• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bunga Rampai. Problematika Hukum. Dr. I Wayan Wiryawan, SH., MH I Nyoman Bagiastra, SH., MH Ni Made Ari Yuliartini G., SH.,MH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bunga Rampai. Problematika Hukum. Dr. I Wayan Wiryawan, SH., MH I Nyoman Bagiastra, SH., MH Ni Made Ari Yuliartini G., SH.,MH"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

Bunga Rampai

Problematika Hukum

Dr. I Wayan Wiryawan, SH., MH

I Nyoman Bagiastra, SH., MH

Ni Made Ari Yuliartini G., SH.,MH

(2)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta

Pasal 2

1. Hak Cpta merupakan hak eksklusf bag Pencpta atau Pemegang Hak Cpta untuk mengumumkan atau memperbanyak Cptaannya, yang tmbul secara otomats setelah suatu cptaan dlahrkan tanpa mengurang pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Pidana Pasal 72

1. Barang sapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagamana dmaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dpdana dengan penjara masng-masng palng sngkat 1 (satu) bulan dan/atau denda palng sedkt Rp 1.000.000,00 (satu juta rupah), atau pdana penjara palng lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda palng banyak Rp 5.000.000,00 (lma juta rupah).

2. Barang sapa dengan sengaja menyarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu cptaan atau barang hasl pelanggaran hak cpta atau hak terbt sebaga dmaksud pada Ayat (1) dpdana dengan pdana penjara palng lama 5 (lma) tahun dan/atau denda palng banyak Rp. 500.000.000,00 (lma ratus juta rupah).

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), karena berkat anugerah dan perkenan-Nya maka luaran dalam bentuk Buku Bunga Rampai (Book Chapter kumpulan hasil penelitian LPPM Dana PNBP 2016 Universitas Udayana) ini dapat diselesaikan.

Buku ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami menghaturkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Udayana yang telah mendukung kegiatan penelitian ini secara finansial melalui Dana PNBP Universitas Udayana Tahun Anggaran 2016. Selanjutnya kami juga menyampaikan terima kasih kepada Dekan FH UNUD, mahasiswa yang telah ikut bersama-sama dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini serta tentu saja pada seluruh Tim peneliti tanpa terkecuali.

Kami berharap hasil luaran kumpulan hasil penelitian ini akan bermanfaat serta memberikan kemuliaan terutama dalam rangka peningkatan keilmuan Ilmu Hukum di masa yang akan datang.

Denpasar,

(4)
(5)

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v

PENGATURAN EDUTOURISM MENUJU SUSTAINABLE TOURISM DI BALI ... 1

1. Pendahuluan ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Urgensi dan Potensi Hasil ... 3

2. Tinjauan Pustaka ... 3

2.1 Kebijakan Pendidikan Nasional dan Internasional ... 5

2.2 Pengembangan Edutourism dalam Mendukung Sustainable Tourism ... 10

2.3 Prinsip NT dan MFN ... 12

2.4 Pengembangan Kebijakan Edutourism ... 12

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 14

3.1 Tujuan Penelitian ... 14

3.2 Manfaat Penelitian ... 15

4. Metode Penelitian ... 15

4.1 Pendekatan Penelitian ... 15

4.2 Sumber Bahan Hukum ... 16

4.3 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 17

4.4 Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum ... 17

5. Hasil dan Pembahasan ... 18

5.1 Edutourism dalam Wajah Pariwisata sebagai Sebuah Penawaran ... 18

5.2 Kebijakan Pariwisata Lokal, Nasional dan Internasional 20 5.3 Kebijakan Pendidikan Nasional dan Internasional ... 22

5.4 Pengembangan Edutourism dalam Mendukung Sustainable Tourism ... 27

(6)

5.5 Pelaksanaan Program Mahasiswa Asing di Indonesia . 30 5.6 Hubungan hukum antara mahasiswa asing dan para

pihak yang terlibat ... 42

6. Kesimpulan dan Saran ... 43

6.1 Kesimpulan ... 43

6.2 Saran ... 44

Daftar Pustaka ... 54

KEKUATAN MENGIKAT SEcARA YURIDIS TENTANG HARGA DAN MEKANISME PENERAPAN KANToNG PLASTIK BERBAYARDALAM SURAT EDARAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN (KLHK) KEPADA KEPALA DAERAH MELALUI SURAT NoMoR S.1230/PSLB3-PS/2016 TERTANGGAL 17 FEBRUARI 2016 ... 47

1. Pendahuluan ... 47

2. Tinjauan Pustaka ... 49

3. Tujuan Dan Manfaat Penelitan ... 52

3.1 Tujuan Penelitian ... 52

3.2 Manfaat Penelitian ... 52

4. Metode Penelitian ... 53

4.1 Pendekatan Masalah ... 53

4.2 Sumber Bahan Hukum ... 54

4.3 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 55

4.4 Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum ... 56

5. Hasil Dan Pembahasan ... 56

5.1 Landasan Filosofis ... 56

5.2 Kekuatan Mengikat, Kedudukan, Dan Mekanisme Terhadap Surat Edaran Tersebut Dalam Konteks Yuridis. ... 59

6. Kesimpulan Dan Saran ... 62

6.1 Kesimpulan ... 62

6.2 Saran ... 62

(7)

URGENSI PENGATURAN PERLINDUNGAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP WANITA DALAM PERSPEKTIF

HAK ASASI MANUSIA ... 65

1. Pendahuluan ... 65

1.1. Latar Belakang ... 65

1.2. Rumusan Masalah ... 67

1.3. Ruang lingkup masalah ... 68

2. Tinjauan Pustaka ... 68

2.1. Pengertian kekerasan seksual ... 68

2.2. Kekerasan terhadap perempuan ... 70

3. Tujuan Dan Manfaat Penelitan ... 72

3.1. Tujuan Penelitian ... 72

3.2. Manfaat Penelitian ... 72

4. Metode Penelitian ... 73

4.1. Pendekatan Masalah ... 73

4.2. Sumber bahan hukum ... 73

4.3. Teknik Pengumpulan Data ... 74

4.4. Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum ... 74

5. Hasil Dan Pembahasan ... 75

5.1. Pengaturan Mengenai Perlindungan Kekerasan Seksual Terhadap Wanita ... 75

5.2. Urgensi Perlindungan Kekerasan Seksual Terhadap Wanita Dalam Perspektif HAM ... 87

6. Kesimpulan Dan Saran ... 88

6.1 Kesimpulana ... 88

6.2 Saran ... 89

(8)
(9)

