• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

4.4 Pengaruh Teknik Pencetakan Putty/Wash One-Step dan Putty/Wash

Two-Step terhadap Akurasi Dimensi pada Model Kerja Gigi Tiruan Cekat

Pengaruh teknik pencetakan putty/wash one-step dan putty/wash two-step terhadap akurasi dimensi diperoleh dengan analisis secara statistik dengan uji t tidak berpasangan. Sebelum dilakukan pengujian menggunakan uji t tidak berpasangan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk untuk mengetahui data pada teknik pencetakan putty/wash one-step dan putty/wash two-step adalah normal. Hasil uji normalitas model kerja dengan teknik pencetakan putty/wash

one-step dilihat dari mesiodistal diperoleh nilai 0,939 dengan tingkat signifikansi p=

0,084 (p>0,05), dilihat dari oklusogingival diperoleh nilai 0,934 dengan tingkat signifikansi p= 0,063 (p>0,05), dan dilihat dari interabutment diperoleh nilai 0,940 dengan tingkat signifikansi p= 0,092 (p>0,05), hal ini berarti data teknik pencetakan

putty/wash one-step yang diperoleh normal. Hasil uji normalitas model kerja dengan

teknik pencetakan putty/wash two-step dilihat dari mesiodistal diperoleh nilai 0,941 dengan tingkat signifikansi p= 0,098 (p>0,05), dilihat dari oklusogingival diperoleh nilai 0,935 dengan tingkat signifikansi p= 0,065 (p>0,05), dan dilihat dari

interabutment diperoleh nilai 0,933 dengan tingkat signifikansi p= 0,059 (p>0,05),

hal ini berarti data teknik pencetakan putty/wash two-step yang diperoleh normal. Setelah dilakukan pengujian dengan uji Saphiro-Wilk untuk mengetahui data yang diperoleh adalah normal, dilakukan uji Levene untuk mengetahui homogenitas data dan diperoleh hasil uji homogenitas dilihat dari mesiodistal menunjukkan nilai 0,952 dengan tingkat signifikansi p = 0,158 (p>0,05), dilihat dari oklusogingival menunjukkan nilai 0,725 dengan tingkat signifikansi p= 0,398 (p>0,05), dan dilihat dari interabutmet menunjukkan nilai 0,459 dengan tingkat signifikansi p= 0,496 (p>0,05). Hasil tersebut menunjukkaan data yang diperoleh homogen. Setelah uji homogenitas, dilakukan uji t tidak berpasangan untuk mengetahui pengaruh teknik pencetakan putty/wash one-step dan two-step terhadap model kerja gigi tiruan cekat.

Hasil dari uji statistik tersebut menunjukkan pengaruh teknik putty/wash

one-step dan teknik putty/wash two-one-step terhadap akurasi dimensi berdasarkan mesiodistal

teknik putty/wash one-step dengan teknik putty/wash two-step. Akurasi dimensi berdasarkan oklusogingival p= 0,013 (p<0,05) yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara akurasi dimensi teknik putty/wash one-step dengan teknik

putty/wash two-step. Akurasi dimensi berdasarkan interabutment p= 0,010 (p<0,05)

yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara akurasi dimensi teknik putty/wash

one-step dengan teknik putty/wash two-step (Tabel 11). Persentase deviasi dimensi

dibandingkan dengan model induk dilihat dari mesiodistal, oklusongingival, dan

interabutment dari teknik pencetakan putty/wash one-step adalah -0,463%, -0,465%,

dan 0,387%; dan dari teknik pencetakan putty/wash two-step -0,309%, -0,359%, dan 0,279% dan berdasarkan spesifikasi ADA no.19, persentase perubahan dimensi kedua model masih dalam batas yang dapat ditolerir (perubahan dimensi ≤0,5%).27

