BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Hasil Optimasi Proses Catalytic Cracking
4.2.4 Pengaruh Ukuran KatalisTerhadap Rendemen Biofuel
Pada perengkahan minyak jelantah digunakan katalis H-zeolit dengan berbagai ukuran yaitu 180, 250, dan 630 µm, dengan waktu optimum pada 3 jam, suhu optimum 375 oC, dan konsentrasi katalis optimum pada 7%. Pengaruh ukuran katalis terhadap produksi biofuel yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Pengaruh ukuran katalis terhadap rendemen biofuel
Berdasarkan Gambar 9 dan hasil perhitungan rendemen (Lampiran 4), diketahui bahwa penggunaan ukuran katalis pada 180 µm menghasilkan produk
biofuel yang paling banyak, dengan rendemen sebesar 44,94%. Sedangkan penggunaan ukuran katalis pada 250 dan 630 µm masing masing menghasilkan rendemen pada 35,24 dan 30,60%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ukuran katalis dapat mempengaruhi proses catalytic cracking minyak jelantah.
Dimana semakin kecil ukuran katalis semakin besar produk biofuel yang dihasilkan.
Semakin kecil ukuran katalis, produk yang dihasilkan semakin banyak.
Hal ini disebabkan karena semakin kecil ukuran partikel maka semakin besar luas permukaannya. Luas permukaan zeolit ini mempengaruhi aktivitas dari katalis, semakin luas permukaan suatu katalis maka fasa aktif yang tersebar akan semakin banyak, sehingga meningkatkan aktivitas katalis yang dapat meningkatkan hasil produk (Savitri et al., 2016).
4.3 Karakterisasi Biofuel
4.3.1 Analisis Senyawa Kimia dengan GCMS
Biofuel hasil proses perengkahan minyak jelantah pada kondisi optimum yaitu pada waktu 3 jam, suhu 375 oC, konsentrasi katalis 7%, dan ukuran katalis 180 µm. Pada Gambar 10 disajikan perubahan bentuk warna minyak goreng bekas sebelum dilakukan proses perengkahan. Biofuel produk hasil perengkahan memiliki warna yang lebih jernih dibandingkan dengan minyak goreng bekas.
Kemudian biofuel dianalisis senyawa kimianya menggunakan GC-MS. Hal ini dilakukan untuk mengetahui jenis dan komposisi senyawa yang terkandung di dalam produk biofuel.
36
a b
Gambar 10. Minyak goreng bekas (a) dan biofuel minyak goreng bekas (b) Menurut Dewanto et al. (2017) hasil dari perengkahan suatu trigliserida mengandung hidrokarbon dengan jumlah rantai C yang beragam, dimana distribusi produk dikelompokkan berdasarkan ikatan karbon, yaitu ikatan karbon C5–C11 diidentifikasi sebagai bensin, ikatan karbon C12–C15 diidentifikasi sebagai kerosin, serta ikatan karbon C16–C20 yang diidentifikasi sebagai diesel. Gambar 11 menunjukkan kromatogram biofuel pada kondisi optimum.
Gambar 11. Hasil analisis GC-MS komposisibiofuel
Tabel 4. Komposisi senyawa yang terkandung dalam biofuel
No. Peak Nama Senyawa Rumus Kimia Jenis Biofuel Komposisi %
1 2,4-dimetil-heksana C8H18 Bensin 1.12 perengkahan dengan kondisi optimum diperoleh fraksi bensin sebesar 15,19%, fraksi kerosin sebesar 29,1%, fraksi green diesel sebesar 22,87%, dan asam lemak sebesar 26,52%. Diketahui bahwa kandungan kerosin dalam produk biofuel adalah yang terbesar dibandingkan dengan fraksi bensin dan green diesel.
Terbentuknya fraksi bensin, kerosin dan diesel yang tidak mengandung atom oksigen menandakan proses catalytic cracking telah berhasil menurunkan kadar
38 oksigen dari minyak jelantah, sehingga kualitasbahan bakar yang dihasilkan telah meningkat.