1. Pendahuluan

1.1 Latas Belakang

Kebebasan melakukan perjalanan dan memanfaatkan waktu luang dalam wujud berwisata, sekarang ini digolongkan sebagai Hak Asasi Manusia (HAM). Negara-negara Berkembang umumnya masih belum menaruh perhatian pada bidang HAM yang berkaitan dengan Hak Berwisata. Hal tersebut berbeda dengan di Negara Maju, seperti halnya

European Union (the EU), mereka cukup menaruh perhatian dan salah

satu focus konsentrasinya adalah hak setiap orang dalam berwisata (the right to tourism) yang dihubungkan dengan peningkatan kualitas kehidupan manusia. 1Kepedulian the EU terhadap hak setiap orang

untuk berwisata serta dikatagorikan sebagai hak asasi manusia (Human Right) dideklarasikan secara tegas oleh Antonio Tanjani,

the European Union Commissioner for Enterprise and Industry

denganmenyatakanbahwa : ”Travelling for tourism today is a human

right. Instrumen hukum Hak Asasi Manusia yang memberikan dasar

yuridis tentang keberadaan the right to tourism” dapat dilihat dalam

Article 24 of the Universal Declaration of Human Rights 1948 sebagai

berikut3: Everyone has the right to rest and leisure, including reasonable

 Konsephak berwisata sebagai hak asasi manusia merupakan konsep hak asasi manusia menurut hukum atau yang lebih dikenal sebagai positif rights yaitu hak asasi yang lahir dari proses pembentukan hukum baik secara nasional maupun internasional yang mana sangat erat kaitannya dengan teori hokum positif dalam ajaran hak asasi manusia. Lihat. Putu Eva Laheri, 205, Tanggung Jawab Negara Terhadap Kerugian Wisatawan

Berkaitan Dengan Pelanggaran Hak Berwisata Sebagai Bagian Dari Hak Asasi Manusia, Jurnal Magister Hukum Udayana, Vol.4

No., Magister Hukum UNUD, Denpasar, h.30

PENGATURAN EDUTOURISM

MENUJU SUSTAINABLE TOURISM

DI BALI

oleh :

Dr. I Wayan Wiryawan, SH.,MH.

(10)

limitation of working hours and periodic holidays with pay.2

Negara Indonesia seperti yang kita ketahui merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki berbagai macam potensi pariwisata, baik wisata alam maupun wisata budaya karena Indonesia memiliki bermacam-macam suku, adat-istiadat, dan kebudayaan serta karena letak geografis negara Indonesia sebagai negara tropis yang menghasilkan keindahan alam dan satwa.

Pulau Bali adalah merupakan salah satu tujuan wisata bagi masyarakat Uni Eropa. Relatif banyak wisatawan yang berasal dari Eropa menghabiskan waktu libur, rileks dan menikmati liburan dengan berwisata di Pulau Bali yang indah dan special dengan adat dan kebudayaannya. Bahkan Pulau Bali telah dua kali mendapatkan penghargaan dunia sebagai The Best Island in the world. Melalui kegiatan berwisata para wisatawan sejenak melupakan urusan-urusan pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi. Situasi rileks dan fress setelah berwisata pada akhirnya akan membawa kesegaran baru untuk beraktivitas kembali yang sesungguhnya adalah salah satu factor penting yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, begitu diyakini oleh pemikir-pemikir yang pro terhadap urusan berwisata adalah bagian dari hak asasi manusia.

Menyikapi hal tersebut diatas, melihat kenyataan bahwa berwisata merupakan hak asasi manusia, pariwisata sebagai hal yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia khususnya Bali serta masih kurangnya jumlah kunjungan yang datang ke Indonesia maka sangat perlu dilakukan perbaikan-perbaikan dalam beberapa hal serta perlu adanya inovasi-inovasi dalam penyelenggaraan pariwisata di Indonesia.

Adanya paket-paket wisata yang menarik yang berbasis keunikan dan kearifan lokal perlu segera dikembangkan yang mendukung terselenggaranya sustainable tourism. Selain paket wisata yang telah ada, perlu kiranya dikembangkan paket wisata yang terkait pendidikan atau yang disebut dengan educational tourism atau edutourism diIndonesia khususnya di Bali.

2 Ni Ketut Supasti Dharmawan, et. al., 20, “The Right to Tourism” dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

di Indonesia, Jurnal Kertha Patrika, V0l. 36 No. 2, Fh UNUD, h.3-5 dalam David Chalk, European Union : Tourism Is A Universal Human Rights, p.2,http://www.nileguide.com, diakses tanggal 4 Nopember

(11)

1.2 Urgensi dan Potensi Hasil

Konsep memadukan antara pendidikan dengan pariwisata yang memiliki payung hukum secara detil di Indonesia sangat urgensi perlu dirumuskan, karena selama ini pengaturan kedua hal tersebut masih besifat parsial diatur secara terpisah, padahal secara fakta seringkali hal tersebut sudah dilakukan di Indonesia serta khususnya di Bali.

Bilamana Educational Tourism atau Edutourism sudah memiliki pengaturan yang jelas diharapkan kedepan dalam pelaksanannya akan dapat memberikan sebuah jaminan serta sebuah aturan yang jelas sehingga sustainable tourism di Bali dapat terwujud sempurna.

