• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBAHASAN

3.10 Pengaruh Tidak Langsung Struktur Modal Terhadap Kinerja

Pengaruh tidak langsung positif dan signifikan antara variabel laten struktur modal dengan variabel laten kinerja keuangan dengan koefisien jalur. Hasil temuan ini terbukti menerima hipotesis empat yang menyatakan bahwa ada pengaruh tidak langsung positif dan signifikan antara struktur modal dengan kinerja keuangan dan sekaligus menjawab rumusan masalah ini.

Pengaruh tidak langsung positif antara variabel laten struktur modal dengan variabel indikator dari variabel laten kinerja keuangan, yaitu variabel ROA dengan koefisien jalur sebesar 0,882 dan BEP dengan koefisien jalur sebesar 0,862. Ringkasan pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung antara struktur modal dengan kinerja keuangan pada Tabel 3.2

Tabel 3.2

PENGARUH LANGSUNG DAN PENGARUH TIDAK LANGSUNG ANTARA STRUKTUR MODAL DENGAN KINERJA KEUANGAN Pengaruh Variabel SM KK ROA BEP Pengaruh Langsung 0,000 0,000 0,000 Pengaruh Tidak Langsung 0,888 0,882 0,862 Sumber:Http://sahamok.com/laporan-keuangan/laporan-keuangan-perusahaan-gas-negara-pgn/ Tahun 2013

Hasil temuan ini bearti bahwa setiap terjadi perubahan variabel laten struktur modal sebesar satu unit, maka variabel laten kinerja keuangan secara tidak langsung akan berubah sebesar 0,888 unit: dan secara tidak langsung

55   

variabel indikator ROA berubah sebesar 0,882 unit, dan variabel BEP berubah sebesar 0,862. Temuan ini menunjukan pengaruh tidak langsung antara struktur modal dengan kinerja keuangan yang sangat kuat. Hasil temuan ini sejalan dengan prediksi teori tradeoff yang menyatakan hubungan psoitif antara struktur modal dengan kinerja keuangan.

Hasil temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Safieddine dan Titman (1997). Safieddine dan Titman (1997) menemukan bukti hubungan positif antara rasio hutang dengan kinerja keuangan dengan variabel indikator return on assets

(ROA). Mereka menemukan bahwa kinerja perusahaan meningkat seiring dengan rekapitalisasi peningkatan leverage. Mereka menyatakan bahwa penggunaan hutang berfungsi sebagai alat pertahanan pada pengambil-alihan perusahaan. Bukti temuan sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa hutang membantu perusahaan bertahan dari pengambil-alihan disebabkan hutang memperkuat komitmen manajer untuk melakukan peningkatan kinerjanya.

Sebaliknya temuan ini tidak sejalan dengan hasil temuan dari Titman dan Wessels: Rajan dan Zingales menemukan hubungan negatif yang signifikan antara profitabilitas dengan rasio hutang. Rajan dan Zingales juga menemukan beberapa bukti hubungan negatif antara profitabilitas dengan leverage. Menemukan hubungan negatife antara antara profitabiltas (kinerja keuangan dengan variabel indikator basic earning power).

Untuk melihat kenyataan dari hasil temuan ini, informasi perkembangan aktiva lancar, aktiva tetap, penjualan, laba sebelum pajak, dan laba bersih dari sampel perusahaan selama tahun 2008 sampai dengan tahun 2013, disajikan pada Tabel 3.3

Tabel 3.3

PERKEMBANGAN AKTIVA LANCAR,AKTIVATETAP,PENJUALAN,LABA SEBELUM PAJAK, DAN LABA BERSIH

Tahun Aktiva Lancar

Aktiva tetap Penjualan Laba sebelum pajak Laba Bersih 2008 397.081,18 274.019,90 451.178,04 47.861,06 35.577,13 2009 441.655,53 355.688,16 484.538,15 54.443,68 41.078,73 2010 722.119,13 624.266,93 600.300,07 -11.224,05 -44.777,09 2011 725.887,30 859.762,52 854.582,52 -182.360,34 -161.417,34 2012 727.023,49 832.519,61 936.494,83 64.568,37 26.998,06 2013 915.394,58 826.287,52 1.217.496,00 -248.670,33 -208.957,40 Rata-rata 654.860,20 628.757,44 757.431,60 -45.896,94 -51.916,32 Sumber:Http://sahamok.com/laporan-keuangan/laporan-keuangan-perusahaan-gas-negara-pgn/ Tahun 2013

