6. Kesimpulan Dan Saran
5.1. Pengaturan Mengenai Perlindungan Kekerasan
Konteks pengaturan mengenai perlindungan kekerasan seksual terhadap wanita diperlukan sebuah teori yang berupa asumsi, konsep, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.18
Suatu teori merupakan hubungan antar dua variable atau lebih yang telah diuji kebenarannya.19 Fungsi teori dalam suatu penelitian adalah untuk memberikan pengarahan kepada penelitian yang akan dilakukan.20
Terkait dengan tatanan hukum positif konkrit dalam penulisan karya ilmiah diperlukan teori. Hal ini dikemukakan oleh Jan Gigssels dan Mark Van Hoecke dengan pendapatnya sebagai berikut :
Een degelijk inzicht in dezerechlsteokefische kucesties wordt blijkens het voouvoord beschouwd al seen noodzakelijke basis voor alke wettenschappelijke studie van eeu konkrect positief rechtsstelsel.21 (Dalam teori hukum diperlukan suatu pandangan yang merupakan pendahuluan dan dianggap mutlak perlu ada sebagai dasar dari studi ilmu pengetahuan terhadap aturan hukum positif).
Pengaturan mengenai perlindungan kekerasan seksual terhadap wanita merupakan suatu hal yang mendesak untuk diformulasikan diatur
7 Soerjono Soekanto, op.cit, h. 225
Burhan Ashshofa, 2004, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, h. .
Soerjono Soekanto, 200, Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 30. (Selanjutnya disebut Soerjono Soekanto III)
20 Sutan Remy Sjahdeini, 3, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak
Dalam Perjanjian Kredit Bank, Sebagaimana dikutip dari Duane R. Monette, Thomas J. Sullivan, Corucl
R. Dejong, 6, Applied Social Research, New York, Chocago, San Francisco Holt, Rinehart and Winston Inc, h. 27
secara mengkhusus. Manusia berperilaku dalam masyarakat harus sesuai dengan kaedah-kaedah sosial. Dengan kaedah sosial ini menjadi pedoman perilaku atau sikap bagi setiap warga masyarakat, mana yang seyogyanya dilakukan dan yang tidak dilakukan, yang dilarang atau yang dianjurkan. Ini terdiri dari kaedah/norma agama, kaedah kesusilaan, kaedah sopan-santun, dan kaedah hukum.
Jadi hukum hanyalah salah satu dari kaedah sosial, yang merupakan peraturan mengenai perilaku orang dalam kehidupan bermasyarakat, yang dibuat oleh organ/lembaga yang mempunyai otoritas/kewenangan, dalam bentuk tertentu, dengan sanksi yang lebih tegas dan berlakunya dapat dipaksakan. Kaedah hukum diberlakukan untuk melindungi kepentingan manusia di dalam masyarakat. Lengkapnya terkait dengan fungsi primer hukum, yakni melindungi rakyat dari bahaya dan tindakan yang dapat merugikan dan menderitakan hidupnya dari orang lain, masyarakat maupun penguasa. Di samping itu berfungsi pula untuk memberikan keadilan serta menjadi sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Perlindungan, keadilan, dan kesejahteraan tersebut ditujukan pada subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban, tidak terkecuali kaum wanita.
Di dalam masyarakat, kaum wanita mempunyai kedudukan yang merupakan posisi tertentu dalam suatu susunan kemasyarakatan. Kedudukan tersebut sebenarnya merupakan suatu wadah yang berisi hak-hak dan kewajiban-kewajiban sebagai peranan. Di sini wanita memiliki kedudukan, maka sekaligus sebagai pemegang peran dalam masyarakat. Peranan ini mengalami dinamika yang berkembang sesuai dengan perkembangan dan perubahan masyarakat.Wanitasebagai warga negara maupun sumber daya insani mempunyai kedudukan hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama dengan pria untuk berperan dalam pembangunan di segala bidang.Peranan wanita sebagaimitra sejajar pria diwujudkan melalui peningkatan kemandirian peran aktifnya dalam pembangunan, termasuk upaya mewujudkan keluarga beriman dan bertakqwa, sehat, serta untuk pengembangan anak, remaja dan pemuda. Untuk itu, dalam Program Pembangunan Nasional (2000-2004) ditentukan Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan, yang bertujuan untuk meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan sebagai individu, yaitu baik sebagai insan dan sumber daya pembangunan, sebagai bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi
sekarang dan masa mendatang, sebagai makhluk sosial yang merupakan agen perubahan sosial d berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Sasaran kinerja program ini adalah meningkatnya kualitas dan peranan perempuan terutama di bidang hukum ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dan budaya.