2. Tinjauan Pustaka

Fenomena dunia tanpa batas (borderless world), dominance

countries Vs weakness countries, WTO (World Trade Organization) dengan Free Trade dan Region state lainnya melalui regulasi hukum positif

berdasarkan Prinsip-prinsip WTO-GATS : Non Discrimination, National Treatment dan Most Favoured Nation Treatment, dalam implementasi konkretnya ternyata melahirkan perdebatan pro dan kontra.3 Ada yang

berpendapat bahwa paasar bebas melalui WTO akan menutup arah untuk menuju keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Dilain pihak Pemerintah mempunyai argumentasi sendiri terkait persetujuannya dengan Pembentukan WTO, bahwa keikutsertaa ini membawa pengaruh positif bagi Indonesia yang sekaligus menjadi alasan diterbitkannya UU No. 7 Tahun 19944 antara lain : WTO memiliki prinsip utama menjamin

tindakan-tindakan non diskriminai antar negara anggotanya, Sistem penyelesaian sengketa WTO yang meliputi posisi sejajar antar anggota, WTO dapat lebih meningkatkan arus lalu lintas barang dan jasa. Indonesia tidak mungkin hanya mengandalkan kerjasama bilateral karena akan melemahkan posisi tawar Indonesia sebagai negara berkembang.

Berkaitan dengan penyelenggaraan kepariwisatan di Indonesia, melalui Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan (UUK), perihal the right to tourism juga diakui sebagai bagian dari hak

3 Ni Ketut Supasti Dharmawan, 2007, Mengelola Globalisasi Melalui Model Strategi (Proteksi Hukum

Terhadap Intangible Asset Indonesia), Jurnal Hukum, Vo. XVII No. 4, Semarang, h. 546

4 IGN Parikesit Widiatedja, 20, Kebijakan Liberalisasi Pariwisata, Konstruksi Konsep, Ragam Masalah

(12)

asasi manusia. Bagian ini yang menunjukkan liberisasi UUK memberikan pengakuan HAM. Dengan kata lain ketentuan hukum tersebut secara yuridis formal telah eksis di Indonesia yang tentunya membutuhkan pengimplementasian secara kongkrit dalam prakteknya. Jadi, sudah ada kesepahaman bahwa urusan berwisata atau “tourism” termasuk salah satu kebutuhan mendasar manusia sehingga pantas diklasifikasikan sebagai human right.5

Dalam menimbang point c UUK dinyatakan bahwa kepariwisataan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup. Dalam Pasal 4 point e dan f UUK disebutkan kepariwisataan bertujuan dalam melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya dan memajukan kebudayaan. Penekanan terhadap melestarikan alam, lingkungan hidup dan sumber daya ini merupakan suatu harga mati yang merupakan keunggulan komparatif kepariwistaaan Indonesia. Secara langsung dan tidak langsung kemauan politik tersebut menjadi motor penggerak pariwisata Indonesia. Reformasi kepariwisataan (UUK) yang berwawasan budaya ini sebagai figur hukum sebagai sarana bagi pembangunan dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.6

Hasil penulusuran dari beberapa karya tulis baik cetak maupunelektronik, belum diketemukannya mengenai penelitian yang terkhusus membahas mengenai konsep pengaturan Edutourism guna

sustainable tourism di Bali. Dari hasil penulusuran hanya ditemukan

yang terkorelasi yaitu tulisan Ankomah, P. K and Larson, T. R. Education

Tourism: A Strategy to Strategy to Sustainable Tourism Development in Sub-Saharan Africa. Tersedia: unpan1.un.org/intradoc/groups/public/ documents(1992).

Dalam UUK ini ditetapkan manual prosedur, ukuran kriteria, dan pedoman kinerja dalam mengembalikan dan melestarikan kekayaan budaya sebagai salah satu aset terpenting pariwisata kita. Hal ini merupakan modal penting dalam menghadapi tantangan internal dan eksternal di masa mendatang.

5 Ni Ketut Supasti Dharmwan.et.al.,20,loc.cit.,h.4 6 IGN Parikesit Widiatedja, 20, Op.Cit.,h. 47

(13)

Disamping Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, sejumlah kebijakan yang terkait kepariwistaan telah ditetapkan, diantaranya :

- PP RI No. 67 Th. 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan,

- Keppres RI No. 18 Tahun 2003 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat

- Kepper RI No. 103 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Keppres RI No. 18 Tahun 2003

- Inpres No. 16 Tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata.

- dan kebijakan lainnya.

Sedangkan kebijakan terkait kepariwisataan di Bali antara lain :

- Perda Tk.I Bali No. 3 Tahun 1991 tentang Pariwisata Budaya

- Perda Prov. Bali No. 3 Tahun 2005 tantang RTRW Provinsi Bali

- Perda Prov. Bali No. 7 Tahun 2007 tentang Usaha Penyediaan Sarana Wisata Tirta

- Perda Prov. Bali No. 5 Tahun 2008 tentang Pramuwisata. - dan Perda lainnya.

Usaha untuk memenuhi pariwisata yang berkelanjutan ini untuk kepentingan dimasa sekarang selanjutnya diwariskan kepada generasi mendatang.

2.1 Kebijakan Pendidikan Nasional dan Internasional

Pendidikan adalah suatu hal fundamental yang merupakan suatu terpenting yang menjadi dasar majunya perkembangan suatu Negara kedepannya. Pendidikan adalah proses dialektika manusia untuk mengembangkan kemampuan akal pikirnya, menerapkan ilmu pengetahuan dalam menjawab problem-problem sosial serta mencari hipotesa-hipotesa baru yang kontekstual terhadap perkembangan manusia dan zaman. Pendidikanmerupakan media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang secara langsung dapat memperbaiki taraf kesejahteraan rakyat bangsa itu, sekaligus sebagai instrumen yang akan melahirkan tenaga-tenaga intelektual dan praktisi sebagai penopang bagi

(14)

perkembangan hidup masyarakat. Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun suatu negara.Kegagalan pendidikan pada suatu bangsa dapat dipastikan masyarakatnya tidak mampu membangun bangsanya.Hal tersebutlah mengapa negara-negara maju menempatkan pendidikan pada posisi yang utama.

