BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERBANKAN
C. Pengaturan dan Pengawasan Bank di Indonesia
3. Tujuan Perbankan
29
“Pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia”,
demikian amanat yang diberikan di dalam Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan juga diatur di dalam Pasal 24 Secara lengkap mengenai hal ini diatur dalam ketentuan Pasal 4
Undang-Undang Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 yang merumuskan perbankan Indonesia
bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka
meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah
peningkatan kesejahteran rakyat banyak.
C. Pengaturan dan pengawasan Bank di Indonesia 1. Bank Indonesia sebagai Otoritas Pengawasan Bank
28
Try Widiyono, Aspek Hukum Operasional Transaksi Produk Perbankan di Indonesia: Simpanan, Jasa, dan Kredit, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2006), hal. 7.
29
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.30 Jadi, otoritas
sebagai pembina dan pengawas terhadap bank berada di tangan bank Indonesia.31
Bank Indonesia sebagai otoritas perbankan berdasarkan ketentuan
perundangan memiliki kewenangan untuk membuat dan menerapkan ketentuan
perundangan (right to regulate) yang berkaitan dengan kegiatan operasioanal
sebuah bank. Produk-produk peraturan yang telah dikeluarkan Bank Indonesia
yang terkait dengan berbagai aspek usaha bank jumlahnya cukup banyak. Untuk
mengakomodasi perkembangan di sektor perbankan termasuk derasnya pengaruh
lingkungan perbankan internasional yang banyak dipengaruhi oleh Bank for
International Settlement (BIS), Bank Indonesia dari waktu ke waktu senantiasa melakukan penyesuaian terhadap peraturan agar dapat menerapkan prinsip-prinsip
perbankan yang sehat sesuai dengan pratik-praktik internasional yang lazim
(international best practice).32
Sebagai Pembina dan pengawas perbankan di Indonesia, Bank Indonesia
dalam menjalankan peran dan fungsinya tidak terlepas dari tujuannya yang diatur
secara eksplisit di dalam undang-undang. Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai
dan memelihara kestabilan nilai rupiah (Pasal 7 Undang-Undang Nomo 23 Tahun
1999 tentang Bank Indonesia)33
30
Mutiara Hikmah, Fungsi Bank Indonesia sebagai Pengawas Perbankan di Indonesia, (Jurnal Hukum dan Pembangunan, Tahun ke-37, Nomor 4, Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Oktober-Desember 2007), hal. 7.
31
Rachmadi Usman, Op. cit., hal. 124.
32
Dahlan Siamat, Op. cit., hal. 193.
33
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
2. Pelaksanaan Pengaturan dan Pengawasan Bank
Dalam rangka melaksanakan tugas mengatur dan mengawasi bank,
menurut ketentuan Pasal 24 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank
Indonesia, bahwa Bank Indonesia menetapkan peraturan, memberikan dan
mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu dari bank,
melaksanakan pengawasan bank, dan mengenakan sanksi terhadap bank sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan. Dalam hal ini, tentu pengaturan dan
pengawasan bank juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor. 10
Tahun 1998.
Mengenai kewenangan Bank Indonesia dalam melakukan pengaturan dan
pengawasan bank, termasuk di dalamnya pelaksanaan pembinaan.34 Apa yang
dimaksud dengan fungsi “pembinaan” dan “pengawasan” bank oleh Bank
Indonesia dapat dibaca pada Undang-Undang Perbankan yang diubah. Penjelasan
Pasal 29 memberikan pengertian fungsi “pembinaan” dan “pengawasan” bank
tersebut, sebagai berikut:35
4) kegiatan usaha bank;
a. Pembinaan adalah upaya-upaya yang dilakukan dengan cara menetapkan
peraturan yang menyangkut aspek-aspek:
1) kelembagaan bank;
2) kepemilikan bank;
3) kepengurusan bank;
34
Muhamad Djumhana I, Op. cit., hal. 276.
35
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
5) pelaporan bank; serta
6) lainnya yang berhubungan dengan kegiatan operasional bank.
b. Pengawasan meliputi pengawasan tidak langsung, yang terutama dalam
bentuk pengawasan dini melalui penelitian, analisis dan evaluasi laporan bank;
dan pengawasan langsung dalam bentuk pemeriksaan yang disusul dengan
tindakan-tindakan perbaikan.
