BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
2. Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Kecurangan Akademik
Kecurangan akademik merupakan sebuah tidakan tidak jujur yang dilakukan mahasiswa untuk memperoleh sebuah nilai akademik. Teman sebaya menjadi penggerak bagi mahasiswa melakukan tindakan kecurangan akademik. (Abida dan Bashir, 2013:651; dan McCabe dan Trevino,1997: 391-392). Berdasarkan hasil penelitian Abida dan Bashir menunjukkan bahwa teman sebaya berpengaruh terhadap kecurangan akademik dengan nilai interkorelasi antar variabel sebesar 0,20, 0,83, 0,92, 0,74, 0,54, dan 1. Sementara itu, hasil penelitian McCabe tahun 1995-1996 pada 1800 mahasiswa di sembilan institusi akademik menunjukkan bahwa teman sebaya merupakan faktor kontekstual (perilaku menyontek teman sebaya, penolakan perilaku menyontek teman sebaya, merasakan kerasnya hukuman dari menyontek) dalam perilaku kecurangan akademik seperti menyontek sehingga berpengaruh secara signifikan daripada faktor individu (umur, jenis kelamin, IPK, dan partisipasi pada kegiatan ekstrakurikuler). Faktor hubungan teman sebaya sekali lagi muncul sebagai pengaruh yang paling signifikan terhadap perilaku menyontek. Mahasiswa terpengaruh
karena melihat teman sebayanya berhasil melakukan tindak kecurangan akademik, sehingga ia mencoba untuk menirunya. Mahasiswa meniru perilaku teman sebaya yang berhasil mencontek merupakan faktor kontekstual terjadinya kecurangan akademik (Hendrick,2004:23-25). Lebih lanjut Hendrick mengungkapkan bahwa faktor kontekstual terjadinya kecurangan akademik adalah keanggotaan dalam sebuah perkumpulan mahasiswa, perilaku teman sebaya dan penolakan teman sebaya akan kecurangan akademik. Perkumpulan mengajarkan mahasiswa norma, nilai dan kemampuan-kemampuan yang berhubungan dengan kecurangan akademik dengan mudah tersalurkan. Perkumpulan memberikan akses untuk memperoleh salinan soal ujian sebelumnya, makalah berkala, ujian praktek laboratorium, dan kelengkapan akademik lainnya. Perilaku teman sebaya memberikan pengaruh dalam kecurangan akademik sebab tingkah laku mudah dipelajari karena mencontoh perilaku orang lain. Mahasiswa mencontoh perilaku kecurangan akademik temannya karena ia melihat keberhasilan temanya saat melakukan tindakan tersebut, sehingga ia terdorong untuk menirunya. Penolakan teman sebaya merupakan faktor paling penting dari perubahan perilaku kecurangan akademik. Seseorang yang ditolak dalam lingkungan pertemanannya akan melakukan perilaku kecurangan akademik dan bergabung sebagai orang baru dalam kelompok siswa yang biasa melakukan tindakan kecurangan melalui partisipasi, mendukung, dan memperkuat perilaku kecurangan akademik. Secara singkat, teman sebaya memberi dukungan normatif berkaitan dengan tindak
kecurangan akademik yang dilakukan oleh mahasiswa. Kerangka konseptual penelitian, dapat digambarkan dari uraian–uraian kerangka berpikir diatas.
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual Penelitian C. Hipotesis
Hipotesis adalah kesimpulan sementara yang masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis merupakan perumusan jawaban atas dugaan sementara terhadap pernyataan yang diajukan dalam rumusan masalah, sehingga hipotesis ini harus dibuktikan kebenarannya berdasarkan kerangka berpikir diatas melalui pengumpulan data dan analisis data. Oleh karena itu, peneliti merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
1. Ha1 : Ada pengaruh yang signifikan antara kepercayaan diri terhadap kecurangan akademik
H01 : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara kepercayaan diri terhadap kecurangan akademik.
2. Ha2 : Ada pengaruh yang signifikan antara teman sebaya terhadap kecurangan akademik. Kepercayaan Diri (X1) Teman Sebaya (X2) Kecurangan Akademik (Y1) r1 r2
H02 : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara teman sebaya terhadap kecurangan akademik.
