• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH VEGETASI LIAR BERBUNGA TERHADAP PARASITOID Anastatus dasyni FERR.

(HYMENOPTERA: EUPELMIDAE)

[Effects of flowering wild vegetation on parasitoid of Anastatus dasyni Ferr. (Hymenoptera: Eupelmidae)]

Abstrak

Pada pertanaman lada tumbuh beberapa jenis vegetasi liar berbunga sebagai sumber nektar. Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh bunga berbagai vegetasi liar terhadap kehidupan A. dasyni asal inang alternatif. Penelitian mencakup lama hidup dan reproduksi, pilihan parasitoid lapar dan kenyang, dan tingkat parasitisasi parasitoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parasitoid betina yang mengonsumsi nektar hidup antara 1.8 hari sampai 9.6 hari, sedangkan parasitoid jantan 1.6 hari sampai 3.4 hari. Lama hidup terpanjang terjadi pada parasitoid yang dikurung bersama bunga Cleome aspera dan Asystasia gangetica. Betina A. dasyni yang mengonsumsi nektar C. aspera meletakkan telur 13.80 butir dan 68.55% telur tersebut menjadi imago betina, sedangkan yang mengonsumsi nektar A. gangetica meletakkan telur 12.20 butir dan 71.94% telur tersebut menjadi imago betina. Parasitoid A. dasyni yang lapar memilih secara acak semua bunga, tetapi kunjungan lebih banyak terjadi pada bunga berwarna kuning cerah (Arachis pintoi) meskipun bunga tersebut tidak mendukung kehidupan parasitoid. Imago betina yang kenyang lebih banyak memilih inang (66.67%) untuk oviposisi. Rataan tingkat parasitisasi A. dasyni di kebun lada yang ditumbuhi C. aspera dan A. gangetica (56.23%) lebih tinggi dibandingkan di kebun lada yang dilakukan penyiangan (28.57%).

Kata kunci: Anastatus dasyni, Dasynus piperis, vegetasi liar berbunga Abstract

There are several wild flowering vegetations in pepper plantations functioned as nectar sources. This study was conducted to evaluate the effect of several wild vegetation flowers to the livelihood of A. dasyni. The study consisted of living period and reproduction, the preference of starved and satiate parasitoids, as well as parasitation levels of parasitoids. The result of the study revealed that A. dasyni females consuming nectars would live between 1.8 to 9.6 days, while their males counterpart would live between 1.6 to 3.4 days. The longest living period was found on the parasitoid fed with Cleome aspera and Asystasia gangetica nectars. A. dasyni fed C. aspera and A. gangetica nectars would produce 13.80 and 12.20 eggs, respectively, which after hatching 68.55% and 71.94% of them, respectively, were females. The starved parasitoids would randomly choose all flowers, but only the bright yellow flowers i.e. Arachis pintoi was the most preferred one, though this flower did not support their lives. As much as 66.67% of the satiate females would directly choose their hosts for egg oviposition. The parasitization level of A. dasyni in a pepper plantation inhabited

by C. aspera and A. gangetica was about 56.23%, which was higher as compared to that of the plantation without those wild plants (28.57%).

Key words: Anastatus dasyni, Dasynus piperis, flowering wild vegetation Pendahuluan

Anastatus dasyni Ferr. (Hymenoptera: Eupelmidae) merupakan parasitoid yang bersifat sinovigenik. Parasitoid seperti ini (Quicke 1997) memerlukan pakan untuk pematangan telurnya, sehingga parasitoid memiliki masa praoviposisi. Parasitoid perlu mengonsumsi pakan terlebih dahulu sebelum melakukan oviposisi.

Sumber pakan bagi imago parasitoid di lapangan, dapat diperoleh melalui nektar bunga dan atau embun madu. Selain untuk produksi telur, sumber pakan tersebut berguna untuk meningkatkan daya bertahan hidup parasitoid. Parasitoid yang hidup lebih lama dan keperidian yang lebih tinggi akan lebih mempercepat penekanan populasi inang. Oleh karena itu, keberadaan sumber pakan yang mudah didapat imago parasitoid dan dekat dengan lokasi inang sangat penting (Jervis et al. 1996; Lewis et al. 1998; Lee & Heimpel 2002). Pemanfaatan tanaman berbunga yang mampu meningkatkan keperidian parasitoid betina dapat dipahami dari segi keseimbangan antara inang dan kebutuhan pakan. Hal tersebut menjadi bagian utama dalam pengendalian hayati (Lewis et al. 1998; van Emden 2002).

