewa adalah pihak yang mempunyai kemampuan
mengendalikan atau pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan
pihak lain.
Gunadi (1994) menyatakan bahwa transfer pricing adalah penentuan
harga yang berhubungan dengan penyerahan barang, jasa, atau pengalihan
teknologi antar perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa. Selain itu,
transfer pricing juga merupakan suatu rekayasa yang dilakukan untuk
manipulasi harga secara sistematis. Manipulasi harga yang dilakukan dalam
transfer pricing menyangkut masalah kewajaran. Otoritas fiskal (aparat
perpajakan) selalu menginginkan transaksi yang terjadi antardivisi atau
antarperusahaan dalam satu grup tetap mengacu pada harga pasar wajar dan
bersifat arm’s length.
PSAK No 17 menyebutkan bahwa pengakuan akuntansi suatu
pengalihan sumber daya secara normal didasarkan pada suatu harga yang
disepakati pihak yang bersangkutan. Harga yang berlaku antara pihak yang
tidak mempunyai hubungan istimewa adalah harga pertukaran antara pihak
yang independen. Meski demikian, pihak-pihak yang memiliki hubungan
16
dimana prinsip tersebut berbeda dengan ketika mereka melakukan transaksi
dengan pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa. Menurut arm’s
length principle, harga transfer harusnya ditetapkan sesuai dengan harga
wajar sama halnya dengan harga yang ditetapkan pada transaksi antar pihak
yang tidak terikat.
7. Mekanisme Bonus
Menurut Hartati dkk (2014) mekanisme bonus merupakan salah satu
strategi atau motif perhitungan dalam akuntansi yang bertujuan untuk
memberikan penghargaan kepada direksi atau manajemen dengan melihat
laba perusahaan secara keseluruhan. Mekanisme bonus yang didasarkan
pada besarnya laba menjadi cara paling populer dalam memberikan
penghargaan kepada direksi atau manajer. Mekanisme ini cenderung
membuat direksi atau manajer berusaha untuk meningkatkan laba
perusahaan agar bonus yang mereka terima semakin meningkat. Akibat dari
adanya mekanisme bonus tersebut, direksi dan manajemen cenderung
melakukan manajemen laba untuk menaikkan laba perusahaan salah satunya
melalui praktik transfer pricing.
8. Pajak
Dalam Pasal 1 UU No 28/2007 tentang Ketentuan Umum
Perpajakan (KUP) dijelaskan bahwa Pajak adalah kontribusi wajib kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
Pajak menjalankan fungsi sebagai sumber keuangan Negara,
menjalankan fungsi Regulated (mengatur) dan sebagai sarana redistribusi
pendapatan.
Agresivitas pajak menurut Frank dkk (2009) seperti yang dikutip
oleh Suyanto (2012), merupakan tindakan yang dilakukan perusahaan untuk
mengurangi pendapatan kena pajak melalui perencanaan pajak baik secara
legal (tax avoidance) maupun ilegal (tax evasion). Perusahaan menganggap
pajak sebagai beban/biaya yang dapat mengurangi keuntungan perusahaan.
Oleh karena itu, perusahaan berusaha untuk sedapat mungkin mengurangi
beban pajak mereka ke tingkat yang paling minimal (tax minimization).
9. Exchange rate
Nilai tukar (atau dikenal sebagai kurs) adalah nilai tukar atas mata
uang terhadap pembayaran saat ini atau dimasa mendatang, antara dua mata
uang yang berbeda. Marfuah dan Azizah (2014) menyatakan bahwa
exchange rate memiliki dua efek akuntansi, yaitu pada proses memasukkan
transaksi yang menggunakan mata uang asing dan pada pengungkapan laba
rugi perusahaan secara keseluruhan.
Dalam pembahasan nilai tukar juga tidak lepas dari risko nilai tukar
(exchange rate risk). Risiko nilai tukar merupakan suatu bentuk risiko yang
muncul akibat dari adanya perubahan nilai tukar suatu mata uang terhadap
mata uang yang lain. Perusahaan yang memiliki operasi bisnis lintas negara
tidak dapat terhindar dari risiko ini apabila tidak menerapkan lindung nilai.
18
pricing untuk menghindari risiko tersebut, dengan memindahkan laba ke
mata uang yang kuat.