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) merilis data bahwa setiap dua jam terdapat tiga perempuan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia. Ini berarti, ada 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya. Komnas Perempuan mengidentifikasi kekerasan seksual memiliki 15 bentuk, yaitu: Perkosaan, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan seksual, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual/ diskriminatif, praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan, dan kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.22
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga belum memadai karena sepertiga perempuan di seluruh dunia masih dilecehkan secara fisik. Sekitar 100 juta hingga 140 juta perempuan menjadi korban mutilasi genital dan sekitar 70 juta anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Sesuatu yang seringkali bertentangan dengan keinginan mereka. Dan sekitar tujuh persen perempuan berisiko diperkosa dalam hidupnya. Pemerkosaan merupakan kejahatan yang paling keji bagi seorang perempuan. Trauma yang dialami membekas sepanjang seumur hidupnya, melebihi lamanya hukuman terhadap pelaku. Tak jarang pemerkosaan berujung bunuh diri.
Dalam Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 pemerintah menunjukkan kepeduliannya terhadap perempuan. Perlindungan itu tercantum dalam arah dan kebijakan strategi sebagai berikut:
(1) Memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak dari berbagai tindak kekerasan, termasuk tindak pidana perdagangan
22 http://presidenri.go.id/perempuan-dan-anak/perlindungan-perempuan-dari-ancaman-kekerasan-seksual.html, diakses pada tanggal Oktober 206 jam 22.4.
orang (TPPO), dengan melakukan berbagai upaya pencegahan dan penindakan, melalui: pelaksanaan Gerakan Nasional Perlindungan Anak; peningkatan pemahaman pemerintah, masyarakat dan dunia usaha tentang tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran dan perlakuan salah lainnya terhadap anak dan perempuan; perlindungan hukum dan pengawasan pelaksanaan penegakan hukum terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta keadilan restorasi (restorative justice) bagi anak; pemberian bantuan hukum bagi anak sebagai pelaku, korban, atau saksi tindak kekerasan; dan peningkatan efektivitas layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan, yang mencakup layanan pengaduan, rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, penegakan dan bantuan hukum, serta pemulangan dan reintegrasi sosial;
(2) Meningkatkan kapasitas kelembagaan perlindungan perempuan dan anak dari berbagai tindak kekerasan, melalui: penguatan sistem perundang-undangan terkait dengan perlindungan perempuan dan anak dari berbagai tindak kekerasan; peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam memberikan layanan termasuk dalam perencanaan dan penganggaran; penguatan mekanisme kerjasama antara pemerintah, lembaga layanan, masyarakat, dan dunia usaha dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak; dan penguatan sistem data dan informasi terkait dengan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurut WHO kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. Secara filosofis, fenomena kekerasan merupakan sebuah gejala kemunduran hubungan antarpribadi, di mana orang tidak lagi bisa duduk bersama untuk memecahkan masalah. Hubungan yang ada hanya diwarnai dengan ketertutupan, kecurigaan, dan ketidakpercayaan. Dalam hubungan seperti ini, tidak ada dialog, apalagi kasih. Semangat mematikan lebih besar daripada semangat menghidupkan, semangat mencelakakan lebih besar daripada semangat melindungi. Memahami tindak-tindak kekerasan di Indonesia yang dilakukan orang satu sama lain atau golongan satu sama
lain dari perspektif ini, terlihat betapa masyarakat kita sekarang semakin jauh dari menghargai dialog dan keterbukaan.Permasalahan sosial biasa bisa meluas kepada penganiayaan dan pembunuhan. Toko, rumah ibadah, kendaraan yang tidak ada sangkut pautnya dengan munculnya masalah, bisa begitu saja menjadi sasaran amuk massa. Secara teologis, kekerasan di antara sesama manusia merupakan akibat dari dosa dan pemberontakan manusia. Kita tinggal dalam suatu dunia yang bukan saja tidak sempurna, tapi lebih menakutkan, dunia yang berbahaya. Orang bisa menjadi berbahaya bagi sesamanya. Mulai dari tipu muslihat, pemerasan, penyerangan, pemerkosaan, penganiayaan, pengeroyokan, sampai pembunuhan. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan yang dikenakan pada seseorang semata-mata karena dia perempuan yang berakibat atau dapat menyebabkan kesengsaraan/ penderitaan secara fisik, psikologis atau seksual. Termasuk juga ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di muka umum maupun dalam kehidupan pribadi. (pasal 1, Deklarasi Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, 1993).