Sifat dan perilaku parasitoid A. dasyni dalam mengakses sumber pakan, memberikan pemahaman bahwa diperlukan suatu pengelolaan ekosistem pertanaman yang menguntungkan bagi parasitoid tersebut. Di satu sisi, pengelolaan ekosistem yang dibentuk menguntungkan parasitoid dan di sisi lain tidak merugikan pertumbuhan tanaman budidaya, yaitu lada.

Manipulasi lingkungan yang bertujuan mengonservasi musuh alami merupakan salah satu pendekatan dalam pengendalian hayati. Manipulasi lingkungan dapat dilakukan dengan menanam jenis tanaman penghasil nektar dan polen di sekitar tanaman utama (Stehr 1982; van Driesche & Bellows 1996). Banyak parasitoid dewasa memerlukan nutrisi dalam bentuk nektar, polen atau keduanya (Jervis et al. 1992, 1996; Landis et al. 2000).

Konservasi parasitoid A. dasyni baik melalui penanaman atau pengelolaan vegetasi liar yang tumbuh di sekitar tanaman lada dapat dilakukan sedemikian rupa menjadi satu kesatuan ekosistem yang tidak terpisahkan dengan tanaman lada. Beberapa hasil penelitian sebelumnya (Deciyanto & Asnawi 1997; Trisawa et al. 2006) menunjukkan bahwa kehadiran vegetasi liar atau tanaman lain berbunga di sekitar pertanaman dapat meningkatkan parasitisasi parasitoid pada tanaman lada. Di samping itu, menurut Kartosuwondo (1993) vegetasi liar dapat berfungsi sebagai reservoir parasitoid, contohnya Brassicaceae liar untuk parasitoid Diadegma semiclausum (Hymenoptera: Ichneumonidae).

Pada pertanaman lada tumbuh beberapa vegetasi liar berbunga sebagai sumber pakan parasitoid. Namun demikian belum diketahui bagaimana peranan masing-masing bunga vegetasi liar tersebut sebagai sumber nektar bagi parasitoid A. dasyni. Hal ini perlu diteliti, termasuk juga terhadap bunga A. pintoi yang selama ini dianjurkan ditanam pada kebun lada karena dianggap dapat meningkatkan tingkat parasitisasi parasitoid. Di sisi lain, banyak petani yang melakukan penyiangan vegetasi liar setengah bersih sampai bersih dan belum memahami pentingnya vegetasi tersebut. Penelitian pengaruh bunga vegetasi liar terhadap parasitoid A. dasyni dan evaluasinya pada karakteristik egroekosistem lada sangat diperlukan terutama untuk mendapatkan umpan balik dalam merancang agroekosistem lada yang benar dan menguntungkan.

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian bunga sebagai sumber nektar dari berbagai vegetasi liar terhadap kehidupan parasitoid A. dasyni asal telur Riptortus linearis. Pengkajian lama hidup dan reproduksi imago parasitoid A. dasyni yang diberi nektar dari berbagai vegetasi liar dapat dibandingkan. Dengan demikian, dapat ditentukan jenis vegetasi liar yang mendukung kehidupan parasitoid. Pengetahuan yang diperoleh diperlukan untuk mengelola ekosistem lada yang mampu menunjang pengendalian hayati kepik pengisap buah lada Dasynus piperis China (Hemiptera: Coreidae).

Bahan dan Metode

Penelitian dilakukan sejak bulan April 2009 sampai dengan Desember 2009 di laboratorium hama Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Bogor,

laboratorium dan rumah kaca Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung, dan kebun lada di Bangka.

Pembiakan R. linearis

Pembiakan R. linearis menggunakan kurungan berkerangka kayu dan berdinding kain kasa berukuran panjang 35 cm, lebar 35 cm, dan tinggi 75 cm di laboratorium. Serangga R. linearis diambil dari pertanaman kedelai kemudian dipelihara dalam kurungan dan diberi pakan kacang panjang yang diganti setiap 2 hari sekali. Di dalam kurungan juga digantungkan untaian kain wol sebagai tempat peneluran seangga. Telur yang diperoleh dari hasil pemeliharaan serangga R. linearis kemudian digunakan untuk pembiakan dan penelitian.