Pengawasan tidak langsung dimaksudkan untuk melakukan penilaian terhadap
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dan perkembangan bank, kepatuhan
terhadap ketentuan yang berlaku, serta penerapan early warning system
(diteksi dini) untuk mengetahui tingkat kesulitan yang dihadapi bank secara
lebih awal.36
Jadi Undang-Undang Perbankan yang diubah membedakan secara jelas
yang dimaksud dengan fungsi “pembinaan” dan fungsi “pengawasan” dari bank
tersebut; fungsi “pembinaan” menitikberatkan pada atau diartikan dengan
“regulation”, sedangkan fungsi “pengawasan” menitikberatkan pada atau
diartikan dengan “supervision” atau “penyeliaan”. 37
Sedangkan dalam melaksanakan tugas “pengaturan” bank, Bank Indonesia
berwenang menetapkan ketentuan-ketentuan perbankan yang memuat prinsip
36
Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, (Bandung: Books Terrace & Library, 2005), hal. 224.
37
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
kehati-hatian (prudential banking) yang ditetapkan dengan Peraturan Bank
Indonesia.38
Ketentuan-ketentuan perbankan yang memuat prinsip kehati-hatian itu
bertujuan untuk memberikan rambu-rambu bagi penyelenggaraan kegiatan usaha
perbankan agar terwujud sistem perbankan yang sehat dan efisien. Oleh karena
itu, peraturan-peraturan di bidang perbankan tersebut harus didukung pula dengan
sanksi-sanksi yang adil serta harus disesuaikan pula dengan standar yang berlaku
secara internasioanal.
39
Pengawasan bank pada prinsipnya terbagi dua, yaitu, pengawasan dalam
rangka mendorong bank-bank untuk ikut menunjang pertumbuhan ekonomi dan
menjaga kestabilan moneter (macro-economic supervision), dan pengawasan yang
mendorong agar bank secara individual tetap sehat serta mampu memelihara
kepentingan masyarakat dengan baik (prudential supervision).40
Sasaran yang ingin dicapai oleh macro-economic supervision adalah
mengarahakan dan mendorong bank serta sekaligus mengawasinya, agar dapat
ikut berperan dalam berbagai program pencapaian sasaran ekonomi makro, baik
yang terkait dengan kebijaksanaan umum untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi, kemantapan neraca pembayaran, perluasan lapangan kerja, kestabilan
moneter maupun upaya pemerataan pendapatan dan kesempatan berusaha.
Adapun tujuan prudential supervision adalah mengupayakan agar setiap bank
secara individual sehat dan aman, serta keseluruhan industeri perbanakan menjadi
38
Hermansyah, Op. cit., hal. 174.
39
Soedjono Dirdjosisworo, Hukum Perbankan di Indonesia: Bank Umum (Bandung: Mandar Maju, 2003), hal. 135.
40
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
sehat dan dapat memelihara kepercayaan masyarakat. Bank perlu dipagari dengan
berbagai peraturan yang membatasi atau sekurang-kurangnya mengingatkan
mengenai perlunya penanganan risiko secara seksama, dan bahkan jika perlu
melarang bank melakukan kegiatan tertentu yang mengandung risiko tinggi.41
Dalam rangka pengawasan yang dilakukannya, Bank Indonesia dapat
menjalankan pemeriksaan secara berkala sekurang-kurangnya satu tahun sekali
untuk setiap bank. Di samping itu, pemeriksaan dapat dilakukan secara insidentil
setiap waktu apabila diperlukan untuk meyakinkan hasil pengawasan tidak
langsung dan apabila terdapat indikasi adanya penyimpangan.42
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan buku-buku, berkas-berkas, warkat,
catatan, dokumen dan data elektronis, termasuk salinan-salinannya. Pemeriksaan
ini pula apabila diperlukan untuk memperoleh hasil yang menyeluruh, maka dapat
dilakukan terhadap perusahaan induknya, anak perusahaannya, pihak terkait, juga
terhadap pihak terafiliasi dari bank yang bersangkutan.
Hal ini sesuai
dengan ketentuan Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia.
43
Yang termasuk pihak yang terafiliasi adalah sebagai berikut:44
41
Ibid, hal. 221.
42
Muhamad Djumhana I, Op. cit., hal. 104-105.
43
Ibid, hal 105.