40 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penulis melakukan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian deskriptif merupakan suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala pada saat penelitian dilakukan, sedangkan penelitian studi kasus adalah penelitian dilakukan untuk mencermati individu secara mendalam (Suharsimi Arikunto, 2009:234-238). Keadaan gejala yang ada yaitu pertama, meja yang di ruang kelas terdapat coretan-coretan materi untuk berbagai mata kuliah yang digunakan saat ujian. Gejala kedua mahasiswa terkadang melakukan kecurangan akademik berupa tindakan copy – paste saat mengerjakan tugas.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penulis akan melakukan penelitian di Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tempat Penelitian tersebut beralamatkan di Jalan Affandi Tromol Pos 29, Mrican, Catur Tunggal, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55002. Peneliti akan melakukan penelitian ini pada bulan Maret 2017.
C. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta. Penulis memilih subjek penelitian ini dikarenakan mahasiswa Pendidikan Akuntansi sangatlah rawan terhadap tindakan kecurangan akademik. Kecurangan akademik yang terjadi seperti menyontek saat ujian, mengerjakan tugas mata kuliah, copy-paste sumber dari internet tanpa menyertakan sumber saat mengerjakan tugas presentasi, mencari bocoran soal ujian, atau meminta file presentasi mahasiswa lain.
Objek penelitian ini adalah pengaruh kepercayaan diri, teman sebaya (sebagai variabel bebas) terhadap kecurangan akademik (sebagai variabel terikat). Objek penelitian ini dipilih untuk mencapai tujuan penelitian ini. Tujuan penelitian ini dapat tercapai dengan meneliti pada sebagian populasi penelitian. Populasi, sampel dan teknik penarikan sampel akan dijelaskan pada sub bab bagian D.
D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subyek yang mempunyai kualitas dan memiliki karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian dilakukan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2012:119). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi angkatan 2013, 2014, dan 2015. Peneliti memilih populasi tersebut karena mahasiswa mudah ditemui dan menjadi narasumber. Jumlah populasi penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3.1 Populasi Mahasiswa Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Angkatan Jumlah Populasi Presentase
2013 101 Mahasiswa 38 %
2014 80 Mahasiswa 31 %
2015 80 Mahasiswa 31 %
Total Populasi 261 Mahasiswa 100%
Sumber : Sekretariat Pendidikan Akuntansi, USD 2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi (Sugiyono, 2012:120). Teknik yang digunakan untuk menentukan ukuran sampel adalah dengan rumus Slovin sebagai berikut:
� = + ��� 2
Keterangan : N = Populasi n = Sampel
e = Perkiraan tingkat kesalahan sebesar 5%
Jumlah sampel penelitian ini apabila dihitung menggunakan rumus slovin adalah sebagai berikut :
� = + . , 2
� = , →
Karena hasil perhitungan jumlah sampel dengan rumus Slovin sebesar 157,94 mahasiswa, maka hasil tersebut dibulatkan menjadi 158 mahasiswa. Peneliti menambah 3 responden menjadi 161 mahasiswa. Penambahan responden dilakukan untuk berjaga-jaga apabila ada responden tidak mengembalikan instrumen penelitian, atau instrumen hilang ketika dibawa responden. Penambahan jumlah sampel mengakibatkan berubahnya margin
eror pada perhitungan sampel. Nilai margin eror dapat diketahui pada perhitungan jumlah sampel dibawah ini:
� = + ��� 2 = + �2 + �2 = + . �2 = . �2 = − . �2 = �2 = . � = √ . � = , � = ,
3. Teknik Penarikan Sampel
Teknik penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan sampel strata proporsional. Teknik penarikan sampel strata proporsional merupakan jumlah sampel dalam strata yang disesuaikan dengan proporsi tiap strata dalam sampel (Uhar.S,2014:117-118). Proporsi penarikan sampel diukur berdasarkan presentase antara jumlah populasi mahasiswa pada setiap setiap angkatan dibagi dengan jumlah total populasi yang ada. Perhitungan proporsi penarikan sampel yang dilakukan menghasilkan sampel untuk mahasiswa Pendidikan Akuntansi angkatan 2013,2014, dan 2015 secara berurutan sebanyak 60 mahasiswa, 49 mahasiswa dan 49 mahasiswa. Hasil pehitungan proporsi sampel dapat dilihat pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Proporsi Sampel Penelitian Angkatan Presentase Jumlah Sampel
2013 38 % 60 Mahasiswa
2014 31 % 49 Mahasiswa
2015 31 % 49 Mahasiswa
Total 100% 158 Mahasiswa
E. Operasionalisasi Variabel 1. Variabel Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri merupakan keyakinan pada diri manusia mengenai kemampuannya untuk menghadapi berbagai situasi, tantangan, dalam memperoleh tujuan yang ia harapkan. Dimensi, indikator, dan nomor item soal, dan soal dalam operasional variabel kepercayaan diri merujuk kepada konstruk penelitian Okti (2016:44) sebagai berikut:
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Kuisioner Variabel Kepercayaan Diri Dimensi Indikator Nomor item pernyataan Pernyataan Percaya kemampuan sendiri Yakin kemampuan diri sendiri
1,2 1. Saya yakin jawaban saya benar setiap mengerjakan soal ujian, tugas, atau artikel.