10.Multinationality
Perusahaan multinasional merupakan perusahaan yang beroperasi
di lebih dari satu negara. Pada perusahaan multinasional, terdapat dua
kelompok kepemilikan yaitu kepemilikan pihak dalam dan kepemilikan pihak
luar. Kepemilikan pihak dalam merupakan kepemilikan saham perusahaan
oleh pihak internal perusahaan seperti manajer, sedangkan kepemilikan pihak
luar adalah kepemilikan saham perusahaan oleh perusahaan
internasional/multinasional sebesar 50% atau lebih. Perusahaan multinasional
biasanya memiliki perencanaan pajak yang efisien di seluruh kelompok
entitas (Martasari, 2015). Perusahaan multinasional yang beroperasi di lebih
dari satu negara cenderung melakukan penghindaran pajak yang lebih besar.
Gusnardi (2009) menyatakan bahwa transfer pricing kebanyakan dilakukan
oleh perusahaan multinasional untuk meminimalkan kewajiban pajak global
yang ditanggung oleh perusahaan mereka.
B. Pengembangan Hipotesis
1. Pengaruh Mekanisme bonus terhadap keputusan transfer pricing Pemilik perusahaan biasanya menilai kinerja para direksi dan
manajer melalui laba perusahaan secara keseluruhan. Berdasarkan mekanisme
tersebut, manajer dan direksi akan cenderung menaikkan laba perusahaan
dengan melakukan manajemen laba salah satunya melalui praktik transfer
Penelitian yang dilakukan oleh Hartati dkk (2014) menunjukkan
adanya pengaruh antara mekanisme bonus terhadap keputusan transfer
pricing perusahaan. Dalam rangka mendapat bonus dari pemilik perusahaan,
para direksi akan berusaha semaksimal mungkin agar laba perusahaan secara
keseluruhan mengalami peningkatan termasuk dengan cara melakukan
praktik Transfer pricing. Pada tahun 2015 Hartati dkk kembali melakukan
penelitian yang hasilnya konsisten dengan penelitian sebelumya, yakni
mekanisme bonus berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Halim (2015) juga
menunjukkan bahwa mekanisme bonus berengaruh terhadap keputusan
transfer pricing, namun memiliki arah yang berbeda. Dalam penelitian ini
mekanisme bonus memiliki arah hubungan negatif dengan transfer pricing
dimana semakin besar kenaikan laba perusahaan, semakin kecil kemungkinan
perusahaan melakukan transfer pricing. Hal ini dikarenakan perusahaan
dengan laba yang tinggi pasti telah menetapkan strategi-strategi dalam
mencapai target bonus yang ingin diperoleh baik dengan melakukan inovasi
strategi maupun strategi lain yang efektif.
Adanya kebijakan mekanisme bonus menjadi motivasi tersendiri
bagi para manajer untuk meningkatan kinerja mereka. Apabila bonus
diberikan berdasarkan kinerja, direksi memberikan bonus bagi para manajer
yang menunjukkan kinerja baik pada laporan akhir tahun. Tidak melihat
bahwa hasil yang baik itu berasal dari proses yang baik pula atau tidak. Jika
manajer berhasil memperlihatkan kinerja optimal dan hasil laba yang baik di
20
sebab itu, manajer kadang menggunakan praktik transfer pricing dengan
melakukan transfer sumber daya antar divisi untuk memperoleh keuntungan
yang besar karena transfer sumber daya antara divisi dapat dilakukan diluar
harga wajar.
Namun demikian, penelitian yang dilakukan oleh Tsani (2011) dan
Fitri (2015) menunjukkan bahwa pemberian bonus kepada manajer atau
karyawan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba yang dilakukan dalam
perusahaan. Dalam penelitian mereka, dijelaskan bahwa semakin tinggi bonus
yang diberikan perusahaan kepada manajer dan karyawan, maka tingkat
manajemen laba adalah tetap atau konstan. Penelitian ini juga sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Mispiyanti (2015). Berdasarkan uraian di atas,
penulis menurunkan hipotesis pertama yaitu:
H1 : Mekanisme bonus berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing.