Tabel 3.3 menunjukan adanya peningkatan aktiva lancar, aktiva tetap, dan penjualan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013. Disisi lain, terjadi penurunan laba sebelum pajak dan laba bersih sejak tahun 2010 hinga tahun 2013. Peningkatan aktiva lancar yang cukup tajam terjadi sejak tahun 2010 hingga tahun 2013. Peningkatan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan peningkatan aktiva tetap. Hal ini menunjukan adanya upaya untuk menjaga kelangsungan operasi perusahaan. Peningkatan aktiva lancar ini tercermin dari meningkatnya nilai persediaan sebagai akibat dari meningkatnya harga beli gas, dan meningkatnya piutang dagang sebagai akibat dari meningkatnya harga jual produk dan tunggakan piutang. Peningkatan aktiva lancar diduga berasal dari kredit pemasok

57   

(hutang lancar), penambahan ekuitas,dan penambahan modal kerja (pinjaman perorangan).

Peningkatan aktiva tetap yang cukup besar terjadi sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Peningkatan ini diduga bukan berasal dari pertambahan investasi, akan tetapi sebagai akibat dari kapitalisasi kerugian selisih kurs. Kerugian selisih kurs terutama disebabkan oleh melemahnya nilai rupiah terhadap mata uang asing. Peningkatan penjualan bukan disebabkan oleh peningkatan volume penjualan, melainkan disebabkan meningkatkannya harga jual, terutama produk ekspor,sebagai akibat dari tingginya kurs valuta asing.

Penurunan laba sebelum pajak dan laba bersih yang cukup tajam terjadi sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Biaya produksi diperkirakan juga meningkat sebagai akibat dari penggunaan bahan baku impor, dan meningkatnya biaya tetap sebagai akibat dari penurunan kuantitas produksi. Biaya operasi juga diperkirakan meningkat, salah satu penyebabnya adalah selisih kurs hutang valuta asing. Peningkatan biaya ini, secara rata-rata diperkirakan lebih besar dari peningkatan penjualan,sehingga secara rata-rata perusahaan mengalami kerugian (penurunan laba bersih).

Penurunan laba bersih secara tajam terjadi pada tahun 2010, yaitu laba bersih sebesar Rp.41.078,73 juta, pada tahun 2009 menjadi Rp -44.777,09 juta,(rugi bersih) pada tahun 2010, kemudian turun tajam menjadi Rp-161.417,34 juta pada tahun 2011,selanjutnya naik dengan tajam menjadi Rp.26.998,04 juta (laba bersih) pada tahun 2012, dan turun dengan tajam kembali menjadi 208.957,40 juta (rugi bersih) pada tahun 2013. Kenaikan laba bersih dari Rp-161.417,34 juta (rugi bersih) pada tahun 2011 menjadi Rp.26.998,04 juta (laba

bersih) pada tahun 2012 wajar menjadi pertanyaan, sebab dalam kondisi krisis, perusahaan gas negara sulit rasanya dapat melakukan terobosan yang dapat dengan segera menghilangkan dampak dari krisis tersebut. Hal ini kemudian dibuktikan dengan terjadinya penurunan laba bersih yang sangat tajam kembali pada tahun 2013, yang mencerminkan adanya akumulasi kerugian yang diduga berasal dari tahun 2012. Dengan demikian, diduga ada upaya yang dilakukan manajemen perusahaan pada tahun 2013 untuk merekayasa akuntasi keuangannya dengan teknik-teknik akuntasi tertentu atau teknik lainnya.

Menurut teori tradeoff, apabila titik struktur modal optimal telah terlampaui, maka pertambahan hutang akan menurunkan nilai perusahaan, sebaliknya pertambahan ekuitas akan meningkat nilai perusahaan. Fakta empiris menunjukan bahwa posisi struktur modal (debt to asset ratio, DAR) perusahaan pada tahun 2008, sudah relatif tinggi (0,60) yang diperkirakan secara rata-rata, sudah berada di atas target struktur modal optimalnya. Sejak tahun 2010 rasio leverage terus meningkat menjadi 1,03 pada tahun 2013 yang disebabkan peningkatan jumlah hutang sebagai akibat dari peningkatan kurs valuta asing terhadap rupiah dan tingginya suku bunga. Menurut prediksi tradeoff, pada situasi ini, peningkatan hutang akan mengakibatkan penurunan kinerja keuangan. Fakta empiris mengikuti prediksi tersebut yang menunjukan bahwa terjadi penurunan kinerja keuangan (laba bersih) dari Rp.35.577,13 juta pada tahun 2008 menjadi rugi sebesar Rp-208.957,40 juta pada tahun 2013. Hal ini dapat menjelaskan mengapa ditemukan pengaruh tidak langsung positif dan signifikan antara struktur modal dengan kinerja keuangan dengan pengaruh relatif sangat kuat.

59   

Dokumen terkait