• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH TAX EXPENSE, BONUS PLAN, DAN TUNNELING INCENTIVE TERHADAP KEPUTUSAN TRANSFER PRICING (Studi Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2019)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH TAX EXPENSE, BONUS PLAN, DAN TUNNELING INCENTIVE TERHADAP KEPUTUSAN TRANSFER PRICING (Studi Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2019)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TAX EXPENSE, BONUS PLAN, DAN TUNNELING INCENTIVE TERHADAP KEPUTUSAN TRANSFER PRICING (Studi Pada Perusahaan

Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2019)

Dwi Purnomo Adji

Dosen Pembimbing: Mohamad Khoiru Rusydi, SE., M.Ak., Ak

Accounting Department, Faculty of Economics and Business, Brawijaya University Jl. MT. Haryono 165, Malang 65145, Indonesia

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh tax expense, bonus plan, dan tunneling incentive terhadap keputusan transfer pricing. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan data sekunder berupa Annual Report perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria yang ditentukan, dan menghasilkan 15 perusahaan pertambangan. Metode analisis data adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS Versi 25 sebagai alat bantu analisis data. Hasil penelitian menunjukan secara parsial bahwa tax expense, bonus plan, tunneling incentive berpengaruh signifikan terhadap keputusan transfer pricing. Pengujian yang dilakukan secara simultan menunjukan variabel tax expense, bonus plan, profitability dan tunneling incentive berpengaruh signifikan terhadap keputusan transfer pricing.

Kata kunci: Tax Expense, Bonus Plan, Tunneling Incentive, Transfer Pricing ABSTRACT

This research aims to analyze the effect of tax expense, bonus plans, and tunneling incentives on transfer pricing decisions. This type of research is quantitative research with secondary data in the form of Annual Report of mining companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2017-2019. The sampling technique uses purposive sampling with determined criteria, and produces 15 mining companies. Data analysis method is multiple linear regression analysis using SPSS Version 25 as a data analysis tool. The results of the research showed partially that the tax expense, bonus plan, and tunneling incentive did significantly influence the transfer pricing decision. Simultaneous tests show that variable tax expense, bonus plans, profitability and tunneling incentives have a significant effect on transfer pricing decisions.

Keywords: Tax Expense, Bonus Plan, Tunneling Incentive, Transfer Pricing

PENDAHULUAN

Keadaan dunia usaha saat ini tidak

hanya bergantung pada negara sendiri tapi sudah bisa mencakup ke seluruh dunia.

Semua perusahaan bisa melakukan

(2)

transaksi dengan mudah ke setiap negara lain, bahkan bisa membentuk anak perusahaan di negara yang berbeda dengan mudah atau biasa disebut perusahaan multinasional. Kendala yang sering dihadapi oleh suatu Perusahaan ketika mempunyai anak perusahaan di negara lain adalah masalah perbedaan tarif pajak, sehingga perusahaan tersebut menerapkan Transfer pricing. Transfer pricing menjadi semakin penting untuk perusahaan seperti dalam ekonomi global, operasi mereka meluas ke berbagai negara mencoba dengan rezim perpajakan yang beragam dan kapasitas regulasi. Mengejar keuntungan, arus kas, tujuan pemasaran, skala ekonomi dan keunggulan kompetitif melalui divisi, anak perusahaan dan afiliasi (Sikkaa, 2010)

Pada perusahaan multinasional, keputusan Transfer pricing diterapkan untuk berbagai tujuan, salah satunya adalah untuk mengalokasikan pendapatan kena pajak mereka. Tindakan Transfer pricing sudah bukan hal yang asing karena digunakan oleh banyak perusahaan multinasional untuk mengalihkan keuntungan mereka di seluruh dunia (Yuniasih, 2012). Dalam menghindari pajak yang tinggi, perusahaan tersebut mengalihkan keuntungan mereka ke perusahaan afiliasi mereka yang berada pada negara dengan tarif pajak yang rendah.. Bagi suatu negara, perusahaan yang melakukan praktek transfer pricing akan merugikan karena meminimalisir pembayaran pajak mereka. (Janah dkk., 2019).

Pada awalnya tujuan dari transfer pricing adalah untuk mengukur serta memberikan penilaian terhadap kinerja para karyawan maupun divisi yang ada pada perusahaan (Ella, 2018). Dalam kenyataannya banyak pihak yang mengatakan bahwa penerapan Transfer pricing dapat merugikan suatu negara dikarenakan meminimalkan penerimaan

pajak untuk negara tersebut. Perusahaan Multinasional akann memanfaatkan negara dengan tarif pajak yang rendah untuk menerapkan sistem transfer pricing untuk akumulasi keuntungan. (Eldenburg dkk,2003). Perusahaan yang menilai pajak menjadi sebuah beban bagi mereka, akan melakukan berbagai cara untuk meminimalisasi pajak mereka kepada negara, salah satunya dengan melakukan Tranfer pricing ke grup perusahaannya yang terdapat pada negara lain sehingga membayar pajak seminimal mungkin (Indriaswari, 2017). Minimalisasi pajak dapat menjadi bagian penting dari keputusan transfer pricing konsekuensi untuk tingkat pendapatan pajak perusahaan dan tanggapan strategis terhadap perubahan tarif pajak (Bernard et al., 2006).

Berdasarkan Undang – Undang No.

36 Tahun 2008 Pasal 18 Ayat (4) Hubungan Istimewa antara Wajib Pajak Badan bisa terjadi jika suatu kepemilikan saham badan tersebut dimiliki badan lain sebesar 25% (dua puluh lima persen) atau lebih. Dalam hal ini berarti bisa mengakibatkan pengalihan harta, perhitungan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) dan biaya dari suatu wajib pajak terhadap wajib pajak lain yang memiliki hubungan istimewa dapat direkayasa sehingga pada akhirnya akan menekan jumlah pajak yang seharusnya mereka bayarkan.