Pada penelitian Saputra et al. (2013) diperoleh rendemen kerosin 43,66%
dan bensin 5,47% yang dihasilkan dari perengkahan minyak goreng bekas dengan menggunakan katalis Cu/zeolit. Sundaryono dan Budiyanto (2015) dalam penelitiannya memperoleh 31,35% kerosin dan 10,16% diesel yang dihasilkan dari perengkahan katalitik minyak dari limbah pengolahan kelapa sawit menggunakan katalis Cr/Mo/HZA, sedangkan dengan katalis Ni/Mo/HZA menghasilkan rendemen sebesar 0,33% fraksi gas, 10,63% fraksi bensin dan 11,02% kerosin. Jika dibandingkan dengan rendemen yang didapatkan dari penelitian ini, katalis H-zeolit memiliki selektivitas yang lebih baik untuk memproduksi fraksi kerosin dan bensin dibandingkan dengan katalis Ni/Mo/HZA dan lebih baik dalam menghasilkan fraksi bensin dibandingkan dengan katalis Cr/Mo/HZA. Namun demikian, katalis Cr/Mo/HZA dan katalis Cu/zeolit memiliki selektivitas yang lebih baik dalam memproduksi fraksi kerosin dibandingkan dengan katalis H-zeolit dalam penelitian ini. Hal ini menunjukkan perbedaan ada dan tidaknya logam transisi sebagai komponen aktif, serta perbedaan jenis logam transisi sebagai komponen aktif akan mempengaruhi selektivitas terhadap produk yang dihasilkan.
Prinsip perengkahan katalitik adalah dengan cara memecah hidrokarbon kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana sehingga dapat meningkatkan kualitas produk dan juga menurunkan residu yang dihasilkan dengan bantuan katalis. Senyawa hidrokarbon akan dipecah secara acak menghasilkan campuran hidrokarbon dengan molekul yang lebih kecil (Widayat, 2005).
Proses perengkahan katalitik dapat terjadi melalui 2 tahapan, tahap pertama yang ditandai dengan pembentukan oxygenated component (senyawa yang mengandung atom oksigen pada rumus molekulnya) yang disebabkan oleh dekomposisi molekul trigliserida. Tahapan kedua ditandai dengan penguraian oxygenated component untuk membentuk senyawa hidrokarbon (Zhao et al., 2017).
Gambar 12. Jalur reaksi catalytic cracking suatu trigliserida menjadi hidrokarbon biofuel (Zhao et al., 2017)
Gambar 12menunjukkan jalur reaksi untuk perengkahan katalitik trigliserida menjadi biofuel, gas, air, dan residu deposit karbon (coke). Molekul trigliserida akan dihilangkan atom-atom oksigennya melalui beberapa cara seperti dekarbonilasi, dekarboksilasi dan deoksigenasi yang menghasilkan oxygenated component (senyawa yang mengandung atom oksigen pada rumus molekulnya) yang merupakan produk samping berupa asam lemak, air, gas CO2 dan lainnya (Melero et al., 2010), dengan reaksi sebagai berikut:
40 R1COOH + R2CH2CH3 + R3COOCH3 + CO2 H+ (H- zeolit)
dekomposisi
Molekul trigliserida akan mengalami pemecahan pada suhu yang tinggi menjadi oxygenated component. Hal ini dibuktikan dengan adanya senyawa asam lemak dalam biofuel pada hasil analisis GC-MS (Tabel 4). Molekul trigliserida juga akan memecah dengan adanya katalis, dimana H+ akan menyerang ikatan C=C pada trigliserida sehingga terbentuk ion karbonium. Setelah ion karbonium terbentuk, akan terjadi pemutusan beta sehingga terbentuk hidrokarbon dengan rantai yang lebih pendek dan senyawa ester (Nasikin et al., 2009).