2. Pengaruh Tax minimization terhadap Keputusan Transfer pricing Pajak dianggap sebagai beban yang harus dibayarkan oleh
perusahaan. Semakin tinggi pajak yang harus ditanggung perusahaan maka
semakin kecil laba yang diperoleh perusahaan. Dengan alasan inilah,
perusahaan berusaha untuk meminimalkan pembayaran pajak mereka.
Minimalisasi pembayaran pajak ini dapat dilakukan melalui pengelolaan
pajak maupun manajemen laba dalam bentuk transfer pricing. Perusahaan
multinasional cenderung memiliki pengelolaan pajak yang efisien bagi
seluruh korporasinya, namun sumber pendapatan yang tidak hanya berasal
melakukan praktik transfer pricing. Perusahaan tersebut mentransfer
pendapatan ke negara dengan tarif pajak rendah (tax havens country)
dengan tujuan meminimalkan beban pajak mereka.
Pajak dalam perusahaan tidak dapat dimasukkan ke dalam biaya
produksi, karena pajak merupakan iuran wajib atas sejumlah pendapatan
yang diperoleh wajib pajak baik perorangan maupun badan. Pajak dinilai
sebagai pengurang laba perusahaan karena semakin besar pajak yang harus
ditanggung perusahaan, maka laba perusahaan yang diperoleh akan
semakin berkurang. Hal inilah yang dijadikan manajer atau direksi sebagai
alasan untuk melakukan transfer pricing guna meminimalkan jumlah pajak
yang harus mereka bayar.
Penelitian yang dilakukan Yuniasih dkk (2012) menunjukkan
adanya pengaruh positif antara pajak dan transfer pricing. Penelitian ini
juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Kiswanto dan Purwaningsih
(2014) yang menyatakan pajak berpengaruh signifikan positif terhadap
transfer pricing. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa semakin
tinggi beban pajak yang ditanggung oleh perusahaan, maka kecenderungan
perusahaan untuk melakukan transfer pricing semakin tinggi. Hal ini
dikarenakan pajak merupakan beban yang ditanggung oleh perusahaan,
sehingga perusahaan akan mencoba untuk menekan pembayaran pajak
untuk memaksimalkan laba melalui transfer pricing (Mangoting, 2000).
Penelitian mengenai pengaruh positif pajak terhadap transfer
pricing ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Marfuah
22
terhadap transfer pricing. Penelitian lain yang dilakukan oleh Mispiyanti
(2015) juga menunjukkan bahwa pajak tidak perngaruh terhadap transfer
pricing. Menurut dia, perusahaan cenderung meminimalisir beban pajak
perusahaan bukan melalui transfer pricing tetapi melalui manajemen
pajak. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merumuskan hipotesis
kedua, yaitu:
H2 : Tax minimization berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing.
3. Pengaruh exchange rate terhadap transfer pricing
Exchange rate merupakan nilai tukar antara dua mata uang. Nilai
tukar ini dapat mempengaruhi neraca perdagangan suatu negara. Exchange
rate yang lebih tinggi akan mencerminkan harga produk domestik yang
relatif lebih rendah dari harga produk lain, karena dengan Dollar yang
sama akan memberikan jumlah Rupiah yang lebih banyak (Ginting, 2013).
Hal tersebut juga dapat diterapkan pada pendapatan, dimana naiknya
exchange rate atau nilai tukar akan mempengaruhi nilai suatu mata uang
terhadap mata uang yang lain. Perusahaan yang menginginkan keuntungan
lebih cenderung menggunakan mata uang yang lebih kuat untuk
menyatakan pendapatanya.
Exchange rate mempengaruhi laba perusahaan secara keseluruhan.
Perusahaan multinasional menggunakan transfer pricing untuk
mengurangi risiko nilai tukar (exchange rate) dengan mentransfer dana ke
Penelitian yang dilakukan oleh Bernard dkk (2006)
mengindikasikan adanya pengaruh perubahan nilai tukar dollar terhadap
harga wajar (arm’s length) dan harga transfer pada perusahaan
multinasional di Amerika Serikat. Sebagai tanggapan terhadap penilain
mata uang dollar, perusahaan afiliasi dalam negeri akan menurunkan harga
berbasis dolar untuk pelanggan yang berbasis harga wajar.