Secara terinci dapat dirumuskan terkait bentuk-bentuk kekerasan dan jenis-jenis kekerasan sebagai berikut:
A. Bentuk-bentuk kekerasan
1. Bentuk bentuk kekerasan terhadap perempuan di lingkungan masyarakat.
a. Perdagangan perempuan (Trafficking) b. Pelecehan seksual di tempat kerja / umum. c. Pelanggaran hak-hak repdoduksi.
d. Perkosaan, pencabulan.
e. Kebijakan / Perda yang diskriminatif / represif.
f. Aturan dan praktek yang merampas kemerdekaan perempuan di lingkungan masyarakat.
2. Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dilingkungan rumah tangga.
a. Kekerasan fisik, psikis dan seksual (KDRT) b. Pelanggaran hak-hak reproduksi.
c. Penelantaran ekonomi kekeluarga (KDRT) d. Inses
f. Ingkar janji / kekerasan dalam pacaran. g. Pemaksaan aborsi oleh pasangan.
h. Kejahatan perkawinan (Poligami tanpa izin) atau kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).
B. Jenis – jenis Kekerasan:
3. Tindak kekerasan fisik: yaitu tindakan yang bertujuan untuk melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain, dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lain. Bentuk kekerasan fisik yang dialami perempuan, antara lain: tamparan, pemukulan, penjambakan, mendorong secara kasar, penginjakan, penendangan, pencekikan, pelemparan benda keras, penyiksaan menggunakan benda tajam, seperti : pisau, gunting, setrika serta pembakaran. Tindakan tersebut mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit dan luka berat bahkan sampai meninggat dunia.
4. Tindak kekerasan psikologis: yaitu tindakan yang bertujuan merendahkan citra seorang perempuan, baik metalui kata-kata maupun perbuatan (ucapan menyakitkan, kata-kata-kata-kata kotor, bentakan, penghinaan, ancaman) yang menekan emosi perempuan. Tindakan tersebut mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kernampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan/atau penderitAan psikis berat pada seseorang.
5. Tindak kekerasan seksual: yaitu kekerasan yang bernuansa seksual, termasuk berbagai perilaku yang tak diinginkan dan mempunyai makna seksual yang disebut pelecehan seksual, maupun berbagai bentuk pemaksaan hubungan seksuat yang disebut sebagai perkosaan. Tindakan kekerasan ini bisa diklasifikasikan dalam bentuk kekerasan fisik maupun psikotogis.
Tindak kekerasan seksual meliputi:
a) Pernaksaan hubungan seksual (perkosaan) yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut : Perkosaan ialah hubungan seksual yang terjadi tanpa dikehendaki oleh korban. Seseorang laki-laki menaruh
penis, jari atau benda apapun kedalam vagina, anus, atau mulut atau tubuh perempuan tanpa sekendak perempuan itu.
b) Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang anggota dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan / atau tujuan tertentu.
c). Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasaran. Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti di tempat kerja, dikampus/ sekolah, di pesta, tempat rapat, dan tempat urnum lainnya. Pelaku pelecehan seksual bisa teman, pacar, atasan di tempat kerja.
6. Tindak kekerasan ekonomi: yaitu dalam bentuk penelantaran ekonomi dimana tidak diberi nafkah secara rutin atau dalarn jumlah yang cukup, membatasi dan/ atau metarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah, sehingga korban di bawah kendati orang tersebut.Penyebab Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan.
7. Terkait dengan struktur sosial-budaya/politik/ekonomi/ hukum/ agama, yaitu pada sistim masyarakat yang menganut patriarki, dimana garis ayah dianggap dominan, laki-laki ditempatkan pada kedudukan yang tebih tinggi dari wanita, dianggap sebagai pihak yang lebih berkuasa. Keadaan ini menyebabkan perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi, seperti: sering tidak diberi hak atas warisan, dibatasi peluang bersekolah, direnggut hak untuk kerja di luar rumah, dipaksa kawin muda, kelemahan aturan hukum yang ada yang seringkali merugikan perempuan. Terkait dengan nilai budaya, yaitu keyakinan, stereotipe tentang posisi, peran dan nilai laki-laki dan perempuan, seperti adanya perjodohan paksa, poligami, perceraian sewenang-wenang. 8. Terkait dengan kondisi situasional yang memudahkan, seperti
terisotasi, kondisi konflik dan perang. Dalam situasi semacam ini sering terjadi perempuan sebagai korban, misaInya dalam lokasi pengungsian rentan kekerasan seksual, perkosaan. Dalam kondisi kemiskinan perempuan mudah terjebak pada pelacuran. Sebagai imptikasi maraknya teknologi informasi, perempuan terjebak
pada kasus pelecehan seksual, pornografi dan perdagangan. Pencegahan, penanganan korban dan pelaku adalah tanggung jawab semua pihak: laki-laki, perempuan, lingkungan tetangga, tokoh agama/masyarakat, lembaga pendidikan/ agama, dunia usaha maupun pemerintah.