Menurut PSAK No.7 Tahun 2015, suatu pihak yang mempunyai hubungan istimewa ketika salah satu pihak mempunyai kekuatan untuk melakukan kendali terhadap pihak lain atau mempunyai suatu pengaruh dengan pihak lain dalam kegiatan pengambilan keputusan keuangan maupun operasional.

Apabila perusahaan induk, anak saling terkait dengan perusahaan lainnya maka bisa dikatakan adanya hubungan istimewa. Pada akhirnya akan terjadi

(3)

perbedaan harga transfer ketika kedua pihak tersebut melakukan transaksi sehingga transaksi tersebut dikatakan tidak wajar (Kurniawan,2015)

Keputusan perusahaan menerapkan sistem Transfer pricing selain untuk menghindari pembayaran pajak adalah Bonus plan. Bonus plan adalah suatu mekanisme untuk memberikan bonus kepada karyawan maupun direksi ketika suatu perusahaan mendapatkan laba yang cukup besar. Bonus ini diberikan untuk meningkatkan motivasi kepada para karyawan dan direksi untuk memaksimalkan kinerja mereka sehingga pada periode selanjutnya perusahaan bisa mendapatkan laba kembali. Dengan melakukan Bonus plan, perusahaan dapat melakukan perekayasaan terhadap laba.

Manajemen akan mengatur perhitungan laba bersih sehingga bisa memaksimalkan keuntungan mereka.

Peningkatan laba dilakukan oleh perusahaan dengan melakukan peningkatan laba perusahaan, keputusan transfer pricing dipercaya sebagai cara yang tepat. Berbagai penelitian telah dilakukan terkait bonus plan, menurut Saraswati & Sujana (2017) memberikan hasil bahwa bonus plan tidak berpengaruh positif terhadap perusahaan yang terindikasi melakukan transfer pricing.

Sedangkan pada penelitian Rosa dkk.

(2017) bonus plan berpengaruh positif pada perusahaan yang melakukan transfer pricing dalam peningkatan laba periode berjalan.

Selain Tax Expense dan Bonus plan, perusahaan menerapkan Transfer pricing karena adanya Tunneling incentive. Pada hal ini terjadi permasalahan yang melibatkan pemegang saham mayoritas dan minoritas. Hal ini menyebabkan terjadinya kecurangan yng mengakibatkan kerugian terhadap pemilik saham minoritas karena pemilik saham mayoritas

mempunyai kendali penuh terhadap manajemen yang pada akhirnya akan mengendalikan pemilik saham minoritas pula. Konflik keagenan ini terjadi karena lemahnya perlindungan terhadap pemilik saham minoritas sehinga hak – haknya tidak bisa terpenuhi dengan baik.

Salah satu cara meminimalisasi tax expense yang harus dibayarkannya dengan melakukan transfer pricing. Teori keagenan dapat mengakibatkan terdapatnya informasi yang asimetri.

Tindakan yang opportunistic terjadi akibat pemberian informasi kepada principal memiliki perbedaan dengan agent.

Opportunistik memiliki tujuan mementingkan kepentingan diri sendiri, hal ini dapat terjadi akibat informasi internal lebih diketahui oleh manajemen perusahaan dan dimasa depan terhadap prospek perusahaan dibandingkan investor dan kreditor lainnya. Konflik agensi adalah konflik antar kelompok yang timbul antara manajer dengan pemilik perusahaan menajer cenderung lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dari pada tujuan dari perusahaan.

KAJIAN PUSTAKA

Teori Keagenan

Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan bahwa teori agensi merupakan sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor (principal). Pada penerapannya, teori keagenan digunakan untuk mengatur proporsi hak dan kewajiban antara principal dan agen dengan mempertimbangkan manfaat perusahaan secara keseluruhan. Inti dari kontrak kerja adalah tentang mekanisme pembagian hasil dari keuntungan perusahaan dan risiko – risiko yang akan terjadi sehingga kedua belah pihak mendapat proposi yang seimbang.

Transfer Pricing

(4)

Transfer pricing merupakan kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan dalam menentukan harga transfer pada transaksi jasa, barang, harta berwujud maupun tidak berwujud yang dijalankan oleh perusahaan. Dalam transfer pricing terdapat dua bagian transaksi, yaitu intercompany dan intracompany. Pada intercompany transfer pricing diterapkan oleh divisi – divisi yang ada pada perusahaan, sedangkan pada intracompany transfer pricing diterapkan antara satu persuahaan dengan perusahaan lain yang mempunyai hubungan istimewa.

Transaksi yang dilakukan bisa pada satu negara ataupun pada negara yang berbeda.

Tax Expense

Menurut UU Perpajakan (UU No. 36 Tahun 2008), yang dimaksud dengan pajak adalah: “Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang – undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat”. Sedangkan menurut Prof. Dr. Rachmat Soemitro, S.H., pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontrapestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:

Bonus Plan

Menurut Mispiyanti (2015) menjelaskan bonus plan merupakan strategi perhitungan dalam akuntansi dengan tujuan diberikannya bonus kepada manajeman untuk mendapatkan penghargaan dengan cara melihat laba keseluruhan, tetapi pada penjalanan tugasnya manajeman atau direksi

menunjukan kinerja yang maksimal pada pemilik perusahaan, tidak hanya dalam menjalankan perusahaan tetapi dalam hal tercapainnya tujuan dari perusahan.

Sebagai penghargaan atas kinerja maka para manajer dan jajaran direksi melalui RUPS akan diberikan bonus berdasarkan laba yang dihasilkan tiap tahunnya (Suryatiningsih dan Sylvia, 2008).

Tunneling Incentive

Hartati et al. (2015) menyatakan bahwa tunneling incentive merupakan perilaku dari pemegang saham mayoritas yang melakukan transfer aset serta laba diperusahaan untuk keuntungan pribadi mereka, tetapi disisi lain para pemegang saham minoritas terdampak dalam menanggung biaya yang dibebankan.