2. Saya merasa yakin dan mampu mengerjakan tes, soal, tugas, atau artikel dari dosen saya dengan baik. Tidak terdorong sikap konformis Tidak membutuhkan pengakuan orang lain
3 3. Saya selalu berusaha mengerjakan soal ujian, tugas, atau artikel sendiri
meskipun tidak bisa mengerjakannya
Dimensi Indikator Nomor item pernyataan Pernyataan Berani menerima dan menghadapi penolakan Berani menghadapi penolakan orang lain
4,5 4. Saya tidak akan memberikan jawaban saya saat ujian,
mengerjakan tugas atau artikel, meskipun teman akan memusuhi saya.
5. Saya akan berbuat jujur meskipun saya dimusihi teman, apabila ia memaksa berbuat curang ketika memeriksa jawabannya. Pengendalian diri Mampu mengendalikan diri (emosi)
6,7 6. Saya tetap semangat mengerjakan soal ujian, tugas, artikel yang diberikan dosen meskipun sulit.
7. Saya tetap semangat dan rajin belajar meskipun saya mendapat nilai jelek. Memiliki lotus
of control
Memiliki
pemikiran yang positif
8 8. Saya tidak putus asa jika mendapat nilai jelek meskipun sudah belajar keras.
Berpikiran positif
Tidak berpikiran buruk terhadap diri sendiri dan orang lain
9 9. Saya percaya bahwa teman saya telah belajar dengan giat, apabila ia
mendapatkan nilai ujian yang baik. Memiliki harapan yang realistis Memiliki harapan yang sesuai dengan kemampuannya
10 10. Saya rajin belajar karena saya ingin mendapatkan nilai yang baik dari hasil kerja keras saya sendiri.
2. Variabel Teman Sebaya
Teman sebaya merupakan seseorang yang memiliki kesamaan atau kematangan usia dengan individu lain yang bersama-sama menggapai sebuah tujuan. Mahasiswa menempuh kegiatan akademis di universitas memiliki teman sebaya sebagai rekannya dalam mencapai tujuan. Mahasiswa yang berada di lingkungan pertemanan positif memiliki perilaku kecurangan akademik yang rendah, sedangkan mahasiswa yang berada di lingkungan pertemanan negatif memiliki perilaku kecurangan akademik yang tinggi. Tingginya perilaku kecurangan akademik dikarenakan mahasiswa cenderung meniru keberhasilan temannya saat melakukan tindak kecurangan akademik. Dimensi, indikator, dan nomor item dalam operasional variabel teman sebaya merujuk dalam teori Papalia, et al (2008:618-619) sebagai berikut:
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Kuesioner Variabel Teman Sebaya Dimensi Indikator Nomor Item
Pernyataan + - Popularitas Memilih teman atas dasar kepopuleran
1 2 1. Saya memilih untuk memiliki atau berteman dengan seseorang yang populer di lingkungan kampus.
2. Saya memilih untuk berteman dengan siapa saja tidak memperdulikan apakah ia terkenal atau tidak.
Populer dikarenakan hal positif
3,4 3. Saya memilih untuk
memiliki atau
berinteraksi dengan teman yang terkenal di
Dimensi Indikator Nomor Item
Pernyataan
+ -
karena ia berprestasi di bidang akademik.