Dalam UUD Republik Indonesia 1945 BAB XIII pasal 31 telah jelas dinyatakan bahwa

Ayat 1 : Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan (perubahan keempat)

Ayat 2 : Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya (perubahan keempat)

Ayat 3 : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkat-kan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang (perubahan keempat)

Ayat 4 : Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (perubahan keempat)

Ayat 5 : Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. (perubahan keempat). Hal ini mengisyaratkan bahwa Negara memiliki peran, serta tanggung jawab yang luar biasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsanya.

Sebagai negara yang memiliki lebih dari 200 juta penduduk yang tingkat partisipasi pendidikannya tinggi, Indonesia ternyata menjadi incaran serta merupakan sasaran empuk pangsa pasar yang menggiurkan bagi negara-negara ekportir jasa pendidikan dan pelatihan, hal ini disebabkan karena perhatian pemerintah terhadap bidang pendidikan masih rendahserta secara umum mutu pendidikan nasional kita mulai

(15)

dari sekolah dasar sampai pendidikan tinggi jauh tertinggal dari standar mutu internasional. Kedua alasan tersebut sering menjadi alasan untuk mengundang masuknya penyedia jasa pendidikan dan pelatihan luar negeri ke Indonesia. Guna lebih meningkatkan ekspor jasa pendidikan tinggi ke negara-negara berkembang, intervensi pemerintah dalam sektor jasa tersebut harus dihilangkan. Liberalisasi semacam itulah yang hendak dicapai melalui General Agreement on Trade in Services (GATS).

Upaya untuk menjadikan pendidikan dan pelatihan sebagai komoditi yang tata perdagangannya diatur oleh lembaga internasional bukan oleh otoritas suatu negara apalagi secara fakta Indonesia telah meratifikasi WTO/GATS hal ini memang perlu disikapi dengan sungguh-sungguh dan dipersiapkan segala sesuatunya guna memprediksi keberlangsungannya baik itu dalam bentuk regulasi maupun kebijakan-kebijakan yang mendukung serta perlu adanya sikap bijaksana serta kritis oleh masyarakat Indonesia.

Satu bidang yang cukup berkembang saat ini adalah bidang perdagangan bebas (free trade), termasuk perdagangan bebas antara Negara-negara di dunia ini, di mana secara prinsip perdagangan bebas ini diakui suatu solusi terbaik dan adil bagi berjalannya roda perekonomian dunia.7

Globalisasi ekonomi dengan perdagangan bebasnya telah semakin memperluas jangkauan kegiatan ekonomi sehingga tidak lagi terbatas pada suatu negara. Globalisasi ekonomi juga meningkatkan persaingan antar negara bahkan menimbulkan proses penyatuan ekonomi dunia.8

Pada satu sisi kenyataan ini adalah merupakan tantangan dan kendala yang membatasi, sedangkan di pihak lain merupakan peluang baru yang dapat dimanfaatkan untuk keberhasilan pembangunan nasional. Globalisasi tersebut harus dicermati dan dihadapi secara optimis.9

Bernard M. Hoekman dan Michael M.Kostecki10 mengatakan “modern

economies areservice economies” (ekonomi modern adalah ekonomi jasa),

selanjutnya dikatakan, jasa-jasa seperti konstruksi, transport, keuangan, pendidikan, profesional dan lain-lainnya mencangkup 60 persen dari GDP (Gross Domestic Product) di Negara-negara OECD (Organisation

7 Munir Fuady, 2004 Hukum Dagang Internasional, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, , h. 

 Hendra Halmani,2002,Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi, Ghalia Indonesia, Jakarta, h. 224

 Sri Rejeki Hartono, Kapita Selekta Hukum Ekonomi, Mandar Maju, Bandung, h. 

0 Bernard M Hoekman and Michael M.Koestecki,5, The Political Economy of The World Trading System

(16)

for Economic Cooperation and Development). Industri jasa di

Negara-negara tersebut telah mengalami peningkatan. Sektor jasa yang efisien merupakan pra-syarat bagi pembangunan ekonomi. Tanpa adanya infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, sistem pendidikan yang baik, dan tanpa tersedianya bisnis jasa yang berkualitas tinggi, suatu negara akan menemukan kesulitan di dalam memprediksi investasi sektor privat dan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu hasil kesepakatan dari terbentuknya perjanjian WTO adalah kesepakatan di bidang jasa (General Agreement on Trade in Services atau GATS). Tujuan utama dibentuknya GATS adalah untuk menyusun perjanjian umum yang merupakan kerangka yang menentukan aturan main di bidang perdagangan jasa dan menetapkan kerangka hukum serta prinsip-prinsip mengenai perdagangan Internasional di bidang jasa.11

Indonesia dengan meratifikasi GATS tersebut maka akan memberikan suatu dampak terhadap konsep perdagangannya terutama dalam sektor jasa. Hal yang pasti akan dilakukan adalah membuat suatu komitmen serta meliberalisasi beberapa sektor jasa yang memang sudah disepakati untuk dibuka secara bebas. Pengimplementasian dari perjanjian tersebut inilah yang diperkirakan akan menimbulkan suatu yang serius dan menjurus merugikan apabila Indonesia tidak mempersiapkan diri dengan menciptakan regulasi yang harmonis antara memperhatikan prinsip-prinsip dari ketentuan-ketentuan GATS dengan tidak juga mengorbankan kepentingan nasional agar tidak terjadinya

inkonstitusional (pengabaian hak-hak warga negaranya), sesuatu hal

yang sulit pastinya.

Indonesia telah mengikatkan diri dan terlibat dalam perundingan liberalisasi perdagangan sejak tahun 2000 dalam kerangka Putaran Doha. Pada putaran tersebut telah diputuskan bahwa GATS mencakup 12 bidang jasa, termasuk pendidikan. Selanjutnya pada Putaran Hong Kong dibahas langkah-langkah untuk meningkatkan komitmen untuk melaksanakan keputusan Doha dengan meminta kepada masing-masing negara anggota untuk menawarkan atau melakukan “offering” sektor-sektor yang akan diliberalisasi. Indonesia telah menawarkan 5 sektor-sektor jasa, yaitu konstruksi, telekomunikasi, bisnis, angkutan laut, pariwisata, dan keuangan. Pada Putaran Hongkong, Indonesia telah memasukkan lagi sektor jasa pendidikan dan menawarkan liberalisasi jasa-jasa

(17)

pendidikan berikut:12

(1) Jasa pendidikan menengah teknikal dan vokasional (2) Jasa pendidikan tinggi teknikal dan vokasional (3) Jasa pendidikan tinggi

(4) Jasa pelatihan dan kursus bahasa

(5) Jasa pendidikan dan pelatihan sepakbola dan catur.