Menurut Noviastika dkk. (2016), menjelaskan terjadinya tunneling incentive yang pertama karena para pemegang saham mayoritas dapat memindahkan sumber daya yang dimilki perusahaan kepada dirinya dengan cara transfer pricing¸yang kedua dengan cara melakukan penjualan aset tanpa melalui melakukan penerbitan dari saham delutif sehingga menimbulkan kerugian pada pemegang saham minoritas

Kerangka Teoritis dan Pengembangan Hipotesis

Gambar 1 Kerangka Penelitian

(5)

Pengembangan Hipotesis

Hubungan Tax Expense terhadap transfer pricing

Tindakan transfer pricing bukanlah sesuatu hal yang baru di Indonesia. Praktik ini sudah lama diterapkan. Faktor utama upaya penerapan transfer pricing adalah pajak. Setiap perusahaan tentu akan lebih memilih untuk tidak membayar pajak sepeserpun kepada pemerintah. Namun hal itu merupakan hal yang sulit mengingat dana APBN Indonesia mayoritas berasal dari pajak. Maka dari itu banyak perusahaan terutama perusahaan multinasional memilih menerapkan sistem transfer pricing, karena dinilai dapat meminimalkan pembayaran pajak mereka.

Transfer pricing yang dilakukan adalah memindahkan sebagian besar laba mereka ke grup perusahaan yang berada di negara yang memiliki tarif pajak lebih rendah. Ketika hal itu dilakukan maka perusahaan tersebut akan membayar pajak yang lebih rendah dibandingkan sebelum penerapan sistem transfer pricing, sehingga laba yang mereka peroleh akan menjadi lebih besar.

H1 : Tax Expense berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing

Hubungan bonus plan terhadap transfer pricing

Para direksi yang melakukan

pekerjaannya dengan baik dan cenderung membuat peningkatan laba pada perusahaan, akan membuat para pemilik perusahaan memberikan suatu penghargaan, salah satunya bonus.

Penerapan bonus plan merupakan cara para pemilik perusahaan untuk meningkatkan kinerja para direksinya sehingga laba yang didapatkan perusahaan dapat meningkat. Menurut Lo, dkk. (2010) salah satu penereapan transfer pricing adalah untuk memperoleh bonus dengan cara melakukan peningkatan pendapatan pada perusahaan. Semakin besar laba perusahaan secara keseluruhan yang dihasilkan, maka semakin baik citra para direksi dimata pemilik perusahaan. Oleh sebab itu, direksi memiliki kemungkinan untuk melakukan segala cara untuk memaksimalkan laba perusahaan termasuk melakukan praktik transfer pricing.

H2 : Bonus plan berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing

Hubungan tunneling incentive terhadap transfer pricing

Menurut Marfuah (2014) menjelaskan tunneling incentive ialah pemegang saham pengendali memiliki hak istimewa yang merupakan kegiatan penstransferan aset pembagian keuntungan tanpa mempedulikan pemegang saham yang dikendalikan. Hubungan dengan agency theory adalah pernyataan terhadap hubungan kinerja manajemen perusahaan yang menerima wewenang dengan principal yang memberikan wewenang yaitu pemilik atau pemegang saham, investor, dan kreditor dengan bentuk kontak kerja sama merupakan prinsip utrama teori agensi (Suprianto dan Pratiwi, 2017).

Menurut Yuniasih (2012) menjelaskan bahwa perusahaan harus membagikan deviden kepada pemegang saham minoritas lainnya dan perusahaan induk dan anak, dimana transaksi pihak terkait

(6)

tersebut digunakan untuk tujuan transfer pricing, dengan metranfer kekayaan dibandingkan membagikan devidennya.

Perusahaan Indonesia cenderung terkonsentrasi sehingga pemegang saham pengendali atau mayoritas untuk melakukan tunneling, dengan cara memindahkan sumber daya perusahaan dengan transfer pricing, dengan adanya tunneling pemegang saham pengendali tidak membayarkan deviden hal ini dapat menyebabkan pemegang saham yang dikendalikan atau mayoritas dirugikan.

H3: Tunneling incentive berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing

Hubungan tax expense, bonus plan dan tunneling incentive terhadap keputusan transfer pricing

Praktek transfer pricing dilakukan dengan menekan tax expense dengan mengalihkan laba perusahaan grup yang berada dinegara lain tarif pajak yang lebih rendah dibandingkan di Indonesia (Khotimah, 2018). Transfer pricing merupakan kegiatan perlakuan perbedaan harga terhadap perusahaan yang memiliki hubungan istimewa. Pajak yang tinggi akan beredampak pada berkurangnya laba yang seharusnya diterima oleh perusahaan tersebut.

Menurut Mispiyanti (2015) menjelaskan bonus plan merupakan salah satu strategi atau motif perhitungan dalam akuntansi dengan tujuannya diberikannya bonus berupa penghargaan kepada manajemen atau direksi dengan cara melihat laba keseluruhan, tetapi dalam menjalankan tugasnya direksi menunjukan kinerja baik pada pemilik dari perusahaan tidak hanya dalam mengelola perusahaan tetapi dalam hal tercapainnya tujuan dari perusahan. Menurut Marfuah (2014) menjelaskan tunneling incentive ialah pemegang saham pengendali memiliki hak istimewa yang merupakan kegiatan penstransferan aset pembagian keuntungan

tanpa mempedulikan pemegang saham yang dikendalikan.

H4 : Tax Expense, Bonus Plan, dan Tunneling Incentive berpengaruh terhadap keputusan Transfer Pricing

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis data sekunder, yakni penelitian dengan metode yang berlandaskan pada filsafat positivism, penelitian kuantitatif bertujuan dengan pengujian dari hipotesis penelitian yang sudah ditetapkan (Sugiyono, 2013 hal. 13).

