• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PEMBIBITAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN METODE PENYEMAIAN BUAH OLEH VICKY SAPUTRA A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TEKNIK PEMBIBITAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN METODE PENYEMAIAN BUAH OLEH VICKY SAPUTRA A"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK PEMBIBITAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

DENGAN METODE PENYEMAIAN BUAH

OLEH

VICKY SAPUTRA A24050609

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

(2)

RINGKASAN

VICKY SAPUTRA. Teknik Pembibitan Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) dengan Metode Penyemaian Buah. Dibimbing oleh ABDUL QADIR dan M. RAHMAD SUHARTANTO.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tingkat kematangan buah dan periode pengeringan terhadap buah jarak pagar. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai Oktober 2009 di Rumah Kaca Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Bogor.

Penelitian ini dilakukan dengan 2 percobaan. Percobaan pertama bertujuan untuk mempelajari perbedaan pertumbuhan asal bahan tanaman jarak pagar terhadap pembibitan. Perlakuan yang dibandingkan adalah penyemaian antara biji dengan buah. Buah yang digunakan terdiri dari tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam (kering). Analisis dilakukan dengan menggunakan uji t terhadap masing-masing peubah yang digunakan.

Percobaan kedua menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Faktor pertama adalah tingkat kematangan buah yang terdiri dari dua taraf yaitu buah panen kuning dari pohon (A1) dan buah panen hitam (kering) (A2). Faktor kedua adalah periode pengeringan buah yang terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa pengeringan (P1), dua hari (P2), dan empat hari (P3). Terdapat 6 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan sehingga terdapat 18 satuan percobaan dengan jumlah tanaman sebanyak 540 tanaman. Untuk mengetahui pengaruh dari seluruh perlakuan digunakan analisis ragam dan apabila terdapat pengaruh nyata (F hitung > F tabel) terhadap peubah yang diamati, maka setiap perlakuan akan diuji lanjut dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 %.

Percobaan 1 menunjukkan bahwa dari seluruh peubah yang diuji, seluruhnya menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata antara kontrol yang menggunakan biji dengan tingkat kematangan buah kuning dan hitam. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan respon pertumbuhan antara buah dan biji jarak pagar terhadap pembibitan jarak pagar.

(3)

Percobaan 2 menunjukkan bahwa tingkat kematangan buah berpengaruh sangat nyata terhadap peubah kadar air. Tingkat kematangan buah tidak berpengaruh nyata pada peubah lainnya.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, bobot basah tanaman, bobot basah akar, panjang akar primer, jumlah akar sekunder, dan panjang batang. Periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah, bobot kering tanaman, dan panjang akar sekunder serta tidak berpengaruh nyata terhadap potensi tumbuh maksimum dan bobot kering akar. Interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap panjang batang. Interaksi warna buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap kadar air, potensi tumbuh maksimum, bobot basah tanaman, bobot basah akar, panjang akar primer, dan panjang akar sekunder. Interaksi warna buah dan periode pengeringan tidak berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah, bobot kering tanaman, bobot kering akar, dan jumlah akar sekunder.

Perlakuan tingkat kematangan buah berpengaruh sangat nyata terhadap peubah kadar air dan tidak berpengaruh nyata pada semua peubah lainnya. Kadar air buah tingkat kematangan kuning memiliki nilai rata-rata paling tinggi yaitu 61,02 %. Hal tersebut disebabkan karena buah kuning masih memiliki kadar air yang cukup tinggi saat pemanenan, sehingga kadar air awal dan kadar air setelah pengeringan memiliki nilai yang lebih tinggi. Tingkat kematangan buah hitam memiliki nilai rata-rata daya berkecambah 59,26 % lebih tinggi dari buah kuning 56,30 %. Buah kuning memiliki nilai rata-rata potensi tumbuh maksimum lebih tinggi yaitu 83,33 %.

Tingkat kematangan buah kuning dapat menghasilkan pertumbuhan yang baik hingga periode pengeringan empat hari, sedangkan tingkat kematangan buah hitam menghasilkan pertumbuhan yang baik sampai periode pengeringan dua hari. Pada periode pengeringan empat hari, tingkat kematangan buah hitam sudah mengalami pertumbuhan yang tidak maksimal.

(4)

TEKNIK PEMBIBITAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

DENGAN METODE PENYEMAIAN BUAH

Skripsi sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh

VICKY SAPUTRA

A24050609

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

(5)

Judul :

TEKNIK PEMBIBITAN JARAK PAGAR (Jatropha

curcas L.) DENGAN METODE PENYEMAIAN BUAH

Nama : Vicky Saputra

NRP : A24050609

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Abdul Qadir, MSt Dr. Ir. M. Rahmad Suhartanto, MSi

NIP. 19620927 198703 1 001 NIP. 19630923 198811 1 001

Mengetahui,

Ketua Departemen Agronomi Hortikultura Fakultas Pertanian IPB

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc NIP. 19611101 198703 1003

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 23 November 1987. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari Bapak Masrol dan Ibu Yulizar.

Tahun 1999 penulis lulus dari SDN Kebayoran Lama Selatan 01 pagi, kemudian pada tahun 2002 penulis menyelesaikan studi di SMPN 161 Jakarta. Selanjutnya penulis lulus dari SMAN 47 Jakarta pada tahun 2005. Tahun 2005 penulis diterima di IPB melalui SPMB dan tahun 2006 diterima sebagai mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian.

Selama di IPB, penulis aktif sebagai pengurus Ikatan Keluarga Muslim TPB, sebagai pengurus DKM Al-Hurriyyah periode 2005-2007, Ketua Departemen Perekonomian KAMMI IPB 2006-2007, staf Departemen Sosial Lingkungan BEM Faperta, dan Ketua Departemen Fund Rising FKRD-A 2007-2008.

Penulis berkesempatan menjadi asisten mata kuliah Pendidikan Agama Islam tahun 2007-2009 dan sebagai asisten praktikum Dasar-dasar Hortikultura tahun 2008. Selama di IPB penulis mendapatkan beasiswa dari BRI tahun 2007-2009, beasiswa dari Eka Tjipta Foundation tahun 2007, dan beasiswa Karya Salemba Empat tahun 2007-2008.

Penulis pernah mendapatkan hibah dari DIKTI dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2008 sebanyak 2 proposal kategori PKM Artikel Ilmiah, tahun 2009 sebanyak 1 proposal kategori PKM Penelitian, 1 proposal kategori PKM Pengabdian Masyarakat dan 1 proposal kategori PKM Artikel Ilmiah, tahun 2010 sebanyak 4 proposal kategori PKM Penelitian, 2 proposal kategori PKM Pengabdian Masyarakat dan 1 proposal kategori PKM Gagasan Tertulis.

Tahun 2005 penulis mencapai Semifinalis Engineering Science Competition Se-TPB IPB. Tahun 2008 mewakili IPB dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXI di Unissula, Semarang dan tahun 2010 di Universitas Mahasaraswati, Denpasar. Tahun 2009 penulis meraih juara 1 MITI Paper Challenge tingkat regional Jabaja (Jakarta, Banten dan Jawa Barat) dan juara 4 tingkat nasional. Tahun 2010 penulis meraih juara 3 Community Development Competition di ITB, Bandung.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Penelitian ini berjudul “Teknik Pembibitan Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dengan Metode Penyemaian Buah”. Penelitian ini dilaksanakan sebagai syarat penyelesaian tugas akhir Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Ir. Abdul Qadir, MSt dan Dr. Ir. M. Rahmad Suhartanto, MSi selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan pengarahan, bimbingan serta nasehat kepada penulis selama masa pelaksanaan tugas akhir ini selesai. Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada :

1. Dwi Guntoro, S.P., MSi selaku pembimbing akademik penulis selama masa perkuliahan atas segala nasehat, bimbingan, dan bantuannya.

2. Dr. Ir Winarso D. Widodo, MSi selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan nasehat dalam penulisan skripsi ini.

3. Kedua orangtua dan adikku atas do’a, nasehat, motivasi, dan pengorbanannya sampai penulis dapat menyelesaikan studi.

4. Mbak Yuli dan Bu Lili yang membantu meringankan proses perkuliahan 5. Sahabat-sahabatku Adnan, Dindin, Toni, Donnie, Hardi, Yoki, Rendi,

Joko, Mbak Desti, Yuni, Endang, dan teman-teman lain yang telah membantu dan memberikan motivasi.