Dimasukkannya sektor pendidikan ke dalam rumusan GATS yang diratifikasi oleh Indonesia akan menimbulkan suatu paradigma serta kebijakan baru bagi sistem pendidikan khususnya pendidikan tinggi di Indonesia.13

Indonesia harus mempersiapkan secara matang serta berusaha untuk bisa mengharmonisasikan secara proporsional dan menganut azaz keseimbangan dalam menuangkan serta mentransformasikan perjanjian Internasional yang sudah diratifikasi tersebut ke dalam hukum nasionalnya (regulasinya) sebelum membuka pasar jasa pendidikan secara bebas, sehingga pada akhirnya akan dapat terwujud serta tercapainya tujuan kepentingan nasional.

Upaya Pemerintah guna mengakomodir serta meng-harmonisasikan

domestic regulation terkait dengan Indonesia meratifikasi GATS

sesungguhnya sudah dituangkan, namun sangat terasa parsial, Pasal 7 ayat (5), Pasal 24 ayat (6), Pasal 25 ayat (6), Pasal 26 ayat (8), Pasal 43 ayat (4), Pasal 60 ayat (7), dan Pasal 68 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, kemudian diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi. Pengaturan Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi meliputi: a. Tanggung jawab, tugas, dan wewenang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi; b. Pendirian Perguruan Tinggi, Program Studi, dan program Pendidikan Tinggi; dan c. Gelar, ijazah, dan sertifikat profesi.

2 Sofian Effendi Makalah pada Diskusi “GATS: Neo-imprialisme modern dalam Pendidkan” diselenggarakan oleh BEMKM UGM, Yogyakarta, 22 September 2005.

3 Dengan ditempatkannya pendidikan sebagai sektor yang diliberalisasi maka tatanan global telah menempatkan pendidikan sebagai sektor jasa yang bersifat komersial. Lihat juga, Victor Nalle,20,Mengembalikan Tanggung Jawab Negara Dalam Pendidikan: Kritik Terhadap Liberalisasi

Pendidikan Dalam UU Sisdiknas Dan UU Bhp Jurnal Konstitusi Volume  Nomor,MK, Jakarta, 4 Agustus

(18)

Adapun pengaturan Pengelolaan Perguruan Tinggi meliputi: a. Otonomi Perguruan Tinggi; b. Pola Pengelolaan Perguruan Tinggi; c. Tata kelola Perguruan Tinggi; dan d. Akuntabilitas publik. Dalam PP ini ditegaskan, tanggung jawab Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi mencakup: a. Pengaturan; b. Perencanaan; c. Pengawasan, pemantauan, dan evaluasi; dan d. Pembinaan dan koordinasi. Pasal 4 PP ini menegaskan, dalam melaksanakan tanggung jawab di bidang pengaturan, Mendikbud memiliki tugas dan wewenang mengatur mengenai sistem Pendidikan Tinggi, anggaran Pendidikan Tinggi, hak mahasiswa, akses yang berkeadilan, mutu Pendidikan Tinggi, relevansi hasil Pendidikan Tinggi, dan ketersediaan Perguruan Tinggi. PP ini menegaskan, Perguruan Tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Otonomi dimaksud terdiri atas: a. Otonomi di bidang akademik (meliputi penetapan norma dan kebijakan operasional serta pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat); b. Otonomi di bidang nonakademik (meliputi penetapan norma dan kebijakan operasional serta pelaksanaan organisasi, keuangan, kemahasiswaan, ketenagakerjaan, dan sarana prasarana.

2.2 Pengembangan Edutourism dalam Mendukung Sustainable

Tourism

Definisi tourism maupunvisitor sebagaimana diacu dalam the UN

WTO Global Code of Ethics for Tourism jika dikaitkan dengan

Undang-Undang Kepariwisataan di Indonesia, tampaknya definisi tersebut lebih mendekati difinisi “wisata”, meskipun di Indonesia batasan bepergian untuk berwisatanya hanya disebutkan dalam jangka waktu “sementara”, sedangkan dalam definisi the UN WTO Global Code of Ethics14 secara

tegas disebutkan batasannya yaitu “tidak lebih dari satu tahun”. Dari konsep “tourism” yang dikemukakan baik dalam konteks the UN WTO

Global Code of Ethics yang sudah jelas mengemukakan tentang lama

kunjungan adalah “tidak lebih dari setahun” atau dalam konteks pengertian “wisata” UUK yang batas waktunya adalah “sementara”, maka kemudian berawal dari rentang waktu inilah dapat dikaji tentang persoalan-persoalan HAM apa saja yang berkaitan dengan suatu kegiatan wisata.

4 UNWTO,20,Global Code of Ethics for Tourism for Responsible Tourism and Related Documents, UNWTO,Madrid, h.

(19)

Dalam perspektif nasional di Indonesia, senada dengan difinisi

sustainable development sebagaimana diatur dalam the UN WTO Global Code of Ethics for Tourism, melalui ketentuan Pasal 1 (3) Undang-Undang

No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Hidup juga dikemukakan pengertian tentang pembangunan berkelanjutan sebagai upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi kedalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahtraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Dalam Undang-Undang Kepariwisataan di Indonesia pengaturan tentang sustainable development tercantum pada bagian “Menimbang huruf c” yang menyebutkan bahwa kepariwisataan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggungjawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup, serta kepentingan nasional.