Pembiakan A. dasyni

Telur D. piperis asal pertanaman lada di Bangka dipelihara dalam tabung gelas bergaris tengah 1.5 cm, panjang 18.0 cm di laboratorium. Tabung reaksi ditutup dengan kapas yang dibungkus kain kasa. Perkembangan telur diamati sampai keluar imago A. dasyni. Imago A. dasyni dipindahkan ke tabung reaksi lain yang berukuran sama dan diberi pakan madu 10%.

Pembiakan A. dasyni dilakukan dengan cara setiap 10 telur R. linearis umur 2 hari dilekatkan dengan lem kertas cair pada kertas karton (pias) ukuran 1.0 cm x 5.0 cm. Pias telur dimasukkan ke dalam tabung reaksi bergaris tengah 1.5 cm dan panjang 18.0 cm yang berisi sepasang parasitoid A. dasyni. Pias telur diambil setelah 24 jam dan diganti dengan pias yang baru. Pias yang diambil dimasukkan ke dalam tabung reaksi lain yang berukuran sama, kemudian diamati sampai parasitoid keluar. Parasitoid hasil pembiakan digunakan untuk penelitian. Pemeliharaan D. piperis

Serangga D. piperis yang diperoleh dari pertanaman lada dipelihara dalam kurungan plastik milar bergaris tengah 18.0 cm dan tinggi 40.0 cm di rumah kaca. Kurungan tersebut menyungkup bibit lada dalam pot plastik bergaris tengah 22.0 cm dan tinggi 14.5 cm. Imago D. piperis diberi pakan buah lada umur 6 sampai 9 bulan yang digantungkan pada kawat di bagian atas kurungan atau dilekatkan pada bibit lada. Buah lada diganti setiap 2 hari. Pemasukan serangga dan atau penggantian buah lada melalui lubang yang ada di bagian atas kurungan.

Pemeliharaan imago D. piperis juga dilakukan langsung pada tanaman lada di lapangan. Imago D. piperis dimasukkan ke dalam kurungan yang menyungkup cabang dan buah lada. Telur yang diperoleh dari pemeliharaan imago D. piperis digunakan untuk penelitian.

Pengaruh Vegetasi Liar Berbunga Terhadap Lama hidup dan Keperidian Parasitoid

Dalam penelitian ini diuji tujuh jenis vegetasi liar berbunga sebagai sumber nektar, yaitu Ageratum conyzoides (Asteraceae), Vernonia cinerea (Asteraceae), Wedelia trilobata (Asteraceae), Cleome aspera (Capparaceae), Asystasia gangetica (Acanthaceae), Oxalis barrelieri (Oxalidaceae), dan Arachis pintoi (Fabaceae). Sebagai pembanding digunakan cairan madu 10%, air, dan tanpa pakan. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima ulangan

Masing-masing vegetasi liar yang diuji dikumpulkan dari kebun lada, kemudian ditanam dalam polibag, dan bunganya disungkup dengan botol plastik berdinding kain kasa. Sepasang parasitoid A. dasyni asal inang alternatif dan pias berisi 10 telur D. piperis umur 2 hari dimasukkan ke dalam botol. Pias telur diambil dari dalam botol setelah 24 jam. Pias telur yang diambil dimasukkan ke dalam tabung reaksi bergaris tengah 1.5 cm dan panjang 18.0 cm. Botol plastik berisi parasitoid selanjutnya dipindahkan ke bunga pada polibag yang lain dan ke dalam botol dimasukkan pias telur yang baru. Pemindahan parasitoid dan penggantian pias telur dilakukan selama parasitoid betina hidup. Pengamatan dilakukan terhadap lama hidup dan keperidian parasitoid.

Pengaruh Vegetasi Liar Berbunga Terhadap Perilaku Kunjungan Parasitoid Tujuh jenis vegetasi liar berbunga yang digunakan dalam penelitian sebelumnya diuji pengaruhnya terhadap perilaku kunjungan imago parasitoid betina yang lapar dan kenyang serta imago parasitoid jantan yang lapar. Pada percobaan parasitoid betina yang lapar dan kenyang, sebagai pembanding digunakan telur D. piperis umur 2 hari yang dilem dengan lem kertas cair pada pias karton berukuran 1.0 x 5.0 cm.

