• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.6. Pengaruh Variabel Dukungan Istri Terhadap Tingkatan

vasektomi tetapi tetap memutuskan menggunakan vasektomi secara langsung tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.

5.6. Pengaruh Variabel Dukungan Istri Terhadap Tingkatan Keputusan Menggunakan Vasektomi

Uji statistik Regresi Linier Berganda menunjukkan bahwa variabel dukungan istri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkatan keputusan menggunakan vasektomi (p = 0,000 < 0,05).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ambarwati (2001) bahwa faktor kerelaan istri memiliki hubungan yang bermakna dengan keikutsertaan vasektomi. Menurut Ringheim (1996), kepedulian terhadap salah satu pasangan adalah salah satu faktor dalam keputusan untuk memilih vasektomi. Pengaruh istri sangat dibutuhkan dalam pembentukan keputusan menggunakan vasektomi.

Menurut Arwen (2007), persetujuan seorang istri dipandang sebagai kunci untuk memutuskan menggunakan vasektomi. Lebih dari 50% dari seluruh pasangan yang suaminya menjalani vasektomi di Tanzania mengatakan bahwa persetujuan istri sebagai salah satu faktor dalam pengambilan keputusan. Sebagian besar istri menyatakan bahwa mereka sepakat jika suaminya menggunakan vasektomi, namun ada juga yang berpendapat bahwa persetujuan istri tidak selalu dipandang perlu dalam proses pengambilan keputusan menggunakan vasektomi. Jika istri tidak setuju terhadap keputusan suami, maka suami akan tetap melakukannya.

Banyak istri yang justru tidak ingin suaminya ber-KB khususnya menggunakan alat kontrasepsi pria jenis vasektomi karena khawatir dimanfaatkan untuk berselingkuh padahal penggunaan alat kontrasepsi pria akan menyebabkan istri tidak perlu memakai alat kontrasepsi wanita lagi sehingga terhindar dari efek samping seperti keputihan, kegemukan, perdarahan dan lebih leluasa untuk mengurus keluarga.

Penelitian Forste (1995) menambahkan bahwa sterilisasi adalah keputusan bersama yang merupakan partisipasi dari suami dan istri. Pasangan dengan komunikasi terbuka tentang pengendalian kelahiran lebih cenderung untuk memilih vasektomi dibandingkan pasangan di mana istri yang dibebankan menggunakan kontrasepsi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki dukungan istri kategori sangat mendukung adalah sebanyak 1 orang (1,25%), mendukung sebanyak 34 orang (42,5%), dan kurang mendukung sebanyak 45 orang (56,25%). Berdasarkan hasil Crosstabulation, dari 45 responden yang istrinya kurang mendukung, terdapat 33 orang yang memutuskan menggunakan vasektomi secara otomatis, 11 orang memutuskan karena informasi, dan 1 orang memutuskan karena berbagai pertimbangan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat 3 responden (3,75%) yang ikut vasektomi karena saran/anjuran dari istri, 31 (38,75%) responden meminta izin terlebih dahulu kepada istri baru melakukan vasektomi, namun ada pula 32 (40%) responden yang melakukan operasi vasektomi terlebih dahulu baru memberitahu istri bahwa mereka telah melakukan vasektomi, bahkan ada 14 responden (17,5%) yang

istrinya tidak tahu bahwa suaminya telah melakukan vasektomi sampai sekarang (sampai waktu dilakukan penelitian ini). Responden tidak memberitahu istri terlebih dahulu disebabkan karena mereka takut kalau istri mereka tidak mengizinkan dan didukung lagi dengan adanya kompensasi dari pemerintah sehingga semakin cepatlah responden untuk memutuskan menggunakan vasektomi.

Variabel dukungan istri memberikan pengaruh secara positif terhadap keputusan menggunakan vasektomi, yaitu semakin mendukung istri maka semakin banyak pertimbangan responden sebelum memutuskan untuk ikut vasektomi. Semakin kurang mendukung istri responden terhadap program vasektomi maka semakin cepat responden memutuskan untuk ikut vasektomi.

5.7. Pengaruh Variabel Kompensasi Terhadap Tingkatan Keputusan Menggunakan Vasektomi

Hasil uji statistik Regresi Linier Berganda menunjukkan bahwa variabel kompensasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkatan keputusan menggunakan vasektomi (p = 0,035 < 0,05).

Hal ini sejalan dengan pendapat saydam (1996) bahwa pemberian kompensasi akan memotivasi karyawan dalam melaksanakan pekerjaan di mana dalam hal ini adalah cepat atau lambatnya akseptor untuk memutuskan menggunakan vasektomi, dan juga sejalan dengan teori kebutuhan dari Maslow bahwa kebutuhan fisiologis (insentif/honor/kompensasi) harus terpenuhi dulu walaupun tidak 100% baru kebutuhan berikutnya yang lebih tinggi. Menurut teori Skiner dalam Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang

terhadap stimulus (rangsangan dari luar), seperti salah satunya adalah adanya kompensasi.

Menurut hasil penelitian ini, terdapat 47 responden (58,75%) didorong dengan adanya kompensasi dari pemerintah sebesar Rp.150.000,- sebagai pengganti dari hilangnya beberapa hari kerja karena harus beristirahat setelah melakukan operasi vasektomi dan 33 responden (41,25%) tetap akan melakukan vasektomi seandainya tidak mendapat kompensasi tersebut. Berdasarkan hasil Crosstabulation, dari 47 responden mau melakukan vasektomi disebabkan kompensasi tersebut, 32 orang memutuskan secara otomatis, 14 orang memutuskan karena informasi dan 1 orang memutuskan karena berbagai pertimbangan. Dari 33 responden yang tidak didorong dengan adanya pemberian kompensasi, terdapat 3 orang yang memutuskan secara otomatis, 29 orang memutuskan karena informasi dan 1 orang memutuskan karena berbagai pertimbangan.

Dari hail uji statistik Regresi Linier Berganda dapat diketahui bahwa variabel kompensasi berpengaruh positif, artinya semakin didorong dengan adanya kompensasi maka semakin cepatlah responden memutuskan menggunakan vasektomi. Begitu pula sebaliknya, semakin tidak didorong dengan adanya pemberian kompensasi, semakin lama responden untuk memutuskan menggunakan vasektomi karena tidak ada yang mendorong responden untuk mengadopsi suatu inovasi baru.

Adanya kompensasi inilah yang menyebabkan banyak yang berminat untuk ikut menggunakan vasektomi sehingga Tebing Tinggi memperoleh penghargaan berupa Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI kepada Walikota Tebing Tinggi pada tahun 2008 karena telah berhasil dalam meningkatkan partisipasi pria dalam ber-

KB khususnya vasektomi. Dengan adanya kompensasi tersebut, semakin banyak kaum pria yang berminat menggunakan vasektomi, bahkan ada responden yang ikut vasektomi padahal istri sudah menopause dan ada pula responden yang istrinya telah menggunakan kontap (tubektomi).

Kompensasi yang diberikan pemerintah tersebut berhasil mendorong calon akseptor vasektomi untuk lebih cepat memutuskan menggunakan vasektomi. Salah satu responden, masih dalam kondisi menggunakan pakaian kerja (pakaian masih kotor berlumuran cat), responden yang bekerja sebagai tukang bangunan tersebut langsung ikut ke Rumah Sakit untuk melakukan operasi vasektomi. Pada hari yang sama, sejak pertama kali diterimanya responden mendapat informasi tentang vasektomi dari kepling, responden memutuskan untuk ikut vasektomi tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Hal ini disebabkan mereka sangat mengharapkan imbalan/kompensasi yang diberikan pemerintah kepada mereka yang bersedia melakukan vasektomi secara sukarela. Selain kompensasi tersebut, informasi tambahan yang diperoleh peneliti di lapangan adalah adanya protes dari responden yang menyesal melakukan vasektomi sebab responden berharap dapat memperoleh jaminan kesehatan yang dijanjikan pemerintah, namun jaminan kesehatan tersebut masih belum terealisasi dengan baik.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari P2KB, janji untuk memberikan Jamsostek kepada akseptor vasektomi tidak dijanjikan secara tertulis melainkan hanya dilisankan saja. Tidak meratanya pembagian jaminan kesehatan disebabkan Kantor KB tidak lagi merger dengan Dinas Sosial. Sejak tahun 2006, Kantor KB merger dengan Dinas Sosial dalam Kantor Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja dan

Keluarga Berencana (Kankessosnaker-KB) hingga tahun 2008. Jaminan kesehatan berupa Jamsostek yang diberikan gratis kepada akseptor vasektomi merupakan kegiatan dari Dinas Sosial, namun sejak tahun 2009 Kankessosnaker-KB dipisah antara Dinas Sosial dengan Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (P2KB) sehingga jamsostek tidak lagi diberikan kepada akseptor vasektomi.

Dokumen terkait