• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TUJUAN PEMIDANAAN YANG HENDAK DICAPAI MELALUI

A. Pro dan Kontra Penjatuhan Pidana Mati

2. Pidana Mati dari Sudut Pandang Agama (Teologi)

Dalam agama Islam dikenal apa yang dinamakan Qishash. Qishash adalah sanksi hukuman pembalasan seimbang, seperti membunuh terhadap si pembunuh.112 Selain itu Qishash juga dapat diartikan menjatuhkan hukuman kepada pelaku persis seperti apa yang dilakukannya. Qishash diterapkan kepada pelaku pembunuhan.Dasar dasar perlakunya kisas ini disyariatkan berdasarkan Alquran, sunah dan ijma’. Dasar hukum dari Alquran terdapat dalam beberapa ayat diantaranya dalam surat Al-Baqarah ayat 178 dan ayat 179, surat Al Maaidah ayat 45.113

Adapun untuk diberlakukannya kisas terdapat beberapa syarat, yaitu : Surat ini menetapkan bahwa hukuman mati merupakan hukuman yang setimpal bagi tindak pidana pembunuhan karena begitu beratnya akibat dari pembunuhan tersebut. Dalam hukum islam hukuman mati dapat diganti dengan pembayaran ganti rugi kepada ahli waris korban apabila sebelumnya ahli waris korban telah memaafkan pelaku kejahatan pembunuhan atas apa yang dilakukannya.

114

a. Pelaku seorang mukalaf, yaitu sudah cukup umur dan berakal.

b. Pembunuhan itu dilakukan dengan sengaja.

c. Unsur kesengajaan dalam pembunuhan itu tidak dilakukan lagi.

112Teguh Prasetyo dan Abdul Hakim Barkatullah, Politik Hukum Pidana, Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 138.

113Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), hal. 149.

114Tinjauan Agama Islam Atas Hukuman Mati,

http://abolishment.blogspot.com/2008/03/tinjauan-agama-islam-atas-hukuman-mati.html, diakses pada tanggal 12 Januari 2018 pukul 16:02.

d. Pelaku pembunuhan tersebut melakukannya atas kesadaran sendiri, tanpa paksaan dari orang lain.

Ada beberapa kejahatan yang dapat dikenakan hukuman mati dalam agama islam, yaitu :

a. Bagi pembunuh yaitu orang yang membunuh temannya, saudaranya, orang tuanya, atau siapapun yang tidak bersalah atau tanpa hak. Karena intinya, manusia tidak boleh dibunuh baik dia Islam maupun Non Islam.

b. Bagi orang yang telah menimbulkan keonaran luar biasa seperti huru-hara, kehancuran, kerusuhan dan pembakaran.

c. Orang yang sudah menikah, tetapi kemudian berzina, atau yang disebut dengan zina mukhsom.

d. Orang yang melakukan bughot atau melawan pemerintah yang sah.

e. Orang yang homoseksual atau menjalin hubungan dengan sesama jenisnya.

f. Orang yang murtad atau keluar dari agama islam tanpa balik lagi.

2. Tinjauan Agama Kristen Atas Hukuman Mati

Ajaran agama Kristen (Katolik) menerima bahwa negara berhak menjatuhkan pidana mati dan melaksanakannya.Menurut A. Jensens (seorang bapak gereja) bahwa penguasa duniawi tanpa dosa boleh menjalankan pidana mati asal mereka pada menentukan pidana mati itu tidak karena benci, tetapi sudah dipertimbangkan dengan masak. 115

115Andi Hamzah, Op. Cit, hal. 65.

Golongan Kristen Protestan berpendapat bahwa pidana mati dapat dibenarkan dengan alasan untuk jalan Allah.Terutama terhadap pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu, pidana mati harus diberlakukan, kecuali jika diadakan grasi yang berlaku menurut hukum dan

kepantasannya.Dalam Kitab Kejadian 9:6 dikatakan bahwa, “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri”. Lalu Dalam Kitab Bilangan 35:16 mengatakan “Tetapi jika ia membunuh orang itu dengan benda besi, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh, pastilah pembunuh itu dibunuh”.

Dan pada ayat 19 dikatakan “Penuntut darahlah yang harus membunuh pembunuh itu, pada waktu bertemu dengan dia ia harus membunuh dia”.Dari kedua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pidana mati dapat di benarkan apapun motifnya dan tidaklah bertentangan dengan agama Kristen. 116

Ayat tersebut di atas memberikan kekuasaan kepada pemerintah dalam menjatuhkan hukuman terhadap pelaku kejahatan. Istilah “pedang” dalam surat diatas rupanya di tafsirkan sebagai kewenangan pemerintah untuk menjatuhkan hukuman yang berakibat kematian terhadap pelaku kejahatan oleh para

Para pendukung hukuman mati diantara umat Kristen sering menjadikan “Surat Paulus kepada Jemaat di Roma” bab 13 ayat 1-4 sebagai dasar pelaksanaan hukuman mati. Surat tersebut berisi :

Tiap-tiap orang harus tunduk kepada pemerintah di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, di tetapkan oleh Allah. Sebab itu barang siapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika orang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah ?perbuatlah apa yang baik dan kamu akan peroleh pujian dari pada-Nya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak sia-sia pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membatalkan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

116S. R. Sianturi dan Mompang L. Panggabean, Hukum Penitensia di Indonesia, (Jakarta:

Alumni Aheam- Petehaem, 1996), hal. 71.

pendukung hukuman mati. Namun perlu di ingat bahwa prinsip dasar dalam Injil adalah cinta kasih pengampunan dan pembebasan dan tiga hal tersebut di jadikan dasar oleh para umat Kristen dalam menentang hukuman mati.