Senyawa dengan atom oksigen pada rumus molekulnya (asam lemak dan ester) akan mengalami pemecahan ikatan C-O dan C-C melalui reaksi pemutusan rantai karbon pada posisi beta. Pemutusan ikatan C-O dan C-C melalui 2 rute reaksi, yaitu reaksi dekarboksilasi dan reaksi dekarbonilasi. Reaksi dekarboksilasi merupakan pemutusan ikatan karboksilat sehingga menghasilkan gas CO2 dan juga hidrokarbn (Zhao et al., 2017). Reaksinya sebagai berikut :
C17H35COOH C17H36+ CO2
Reaksi dekarbonilasi merupakan reaksi yang mengindikasikan pelepasan gugus ester sehingga menghasilkan hidrokarbon, CO dan H2O (Zhanget al., 2014). Hal ini menjelaskan sumber gas dan air (Lampiran 1, 2, 3 dan 4) pada produk biofuel. Reaksinya sebagai berikut :
C11H22O2 C10H20 + CO + H2O
Setiap proses perengkahan memiliki rute reaksi yang berbeda, tergantung dengan ikatan rangkap pada rantainya. Pada asam lemak tidak jenuh biasanya
terjadi pemutusan ikatan C-C pada posisi α dan β, sedangkan pada asam lemak jenuh terjadi proses dekarboksilasi dan dekarbonilasi sebelum pemutusan ikatan C-C (Molero et al., 2012). Pada proses ini akan dihasilkan senyawa olefin dan juga parafin. Reaksi lainnya seperti isomerasi, siklisasi atau aromatisasi dapat terjadi karena adanya katalis asam. Kemudian, residu (coke) dihasilkan melalui reaksi polimerisasi (Maher dan Bressler, 2007).
4.3.2 Analisis Densitas Produk Biofuel
Biofuel yang diperoleh dari perengkahan pada kondisi optimum kemudian dianalisis densitasnya untuk mengetahui kualitasnya. Densitas merupakan salah satu standar untuk menentukan kualitas biofuel. Hasil analisis densitas biofuel dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Perbandingan nilai densitas minyak jelantah dan biofuel
Senyawa Densitas (g/mL)
Minyak jelantah 0,9087
Biofuel 0,8835
Standar bensin (PT. Pertamina, 2007) 0,71-0,78 Standar kerosin (PT. Pertamina, 2007) 0,845
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa minyak jelantah memiliki densitas sebesar 0,9087g/mL, sedangkan biofuel memiliki densitas 0,8835g/mL.
Dapat dilihat bahwa terjadi penurunan nilai densitas, hal ini merupakan salah satu parameter yang menandakan bahwa telah terjadi perengkahan yang mengakibatkan rantai karbon menjadi lebih pendek, sehingga berat jenisnya mengalami penurunan (Sinaga, 2011). Namun, nilai densitas produk yang diperoleh belum bisa memenuhi standar densitas bensin komersial yaitu 0,71-0,78
42 g/mL (berdasarkan standar PT. Pertamina). Tingginya nilai densitas produk biofuel tersebut diakibatkan oleh masih terdapat molekul-molekul asam lemak sebesar 26,52%.
4.3.3 Analisis Titik Nyala
Analisis titik nyala dilakukan dilakukan di Laboratorium bahan bakar PTSEIK menggunakan alat Ametek miniflash dengan rentang suhu pengujian 30-200 oC, didapatkan nilai titik nyala biofuel hasil catalytic cracking sebesar 68 oC.
Pada Tabel 6 dapat dilihat perbandingan nilai titik nyala produk biofuel dengan standar titik nyala diesel, bensin dan kerosin.
Tabel 6. Perbandingan titik nyala produk biofuel dengan standar diesel, bensin dan kerosin.
Senyawa Titik Nyala (oC)
Biofuel 68
Standar diesel (Badan Standarisasi Nasional, 2015) 100
Standar bensin (PT. Pertamina, 2007) -43
Standar kerosin (Inchem, 2017) 32-72
Berdasarkan Tabel 6, nilai titik nyala biofuel yang diperoleh dari proses catalytic cracking minyak jelantah sangat jauh bila dibandingkan dengan nilai titik nyala bensin. Hal ini disebabkan oleh fraksi bensin yang terkandung dalam produk biofuel masih sedikit (15,19%,). Namun, jika dibandingkan dengan fraksi kerosen, titik nyala produk biofuel dapat dikatakan memenuhi standar titik nyala kerosin. Hal ini sesuai dengan hasil analisis kandungan senyawa produk biofuel, dimana fraksi kerosin adalah fraksi penyusun yang jumlahnya paling besar jika dibandingkan dengan bensin dan diesel.