6. Teman-teman PKMM Kebun Bibit dan adik-adik tim PKM dan asistensi. Terimakasih atas kerjasama menggoreskan tinta emas di kampus IPB. 7. Pak Maman, Pak Milin, dan Pak Nana yang membantu selama penelitian.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu selama kuliah dan penyelesaian tugas akhir ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan

Bogor, November 2010

(8)

DAFTAR ISI Halaman PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 2 Hipotesis ... 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3

Morfologi dan Klasifikasi Jarak Pagar... 3

Metode Pengeringan ... 4

Pembibitan ... 5

BAHAN DAN METODE ... 8

Waktu dan Tempat ... 8

Bahan dan Alat ... 8

Metode Penelitian ... 8

Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar ... 8

Percobaan 2 : Pengaruh Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan terhadap Pembibitan Jarak Pagar ... 10

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13

Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap PembibitanJarak Pagar ... 13

Percobaan 2 : Pengaruh Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan terhadap Pembibitan Jarak Pagar ... 15

KESIMPULAN DAN SARAN ... 31

Kesimpulan ... 31

Saran ... 31

DAFTAR PUSTAKA ... 32

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Hasil Uji-t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah

Kuning dan Hitam pada Peubah yang Diamati... 13

2. Hasil Uji-t Tinggi Tanaman antara Kontrol dengan Tingkat

Kematangan Buah Kuning dan Hitam... 14

3. Hasil Uji-t Jumlah Daun antara Kontrol dengan Tingkat

Kematangan Buah Kuning dan Hitam... 15

4. Rekapitulasi Hasil Uji F Pengaruh Tingkat Kematangan Buah

(A), Periode Pengeringan (P), dan Interaksinya (A*P) terhadap

Peubah yang Diamati... 16

5. Nilai Rata-rata Peubah yang Diamati pada Beberapa Periode

Pengeringan... 18

6. Nilai Rata-Rata Kadar Air (%) pada Interaksi Tingkat

Kematangan Buah dan Periode Pengeringan... 20

7. Nilai Rata-Rata Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada Interaksi

Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan... 21

8. Nilai Rata-Rata Bobot Basah Tanaman (%) pada Interaksi

Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan... 22

9. Nilai Rata-Rata Bobot Basah Akar (%) pada Interaksi Tingkat

Kematangan Buah dan Periode Pengeringan... 23

10. Nilai Rata-Rata Panjang Akar Primer (%) pada Interaksi

Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan... 24

11. Nilai Rata-Rata Panjang Akar Sekunder (%) pada Interaksi

Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan... 25

12. Nilai Rata-Rata Panjang Batang (%) pada Interaksi Tingkat

(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Pertumbuhan Jarak Pagar pada Perlakuan Tingkat Kematangan

Buah terhadap Peubah Tinggi Tanaman... 27

2. Pertumbuhan Jarak Pagar pada perlakuan Periode Pengeringan

terhadap Peubah Tinggi Tanaman... 28

3. Pertumbuhan Jarak Pagar pada Perlakuan Tingkat Kematangan

Buah terhadap Peubah Jumlah Daun... 29

4. Pertumbuhan Jarak Pagar pada Perlakuan Periode Pengeringan

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Rekapitulasi Hasil Uji F Pengaruh Tingkat Kematangan Buah

(A), Periode Pengeringan (P), dan Interaksinya (A*P) terhadap

Peubah Tinggi Tanaman... 36

2. Rekapitulasi Hasil Uji F Pengaruh Tingkat Kematangan Buah

(A), Periode Pengeringan (P), dan Interaksinya (A*P) terhadap

Peubah Jumlah Daun... 36

3. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Kadar Air... 37

4. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Daya Berkecambah... 37

5. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Potensi Tumbuh

Maksimum... 37

6. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Bobot Basah

Tanaman... 38

7. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Bobot Kering

Tanaman... 38

8. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Bobot Basah Akar... 38

9. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Bobot Kering Akar.... 39

10. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Panjang Akar Primer. 39

11. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Panjang Akar

Sekunder... 39 12. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

Periode Pengeringan (P) terhadap Peubah Jumlah Akar

Sekunder... 40 13. Sidik Ragam Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A) dan

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu masalah krusial yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah energi. Pasokan energi dalam negeri mengalami kendala akibat produksi yang cenderung lebih rendah dibanding tingkat konsumsinya. Kebutuhan energi masyarakat dan industri setiap tahun meningkat. Kondisi ini harus diakomodasi oleh pemerintah melalui penyediaan energi dalam jumlah yang mencukupi dan harganya harus terjangkau oleh masyarakat. Cadangan minyak bumi Indonesia yang makin menipis menyebabkan impor minyak bumi semakin tinggi dan kenaikan harga minyak bumi dunia yang dapat dipastikan akan diikuti oleh kenaikan harga BBM sehingga berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok di masyarakat maka diperlukan pengembangan energi alternatif terbarukan. Hal ini mengingat ketersediaan sumber tanaman penghasil minyak nabati yang cukup tinggi di Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel.

Ketergantungan masyarakat Indonesia akan BBM berbasis minyak bumi yang sangat tinggi, disebabkan selama ini bahan bakar yang tersedia dan dapat digunakan oleh masyarakat secara langsung hanya bahan bakar berbasis fosil. Di tengah krisis BBM yang melanda Indonesia tahun 2005, tanaman jarak pagar mendapat perhatian khusus. Minyak nabati dari tanaman jarak pagar dapat diolah menjadi bahan bakar minyak dan pengganti energi fosil. Jarak pagar dipandang potensial dari kelompok tanaman lainnya karena jarak pagar memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan sumber nabati lainnya. Keunggulan tersebut antara lain jarak pagar mudah dibudidayakan oleh petani, pemanfaatan biji atau minyaknya tidak berkompetisi dengan pengggunan lain, tidak memerlukan teknologi tinggi, dan biaya investasinya relatif lebih murah.

Salah satu hambatan teknis untuk pengembangan biodesel dari tanaman jarak pagar adalah tidak tersedianya benih dan varietas unggul. Benih jarak pagar dapat berupa biji atau stek, namun untuk pertanaman dengan tujuan memproduksi minyak dianjurkan menggunakan benih dalam bentuk biji. Tanaman yang berasal dari biji dapat hidup lebih lama, lebih tahan penyakit, dan tahan kekeringan. Saat

(13)

2

ini benih jarak pagar yang tersedia yang berasal dari Dinas Pertanian merupakan hasil seleksi individu-individu superior dari berbagai provenan (populasi sumber). Pada umumnya pembibitan yang dilakukan menggunakan benih yang berasal dari biji akan melalui beberapa proses pemanenan yaitu pemetikan buah secara manual atau dengan alat sederhana, pengupasan buah, serta sortasi biji. Hal itu menyebabkan proses pemanenan yang panjang sehingga membutuhkan biaya dan waktu yang lebih besar. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode pembibitan jarak pagar yang efisien dan menghasilkan bibit yang mempunyai mutu sama dengan metode yang biasa digunakan. Metode tersebut menggunakan cara pembibitan buah jarak pagar dengan penanaman berdasarkan kematangan buah dan pengeringan buah.

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Mempelajari pertumbuhan buah jarak pagar (Jatropha curcas L.) dengan metode penyemaian buah.

2. Menghasilkan bibit yang mempunyai mutu sama dengan metode yang umum yang digunakan.

Hipotesis

1. Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan antara biji dan buah jarak pagar pada pembibitan.

2. Tingkat kematangan buah menentukan lama proses pengeringan sehingga akan mempengaruhi waktu dan pertumbuhan benih.

3. Terdapat perbedaan pertumbuhan pembibitan jarak pagar pada periode pengeringan buah yang berbeda.

4. Terdapat interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan dalam wadah pembibitan terhadap pertumbuhan jarak pagar.

(14)

3

TINJAUAN PUSTAKA

Morfologi dan Klasifikasi Jarak Pagar

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah tanaman yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah. Konon, jarak pagar dibawa ke Indonesia dan ditanam paksa pada pemerintahan Jepang karena akan dijadikan BBM oleh tentara Jepang. Jarak pagar disebut pinoncillo di Meksiko dengan berbagai nama lokal kusekeey,

axti, dan cuauixtli (Prihandana dan Hendoko, 2006), sedangkan di Indonesia,

jarak pagar dikenal degan nawaih (NAD), jarak kosta (Sunda), jarak gundul,

jarak cina, jarak pagar (Jawa), dan palla kaniki (Bugis) (Syah, 2005).

