• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Penelitian ini disusun secara faktorial dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Faktor pertama adalah tingkat kematangan buah yang terdiri dari dua taraf yaitu buah panen kuning dari pohon (A1) dan buah panen hitam (kering) (A2). Faktor kedua adalah periode pengeringan buah yang terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa pengeringan (P1), dua hari (P2), dan empat hari (P3). Terdapat 6 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan sehingga terdapat 18 satuan percobaan dengan jumlah tanaman sebanyak 540 tanaman.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Model rancangan yang digunakan adalah :

Yijk = μ + γk + αi + βj + (αβ)ij + €ijk

dengan :

Yijk = Nilai pengamatan tingkat kematangan buah taraf ke-i, periode

pengeringan ke-j dan kelompok ke-k

11

γk = Pengaruh kelompok ke-k

αi = Pengaruh tingkat kematangan buah ke-i

βj = Pengaruh periode pengeringan ke-j

(αβ)ij = Pengaruh interaksi tingkat kematangan buah ke-i dan periode

pengeringan ke-j.

ijk = Galat percobaan

Untuk mengetahui pengaruh dari seluruh perlakuan digunakan uji analisis ragam, apabila terdapat pengaruh nyata (F hitung > F tabel) terhadap peubah yang diamati, maka setiap perlakuan akan diuji lanjut dengan uji Duncan Multiple

Range Test (DMRT) pada taraf 5 %. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunkan tanaman yang sama pada percobaan sama. Persiapan dilakukan dengan memanen buah di kebun percobaan Indocement yang akan digunakan untuk percobaan. Pemanenan buah dilakukan serempak dalam satu hari dengan kriteria perbedaan tingkat kematangan buah sehingga dapat dilakukan pengeringan secara bersamaan.

Penanaman

Buah yang sudah dipanen menurut kriteria yaitu tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam (kering) kemudian dilakukan perlakuan pengeringan dengan kering sinar matahari selama 8 jam per hari dengan periode masing-masing perlakuan adalah tanpa pengeringan (P1), dua hari (P2), dan empat hari (P3). Buah ditanam dalam polibag sedalam 3-5 cm dan kemudian polibag diletakkan di dalam rumah kaca selama fase pembibitan berlangsung.

Pengamatan Percobaan 2

1. Kadar Air Buah

Setiap periode pengeringan berakhir, kadar air buah diukur untuk melihat adanya kenaikan atau penurunan kadar air selama pengeringan. Kadar air buah dihitung berdasarkan bobot basah dengan menggunakan masing-masing buah dari setiap satuan percobaan.

Kadar Air (%) = bobot basah – bobot kering x 100% bobot basah

12

2. Daya berkecambah (DB)

Daya berkecambah dihitung berdasarkan persentase kecambah normal yang tumbuh pada pengamatan pertama yaitu sepuluh hari setelah tanam dan pada pengamatan kedua yaitu empat belas hari setelah tanam.

DB (%) = Σ KN pengamatan I + Σ KN pengamatan II x 100 %

Σ benih yang ditanam

3. Potensi Tumbuh Maksimum (PTM)

Potensi tumbuh maksimum mengindikasikan viabilitas total benih. PTM diukur dengan melihat benih-benih yang telah muncul radikulanya. Perhitungan dilakukan pada hari terakhir pengamatan terhadap kecambah normal dan abnormal.

PTM (%) = Σ benih dari buah yang berkecambah x 100 % Σ benih dari buah yang ditanam

4. Bobot basah tanaman (g), batang dan daun ditimbang dengan timbangan analitik.

5. Bobot kering tanaman (g), tanaman dikeringkan dengan oven bersuhu 60

o

C selama 3 x 24 jam, kemudian ditimbang.

6. Bobot basah akar (g), media yang menempel pada akar dibersihkan sampai bersih kemudian akar ditimbang dengan timbangan analitik.

7. Bobot kering akar (g), akar dikeringkan dengan oven bersuhu 60 oC

selama 3 x 24 jam, kemudian ditimbang.