Cravens dan Shearon Jr (1996) menyatakan bahwa untuk
mengendalikan risiko dari keuntungan maupun kerugian transaksi,
perusahaan dapat menggunakan transfer pricing sebagai pagar pelindung
untuk menghadapi perubahan nilai tukar. Transfer pricing dapat
digunakan untuk mengurangi eksposur transaksi perusahaan multinasional
terhadap risiko perubahan nilai tukar dengan memindahkan dana ke mata
uang yang kuat.
Marfuah dan Azizah (2014) menyatakan bahwa pengaruh
exchange rate terhadap keputusan transfer pricing perusahaan memiliki
arah yang positif tetapi tidak siginifikan, yang mengindikasikan bahwa
besar kecilnya perubahan nilai tukar mata uang tidak berpengaruh terhadap
pengambilan keputusan transfer pricing.
Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa exchange rate
mempengaruhi trasaksi lintas negara. Perubahan nilai tukar akan
mempengaruhi nilai suatu mata uang terhadap mata uang yang lain.
Perubahan pada nilai tukar suatu mata uang akan membuat transaksi yang
24
Oleh karena itu, perusahaan berusaha mengurangi risiko tersebut melalui
praktik transfer pricing.
H3 : Exchange rate berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing
4. Pengaruh Multinationality terhadap transfer pricing
Perusahaan dikatakan sebagai perusahaan multinasional jika
perusahaan tersebut memiliki cabang atau anak perusahaan di lebih dari
satu negara. Anak perusahaan di negara yang satu dengan anak perusahaan
di negara yang lain memiliki perpedaan regulasi pajak tergantung pada
kebijakan setiap negara. Ada negara dengan tarif pajak yang tinggi dan
ada pula negara dengan tarif pajak yang rendah. Adanya perbedaan tarif
pajak tersebut, membuat perusahaan multinasional harus pandai
menerapkan strategi guna mengatasi problem perpajakan yang berbeda
antar anak perusahaan.
Praktik transfer pricing digunakan oleh perusahaan multinasional
untuk menghindari pengenaan pajak yang tinggi dengan mentransfer laba
kena pajak perusahaan ke anak perusahaan di negara dengan tarif pajak
rendah. Melalui praktik ini, perusahaan dapat menghindari tarif pajak yang
tinggi dan meminimalkan jumlah pembayaran pajak sehingga labanya
dapat maksimal.
Perusahaan multinasional yang memiliki transaksi intragrup lintas
nasional akan berusaha untuk memaksimalkan labanya secara global.
Perusahaan multinasional yang beroperasi di lebih dari satu negara selalu
pada perusahaan multinasional dapat berupa rantai suplai tersdesentralisasi
dan tersentralisasi. Rantai suplai tersentralisasi cenderung lebih
menguntungkan bagi perusahaan multinasional karena dapat mengurangi
biaya-biaya korporasi. Perusahaan multinasional menghendaki laba yang
optimal dan biasanya perusahaan memiliki perencanaan pajak yang efisien
untuk mencapai tujuan tersebut (Siahaan, 2015).
Menurut Mangoting (2000), anak perusahaan yang didirikan pada
suatu negara terkadang hanya bersifat sebagai transit place atau hanya
sebatas tempat persinggahan. Perusahaan multinasional mendirikan
perusahaan di negara-negara tax haven untuk digunakan sebagai tempat
persinggahan dalam transaksi lintas negara perusahaan multinasional.
Induk perusahaan yang berada di negara dengan tarif pajak tinggi akan
mentransfer pendapatan atau objek transaksinya ke anak perusahaan di
negara tax haven untuk meminimalkan beban pajak dan memaksimalkan
laba.
Chandraningrum (2014) berpendapat bahwa perusahaan
multiasional memiliki fleksibilitas untuk memanfaatkan perbedaan antar
yurisdiksi pajak nasional sehingga dapat menurunkan beban pajak
perusahaan secara keseluruhan. Perusahaan multinasional melakukan
pergeseran beban dan pendapatan melalui ikatan-ikatan dalam perusahaan
yang memberikan peluang tambahan bagi perusahaan multinasional untuk
meminimalkan pajak global yang dibayarkan.