Tanaman jarak pagar masih satu keluarga dengan tanaman karet dan ubi kayu. Klasifikasi jarak pagar adalah sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo : Euphorbiales, Famili : Euphorbiaceae, Genus : Jatropha, Spesies : Jatropha curcas (Prihandana dan Hendoko, 2006). Pertumbuhan jarak pagar sangat cepat. Waktu yang paling baik untuk menanam jarak pagar adalah pada musim panas atau sebelum musim hujan. Tanaman jarak pagar tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan laut (dpl.). tanaman ini dapat tumbuh pada curah hujan 300-2380 mm/tahun dengan curah hujan optimum 625 mm/tahun. Temperatur tahunan

rata-rata yang dibutuhkan jarak pagar adalah 20-28 oC (Syah, 2005).

Jarak pagar termasuk tanaman semak besar dengan cabang yang tidak teratur. Umur tanaman jarak pagar bisa mencapai 50 tahun. Cabang pohonnya mengandung getah (lateks). Daunnya lebar berbentuk jantung dan bertangkai panjang. Tanaman ini dapat mencapai ketinggian 3-5 m. Pada musim kemarau yang panjang, tanaman ini menggugurkan daunnya. Umumnya, seluruh bagian tanaman beracun, sehingga tanaman ini hampir tidak memiliki hama. Tanaman ini mulai berbuah pada umur 5 bulan, dan mencapai produktivitas penuh pada umur 5 tahun. Buahnya berbentuk elips, panjangnya 1 inci, dan mengandung 2-3 biji (Syah, 2005).

Daun berlekuk 5-7, dengan susunan pada batang membentuk spiral dengan posisi berselang-seling, daun berwarna hijau muda sampai hijau tua. Panjang

(15)

4

tangkai daun bervariasi 6-23 mm. Rangkaian bunga terbentuk di ujung cabang (terminal) dan berbentuk cyme (Hasnam dan Mahmud, 2006).

Tanaman jarak pagar bersifat monocious (berumah satu), bunga berkelamin satu (uniseksual) kadang-kadang ditemukan bunga hermaprodit. Pada bunga jantan (androecium) 10 tangkai sari tersusun dalam dua lingkaran (masing-masing 5 tangkai sari) pada bunga betina (gynoecium) tiga tangkai putik tumbuh dan membesar menjadi putik yang bercabang (Hasnam dan Mahmud, 2006).

Biji jarak pagar termasuk biji ortodoks, berbentuk bulat lonjong, berwarna coklat kehitaman dengan ukuran panjang 2 cm, tebal 1 cm, dan berat 0,4-0,6 gram/biji (Prihandana dan Hendroko, 2006). Biji masak bila kapsul berubah warna dari hijau menjadi kuning saat 3 bulan setelah berbunga (Hasnam dan Mahmud, 2006).

Metode Pengeringan

Pengeringan benih membutuhkan perpindahan panas karena hanya dapat dikeringkan dengan mengevaporasikan uap air dari permukaannya. Kandungan panas uap air lebih besar dari kandungan panas dalam bentuk cairnya. Tekanan uap air udara sekitarnya juga penting untuk tidak dibiarkan meningkat. Jika tekanan uap air udaranya menjadi lebih besar dari tekanan uap air pada permukaan benihnya, maka kemungkinan besar benih akan menyerap uap air ketimbang kehilangan uap air (Justice dan Bass, 2002).

Metode pengeringan benih dapat terjadi secara alami. Pengeringan alami dapat terjadi di lapang pada waktu benih mengalami proses pemasakan dan pada benih setelah dipanen. Prosesnya adalah benih kehilangan uap air secara alami tanpa bantuan manusia. Tingkat pengeringan alami diatur oleh faktor-faktor seperti suhu udara, kelembaban nisbi dan kecepatan angin. Angin panas dan kering sebelum benih masak penuh dapat merusak benih tanaman karena keadaan tersebut menyebabkan pengeringan yang terlalu cepat. Sedangkan suhu dan kelembaban nisbi yang sedang, dapat menghasilkan benih berkualitas paling tinggi (Justice dan Bass, 2002).

Pengeringan dengan matahari memungkinkan dilakukan di berbagai tempat yang terkena sinar matahari secara langsung. Benih dapat disebar dan

(16)

5

diletakkan pada rak-rak yang rendah di bawah sinar matahari atau di atas rumah yang beratap datar atau dapat disebar di atas lantai jemur. Pada beberapa waktu tertentu, benih yang dikeringkan di bawah sinar matahari harus diaduk-aduk untuk mempercepat proses pengeringan dan memperoleh hasil pengeringan yang seragam. Pengeringan dengan matahari umumnya digunakan untuk benih yang tidak mudah dipisahkan dari cairan daging buahnya sehingga mempermudah proses produksi benih (Justice dan Bass, 2002).

Hasil penelitian Herlina (2009) menyatakan metode pengeringan dengan sinar matahari selama 7 jam merupakan metode pengeringan yang efektif dan

efisien pada musim kemarau (suhu berkisar antara 28-42 oC) untuk mendapatkan

kadar air aman simpan secara cepat. Berdasarkan hasil penelitian terbaru diperoleh bahwa biji yang digunakan untuk benih dapat dikeringkan dengan cara penjemuran di bawah sinar matahari langsung selama 7 jam untuk mendapatkan kadar air aman simpan dengan waktu yang lebih cepat dan pengeringan di bawah sinar matahari langsung selama 7 jam tidak berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup benih jarak pagar.

Benih jarak pagar termasuk benih ortodoks. Benih jarak pagar harus dikeringkan sampai kadar air 5-7 % dan disimpan di tempat yang kedap udara. Benih jarak pagar memiliki kadar minyak yang tinggi (30 - 40 %), benih jarak pagar tidak dapat disimpan lama, kecuali dengan perlakuan khusus. Benih segar hasil panen biasanya menunjukkan masa dormansi (Hasnam dan Mahmud, 2005).

Pembibitan

Pembibitan dapat dilakukan di dalam plastik polybag, bedengan, persemaian, atau menanamnya langsung di lapang. Menanam langsung di lahan lebih praktis dan biaya yang dikeluarkan juga lebih murah, tetapi memiliki beberapa resiko sebagai berikut : (1) ketika menanam langsung di lapang pada musim hujan, jarak yang baru tumbuh akan langsung berkompetisi dengan gulma dan kemungkinan akar atau batangnya akan busuk. Keadaan ini akan lebih parah jika drainase di dalam lahan kurang baik, (2) pada awal musim hujan, batang setek akan diserang hama rayap, (3) ketika menanam langsung di lapang pada

(17)

6

musim kemarau, tanaman jarak akan membutuhkan penyiraman secara periodik dan mengeluarkan biaya yang tinggi (Prihandana dan Hendroko, 2006).

Pembibitan di dalam polybag memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut : (1) proses penyiraman, pengendalian gulma, penyulaman, dan pengawasan lebih mudah dilakukan, (2) pengaplikasian pupuk hayati yang berfungsi sebagai pupuk seumur hidup lebih memungkinkan, (3) umur tanaman di lapangan dapat dipercepat 3 bulan karena dianjurkan pembibitan dibuat 3 bulan sebelum awal musim hujan, dan (4) memungkinkan untuk melakukan proses penyeleksian bibit yang sehat (Prihandana dan Hendroko, 2006).

Benih jarak akan berkecambah tanpa perlakuan pendahuluan. Tidak dianjurkan membuang kulit biji sebelum tanam, walaupun cara ini dapat mempercepat perkecambahan, tetapi beresiko dihasilkannya tanaman yang abnormal. Jika kelembaban cukup, perkecambahan terjadi dalam 7-10 hari, kulit biji akan pecah, bakal akar tunggang terbentuk bersama dengan empat akar samping. Setelah terbentuk daun pertama, kotiledon akan gugur dan tanaman akan tumbuh dengan pola membentuk cabang (Hasnam dan Mahmud, 2005)

Menurut Adikarsih dan Hartono (2007) benih jarak pagar yang dipanen pada saat buah berwarna kuning menghasilkan vigor dan daya berkecambah yang paling baik. Sehingga warna kuning pada kulit buah jarak dapat digunakan sebagai standar untuk melakukan panen. Panen yang paling efektif dilakukan adalah dengan panen individu pada buah jarak yang telah berwarna kuning.

Copeland dan McDonald (1985) menyatakan bahwa kemasakan benih merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi mutu benih. Benih yang dipanen pada umur yang berbeda akan menghasilkan viabilitas benih yang berbeda. Benih yang telah mencapai masak fisiologis mempunyai perkecambahan maksimum karena embrio sudah terbentuk sempurna dan berat kering cadangan makanan belum maksimum. Benih yang lewat masak fisiologis mengalami penurunan viabilitas karena terjadi perubahan biokimia benih dan mengalami deraan cuaca selama di lapang.

Menurut Santoso dan Purwoko (2008) untuk memperoleh benih jarak pagar yang berhasil berkecambah dan terus tumbuh menjadi bibit yang baik dalam

(18)

7

jumlah yang banyak, penanaman benih pada saat pembibitan sebaiknya dilakukan pada kedalaman 2-3 cm dengan posisi benih telungkup.

Hasil penelitian Rahmasyahraini (2008) menunjukkan periode pengujian daya berkecambah yang direkomendasikan untuk benih jarak pagar yaitu hari ke-8 setelah pengecambahan (first count) dan hari ke-22 setelah pengecambahan (final

count). Keadaan benih utuh dan dikecambahkan pada media pasir adalah

perlakuan yang optimum untuk perkecambahan benih jarak pagar.

Hasil penelitian Utomo (2008) menunjukkan benih jarak pagar mencapai masak fisiologis 52-57 hari setelah antesis (kuning sampai kuning kecoklatan atau hitam) memiliki daya berkecambah 88 %, potensi tumbuh maksimum 90 % dan kecepatan tumbuh maksimum 7,07 % KN/etmal, dan kadar air sudah mulai turun, yang merupakan saat panen yang tepat untuk benih. Warna buah berdasarkan umur hari setelah antesis (HSA) yaitu hijau (42 HSA), hijau kekuningan (47 HSA), kuning (52 HSA), dan kuning kecoklatan/ hitam (57 HSA).

Hasil penelitian Herlina (2009) menunjukkan pemanenan buah jarak pada satu tingkat kemasakan buah warna kuning dan coklat kehitaman dapat dilakukan secara serempak, karena nilai presentase viabilitas total (PTM) dan viabilitas potensial (DB) yang dihasilkan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Puslitbangbun (>80%).

Hasil Penelitian Napiah (2009) menunjukkan benih jarak pagar dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning memiliki daya simpan hingga lima bulan, sedangkan benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat hingga kehitaman hanya mampu mencapai tiga bulan masa simpan. Benih jarak pagar yang disimpan dalam kemasan plastik memiliki daya simpan hingga enam bulan. Benih jarak pagar yang disimpan dalam kemasan kaleng memiliki daya simpan hingga lima bulan. Benih jarak pagar yang disimpan dalam kemasan kain terigu, kain blacu, dan goni memiliki daya simpan hingga tiga bulan.

(19)

8

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2009 di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang diperoleh dari Kebun Percobaan Indocement, Bogor, yang berasal dari Kebun Percobaan Dompu, Nusa Tenggara Barat, media tanam dengan komposisi tanah dan pupuk kandang adalah 2 : 1, dan polybag berukuran 20 x 25 cm.

Alat penunjang dalam penelitian ini adalah penggaris, jangka sorong, pisau, oven, timbangan analitik, cawan petri, greenhouse, dan alat pertanian umumnya yang digunakan selama penelitian dan pengamatan.

Metode Penelitian

Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

Percobaan pertama bertujuan untuk mempelajari perbedaan pertumbuhan antara biji dan buah jarak pagar terhadap pembibitan. Perlakuan yang dibandingkan adalah penyemaian antara biji dengan buah. Buah yang digunakan terdiri dari tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam (kering). Analisis dilakukan dengan menggunakan uji t terhadap masing-masing peubah yang digunakan.

(20)

9

Pelaksanaan Penelitian

Persiapan dilakukan dengan memanen buah di kebun percobaan Indocement yang akan digunakan untuk percobaan. Pemanenan buah dilakukan serempak dalam satu hari dengan kriteria perbedaan tingkat kematangan buah sehingga dapat dilakukan pengeringan secara bersamaan. Media tanam yang digunakan untuk pembibitan disiapkan dengan komposisi tanah dan pupuk kandang 2 : 1

Pengamatan Percobaan 1

1. Daya berkecambah (DB)

Menurut Prihandana dan Hendroko (2006), dalam persemaian biji akan mulai berkecambah setelah 7-10 hari, dan setelah 2 minggu bibit dapat dipindahkan ke polibag yang telah diinokulasi. Daya berkecambah dihitung berdasarkan persentase kecambah normal yang tumbuh pada pengamatan pertama yaitu sepuluh hari setelah tanam dan pada pengamatan kedua yaitu empat belas hari setelah tanam.

DB (%) = Σ KN pengamatan I + Σ KN pengamatan II x 100 %

Σ benih yang ditanam

2. Potensi Tumbuh Maksimum (PTM)

Potensi tumbuh maksimum mengindikasikan viabilitas total benih. PTM diukur dengan melihat benih-benih yang telah muncul radikulanya. Perhitungan dilakukan pada hari terakhir pengamatan terhadap kecambah normal dan abnormal.

PTM (%) = Σ benih dari buah yang berkecambah x 100 % Σ benih dari buah yang ditanam

3. Bobot basah tanaman (g), batang dan daun ditimbang dengan timbangan analitik.

4. Bobot kering tanaman (g), tanaman dikeringkan dengan oven bersuhu 60

o

C selama 3 x 24 jam, kemudian ditimbang.

5. Bobot basah akar (g), media yang menempel pada akar dibersihkan sampai bersih kemudian akar ditimbang dengan timbangan analitik.

(21)

10

6. Bobot kering akar (g), akar dikeringkan dengan oven bersuhu 60 oC

selama 3 x 24 jam, kemudian ditimbang.

7. Panjang akar primer (cm), diukur mulai dari pangkal akar yang menempel pada batang hingga ujung akar primer.

8. Panjang akar sekunder (cm), masing-masing akar sekunder dihitung panjangnya mulai dari percabangan dengan akar primer hingga ujung akar sekunder kemudian dijumlahkan.

9. Jumlah akar sekunder (buah), yaitu semua akar yang menempel langsung pada akar primer.

10. Panjang batang (cm), diukur dari pangkal hingga ujung batang.

11. Tinggi tanaman (cm), diukur dari permukaan media sampai ujung tanaman.

12. Jumlah daun (helai), daun yang dihitung adalah daun yang sudah membuka sempurna.

Percobaan 2 : Pengaruh Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan terhadap Pembibitan Jarak Pagar

Penelitian ini disusun secara faktorial dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Faktor pertama adalah tingkat kematangan buah yang terdiri dari dua taraf yaitu buah panen kuning dari pohon (A1) dan buah panen hitam (kering) (A2). Faktor kedua adalah periode pengeringan buah yang terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa pengeringan (P1), dua hari (P2), dan empat hari (P3). Terdapat 6 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan sehingga terdapat 18 satuan percobaan dengan jumlah tanaman sebanyak 540 tanaman.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Model rancangan yang digunakan adalah :

Yijk = μ + γk + αi + βj + (αβ)ij + €ijk

dengan :

Yijk = Nilai pengamatan tingkat kematangan buah taraf ke-i, periode

pengeringan ke-j dan kelompok ke-k

(22)

11

γk = Pengaruh kelompok ke-k

αi = Pengaruh tingkat kematangan buah ke-i

βj = Pengaruh periode pengeringan ke-j

(αβ)ij = Pengaruh interaksi tingkat kematangan buah ke-i dan periode

pengeringan ke-j.

€ijk = Galat percobaan

Untuk mengetahui pengaruh dari seluruh perlakuan digunakan uji analisis ragam, apabila terdapat pengaruh nyata (F hitung > F tabel) terhadap peubah yang diamati, maka setiap perlakuan akan diuji lanjut dengan uji Duncan Multiple

Range Test (DMRT) pada taraf 5 %. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunkan tanaman yang sama pada percobaan sama. Persiapan dilakukan dengan memanen buah di kebun percobaan Indocement yang akan digunakan untuk percobaan. Pemanenan buah dilakukan serempak dalam satu hari dengan kriteria perbedaan tingkat kematangan buah sehingga dapat dilakukan pengeringan secara bersamaan.