8. Panjang akar primer (cm), diukur mulai dari pangkal akar yang menempel pada batang hingga ujung akar primer.

9. Panjang akar sekunder (cm), masing-masing akar sekunder dihitung panjangnya mulai dari percabangan dengan akar primer hingga ujung akar sekunder kemudian dijumlahkan.

10. Jumlah akar sekunder (buah), yaitu semua akar yang menempel langsung pada akar primer.

11. Panjang batang (cm), diukur dari pangkal hingga ujung batang.

12. Tinggi tanaman (cm), diukur dari permukaan media hingga ujung tanaman 13. Jumlah daun (helai), daun yang dihitung adalah daun yang sudah

13

HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah

Uji t digunakan untuk membandingkan kontrol (benih) terhadap buah dengan tingkat kematangan kuning dan hitam terhadap peubah yang diamati (Tabel 1). Uji t menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata antara kontrol dengan buah kuning terhadap semua peubah dengan nilai P yang diperoleh di atas 5 %. Bobot basah tanaman memiliki nilai P yang cenderung signifikan yaitu 7,4 %. Hasil uji t antara kontrol dengan buah hitam menunjukkan nilai P yang tidak berbeda nyata pada semua peubah dengan α di atas 5 %. Hasil uji t secara umum menunjukkan tidak ada perbedaan pertumbuhan pada pembibitan jarak pagar antara kontrol yang menggunakan biji dengan pembibitan menggunakan buah dengan perlakuan perbedaan tingkat kematangan buah dan periode pengeringan.

Tabel 1. Hasil Uji-t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Kuning dan Hitam pada Peubah yang Diamati.

Umur Nilai P ( α ) Pengaruh Tingkat Kematangan Buah

Kontrol vs kuning Kontrol vs hitam

Daya berkecambah 0,164tn 0,195tn

Potensi tumbuh maksimum 0,711tn 0,535tn

Bobot basah tanaman 0,074tn 0,339tn

Bobot kering tanaman 0,872tn 0,710tn

Bobot basah akar 0,539tn 0,490tn

Bobot kering akar 0,638tn 0,619tn

Panjang akar primer 0,260tn 0,369tn

Panjang akar sekunder 0,799tn 0,735tn

Jumlah akar sekunder 0,974tn 0,385tn

Panjang batang 0,159tn 0,315tn

Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% ** : berpengaruh nyata pada taraf 1% tn : tidak berpengaruh nyata

14

Hasil Uji t Tinggi Tanaman antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah

Uji t digunakan untuk membandingkan tinggi tanaman antara kontrol (benih) terhadap tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam pada umur 2 MST sampai 9 MST. Berdasarkan uji t dengan taraf 5 % antara kontrol dengan buah kuning (Tabel 2) menunjukkan pengaruh nyata pada 3 MST dan 5 MST serta menunjukkan pengaruh sangat nyata pada 6 MST. Berdasarkan uji t dengan taraf 5 % antara kontrol dengan buah hitam menunjukkan menunjukkan pengaruh nyata pada 4 MST, 6 MST, dan 11 MST serta menunjukkan pengaruh sangat nyata pada 5 MST.

Tabel 2. Hasil Uji-t Tinggi Tanaman antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Kuning dan Hitam.

Umur Nilai P ( α ) Pengaruh Warna Buah

Kontrol vs kuning Kontrol vs hitam

2 MST (cm) 0,129tn 0,235tn 3 MST (cm) 0,022* 0,059tn 4 MST (cm) 0,056tn 0,027* 5 MST (cm) 0,011* 0,007** 6 MST (cm) 0,008** 0,020* 7 MST (cm) 0,140tn 0,106tn 8 MST (cm) 0,098tn 0,128tn 9 MST (cm) 0,193tn 0,250tn 10 MST (cm) 0,184tn 0,343tn 11 MST (cm) 0,124tn 0,043* 12 MST (cm) 0,162tn 0,362tn

Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% ** : berpengaruh nyata pada taraf 1% tn : tidak berpengaruh nyata

15

Hasil Uji t Jumlah Daun antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah

Uji t digunakan untuk membandingkan jumlah daun antara kontrol (benih) terhadap tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam pada umur 2 MST sampai 12 MST (Tabel 3). Berdasarkan uji t dengan taraf 5 % antara kontrol dengan buah kuning menunjukkan pengaruh nyata pada 4 MST, 5 MST, 6 MST, 7 MST, dan 8 MST serta menunjukkan pengaruh sangat nyata pada 3 MST. Berdasarkan uji t dengan taraf 5 % antara kontrol dengan buah hitam menunjukkan pengaruh nyata pada 2 MST, 5 MST, 7 MST, 8 MST, dan 11 MST serta menunjukkan pengaruh sangat nyata pada 3 MST, 4 MST dan 6 MST.

Tabel 3. Hasil Uji t Jumlah Daun antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Kuning dan Hitam

Umur Nilai P ( α ) Pengaruh Warna Buah

Kontrol vs kuning Kontrol vs hitam

2 MST (cm) 0,108tn 0,049* 3 MST (cm) 0,000** 0,000** 4 MST (cm) 0,027* 0,004** 5 MST (cm) 0,017* 0,010** 6 MST (cm) 0,011* 0,004** 7 MST (cm) 0,036* 0,014* 8 MST (cm) 0,017* 0,022* 9 MST (cm) 0,114tn 0,121tn 10 MST (cm) 0,137tn 0,064tn 11 MST (cm) 0,061tn 0,017* 12 MST (cm) 0,097tn 0,150tn

Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% ** : berpengaruh nyata pada taraf 1% tn : tidak berpengaruh nyata

Percobaan 2 : Pengaruh Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan terhadap Pembibitan Jarak Pagar

Potensi tumbuh maksimum menggambarkan potensi benih untuk menjadi kecambah normal atau masih dapat tumbuh normal jika kondisinya optimum. Daya berkecambah adalah kemampuan benih untuk tumbuh menjadi tanaman

16

normal yang berproduksi normal dalam keadaan optimum. Rekapitulasi hasil uji F pengaruh tingkat kematangan buah dan periode pengeringan terhadap peubah kadar air, daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, panjang akar primer, panjang akar sekunder, jumlah akar sekunder, dan panjang batang disajikan pada Tabel 4.

Berdasarkan hasil analisis ragam, Tabel 4 menunjukkan tingkat kematangan buah berpengaruh sangat nyata terhadap peubah kadar air buah. Tingkat kematangan buah tidak berpengaruh nyata pada daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, panjang akar primer, panjang akar sekunder, jumlah akar sekunder, dan panjang batang. Perlakuan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, bobot basah tanaman, bobot basah akar, panjang akar primer, jumlah akar sekunder, dan panjang batang. Periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah, bobot kering tanaman,dan panjang akar sekunder serta tidak berpengaruh nyata terhadap potensi tumbuh maksimum dan bobot kering akar. Interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap panjang batang. Interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap kadar air, potensi tumbuh maksimum, bobot basah tanaman, bobot basah akar, panjang akar primer, dan panjang akar sekunder. Interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan tidak berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah, bobot kering tanaman, bobot kering akar, dan jumlah akar sekunder. Peubah tinggi tanaman dan jumlah daun menunjukkan pertumbuhan tanaman setiap minggunya (Gambar 1-4). Rekapitulasi hasil uji F peubah tinggi tanaman dan jumlah daun disajikan pada Lampiran 1 dan 2. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh tingkat kematangan buah dan periode pengeringan pada peubah yang diamati ditunjukkan pada Lampiran 3-13.