Berkaitan dengan pencapaian tourism sustainable development (pengembangan kepariwisataan berkelanjutan) ada tiga pilar penting yang wajib diperhatikan dan dijaga keharmonisannya yaitu : keseimbangan ekonomi, lingkungan dan sosial serta ditambah dengan pilar climate change. Persoalan climate change mempunyai pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan ekonomi dan social budaya.15

Kewajiban dan tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan nampaknya selalu eksis dalam berbagai konsep tentang pengembangan

tourism atau kepariwisataan dengan sebutan sustainable tourism. Dalam

Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan meskipun tidak secara tegas dikemukakan mengacu atau meratifikasi the UN WTO

Global Code of Ethics for Tourism, namun pengakuan dan kepatuhannya

terhadap Soft Law tersebut sesungguhnya tercermin dalam Pasal 5 (g) yang menyatakan “Mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan internasional dalam bidang pariwisata”.16

5 NavaminChatarayamontri, 200, Sustainable Tourism And The Law: Coping wih Climate Change, Dissertation & Theses, Paper 6,http://digitalcommons.pace.edu/lawdissertations/6, p. 2

(20)

2.3 Prinsip NT dan MFN

Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipatuhi oleh anggota WTO dalam GATS (General Agreement on Trade in Services) yakni Most Favoured Nation (MFN), suatu prinsip yang menekankan perlakuan yang sama bagi seluruh negara anggota WTO (Article II:1 of GATS)17dan

National Treatment (NT) dalam Article XVII of GATS18, suatu prinsip

perlakuan nasional yang tidak boleh berbeda dengan negara anggota lainnya.

Prinsip perlakuan yang sama ini merupakan suatu persyaratan mutlak bagi setiap gerakan liberalisasi yang berlaku di suatu negara.19

Muatan ini dapat kita lihat dalam UUK mengakui dan memberikan perlakuan yang sama atau non diskriminasi bagi seluruh pelaku usaha yang menjalankan usahanya di Indonesia. Prinsip ini disebut dalam pasal 22 point a, pasal 23 ayat 1 point b dan pasal 26 point c.

Negara anggota wajib melaksanakan prinsip-prinsip dari WTO-GATS tersebut dalam harmonisasi hukum di bidang Kepariwisataan dan Pendidikan dalam konstruksi pengaturan bidang-bidang termaksud di Indonesia pasca keikutsertaan Indonesia dalam WTO-GATS.

2.4 Pengembangan Kebijakan Edutourism

Teori-teori kalsik dan neo klasik tentang perdagangan bebas memberikan harapan bagi negara-negara berkembang yang tengah berusaha meningkatkan taraf kesejahteraan serta pemanfaatan secara menguntungkan dari sumber-sumber kekayaan yang dimilikinya secara melimpah seperti tenaga kerja dan sumber alamnya.20

Mengembangkan teori-teori tersebut sangat relevan dengan pembangunan kepariwisataan yang telah disentuh oleh globalisasi, maka diperlukan inovasi-inovasi di dalamnya untuk mendorong kesempatan berusaha dan memperoleh manfaat serta mampu menghadapi tantangan perubahan kehidupan.

7 Peter Van Den Bossche,200, The Law and Plicy of the World Trade Organization Text Cases and

Materials Second Edition,Cambridge University Press,United Kingdom, h. 334

 Peter Van Den Bossche,200,Ibid.,h. 30

 Sebagaitindaklanjutdarikeikutsertaan Indonesia sebagaianggota WTO, melalui U.U. No. 7 tahun 4 Indonesia telah meratifikasi persetujuan WTO. Padaintinya negara anggota WTO wajib mentaati standar perdagangan internasional, namun demikian tetap memberikan pengecualian. Lihat Ni Ketut Supasti Dharmawan dan Wayan Wiryawan,204,Keberadaan dan Implikasi Prinsip MFN dan NT dalam

Pengaturan Hak Kekayan Intelektual di Indonesia,Jurnal M agister Hukum Udayana, Magister Hukum

UNUD, Denpasar, h. 260

(21)

Education Tourism atau Edutourism sebagai suatu paket

wisata yang belum berkembang di Indonesia khususnya di Bali, sudah seharusnya untuk diatur terkait pengembangan Penataan Kebijakan Kepariwisataan yang terkait Edutorism ini. Kalinowski & Weiler menyatakan “... educational tourism may be viewed in a similar way, as

a product, process and function. In other words as a product the emphasis is on the outcome of teh learning experience (such as a university degree for international university students). For instance, if learning is itsekf defined as an end, then the experience may be focused upon mastering or improving knowledge of what is already known about something (such as a trip to a marine biology station to learn about marine biology).21

Education Tourism atau Edutourism adalah suatu paket kegiatan

wisata yang mengaitkan pendidikan di dalamnya dengan penyelenggara diberikan kepada institusi atau perguruan tinggi yang kompeten.

Pengembangan Edutourism berdasarkan pendekatan sistem, utuh, terpadu, multi-disiplin, partisipatoris dengan kriteria ekonomis, teknis, ergonomis, sosial budaya, hemat energi, melestarikan alam dan tidak merusak lingkungan.22 Wujud komprehensif kebijakan ini adalah

-implementasi konsep, asas-asas, persyaratan, standar teknis, dan kebijakan hukum yang mengatur kegiatan edutorism tersebut.

Indonesia, khususnya Bali sangat memungkinkan mengembangkan lebih komprehensif paket Edutourism ini mengingat:

Pertama, dari segi kebijakan nasional terkait kepariwisataan dan pendidikan, Indonesia telah memenuhi kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan WTO sebagai konsekuensi Indonesia sebagai anggota WTO. WTO-GATS yang didalamnya terkait jasa pariwisata termasuk pendidikan Indonesia telah siap untuk mengembangkan Edutourism ini. UUK juga telah mengadopsi Global Code of Ethics for Tourism.

Kedua, dari sisi Sumber Daya Manusia (tenaga pendidik, tenaga ahli dalam kepariwisataan) dan Sumber Daya Alam serta keunikan pengetahuan teradisional, Indonesia mempunyai banyak potensi dan keunggulan dari negara lain.