Setiap tangkai bunga vegetasi liar ditancapkan ke dalam tabung film yang berisi air agar bunga tidak cepat layu, sedangkan pias telur diletakkan di atas

tabung film. Setiap perlakuan kemudian diletakkan secara acak dalam kurungan stoples plastik bergaris tengah 14.0 cm. Stoples plastik disungkup dengan plastik milar bergaris tengah 14.0 cm dan tinggi 10.0 cm. Bagian atas sungkup ditutup dengan kain kasa. Pada bagian tengah kasa dibuat lubang 1.5 cm untuk memasukan parasitoid. Parasitoid betina dan jantan A. dasyni yang baru keluar dari telur R. linearis tidak diberi pakan selama kurang lebih 4 jam, kemudian dimasukkan ke dalam sungkup. Lubang tempat pemasukan parasitoid selanjutnya ditutup dengan kapas. Pengamatan dilakukan terhadap perilaku A. dasyni dalam memilih bunga. Parasitoid dianggap tidak memberikan respon jika selama 20 menit terhitung mulai dari dimasukkan ke dalam stoples parasitoid tersebut tidak memilih bunga. Pengamatan dilakukan masing-masing terhadap 32 imago parasitoid betina dan jantan A. dasyni.

Penelitian dengan cara yang sama juga dilakukan terhadap imago betina A. dasyni umur 4 hari yang kenyang, yaitu parasitoid yang sudah diberi pakan madu 10% selama hidupnya. Parasitoid dimasukkan ke dalam sungkup yang berisi bunga vegetasi liar dan telur D. piperis. Pengamatan dilakukan seperti pada penelitian parasitoid yang lapar. Pengamatan dilakukan pada 30 imago parasitoid betina A. dasyni.

Dari hasil penelitian di atas, ditentukan salah satu jenis bunga yang banyak dipilih oleh parasitoid betina A. dasyni. Bunga tersebut dan telur D. piperis digunakan sebagai perlakuan preferensi pilihan bebas imago A. dasyni yang lapar dan kenyang. Pengujian dilakukan dengan menggunakan lorong tabung ”Y”. Bunga dan telur D. piperis diletakkan secara terpisah, masing-masing pada salah satu ujung lorong dari 3 lorong yang saling berhubungan. Pada ujung lorong yang lain dilepaskan imago betina A. dasyni yang lapar atau kenyang. Setiap perlakuan parasitoid kenyang dan lapar diulang pada 40 imago betina A. dasyni. Pengamatan dilakukan terhadap persentase pilihan parasitoid, antara bunga dan telur untuk masing-masing kondisi parasitoid.

Pengaruh Vegetasi Liar Berbunga di Kebun Lada Terhadap Parasitisasi Kegiatan dilakukan pada kebun lada yang banyak ditumbuhi vegetasi liar (didominasi oleh C. aspera dan A. gangetica) dan kebun lada yang dilakukan penyiangan vegetasi liar. Masing-masing kebun lada terdiri atas 8 petak dengan

100 tanaman lada per petak. Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu selama 4 bulan. Telur D. piperis yang ditemukan pada pertanaman lada dari setiap petak kebun diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi berdiameter 1.5 cm dan panjang 18.0 cm. Tabung reaksi disimpan di laboratorium dan diamati jenis parasitoid yang keluar.

Analisis Data

Data pengaruh keberadaan bunga terhadap lama hidup dan keperidian parasitoid dianalisis dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji jarak

berganda Duncan (α = 0.05), dengan bantuan SAS (SAS Institute 1990). Nisbah

kelamin (% betina) parasitoid yang keluar dari masing-masing perlakuan diuji terhadap nisbah kelamin teoritis 50% berdasarkan uji khi kuadrat, begitu pula preferensi kunjungan parasitoid pada berbagai bunga. Data lama kunjungan parasitoid pada bunga dianalisis dengan sidik ragam, sedangkan data hasil penelitian pengaruh vegetasi liar berbunga di kebun lada terhadap parasitisasi dianalisis menggunakan uji-t pada α 0.05.