44
Try Widiyono, Op. cit., hal. 105.
a. Anggota dewan komisaris bank, pengawas bank, direksi atau kuasanya atau
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
b. Anggota pengurus, pengawas, pengelola atau kuasanya, pejabat atau pegawai
bank khusus bagi bank yang berbentuk badan hukum koperasi, sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Pihak yang memberikan jasanya kepada bank, antara lain akuntan publik,
penilai, konsultan hukum, dan konsultan lainnya.
d. Pihak yang menurut penilaian Bank Indonesia turut serta mempengaruhi
pengelolaan bank, antara lain pemegang saham bank dan keluarganya,
keluarga komisaris bank, keluarga pengawas bank, keluarga direksi bank, dan
keluarga pengurus bank.
Integritas dan keefektifan proses pemeriksaan bergantung kepada
kebebasan pemeriksa dari pengaruh pertimbangan politik. Di samping itu, dalam
proses pemeriksaan hubungan antara pemeriksa dan bank harus didasarkan kepada
adanya kerjasama. Yang paling utama dalam kerjasama tersebut adalah bank
harus bersikap jujur dan terbuka. Kerjasama dan keterbukaan dapat mencegah
aktivitas kejahatan berskala kecil yang kemudian berkembang menjadi kerugian
yang parah.45
Melalui pengaturan dan pengawasan bank diharapkan dunia perbankan
Indonesia selalu menaati kewajiban-kewajibannya yang telah ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang
45
Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank: Suatu Gagasan tentang Pendirian Lembaga Penjamin Simpanan di Indonesia (Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2002), hal. 48.
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1992 tentang Perbankan, yaitu:46
46
Muhamad Djumhana I, Op. cit., hal. 279-280.
1. Memelihara kesehatannya sesuai dengan ketentuan tentang aspek permodalan,
kualitas aset, kualitas manajemen, rentabilitas, likuiditas, dan solvabilitas dan
aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, serta setiap kegiatannya
didasarkan kepada prinsip kehati-hatian (Pasal 29 ayat (2)).
2. Menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah
yang mempercayakan dananya kepada bank, dalam memeberikan kredit atau
pembiayaan berdasarkan prinsip syariah serta kegiatan usaha lainnya (Pasal 29
ayat (3)).
3. Menyediakan informasi untuk kepentingan nasabah mengenai kemungkinan
timbulnya risiko kerugian sehubungan dengan transaksi nasabah yang
dilakukan melalui bank (Pasal 29 ayat (4)).
4. Menjamin dana masyarakat yang disimpan pada bank yang bersangkutan
(Pasal 37 B ayat (1)).
5. Merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya
(Pasal 40 ayat (1)).
6. Memberikan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya
apabila diperintahkan oleh Bank Indonesia sesuai dengan kebutuhan tertentu
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
7. Memberikan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya
kepada pihak yang ditunjuk oleh nasabah penyimpan tersebut apabila diminta
atau atas persetujuan atau kuasa dari nasabah penyimpan (Pasal 44 A).
Kewajiban lainnya yang masih diatur dalam Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan, yaitu:47
47
Ibid, hal. 280.
1. Menyampaikan segala keterangan dan penjelasan mengenai usahanya menurut
tata cara yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (Pasal 30 ayat (1))
2. Memberikan kesempatan bagi pemeriksaan buku-buku dan berkas-berkas
yang ada padanya, serta memberikan bantuan yang diperlukan dalam rangka
memperoleh kebenaran dari segala keterangan, dokumen, dan penjelasan yang
dilaporkan (Pasal 30 ayat (2)) jo. Pasal 29 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1999 tentang Bank Indonesia).
3. Menyampaikan kepada Bank Indonesia neraca dan perhitungan laba rugi
tahunan serta penjelasaannya, juga laporan berkala lainnya dalam waktu dan
bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (Pasal 34 ayat (1)).
4. Mengaudit neraca dan perhitungan laba rugi oleh akuntan publik (Pasal 34
ayat (2)).
5. Mengumumkan neraca dan perhitungan laba rugi dalam waktu dan bentuk
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
Berkaitan dengan pengaturan dan pengawasan bank, pada dasarnya hal-hal
yang dapat dilakukan oleh otoritas pengawasan meliputi empat kewenangan,
yaitu:48
Pada umumnya persyaratan pendirian bank menyangkut tiga aspek, yaitu (1)
akhlak dan moral calon pemilik dan pengurus bank, (2) kemampuan
menyediakan dana dalam jumlah tertentu untuk modal bank, dan (3)
kesungguhan dan kemampuan dari para calon pemilik dan pengurus bank
dalam melakukan kegiatan usaha bank.
