• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN HUKUMAN MATI DI DALAM UU NO. 15

B. Pengaturan Hukum Dalam UU No. 15 Tahun 2003

Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme membagi tindak pidana terorisme menjadi dua bagian, yaitu :

a. Tindak pidana terorisme dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 19, dan

b. Tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme dalam Pasal 20 sampai Pasal 24.

Berarti Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 mengatur secara Materill dan Formil sekaligus, sehingga terdapat pengucualian dari asas yang secara umum diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) maupun Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sesuai asas “lex sepecialis derogat lex generalis” keberlakuan asas tersebut tentunnya harus memenuhi kriteria.38

a. Bahwa pengecualian terhadap Undang-Undang yang bersifat umum, dilakukan oleh peraturan yang setingkat dengan dirinnya, yaitu Undang-Undang

b. Bahwa pengecualian termaksud dinyatakan dalan Undang-Undang khusus tersebut, sehingga pengecualiannya hanya berlaku sebatas pengecualian yang

38Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Suatu Pengantar, (Yokyakarta: Liberti, 1996), hal. 17

dinyatakan dan bagian yang tidak dikecualikan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan undang-undang khusus tersebut.

Hukum pidana khusus bukan hanya mengatur tentang hukum pidana materillnya saja, akan tetapi juga hukum acarannya. Oleh karena itu harus diperhatikan aturan-aturan tersebut seyogyannya tetap memperhatikan asas-asas umum yang terdapat baik dalam ketentuan umum yang terdapat dalam KUHP bagi hukum pidana materillnya, sedangkan untuk hukum pidana formilnya harus tunduk terhadap ketentuan yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP).39

Sebagaimana pengertian tersebut diatas maka pengaturan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, bahwa untuk menyelesaikan kasus-kasus Tindak Pidana Terorisme, hukum acara yang berlaku adalah yang sebagaimana ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. Artinya pelaksanaan Undang-Undang Khusus ini tidak boleh bertentangan dengan asas hukum pidana dengan asas hukum pidana dan hukum acara pidana yang telah ada.40

Dalam Perpu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak pidana Terorisme yang dijadikan sebagai dasar hukum dalam pemberantasan tidak pidana terorisme di Indonesia, menyebutkan bahwa yang di maksud dengan tindak pidana terorisme sebagai berikut : tindak pidana terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.41

39Loeby Luqman, Op. Cit, hal. 149

40Ibid, hal. 13

41Pasal 1 Ayat UU No. 15 Tahun 2003

K. H. A Hasyim Muzadi dalam bukunya merumuskan ketentuan sanksi pidana dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 adalah sebagai berikut :42

Tindak pidana terorisme tersebut termasuk tersebut diatas terdapat dalam rumusan Pasal 6 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang di kualifikasikan sebagai delik materil. Disebut kan dalam Pasla 6 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003, bahwa setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas menimbulkan korban yang bersifat masal, dengan cara merampas kemerdekaaan dan hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek fital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik maupun fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau pidana Yang dimaksudkan unsur-unsur terorisme dalam Pasal 1 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pemberantasan Terorisme diatas adalah perbuatan melawan hukum yang dilakukan secara sistematis dengan maksud untuk menghancurkan kedaulatan bangsa dan negara dengan membahayakan kedaulatan bangsa dan negara yang dilakukan dengan mrnggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan, menimbulkan suasana teror, atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek fital yang strategis, lingkungan hidup, atau fasilitas publik maupun fasilitas internasional.

42K. H. A Hasyim Muzadi, Kejahatan Terorisme Presfektif Agama, HAM, dan Hukum, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2004), hal. 76-82

seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (emapat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Ketentuan umum Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme mendefenisikan terorisme sebagai segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme membagi tindak pidana terorisme menjadi 2 bagian, yaitu :

a. Tindak pidana terorisme, dan

b. Tindak pidana yang brkaitan dengan tindak pidana terorisme.

Tindak pidana terorisme dirumuskan dalam Bab III Pasal 6-19 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dimana perumusan tersebut dapat di bagi dalam 3 bagian, yaitu :43

a. Pasal 6-16 mengatur tentang tindak pidana terorisme

b. Pasal 17-18 mengatur tentang tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh Korporasi

c. Pasal 19 mengatur tentang pengecualian penjatuhan pidana minimum khusus, pidana mati, atau pidana penjara seumur hidup bagi pelaku tindak pidana terorisme yang berada di bawah umur 18 tahun.

43Ali Masyhar, Gaya Indonesia Memandang Terorisme,(Bandung : Mandar Maju, 2009), hal. 86.

Tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme di atur dalam Bab III Undang-Undang terorisme Pasal 20-24. Undang-Undang terorisme ini merumuskan 4 jenis perbuatan di kategorikan sebagai tindak pidana lain yang berhubungan dengan tindak pidana terorisme, yaitu :44

a. Menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan atau dengan mengintimidasi penyelidik, penyidik, penuntut umum, penasihat hukum, dan/atau hakim yang menangani tindak pidana terorisme sehingga prosesperadilan menjadi terganggu.45

b. Memberikan kesaksian Palsu , menyampaikan alat bukti palsu atau barang bukti palsu, dan mempengaruhi saksi secara melawan hukum disidang pengadilan, atau melakukan penyerangan terhadap saksi termasuk petugas pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme.46

c. Mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme.47

d. Saksi atau orang lain yang bersangkutan dengan tindak pidana terorisme yang menyebutkan nama atau alamat pelapor atau hal-hal yang lain memberikan kemungkinan dapat di ketahuinya identitas pelapor.48

Undang-Undang No. 15 tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme mengkualifikasikan tindak pidana terorisme sebagai berikut.49

44Ibid, hal. 106-107.

45Lihat Pasal 20 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

46Lihat Pasal 21 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

47Lihat Pasal 28 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

48Lihat Pasal 23 dan Pasal 32 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

a. Delik Materiil.50 b. Delik Formil.51 c. Delik Percobaan.52 d. Delik Pembantu.53 e. Delik Penyertaan.54 f. Delik Perencanaan.55

Rumusan tindak pidana pidana terorisme termuat dalam Pasal 6 dan Pasal 7 Undang-undan No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.56

49Ali Masyhar, 2009, Op. Cit, hal. 87.

50Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 3, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 32. Delik Materiil merupakan tindak pidana berdasarkan akibat yang di timbulkan, atau disebut dengan akibat yang dilarang atau kostitutif.

51Adami Chazai, Op. Cit, hal. 9.

52Lihat KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Pasal 53 Dikatakan delik percobaan dalam Pasal 53 KUHP apabila telah memenuhi syarat yaitu adanya niat/kehendak dari pelaku, adanya permulaan pelaksanaan dari niat/kehendak itu dan pelaksanaan tidak selesai semata-mata bukan karena kehendak dari pelaku.

53Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 2, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 105. Dikatakan sebagai delik pembantuan adalah perbuatan orang yang membantu orang lainmalakukan suatu kejahatan.

54Mohammad Ekaputra, Percobaan dan Penyertaan, (Medan: USU Press, 2009), hal. 39.

Dikatakan delik penyertaan adalah apabila dalam suatu peristiwa tindak pidana terlibat lebih dari satu orang. Keterlibatan ini dapat dilakukan secara psikis atau pisik.

55Delik perencanaan adalah perbuatan pidana dengan merencanakan terjadinya suatu tindak pidana.

56Ali Masyhar, 2009, Op. Cit.

Pasal 6 :

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau kehilangannya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Pasal ini adalah termasuk dalam delik materiil, yaitu yang ditentukan pada akibat yang dilarang yaitu hilangnya nyawa, hilangnya harta atau kerusakan dan kehancuran. Apabila dicermati, rumusan Pasal 6 diatas dapat diurai kedalam 2 tindakan yaitu :57

a. Menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnnya nyawa dan harta benda orang lain.

b. Menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas public atau fasilitas internasional.

Rumusan tersebut dapat ditafsirkan menjadi tindakan sendiri-sendiri karena sama-sama merupakan akibat yang ditimbulkan sehingga kedudukannya sejajar dalam struktur kalimat.

Pasal 7 :

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik, atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup.

Pasal ini menggunakan perumusan delik formil yaitu delik yang perumusannya dititikberatkan pada perbuatan yang dilarang. Perubahan yang dilarang dan dikategorikan sebagai terorisme adalah bermaksud untuk melakukan perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dimana perbuatan tersebut dapat menimbulkan suasana teror di tengah-tengah masyarakat.

Rumusan pasal 7 dapat diurai menjadi dua tindakan, yaitu :58

a. Menggunakan kekerasan atau ancaman ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau

57Ibid, hal. 89.

58Ibid,

menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnnya nyawa atau harta benda orang lain.

b. Menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.