Penanaman

Buah yang sudah dipanen menurut kriteria yaitu tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam (kering) kemudian dilakukan perlakuan pengeringan dengan kering sinar matahari selama 8 jam per hari dengan periode masing-masing perlakuan adalah tanpa pengeringan (P1), dua hari (P2), dan empat hari (P3). Buah ditanam dalam polibag sedalam 3-5 cm dan kemudian polibag diletakkan di dalam rumah kaca selama fase pembibitan berlangsung.

Pengamatan Percobaan 2

1. Kadar Air Buah

Setiap periode pengeringan berakhir, kadar air buah diukur untuk melihat adanya kenaikan atau penurunan kadar air selama pengeringan. Kadar air buah dihitung berdasarkan bobot basah dengan menggunakan masing-masing buah dari setiap satuan percobaan.

Kadar Air (%) = bobot basah – bobot kering x 100% bobot basah

(23)

12

2. Daya berkecambah (DB)

Daya berkecambah dihitung berdasarkan persentase kecambah normal yang tumbuh pada pengamatan pertama yaitu sepuluh hari setelah tanam dan pada pengamatan kedua yaitu empat belas hari setelah tanam.

DB (%) = Σ KN pengamatan I + Σ KN pengamatan II x 100 %

Σ benih yang ditanam

3. Potensi Tumbuh Maksimum (PTM)

Potensi tumbuh maksimum mengindikasikan viabilitas total benih. PTM diukur dengan melihat benih-benih yang telah muncul radikulanya. Perhitungan dilakukan pada hari terakhir pengamatan terhadap kecambah normal dan abnormal.

PTM (%) = Σ benih dari buah yang berkecambah x 100 % Σ benih dari buah yang ditanam

4. Bobot basah tanaman (g), batang dan daun ditimbang dengan timbangan analitik.

5. Bobot kering tanaman (g), tanaman dikeringkan dengan oven bersuhu 60

o

C selama 3 x 24 jam, kemudian ditimbang.

6. Bobot basah akar (g), media yang menempel pada akar dibersihkan sampai bersih kemudian akar ditimbang dengan timbangan analitik.

7. Bobot kering akar (g), akar dikeringkan dengan oven bersuhu 60 oC

selama 3 x 24 jam, kemudian ditimbang.

8. Panjang akar primer (cm), diukur mulai dari pangkal akar yang menempel pada batang hingga ujung akar primer.

9. Panjang akar sekunder (cm), masing-masing akar sekunder dihitung panjangnya mulai dari percabangan dengan akar primer hingga ujung akar sekunder kemudian dijumlahkan.

10. Jumlah akar sekunder (buah), yaitu semua akar yang menempel langsung pada akar primer.

11. Panjang batang (cm), diukur dari pangkal hingga ujung batang.

12. Tinggi tanaman (cm), diukur dari permukaan media hingga ujung tanaman 13. Jumlah daun (helai), daun yang dihitung adalah daun yang sudah

(24)

13

HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah

Uji t digunakan untuk membandingkan kontrol (benih) terhadap buah dengan tingkat kematangan kuning dan hitam terhadap peubah yang diamati (Tabel 1). Uji t menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata antara kontrol dengan buah kuning terhadap semua peubah dengan nilai P yang diperoleh di atas 5 %. Bobot basah tanaman memiliki nilai P yang cenderung signifikan yaitu 7,4 %. Hasil uji t antara kontrol dengan buah hitam menunjukkan nilai P yang tidak berbeda nyata pada semua peubah dengan α di atas 5 %. Hasil uji t secara umum menunjukkan tidak ada perbedaan pertumbuhan pada pembibitan jarak pagar antara kontrol yang menggunakan biji dengan pembibitan menggunakan buah dengan perlakuan perbedaan tingkat kematangan buah dan periode pengeringan.

Tabel 1. Hasil Uji-t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Kuning dan Hitam pada Peubah yang Diamati.

Umur Nilai P ( α ) Pengaruh Tingkat Kematangan Buah

Kontrol vs kuning Kontrol vs hitam

Daya berkecambah 0,164tn 0,195tn

Potensi tumbuh maksimum 0,711tn 0,535tn

Bobot basah tanaman 0,074tn 0,339tn

Bobot kering tanaman 0,872tn 0,710tn

Bobot basah akar 0,539tn 0,490tn

Bobot kering akar 0,638tn 0,619tn

Panjang akar primer 0,260tn 0,369tn

Panjang akar sekunder 0,799tn 0,735tn

Jumlah akar sekunder 0,974tn 0,385tn

Panjang batang 0,159tn 0,315tn

Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% ** : berpengaruh nyata pada taraf 1% tn : tidak berpengaruh nyata

(25)

14

Hasil Uji t Tinggi Tanaman antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah

Uji t digunakan untuk membandingkan tinggi tanaman antara kontrol (benih) terhadap tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam pada umur 2 MST sampai 9 MST. Berdasarkan uji t dengan taraf 5 % antara kontrol dengan buah kuning (Tabel 2) menunjukkan pengaruh nyata pada 3 MST dan 5 MST serta menunjukkan pengaruh sangat nyata pada 6 MST. Berdasarkan uji t dengan taraf 5 % antara kontrol dengan buah hitam menunjukkan menunjukkan pengaruh nyata pada 4 MST, 6 MST, dan 11 MST serta menunjukkan pengaruh sangat nyata pada 5 MST.

Tabel 2. Hasil Uji-t Tinggi Tanaman antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Kuning dan Hitam.

Umur Nilai P ( α ) Pengaruh Warna Buah

Kontrol vs kuning Kontrol vs hitam

2 MST (cm) 0,129tn 0,235tn 3 MST (cm) 0,022* 0,059tn 4 MST (cm) 0,056tn 0,027* 5 MST (cm) 0,011* 0,007** 6 MST (cm) 0,008** 0,020* 7 MST (cm) 0,140tn 0,106tn 8 MST (cm) 0,098tn 0,128tn 9 MST (cm) 0,193tn 0,250tn 10 MST (cm) 0,184tn 0,343tn 11 MST (cm) 0,124tn 0,043* 12 MST (cm) 0,162tn 0,362tn

Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% ** : berpengaruh nyata pada taraf 1% tn : tidak berpengaruh nyata

(26)

15

Hasil Uji t Jumlah Daun antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah

Uji t digunakan untuk membandingkan jumlah daun antara kontrol (benih) terhadap tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam pada umur 2 MST sampai 12 MST (Tabel 3). Berdasarkan uji t dengan taraf 5 % antara kontrol dengan buah kuning menunjukkan pengaruh nyata pada 4 MST, 5 MST, 6 MST, 7 MST, dan 8 MST serta menunjukkan pengaruh sangat nyata pada 3 MST. Berdasarkan uji t dengan taraf 5 % antara kontrol dengan buah hitam menunjukkan pengaruh nyata pada 2 MST, 5 MST, 7 MST, 8 MST, dan 11 MST serta menunjukkan pengaruh sangat nyata pada 3 MST, 4 MST dan 6 MST.

Tabel 3. Hasil Uji t Jumlah Daun antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Kuning dan Hitam

Umur Nilai P ( α ) Pengaruh Warna Buah

Kontrol vs kuning Kontrol vs hitam

2 MST (cm) 0,108tn 0,049* 3 MST (cm) 0,000** 0,000** 4 MST (cm) 0,027* 0,004** 5 MST (cm) 0,017* 0,010** 6 MST (cm) 0,011* 0,004** 7 MST (cm) 0,036* 0,014* 8 MST (cm) 0,017* 0,022* 9 MST (cm) 0,114tn 0,121tn 10 MST (cm) 0,137tn 0,064tn 11 MST (cm) 0,061tn 0,017* 12 MST (cm) 0,097tn 0,150tn

Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% ** : berpengaruh nyata pada taraf 1% tn : tidak berpengaruh nyata

Percobaan 2 : Pengaruh Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan terhadap Pembibitan Jarak Pagar

Potensi tumbuh maksimum menggambarkan potensi benih untuk menjadi kecambah normal atau masih dapat tumbuh normal jika kondisinya optimum. Daya berkecambah adalah kemampuan benih untuk tumbuh menjadi tanaman

(27)

16

normal yang berproduksi normal dalam keadaan optimum. Rekapitulasi hasil uji F pengaruh tingkat kematangan buah dan periode pengeringan terhadap peubah kadar air, daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, panjang akar primer, panjang akar sekunder, jumlah akar sekunder, dan panjang batang disajikan pada Tabel 4.