Hazewinkel Suringa membenarkan adanya pidana mati dalam agama Kristen dengan mendasarkan pendapat pada Kitab Suci Perjanjian Lama, dimana dikatakan oog o moog, tand om tand (gigi diganti dengan gigi, darah diganti dengan darah).117

1. Larangan terhadap pencabutan nyawa.

3. Tinjauan Agama Buddha Atas Hukuman Mati

Dalam agama Buddha dikenal apa yang dinamakan dengan Panca-sila.

Panca-sila dalam agama Buddha ini adalah sebagai prinsip dasar bagi umat Buddha dalam pengembangan kepribadian agar dapat berperikelakuan baik.

Panca-sila, sesuai dengan namanya, berisi lima aturan yang terdiri dari :

2. Larangan untuk mencuri.

3. Larangan untuk melakukan pelecehan seksual.

4. Larangan untuk berbicara kasar.

5. Larangan meminum minuman keras.

Aturan pertama dari Panca-sila, yang berisi mengenai larangan terhadap nyawa tersebut dianggap aturan terpenting dan merupakan hal yang sangat mendasar dalam ajarannya.Maka oleh umat Buddha Panca-sila dijadikan dasar dalam menentang hukuman mati.Selain itu, umat Buddha menentang pidana mati daru sudut metta yang diajarka oleh Sang Buddha.Metta atau maître berisi cinta kasih tanpa pamrih.Orang yang memiliki Metta pasti suka melakukan Abhaya

117Andi Hamzah, Op. Cit, hal. 71.

Dana (berdana dalam bentuk pemberian maaf).Mereka suka member maaf terhadap orang-orang jahat, karena mereka menyadari bahwa orang-orang jahat yang belum mencapai kesucian itu pasti masih bisa berbuat sala.Mereka tidak membenci orang jahat itu.Mereka memancarkan cinta kasih kepada orang-orang jahat itu.Mereka berusaha membantu menyadarkan orang-orang-orang-orang jahat itu agar menghentikan perbuatan jahatnya.Mereka berusaha membimbing orang-orang jahat itu ke jalan yang benar.118

Hukum agama dan hukum pidana Hindu diatur dalam Dharmasastra.Dharmasastra mengatur berbagai bentuk kejahatan serta bentuk hukumannya dan mencantumkan ancaman hukuman mati untuk beberapa bentuk kejahatan tertentu.Tetapi ada pula beberapa dari ajarang Hindu yang menyeruhkan untuk tidak menggunakan hukuman mati tersebut. Salah satu ajaran tersebut tercantum dalam Kitab Santiparva dalam bab 257, yang pada intinya menyatakan, sebaiknya orang jahat tidak di musnahkan. Permusnahan orang jahat tidak sesuai dengan hukum keabadian dalam agama Hindu.Hal tersebut sering dijadikan sebagai darasar untuk menentang hukuman mati oleh umat Hindu.

4. Tinjauan Agama Hindu Atas Hukuman Mati

119

Di dalam ajaran agama khonghucu pengaturan tentang hukuman mati tidak di atur secara jelas. Tetapi agama khonghucu tidak pernah berbicara tentang Tuhan, atau keajaiban atau masalah kekuatan. Tapi tidak ada keragu-raguan 5. Tinjauan Agama Khonghucu Atas Hukuman Mati

118Hukum Mati Ditinjau Dari Agama Budhha (Forum Diskusi Buddisme Indonesia Online), http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=244.0, diakses pada tanggal 12 januari 2018 pukul 19:49.

119Hukuman Mati Dari Perspektif Agama di Indonesia,

http://blog.santegidio.or.id/2008/11/hukuman-mati-dari-perspektif-agama-di-indonesia/, diakses pada tinggal 12 januari 2018 pukul 22:03.

bahwa khonghucu percaya pada Tuhan dan ia adalah seorang monoteis yang etis, ia menyatakan bahwa kehendak Tuhan telah dibukakan untuknya dan karea itu misinya adalah membuat kehendak tersebut berlaku didunia ini. Dalam khonghucu sendiri istilah Tuhan disebut dengan Thian atau Tuhan TME.

Diantaranya terdapat dalam Kitab She Cing (Kitab Puisi). Dalam Kitab ini banyak berbicara tentang Tuhan YME. Yang dalam umat khonghucu disebut dengan Thien dan Shang Ti.

Dalam Kitab SuSi yang berhubungan dengan keimanan adalah : a. Iman adalah jalan suci Thian

b. Iman berfungsi menggerakkan hati manusia kearah lebih baik

c. Iman itu dapat diperoleh kalau manusia dapat berbuat hal-hal yang baik

d. Untuk dapat menggembirakan orang tua. Manusia lebih dahulu memenuhi dirinya dengan iman.120

Dari ketentuan yang terdapat dalam kitab SuSi ini, maka sudah jelas sebenarnya agama khonghucu mengajarkan tentang kebaikan dan cara berbuat baik kepada diri sendiri, orang tua, keluarga maupun orang lain. Maka dari itu secara tidak langsung pastilah hukuman mati di dalam ajaran agama khonghucu pasti juga melihat dari segi perbuatan seseorang tersebut, jika masih ada hukuman lain yang bisa mengganti kesalahannya hukuman mati pasti di hindari.

120Ajaran Khonghucu Tentang Tuhan, Keimanan dan Hidup Setelah Mati serta kaitannya Dengan Laku Bakti, Bagian I, http://www.spocjournal.com/religi/521-ajaran-khonghucu-tentang-tuhan;keimanan-dan-hidup-setelah-mati-serta-kaitannya-dengan-laku-bakti;bagian-1.html, diakses pada tanggal 12 januari 2018 pukul 23:44.