BAB III KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB PARA PIHAK
A. Pengaturan Hukum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Asas
Hukum pengangkutan merupakan cabang dari Hukum Perusahaan (hukum bisnis) yang termasuk dalam bidang hukum keperdataan. Dilihat dari segi susunan hukum normatif, bidang hukum keperdataan adalah subsistem tata hukum nasional. Jadi, hukum perusahaan (hukum bisnis) termasuk dalam subsistem Tata Hukum Nasional. Dengan demikian, hukum pengangkutan pun adalah bagian dari Subsistem Tata Hukum Nasional. Asas-asas hukum nasional adalah juga asas-asas hukum pengangkutan.
Ini berarti, apabila para legal drafter melakukan pembaruan dan pembuatan perundang-undangan di bidang pengangkutan, produk hukum harus:
a. Dalam bentuk tertulis; b. Bersumber dari UUD 1945;
c. Dibuat oleh pembuat undang-undang yang sah; d. Meliputi semua jenis pengangkutan;
e. Berdasarkan falsafah negara Pancasila;
f. Untuk mewujudkan tujuan negara dan bangsa Indonesia; serta
g. Berlaku di seluruh wilayah negara bagi semua warga negara indonesia.67 Dilihat dari proses segi keberlakuan hukum, hukum pengangkutan adalah sistem hukum yang memiliki:
a. Subjek hukum pengangkutan
67
Yaitu pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan pengangkutan
b. Status hukum pengangkutan
Yaitu pihak pengangkutan selalu berstatus perusahaan pengangkutan sedangkan pihak penumpang dapat berupa manusia pribadi, jemaah haji, pengusaha, atau pejabat negara.
c. Objek hukum pengangkutan
Yaitu alat angkut, muatan yang diangkut, dan biaya pengangkutan serta dokumen pengangkutan.
d. Peristiwa hukum pegangkutan
Yaitu proses mulai dari terjadi negosiasi (tawar-menawar), diikat dengan perjanjian pengangkutan, pembayaran biaya pengangkutan, dan penyelenggaraan pengangkutan hingga tiba di tempat tujuan.
e. Hubungan hukum pengangkutan
Yaitu kewajiban dan hak serta tanggung jawab pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan dan pihak lain yang berkepentingan
f. Tujuan hukum pengangkutan
Yaitu tibanya di tempat tujuan dengan selamat dan terpenuhinya nilai guna bagi pihak-pihak.68
Setiap jenis pengangkutan mempunyai tujuan yang khusus pula, demikian juga dengan pengangkutan jalan, adapun tujuan diselenggarakannya lalu lintas dan angkutan jalan dicantumkan dalam ketentuan Pasal 3 UU No. 22 Tahun 2009 yaitu:
a. Terwujudnya pelayanan lalu lintas dan pengangkutan jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda pengangkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan umum, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa serta mampu menjunjung tinggi martabat bangsa; b. Terwujudnya etika berlalu lintas dan budaya bangsa; dan
c. Terwujudnya penegakan hukum dan kepastian hukum bagi masyarakat.
Sumber hukum pengangkutan dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Sumber hukum material (amaterial sources of law) dan sumber hukum dalam arti formal (a formal sources of law).
Sumber hukum material adalah sumber darimana diperoleh bahan hukum dan bukan kekuatan hukum berlakunya, dalam hal ini keputusan resmi dari hakim/pengandilan yang memberikan kekuatan berlakunya, sedangk an
68
sumber hukum formal adalah sumber dari sumber mana suatu peraturan hukum memperoleh kekuatan dan sah berlakunya
2. Sumber hukum formal
Sumber hukum formal adalah kehendak negara sebagaimana dijelaskan dalam undang-undang atau putusan-putusan pengadilan. Sumber hukum yang telah dirumuskan peraturannya dalam suatu bentuk, berdasarkan apa ia berlaku, ia ditaati orang, dan mengikat hakim, serta pejabat hukum. Itulah sumber hukum dalam arti formal, atau dapat juga disebut sebagai sumber-sumber berlakunya hukum karena ia adalah sebagai cause efficiens.69
Hukum pengangkutan merupakan bagian dari hukum dagang yang termasuk dalam bidang hukum perdata. Dilihat dari segi susunan hukum normatif, hukum perdata merupakan sub sistem tata hukum nasional. Jadi, hukum dagang atau perusahaan termasuk dalam subsistem tata hukum nasional.70
Asas Hukum Pengangkutan
Asas hukum pengangkutan merupakan landasan filosofis yang diklasifikasikan menjadi dua, yaitu asas hukum publik dan asas hukum perdata. Asas hukum publik merupakan landasan hukum pengangkutan yang berlaku dan berguna bagi semua pihak, yaitu pihak-pihak dalam pengangkutan, pihak ketiga yang berkepentingan dengan pengangkutan dan pihak pemerintah (negara). Asas hukum perdata merupakan landasan hukum pengangkutan yang hanya berlaku dan berguna bagi kedua pihak dalam pengangkutan yaitu pengangkut dan penumpang atau pemilik barang.
69
Zainal Asikin, Op.Cit, hlm 172
70 Ibid
a) Asas hukum publik
Undang-undang Perkeretaapian, Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Undang-undang Penerbangan dan Undang-undang Pelayaran berlandaskan asas-asas hukum publik. Asas-asas hukum publik adalah landasan undang-undang yang lebih mengutamakan kepentingan umum atau kepentingan masyarakat banyak yang dirumuskan dengan istilah atau kata-kata manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, keseimbangan, keserasian, keselarasan, kepentingan umum, keterpaduan, tegaknya hukum, kemandirian, keterbukaan dan antimonopoli, berwawasan lingkungan hidup, kedaulatan negara, kebangsaan, kenusantaraan, serta keselamatan penumpang dan kargo.