Hasil dan Pembahasan

Pengaruh Vegetasi Liar Berbunga Terhadap Lama hidup dan Keperidian Parasitoid

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nektar bunga sebagai pakan berpengaruh sangat nyata terhadap lama hidup imago betina (F = 62.81; db = 9; 4; 36; P < 0.0001) dan jantan A. dasyni (F = 8.23; db = 9; 4; 36; P < 0.0001) (Tabel 6.1). Di antara jenis bunga, nektar bunga C. aspera dan A. gangetica menyebabkan betina A. dasyni hidup lebih lama dan berbeda nyata dibandingkan jenis bunga lainnya. Nektar bunga C. aspera juga menyebabkan parasitoid jantan hidup lebih lama meskipun berbeda tidak nyata dengan parasitoid yang mengonsumsi nektar bunga A. gangetica. Secara umum, lama hidup imago parasitoid A. dasyni baik betina maupun jantan yang mengonsumsi nektar bunga, jauh di bawah kemampuan lama hidupnya jika dibandingkan imago yang mengonsumsi madu. Namun demikian, parasitoid hidup lebih lama jika dibandingkan parasitoid yang mengonsumsi air.

Tabel 6.1 Lama hidup (x ± SD) imago A. dasyni yang dipelihara pada bunga vegetasi

Bunga vegetasi dan Pembanding

Lama hidup (hari)*)

Betina Jantan Asteraceae A. conyzoides V. cinerea W. trilobata Capparaceae C. aspera Acanthaceae A. gangetica Oxalidaceae O. barrelieri Fabaceae A. pintoi Cairan madu 10% Air Tanpa pakan 1.80 ± 045 c 2.60 ± 055 c 2.20 ± 045 c 9.60 ± 4.04 b 9.20 ± 3.90 b 3.20 ± 0.84 c 2.20 ± 0.45 c 36.80 ± 5.89 a 1.20 ± 0.45 c 1.00 ± 0.00 c 1.60 ± 0.55 cd 2.40 ± 0.55 bc 2.20 ± 0.45 bcd 3.40 ± 1.95 b 2.80 ± 0.84 bc 2.00 ± 0.00 cd 2.00 ± 0.00 cd 5.60 ± 1.52 a 1.00 ± 0.00 d 1.00 ± 0.00 d *)

Imago betina A. dasyni yang hidup lebih lama, memberikan pengaruh nyata terhadap keperidian (F = 46.45; db = 9, 4, 36; P < 0.0001). Betina parasitoid yang mengonsumsi nektar bunga C. aspera dan A. gangetica mampu menghasilkan keturunan, sedangkan yang mengonsumsi nektar dari jenis bunga

Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata (uji jarak berganda Duncan, α = 0.05) setelah ditransformasi ke √x + 0.5

Berdasarkan Tabel 6.1 terlihat bahwa beberapa jenis bunga vegetasi liar yang tumbuh di ekosistem tanaman lada bukan merupakan sumber pakan yang baik bagi kehidupan parasitoid A. dasyni. Hanya ada dua jenis vegetasi liar yaitu C. aspera dan A. gangetica yang memberikan pengaruh terhadap lama hidup betina dan jantan A. dasyni. Lama hidup parasitoid betina pada kedua vegetasi tersebut meningkat 8 kali lipat jika dibandingkan parasitoid yang hanya mengonsumsi air, sedangkan terhadap parasitoid jantan hanya 3 kali lipat.

Pada pengujian ini parasitoid dikurung dan hanya mengonsumsi nektar bunga yang disediakan. Jika parasitoid hidup di lapangan, kemungkinan lama hidupnya akan meningkat karena parasitoid lebih bebas mengunjungi sejumlah bunga dan mengonsumsi nektar sebanyak yang dibutuhkan. Hal ini dapat dilihat dari potensi lama hidup A. dasyni yang mencapai 36.8 hari jika diberi pakan madu.

yang lain tidak menghasilkan keturunan (Tabel 6.2). Dari keturunan yang diperoleh, nisbah kelamin (% betina) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada parasitoid yang mengonsumsi nektar bunga C. aspera (χ2 = 2.60; P = 0.107) atau nektar bunga A. gangetica ( χ2 = 3.60; P = 0.058) dan yang mengonsumsi cairan madu 10% (χ2