Rumusan tindak pidana dalam Pasal 8 sampai Pasal 12 Undang-Undang Terorisme, bila dikatakan sebagai “terorisasi” terhadap tindak pidana biasa.59

a. Menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut;

Pasal 8 :

Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, setiap orang yang :

b. Menyebabkan hancurnya, tidak dapat dipakainya atau rusaknya bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara, atau gagalnya usaha untuk pengamanan bangunan tersebut;

c. Dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusak, mengambil, atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan, atau menggagalkan bekerjannya tanda atau alat tersebut, atau memasang tanda atau alat yang keliru;

d. Karena kealpaan menyebabkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan hancur, rusak, terambil atau pindah atau menyebabkan terpasangnya tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan yang keliru;

e. Dengan sengaja atau melawan hukum, menghancurkan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain;

f. Dengan sengaja dan melawan hukum mencelakakan, menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak pesawat udara;

g. Karena kalpaannya menyebabkan pesawat udara celaka, hancur, tidak dapat dipakai , atau rusak;

h. Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum, atas penanggung asuransi menimbulkan kebakaran atau ledakan, kecelakaan kehancuran, kerusakan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang dipertanggungkan terhadap bahaya atau yang dipertanggungkan muatannya maupun upah yang akan diterima untuk pengangkutan muatannya, ataupun untuk kepentingan muatan tersebut telah diterima uang tanggungan;

i. Dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum, merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pesawat udara dalam penerbangan;

59Ibid, hal.90

j. Dalam pesawat udara dengan kekerasan atau ancaman kekerasan atau ancaman dalam bentuk lainnya, merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pengendalian pesawat udara dalam penerbangan;

k. Melakukan bersama-sama sebagai kelanjutan permufakatan jahat, dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu, mengakibatkan luka berat seseorang, mengakibatkan kerusakan pada pesawat udara sehingga dapat membahayakan penerbangannya, dilakukan dengan maksud untuk merampas kemerdekaan atau meneruskan merampas kemerdekaan seseorang;

l. Dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan, jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut;

m. Dengan sengaja dan melawan hukum merusak pesawat udara dalam dinas atau menyebabkan kerusakan atas pesawat udara tersebut yang menyebabkan tidak dapat terbang atau membahayakan keamanan penerbangan;

n. Dengan sengaja dan melawan hukum menempatkan atau menyebabkan ditempatkannya di dalam pesawat udara dalam dinas, dengan cara apapun, alat atu bahn yang dapat menhancurkan pesawat udara yang membuatnya tidak dapat terbang atau menyebabkan kerusakan pesawat udara tersebut yang dapat membahayakan keamannan dalam penerbangan ;

o. Melakukan secara bersama-sama 2 (dua) orang atau lebih, sebagai kelanjutan dari permufakatan jahat, melakukan dengan direncanaan lebih dahulu, dan mengakibatkan luka berat bagi seseorang dari perbuatan sebagaimana dimaksud dalam huruf I, huruf m, dan hukum n ;

p. Memberikan keterangan yang diketahuinnya adalah palsu dan karena perbuatan itu membahayakan keamanan pesawat udara dalam penerbangan;

q. Di dalam pesawat udara melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dalam pesawat udara dalam penerbangan ; r. Di dalam pesawat udara melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat

menggangu ketertiban dan tata tertib di dalam pesawat udara dalam penerbangan.

Pasal di atas mengatur tentang tindak pidana terorisme yang dilakukan terhadap fasilitas umum yaitu fasilitas penerbangan. Diatur dalam pasal-pasal 479 e sampai dengan pasal 479 h KUHP disebutkan yaitu sebagai tindak pidana menghancurkan, mencelakaan, membuat tidak dapat di pakainnya pesawat udara, yang dilakukan secara sengaja maupun kealpaan: menimpulkan kebakaran,

ledakan, kecelakaan, kehancuran dan lain sebagainya. Terhadap pesawat udara ataupun fasilitas penerbangan dengan maksud mencari keuntungan untuk dirinya sendiri atas kerugian penanggung asuransi.

Pasal 9 :

Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, memmpunyai persediaan padannya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakn, atau mengeluarkan ke dan/atau dari indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, di pidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Pasal diatas adalah termasuk dalam delik formil, yaitu yng menyangkut perbuatan yang dilarang adalah perbuatan menbuat, menerima, menyerahkan, membawa, mempergunakan bahan-bahan yang dilarang peguasaannya kecuali dengan izin pemerintah seperti senjata api, amunisi. Dan selanjutnya yang dimaksud dengan “bahan berbahaya lainnya” adalah yang termasuk gas beracun dan bahan kimia lainnya yang dimasukkan atau disediakan dengan melawan hukum dengan tujuan untuk digunakan kegiatan terorisme. Pasal ini di adopsi dari pasal 1 undang-undang Darurat No. 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api setelah di tambahkan elemen khusus berupa dolus specialis dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme.60

Dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya, sehingga menimbulkan suasana teror, atau rasa takut terhadap orang secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal, membahayakan terhadap kesehatan, terjadi kekacauan terhadap kehidupan, keamanan, dan hak-hak orang, atau terjadi kerusakan, kehancuran terhadap Pasal 10 :

60Ibid, hal. 84

obyek-obyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional.