Ttitik nyala merupakan suhu terendah dimana suatu senyawa dapat menguap dan apabila terdapat sumber nyala api maka dapat terbakar. Titik nyala akan mempengaruhi kerja mesin dalam proses pembakaran bahan bakar, titik nyala yang terlalu tinggi menyebabkan mesin sulit menyala sedangkan titik nyala yang terlalu rendah dapat merusak mesin akibat nyala api yang terjadi terlalu cepat. Titik nyala juga berperan penting dalam keamanan dalam penanganan dan penyimpanan bahan bakar (Sinaga, 2011).
4.3.4 Analisis Titik Tuang
Titik tuang merupakan temperatur terendah dimana sampel minyak atau turunannya masih bisa mengalir atau dituangkan dengan sendirinya apabila didinginkan pada kondisi pemeriksaan (ASTM, 1987). Analisis titik tuang dilakukan menggunakan alat Lauda pour point dengan cara kerja sesuai standar ASTM D 97. Didapatkan nilai titik tuang produk biofuel sebesar 27 oC. Pada Tabel 7 disajikan perbandingan nilai titik tuang produk biofuel dengan standar titik tuang bensin dan kerosin.
Tabel 7. Perbandingan titik tuang produk biofuel dengan standar bensin dan kerosin.
Senyawa Titik Tuang (oC)
Biofuel 27
Standar bensin (PT. Pertamina, 2007) -7
Standar kerosin (Inchem, 2017) -47
Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa nilai titik tuang biofuel yang diperoleh dari proses catalytic cracking minyak jelantah jauh diatas standar titik nyala bensin maupun kerosin. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya presentase senyawa-senyawa rantai panjang yang terdapat dalam produk biofuel.
44 Nilai titik tuang dipengaruhi oleh panjang rantai karbon, semakin panjang rantai karbon maka nilai titik ruang semakin tinggi. Semakin tinggi nilai titik tuang maka semakin tinggi pula kandungan malam/lilin dalam senyawa tersebut (Hardjono, 2017). Bahan bakar yang mengandung senyawa lilin akan menyebabkan masalah selama proses produksi, penyimpanan dan transportasi.
Pada suhu rendah, lilin akan terpisah dan terdeposit pada dinding pipa, atau dinding ruang penyimpanan. Hal ini menyebabkan aliran bahan bakar pada pipa menjadi terhambat akibat diameter pipa yang semakin berkurang (Soni et al., 2015). Nilai titik tuang pada produk biofuelsebesar 27 oC, menandakan bahwa pada suhu lingkungan ≤ 27 oC biofuel akan kehilangan daya alirnya (membeku).
Sehingga jika biofuel digunakan pada kondisi lingkungan ≤ 27 oC kinerja mesin akan terganggu karena banyaknya deposit lilin yang terbentuk sehingga menghalangi aliran bahan bakar dari ruang penyimpanan menuju pembakaran.
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kondisi optimum catalytic cracking minyak jelantah didapat pada waktu 3 jam, suhu reaksi pada 375 oC, konsentrasi katalis sebesar 7%, dan ukuran katalis 180 µm, dengan rendemen biofuel sebesar 42,49%.
2. Komposisi biofuel yang diperoleh terdiri dari fraksi bensin sebesar 15,19%, kerosin 29,1%, diesel 22,87%, dan asam lemak 26,52%.
3. Nilai densitas, titik nyala dan titik tuang produk biofuel secara berturut-turut adalah 0,8984g/mL, 68 oC dan 27 oC.
5.2 Saran
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, perlu dilakukan penambahan logam transisi pada katalis zeolit alam untuk meningkatkan selektivitas zeolit dan meningkatkan akivitas katalitik sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih baik. Perlu dilakukan fraksinasi produk biofuel sehingga dapat memisahkan fraksi gasolin, kerosin dan diesel agar dapat digunakan sebagai bahan bakar.
46 DAFTAR PUSTAKA
Adhari H, Yunimar, Utami S P. 2015. Pemanfaatan Minyak Jelantah Menjadi Biodiesel dengan Katalis ZnO : Pengaruh Waktu Reaksi dan Jumlah Katalis.