Tabel 11. Pengaruh teknik pencetakan putty/wash one-step dan teknik pencetakan

putty/wash two-step terhadap akurasi dimensi model kerja gigi tiruan cekat

*Ada perbedaan yang signifikan (p<0,05) Jarak Akurasi Dimensi p Teknik Jumlah (n) X% Deviasi ±SD

Mesiodistal Putty/wash one-step 30 -0,463 ± 0,179 0,001*

Putty/wash two-step 30 -0,309 ± 0,104

Oklusogingival Putty/wash one-step 30 -0,465 ± 0,146 0,013*

Putty/wash two-step 30 -0,359 ± 0,173

Interabutment Putty/wash one-step 30 0,387 ± 0,037 0,001*

BAB 5 PEMBAHASAN

Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Dalam penelitian eksperimental laboratoris, peneliti melakukan percobaan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik pencetakan

putty/wash one-step dan putty/wash two-step terhadap cacat permukaan hasil cetakan

dan akurasi dimensi model kerja gigi tiruan cekat.

5.1 Jumlah Cacat Permukaan Cetakan dengan Teknik Pencetakan

Putty/wash One-step dan Putty/wash Two-step

Pada Tabel 6 dan 7 terlihat hasil pemeriksaan permukaan cetakan dengan teknik putty/wash one-step yang didapati jumlah tipe cacat yang paling banyak adalah tipe 0 dengan jumlah 14 dan jumlah tipe yang paling sedikit adalah tipe 3 dengan jumlah 3; pada teknik putty/wash two-step, jumlah tipe cacat yang paling banyak adalah tipe 0 dengan jumlah 17 dan jumlah tipe yang paling sedikit adalah tipe 3 dengan jumlah 2.

Pada kedua teknik putty/wash one-step dan putty/wash two-step, tipe cacat yang terjadi paling banyak adalah tipe 0 dan yang paling sedikit adalah tipe 3. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Caputi dkk (2015) yang menunjukkan pada teknik

putty/wash one-step dan two-step, jumlah tipe cacat yang paling banyak adalah tipe 0

dan paling sedikit tipe 3.Hasil penelitian Samet (2005) juga menunjukkan bahwa dari 193 sampel dengan teknik pencetakan dan bahan cetak yang berbeda menunjukkan beberapa kesalahan yang banyak terjadi pada hasil cetakan adalah adanya lubang atau robekan pada akhiran servikal sebanyak 50,7% dan adanya gelembung udara pada akhiran servikal sebanyak 40,4%.6 Kemungkinan terjadinya gelembung udara pada penelitian ini mungkin karena digunakannya pengadukan elastomer secara manual yaitu pada saat operator mengaduk bahan wash, jika gerakan yang dilakukan kurang

tepat maka udara yang seharusnya tidak ada dapat terjebak sehingga membentuk gelembung udara atau bahkan lubang pada hasil cetakan. Kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah saat peletakan bahan wash, udara dapat terjebak pada abutment gigi yang akan dicetak, menyebabkan terbentuknya gelembung udara atau lubang pada hasil cetakan. Penelitian Shresta dkk (2015) menyatakan bahwa lubang dan gelembung udara adalah cacat yang paling sering terjadi (59% dan 30% pada masing-masing kategori cacat) pada pengadukan elastomer manual. Penggunaan alat

automixing dapat meminimalisir terbentuknya gelembung udara daripada pengadukan

secara manual.16 Gelembung udara juga dapat terbentuk karena tekanan yang berlebihan saat mencetak.4 Cacat permukaan yang terdapat pada hasil cetakan mungkin juga dapat disebabkan karena kesalahan manipulasi pencetakan saat meletakkan pada gigi yang dipreparasi atau terlalu cepat mengangkat cetakan dari mulut.6