Populasi dan Sampel

Populasi yang dipilih peneliti merupakan perusahaan pertambangan yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2017- 2019. Pemilihan populasi ini adalah dengan pertimbangan dari data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perusahaan sektor pertambangan rawan terjadi praktik korupsi, salah satunya tindakan penghindaran pajak. Hal itu disebabkan oleh produk jual yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut yang dijual kepada pihak afiliasi sangat sulit diindentifikasi dari segi kualitasnya seperti kandungan kalori, sulfur, air, abu pada batu bara untuk penentuan harga.

(DDTCNews, 2019).

Teknik sampling yang digunakan untuk menentukan sampel adalah dengan menggunakan nonprobability sampling jenis purposive sampling yang merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2015).

Penentuan sampel dengan kriteria sebagai berikut.

a. Perusahaan pertambangan yang terdaftar BEI atau Bursa Efek Indonesia

(BEI) periode 2017-2019.

(7)

b. Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan selama tahun 2017- 2019 secara berturut-turut.

c. Perusahaan yang memiliki piutang berelasi selama tahun 2017 – 2019 secara berturut – turut

d. Perusahaan sektor pertambangan yang dikendalikan dengan presentase kepemilikan sebesar diatas 25% sebagai saham pengendali.

Metode Pengumpulan Data

Metode dokumentasi metode pengumpulan data pada penelitian yakni teknik pengambilan data dengan megumpulkan, mencatat dan mengkaji data berupa annual report dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) (Suprianto dan Pratiwi, 2017). Serta berbagai pendukung serta menggunakan berbagai sumber lainnya yang memiliki hubungan dengan penelitian, laporan keuangan yang didapat dari www.idx.co.id, www.sahamok.com, dan website lainnya terkait penelitian.

Metode Analisis Data Analisis Deskriptif

Analisis statistik deskriptif merupakan cara yang digunakan dalam menganalisis data. Menurut Sekaran (2013 hal. 100) penelitian deskriptif adalah jenis penelitian konklusif yang memiliki tujuan utama untuk mendeskripsikan sesuatu biasanya penjelasan mengenai karakteristik pasar atau fungsi.

Uji Normalitas

Menurut Sugiyono (2013 hal. 239) menjelaskan tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengujin apakah data yang digunkan memiliki distribusi normal atau tidak, pegujian tersebut penting karena apabila tidak normal maka tidak dapat

mengunakan statistic yang bersifat parametric. Pengujian ini menggunakan grafik P-Plot dan juga kolmogrov smirnov dengan melihat nilai probabilitas apabila kurang dari < 0,05 data dikatakan distribusi normal sebaliknya jika lebih dari

> 0,05 maka data dinyatakan tidak normal.

Uji Multikolinieritas

Uji multikolinearitas dilakukan dalam pengujian dalam model regresi apakan terdapat korelasi diantara variabel independen atau variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. VIF (Varians Inflation Factor) merupakan pedoman suatu model regresi yang terbebas dari masalah multikolinearitas jika VIF memiliki nilai kurang dari 10 dan memiliki nilai tolerance lebih dari 0,10 (Ghozali, 2011 hal.105).

Uji Heteroskedasdisitas

Menurut Ghozali (2011 hal. 139) menjelaskan pengujian heteroskedastisitas memiliki tujuan dalam data dimana dalam model regresi ada tidaknya kesamaan dalam variance pada residual sebuah pengamatan yang satu ke pengamatan yang lainnya. Munculnya uji ini jika residual tidak adannya variance yang konstan pada observasi satu dengn yang lainnya, pengujian ini dapat diamati dengan melihat grafik scatterplot dari penyebaran titik-titik yang terjadi membentuk secara acak, atau membentuk pola tertentu.

Uji Autokorelasi

Menurut Ghozali (2011 hal. 110) menjelaskan pengujian autokorelasi menggunakan Durbin Watson dengan kriteria apabila D-W terletak dibawah -2 itu artinya terdapat autokorelasi positif hal sebaliknya apabila D-W menunjukan nilai diantara -2 dan +2 maka tidak adannya autokorelasi, tetapi apabila nilai D-W nya adalah +2 maka diindikasikan adannya autokorelasi negatif pengujian ini

(8)

bertujuan untuk menguji model regresi ada atau tidaknya autokorelasi antara kesalahan pengganggu apabila adannya korelasi dapat menunjukan adannya masalah korelasi.

Uji Hipotesis

Penelitian ini memakai uji hipotesis secara parsial dan simultan. Uji hipotesis didapatkan dari pengumpulan data yang berdasarkan fakta empiris dengan berdasarkan jawaban sementara atau rumusan masalah biasannya disusun dalam bentuk pertanyaa sehingga dapat membawa untuk menarik kesimpulan apakah rumusan masalah penelitian diterima hipotesisnya atau ditolak.

Pengujian hipotesis menggunakan rumus uji t.

Uji t (Uji Secara Parsial/Individu)

Menurut Ghozali (2011, hal. 98) menjelaskan dalam pengujian ini dipakai untuk menguji antara pengaruh variabel independen dengan variabel dependennya secara individu dalam uji ini pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan melihat kriteria sebagai berikut:

a.) Apabila signifikan t < 0,05 berarti ditolak dan diterima, hal ini menunjukan bahwa variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

b.) Apabila signifikan t > 0,05 berarti diterima dan ditolak, itu hal ini menunjukan bahwa variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Uji f (Uji Secara Simultan/Bersama- sama)

Menurut Ghozali (2011, hal. 98) uji f digunakan untuk menguji secara simultan apakah variabel independen mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen dengan syarat nilai signifikan < 0,05 dan f hitung > f tabel, pengambilan keputusan

berdasarkan hal berikut:

a) Apabila signifikan t < 0,05 artinya bahwa variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen secara simultan

b) Apabila signifikan t > 0,05 artinya bahwa variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen secara simultan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Deskriptif

TABEL 1 N Mini

mum

Maxim um

Mean Std.