Rahayu (2010) menyatakan adanya nature dari perusahaan induk
26
terjadinya praktik penghindaran pajak yang dilakukan melalui transaksi
antar entitas yang berhubungan istimewa.
Rego (2003) juga menyataan bahwa perusahaan multinasional
memiliki kesempatan untuk menghindari pajak penghasilan dengan
menempatkan operasi di negara dengan pajak yang rendah, kemudian
menggeser pendapatan dari negara dengan pajak yang tinggi ke negara
dengan pajak yang rendah. Pergeseran pendapatan ini dilakukan dengan
memanfaatkan perbedaan aturan pajak antara negara satu dengan yang
lainnya dan mengambil keuntungan dari perjanjian subsidi pajak dengan
negara tuan rumah.
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa semakin perusahaan itu
bersifat multinasional, semakin besar kesempatan perusahaan untuk
melakukan transfer pricing. Adanya tax haven countries mendukung
perusahaan multinasional untuk melakukan praktik penghindaran pajak
melalui transfer pricing. Oleh karena itu, penulis menurunkan hipotesis
keempat yaitu:
H
1+
H
2+
H
3+
H
4+
C. Model Penelitian
Gambar 2.1 Bagan Model Penelitian MEKANISME
BONUS
TAX MINIMIZATION
EXCHANGE RATE
MULTINATIONALI TY
KEPUTUSAN
28 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subyek/Obyek Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan non keuangan yang
terdaftar (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2015.
Pemilihan populasi perusahaan non keuangan dikarenakan perusahaan non
keuangan memiliki jumlah yang cukup banyak untuk dijadikan populasi,
mengingat penelitian ini menggunakan purposive sampling. Periode yang
dipilih adalah tahun 2011-2015 dengan tujuan agar data yang diperoleh dapat
digenerallisasikan dan hasil penelitian dapat relevan dengan keadaan yang
ada saat ini.
B. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
berupa laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan non keuangan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2011-2015 dan dapat
diakses dari www.idx.co.id atau dari website masing-masing perusahaan.
Dalam penelitian ini, data arsip sekunder yang dimaksud menurut
Kiswanto dan Purwaningsih (2014) adalah:
1) Data beban pajak penghasilan dan laba sebelum pajak penghasilan tahun
2011-2015.
2) Data persentase kepemilikan saham perusahaan asing tahun 2011-2015.
3) Data related party transaction (RPT) piutang perusahaan tahun 2011-2015.
5) Data laba rugi selisih kurs tahun 2011-2015.
6) Data jumlah anak perusahaan yang dimiliki perusahaan.
C. Teknik Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik
purposive sampling, yakni pengambilan sampel dengan menetapkan
kriteria-kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan dalam teknik purposive
sampling pada penelitian ini, antara lain:
1) Perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama
tahun 2011-2015.
2) Perusahaan sampel dengan kepemilikan asing minimal 20%, sesuai dengan
PSAK No. 15 yang menyatakan bahwa pemegang saham pengendali adalah
pihak yang memiliki saham atau efek yang bersifat ekuitas sebesar 20% atau
lebih.
3) Perusahaan sampel yang memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan
asing dengan kepemilikan minimal 25%. Hal ini sesuai dengan
Undang-undang No 36 Tahun 2008 tentang pajak penghasilan.
4) Perusahaan yang menyajikan laba atau rugi selisih kurs pada laporan
keuangan tahunan.
5) Perusahaan sampel tidak mengalami kerugian selama periode pengamatan
(Yuniasih dkk, 2011). Hal ini karena perusahaan yang mengalami kerugian
tidak memiliki kewajiban perpajakan sehingga alasan pajak menjadi tidak
relevan. Oleh karena itu, perusahaan yang mengalami kerugian dikeluarkan
30
D. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode
dokumentasi dan studi pustaka. Teknik pengumpulan data dengan metode
dokumentasi yaitu mengumpulkan data dari dokumen-dokumen yang sudah
ada. Data perusahaan non keuangan selama periode 2011-2015 diperoleh dari
website Bursa Efek Indonesia ( www.idx.co.id) atau dari website perusahaan
terkait.
Studi kepustakaan merupakan teknik pengumulan data yang dilakukan
dengan mengumpulkan informasi yang diperoleh melalui literatur yang ada
seperti jurnal, artikel, buku maupun sumber lain yang relevan.
E. Definisi Operasional Variabel
1. Variabel dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah transfer pricing yang
merupakan harga jual khusus yang digunakan dalam pertukaran sumber daya
antar divisi dalam perusahaan atau antar perusahaan yang berelasi
(Simamora, 1999). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hartati dkk
(2014), transfer pricing diukur dengan dijadikan varabel dummy. Perusahaan
yang melakukan penjualan kepada pihak yang berelasi diberi nilai 1,
sedangkan perusahaan yang tidak mengungkapkan penjualan dengan pihak
2. Variabel independen
a. Mekanisme Bonus
Mekanisme bonus merupakan strategi atau motif perhitungan dalam
akuntansi untuk memaksimalkan penerimaan kompensasi oleh direksi
dengan cara meningkatkan laba perusahaan secara keseluruhan (Hartati dkk,
2015).Variabel ini diukur dengan rumus profitabilitas, yaitu berdasarkan
persentase pencapaian laba bersih tahun t terhadap laba bersih tahun t-1
(Hartati dkk, 2015). Rumus untuk mengukur mekanisme bonus dapat ditulis
sebagai berikut:
Mekanisme Bonus =
b. Tax minimization
Tax minimization adalah upaya meminimalkan beban pajak yang
harus dibayarkan oleh perusahaan secara (Hartati dkk, 2015). Variabel tax
minimization diproksikan menggunakan ETR (Effective Tax Rate).
Perhitungan ETR menggunakan model dari Lanis dan Richardson (2012):
ETR =
c. Exchange rate
Exchange rate merupakan perubahan nilai tukar antara dua mata
uang. Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Chan dkk (2002) yang
mengukur exchange rate melalui keuntungan atau kerugian dari transaksi
perusahaan yang melibatkan mata uang asing seperti yang digunakan dalam
32
dari laba atau rugi selisih kurs dibagi dengan laba atau rugi penjualan dengan
rumus berikut ini:
Exchange rate=
d. Multinationality
Multinationality diukur sebagai berikut: jumlah anak perusahaan
asing dibagi dengan jumlah anak sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh
Rego (2003) dan Mills dan Newberry (2004). Rumus untuk menghitung
multinationality dapat ditulis sebagai berikut:
Multinationality =
F. Metode Analisis Data
1. Uji Statistik Deskriptif
Uji statistik deskriptif dilakukan untuk mengetahui statistik deskriptif
dari variabel yang diteliti. Melalui uji statistik deskriptif dapat diketahui
jumlah data yang diolah, rata-rata data serta standar deviasi dari data variabel.
Selain itu, dapat dikatahui pula nilai minimum dan nilai maksimum dari data
yang digunakan. Melalui uji statistik deskriptif ini, dapat diketahui ringkasan
mengenai data yang digunakan dan diolah dalam penelitian.
2. Uji Multikolinearitas
Model regresi dikatakan baik bila tidak terdapat gejala korelasi
yang kuat diantara variabel independen. Uji Multikolinearitas pada model
regresi logistik menggunakan matriks korelasi antarvariabel independen.
independen. Model regresi dikatakan bebas multikolinearitas jika korelasi
antarvariabel independen > 0,8.
3. Analisis Regresi Logiatik
a. Menilai Kelayakan Model Regresi
Kelayakan model regresi dilakukan melalui Hosmer and
L how’ Goo n of t T t. Ho n L how’ Goo n
of Fit Test digunkaan untuk menguji bahwa suatu data sesuai dengan
model. Suatu model regresi dianggap layak untuk selanjutnya digunakan
dalam analisis apabila memenuhi syarat yaitu memiliki nilai probabilitas
gn f n > h Ho n L how’ Goo n of t
Test.
b. Menilai Model Fit dan Keseluruhan Model (Overall Model Fit)
Penilaian model fit dan keseluruhan model dilakukan untuk
menunjukkan bahwa model regresi sesuai dengan data. Penilaian ini
dilakukan dengan membandingkan nilai -2 Log Likelihood pada awal
(Block Number 0) dengan nilai -2 Log Likelihood pada akhir (Block
Number 1). Model regresi yang baik akan manunjukkan penurunan pada
nilai -2 Log Likelihood akhir atau dengan kata lain nilai -2 Log
Likelihood awal > nilai -2 Lpg Likelihood akhir.
c. Menguji Nilai Nagelkerke R Square
Pengujian pada nilai Nagelkerke R Square dilakukan untuk melihat
besarnya koefisien determinasi pada model regresi logistik. Besaran
34
variabel independen mampu menjelaskan variabilitas variabel dependen.
Pengujian ini dilihat dari besarnya nilai Nagelkerke R Square pada
regresi logistik.
G. Uji Hipotesis
Penelitian ini menggunakan metode data kuantitatif dengan
menggunakan analisis statistik melalui analisis regresi logistik. Analisis
statistik dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows Versi 22.
Persamaan regresi logistik sebagai berikut:
Logit (Y) = [
] β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + e
Keterangan:
Y = Variabel Dependen (Transfer pricing)
β0 = Konstanta
β1 - β4 = Koefisien
X1 = Variabel Independen (Mekanisme Bonus)
X2 = Variabel Independen (Tax minimization)
X3 = Variabel Independen (Exchange rate)
X4 = Variabel Independen (Multinationlity)
e = Error
Pengujian hipotesis dilakukan dengan melihat nilai probabilitas
signifikansi pada hasil regresi logistik. Hipotesis dinyatakan diterima apabila
35 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek/Subyek Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan non keuangan yang
gterdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2011-2015. Jumlah
perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian sebanyak 68
perusahaan. Perusahaan sampel ditentukan melalui kriteria tertentu,
dengan penjabaran sebagai berikut:
TABEL 4.1
Proses Pengambilan Sampel
B. Analisis Deskriptif
Statistik deskriptif dari variabel yang diteliti adalah sebagai
36
TABEL 4.2 Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean
Std. Deviation
Mekanisme Bonus 68 1,35 6,90 4,4856 ,87594
Tax Minimization 68 -4,02 4,30 3,0616 1,31463 Exchange Rate 68 -174,40 5633,28 83,0067 685,24681 Multinationality 68 3,57 100,00 42,2839 31,68772
Tabel 4.2 menunjukkan hasil analisis statistik deskriptif dari
variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Berdasar output tabel diatas data
yang berjumlah 68 data.
Variabel mekanisme bonus memiliki nilai minimum sebesar 1,35
dan nilai maksimum sebesar 6,90. Rata-rata nilai dari variabel mekanisme
bonus adalah 4,4856 dengan standar deviasi sebesar 0,87594.
Variabel tax minimization memiliiki nilai minimum sebesar -4,02
dan nilai maksimum sebesar 4,30. Rata-rata nilai dari variabel tax
minimization adalah 3,0616 dan standar deviasi sebesar 1,31463.
Variabel exchange rate memiliki nilai minimum sebesar -174,40
dan nilai maksimum sebesar 5633,28. Rata-rata nilai dari variabel ini
sebesar -83,0067 dengan standar deviasi sebesar 685,24681.
Variabel multinationality memiliki nilai minimum sebesar 3,57 dan
nilai maksmimum sebesar 100,00. Rata-rata nilai dari variabel ini sebesar
C. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat matriks korelasi
antarvariabel bebas dengan hasil sebagai berikut:
TABEL 4.3
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa korelasi antarvariabel
independen memiliki nilai < 0,8. Hal ini menandakan bahwa regresi bebas
dari multikolinearitas.
D. Analisis Regresi Logistik
1. Menilai Kelayakan Model Regresi
Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer
38
disimpulkan bahwa model regresi layak dipakai untuk analisis
selanjutnya.
2. Menilai Model Fit dan Keseluruhan Model (Overall Model Fit)
Penilaian terhadap Model Fit dan Keseluruhan Model dilkakukan
dengan membandingkan nilai -2 Log Likelihood pada Block Number
0 dan -2 Log Likelihood pada Block Number 1 dengan hasil sebagai
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat terjadi penurunan dari nilai
-2 Log Likelihood dari 51,14-2 menjadi 37,1-26. Adanya penurunan dari
-2 Log Likelihood Block Number 0 ke -2 Log Likelihood Block
Number 1 ini menunjukkan bahwa model regresi baik dan model yang
dihipotesiskan fit dengan data.