5.2 Nilai Akurasi Dimensi Model Kerja dengan Teknik Putty/wash

One-step dan Putty/wash Two-Step

Pada Tabel 8 dan 9 terlihat rerata dan standar deviasi dari hasil pengukuran akurasi dimensi dalam bentuk persentase deviasi. Persentase deviasi dapat dihitung dengan mengurangkan ukuran model kerja dengan ukuran model induk dibagi ukuran model induk dan dikali 100%.7,10 Nilai dari persentase deviasi dari teknik pencetakan

putty/wash one-step dilihat dari mesiodistal adalah -0,463 ± 0,179, dilihat dari

oklusogingival adalah -0,465 ± 0,146, dilihat dari interabutment adalah 0,387 ± 0,037. Nilai dari persentase deviasi dari teknik pencetakan putty/wash two-step dilihat dari mesiodistal adalah -0,309 ± 0,014, dilihat dari oklusogingival adalah -0,359 ± 0,0173, dilihat dari interabutment adalah 0,279 ± 0,040. Berdasarkan spesifikasi ADA no.19, persentase deviasi model kerja dengan teknik pencetakan putty/wash

one-step dan putty/wash one-step masih dalam batas yang dapat ditolerir (perubahan

Pada Tabel 11 terlihat hasil pengukuran dimensi model kerja dibandingkan dengan model induk yang menunjukkan nilai adanya pengurangan ukuran dimensi pada aspek mesiodistal yaitu -0, 463% pada teknik putty/wash one-step dan -0,309% pada teknik putty/wash two-step dan aspek oklusogingival yaitu -0,465 pada teknik

putty/wash one-step dan -0,359 pada teknik putty/wash two-step yang memiliki arti

bahwa ukuran model kerja yang diukur lebih kecil dari model induk sehingga dimensinya berkurang. Pada aspek interabutment, terdapat penambahan ukuran pada dimensi yang ditunjukkan dengan nilai 0,387% pada teknik putty/wash one-step dan 0,279% pada teknik putty/wash two-step yang berarti ukuran model kerja yang diukur lebih besar dibandingkan model induk sehingga dimensinya bertambah. Hal ini sesuai dengan penelitian Nissan dkk (2000) yang menunjukkan bahwa pada penelitiannya dimensi vertikal (intraabutment) dari model kerja mengalami pengurangan namun bagian dimensi horizontal mengalami penambahan. Hal ini terjadi karena adanya kontraksi dari bahan cetak ke dinding sendok cetak, membuat model kerja melebar pada aspek horizontal dan memendek pada aspek vertikalnya. Kemungkinan hal ini dapat terjadi karena kontraksi ke dinding cetak bisa menyebabkan terjadinya pengerutan sehingga model kerja yang diperoleh akan memiliki abutment yang memendek (aspek oklusogingival) dan mengecil (aspek mesiodistal) dibandingkan model induknya. Abutment yang memendek dan mengecil dapat mengakibatkan jarak

interabutment semakin besar.10 Selain itu pada dental stone terjadi setting ekspansi yang dapat dilihat saat proses perubahan dari hemihidrat menjadi dihidrat. Kristalisasi dari dihidrat dapat digambarkan dengan pertumbuhan yang berlebihan kristal-kristal dari nukleus kristalisasi. Kristal yang tumbuh dari nukleus dapat mengikat atau menghalangi pertumbuhan kristal yang berdekatan. Bila proses ini diulangi oleh ribuan kristal selama proses pertumbuhan, tekanan atau dorongan keluar dapat terjadi yang menghasilkan ekspansi pada model.5 Kemungkinan mengecilnya model kerja pada aspek mesiodistal dan oklusogingival bila dibandingkan model induk disebabkan pengerutan yang terjadi pada bahan cetak elastomer tidak diimbangi dengan setting ekspansi dari dental stone sehingga menyebabkan model kerja lebih kecil dari model induk. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Caputi S dan Varvaera

G (2007) yang menyatakan bahwa dimensi model kerja pada ketiga teknik (putty/wash one-step, putty/wash two-step, dan putty/wash two-step modifikasi) menunjukkan dimensi yang lebih besar dari model induk yang disebabkan oleh ekspansi dari dental stone.7

5.3 Pengaruh Teknik Pencetakan Putty/Wash One-Step dan Putty/Wash

Two-Step terhadap Cacat Permukaan Cetakan

Pada Tabel 10 terlihat persentase dari jumlah tipe cacat dari masing-masing teknik pencetakan. Tipe cacat yang didapati pada teknik putty/wash one-step, pada kategori tipe cacat 0 (tidak ada cacat) didapati cacat berjumlah 14 dengan persentasenya 46,7%; tipe cacat 1 (1-2 gelembung udara) berjumlah 8 dengan persentase 26,7%; tipe cacat 2 (>2 gelembung udara) berjumlah 5 dengan persentase 16,7%; dan tipe cacat 3 (adanya lubang) berjumlah 3 dengan persentase 10%. Pada teknik putty/wash two-step, pada kategori tipe cacat 0 (tidak ada cacat) didapati cacat berjumlah 17 dengan persentasenya 56,7%; tipe cacat 1 (1-2 gelembung udara) berjumlah 8 dengan persentase 26,7%; tipe cacat 2 (>2 gelembung udara) berjumlah 3 dengan persentase 10%; dan tipe cacat 3 (adanya lubang) berjumlah 2 dengan persentase 6,7%.

Pada Tabel 10 memperlihatkan hasil statistik uji Chi-Square yang menunjukkan p=0,804 (p>0,05), artinya tidak ada perbedaan antara kedua teknik pencetakan putty/wash one-step dan putty/wash two-step terhadap cacat permukaan hasil cetakan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Caputi dkk (2015) yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang ditemukan antara kedua teknik

putty/wash one-step dan putty/wash two-step pada jumlah cacat pada hasil cetakan.

Sesuai dengan literatur, kedua teknik yaitu putty/wash one-step dan putty/wash

two-step, menunjukkan insidensi yang rendah terjadinya lubang dan gelembung udara.

Hal ini dihubungkan dengan tekanan yang diaplikasikan oleh bahan cetak dengan viskositas mayor (putty) pada bahan cetak dengan viskositas minor (wash), yang meningkatkan laju alir dan membantu dalam menghasilkan cetakan dengan detail

yang lebih tepat.9 Tidak terdapatnya perbedaan antara kedua teknik ini kemungkinan dikarenakan bahan cetak yang digunakan pada kedua teknik adalah sama-sama bahan

putty dan bahan wash. Pada bahan cetak yang memiliki viskositas yang tinggi dan

daya alir yang rendah seperti monophase akan mengakibatkan injeksi ke gigi yang dipreparasi akan lebih sulit dikontrol dan pengisian bahan monophase dalam jumlah besar dapat mengakibatkan peletakan dari bahan cetak kurang tepat dan udara dapat terjebak.6,12 Kemungkinan hal-hal diatas tidak terjadi pada penelitian ini karena pada penelitian ini kedua teknik pencetakan putty/wash yang diteliti menggunakan dua jenis bahan yang sama yaitu putty dan wash, dan bahan wash memiliki daya alir yang lebih tinggi sehingga memiliki kemungkinan untuk mereproduksi permukaan cetakan dengan lebih baik.9 Menurut hasil penelitian Samet dkk (2005) menyatakan bahwa ada korelasi yang signifikan antara tipe bahan cetak dengan lubang dan robekan pada akhiran servikal, sehingga cacat permukaan cetakan mungkin lebih dipengaruhi dari bahan cetak daripada teknik pencetakan.6 Hasil ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Shresta (2015) yang menyatakan bahwa teknik putty/wash one-step memiliki jumlah cacat permukaan lebih sedikit dari teknik putty/wash two-step.16

5.4 Pengaruh Teknik Pencetakan Putty/Wash One-Step dan Putty/Wash

Two-Step terhadap Akurasi Dimensi pada Model Kerja Gigi Tiruan Cekat

Sebelum dilakukan pengujian menggunakan uji t tidak berpasangan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk untuk mengetahui data pada teknik pencetakan putty/wash one-step dan putty/wash two-step adalah normal. Hasil uji normalitas model kerja dengan teknik pencetakan putty/wash

one-step dilihat dari mesiodistal diperoleh nilai 0,939 dengan tingkat signifikansi p=

0,084 (p>0,05), dilihat dari oklusogingival diperoleh nilai 0,934 dengan tingkat signifikansi p= 0,063 (p>0,05), dan dilihat dari interabutment diperoleh nilai 0,940 dengan tingkat signifikansi p= 0,092 (p>0,05), hal ini berarti data teknik pencetakan

putty/wash one-step yang diperoleh normal. Hasil uji normalitas model kerja dengan

dengan tingkat signifikansi p= 0,098 (p>0,05), dilihat dari oklusogingival diperoleh nilai 0,935 dengan tingkat signifikansi p= 0,065 (p>0,05), dan dilihat dari

interabutment diperoleh nilai 0,933 dengan tingkat signifikansi p= 0,059 (p>0,05),

hal ini berarti data teknik pencetakan putty/wash two-step yang diperoleh normal. Setelah dilakukan pengujian dengan uji Saphiro-Wilk untuk mengetahui data yang diperoleh adalah normal, dilakukan uji Levene untuk mengetahui homogenitas data dan diperoleh hasil uji homogenitas dilihat dari mesiodistal menunjukkan nilai 0,952 dengan tingkat signifikansi p = 0,158 (p>0,05), dilihat dari oklusogingival menunjukkan nilai 0,725 dengan tingkat signifikansi p= 0,398 (p>0,05), dan dilihat dari interabutmet menunjukkan nilai 0,459 dengan tingkat signifikansi p= 0,496 (p>0,05). Hasil tersebut menunjukkaan data yang diperoleh homogen. Setelah uji homogenitas, dilakukan uji t tidak berpasangan untuk mengetahui pengaruh teknik pencetakan putty/wash one-step dan two-step terhadap model kerja gigi tiruan cekat.

Setelah dilakukan uji t tidak berpasangan (Tabel 11) didapati pada kedua teknik dari aspek mesiodistal dan interabutment menunjukkan p=0,001 (p<0,05) dan pada aspek oklusogingival menunjukkan p=0,013 (p<0,05), yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara teknik putty/wash one-step dan putty/wash two-step terhadap akurasi dimensi model kerja. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh teknik pencetakan terhadap akurasi dimensi model kerja.

Dari Tabel 11 dapat terlihat bahwa pengurangan dimensi pada aspek mesiodistal dan oklusogingival juga penambahan dimensi pada aspek interabutment pada teknik putty/wash one-step lebih besar dibandingkan dengan teknik putty/wash

two-step jika dilihat dari nilai persentase deviasinya, sehingga kemungkinan teknik putty/wash two-step lebih akurat dibandingkan dengan teknik putty/wash one-step

meskipun hasil dari perubahan dimensi dari masing-masing teknik pencetakan yang beragam mulai dari -0,465% sampai 0,279% masih di dalam batas yang dapat ditolerir menurut ketentuan dari ADA no.19 (perubahan dimensi ≤0,5%).25,27 Pada penelitian ini terdapat perbedaan yang mungkin dapat terjadi karena pada teknik

putty/wash one-step, bahan putty cenderung mendorong wash dari gigi yang

tertutupi oleh bahan putty yang tidak bisa mencetak detail dengan baik, sehingga akurasi dari hasil cetakan berkurang.7 Pada teknik putty/wash one-step bahan wash yang berlebihan dan sulit dikontrol dapat menghasilkan perubahan dimensi, karena teknik ini dapat menyebabkan pengerutan terus menerus yang dapat terjadi pada bahan yang memiliki viskositas berbeda.4,9 Kesulitan lainnya pada teknik putty/wash