Deviation

X1 66 0.142 .718 .333 .155

X2 66 .0354 11.384 1.160 1.371

X3 66 .0041 .910 .562 .206

Y 66 .0004 .958 .287 .270

Berdasarkan hasil analisis didapatkan statistik deskriptif masing – masing variabel sebagai berikut :

a. Variabel Tax Expense memiliki nilai terendah sebesar 0,01421 dan nilai tertinggi sebesar 0,718. Variabel Tax Expense memiliki rata - rata sebesar 0,718 dengan simpangan baku sebesar 0,155 b. Variabel Bonus Plan memiliki nilai terendah sebesar 0,03539 dan nilai tertinggi sebesar 11,384. Variabel Bonus Plan memiliki rata - rata sebesar 1,160 dengan simpangan baku sebesar 1,471 c. Variabel Tunneling Incentive memiliki nilai terendah sebesar 0,00411 dan nilai tertinggi sebesar 0,910. Variabel Tunneling Incentive memiliki rata - rata sebesar 0,562 dengan simpangan baku sebesar 0,206 d. Variabel transfer pricing memiliki nilai terendah sebesar 0,00043 dan nilai tertinggi sebesar 0,958. Variabel Tax

(9)

Expense memiliki rata - rata sebesar 0,287 dengan simpangan baku sebesar 0,270 Uji Normalitas

Gambar 2 P-P Plot Test

Berdasarkan gambar 4.2 P-Plot menunjukan adanya garis lurus melintang dari pojok kiri hingga kekanan atas atau membentuk bentuk diagonal, sengingga dapat disebut garis acuan normalitas.

Disekitar garis acuan normalitas tersebut, diwakili data dengan titik-titik tersebut disekitar acuan. Dapat dilihat garis diagonal data menyebar diantaranya, oleh karna itu regresi dalam asumsi normalitas terpenuhi. Menunjukan terdistribusi secara normal residualnya, sehingga layak digunakan model regresi ini.

Uji Multikolinieritas

Tabel 2 Uji Multikolinieritas

Varaibel Bebas Collinearity Statistics Tolerance VIF

X1 0.926 1.080

X2 0.867 1.154

X3 0.831 1.204

Sumber : Output SPSS, Data diolah 2021

Berdasarkan Tabel 4.6, berikut hasil pengujian dari masing-masing variabel bebas:

▪ Tolerance untuk Tax Expense adalah 0,926

▪ Tolerance untuk Bonus Plan adalah 0,867

▪ Tolerance untuk Tunneling incentive adalah 0,831

Pada hasil pengujian didapat bahwa keseluruhan nilai tolerance > 0,1 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas.

Uji multikolinearitas dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan nilai VIF (Variance Inflation Faktor) dengan angka 10. Jika nilai VIF > 10 maka terjadi multikolinearitas. Berikut hasil pengujian masing-masing variabel bebas :

▪ VIF untuk Tax Expense adalah 1,080

▪ VIF untuk Bonus Plan adalah 1,154

▪ VIF untuk Tunneling incentive adalah 1,204

Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas.

Dengan demikian uji asumsi tidak adanya multikolinearitas dapat terpenuhi.

Uji Heteroskedasdisitas Gambar 3 Scatterplot Test

(10)

Dari hasil pengujian tersebut didapat Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa diagram tampilan scatterplot menyebar dan tidak membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa sisaan mempunyai ragam homogen (konstan) atau dengan kata lain tidak terdapat gejala heterokedastisitas.

Dengan terpenuhi seluruh asumsi klasik regresi di atas maka dapat dikatakan model regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sudah layak atau tepat. Sehingga dapat diambil interpretasi dari hasil analisis regresi berganda yang telah dilakukan.

Uji Autokorelasi

Tabel 3 Uji Autokorelasi

Model Summaryb Mode

l

R R

Squar e

Adjuste

d R

Square Std.

Error of the Estimat e

Durbi n Watso n

1 .74

9

.561 .539 1.1344 1.158

Dari Tabel 4.7 diketahui nilai uji Durbin Watson sebesar 1,158 yang terletak antara -2 dan 2, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi tidak terdapat autokorelasi telah terpenuhi.

Uji t (Parsial/Individu)

Tabel 4

Uji t (Parsial/Individu)

▪ t test antara X1 (Tax Expense) dengan Y (Transfer Pricing) menunjukkan t hitung = 3,918. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 41) adalah sebesar 1,. Karena t hitung > t tabel yaitu 3,918 > 2,020 atau nilai sig t (0,005) < α = 0.05 maka pengaruh X1 (Tax Expense) terhadap Transfer Pricing adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Transfer Pricing dapat dipengaruhi secara signifikan oleh Tax Expense atau dengan meningkatkan Tax Expense maka Transfer Pricing akan mengalami peningkatan secara nyata.

▪ t test antara X2 (Bonus Plan) dengan Y (Transfer Pricing) menunjukkan t hitung = 2,498 Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 41) adalah sebesar 1,. Karena t hitung > t tabel yaitu 2,498 > 2,020 atau nilai sig t (0,047) < α = 0.05 maka pengaruh X2 (Bonus Plan) terhadap Transfer Pricing adalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Transfer Pricing dapat dipengaruhi secara signifikan oleh Bonus Plan atau dengan meningkatkan Bonus Plan maka Transfer Pricing akan mengalami peningkatan yang tinggi.

▪ t test antara X3 (Tunneling incentive) dengan Y (Transfer Pricing) menunjukkan t hitung = 4,964. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 41) adalah sebesar 1,.