Bunga vegetasi liar dan pembanding

= 2.78; P = 0.095) jika dibandingkan nisbah teoritis 50%. Tabel 6.2 Jumlah keturunan dan nisbah kelamin A. dasyni yang dipelihara pada bunga vegetasi liar

Jumlah keturunan (x ± SD individu) Nisbah kelamin (% betina ± SD) *) **) Asteraceae A. conyzoides V. cinerea W. trilobata Capparaceae C. aspera Acanthaceae A. gangetica Oxalidaceae O. barrelieri Fabaceae A. pintoi Cairan madu 10% Air Tanpa pakan 0 0 0 13.80 ± 7.46 b 12.20 ± 6.50 b 0 0 90.80 ± 23.81 a 0 0 68.55 ± 8.32 tn 71.94 ± 4.59 tn 69.22 ± 3.71 tn *)

Angka dalam kolom kedua yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata (uji jarak bergand Duncan, α = 0.05) setelah ditransformasi ke √x + 0.5

**)

Lama hidup dan keperidian parasitoid sangat bergantung pada kandungan nutrisi dari pakan yang dikonsumsi (Idris & Grafius 1995). Hasil analisis kadar

Angka dalam kolom ketiga yang diikuti oleh huruf tn tidak berbeda nyata terhadap nisbah

kelamin teoritis 50% berdasarkan uji khi kuadrat pada α = 0.05

Keperidan betina A. dasyni yang mengonsumsi nektar C. aspera dan A. gangetica masih rendah, masing-masing 13.80 butir dan 12.20 butir jika dibandingkan potensinya yang mencapai 90.8 butir jika diberi pakan madu. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan lama hidup yang dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi. Namun demikian, berdasarkan nisbah kelamin (% betina) yang diperoleh, tidak menunjukkan perbedaan dengan A. dasyni yang mengonsumsi madu. Hal ini sangat menguntungkan untuk keberlanjutan parasitisasi dan perkembangan populasi parasitoid.

gula tereduksi (Tabel 6.3) menunjukkan bahwa terdapat variasi di antara jenis bunga vegetasi liar yang diuji. Bunga O. barrelieri memiliki kandungan gula tereduksi paling tinggi, sedangkan bunga A. conyzoides dan A. pintoi kadar gulanya tidak terdeteksi yang memungkinkan bunga tersebut tidak mengandung gula atau sangat rendah, sehingga hal tersebut tidak menunjang kehidupan parasitoid A. dasyni. Menurut Jervis et al. (1996) sumber gula dibutuhkan oleh parasitoid untuk meningkatkan lama hidup dan kesuburan.

{

Tabel 6.3 Kadar gula tereduksi pada berbagai bunga vegetasi liar

Bunga vegetasi Kadar gula tereduksi (%) Asteraceae : A. conyzoides V. cinerea W. trilobata Capparaceae: C. aspera Acanthaceae : A. gangetica Oxalidaceae : O. barrelieri Fabaceae: A. pintoi - 0.0687 0.5200 0.0464 0.8363 1.4200 - - tidak terdeteksi

Meskipun bunga memiliki kandungan nutrisi untuk pakan parasitoid, tetapi akses terhadap bunga tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti bentuk bunga dan aroma bunga. Bentuk bunga berkaitan dengan kemudahan mendapatkan nektar, sedangkan aroma bunga berkaitan dengan ketertarikan parasitoid. Bentuk mahkota bunga O. barrelieri dan W. trilobata sangat terbuka yang memungkinkan parasitoid dapat mengakses nektarnya. Ketidaktertarikan parasitoid A. dasyni terhadap kedua bunga tersebut kemungkinan disebabkan oleh aroma bunga yang tidak disukai parasitoid. Pada kedua bunga tersebut memang tercium aroma yang kurang menarik.