4. Saya memilih untuk memiliki atau
berinteraksi teman yang terkenal di lingkungan kampus karena ia ketua organisiasi.
Populer dikarenakan hal negatif
5,6 5. Teman saya dipandang oleh mahasiswa lain sebagai seorang trouble maker di kelas, akan tetapi saya tetap berteman dan berinteraksi dengannya. 6. Teman saya dipandang
oleh orang lain memiliki kepribadian, atau
kebiasaan yang buruk (seperti pemarah, keras kepala, gemar merokok, atau mabuk), akan tetapi saya tetap berteman dan bertukar pemikiran dengan dia.
Pertemanan Egalitarian 7 8 7. Saya memilih berteman atau berinteraksi dengan seseorang yang memiliki kesamaan sifat atau derajat.
8. Saya memilih untuk berteman atau
berinteraksi dengan siapa saja tidak memandang kesamaan sifat, atau derajat.
Komitmen 9,10 9. Saya memilih untuk berteman atau berinteraksi dengan seseorang yang memiliki kesamaan prinsip atau komitmen dengan saya. 10. Saya memiliki komitmen
sendiri mengenai target akademik, dan saya akan
Dimensi Indikator Nomor Item
Pernyataan
+ -
mempertahankannya ketika berteman atau berinteraksi dengan siapapun yang seusia dengan saya. Mempertahan kan pertemanan 11,12 11. Saya tetap mempertahankan untuk berteman atau berinteraksi dengan seseorang walaupun saya ditolak dilingkungannya. 12. Saya akan tetap
mempertahankan untuk berteman atau
berinteraksi dengan seseorang walaupun kami memiliki pendapat yang berbeda pada sebuah hal.
3. Variabel Kecurangan Akademik.
Kecurangan akademik adalah perilaku curang yang dilakukan oleh mahasiswa dengan berbagai alasan untuk memperoleh keuntungan akademis selama mengikuti kegiatan perkuliahan di universitas. Mahasiswa melakukan kecurangan akademik selama mengikuti kegiatan perkuliahan dikarenakan rasa takut akan kegagalan, ingin memperoleh nilai akademik yang bagus dengan cara instan, atau melihat keberhasilan temannya melakukan kecurangan akademik tanpa diketahui oleh dosen. Dimensi, indikator, dan nomor item dalam operasional variabel kecurangan akademik merujuk pada teori Pavela dalam dalam Whitley, Bernard E., (2002:17) yaitu 1) menyontek, 2) pemalsuan, 3) plagiat, dan 4) memfasilitasi kecurangan akademik. sebagai berikut:
Tabel 3.5. Kisi-Kisi Kuesioner Variabel Kecurangan Akademik Dimensi Indikator Nomor Item
Pernyataan
+ -
Menyontek Menyontek secara sistematis dan terencana
1-3 4 1. Saya pernah melakukan atau merencanakan untuk menyontek saat ujian. 2. Saya merancang
urutan tempat duduk sebelum ujian agar mudah menyontek saat ujian berlangsung. 3. Saya datang awal ke
ruang ujian untuk menuliskan materi ujian di atas meja tempat duduk ujian saya.
4. Saya tidak pernah menyontek karena saya takut,
dan saya lebih percaya akan kemampuan diri sendiri.
Menyontek saat ada peluang
5,6 5. Saya pernah
menyontek jawaban teman ketika
pengawas ujian sedang meninggalkan
ruangan.
6. Saya menyontek jawaban ujian milik teman ketika pengawas lengah atau berpindah tempat.
Pemalsuan Melebihkan sumber pada bibliografi
7 7. Saya melebihkan
sumber pada
bibliografi artikel yang saya buat agar artikel saya terlihat memuat banyak sumber.
Memalsukan
laporan studi lapangan
8,9 8. Saya membuat laporan studi lapangan yang tidak sesuai antara kontribusi saya
Dimensi Indikator Nomor Item
Pernyataan
+ -
dilapangan dengan hasil yang tertulis dilaporan.
9. Saya memalsukan laporan studi lapangan (semisal study tour, atau kuliah lapangan) karena dosen tidak terlalu memperhatikan. Memalsukan data
saat mengikuti perkuliahan.