1. Kewenangan memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan
usaha tertentu dari bank (power to license)
Melalui kewenangan ini memungkinkan ditetapkannya ketentuan dan
persyaratan pendirian sebuah bank oleh otoritas pengawas. Kewenanagn
pemberian izin ini merupakan seleksi paling awal terhadap kehadiran sebuah
bank dengan menetapkan tata cara perizinan dan pendirian suatu bank.
49
Kewenangan untuk mengatur ini memungkinkan otoritas pengawas bank
untuk menetapkan ketentuan yang menyangkut aspek kegiatan usaha Kewenanangan dalam pemberian izin tersebut juga memungkinkan otoritas
pengawas bank mencegah terjadinya pendirian bank yang tidak didukung
dengan modal yang cukup, yang kurang dipersiapkan dengan baik atau yang
dapat digunakan untuk kepntingan pribadi pemilik atau pengurus tanpa
mengindahkan kepentingan masyarakat.
2. Kewenangan untuk mengatur (power to regulate)
48
Hermansyah, Op. cit., hal. 165-167.
49
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
perbankan dalam rangka menciptakan adanya perbankan yang sehat dan
mampu memenuhi jasa perbankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ketentuan yang dapat ditetapkan antara lain mencakup pengaturan likuiditas
dan solvabilitas bank, jenis usaha yang dapat dilakukan, dan risiko, atau
exposure yang dapat diambil oleh bank.
3. Kewenangan untuk mengendalikan/ mengawasi (power to control)
Kewenangan untuk mengendalikan atau mengawasi ini adalah kewenangan
yang paling mendasar yang diperlukan oleh otoritas pengawas bank.
Pengawasan bank dilakukan melalui pengawasan tidak langsung (off site
supervision), yaitu pengawasan yang dilakukan melalui alat pantau, seperti laporan berkala yang disampaikan bank, laporan hasil pemeriksaan, dan
informasi lainnya. Dengan data yang diperoleh melalui alat pantau tersebut,
otoritas pengawas melakukan penilaian terhadap keadaan usaha dan kesehatan
bank.
Selain melalui pengawasan tidak langsung tersebut di atas, otoritas pengawas
juga dapat melakukan pemeriksaan langsung (on site examination), yang dapat
berupa pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus. Pengawasan langsung ini
bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang ketaatan terhadap peraturan
yang berlaku serta untuk mengetahui apakah terdapat praktik-praktik yang
tidak sehat yang membahayakan kelangsungan usaha bank.
4. Kewenangan untuk mengenakan sanksi (power to impose sanction)
Kewenangan yang keempat ini merupakan kewenangan untuk menjatuhkan
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
atau dipersyaratkan dalam kewenangan-kewenangan tersebut di atas.
Pengenaan sanksi ini dimaksudkan agar bank melakukan perbaikan atas
kelemahan dan penyimpangan yang dilakukannya. Dengan perkataan lain,
dalam pengenaan sanksi oleh otoritas pengawas bank tersebut mengandung
unsur pembinaan agar suatu bank sungguh-sungguh taat dalam menerapkan
peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip perbankan yang sehat.
Dalam rangka pelaksanaan tugas pengaturan, Bank Indonesia
mengeluarkan pokok-pokok ketentuan, antara lain yang berkaitan dengan
masalah:50
Di bidang perizinan, cakupan wewenang Bank Indonesia meliputi: a. perizinan bank;
b. kelembagaan bank, temasuk kepengurusan dan kepemilikan;
c. kegiatan usaha bank pada umumnya;
d. kegiatan usaha bank berdasarkan prinsip syariah;
e. merger, konsolidasi, dan akuisisi;
f. sistem informasi antar bank;
g. tata cara pengawasan bank;
h. sistem pelaporan bank kepada Bank Indonesia;
i. penyehatan perbankan;
j. pencabutan izin usaha, likuidasi, dan pembubaran bentuk hukum bank;
k. lembaga-lembaga pendukung sistem perbankan.
51
50
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
a. memberikan dan mencabut izin usaha bank;
b. memberikan izin pembukaan, penutupan, dan pemindahan kantor bank;
c. memberikan persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank;
d. memberikan izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha
tertentu.