17

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Uji F Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A), Periode Pengeringan (P), dan Interaksinya (A*P) terhadap Peubah yang Diamati

Peubah Perlakuan

A P A*P

Kadar air buah (%) ** ** *

Daya berkecambah (%) tn * tn

Potensi tumbuh maksimum (%) tn tn *

Bobot basah tanaman (g) tn ** *

Bobot kering tanaman (g) tn * tn

Bobot basah akar (g) tn ** *

Bobot kering akar (g) tn tn tn

Panjang akar primer (cm) tn ** *

Panjang akar sekunder (cm) tn * *

Jumlah akar sekunder (buah) tn ** tn

Panjang batang (cm) tn ** **

Tinggi tanaman*** Jumlah Daun***

Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% ** : berpengaruh nyata pada taraf 1% tn : tidak berpengaruh nyata *** : ditunjukkan pada lampiran 1-2

Perlakuan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, bobot basah tanaman, bobot basah akar, panjang akar primer, jumlah akar sekunder, dan panjang batang (Tabel 5). Periode pengeringan dua hari cenderung memiliki nilai rata-rata paling tinggi hampir pada semua tolok ukur yaitu daya berkecambah, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, panjang akar primer, panjang akar sekunder, dan panjang batang. Perlakuan periode pengeringan nol hari (tanpa pengeringan) memiliki nilai rata-rata paling tinggi pada peubah kadar air, potensi tumbuh maksimum, dan jumlah akar sekunder. Periode pengeringan empat hari mempunyai nilai rata-rata terendah pada semua tolok ukur yang diamati.

18

Tabel 5. Nilai Rata-rata Peubah yang Diamati pada Beberapa Periode Pengeringan.

Peubah Periode (hari)

Nol Dua Empat

Kadar air buah (%) 59.15a 34.41b 23.52c

Daya berkecambah (%) 66.11a 69.45a 37.78b

Potensi tumbuh maksimum (%) 85.00a 84.45a 72.78a

Bobot basah tanaman (g) 21.28a 23.24a 11.40b

Bobot kering tanaman (g) 4.36b 7.25a 3.00b

Bobot basah akar (g) 1.78b 2.38a 1.07c

Bobot kering akar (g) 0.28a 0.35a 0.27a

Panjang akar primer (cm) 13.29a 13.33a 10.84b

Panjang akar sekunder (cm) 8.14ab 8.66a 7.37b

Jumlah akar sekunder (buah) 8.00a 5.61b 4.99b

Panjang batang (cm) 32.85a 34.76a 25.70b

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %

Kadar Air Buah

Kadar air merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan maupun penyimpanan benih. Kadar air buah memiliki dampak besar terhadap benih selama penyimpanan seperti kadar air benih. Benih ortodok yang memiliki kadar air tinggi beresiko cepat mundurnya benih. Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang dinilai oleh BPSB dalam sertifikasi benih sehingga uji ini merupakan satu pengujian rutin para analis benih (Mugnisjah et al., 1994).

Kadar air benih yang diperlukan agar perkecambahan benih berlangsung juga memerlukan kejelasan varietas tanaman. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan air yang dapat diimbibisi benih dari sekitarnya untuk dapat berkecambah. Potensial osmotik larutan dalam substrat pengecambahan menentukan kecepatan perkecambahan. Benih akan cepat berkecambah jika kadar air benih minimum tertentu yang harus dicapainya dapat dipenuhi segera oleh

19

substrat perkecambahan tanpa menyebabkan kerusakan imbibisi (Mugnisjah et al., 1994).

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap persentase kadar air menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah persentase kadar air pada buah kuning lebih tinggi yaitu 61,02 % dibandingkan buah hitam 17,03 %.