Jutnal FTEKNIK, 3(2), 64-71.
Akpolat O, Ozkan F, Beslin N. 2004. Isomerization of A-Pinene Over Calcined Natural Zeolites. Applied Catalysts A: General, 265(1), 11-22.
Andrianus, Imelda H S, Sayekti E, Sianipar A. 2013. Optimasi Perengkahan Minyak Jelantah Menggunakan Katalis Zeolit/Nikel. Jurnal Kimia dan Pendidikan, 2(1), 13-18.
Asyraf H M, Zahrina I, Yelmida. 2012. Pembuatan Biofuel dari Minyak Goreng Bekas Melalui Proses Perengkahan Katalitik Menggunakan Katalis Fly Ash.
Tesis. Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis, Universitas Riau.
ASTM D93 – 80. 1980. Standar Test Methods for Flash Point.
ASTM D90 – 87. 1987. Standar Test Methods for Pour Point of Patrelium Point.
Aziz I, Nurbayti S, Rahman A. 2012. Penggunaan Zeolit Alam sebagai Katalis dalam Pembuatan Biodiesel. Jurnal Valensi, 2(4), 511-515.
Bachtas G P, Zahrina I, Yelmida. 2013. Perengkahan Minyak Goreng Bekas Untuk Produksi Biofiesel Menggunakkan katalis Ni. Jurnal TKS, jurusan Teknik Kimia, Univeritas Riau. 3, 25-30.
Dewanto M A R, Januartika A A, Dewajani H, Budiman A. 2017. Catalityc and Thermal Cracking Process of Waste Coocing Oil for Biogasoline Synthesis.
The 14th International Stmposium on Therapeutic Ultrasound, 18-23.
Dyer A, Las T, Zubair M. 2000. The Use Of Natural Zeolites for Radioactive Waste Treatment: Studies on Leaching from Zeolites/Cement Composites.
Journal of Analytical and Nuclear Chemistry, 234(3), 839-841.
Eaton D C. 1989. Laboratory Investigation in Organic Chemistry. USA: Mc Graw Hill.
Endang D S, Kristianingrum S, Swardi. 2012. Sintesis dan Karakterisasi Biodiesel dari Minyak Jelantahpada Berbagai Waktu dan Suhu. Seminar Nasional Mipa. FMIPA UNY.
Ertan A dan Ozkan F. 2005. CO2 and N2 Adsorption on the Acid (HCl, HNO3, H2SO4) Treated Zeolites. Adsorption, 11, 151-156.
Fathiah A, Hartono D. 2016. Hubungan antara Karbon Dioksida, Efisiensi Energi, dan Konsumsi Energi Terbarukan di ASEAN. Tesis. Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
Han-U-Domlarpyos V, Kuchontara P, Reubroycharoen P, Hinchiranan N. 2015.
Quality Improvement Of Oil Palm Shell Derived Pyrolysys Oil Via Catalyic Deoxygeneretion Over NiMoS/Al2O. Fuel, 143, 512-518.
Hassan S N, Sani Y M, Abdul Aziz A R, Sulaiman N M N, Daud W M A W.
2015. Biogasoline: An Out Of The Box Solution To The Food For Fuel And Land Use Competitions. Energy Conversation and management, 89,349-367.
Hermanto S. 2009. Mengenal Lebih Jauh Tenik Analisis Komatografi dan Spektroskopi. Jakarta : UIN Jakarta Press.
Inchem. 2017 Material Safety Data Sheet- Kerosene MSDS.
https://www.inchem.org/documrnts/icsc/eics0663.html. Diakses pada April 2019.
Isyarandi, Zahrin I, Yelmida. 2013. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Goreng Bekas dengan Prosess Perengkahan Katalitik. Jurnal Reaksi Kimia dan Katalis, Universitas Riau. 2(1), 56-62.
Jatmiko T H. 2012. Sintesis Biogasolin dari CPO Melalui Reaksi Perengkahan Katalitik pada Fasa Gas. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia dan Musyawarah Nasional APTEKINDO, 25-32.