1) Asas manfaat
Asas ini mengandung makna bahwa setiap pengangkutan harus dapat memberikan nilai guna yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan pengembangan perikehidupan yang berkeseimbangan bagi warga negara Indonesia. Asas usaha bersama dan kekeluargaan mengandung makna bahwa usaha pengangkutan diselenggarakan untuk mewujudkan cita-cita dan aspirasi bangsa indonesia yang dalam kegiatannya dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan dijiwai oleh semangat kekeluargaan
2) Asas adil dan merata
Asas ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus dapat memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada segenap lapisan masyarakat, dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat. Asas keseimbangan mengandung makna bahwa penyelenggaraan pengangkutan
harus dengan keseimbangan yang serasi antara sarana dan prasarana, antara kepentingan pengguna dan penyedia jasa, antara kepentingan individu dan masyarakat, serta kepentingan nasional dan internasional.
3) Asas kepentingan umum
Asas ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus lebih mengutamakan kepentingan pelayanan umum bagi masyarakat luas. 4) Asas keterpaduan
Asas ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus merupakan kesatuan bulat dan utuh, terpadu, saling menunjang, dan saling mengisi, baik intra maupun antar moda pengangkutan.
5) Asas tegaknya hukum
Asas ini mengandung makna bahwa pemerintah wajib menegakkan dan menjamin kepastian hukum serta mewajibkan kepada setiap warga negara Indonesia agar selalu sadar dan taat pada hukum dalam penyelanggaraan pengangkutan.
6) Asas percaya diri
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan harus berlandaskan kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri serta bersendikan kepribadian bangsa.
7) Asas keselamatan penumpang
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan penumpang harus disertai dengan asuransi kecelakaan dan atau asuransi kerugian lainnya. Asuransi kecelakaan termasuk dalam lingkup asuransi sosial yang bersifat wajib (compulsory securuty insurance). Keselamatan penumpang tidak hanya
diserahkan pada perlindungan asuransi, tetapi juga penyelenggaraan perusahaan pengangkutan harus berupaya menyediakan dan memelihara alat pengangkut yang memenuhi standar keselamatan sesuai dengan ketentuan undang-undang.
8) Asas berwawasan lingkungan hidup
Asas ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus dilakukan berwawasan lingkungan
9) Asas kedaulatan negara
Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraaan pengangkutan harus dapat menjaga keutuhan wilayah negara Republik Indonesia.
10) Asas kebangsaan
Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus dapat mencerminkan sifat dan watak bangsa indonesia yang pluralistik (kebinekaan) dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.71
b) Asas hukum perdata
Semua undang-undang yang mengatur tentang pengangkutan di Indonesia juga berlandaskan asas-asas hukum perdata. Asas-asas hukum perdata adalah landasan undang-undang yang lebih mengutamakan kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan, yang dirumuskan dengan kata-kata : perjanjian (kesepakatan), koordinatif, campuran, retensi, dan pembuktian dengan dokumen.
1) Asas perjanjian
71
Asas ini mengandung makna bahwa setiap pengangkutan diadakan dengan perjanjian antara pihak perusahaan pengangkutan dan penumpang atau pemilik barang. Tiket/karcis penumpang dan dokumen pengangkutan merupakan tanda bukti telah terjadi perjanjian antara pihak-pihak. Perjanjian pengangkutan tidak diharuskan dalam bentuk tertulis, sudah cukup kesepakatan pihak-ihak. Akantetapi, untuk menyatakan bahwa perjanjian itu sudah terjadi dan mengikat
harus membuktikan dengan atau didukung oleh dokumen pengangkutan. 2) Asas koordinatif
Asas ini mengandung makna bahwa pihak-pihak dalam pengangkutan mempunyai kedudukan setara atau sejajar, tidak ada pihak yang mengatasi atau membawahi yang lain. Walaupun pengangkut menyediakan jasa dan melaksanakan perintah penumpang atau pemilik barang, pengangkut bukan bawahan penumpang atau pemilik barang. Asas ini menunjukkan bahwa pengangkutan adalah perjanjian pemberian kuasa (agency agreement).
3) Asas campuran
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian, yaitu pemberian kuasa, penyimpanan barang, dan melakukan pekerjaan dari penumpang atau pemilik barang kepada pengangkut. Ketentuan ketiga jenis perjanjian ini berlaku pada pengangkutan, kecuali jika ditentukan lain dalam perjanjian pengangkutan.
4) Asas retensi
Asas ini mengandung makna bahwa pengangkut tidak menggunakan hak retensi (hak menahan barang). Penggunaan hak retensi bertentangan dengan
tujuan dan fungsi pengangkutan. Pengangkut hanya mempunyai kewajiban menyimpan barang atas biaya pemiliknya.
5) Asas pembuktian dengan dokumen
Asas ini mengandung makna bahwa setiap pengangkutan selalu dibuktikan dengan dokumen pengangkutan. Tidak ada dokumen pengangkutan berarti tidak ada perjanjian pengangkutan, kecuali jika ada kebiasaan yang telah berlaku umum, misalnya pengangkutan dengan pengangkut perkotaan (angkot) tanpa tiket/karcis penumpang.72