Ketiga, industri pariwisata sangat menggiurkan dari segi mendatangkan devisa. Sehingga secepatnya harus diimplementasi secara strategis, karena negara-negara lain (tetangga) telah lama melaksanakan

2 Brent W. Ritchie, et.al.,Managing Educational Tourism,Channel View Publications, United Kingdom, h.5

(22)

kegiatan ini sebagai salah satu daya tarik menambah aliran devisa ke negaranya.

Daya tarik wisata Edutourism adalah kegiatan wisatawan yang dilakukan oleh mereka yang melakukan liburan dan mereka yang melakukan sebuah perjalanan untuk pendidikan dan memperoleh pembelajaran dari perjalanan mereka. Hal ini dapat mencakup wisata edukasi dan wisata studi dewasa, perjalanan siswa sekolah dan program pertukaran. Manfaat industri Pendidikan dan Pariwisata. Manfaat dari kedua industri pendidikan dan pariwisata akan berdampak besar,adapun sebagai berikut : a. Pengalaman lintas budaya akan menjadi penting untuk semua bangsa dan tempat – tempat lain yang ingin bersaing dengan sukses di masa depan. b. Perjalanan siswa dan belajar di luar negeri pada program pertukaran pelajar meningkatkan industri pariwisata di seluruh dunia. c. Industri pariwisata harus menyadari bahwa siswa adalah investasi jangka panjang yang kuat untuk tujuan pelestarian alam dan pariwisata di masa yang akan datang. d. Teman – teman dan keluarga datang untuk mengunjungi mereka saat belajar, namun siswa tersebut kemungkinan akan menyebarkan berita tentang pengalaman wisata positif untuk wisatawan lain dan datang kembali untuk berkunjung.

3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah bermaksud meneliti secara mendalam bagaimana konsep terhadap pengaturan Edutourism ( Education

Tourism) di Bali, karena seperti kita ketahui Pariwisata adalah sebuah

keniscayaan yang dapat mendatangkan devisa yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan nasional. Oleh sebab itu pengembangan pariwisata di Indonesia khususnya di Bali perlu dikembangkan secara berkesinambungan. Edutourism adalah suatu konsep baru penggabungan antara pendidikan dengan pariwisata menjadi satu kesatuan secara utuh dan tidak terpisahkan yang perlu adanya suatu pengaturan yang jelas terkait hal tersebut.

(23)

3.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini mengedepankan pendalaman terhadap beberapa hal yaitu:

1. Apakah pengaturan Educational Tourism atau Edutourism telah memadai guna mendukung sustainable tourism di Indonesia?

2. Bagaimanakah pelaksanaan Edutourism di Bali?

3. Bagaimanakah model atau konsep pengaturan Edutourism yang memadai di Bali?

4. Bagaimanakah implementasi pengaturan Edutourism di Bali?

Hal-hal tersebutlah yang menjadi poin penting dalam penelitian ini sehingga pada akhirnya dapat memberikan masukan sebuah design konsep pengaturan yang jelas dan konkrit serta pengimplementasian

Edutourismguna sustainable tourism di Bali.

4. Metode Penelitian

4.1 Pendekatan Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum, dengan langkah-langkah sebagai berikut:23

Untuk memperoleh suatu pembahasan sesuai dengan apa yang terdapat di dalam tujuan penyusunan bahan analisis, maka dalam penulisan penelitian ini menggunakan metode pendekatan sosio legal. Penelitian ini berbasis pada analisis norma hukum, baik hukum dalam arti Law as it is written in the books (dalam peraturan perUndang-Undangan), maupun hukum dalam arti Law as it is decided by judge

through judicial process (putusan-putusan pengadilan).24 Secara legal

23 Langkah-langkah penelitian hukum tersebut merujuk pada Metode Penelitian Hukum berbasis kajianLangkah-langkah penelitian hukum tersebut merujuk pada Metode Penelitian Hukum berbasis kajian sosio-legal, sebagaimana terangkum dalam Marhaendra Wija Atmaja, 2014, “Metode Penelitian Hukum dalam Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Perundang-undangan”, Denpasar: Progran Studi Magister Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, hlm. 2. Risalah ini merujuk pada Soelistyowati Irianto, 2012, “Memperkenalkan kajian sosio-legal dan implikasi metodologisnya”, dalam Adriaan W. Bedner, dkk (Eds.), Kajian Sosio-Legal, Denpasar: Pustaka Larasan; dan Soelistyowati Irianto, 2011, “Praktik Penelitian Hukum: Perspektif Sosiolegal”, dalam Soelistyowati Irianto dan Shidarta, (Eds.), Metode Penelitian Hukum: Knstelasi dan Refleksi, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

24 Enid Campbell, et.al., , legal Research, Materials and Methods, Sydney : The Law Book Company Limited, h.

(24)

normatif maka penelitian kepustakaan dilakukan dengan menggunakan data yang bersumber dari data sekunder, seperti peraturan-peraturan baik dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah yang mengatur tentang secara eksplisit mengenai Edutourism di Bali. “Dalam melengkapi data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan, maka dilakukan pula penelitian lapangan karena sasaran penelitian hukum disamping kaedah atau das Sollen (penelitian hukum normatif), dapat berupa perilaku atau das Sein (penelitian lapangan)”.25

4.2 Sumber Bahan Hukum Bahan Hukum

Penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang dilakukan dengan mencari, mempelajari dan mengumpulkan data sekunder yang berhubungan dengan obyek penelitian, dengan bantuan buku, literatur, peraturan perundang undangan dan dokumen-dokumen yang terdiri dari:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat.26 Bahan

hukum primer dalam penelitian ini terdiri atas : 1. WTO agreements

2. Global Code of Ethics for Tourism- UN WTO 3. UU No. 190 Tahun 2009 tentang kepariwisataan

4. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 5. UU No. 12 Tahun 2012 tentang pendidikan

b. Bahan Hukum Sekunder

“Bahan hukum sekunder ialah bahan hukum yang mejelaskan bahan hukum primer”.27 Terutama buku-buku hukum termasuk skripsi,

thesis, disertasi hukum dan jurnal jurnal hukum,(termasuk yang on-line). Bahan hukum sekunder berguna untuk meberikan petunjuk kearah mana peneliti akan melangkah.28

c. Bahan Hukum Tersier

“Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan

25 Sudikno Mertokusumo, 6, Mengenal Hukum, Liberty, Yogyakarta, h. 30 26 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, op.cit, h. 3

27 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, op.cit, h. 4

(25)

hukum sekunder”,29 yang terdiri dari Kamus BesarBahasa Indonesia,

Kamus Hukum Belanda-Indonesia, Kamus Inggris-Indonesia.