Karena t hitung > t tabel yaitu 4,964 >

2,020 atau nilai sig t (0,000) < α = 0.05 maka pengaruh X3 (Tunneling incentive) terhadap Transfer Pricing adalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Transfer Pricing dapat dipengaruhi secara signifikan oleh Tunneling incentive atau dengan meningkatkan Tunneling incentive maka Transfer Pricing akan mengalami peningkatan secara nyata.

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig B Std.

Error

Beta

(Constant) -.078 .341 -.230 .819

X1 1.033 .264 .326 3.918 .000

X2 .445 .178 .239 2.498 .015

(11)

Uji f (Simultan/Bersama-sama)

Tabel 5

Uji f (Simultan/Bersama-sama)

ANOVA

Model Sum of

Square s

D f

Mean Square

F Sig

1 Regressio n

101.82 7

3 33.934 2

26.37 4

.00 0 Residual 79.791 62 1.287

Total 181.61 8

65

Pengujian F atau pengujian model digunakan untuk mengetahui apakah hasil dari analisis regresi signifikan atau tidak, dengan kata lain model yang diduga tepat/sesuai atau tidak. Jika hasilnya signfikan, maka H0 ditolak dan H1

diterima. Sedangkan jika hasilnya tidak signifikan, maka H0 diterima dan H1

ditolak. Hal ini dapat juga dikatakan sebagai berikut :

H0 ditolak jika F hitung > F tabel H0 diterima jika F hitung < F tabel Berdasarkan Tabel 4.5 nilai F hitung sebesar 19,242. Sedangkan F tabel (α = 0.05 ; db regresi = 3 : db residual = 41) adalah sebesar 2,833. Karena F hitung > F tabel yaitu 19,242 > 2,833 atau nilai Sig. F (0,000) < α = 0.05 maka model analisis regresi adalah sudah baik. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan sudah baik untuk pendugaan.

PEMBAHASAN

Pengaruh Tax Expense (X1) Terhadap Transfer Pricing (Y)

Pada hasil analisis menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai t hitung sebesar 2,993 dengan sig. t sebesar 0,005 dengan t tabel sebesar 2,020 sehingga variabel Tax Expense memiliki pengaruh terhadap Transfer Pricing. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar

0,005 lebih kecil dari alpha yang dipakai yaitu 0,005 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan Tax Expense mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Transfer Pricing.

Pengaruh B onus Plan (X2) Terhadap Transfer Pricing (Y)

Pada hasil analisis menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai t hitung sebesar 2,049 dengan t tabel sebesar 2,020 sehingga variabel Bonus Plan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Transfer Pricing. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar 0,047 lebih kecil dari alpha yang dipakai yaitu 0,047 < 0,05.

Sehingga dapat disimpulkan Bonus Plan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Transfer Pricing.

Pengaruh Tunneling Incentive (X3) Terhadap Transfer Pricing (Y)

Pada hasil analisis menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai hitung sebesar 4,102 dengan t tabel sebesar 2,020 sehingga variabel Tunneling incentive memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Transfer Pricing. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha yang dipakai yaitu 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan Tunneling incentive mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Transfer Pricing.

Pengaruh Tax Expense (X1), Bonus Plan (X2), Tunneling Incentive (X3) Terhadap Transfer Pricing (Y)

Uji F dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Tax Expense (X1) dan Bonus Plan (X2), dan Tunneling incentive (X3) terhadap Transfer Pricing secara simultan.

Pengujian yang dilakukan memperoleh nilai signifikansi F sebesar 0,000 sehingga signifikansi F< α yaitu 0,000< 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara

(12)

variabel Tax Expense (X1) dan Bonus Plan (X2), dan Tunneling incentive (X3) terhadap Transfer Pricing secara simultan.

Jika dilihat dari nilai Adjust R Square yang diperoleh, maka Tax Expense (X1), Bonus Plan (X2), dan Tunneling incentive (X3) memiliki pengaruh sebanyak 55,4% dalam mempengaruhi Transfer Pricing, sedangkan sisanya 44,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

PENUTUP Kesimpulan

Ketika laba yang didapatkan perusahaan, maka semakin besar pajak yang ditanggung oleh perusahaan sehingga akan mendorong perusahaan untuk melakukan transfer pricing. Hal ini dilakukan dengan mengalihkan kewajiban pajak perusahaan ke perusahaan relasinya yang berada di negara lain dengan tarif pajak yang lebih rendah dari negara asal. Cara yang dilakukan untuk menurunkan transfer pricing adalah dengan menurunkan tax expense.

Semakin besar bonus yang ingin didapatkan membuat para direksi memutuskan untuk melakukan transfer pricing. Para direksi atau manajemen perusahaan menetapkan strategi-strategi dalam mencapai target bonus yang ingin diperoleh dari pemilik perusahaan sehingga kemungkinan melakukan transfer pricing akan semakin besar.

Cara yang dilakukan untuk menurunkan transfer pricing adalah dengan menurunkan bonus plan.

Semakin besar kepemilikan saham yang dimiliki pemegang saham pengendali asing, maka semakin besar pula pengaruh pemegang saham pengendali asing dalam menentukan berbagai keputusan dalam perusahaan termasuk kebijakan penentuan dalam

melakukan transfer pricing. Hal ini dikarenakan perusahaan dengan kepemilikan yang terkonsentrasi pada pemegang saham pengendali asing akan cenderung melakukan tunneling baik dengan melakukan penjualan ke perusahaan yang masih di bawah kendalinya atau dengan tidak membagikan dividen kepada pemegang saham non pengendali. Untuk menurunkan transfer pricing yaitu dengan menurunkan tunneling incentive.

Keterbatasan Penelitian

Berdasarkan Penelitian ini, Peneliti mengalami keterbatasan penelitian.