Berdasarkan hasil analisis ragam, Tabel 4 menunjukkan tingkat kematangan buah berpengaruh sangat nyata terhadap peubah kadar air buah. Tingkat kematangan buah tidak berpengaruh nyata pada daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, panjang akar primer, panjang akar sekunder, jumlah akar sekunder, dan panjang batang. Perlakuan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, bobot basah tanaman, bobot basah akar, panjang akar primer, jumlah akar sekunder, dan panjang batang. Periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah, bobot kering tanaman,dan panjang akar sekunder serta tidak berpengaruh nyata terhadap potensi tumbuh maksimum dan bobot kering akar. Interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap panjang batang. Interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap kadar air, potensi tumbuh maksimum, bobot basah tanaman, bobot basah akar, panjang akar primer, dan panjang akar sekunder. Interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan tidak berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah, bobot kering tanaman, bobot kering akar, dan jumlah akar sekunder. Peubah tinggi tanaman dan jumlah daun menunjukkan pertumbuhan tanaman setiap minggunya (Gambar 1-4). Rekapitulasi hasil uji F peubah tinggi tanaman dan jumlah daun disajikan pada Lampiran 1 dan 2. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh tingkat kematangan buah dan periode pengeringan pada peubah yang diamati ditunjukkan pada Lampiran 3-13.

(28)

17

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Uji F Pengaruh Tingkat Kematangan Buah (A), Periode Pengeringan (P), dan Interaksinya (A*P) terhadap Peubah yang Diamati

Peubah Perlakuan

A P A*P

Kadar air buah (%) ** ** *

Daya berkecambah (%) tn * tn

Potensi tumbuh maksimum (%) tn tn *

Bobot basah tanaman (g) tn ** *

Bobot kering tanaman (g) tn * tn

Bobot basah akar (g) tn ** *

Bobot kering akar (g) tn tn tn

Panjang akar primer (cm) tn ** *

Panjang akar sekunder (cm) tn * *

Jumlah akar sekunder (buah) tn ** tn

Panjang batang (cm) tn ** **

Tinggi tanaman*** Jumlah Daun***

Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% ** : berpengaruh nyata pada taraf 1% tn : tidak berpengaruh nyata *** : ditunjukkan pada lampiran 1-2

Perlakuan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, bobot basah tanaman, bobot basah akar, panjang akar primer, jumlah akar sekunder, dan panjang batang (Tabel 5). Periode pengeringan dua hari cenderung memiliki nilai rata-rata paling tinggi hampir pada semua tolok ukur yaitu daya berkecambah, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, panjang akar primer, panjang akar sekunder, dan panjang batang. Perlakuan periode pengeringan nol hari (tanpa pengeringan) memiliki nilai rata-rata paling tinggi pada peubah kadar air, potensi tumbuh maksimum, dan jumlah akar sekunder. Periode pengeringan empat hari mempunyai nilai rata-rata terendah pada semua tolok ukur yang diamati.

(29)

18

Tabel 5. Nilai Rata-rata Peubah yang Diamati pada Beberapa Periode Pengeringan.

Peubah Periode (hari)

Nol Dua Empat

Kadar air buah (%) 59.15a 34.41b 23.52c

Daya berkecambah (%) 66.11a 69.45a 37.78b

Potensi tumbuh maksimum (%) 85.00a 84.45a 72.78a

Bobot basah tanaman (g) 21.28a 23.24a 11.40b

Bobot kering tanaman (g) 4.36b 7.25a 3.00b

Bobot basah akar (g) 1.78b 2.38a 1.07c

Bobot kering akar (g) 0.28a 0.35a 0.27a

Panjang akar primer (cm) 13.29a 13.33a 10.84b

Panjang akar sekunder (cm) 8.14ab 8.66a 7.37b

Jumlah akar sekunder (buah) 8.00a 5.61b 4.99b

Panjang batang (cm) 32.85a 34.76a 25.70b

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %

Kadar Air Buah

Kadar air merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan maupun penyimpanan benih. Kadar air buah memiliki dampak besar terhadap benih selama penyimpanan seperti kadar air benih. Benih ortodok yang memiliki kadar air tinggi beresiko cepat mundurnya benih. Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang dinilai oleh BPSB dalam sertifikasi benih sehingga uji ini merupakan satu pengujian rutin para analis benih (Mugnisjah et al., 1994).

Kadar air benih yang diperlukan agar perkecambahan benih berlangsung juga memerlukan kejelasan varietas tanaman. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan air yang dapat diimbibisi benih dari sekitarnya untuk dapat berkecambah. Potensial osmotik larutan dalam substrat pengecambahan menentukan kecepatan perkecambahan. Benih akan cepat berkecambah jika kadar air benih minimum tertentu yang harus dicapainya dapat dipenuhi segera oleh

(30)

19

substrat perkecambahan tanpa menyebabkan kerusakan imbibisi (Mugnisjah et al., 1994).

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap persentase kadar air menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah persentase kadar air pada buah kuning lebih tinggi yaitu 61,02 % dibandingkan buah hitam 17,03 %.

Justice dan Bass (2002) menyatakan bahwa selama kadar air benih berada di bawah tingkat keseimbangan dengan kelembaban nisbi udara sekitar, uap air akan bergerak ke dalam benih dan begitu pula sebaliknya. Pengaruh periode pengeringan terhadap persentase kadar air menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah persentase kadar air tertinggi ada pada perlakuan tanpa pengeringan yaitu 59,15 % dibandingkan periode pengeringan dua hari 34,41 % dan periode pengeringan empat hari 23,52 %. Periode pengeringan nol hari mempunyai nilai kadar air tertinggi menunjukkan buah langsung ditanam tanpa melalui metode pengeringan. Buah yang telah dikeringkan dua hari dan empat hari langsung ditanam di polibag. Menurut Sutopo (2004) kadar air optimum untuk penyimpanan pada sebagian besar benih adalah antara 6-8 %.

Pengaruh interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap tolok ukur kadar air (Tabel 6). Perlakuan tingkat kematangan buah kuning dan tanpa pengeringan menghasilkan nilai rata-rata tertinggi yaitu 78,12 %. Interaksi tingkat kematangan buah kuning pada periode pengeringan dua hari dan empat hari memilki nilai rata-rata 63,05 % dan 41,88 %. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada semua periode pengeringan memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan tingkat kematangan buah kuning. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada perlakuan tanpa pengeringan dan pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata 40,17 % dan 5,78 %. Interaksi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata kadar air terendah yaitu 5,15 %.

(31)

20

Tabel 6. Nilai Rata-Rata Kadar Air Buah (%) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 78.12a 63.05b 41.88c

Hitam (A2) 40.17c 5.78d 5.15d

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Potensi Tumbuh Maksimum

Potensi tumbuh maksimum merupakan salah satu parameter viabilitas total. Potensi tumbuh maksimum adalah total benih hidup atau yang menunjukkan gejala hidup (Sadjad et al.,1999). Besarnya nilai potensi tumbuh maksimum menunjukkan bahwa kondisi viabilitas benih yang tinggi (Justice dan Bass, 2002).

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap persentase potensi tumbuh maksimum menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Hal ini sejalan dengan penelitian Lestari (2009) yang menunjukan nilai potensi tumbuh maksimum benih yang berasal dari tingkat kemasakan buah kuning paling tinggi yaitu 93,83 % dibandingkan tingkat kemasakan buah hitam 83,33 %. Sutopo (2004) menyatakan bahwa benih yang dipanen sebelum masak fisiologisnya tercapai maka tidak mempunyai viabilitas yang tinggi bahkan tidak berkecambah.

Pengaruh periode pengeringan terhadap persentase potensi tumbuh maksimum menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase potensi tumbuh maksimum cenderung lebih tinggi pada perlakuan tanpa pengeringan yaitu 85 % dibandingkan periode pengeringan dua hari dan empat hari sebesar sebesar 84,45 % dan 72,78 %. Nilai tengah persentase potensi tumbuh maksimum nol hari dan dua hari menunjukkan hasil persentase >80 % daripada periode pengeringan empat hari. Hal ini diduga pengeringan yang terlalu lama akan menurunkan persentase potensi tumbuh maksimum jarak pagar.

Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur potensi tumbuh maksimum (Tabel 7). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan dua hari

(32)

21

memiliki nilai rata-rata potensi tumbuh maksimum tertinggi yaitu 92,22 %. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata potensi tumbuh maksimum terendah yaitu 58,89 %. Tingkat kematangan buah kuning tanpa pengeringan dan pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata tertinggi daripada buah hitam pada periode pengeringan dua hari yaitu 86,67 %.