10,11 10. Saya melakukan absen palsu saat kuliah. 11. Saya memalsukan data
atau hasil pengamatan ketika kegiatan
perkuliahan semisal praktikum.
Plagiat Membeli artikel atau makalah.
12 12. Saya membeli artikel yang relevan,
kemudian saya ganti halaman judulnya ketika dosen memberi tugas membuat artikel, paper, dsb.
Menggunakan artikel atau
makalah pemberian dari seseorang.
13,14 15 13. Ketika dosen memberi tugas, saya memilih untuk menggunakan artikel atau makalah milik orang lain daripada saya
membuat makalah sendiri.
14. Saya menggunakan artikel atau makalah pemberian orang lain karena bingung akan tugas yang diberikan dosen, malas, dan keterbatasan waktu untuk
mengerjakannya. 15. Saya tidak pernah
menggunakan artikel milik orang lain karena saya tahu itu
Dimensi Indikator Nomor Item Pernyataan + - merupakan tindakan tidak terpuji. Mengimpor artikel atau makalah dari negara lain.
16 16. Saya membeli artikel dari negara lain yang relevan ketika dosen memberikan tugas untuk membuat artikel. Memfasilitasi kecurangan akademik Mengerjakan tugas milik teman. 17 17. Saya mengerjakan tugas milik teman karena ia meminta tolong kepada saya. Membantu teman
menyontek saat ujian.
18 19 18. Saya menutupi teman saya ketika ia menyontek saat ujian berlangsung.
19. Saya tidak mau membantu teman saya ketika ia menyontek saat ujian berlangsung, walaupun saya akan dimarahi olehnya. Membantu teman
melakukan kecurangan akademik.
20,21 20. Saya memalsu tanda tangan teman saya di presensi perkuliahan, padahal ia tidak menghadiri perkuliahan. 21. Saya membantu memberikan jawaban kepada teman saat kuis atau ujian
menggunakan pesan singkat dengan telepon genggam.
4. Penilaian pada Operasionalisasi Variabel
Setiap pernyataan operasionalisasi variabel kepercayaan diri, teman sebaya dan kecurangan akademik dalam kuesioner penelitian diukur menggunakan skala likert. Skala likert merupakan skala untuk mengukur
sikap (Suryabrata, 2005:183-190). Peneliti memberikan empat alternatif opsi jawaban yaitu “Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju”. Pemberian alternatif opsi jawaban dengan jumlah genap mencerminkan kekhawatiran responden memberikan jawaban ‘netral’ guna menghindari untuk memberikan jawaban yang benar. Pemberian opsi jawaban genap pada skala likert memaksa responden untuk memilih jawaban antara sangat setuju dan sangat tidak setuju pada objek pernyataan mengenai sikap (Anderson, dalam Walberg, 1990:335). Selanjutnya, Suryabrata memaparkan pemberian skor untuk setiap alternatif pernyataan kuesioner dilakukan dengan metode summated rating. Pemberian skor untuk setiap alternatif pernyataan kuesioner dengan metode summated rating melalui beberapa tahap sebagai berikut:
a. Peneliti menghitung frekuensi untuk masing-masing kemungkinan jawaban pada masing-masing pernyataan.
b. Peneliti menghitung persentase masing-masing frekuensi jawaban. c. Peneliti menghitung persentil komulatif untuk masing-masing jawaban. d. Peneliti menghitung nilai tengah persentil komulatif.
e. Peneliti mengkonversikan nilai tengah persentil komulatif kedalam harga Z dengan melihat tabel z.
f. Peneliti menghilangkan tanda negatif pada hasil konversi menjadi Zc, dengan menambahkan harga mutlak pada nilai Z terkecil.