Yaitu :

1. Nilai R-Square didalam penelitian ini masih relative kecil yaitu 0,561.

Variabel tersebut ditunjukkan dengan variabel tax expense, bonus plan dan tunneling incentive. Dengan begitu, variabel tersebut hanya mempengaruhi sebesar 56,1% serta terdapat variabel lain diluar penelitian sebesar 43,9% yang dapat mempengaruhi variabel yang diteliti.

Penelitian ini hanya menggunakan 3 (tiga) variabel independen yaitu tax expense, bonus plan dan tunneling incentive.

2. Teori yang berkaitan dengan transfer pricing dan bonus plan masih terlalu minim, sehingga peneliti masih terdapat kesulitan untuk menentukan teori yang dapat mendukung hasil penelitian.

3. Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh peneliti serta terbatasnya referensi penelitian sebelumnya.

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi

(13)

perusahaan maupun bagi pihak-pihak lain. Adapun saran yang diberikan, antara lain:

1. Menambahkan variabel lain dengan tujuan dapat meningkatkan hasil R- Square. Dengan R-Square lebih tinggi maka dapat dikatakan bahwa variabel yang diteliti pada suatu penelitian berpengaruh lebih besar dibandingkan variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian tersebut.

2. Pada peneliti selanjutnya diharapkan untuk mendalami beberapa teori lain yang memiliki kaitan dengan variabel yang dipilih sehingga memudahkan peneliti dalam menyusun penelitian

3. Diharapkan peneliti lebih mendalami pengetahuan terkait apa yang diteliti dengan lebih banyak membaca serta menganalisis penelitian sebelumnya serta jurnal terkait penelitian yang ingin diteliti.

DAFTAR PUSTAKA

Ayshinta Jaya Patriot. 2019. Pengaruh Tunneling Incentive, Mekanisme Bonus Dan Exchange Rate Terhadap Keputusan Perusahaan Melakukan Transfer Pricing (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014- 2017. Jurnal Eksplorasi Akuntansi Vol.

1, No 2, Seri A, Mei 2019.

Ayu, G., Surya, R., & Sujana, I. K. (2017).

Pengaruh Pajak, Mekanisme Bonus, Dan Tunneling Incentive Pada Indikasi Melakukan Transfer Pricing. E-Jurnal Akuntansi, 19(2), 1000–1029.

Bernard, A. B., Jensen, J. B., & Schott, P. K.

(2006). Transfer pricing by US-based multinational firms (No. w12493).

National Bureau of Economic Research.

Colgan, P. Mc. 2001. Agency Theory and Corporate Governance: A Review of the Literature From a UK Perspective.

Working paper.

Detikfinance. 2019. Mengenal Soal

Penghindaran Pajak yang dituduhkan Ke Adaro. Diperoleh pada tanggal 19 September 2019 dari URL:

https://finance.detik.com/berita- ekonomi-bisnis/d-4612708/mengenal- soal-penghindaran-pajak-yang-

dituduhkan-ke-adaro

Eldenburg, L., Pickering, J., Yu, W.W., 2003.

International income shifting regulations: empirical evidence from Australia and Canada. International Journal of Accounting 38 (3), 285–303.

Fauziah Fitria Nur, dan Saebani Akhmad.

2018. Pengaruh Pajak, Tunneling Incentive, dan Mekanisme Bonus Terhadap Keputusan Perusahaan Melakukan Transfer Pricing. Jurnal Akuntansi Vol.18 No.1A Januari-Juni 2018. UPN Veteran Jakarta.

Fitriani Ayu. 2019. Pengaruh Pajak, Tunneling Incentive, Debt Covenant, Dan Intangible Assets Terhadap Keputusan Transfer Pricing (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2018). Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

(14)

Ghozali, I. (2006). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS.

Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hartati, Winda., Desmiyawati, dan Nur Azlina.

2014. “Analisis Pengaruh Pajak dan Mekanisme Bonus Terhadap Transfer Pricing.” Proceeding Simposium Nasional Akuntansi XVIII, Universitas Mataram, Lombok.

Healy, Paul M. (1985), ―The Effect of Bonus Schemes on Accounting Decisions,‖

Journal of Accounting and Economics, hal 85-107.

Henry Simamora, 2010, Manajemen Sumber Daya Manusia, Gramedia, Jakarta.

Horngren, Charles T. Bhimani, Datar, Foster. (2008). Management and Cost Accounting 4th Edition. New Jersey:

Pearson Education Limited.

Hidayat, W.W dkk. 2019. Pengaruh Pajak dan Tunneling Incentive Terhadap Keputusan Transfer Pricing Pada Perusahaan Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2012-2017. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Manajemen (JIAM) Vol.15, No.1, Mei 2019.

Indriaswari, Yasfiana Nuril. 2017. Pengaruh Pajak, Tunneling incentive dan Mekanisme Bonus Terhadap Keputusan Transfer pricing Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.

STIE Perbanas Surabaya.

Janah, M. 2019. Pengaruh Tax, Profitabilitas, Leverage, dan Bonus Plan Terhadap Pengambilan Keputusan Transfer Pricing.

Jensen, M. and W.H. Meckling, 1976, Theory of the Firm: Magerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure, Journal of Financial Economics, 3(4): 305-360.

Khotimah, S.K. 2018. Pengaruh Beban Pajak, Tunneling Incentive, dan Ukuran Perusahaan terhadap Keputusan Perusahaan Dalam Melakukan Transfer Pricing. Jurnal Ekobis Dewantara Vol.

1 No. 12 Desember 2018.

Kurniawan, Anang Mury. 2015. Transfer Pricing untuk Kepentingan Pajak.

Yogyakarta: Andi Ofset.

La Porta, R., Lopez-de-Silanes, F., Shleifer, A.

& Vishny, R. 2000. Investor Protection and Corporate Valuation. The Journal of Finance, Vol.57, No.3, pp.1147- 1170.

Mangoting, Yenni. 2004. Aspek Perpajakan dalam Praktek Transfer pricing. Jurnal Akuntansi dan Keuangan 2 (1):pp. 69- 82.

Marfuah dan Azizah P.N.A. 2014. Pengaruh pajak, Tunneling Incentive, dan Exchange Rate Pada Keputusan Transfer Pricing. JAAI Volume 18 Mispiyanti. 2015. Pengaruh Pajak, Tunneling

Incentive dan Mekanisme Bonus

Terhadap Keputusan Transfer Pricing.

Vol. 16 No.1 Januari 2015.

Noviastika, D., Mayowan, Y., dan Karjo, S.

2016. Pengaruh Pajak, Tunneling Incentive Dan Good Corporate Governance (Gcg) Terhadap Indikasi Melakukan Transfer Pricing. Jurnal Perpajakan (JEJAK) Vol. 8 No. 1.

OECD. "Transfer Pricing Guidelines for Multinational Enterprises and Tax."

OECD, 2010: Paris, France.

(15)

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 15 (Revisi 2009) Investasi pada Entitas Asosiasi. Dewan Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntan Indonesia. Jakarta

Rachmat Abdul Halim Radhi. 2019. Pajak, Mekanisme Bonus dan Transfer Pricing. Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan Vol.7 No.1 (JanuariJuni) 2019:21-30. Universitas Widyatama Bandung.

Rosa, R, Andini R & Raharjo, K. 2017.

Pengaruh Pajak, Tunneling Insentive, Mekanisme Bonus, Debt Covenant Dan Good Corperate Gorvernance (Gcg) Terhadap Transaksi Transfer Pricing.

Jurnal Akuntansi.

Saifudin. 2018. Determinasi Pajak, Mekanisme Bonus, dan Tunneling Incentive Terhadap Keputusan Transfer Pricing Pada Emiten BEI. AGRERAT: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol.2 No.1.

Universitas Semarang.

Saraswati dan Sujana. 2017. Pengaruh Pajak,Mekanisme Bonus, Dan Tunneling Incentive Pada Indikasi Melakukan Transfer Pricing, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.19.2. Mei 2017: 1000-1029.

Sari, Elling, Pamungkas, 2018. Pengaruh Profitabilitas, pajak dan Debt Covenant terhadap Transfer Pricing (Studi Empiris Perusahaan Manufaktur Terdaftar di BEI tahun 2012-2016.

Jurnal Akuntansi 1 (1) 2018.

Sari, E.P & Abdullah, M. 2018. Pengaruh Profitabilitas, Pajak Dan Debt Covenant Terhadap Transfer Pricing. (Studi Empiris Perusahaan Manufaktur Terdaftar di BEI Tahun 2012-2016).

Sekaran, U., & Bougie, R. (2013). Edisi 6. Research Methods for Business.

Solimun, Armanu, dan Fernandes, A.C.R.

2018. Metodologi Penelitian Kuantitatif Perspektif Sistem. Malang: UB Press.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suprianto, D & Pratiwi, R. 2017. Pengaruh Beban Pajak, Kepemilikan Asing, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Transfer Pricing Pada Perusahaan Maufaktur Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2013 – 2016.

Suryatiningsih, N., dan Sylvia, V.S. 2008.

“Pengaruh Skema Bonus Direksi terhadap Aktivitas Manajemen Laba:

Studi Empiris pada BUMN Periode Tahun 2003–2006”. Prosiding Simposium Nasional Akuntansi XI, Pontianak.

Undang – Undang No. 36 Tahun 2008

Wafiroh, N. L & Hapsari, N. N. 2015. Pajak, Tunneling Incentive Dan Mekanisme Bonus Pada Keputusan Transfer Pricing. El-Muhasaba, Vol. 6, No 2.

Yuniasih, N.W., Rasmini, N.K., dan Wirakusuma, M.G. 2012. Pengaruh Pajak dan Tunneling Incentive pada Keputusan Transfer Pricing Perusahaan Manufaktur Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi XV.

Zhuang, Juzhong, David Edwards, David Webb, Ma. Virginita A. Capulong (2000),”Corporate Governance and Finance in East Asia – A Study of

(16)

Indonesia, Republic of Korea, Malaysia, Philippines, and Thailand”, Asian Development Bank, Manila.

Referensi

Dokumen terkait

dengan sebaik-baiknya sebagai sumber belajar alternatif bagi guru dan siswa. Guru berperan mengarahkan pemikiran siswa untuk menggali pola pikir siswa dengan instrumen

Artinya bahwa, computer fear tidak berpengaruh terhadap keahlian siswa akuntansi dalam menggunakan aplikasi MYOB. Karena t-hitung lebih kecil dari r-tabel dan

Untuk perhitungan pengamanan slope samping dengan menggunakan turap didapat panjang turap yang dibutuhkan sebesar 17 m, dan untuk slope samping tanpa menggunakan turap di

Tingkat pencahayaan yang digu- nakan memiliki nilai standar yang harus dipenuhi dan telah ditentukan oleh Standar Nasional Indonesia ( SNI ). Politeknik Negeri

Merepresentasikan bahwa mahasiswa yang sering berkunjung ke perpustakaan STIE Perbanas Surabaya sebagian besar adalah mahasiswa semester 3-4 sebanyak 34.3%..

CIRCLE Indonesia dalam berbagai kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan, menemukan banyak program dengan gagasan yang cerdas, tetapi tidak memiliki desain program yang

PSD dari pulsa persegi (yg memiliki bandwidth tak terbatas) tidak dapat melalui kanal dengan bandwidth terbatas secara sempurna pulsa yang diterima menjadi ‘lebar’. Rentetan pulsa

mengandung informasi mutakhir dengan mengutamakan nilai-nilai keterbaruan (novelty), keaslian (originality), dan kemanfaatan (usility). Adapun tujuan penerbitannya adalah