Tabel 7. Nilai Rata-Rata Potensi Tumbuh Maksimum (%) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 86.67a 76.67ab 86.67a

Hitam (A2) 83.33a 92.22a 58.89b

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Bobot Basah Tanaman

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap bobot basah tanaman menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase bobot basah tanaman pada buah hitam cenderung lebih tinggi yaitu 19,99 g dibandingkan buah kuning 17,29 g.

Pengaruh periode pengeringan terhadap nilai tengah bobot basah tanaman menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah bobot basah tanaman cenderung lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari yaitu 23,24 g dibandingkan perlakuan tanpa pengeringan dan periode pengeringan empat hari sebesar 21,28 g dan 11,40 g. Hal ini dikarenakan jumlah benih yang berkecambah lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari. Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur bobot basah tanaman (Tabel 8). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan nol hari memiliki nilai rata-rata bobot basah tanaman tertinggi yaitu 29,34 g. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata bobot basah tanaman terendah yaitu 8,62 g. Periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata tertinggi pada

(33)

22

buah kuning dan buah hitam yaitu 24,46 g dan 22,02 g dibandingkan periode pengeringan lainnya selain interaksi tingkat kematangan buah hitam dan perlakuan tanpa pengeringan.

Tabel 8. Nilai Rata-Rata Bobot Basah Tanaman (gram) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 13.22cd 24.46ab 14.18bcd

Hitam (A2) 29.34a 22.02abc 8.62d

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Bobot Basah Akar

Tanaman jarak pagar mempunyai sistem perakaran yang mampu menahan air dan tanah, sehingga merupakan tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan berfungsi sebagai tanaman penahan erosi. Volume akar yang tinggi menunjukkan kemampuan akar dalam menyimpan air dan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman semakin baik. Volume akar dipengaruhi oleh sifat fisik media yang digunakan sehingga akar sulit menembus media yang padat, bobot basah akar dan bobot kering akar yang tinggi menunjukkan perkembangan perakaran yang baik, karena penyerapan unsur hara yang tinggi dapat dilihat dari tingginya nilai bobot basah dan bobot kering tanaman dan akar (Muzayyinatin, 2006).

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap bobot basah akar menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase bobot basah akar pada tingkat kematangan buah hitam cenderung lebih tinggi yaitu 1,81 g dibandingkan buah kuning 1,68 g.

Pengaruh periode pengeringan terhadap nilai tengah bobot basah akar menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah bobot basah akar cenderung lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari yaitu 2,38 g dibandingkan periode pengeringan nol hari dan empat hari sebesar 1,78 g dan 1,07

(34)

23

g. Hal ini dikarenakan jumlah benih yang berkecambah lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari sehingga akar yang dihasilkan lebih banyak. Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur bobot basah akar (Tabel 9). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata bobot basah akar tertinggi yaitu 2,47 g. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata bobot basah akar terendah yaitu 0,82 g. Periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata tertinggi pada buah kuning dan buah hitam yaitu 2,29 g dan 2,47 g dibandingkan periode pengeringan lainnya. Hal ini berkaitan dengan pengaruh tingkat kematangan buah dan periode pengeringan terhadap tolok ukur daya berkecambah yang menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada periode pengeringan dua hari.

Tabel 9. Nilai Rata-Rata Bobot Basah Akar (gram) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 1.42b 2.29a 1.32bc

Hitam (A2) 2.14a 2.47a 0.82c

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Panjang Akar Primer

Pertumbuhan akar yang baik dapat memacu pertumbuhan tajuk, karena akar merupakan organ vegetatif utama yang berfungsi untuk menyerap air, unsur hara, dan bahan-bahan lain yang penting bagi pertumbuhan tanaman (Muzayyinatin, 2006).

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap nilai tengah panjang akar primer menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase panjang akar primer pada buah hitam cenderung lebih tinggi yaitu 12,84 cm dibandingkan buah kuning 12,12 cm.

Pengaruh periode pengeringan terhadap nilai tengah panjang akar primer menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah panjang akar primer

(35)

24

cenderung lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari yaitu 13,33 cm dibandingkan perlakuan tanpa pengeringan dan pengeringan empat hari sebesar 13,29 cm dan 10,84 cm. Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur panjang akar primer (Tabel 10). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata panjang akar primer tertinggi yaitu 14,46 cm. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata panjang akar primer terendah yaitu 9,67 cm. Tingkat kematangan buah hitam memiliki nilai rata-rata tertinggi pada periode pengeringan dua hari dan nol hari dibandingkan kombinasi lainnya yaitu 14,46 cm dan 14,39 cm. Tingkat kematangan buah kuning memiliki nilai rata-rata panjang akar primer yang tidak jauh berbeda pada periode pengeringan nol, dua dan empat hari yaitu 12,18 cm, 12,19 cm, dan 12 cm.

Tabel 10. Nilai Rata-Rata Panjang Akar Primer (cm) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 12.18ab 12.19ab 12.00b

Hitam (A2) 14.39ab 14.46a 9.67c

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Panjang Akar Sekunder

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap nilai tengah panjang akar sekunder menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase panjang akar sekunder pada tingkat kematangan buah hitam cenderung lebih tinggi yaitu 8,12 cm dibandingkan buah kuning 7,99 cm.

Pengaruh periode pengeringan terhadap nilai tengah panjang akar sekunder menunjukkan nilai yang berbeda nyata. Nilai tengah panjang akar sekunder cenderung lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari yaitu 8,67 cm dibandingkan periode pengeringan nol hari dan empat hari sebesar 8,14 cm dan 7,37 cm. Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan

(36)

25

berpengaruh nyata terhadap tolok ukur panjang akar sekunder (Tabel 11). Kombinasi tingkat kematangan buah hitam dan periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata panjang akar sekunder tertinggi yaitu 9,27 cm. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata panjang akar sekunder terendah yaitu 6,65 cm. Periode pengeringan dua hari memiliki keseluruhan nilai rata-rata tertinggi pada tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam yaitu 8,05 cm dan 9,27 cm dibandingkan periode pengeringan lainnya. Hal ini sejalan dengan pengaruh tingkat kematangan buah dan periode pengeringan terhadap tolok ukur daya berkecambah yang menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada periode pengeringan dua hari.

Tabel 11. Nilai Rata-Rata Panjang Akar Sekunder (cm) pada Interaksi Tingkat Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 7.84b 8.05ab 8.08ab

Hitam (A2) 8.44ab 9.27a 6.65c

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Panjang Batang

Panjang batang yang diukur adalah panjang batang utama mulai dari pangkal batang di atas permukaan tanah sampai dengan ujung batang.

Pengaruh tingkat kematangan buah terhadap nilai tengah panjang batang menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah persentase panjang batang pada tingkat kematangan buah kuning cenderung lebih tinggi yaitu 31,16 cm dibandingkan buah hitam 31,05 cm.

Pengaruh periode pengeringan terhadap nilai tengah panjang batang menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata. Nilai tengah panjang batang cenderung lebih tinggi pada periode pengeringan dua hari yaitu 34,76 cm dibandingkan periode pengeringan nol hari dan empat hari sebesar 32,85 cm dan 25,70 cm. Interaksi antara tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap tolok ukur panjang batang (Tabel 12).

(37)

26

Tabel 12. Nilai Rata-Rata Panjang Batang (cm) pada Interaksi Tingkat

Kematangan Buah dan Periode Pengeringan

Tingkat Kematangan Buah Periode Pengeringan (hari)

Nol (P1) Dua (P2) Empat (P3)

Kuning (A1) 28.95bc 36.40a 28.12c

Hitam (A2) 36.76a 33.11ab 23.28d

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT dengan taraf 5 %.

Kombinasi tingkat kematangan buah kuning dan periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata panjang batang tertinggi yaitu 36,40 cm. Interaksi tingkat kematangan buah hitam pada periode pengeringan empat hari memiliki nilai rata-rata panjang batang terendah yaitu 23,28 cm. Periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata tertinggi pada tingkat kematangan buah kuning dan buah hitam yaitu 36,40 cm dan 33,11 cm dibandingkan periode pengeringan lainnya. Periode pengeringan empat hari pada kombinasi tingkat kematangan buah kuning dan hitam memiliki nilai rata-rata terkecil secara keseluruhan yaitu 28,12 cm dan 23,28 cm.

