• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Tingkat Perputaran Kas, Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan, Perputaran Modal Kerja terhadap Profitabilitas

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 34-39)

Perusahaan

2.1.10.1 Pengaruh Perputaran Kas terhadap Profitabilitas

Perputaran kas yang maksimal mengindikasikan kebutuhan akan kas lebih sedikit dalam operasi perusahaan, hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh

Lukman Syamsuddin (2002;236) sebagai berikut :

“Semakin besar cash turn over, semakin sedikit jumlah kas yang dibutuhkan dalam operasi perusahaan…, sehingga dengan demikian cash

turn over haruslah dimaksimalkan agar dapat memberikan keuntungan

bagi perusahaan.”

Dengan adanya perputaran kas yang maksimal, kebutuhan akan kas dalam operasi perusahaan menjadi lebih sedikit, sisa dari jumlah kas ini dapat diinvestasikan oleh perusahaan ke dalam berbagai bentuk aktivitas yang dapat menghasilkan profit sehingga dapat memaksimalkan profitabilitas.

2.1.10.2 Pengaruh Perputaran Piutang terhadap Profitabilitas

Semakin tinggi tingkat perputaran piutang mengindikasikan semakin cepatnya waktu antara penjualan yang menimbulkan piutang dagang dengan waktu pengumpulan kas, hal ini seperti dinyatakan oleh Horne (2002:148) dalam penelitiannya sebagai berikut :

“The higher turnover, the shorter the time between the typical sale and

cash collection.”

Dengan perputaran piutang yang tinggi, modal yang diinvestasikan dalam piutang akan semakin sedikit, modal tersebut kemudian dapat digunakan ke dalam

aktivitas yang dapat menghasilkan profit sehingga dapat memaksimalkan profitabilitas perusahaan.

2.1.10.3 Pengaruh Perputaran Persediaan terhadap Profitabilitas

Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan menandakan adanya manajemen persediaan yang efisien dari perusahaan, dan menandakan kelikuiditasan dari perusahaan itu sendiri. Hal ini senada dengan yang dinyatakan oleh Horne (2002:733) sebagai berikut :

“Generally, the higher the inventory turnover, the more efficient the

inventory management of a firm and the ‘fresher’ more liquid, the inventory.”

Dengan tingkat perputaran persediaan yang cepat mengindikasikan adanya manajemen persediaan yang efisien, dan dengan adanya efisien manajemen persediaan maka sumber daya ekonomi dapat dioptimalkan penggunaannya dan akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan.

2.1.10.4 Pengaruh Perputaran Modal Kerja terhadap Profitabilitas Perusahaan

Perputaran modal kerja dalam perusahaan perlu dijaga kelancarannya agar perusahaan memperoleh data yang diharapkan dalam rangka meningkatkan tingkat profitabilitas perusahaan. Cepat lambatnya perputaran modal kerja akan mempengaruhi besar-kecilnya dana yang terikat pada modal kerja tersebut. Waktu terikatnya dana pada modal kerja sering disebut sebagai perputaran modal kerja. Periode perputaran modal kerja dimulai pada saat dimana kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja untuk digunakan dalam operasi

perusahaan sehari-hari sampai dengan pada saat modal kerja kembali masuk ke perusahaan dalam bentuk laba. Makin pendek priode perputaran modal kerja tersebut, berarti semakin tinggi tingkat laba yang akan dihasilkan.

Lamanya periode perputaran modal kerja tergantung pada berapa lama perputaran modal kerja itu sendiri. Semakin lama periode terikatnya perputaran modal kerja akan memperbesar jumlah modal kerja, apabila jumlah modal kerja terlalu besar, berarti ada sebagian dana yang menganggur dan menunjukkan dana yang terikat pada modal kerja terlalu besar atau terdapat kelebihan investasi (over

investment) dalam modal kerja, hal tersebut akan menunjukkan tingkat penjualan

dan laba tertentu sehingga akan meningkatkan profitabilitas perusahaan. Modal kerja merupakan modal yang diinvestasikan untuk proses operasi untuk membeli, menggunakan, dan menjual untuk menghasilkan laba.

Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Siti Nurjanah (2004) yang menyatakan sebagai berikut :

″Pengelolaan modal kerja yang baik diharapkan dapat meningkatkan laba yang maksimal. Besarnya pengaruh perubahan modal kerja mempunyai hubungan yang sangat erat terhadap perubahan tingkat laba. Perubahan modal kerja mengalami penurunan sedangkan laba mengalami penurunan dan kenaikan″.

Keterkaitan modal kerja dengan laba menurut para ahli dijelaskan sebagai berikut :

″Kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh modal yang berkerja di dalamnya untuk menghasilkan laba. Laba yang besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh itu dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut ″. (Bambang Riyanto, 2001:36)

Selain itu, menurut Munawir (2005:120) :

″Jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan dapat dihitung dengan menganalisa laporan perhitungan rugi laba perusahaan tersebut. Dengan adanya keuntungan atau laba dari usaha perusahaan, dan apabila laba tersebut tidak diambil oleh pemilik perusahaan maka laba tersebut akan menambah modal perusahaan yang bersangkutan″.

Perputaran modal kerja yang terlalu cepat akan menimbulkan dampak negative terhadap profitabilitas maupun likuiditas perusahaan. Apabila perusahaan dapat memperpendek waktu yang dibutuhkan oleh modal kerja setiap kali berputar dimana profit margin dan biaya-biaya konstan maka volume penjualan dan profitabilitas akan meningkat.

Menurut Suad Husnan (2004 : 174) mengenai pengaruh modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan adalah :

“Seandainya perusahaan telah menetapkan kebijakan tentang piutang dan persediaan, maka jumlah aktiva lancar akan tinggal dipengaruhi oleh besar kecilnya perusahaan menyediakan kas. Semakin besar saldo kas yang disediakan, semakin besar kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban kasnya, sebaliknya dengan semakin banyaknya kas yang dimiliki, semakin rendah profitabilitas perusahaan.”

Sedangkan menurut Aswath Damodaran (2001 : 379) menyatakan bahwa:

“Increase in working capital reduces cash and decrease in working capital

increase cash flow and increase profitability.”

Jadi dari pendapat di atas disimpulkan bahwa perputaran modal kerja dimulai pada saat kas diinvestasikan kedalam modal kerja kemudian digunakan untuk mendanai aktivits operasional perusahaan, yaitu memproduksi barang jadi (pada perusahaan manufaktur). Kemudian persediaan tersebut dijual kepada konsumen. Dari aktivitas penjualan tersebut dihasilkan piutang (jika penjualan kredit) yang kemudian akan menjadi kas, kas yang masuk ke dalam perusahaan

dari penjualan akan kembali digunakan untuk mendanai operasional perusahaan. Dana tersebut akan terus menerus berputar setiap periodenya. Pada umumnya semakin cepat tingkat perputaran modal kerja menunjukkan bahwa semakin efisien modal kerja yang digunakan, sehingga profitabilitas perusahaan pun akan semakin meningkat. Begitu pula dengan tingkat perputaran unsur-unsur modal kerja, semakin cepat tingkat perputaran kas, perputaran persediaan, dan perputaran piutang, perputaran modal kerja maka perputaran profitabilitas perusahaan pun akan semakin meningkat.

Dalam perputaran modal kerja seperti yang telah dijelaskan diatas, perlu dianalisis sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dananya, yakni kemampuan perusahaan dalam melaksankan aktivitas sehari-hari atau kemampuan perusahaan dalam penagihan piutang maupun pemanfaatan aktiva yang dimiliki atau juga yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi penggunaan sumber dana perusahaan dalam operasinya.

Perputaran modal kerja yang berhubungan dengan rasio aktivitas, penulis akan menganalisis tingkat perputaran aktiva (total assets turn over), di mana kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu, atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan “revenue”. Dalam hal ini rumus yang digunakan adalah perbandingan antara sales dengan total asset seperti yang telah diuraikan diatas. Sesuai dengan uaraian yang diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perputaran modal kerja yang tinggi akan mengakibatkan tingkat profitabilitas meningkat, sedangkan profitabilitas

meningkat, disebabkan oleh rasio aktivitas yang meningkat karena terjadinya efektivitas perusahaan dalam penggunaan sumber-sumber dana yang dimilikinya.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 34-39)

Dokumen terkait