Justice dan Bass (2002) menyatakan bahwa selama kadar air benih berada di bawah tingkat keseimbangan dengan kelembaban nisbi udara sekitar, uap air akan bergerak ke dalam benih dan begitu pula sebaliknya. Pengaruh periode pengeringan terhadap persentase kadar air menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah persentase kadar air tertinggi ada pada perlakuan tanpa pengeringan yaitu 59,15 % dibandingkan periode pengeringan dua hari 34,41 % dan periode pengeringan empat hari 23,52 %. Periode pengeringan nol hari mempunyai nilai kadar air tertinggi menunjukkan buah langsung ditanam tanpa melalui metode pengeringan. Buah yang telah dikeringkan dua hari dan empat hari langsung ditanam di polibag. Menurut Sutopo (2004) kadar air optimum untuk penyimpanan pada sebagian besar benih adalah antara 6-8 %.

Pengaruh interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap tolok ukur kadar air (Tabel 6). Perlakuan tingkat kematangan buah kuning dan tanpa pengeringan menghasilkan nilai rata-rata tertinggi yaitu 78,12 %. Interaksi tingkat kematangan buah kuning pada periode pengeringan dua hari dan empat hari memilki nilai rata-rata 63,05 % dan 41,88 %. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada semua periode pengeringan memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan tingkat kematangan buah kuning. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada perlakuan tanpa pengeringan dan pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata 40,17 % dan 5,78 %. Interaksi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata kadar air terendah yaitu 5,15 %.

20

Tabel 6. Nilai Rata-Rata Kadar Air Buah (%) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 78.12a 63.05b 41.88c

Hitam (A2) 40.17c 5.78d 5.15d

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Potensi Tumbuh Maksimum

Potensi tumbuh maksimum merupakan salah satu parameter viabilitas total. Potensi tumbuh maksimum adalah total benih hidup atau yang menunjukkan gejala hidup (Sadjad et al.,1999). Besarnya nilai potensi tumbuh maksimum menunjukkan bahwa kondisi viabilitas benih yang tinggi (Justice dan Bass, 2002).

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap persentase potensi tumbuh maksimum menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Hal ini sejalan dengan penelitian Lestari (2009) yang menunjukan nilai potensi tumbuh maksimum benih yang berasal dari tingkat kemasakan buah kuning paling tinggi yaitu 93,83 % dibandingkan tingkat kemasakan buah hitam 83,33 %. Sutopo (2004) menyatakan bahwa benih yang dipanen sebelum masak fisiologisnya tercapai maka tidak mempunyai viabilitas yang tinggi bahkan tidak berkecambah.

Pengaruh periode pengeringan terhadap persentase potensi tumbuh maksimum menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase potensi tumbuh maksimum cenderung lebih tinggi pada perlakuan tanpa pengeringan yaitu 85 % dibandingkan periode pengeringan dua hari dan empat hari sebesar sebesar 84,45 % dan 72,78 %. Nilai tengah persentase potensi tumbuh maksimum nol hari dan dua hari menunjukkan hasil persentase >80 % daripada periode pengeringan empat hari. Hal ini diduga pengeringan yang terlalu lama akan menurunkan persentase potensi tumbuh maksimum jarak pagar.

Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur potensi tumbuh maksimum (Tabel 7). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan dua hari

21

memiliki nilai rata-rata potensi tumbuh maksimum tertinggi yaitu 92,22 %. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata potensi tumbuh maksimum terendah yaitu 58,89 %. Tingkat kematangan buah kuning tanpa pengeringan dan pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata tertinggi daripada buah hitam pada periode pengeringan dua hari yaitu 86,67 %.

Tabel 7. Nilai Rata-Rata Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 86.67a 76.67ab 86.67a

Hitam (A2) 83.33a 92.22a 58.89b

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Bobot Basah Tanaman

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap bobot basah tanaman menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase bobot basah tanaman pada buah hitam cenderung lebih tinggi yaitu 19,99 g dibandingkan buah kuning 17,29 g.