Las T dan Zamroni H. 2002. Penggunaan Zeolit dalam Bidang Industri dan Lingkungan. Jurnal Zeolit Indonesia, 1(1), 23-30.
Lestari H D. 2011. Sintesis Katalis Ni/Mo untuk Hydrotreating Coker Nafta.
Tesis. Fakultas Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung.
Li L, Quan K, Xin J, Liu F. 2014. Liquid Hydrocarbon Fuels from Catalytic Cracking ofRubber Seed Oil Using USY As Catalyst. Fuel, 123, 189-193.
Luqman B, Widayat. 2007. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Kelapa Sawit dengan Proses Catalytic Cracking. Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Kerekayasaan.
28(2), 83-89 Universitas Diponogoro.
Maher K D dan Bressler D C. 2007. Pyrolysis of Trigliceride Materials for the Production of Renewable Fuels and Chemicals. Biosource Technology, 98, 2351-2468.
48 Melero J A, Garcia A, Clavero M. 2011. Production of Biofuels Via Catalytic Cracking. Hanbook Feasibility, Opportunities and Challanges. Energy and Environmental Science, 5(6), 73-93.
Mockoviackova A, Matik M, Hudec P, Kmecova E. 2007. Structural Charachteristics of Modified Natural Zeolite. Journal Porous Matter. 15(5), 559-564.
Mulja dan Suharman M. 1995. Analisis Instumen. Surabaya : Airlangga University Press.
Nasikin M dan Susanto B H. 2010. Katalis Heterogen. Jakarta : UI press.
Nazrudin. 2000. Konversi Crude Palm Oil Menjadi Biofuel dengan Perengkahan Katalitik Menggunakan Katalis Cr-Zeolit. Penelitian Hibah HEDS project.
Universitas Negeri Jakarta.
Nurjannah, imawati, roesyadi, Danawati. 2010. Perengkahan Katalitik Asam Oleat Untuk Menghasilkan Biofurl Menggunakan HZSM-% sintesis. Skripsi.
Fakultas Teknik Kimia, Institut Teknologi Sepuluh November : Surabaya.
Pangestu W, Zulintar, Yelmida. 2015. Perengkahan Palm Fatty Acid Distillate Menjadi Biofuel Menggunakan Katalis Fly Ash Sawit. Jurnal FTKNIK,2(1), 24-30.
Prasetyo Y. 2017. Pengaruh Komposisi Campuran Terhadap Sifat Fisik Biodiesel dengan Bhan Baku Minyak Jarak. Jurnal Teknik Mesin, 5(1), 1-8.
Pratiwi M A, Hassan M F, Harjanto L K. 2016. Pembuatan Biokerosin dari Metil Ester Berbahan Baku Minyak Kelapa dengan Metode Distilasi Vakum.
Prosiding Konser Karya Ilmiah, 2, 29-36.
Prihandana R, Kartika N, Dwi S, Sigit S. 2007. Bioetanol Ubi Kayu Bahan Bakaar Masa Depan. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.
PT. Pertamina (persero). 2007. Premium.
https://www.pertamina.com/industrialfuel/30569/premium.pdf. Diakses pada:
April, 2019.
Ramya G, Sudhakar R, Joice J. 2012. Applied Catalysis A: General Liquid Hydrocarbon Fuels From Jatropha Oil Through Catalytic Cracking Using ZSM-5 Composite Catalyst. Applied Catalysis A, General. Valensi, 3(2), 129-137.
Roy J G. 1997. Teknik Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan.Yogyakarta:
Penerbit ANDI.
Sadeghbeigi R. 2000. Fluid Catalytic cracking Hanbook (second edit). Ney York:
Gulf Professional Publishing.
Saipullah S. 2008. Produksi Hidrokarbon Fraksi Gasolin dari Minyak Sawit dengan Pretreatment Saponifikasi Melalui Perengkahan Katalitik dengan Kataslis B2O3/Al2O3. Skripsi. Fakultas Teknik. Universitas Indonesia.
Saputra B, Zahrina I, Yelmida. 2013. Perengkahan Katalitik Minyak Goreng Bekas Untuk Produksi Biofuel Menggunakan Katalis Cu. Tesis. Laboratorium Teknik Reaksi Kimia. Universitas Riau.
Savitri, Nugraha A S, Aziz I. 2016. Pembuatan Katalis Asam Ni/γ-Al2O3) dan Katalis Basa (Mg/γ-Al2O3) untuk Aplikasi Pembuatan Biodiesel daro Bahan Baku Minyak Jelantah. Jurnal Valensi , 2(1), 1-10.
Scott C, Robet W, Michael G, Gatter G. 2003. Open Framework Materials Synthesized in the TMA+/TEA+ Mixed Template System: The New Low Si/Al Ratio Zeolites UZM 4 and UZM 5. Angewandte Chemie International Edition. 42(15), 37-43.
Setiadi dan Darius. 2006. Konversi Katalitik N-Butanol Menjadi Hidrokarbon Menggunakan Katalis Zeolit Alam. Seminar Teknik Kimia Indonesia. 1-6.
Shimadzu. 2010. GCMS-QP2010. Panduan Standar Penggunaan GC-MS.
Sidjabat S. 2004. Kandungan Minyak Goreng . Lembaran Lemigas, 8(1), 39-50.
Sihombing J L Pulungan A L, Sari D P, Zubir M. 2017. Conversiom of Avocadoe Seed Oil into Liquid Fuel Through Catalytic cracking Process Using CuO/XAA Catalyst. Jurnal pendidikan kimia. 9(2), 304-310.
Sinaga A C. 2011. Preparasi, Karakterisasi dan Uji Reaksi Katalis Nano NiO/Al2O3 Untuk Bahan Bakar Bi Non Ester dari Minyak Jarak Pagar Melalui Pirolisis Berkatalisis. Tesis. Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis, Universitas Riau.
Siswani ED. Kristianingrum S. Suswardi. 2012. Sintesis dan Karakterisasi Biodiesel dari Minyak Jelantah Pada Berbagai Waktu dan Suhu. Jurnal FMIPA UNY, 2(1), 133-138.
SNI 7182:2015. 2015. Standar Nasional Indonesia: Biodiesel.
http//btbrd.bppt.go.id/index.php/sevice/26-pojok-biodiese/94-sni-biodiesel.
Diakes pada: April 2019.
Suirta I W. 2009. Preparasi Biodiesel dari Minyak Jelantah Kelapa Sawit. ISSN 1907-9850, JURNAL KIMIA, 3(1), 1-6.
50 Sundaryono A dan Budiyanto. 2010. Pembuatan Bahan Bakar Hidrokarbon Cair Melalui Reaksi Craking Minyak pada Limbah Pengelolahan Kelapa Sawit.
Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 20(1), 14-19.
Sundaryono A, Handayani D, Budiman W. 2015. Perengkahan Katalitik Metil Ester dari Minyak Zaitun limbah cair pabrik minyak kelapa sawit dengan katalis Cr/Mo/HZA dan Ni/Mo/HZA. Jurnal Teknologi Industri Pertaian, 25(1), 78-84.
Supraningsih J. 2012. Pengembangan Kelapa Sawit Sebagai Biofuel dan Produksi Minyak Sawit serta Hambatannya. Ekonomi, 29, 10-16.
Suppakalpanya K, Ratanawilai S B, Tongurai C. 2010. Production of Ethyl Ester From Esterified Crude Palm Oil by Microwave with Dry Washing by Bleeching Earth. Applied energy, 235-241.
Susanti D P dan Panjaitan S. 2010. Manfaat Zeolit dan Rock Phosphat dala, Pemgomposan Limbah Pasar. Prosiding PPI Standarisasi. Banjarmasin.
Susilowati. 2006. Biodiesel dari Minyak Biji Kapuk dengan Katalis Zeolit. Jurnal Teknik Kimia, 1(1), 10-14.
Tarigan S. 2007. Aktivitas Katalis Cr/Zeolit Dalam Reaksi Konversi Katalitik Fenol dan Metil Isobutil Keton. Jakarta LIPI.
Togar Y M. 2012. Preparasi Katalis Praseodium Oksida/Zeolit Klipnotilit Aktif Untuk Meningkatkan Bilangan Oktan pada Gasolin. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Indonesia: Depok.