Bentuk perbungaan dari jenis bunga yang lain menunjukkan bahwa bunga V. cinerea berbentuk bongkol, mengelompok berwarna kemerahan, mirip bunga A. conyzoides yang juga berbentuk bongkol mengelompok, tetapi berwarna putih. Bentuk bunga seperti ini dapat menghalangi kegiatan pakan parasitoid. Pada

bunga C. aspera, terdapat sepal yang berjumlah 2 sampai 3 buah dengan panjang mencapai 0.5 mm dan memiliki rambut-rambut kelenjar. Di samping itu, terdapat petal berwarna putih dengan panjang 15 mm yang berbentuk oblong-lanceolate. Bunga juga memiliki stamen yang berjumlah 6 sampai 7 buah dengan panjang 4 mm sampai 6 mm (Backer & van den Brink Jr 1963; van Steenis 1972). Pada bunga A. gangetica, bentuk bunga adalah mengelompok, berwarna putih atau ungu, memiliki kaliks dengan panjang 5.0 mm sampai 9.0 mm dan korola dengan panjang 2.0 cm sampai 3.5 cm (Soedarsan et al. 1985; Lemmens & Bunyapraphatsara 2003).

Pengaruh Vegetasi Liar Berbunga Terhadap Perilaku Kunjungan Parasitoid Kunjungan parasitoid pada bunga vegetasi liar sebagai sumber pakan tampaknya dipengaruhi oleh warna bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga A. pintoi dan W. trilobata yang berwarna kuning cerah sangat menarik perhatian imago parasitoid. Betina A. dasyni yang lapar, lebih banyak mengunjungi kedua bunga tersebut dibandingkan jenis bunga yang lain, yaitu sebanyak 10 ekor (31.25 %) pada A. pintoi dan 6 ekor (18.75%) pada W. trilobata. Pada percobaan ini juga tidak terjadi adanya kunjungan dari parasitoid betina yang lapar terhadap inang (telur). Hal ini membuktikan bahwa parasitoid betina yang lapar akan mencari pakan dibandingkan inang. Di samping itu, terdapat 2 ekor parasitoid betina yang lapar yang tidak menunjukkan respon terhadap semua perlakuan. Parasitoid tersebut lebih banyak diam atau begerak di atas kurungan. Oleh karena itu, parasitoid yang tidak menunjukkan respon tidak dimasukkan dalam analisis data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan yang nyata (χ2

= 19.60; db = 7; P = 0.007) dari proporsi kunjungan parasitoid betina yang lapar pada beberapa bunga vegetasi liar dan inang (Gambar 6.1).

Hasil pilihan yang sama juga terjadi pada imago jantan A. dasyni yang lapar. Bunga A. pintoi lebih banyak dikunjungi (7 ekor = 21.88%) dibandingkan jenis bunga vegetasi liar. Pada bunga A. conyzoides, V. cinerea, dan O. barrelieri serta inang (telur) tidak terdapat parasitoid jantan lapar yang berkunjung. Pada percobaan ini, jumlah parasitoid yang tidak menunjukkan respon lebih banyak dibanding betina yang lapar yaitu sebanyak 17 ekor (53.13%). Sebagaimana pada

0 2 4 6 8 10 12 A. c onyzoi des V. c inerea W. t rilobat a C. as pera A. gange tica O. bar relie ri A. pi ntoi Telur (inang) Jum la h pa ra si toi d (e kor)

Gambar 6.1 Pilihan parasitoid A. dasyni betina yang lapar terhadap bunga vegetasi liar dan inang

parasitoid betina yang lapar, parasitoid yang tidak menunjukkan respon juga tidak dimasukkan dalam analisis data. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan yang nyata (χ2

= 18.13; db = 6; P = 0.006) dari proporsi kunjungan jantan parasitoid yang lapar pada beberapa bunga vegetasi liar (Gambar 6.2).

Lama kunjungan parasitoid A. dasyni baik betina maupun jantan yang lapar pada bunga sangat bervariasi, masing-masing berkisar antara 0.18 menit sampai 5.59 menit dan 0.52 menit sampai 2.43 menit. Meskipun bunga A. pintoi lebih banyak dikunjungi, tetapi rataan lama kunjungan parasitoid betina dan jantan yang lapar lebih rendah dibandingkan pada bunga A. gangetica dan C. aspera. Hasil analisis lama kunjungan dari setiap bunga yang dikunjungi menunjukkan adanya perbedaan, baik pada parasitoid betina yang lapar (F = 4.81; db = 6; P =