Kerjasama antara pusat penanganan krisis bagi perempuan korban (women’s crisis center) dengan masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah merupakan suatu kemutlakan.Upaya pencegahan dan penanganan korban maupun pelaku yang ada masih jauh dari memadai. Bagi para perempuan penyandang cacat, kondisi ini lebih berat dirasakan.Khusus tentang dukungan bagi korban untuk dapat melanjutkan hidupnya secara mandiri, sehat dan bermartabat, dibutuhkan beragam dukungan yang bentuknya fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan korban, dan bersifat memberdayakan.
Berkaitan dengan topik penelitian ini yaitu perlindungan wanita terhadap kekerasan seksual maka persoalannya tidak dapat dilepaskan dari persoalan penegakan hukum karena pada akhirnya hukumlah yang diperlukan dan berfungsi agar para wanita terlindungi dari tindakan kekerasan seksual tersebut.
Berbicara tentang penegakan hukum tidak bisa tidak harus dikaitkan dengan tiga komponen dari hukum itu sendiri yang meliputi : substansi, struktur dan budaya hukum, karena ketiga komponen inilah yang akan mempengaruhi bekerjanya hukum dalam masyarakat.
Komponen substansi menyangkut aturan-aturan atau norma yang dirumuskan dalam bentuk yang jelas menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti dalam UUD, UU, Perpu, PP dan sebagainya.Dalam hubungan ini perlu dilihat apakah dalam peraturan perundangan yang ada telah ada pengaturan yang jelas dan tegas mengenai perlindungan terhadap wanita dari tindakan kekerasan seksual tersebut. Kejelasan aturan menjadi penting karena akan dijadikan dasar hukum dalam mengambil tindakan terhadap kasus kekerasan seksual terhadap wanita itu.
Komponen struktur menyangkut aparat pelaksana termasuk aparat penegak hukum yang mempunyai tugas untuk menegakkan aturan hukum yang ada berkenaan dengan kekerasan seksual. Dalam hubungan ini bisa terjadi ada dua sikap yang berbeda dari kalangan
penegak hukum seperti ada yang beranggapan bahwa dalam kasus itu tidak ada kekerasan seksual karena kasus itu terjadi akibat kesalahan si wanita sendiri, tapi pada pihak lain ada tindakan yang tegas bahwa dalam kasus itu telah ada tindakan kekerasan seksual yang harus ditangani secara tegas.
Komponen budaya hukum menyangkut kesadaran hukum dari masyarakat itu sendiri dalam menyikapi kasus kekerasan seksual tersebut. Dalam hubungan ini adakalanya warga yang tertimpa kasus tersebut menganggap bahwa kasus itu “tabu” untuk diungkapkan apalagi untuk melaporkannya ke aparat yang berwajib. Adakalanya juga bahwa warga yang tertimpa memamndang bahwa kasus itu harus diselesaikan sesuai dengann hukum yang berlaku karena itu merupakan haknya untuk mendapat penanganan oleh aparat.
Dalam penelitian ini perhatian utama akan ditujukan kepada komponen substansi karena terkait dengan pengaturan mengenai perlindungan terhadap wanita dari kekerasan seksual, sehingga komponen lainnya akan diperhatikan dalam penelitian lanjutan nantinya.
Berbicara mengenai pengaturan berarti harus dilihat serangkaian peraturan yang ada dalam perundang-undangan di Indonesia terkait dengan perlindungan tersebut, termasuk pula peraturan yang berkaitan dengan hak azasi manusia.Peraturan/kebijakan yang berkaitan dengan pemenuhan hak korban dalam kekerasan wanita dapat dilihat dalam urutan jenjang perundang-undangan mulai dari |UUD 1945, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan seterusnya sampai |Peraturan Daerah.
Berikut ini akan dikemukakan pengaturan yang terkait :
1. Undang Undang Dasar 1945.
UUD 1945 yang telah diamandemen hingga empat kali memuat ketentuan tentang Hak Asasi \Manusia dalam Bab XA, pasal 28A s.d. 28J.dapat dilihat dalam ketentuan tersebut, sesuai dengan kedudukan, fungsi dan sifat dari UUD, pengaturannya bersifat umum terkait dengan hak asasi manusia Indonesia. Tidak ada satu ketentuan yang sifatnya khusus terkait dengan perlindungan terhadap kekerasan sesksual wanita. Namun secara implisit dapat dilihat bahwa UUD 1945 memberikan perlindungan kepada warga negara dari berbagai tindakan kekerasan
seperti yang diatur dalam pasal 28G yang menyatakan bahwa :
(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.
Selanjutnya dalam pasal 28 I dnyatakan bahwa:
(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.23
Jelas dari pengaturan di atas bahwa tidak ada satu kata atau kalimat yang menunjuk kepada perlindungan terhadap kekerasan seksual wanita, akan tetapi dari kata atau kalimat seperti : berhak atas perlindungan diri, kehormatan, martabat, bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan martabat manusia, hak untuk tidak disiksa dll. menunjukkan bahwa wanita sebagai manusia berhak atas perlindungan dari kekerasan seksual yang dilakukan terhadapnya. Dengan kata lain manakala terjadi tindakan kekerasan seksual yang dilakukan terhadap wanita maka wanita itu berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum sebagaimana mestinya.
2. Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP)
Dalam KUHP kekerasan seksual dimasukkan kedalam tindak pidana kejahatan yang diatur dalam Buku II, khususnya dalam pasal 285 yang menyatakan bahwa :
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar
perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Dari ketentuan di atas tampak bahwa kekerasan seksual tersebut dikualifikasi sebagai tindakan perkosaan yang dilakukan oleh seseorang (tentunya pria) terhadap seorang wanita, dimana didalamnya ada tindakan paksaan untuk melakukan hubungan seksual (persetubuhan).Dalam ketentuan ini terlihat bahwa tidak jelas adanya perlindungan terhadap wanita sebagai korban kekerasan seksual, melainkan hanyalah berupa penjatuhan hukuman kepada pelakunya saja.Tidak ada pengaturan mengenai perlindungan terhadap korban manakala terjadi akibat yang tidak diinginkan karena perbuatan perkosaan tersebut, seperti misalnya kalau korban hamil bagaimana upaya hukum yang dapat dilakukan oleh korban, apakah dapat menuntut ganti rugi atau tanggung jawab lainnya, misalnya pelaku harus menikahi korban.
3. Undang Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Dalam undang-undang ini tidak terdapat satu ketentuanpun yang mengatur tentang perlindungan terhadap perempuan dari tindakan kekerasan seksual, melainkan hanya memuat ketentuan-ketentuan umum berkenaan dengan hak asasi manusia seperti yang secara mendasar diatur dalam UUD 1945.
4. Peraturan yang tersebar
Dalam peraturan perundangan lainnya yang ada kaitannya dengan kekerasan terhadap wanita dapat ditemukan rumusan-rumusan sebagai berikut:
Menurut Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, pasal 2, disebutkan bahwa jenis-jenis kekerasan terhadap perempuan mencakup, namun tidak terbatas pada:
a. kekerasan secara fisik, seksual dan psikologis yang terjadi dalam ranah keluarga termasuk pemukulan, penyalahgunaan seksual atas perempuan kanak-kanak dalam rumah tangga, kekerasan yang berhubungan dengan mas kawin, perkosaan dalam perkawinan, pengrusakan alat kelamin perempuan dan praktek-praktek kekejaman tradisional lain terhadap perempuan, kekerasan di luar
hubungan suami istri dan kekerasan yang berhubungan dengan eksploitasi
b. kekerasan secara fisik, seksual dan psikologis yang terjadi dalam masyarakat luas termasuk perkosaan, penyalahgunaan seksual, pelecehan dan ancaman seksual di tempat kerja dalam lembaga-lembaga pendidikan dan sebagainya, perdagangan perempuan dan pelacuran paksa
c. kekerasan secara fisik, seksual dan psikologis yang dilakukan atau dibenarkan oleh negara, dimanapun terjadinya.
Dalam peeraturan perundangan lainnya dapat ditemukan adanya hak-hak yang dimiliki oleh perempuan dan juga anak yang menjadi korban kekerasan (termasuk kekerasan seksual). Adapun hak-hak yang dimaksud adalah :
1. Hak Atas Pemulihan Medis Dan Hak Atas Pemulihan Psikologis. Hak ini diatur dalam Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang PKDRT, Undang-undang No. 21 tahun 2007 tentang PTPPO. 2. Hak Atas Bantuan HukumHak ini diatur dalam Undang-undang
No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang PKDRT, Undang-undang No. 16 tahun 2011 tentang bantuan hukum.
3. Hak Atas Layanan /Pemulihan Psiko-Sosial. Hak ini diatur dalam undang No 23 tahun 2004 tentang PKDRT, Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
4. Hak Atas Reintegrasi. Hak ini diatur dalam Undang-undang No.