Tinggi Tanaman

Pertumbuhan vegetatif terjadi akibat adanya pembelahan dan pemanjangan sel di dalam jaringan meristematik pada titik tumbuh seperti batang, ujung-ujung akar dan kambium (Harjadi, 1996). Menurut Sitompul dan Guritno (1995) tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati, baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan parameter pertumbuhan yang paling mudah terlihat.

Hasil pengamatan peubah tinggi tanaman (Gambar 1) terhadap tingkat kematangan buah pada periode pertumbuhan menunjukkan tingkat kematangan buah kuning cenderung memiliki tinggi tanaman lebih baik pada periode pengamatan 2 MST sampai 12 MST dibandingkan buah hitam. Hal ini

(38)

27

menunjukkan buah dengan tingkat kematangan kuning mengalami pertumbuhan yang lebih baik dari buah hitam pada pembibitan jarak pagar.

Gambar 1. Pertumbuhan Jarak Pagar pada Perlakuan Tingkat Kematangan Buah terhadap Peubah Tinggi Tanaman.

Hasil pengamatan peubah tinggi tanaman (Gambar 2) terhadap periode pengeringan pada periode pertumbuhan menunjukkan periode pengeringan dua hari secara konstan memiliki tinggi tanaman lebih banyak pada periode pertumbuhan 2 sampai 12 MST dibandingkan perlakuan tanpa pengeringan nol dan periode pengeringan empat hari. Hal ini menunjukkan buah dengan periode pengeringan dua hari mengalami pertumbuhan yang lebih baik dari periode pengeringan lainnya pada pembibitan jarak pagar.

Periode pengeringan 2 MST sampai 5 MST merupakan fase awal pertumbuhan tanaman, sehingga perbedaan tinggi tanaman belum terlihat. Hidayat (2002) menyatakan bahwa panjangnya periode dormansi merupakan salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan tanaman pada manggis. Secara keseluruhan, periode pengeringan dua hari memiliki nilai rata-rata tertinggi daripada periode pengeringan lainnya. Hal ini berarti periode pengeringan dua hari merupakan metode yang cenderung lebih baik pada peubah tinggi tanaman.

(39)

28

Gambar 2. Pertumbuhan Jarak Pagar pada perlakuan Periode Pengeringan terhadap Peubah Tinggi Tanaman.

Jumlah Daun

Daun merupakan bagian vegetatif yang penting untuk proses fotosintesis. Jumlah daun berpengaruh terhadap kemampuan tanaman mengubah unsur hara menjadi zat-zat yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Fungsi utama daun adalah menyintesis bahan organik dengan menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi melalui proses fotosintesis (Mulyani, 2006). Muzayyinatin (2006) menyatakan bahwa jumlah daun mempengaruhi setiap tanaman dalam

memperoleh CO2 dan cahaya yang sesuai dengan kebutuhannya. Pengamatan

jumlah daun diperlukan selain sebagai indikator pertumbuhan juga sebagai data penunjang untuk menjelaskan proses pertumbuhan yang terjadi seperti pada pembentukan biomassa tanaman.

Hasil pengamatan peubah jumlah daun (Gambar 3) terhadap tingkat kematangan buah pada periode pertumbuhan menunjukkan tingkat kematangan buah kuning cenderung memiliki jumlah daun lebih banyak pada periode pengamatan 2 MST sampai 12 MST. Hal ini menunjukkan buah dengan tingkat

(40)

29

kematangan buah kuning mengalami pertumbuhan yang lebih baik dari buah hitam pada pembibitan jarak pagar.

Gambar 3. Pertumbuhan Jarak Pagar pada Perlakuan Tingkat Kematangan Buah terhadap Peubah Jumlah Daun.

Hasil pengamatan peubah jumlah daun (Gambar 4) terhadap periode pengeringan pada periode pertumbuhan menunjukkan periode pengeringan dua hari memiliki jumlah daun lebih banyak pada periode pertumbuhan 2 sampai 12 MST dibandingkan perlakuan tanpa pengeringan nol dan periode pengeringan empat hari. Hal ini menunjukkan buah dengan periode pengeringan dua hari mengalami pertumbuhan yang lebih baik dari periode pengeringan lainnya pada pembibitan jarak pagar. Sitompul dan Guritno (1995) menyatakan bahwa perbedaan yang cukup besar pada awal pertumbuhan akan menjadi modal yang potensial untuk menghasilkan perbedaan pertumbuhan selanjutnya.

(41)

30

Gambar 4. Pertumbuhan Jarak Pagar pada Perlakuan Periode Pengeringan terhadap Peubah Jumlah Daun.

(42)

31

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil uji t yang membandingkan pertumbuhan pembibitan antara buah dan biji dari peubah yang diuji, seluruhnya menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata antara kontrol yang menggunakan biji dengan tingkat kematangan buah kuning dan hitam. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan respon pertumbuhan antara buah dan biji jarak pagar terhadap pembibitan jarak pagar. Interaksi tingkat kematangan buah dan periode pengeringan berpengaruh nyata pada sebagian besar tolok ukur pengamatan. Tingkat kematangan buah kuning dapat menghasilkan pertumbuhan yang baik hingga periode pengeringan empat hari, sedangkan tingkat kematangan buah hitam menghasilkan pertumbuhan yang baik sampai periode pengeringan dua hari. Pada periode pengeringan empat hari, tingkat kematangan buah hitam sudah mengalami pertumbuhan yang tidak maksimal. Tolok ukur pertumbuhan vegetatif berupa tinggi tanaman dan jumlah daun menunjukkan pertumbuhan warna buah kuning dan hitam relatif sama hingga akhir pengamatan, sedangkan pada periode pengeringan menunjukkan pertumbuhan buah dengan periode pengeringan dua hari lebih baik dari periode pengeringan lainnya.

Saran

Dari hasil penelitian menunjukkan pembibitan bisa dilakukan dengan menggunakan buah yang ditanam secara langsung karena akan menghasilkan pertumbuhan bibit yang tidak berbeda dibandingkan dengan menggunakan biji. Pembibitan dengan menggunakan tingkat kematangan buah kuning dapat dilakukan hingga periode pengeringan empat hari sedangkan buah hitam dilakukan hingga pengeringan dua hari, sehingga pembibitan jarak pagar dengan penyemaian buah dapat dilakukan untuk mengefisiensi proses pembibitan.

Gambar

Tabel 2. Hasil Uji-t Tinggi Tanaman antara Kontrol dengan Tingkat     Kematangan Buah Kuning dan Hitam
Tabel 3. Hasil Uji t Jumlah Daun antara Kontrol dengan Tingkat       Kematangan Buah Kuning dan Hitam
Gambar 1. Pertumbuhan Jarak Pagar pada Perlakuan Tingkat Kematangan         Buah terhadap Peubah Tinggi Tanaman
Gambar 2. Pertumbuhan Jarak Pagar pada perlakuan Periode Pengeringan         terhadap Peubah Tinggi Tanaman
+3

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah jenis akad perjanjian dalam pelaksanaan arisan qurban idul adha di Blok 3 Desa Jungjang Kecamatan Arjawinangun Cirebon Jawa

Mata kuliah ini membahas perkembangan otak dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, plastisitas otak dan periode kritis, struktur hirarki otak, fungsi korteks

Syariah di Indonesia yang tercatat pada Otoritas Jasa Keuangan yang menyediakan pembiayaan musyarakah dan mudharabah serta laba bersih periode 2010-2013 dengan analisis

Hasil Penelitian : Hasil uji ANOVA didapatkan rerata zona hambatan dengan nilai p < 0,05 yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara keenam kelompok perlakuan yaitu

Diberikan soal “Sebuah perusahaan bus memiliki 8000 penumpang per hari dengan tarip tetap untuk jauh dekat 2000 rupiah.. Untuk mengantisipasi kenaikan biaya operasional,

Faktor yang berkaitan dengan ISPA pada balita antara lain usia, keadaan gizi yang buruk, status imunisasi yang tidak lengkap serta kondisi lingkungan yang buruk seperti

Dimana pada Gambar 4, yang dimaksud dengan data-1 adalah Hasil perhitun- gan hambatan kapal dengan metode Van Oot- merssen , data-2 adalah hasil perhitungan ham-

Sebagian masyarakat Ponorogo masih meyakini bahwa dhadhak merak yang dilapisi dengan kulit macan asli mempunyai tuah khusus yang akan sangat berpengaruh langsung pada para