Mengenai pencabutan izin usaha bank dilakukan apabila terjadi hal-hal
berikut:52
1. Menurut penilaian Bank Indonesia suatu bank diperkirakan mengalami
kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, dan tindakan
penyelamatan yang dilakukan Bank Indonesia belum cukup mengatasi
kesulitan yang dihadapi bank. Tindakan penyelamatan yang dilakukan Bank
Indonesia yang dimaksud adalah:53
51
Suwidi Tono, dkk, Op. cit., hal. 179.
52
Malayu S.P. Hasibuan, Op. cit., hal. 53.
53
Kasmir, Op. cit., hal. 56.
a) memerintahkan pemegang saham untuk menambah modal;
b) pemegang saham mengganti dewan komisaris dan/ atau direksi bank;
c) bank menghapusbukukan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip
syariah yang macet (write-off) dan memperhitungkan kerugian bank
dengan modalnya;
d) bank melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain;
e) bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambilalih seluruh
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
f) bank menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank
kepada pihak lain;
g) bank menjual sebagian atau seluruh harta dan/ atau kewajiban kepada bank
atau pihak lain.
2. Menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat membahayakan
sistem perbankan.
3. Terdapat permintaan dari pemilik atau pemegang saham.
Pencabutan izin usaha ditetapkan dalam Surat Keputusan Direksi Bank
Indonesia yang memuat antara lain:54
Mengenai tugas pengawasan bank, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia dalam Pasal 34 disebutkan bahwa tugas mengawasi bank
akan dilakukan oleh lembaga pengawas sektor jasa keuangan yang independen,
yang pembentukannya dilakukan selambat-lambatnya 31 Desember 2010. 1. penetapan pencabutan izin usaha;
2. perintah penghentian kegiatan usaha termasuk seluruh kantor-kantornya;
3. perintah bahwa setiap tindakan hukum yang dilakukan oleh pengurus bank
wajib memperoleh persetujuan dari bank Indonesia;
4. perintah pelaksanaan ketentuan pembubaran badan hukum bank; pembentukan
tim likuidasi dan penyelenggaraan rapat umum pemegang saham.
C. Tugas Pengawasan Bank ke Depan
54
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
Lembaga Pengawas Jasa Keuangan yang akan dibentuk tersebut melakukan
pengawasan terhadap bank dan perusahan-perusahaan sektor jasa keuangan
lainnya yang meliputi asuransi, dana pensiun, sekuritas, modal ventura dan
perusahaan pembiayaan, serta badan-badan lain yang menyelenggarakan
pengelolaan dana masyarakat.55
Lembaga ini bersifat independen dalam menjalankan tugasnya dan
kedudukannya berada di luar pemerintah dan berkewajiban menyampaikan
laporan kepada Badan Pemeriksa Keuangan dan Dewan Perwakilan Rakyat.
Dalam melaksanakan tugasnya, lembaga ini (supervisory board) melakukan
koordinasi dan kerja sama dengan Bank Indonesia sebagai bank sentral yang akan
diatur dalam undang-undang pembentukan lembaga pengawas dimaksud.
Lembaga pengawas ini dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugas pengawasan bank melalui koordinasi dengan Bank Indonesia
dan meminta penjelasan dari Bank Indonesia mengenai keterangan dan data
makro yang diperlukan.56
Pengalihan fungsi pengawasan bank dari Bank Indonesia kepada lembaga
pengawasan sektor jasa keuangan dilakukan secara bertahap setelah memenuhi
syarat-syarat yang meliputi infrastruktur, anggaran, personalia, struktur organisasi,
sistem informasi, sistem dokumentasi, dan berbagai peraturan pelaksanaan berupa
55
Dahlan Siamat, Op. cit., hal. 158.
56
Leden Marpaung, Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana terhadap Perbankan, (Jakarta: Djambatan, 2003), hal. 57.
Harningtias Putri : Pengaturan Dan Pengawasan Bank Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan The Basel Core
Principles For Effective Banking Supervision, 2008.
USU Repository © 2009
perangkat hukum serta dilaporkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.57 Adapun
tugas pengaturan bank akan tetap dilakukan oleh Bank Indonesia.58
The Basel Committee on Banking Supervision (Komite Basel) adalah sebuah komite otoritas pengawas perbankan yang didirikan oleh gubernur bank
sentral dari negara-negara Group of Ten (G-10) pada tahun 1974. Lembaga ini
tediri dari wakil-wakil senior dari otoritas pengawas perbankan dan bank sentral
dari Belgia, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Luxemburg, Belanda,
Swedia, Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat. Lembaga ini biasanya bertemu di