Proses penskoran masing-masing pernyataan dengan menggunakan metode summated rating secara detail dapat dilihat pada lampiran tahap-tahap skoring likert halaman 120. Penskoran menggunakan metode summated rating menghasilkan skor untuk setiap opsi jawaban pada setiap pernyataan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.6 Skor Skala Likert Butir Pernyataan Opsi Jawaban SS S TS STS KD 1 0 2 3 4 KD 2 0 1 3 5 KD 3 0 1 2 5 KD 4 0 1 2 4 KD 5 0 1 2 4 KD 6 0 1 2 4 KD 7 0 1 2 4 KD 8 0 1 2 5 KD 9 0 1 2 3 KD 10 0 1 3 5 TS 1 0 1 2 3 TS 2 0 1 2 3 TS 3 0 1 2 3 TS 4 0 1 2 3 TS 5 0 1 3 5 TS 6 0 1 3 5 TS 7 0 1 2 3 TS 8 0 1 2 3 TS 9 0 1 2 3 TS 10 0 1 3 4 TS 11 0 1 2 4 TS 12 0 1 3 4 KA 1 0 1 2 3 KA 2 0 1 2 3 KA 3 0 1 2 3 KA 4 0 1 2 3 KA 5 0 1 2 3 KA 6 0 1 2 3 KA 7 0 1 2 3 KA 8 0 1 2 3 KA 9 0 2 3 5
Butir Pernyataan Opsi Jawaban SS S TS STS KA 10 0 1 2 3 KA 11 0 1 2 3 KA 12 0 2 3 4 KA13 0 2 3 4 KA14 0 2 3 5 KA15 0 1 2 3 KA16 0 2 3 5 KA17 0 3 4 5 KA18 0 1 2 3 KA19 0 1 2 3 KA20 0 1 2 3 KA21 0 1 2 3 Keterangan : KD : Kepercayaan Diri TS : Teman Sebaya KA : Kecurangan Akademik
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data (Suharsimi Arikunto, 2005:100-101). Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan kuesioner. Lebih lanjut Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa kuesioner atau angket adalah kumpulan dari pertanyaan yang diajukan oleh peneliti secara tertulis kepada responden, dan cara responden menjawabnya juga secara tertulis Pengisian kuesioner penelitian dilakukan dengan memberikan tanda centang () pada tempat yang sudah disediakan.
G. Pengujian Instrumen Penilitan 1. Uji Validitas
Peneliti melakukan uji validitas untuk mengukur validitas pada instrumen penelitian yang digunakan. Validitas merupakan kemampuan suatu instrumen penelitian mengukur apa yang seharusnya diukur (Uhar.S, 2014:98-103). Uji validitas yang digunakan adalah uji validitas empiris. Validitas empiris merupakan uji validitas yang membandingkan (untuk mencari kesamaan antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta- fakta empiris yang ada di lapangan (Sugiono,2014:353-354). Lebih lanjut Uhar.S berpendapat bahwa validitas eksternal dapat diuji menggunakan rumus korelasi Product Moment sebagai berikut :
� = � ∑ − ∑ ∑
√{� ∑ 2− ∑ 2} {� ∑ 2 − ∑ 2}
Keterangan :
rxy = Koefisien validitas butir Σ = Jumlah
N = Banyaknya mahasiswa X = Skor tiap butir
Y = Skor total tiap mahasiswa XY = Hasil perkalian antara X dan Y
Item pernyataan instrumen dikatakan valid apabila nilai corrected item-total corelation sebesar >0,3 (Nunnally, 1994:99-100). Variabel kepercayaan diri, teman sebaya, dan kecurangan akademik diujikan pada 60 responden. Uji validitas ketiga variabel tersebut dilakukan dengan program SPSS versi 17.0. Setelah dilakukan uji validitas dengan program SPSS versi 17.0, peneliti menghapus item pada kolom corrected item-total corelation apabila
nilai rhitung <0,3. Berdasarkan pendapat dari Nunally, butir pernyataan pada instrumen penelitian ini dinyatakan valid apabila nilai rhitung >0,3.
a. Uji Validitas Variabel Kepercayaan Diri
Lebih lanjut uji validitas untuk variabel kepercayaan diri dapat dilihat pada Tabel 3.7 di bawah ini.