3. Menguji Nilai Nagelkerke R Square
Dari regresi logistik yang dilakukan, diperoleh hasil Nagelkerke R
Square sebagai berikut:
Square Nagelkerke R Square
1 37,126 ,163 ,317
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat nilai Nagelkerke R Square
dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel independen sebesar 31,7%
sedangkan sisanya sebesar 68,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar
penelitian.
E. Uji Hipotesis
TABEL 4.7 Hasil Uji Hipotesis
Dilihat dari tabel hasil uji regresi logistik diatas, persamaan regresi yang
diperoleh dapat ditulis sebagai berikut:
TP = [
] -3,567 + 0,923BONUS + 0,567TAXMIN + e
1. Pengujian Hipotesis Pertama (H1)
Berdasarkan hasil regresi, variabel mekanisme bonus memiliki nilai
koefisien regresi sebesar 0,923 dan nilai Sig. 0,043 < alpha 0,05 yang berarti
bahwa variabel mekanisme bonus berpengaruh secara signifikan positif
terhadap variabel transfer pricing. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa hipotesis pertama (H1) diterima.
2. Pengujian Hipotesis Kedua (H2)
Variabel tax minimization memiliki nilai Sig sebesar 0,018 < alpha 0,05
dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,567 yang berarti bahwa varaibel tax
B Sig. Exp(B)
Mekanisme Bonus ,923 ,043 2,516
Tax Minimization ,567 ,018 1,764
Exchange Rate -,001 ,538 ,999
Multinationality ,004 ,787 1,004
40
minimization berpengaruh secara signifikan positif terhadap variabel
transfer pricing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis
kedua (H2) diterima
3. Pengujian Hipotesis Ketiga (H3)
Variabel exchange rate memiliki nilai Sig sebesar 0,538 > alpha 0,05
dengan koefisien regresi sebesar -0,001; sehingga dapat dikatakan bahwa
variabel exchange rate tidak berpengaruh terhadap variabel transfer pricing.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis ketiga (H3) ditolak.
4. Pengujian Hipotesis Keempat (H4)
Variabel multinationality memiliki nilai Sig 0,787 > alpha 0,05
dengan koefisien regresi sebesar 0,004 yang berarti bahwa variabel
multinationality tidak berpengaruh terhadap variabel transfer pricing.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis keempat (H4) ditolak.
B. Pembahasan
1. Pengaruh Mekanisme Bonus terhadap Keputusan Transfer Pricing
Hasil pengujian terhadap hipotesis pertama menunjukan bahwa
mekanisme bonus memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
pengambilan keputusan transfer pricing pada perusahaan non keuangan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2015. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartati dkk (2014) yang
trnsfer pricing. Mekanisme bonus memiliki pengaruh terdahap
pengambilan keputusan transfer pricing dikarenakan penerapan
mekanisme bonus dilakukan melalui penilaian kinerja direksi secara
menyeluruh dengan melihat laba perusahaan secara keseluruhan (Hartati
dkk, 2014). Melalui mekanisme seperti ini, para petinggi perusahaan
memberikan reward kepada direksi tanpa melihat proses pencapaian
laba.
Direksi perusahaan secara bebas dapat melakukan berbagai cara
untuk meningkatkan laba perusahaan salah satunya melalui transfer
pricing. Direksi dapat membuat keputusan transfer barang atau jasa antar
divisi dengan tujuan maksimalisasi laba atau transfer laba ke anak
perusahaan di luar negeri yang memiliki tarif pajak rendah. Hal tersebut
dilakukan oleh direksi dengan motivasi bonus sebagai reward atas
pencapaian laba.
2. Pengaruh Tax Minimization terhadap Keputusan Transfer Pricing
Hasil pengujian terhadap hipotesis kedua (H2) menunjukkan bahwa
tax minimization memiliki pengaruh signifikan positif terhadap
keputusan transfer pricing. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Hartati dkk (2015) yang menyatakan bahwa tax
minimization berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing
dimana perusahaan multinasional akan mentransfer sejumlah pendapatan
ke negara dengan tarif pajak yang lebih rendah untuk meminimalkan