Pengaruh periode pengeringan terhadap nilai tengah bobot basah tanaman menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah bobot basah tanaman cenderung lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari yaitu 23,24 g dibandingkan perlakuan tanpa pengeringan dan periode pengeringan empat hari sebesar 21,28 g dan 11,40 g. Hal ini dikarenakan jumlah benih yang berkecambah lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari. Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur bobot basah tanaman (Tabel 8). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan nol hari memiliki nilai rata-rata bobot basah tanaman tertinggi yaitu 29,34 g. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata bobot basah tanaman terendah yaitu 8,62 g. Periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata tertinggi pada

22

buah kuning dan buah hitam yaitu 24,46 g dan 22,02 g dibandingkan periode pengeringan lainnya selain interaksi tingkat kematangan buah hitam dan perlakuan tanpa pengeringan.

Tabel 8. Nilai Rata-Rata Bobot Basah Tanaman (gram) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 13.22cd 24.46ab 14.18bcd

Hitam (A2) 29.34a 22.02abc 8.62d

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Bobot Basah Akar

Tanaman jarak pagar mempunyai sistem perakaran yang mampu menahan air dan tanah, sehingga merupakan tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan berfungsi sebagai tanaman penahan erosi. Volume akar yang tinggi menunjukkan kemampuan akar dalam menyimpan air dan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman semakin baik. Volume akar dipengaruhi oleh sifat fisik media yang digunakan sehingga akar sulit menembus media yang padat, bobot basah akar dan bobot kering akar yang tinggi menunjukkan perkembangan perakaran yang baik, karena penyerapan unsur hara yang tinggi dapat dilihat dari tingginya nilai bobot basah dan bobot kering tanaman dan akar (Muzayyinatin, 2006).

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap bobot basah akar menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase bobot basah akar pada tingkat kematangan buah hitam cenderung lebih tinggi yaitu 1,81 g dibandingkan buah kuning 1,68 g.

Pengaruh periode pengeringan terhadap nilai tengah bobot basah akar menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah bobot basah akar cenderung lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari yaitu 2,38 g dibandingkan periode pengeringan nol hari dan empat hari sebesar 1,78 g dan 1,07

23

g. Hal ini dikarenakan jumlah benih yang berkecambah lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari sehingga akar yang dihasilkan lebih banyak. Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur bobot basah akar (Tabel 9). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata bobot basah akar tertinggi yaitu 2,47 g. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata bobot basah akar terendah yaitu 0,82 g. Periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata tertinggi pada buah kuning dan buah hitam yaitu 2,29 g dan 2,47 g dibandingkan periode pengeringan lainnya. Hal ini berkaitan dengan pengaruh tingkat kematangan buah dan periode pengeringan terhadap tolok ukur daya berkecambah yang menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada periode pengeringan dua hari.

Tabel 9. Nilai Rata-Rata Bobot Basah Akar (gram) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 1.42b 2.29a 1.32bc

Hitam (A2) 2.14a 2.47a 0.82c

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Panjang Akar Primer

Pertumbuhan akar yang baik dapat memacu pertumbuhan tajuk, karena akar merupakan organ vegetatif utama yang berfungsi untuk menyerap air, unsur hara, dan bahan-bahan lain yang penting bagi pertumbuhan tanaman (Muzayyinatin, 2006).

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap nilai tengah panjang akar primer menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase panjang akar primer pada buah hitam cenderung lebih tinggi yaitu 12,84 cm dibandingkan buah kuning 12,12 cm.

Pengaruh periode pengeringan terhadap nilai tengah panjang akar primer menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah panjang akar primer

24

cenderung lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari yaitu 13,33 cm dibandingkan perlakuan tanpa pengeringan dan pengeringan empat hari sebesar 13,29 cm dan 10,84 cm. Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur panjang akar primer (Tabel 10). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata panjang akar primer tertinggi yaitu 14,46 cm. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata panjang akar primer terendah yaitu 9,67 cm. Tingkat kematangan buah hitam memiliki nilai rata-rata tertinggi pada periode pengeringan dua hari dan nol hari dibandingkan kombinasi lainnya yaitu 14,46 cm dan 14,39 cm. Tingkat kematangan buah kuning memiliki nilai rata-rata panjang akar primer

Dokumen terkait