Taufiqurrahmi N dan Bhatia S. 2011. Catalytic Cracking of Edible and non edible oils for the production of biofuels. Energy and Environmental Science, 4(4), 1087-1112.
Trisunaryati W. 2002. Optimation of Time and Catalyst/Feed Ratio In Catalytic Cracking of Waste PlasticFraction to Gasoline Fraction Using Cr/Natural Zeolite. Indonesian Journal of Chemistry, 2(1), 30-40.
Triyono. 2002. Kimia Katalis. Yogyakarta: FMIPA UGM.
Wako F M, Reshad A S Goud V V. 2018. Catalytic cracking of Waste Coocing Oil for Biofuel Production Using Zirconium Oxide. Industrial Crops and Products, 118, 282-289.
Widayat. 2005. Pembuatan Bahan Bakar Biodiesel dengan Proses Perengkahan Berkatalis Zeolit dan Bahan Baku Minyak Goreng Berbahan Dasar Crude
Palm Oil. Prosiding Seminar Nasional Fundamentlal dan Aplikasi Teknik Kimia Jurusan Teknik Kimia FTI Institut Teknologi Surabaya, 23-24.
Widayat dan Buchori L. 2009. Pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas dengan proses catalytic cracking. Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia- SNTKI 2009, ISBN 987-979-98300, 1-2, Bandung.
Wijana, Susinggih, Hidayat N, dan Hidayat A. 2005. Mengelola Minyak Goreng Bekas. Jakarta. Trubus Agrisarana (47).
Wijanarko A, Muwardi D A, Nasikin M. 2006. Produksi Biogasolin dari Minyak Sawit Melalui Reaksi Perengkahan Katalitik dengan Katalis Gamma Alumina. Jurnal MAKARA, Teknologi, 10 (2), 51-60.
Yuanita L D. 2010. Kajian Modifikasi dan Karakterisasi Zeolit Alam dari Berbagai Negara. Jurnal Kimia UNY, 54, 234-239.
Zerihun D Y, Nuthujumar K. 2015. Biofuel Production by Catalytic Cracking of Sunflower oil Using Vanadium Pentoxide. Journal of Analytical and Aplied Pyrolysis, 122, 326-333.
Zhao X, Wei L, Cheng S, Julson J. 2017. Review of Heterogeneous Catalysts for Catalytcally Upgrading Vegetable Oil into Hyfrocarbon Biofuels. Catalysts, 83(7), 1-25.
Zhang H, Xiao R, Huang H, Xiao G. 2009. Comparison of Non-Catalityc and Catalityc Fast Pyrolisys of Concorb in a Fluidized bed Reactor. Bioresource Technologi, 100(3), 1428-1434.
52 LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan Hasil Catalytic crackingMinyak jelantah dengan Variasi Waktu
1. Volume minyak jelantah : 50 mL Konsentrasi H-zeolit : 5%
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 350 oC
2. Volume minyak jelantah : 50 mL Konsentrasi H-zeolit : 5%
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 350 oC
Waktu reaksi : 2 jam
W1
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 350 oC
Lampiran 2. Perhitungan Hasil Catalytic crackingMinyak jelantah dengan Variasi Suhu Reaksi
1. Volume minyak jelantah : 50 mL Konsentrasi H-zeolit : 5%
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 325 oC
Waktu reaksi : 3 jam
54
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 350 oC
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 375oC
Waktu reaksi : 3 jam
W1
Lampiran 3. Perhitungan Hasil Catalytic crackingMinyak jelantah dengan Variasi Konsentrasi Katalis
1. Volume minyak jelantah : 50 mL Konsentrasi H-zeolit : 3%
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 375 oC
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 375 oC
Waktu reaksi : 3 jam
56
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 375 oC
Lampiran 4. Perhitungan Hasil Catalytic crackingMinyak jelantah dengan Variasi Ukuran Katalis
1. Volume minyak jelantah : 50 mL Konsentrasi H-zeolit : 5%
Ukran partikel H-zeolit : 180 µm
Suhu reaksi : 375 oC
Waktu reaksi : 3 jam