Pasal diatas termasuk dalam delik baru dan tergolong dalam delik formil yang titik tekannya menyangkut perbuatan yang dilarang, dan kaitannya dengan yang ada dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan tindak Pidana Terorisme yang sering disebut sebagai technological terrorism(tindak pidana terorisme yang dalam perbuatan kejahatannya

menggunakan teknologi) yaitu yang memanfaatkan bahan-bahan kimia, senjata biologis, radiologi, mikro-organisme, radioaktif, dan komponennya, dan yang lain ialah tindak pidana berupa dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan harta kekayaan dengan tujuan akan digunakan untuk kegiatan terorisme.

Pasal 11 :

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinnya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10.

Kegiatan pendanaan dalam setiap aksi terorisme merupakan tulang punggung utama drai kegiatan tersebut. Disebutkan sebagai pihak yang memberikan bantuan/perbantuan dalam bidang pendanaan.

Pasal 12 :

Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan harta kekayaan dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahunnya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan :

a. Tindakan secara melawan hukum menerima, memiliki, menggunakan, menyerahkan, mengubah, membuang bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikro-organisme, radioaktif atau komponennya yang mengakibaykan atau dapat mengakibatkan kematian atau luka berat atau menimbulkan kerusakan harta benda;

b. Mencuri atau merampas bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikro-organisme atau komponennya;

c. Penggelapan atau memperoleh secara tidak sah bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikro-organisme atau komponennya;

d. Meminta bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikro-organisme atau komponennya secara paksa atau ancaman kekerasan atau dengan segala bentuk intimidasi;

e. Mengancam :

1) Menggunakan bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikro-organisme atau komponennya untuk menimbulkan kematian atau luka berat atau kerusakan harta benda; atau

2) Melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf b dengan tujuan untuk memaksa orang lain, organisasi internasional, atau negara lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

f. Mencoba melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf (a) sampai dengan huruf (f)

Tindak pidana terorisme dalam peraturan ini adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh orang atau pun korporasi yang mengandung unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 12 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Pasal 13 :

Setiap orang yang dengan sengaja memberikan bantuan atau kemudahan terhadap pelaku tindak pidana terorisme, dengan :

a. Memberikan atau meminjamkan uang atau barang atau harta kekayaan lainnya kepada pelaku tindak pidana terorisme ;

b. Menyembunyikan pelaku tindak pidana terorisme; atau

c. Menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun.

Pasal ini mendefenisikan pelaku tindak pidana terorisme, yaitu orang yang memberikan kemudahan atau tindakan memberikan bantuan. Setelah tindak pidana dilakukan, dan disebutkan juga mengenai actor intelektual ialah yang dimaksud dengn merencanakan. Termasuk mempersiapkan diri baik secara fisik, financial, maupun SDM. Termasuk juga orang menggerakkan adalah perbuatan

melakukan hasutan dan profokasi, pemberian hadiah atau uang atau janji-janji, menggerakkan juga dapat dilakukan dengan cara penghasutan.61

Selain dilakukan oleh seseorang, tindak pidana terorisme juga dilakukan oleh korporasi/perkumpulan. Dan mengenai korporasi sebagai subjek tindak

Pasal 14 :

Setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12 dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.

Pasal ini termasuk dalam delik perencanaan, yang dimaksud dengan perencanaan dalam pasal ini adalah orang yang merencanakan aksi terorisme, menetapkan tujuan, pengawas daro sebuah organisasi teroris.

Pasal 15 :

Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidanannya.

Pasal 13 dan Pasal 15 termasuk dalam delik percobaan, pembantuan (sebelum dan pada saat kejahatan dilakukan), percobaan dan permufakatan jahat yang dipidana setara pelaku atau tindak pidana sempurna pembantuan dan penyertaan.

Pasal 16 juga mengatur tentang penyertaan dan pembantuan, yaitu berbunyi :

“Setiap orang diluar wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kemudahan, sarana atau keterangan untuk terjadinnya tindak pidana erorisme, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12.”

61Ibid, hal. 94

pidana terorisme terkandung dalam Pasal 17 dan Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu :

Pasal 17 :

(1) Dalam hal tindak pidana terorisme dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, maka tuntutan dari penjatuhan pidana dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.

(2) Tindak pidana terorisme dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja

(2) Tindak pidana terorisme dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja