• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

F. Tinjauan Kepustakan

1. Pengaturan Hukum Terhadap pemberantasan tindak pidana

Hukum Menurut J.H.A . Loeman yaitu Telah diterima oleh pandangan umum bahwa bagaimanapun hukum itu sangat berkaitan dengan masyarakat, hukum adalah semata-mata suatu peristiwa yang bersifat psikososial.Hukum Menurut Bellfroid Yaitu kaidah Hukum yang berlaku di dalam suatu masyarakat mengatur tata tertib yang di dasarkan atas kekuasaan yang ada di dalam masyarakat itu.6 Setelah mengetahui hukum kita perlu menghubungkan hukum dengan kejahatan yang bertentangan dengan aturan-aturan hukum tersebut.

Sebagaimana halnya kejahatan yang dikatakan oleh Gorge C.Vold yaitu dalam mempelajari kejahatan terdapat persoalan rangkap, artinya kejahatan selalu menunjuk pada perbuatan manusia dan juga batasan-batasan atau pandangan masyarakat tentang apa yang dibolehkan dan apa yang dilarang, apa yang baik dan yang buruk, yang semuanya itu terdapat dalam undang-undang, kebiasaan dan adat istiadat.

Moliejatno, Seorang sarjana hukum pidana indonesia yang terkemuka, merumuskan hukum pidana yang meliputi hukum pidana materiel dan hukum pidana formil, seperti yang dimaksud oleh Enschede – Heijder dengan hukum pidana sistematik, sebagai berikut :

Hukum pidana adalah sebagian dari pada keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan untuk :

6Muhamad Sadi Is ,Pengantar Ilmu Hukum ,Prenada Media:Jakarta, 2015, halaman 56.

1) Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan ,yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sangsi (sic) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar larangan tersebut.

2) Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat di kenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang diancamkan.

3) Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.

Jadi moelijatno merumuskan hukum pidana materiel pada butir 1 dan 2, sedangkan hukum pidana formel pada butir 3. ia merumuskan hukum pidana materiel degan memisahkan perumusan delik dan sanksinya pada butir 1 sedangkan pertanggungjawabkan pidana pada butir 2.7

Tindak Pidana atau delik ialah tindak yang mengandung 5 unsur, Yaitu : a. Harus ada sesuatu kelakuan (gedraging )

b. Kelakuan itu harus sesuai dengan uraian perundang-undangan (wettelijke omsschrijving)

c. Kelakuan itu adalah kelakuan tanpa hak d. Kelakuan itu dapat diberatkan kepada pelaku e. Kelakuan itu diancam dengan hukuman 8

Secara umum, yang dimaksud dengan Narkotika adalah sejenis zat yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi orang yang menggunakanya,

7Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta:Jakarta, 2008, halaman 4-5.

8C.S.T Kansil, Tindak pidana dalam undang-undang Nasional, Jala Permata Aksara:Jakarta, 2009, halaman 3.

dengan cara memasukkan kedalam tubuh.Istilah narkotika artinya dengan drug yaitu sejenis zat yang apabila dipergunakan akan membawa efek dan pengaruh – pengaruh tertentu pada tubuh si pemakai, Yaitu

1. Memengaruhi Kesadaran

2. Memberikan dorongan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku manusia 3. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat berupa:

a. Penenang

b. Perangsang (bukan rangsangan sex)

c. Menimbulkan halusianasi (pemakainya tidak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan, kehilangan kesadaran akan waktu dan tempat).

Pada mulanya zat Narkotika ditemukan orang yang penggunaanya ditujukan untuk kepentingan umat manusia, khususnya di bidang pengobatan.9 Bentuk Tindak Pidana Narkotika yang umum di kenal antara lain berikut ini.

1. Penyalahgunaan/melebihi dosis

Hal ini disebabkan oleh banyak hal, seperti yang telah di utarakan diatas 2. Pengedaran Narkotika

Karena keterikatan dengan sesuatu mata rantai peredaran narkotika, baik nasional maupun internasional.

3. Jual beli narkotika

Ini pada umumnya dilatarbelakangi oleh motivasi untuk mencari keuntungan materril, namun ada juga karena motivasi untuk kepuasan .

9Akhyar Ari Gayo, Pemberantasan peredaran Gelap Narkotika, Azza Grafika:Yogyakarta, 2012, halaman 77.

Dari ketiga bentuk tindak pidana narkotika itu adalah merupakan salah satu sebab terjadinya berbagai macam bentuk tindak pidana kejahatan dan pelanggaran, yang secara langsung menimbulkan akibat demoralisasi terhadap masyarakat, generasi muda, dan terutama bagi si pengguna zat berbahaya itu sendiri, seperti :

a. Pembunuhan b. Pencurian c. Penodongan d. Penjambretan e. Pemerasan f. Pemerkosaan g. Penipuan

h. Pelanggaran rambu lalu lintas

i. Pelecehan terhadap aparat keamanan ,dan lain-lain10

Tindak Pidana Narkotika diatur dalam Bab XV Pasal 111 sampai dengan Pasal 148 UU Narkotika yang merupakan ketentuan khusus, walaupun tidak disebutkan dengan tegas dalam UU Narkotika bahwa tindak pidana yang diatur didalamnya adalah kejahatan, akan tetapi tidak perlu disangsikan lagi bahwa semua tindak pidana didalam undang-undang tersebut merupakan kejahatan.

Alasanya, kalau narkotika hanya untuk pengobatan dan kepentingan ilmu pengetahuan, maka apabila ada perbuatan di luar kepentingan-kepentigan tersebut

10Moh.Taufik Makarao, Tindak Pidana Narkotika,Ghalia Indonesia:Jakarta, 2003, halaman 45.

sudah merupakan kejahatan mengingat besarnya akibat yang ditimbulkan dari pemakaian narkotika secara tidak sah sangat membahayakan bagi jiwa manusia.11

Dalam hal perkara kejahatan ataupun kejahatan lainnya khususnya kejahatan narkotika itu yang berhak menangani ialah pihak kepolisian dalam halnya Fungsi kepolisian. Fungsi Polisi ini kemudian banyak dianalisa secara mendalam. tetapi sebagian besar para cendekiawan berpendapat bahwa tugas Polisi itu digolongkan dalam 2 Kategori.

Pertama, tugas preventif atau mencegah terjadinya kejahatan dan kedua, tugas Represif atau tindakan setelah terjadi kejahatan (Pemberantasan Kejahatan ).

para cendekiawan itu ada yang menyebut tugas preventif sebagai tugas dalam arti luas atau menjamin tata tertib dan keamanan. menyelenggarakan tata tertib dan keamanan berarti juga mencegah kejahatan. sedang tugas represif diberi sebutan tugas dalam arti sempit karena bersifat penegakkan hukum yang berlaku bagi rakyat atau berarti menindak setiap pelanggar hukum.

Kedua macam jenis fungsi polisi itu nyata sekali mengandung perbedaan.

para pakar sependapat bahwa perbedaanya terutama pada 2 hal:Pertama dalam sifatnya dan kedua dalam luas kewenanganya. dalam sifatnya tugas preventif hampir tidak terbatas karena usaha mencegah terjadinya kejahatan bisa dilakukan tindakan apa saja asal tidak melanggar hukum itu sendiri, jadi bersifat menjauhkan masyarakat dari pelanggaran hukum, Sedang tugas Represif sifatnya tidak terbatas, karena hanya meliputi tindakan mencari, menemukan dan menindak pelanggar hukum. Sedang ditinjau dari luas kewenangan, tugas

11 Gatot Supramono, Hukum Narkotika Indonesia , Djambatan:Jakarta,2001, halaman 5.

preventif hampir tidak terikat oleh aturan – aturan tertentu. sedang tugas represif tindakan dan kewenangannya dibatasi dengan peraturan yang ketat berupa Hukum Acara tertentu (Di Indonesia :harus bedasarkan KUHAP).12

Dengan ini dalam pengaturan hukum tentang pemberantasan tindak narkotika diatur oleh undang – undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan dibantu oleh undang – undang No 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk berupaya memberantas kejahatan khususnya kejahatan tindak pidana narkotika.

2. Faktor-faktor Penyebab Tindak Pidana Narkotika di wilayah

Dokumen terkait