one-step adalah ketika bahan wash sudah diletakkan pada gigi yang dipreparasi,

bahan putty harus diposisikan kembali ke dalam rongga mulut. Pada fase ini, lidah pasien dapat memindahkan bahan wash dari gigi, sehingga keakuratan dari cetakan dapat berkurang.7 Pada teknik putty/wash two-step, bahan cetak wash dimasukkan setelah bahan putty sudah setting dan bisa berperan sebagai sendok cetak sehingga dapat menghindari terjadinya pengerutan yang berlangsung secara bersamaan seperti teknik putty/wash one-step yang dapat memungkinkan hasil cetakan putty/wash

two-step lebih akurat daripada putty/wash two-two-step. Ketebalan bahan wash yang terkontrol

akan mengkompensasi kontraksi dengan perubahan dimensi yang sedikit.4,10 Hasil penelitian yang menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kedua teknik ini mungkin disebabkan karena pada teknik putty/wash one-step ketebalan bahan wash cenderung tidak terkontrol karena pada teknik ini bahan putty dan bahan wash diaduk dan dimasukkan pada waktu yang bersamaan, sehingga kemungkinan jumlah bahan cetak yang digunakan tidak bisa dikontrol, berbeda dengan teknik putty/wash

two-step yang sebelumnya diberikan spacer sehingga setelah bahan putty sudah setting,

bahan wash dimasukkan untuk mengisi spacer yang sudah dilepas, sehingga kemungkinan bahan wash dapat dikontrol. Dari hasil penelitian di atas diketahui nilai persentase deviasi teknik putty/wash two-step lebih kecil dibandingkan teknik

putty/wash one-step sehingga kemungkinan teknik putty/wash two-step lebih akurat

dibandingkan dengan teknik putty/wash one-step. Hal ini sesuai dengan penelitian penelitian Caputi S dan Varvaera G (2007) yang menyatakan bahwa teknik

putty/wash two-step lebih akurat dibandingkan dengan teknik putty/wash one-step7,

dan penelitian oleh Nissan dkk (2000) yang menyatakan putty/wash two-step paling akurat untuk membuat model dan menghasilkan cetakan yang tepat.10 Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian oleh Hendry (2012) yang menyatakan

bahwa teknik pencetakan putty/wash one-step merupakan teknik yang paling akurat karena mempunyai selisih jarak intraabutment dan interabutment yang paling kecil dibandingkan dengan teknik pencetakan putty/wash two-step dan putty/wash two-step dimodifikasi.15 Hasil ini juga tidak sesuai dengan penelitian Vitti dkk (2013) yang menyatakan tidak ada perbedaan diantara teknik monophase, one-step dan two-step pada penelitian ini, juga di penelitian yang lain yang menunjukkan perubahan akurasi dimensi tidak dipengaruhi oleh teknik pencetakan.4

Kelemahan pada penelitian ini adalah peneliti melepaskan hasil cetakan dari sendok cetak saat proses pengisian dengan dental stone dan juga penggunaan spacer polietilen yang tidak sesuai standar sehingga menyebabkan nilai dari akurasi dimensi model kerja yang dihasilkan tidak terlalu akurat. Kelemahan lain pada penelitian ini adalah alat yang digunakan untuk memeriksa cacat permukaan dan akurasi dimensi adalah kaca pembesar dan kaliper digital yang memiliki kemungkinan human error yang cukup besar saat operator lelah sehingga dapat disarankan menggunakan alat yang lain seperti menggunakan 3D scanner laser untuk menghitung akurasi dimensi dengan lebih akurat. Kelemahan lainnya adalah penelitian ini juga dilakukan di model induk yang terbuat dari stainless steel. Penelitian ini akan memiliki hasil yang berbeda jika dilakukan di dalam rongga mulut yang memiliki jaringan keras, jaringan lunak, saliva, dan cairan sulkular yang dapat mempengaruhi hasil penelitian ini.

BAB 6

Dokumen terkait