Tabel 3.7. Uji Validitas Variabel Kepercayaan Diri (Tahap Pertama)
Nomor Butir Pernyataan Rhitung
1. 0,523 2. 0,391 3. 0,331 4. 0,210 5. 0,307 6. 0,349 7. 0,450 8. 0,527 9. 0,173 10. 0,205
Berdasarkan hasil uji validitas pertama pada variabel kepercayaan diri menunjukkan bahwa butir pernyataan nomor empat, sembilan, dan sepuluh menghasilkan nilai rhitung<0,3 sehingga item tersebut dinyatakan tidak valid dan perlu dihapus. Item nomor empat merupakan bagian dari dimensi berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain, item nomor sembilan merupakan bagian dari dimensi berpikir positif, sedangkan item nomor sepuluh bagian dari dimensi memiliki harapan yang realistis pada variabel kepercayaan diri. Dimensi-dimensi tersebut tidak dapat mewakili dalam konteks kecurangan akademik, maka harus dihapus. Setelah item-item butir pernyataan yang tidak valid dihapus
perlu dilakukan pengujian validitas lagi. Hasil uji validitas setelah butir pernyataan nomor sembilan dihapus dapat dilihat pada Tabel 3.8 di bawah ini.
Tabel 3.8 Uji Validitas Variabel Kepercayaan Diri (Tahap Kedua) Nomor Butir Pernyataan Rhitung
1. 0,582 2. 0,466 3. 0,409 5. 0,216 6. 0,387 7. 0,491 8. 0,458
Berdasarkan hasil uji validitas kedua pada variabel kepercayaan diri, item pernyataan nomor lima tidak valid karena memiliki nilai rhitung<0,3 sehingga perlu dihapus. Setelah item pernyataan nomor lima dihapus dilakukan uji validitas kembali. Hasil uji validitas dapat dilihat pada Tabel 3.9.
Tabel 3.9 Uji Validitas Variabel Kepercayaan Diri (Tahap Ketiga) Nomor Butir Pernyataan Rhitung
1. 0,595 2. 0,465 3. 0,351 6. 0,426 7. 0,496 8. 0,480
Berdasarkan hasil uji validitas pada Tabel 3.9 menunjukkan bahwa item-item pernyataan telah valid karena memiliki nilai rhitung>0,3. Item- item pernyataan pada instrumen penelitian ini layak untuk digunakan.
b. Uji Validitas Variabel Teman Sebaya
Tabel 3.10 Uji Validitas Variabel Teman Sebaya (Tahap Pertama) Nomor Butir Pernyataan Rhitung
1. 0,243 2. -0,131 3. 0,534 4. 0,413 5. 0,226 6. 0,199 7. 0,268 8. -0,284 9. 0,401 10 0,229 11. 0,211 12. 0,134
Hasil uji validitas pada variabel teman sebaya dapat dilihat pada Tabel 3.10 di atas. Berdasarkan hasil uji validitas menunjukkan bahwa item pernyataan nomor dua dan delapan bernilai negatif, maka item-item tersebut harus dihapus terlebih dahulu, dan dilakukan uji validitas kembali. Hasil uji validitas tahap kedua pada variabel teman sebaya dapat dilihat pada Tabel 3.11 di bawah ini.
Tabel 3.11 Uji Validitas Variabel Teman Sebaya (Tahap Kedua) Nomor Butir Pernyataan Rhitung
1. 0,424 3. 0,630 4. 0,555 5. 0,249 6. 0,187 7. 0,400 9. 0,477 10 0,217 11. 0,165 12. 0,022
Tabel 3.11 menunjukkan bahwa item pernyataan nomor lima, enam, sepuluh, sebelas, dan dua belas tidak valid, maka perlu dihapus dan di uji kembali. Hasil uji validitas tahap ketiga variabel teman sebaya dapat dilihat pada Tabel 3.12 di bawah ini.
Tabel 3.12 Uji Validitas Variabel Teman Sebaya (Tahap Ketiga) Nomor Butir Pernyataan Rhitung
1. 0,547
3. 0,718
4. 0,527
7. 0,587
9. 0,617
Berdasarkan hasil uji validitas pada Tabel 3.12 di atas, item pernyataan nomor satu, tiga, empat, tujuh dan sembilan telah valid. Item-item pernyataan operasionalisasi variabel teman sebaya dikatakan valid karena memiliki rhitung>0,3. Item pernyataan operasionalisasi variabel teman sebaya nomor satu, tiga, empat, tujuh, dan sembilan layak digunakan untuk penelitian.
c. Uji Validitas Variabel Kecurangan Akademik
Tabel 3.13 Uji Validitas Variabel Kecurangan Akademik