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian kepustakaan, maka dilakukan studi dokumen yaitu mempelajari bahan-bahan hukum primer, sekunder dan tersier.

Penelitian lapangan dilakukan untuk mendukung data sekunder yang diperoleh dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier guna memperoleh kajian yang lebih mendalam mengenai permasalahan yang akan dihadapi. Lokasi penelitian dilaksanakan di beberapa Universitas di Bali yang secara tidak langsung sudah melaksanakan Edutourism seperti Universitas Udayana, UNDHIRA, IHDN, dan ISI.

4.3 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder melalui pengkajian terhadap peraturan perUndang-Undangan, literatur-literatur, tulisan-tulisan para pakar hukum, bahan kuliah, yang berkaitan dengan penelitian ini.30 Selain itu dilakukan dengan studi lapangan melalui

metode observasi dan wawancara.

4.4 Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum

Pengolahan, analisis dan konstruksi data penelitian hukum normatif dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis terhadap kaidah hukum dan kemudian konstruksi dilakukan dengan cara memasukkan pasal-pasal kedalam kategori-kategori atas dasar pengertian-pengertian dasar dari sistem hukum tersebut.31 Data yang diperoleh melalui studi

kepustakaan dan studi lapangan dianalisis berdasarkan metode kualitatif, yaitu dengan melakukan :

a. Menemukan konsep-konsep yang terkandung dalam bahan-bahan hukum (konseptualisasi) yang dilakukan dengan cara memberikan interpretasi terhadap bahan hukum tersebut ;

b. Mengelompokkan konsep-konsep atau peraturan-peraturan yang sejenis atau berkaitan;

2 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, loc.cit.

30 Riduan, 2004, Metode & Teknik Menyusun Tesis, Bina Cipta, Bandung, h. 7. 3 Soerjono Soekanto, op.cit, h. 225

(26)

c. Menemukan hubungan di antara pelbagai kategori atau peraturan kemudian diolah ;

d. Menjelaskan dan menguraikan hubungan di antara pelbagai kategori atau peraturan perundang-undangan, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Sehingga mengungkapkan hasil yang diharapkan dan kesimpulan atas permasalahan.

5. Hasil Dan Pembahasan

5.1 Edutourism dalam Wajah Pariwisata sebagai Sebuah Penawaran

Program Edutourism akan dilaksanakan peserta yang melakukanEdutourism akan dilaksanakan peserta yang melakukan perjalanan ke lokasi sebagai sebuah kelompok dengan tujuan utama terlibat dalam pengalaman belajar secara langsung terkait dengan lokasi atau destinasi wisata. Ada beberapa karakteristik umum produk wisata edukasi yang melibatkan tingkat yang lebih besar atau lebih kecil dari pembelajaran.

Sebuah model sederhana yang mengklasifikasikan produk yang berbeda sebagai berikut :

1. Pariwisata, dimana beberapa bentuk pendidikan atau pembelajaran adalah komponen yang memotivasi dari pengalaman wisata. Ini termasuk produk wisata edukasi misalnya atraksi wisata budaya, atraksi wisata alam, dan atraksi wisata buatan.

2. Pendidikan, dimana pengalaman wisata edukasi ini termasuk program pertukaran pelajar, sekolah bahasa dan perguruan tinggi/ program perguruan tinggi.

3. Bentuk – bentuk Edutourism yang disajikan dapat berbentuk ekowisata, wisata warisan, wisata pedesaan, wisata komunitas, program-program khusus yang didesain sesuai dengan kebutuhan siswa/mahasiswa sambil mengenal budaya dan destinasi wisata yang dituju, dan pertukaran siswa antar lembaga pendidikan. Program wisata pendidikan dapat dikemas untuk wisatawan umum dimana wisatawan yang datang bukan dari para pelajar yang sedang mengenyam bangku pendidikan ingin berwisata sambil belajar. Sumber daya pariwisata yang melimpah dapat dijadikan sebagai dasar untuk wisata edukasi. Sumber daya ini dapat dikategorikan sebagai

(27)

dimensi : budaya/sejarah, ekowisata/wisata alam berbasis, dan program studi di luar negeri. Contoh tema – tema yang dapat digunakan sebagai

Edutourismadalah ekologi seperti memperhatikan habitat hewan,

populasi serta migrasi hewan, mengukur dampak kesehatan masyarakat, survey pengetahuan tradisional untuk melestarikan adat, meneliti efek pemanasan global dan melihat situs arkeologi dan sebagainya.

Dasar pengembangan konseptual terhadap Edutourism dengan pendekatan tertentu telah menjadi kajian di beberapaa negara. Mereka sangat serius mengadakan penelitian tentang Edutourism ini karena kegiatan ini sangat menjanjikan. Meskipun masih banyak yang perlu diperbaiki, tidak ada salahnya jika kita khususnya Bali memulai hal ini dengan lebih segera mempersiapkan segala sesuatu daripengaturan, konsep, sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya. Tentu saja dengan kebijakan pariwisata yang berkelanjutan yang memerlukan dukungan dan sistem pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan, studi kelayakan untuk transformasi sektor dan pelaksanaan berbagai proyek percontohan dan pengembangan program kerjasama internasional.

Terdapat beberapa indikator dalam melihat potensi dan mengembangkan Edutourism yaitu :

1. Atraksi dan acara yaitu tempat pengalaman belajar atau lokasi. Dan kegiatan yang dilakukan,

2. Sumber daya manusia atau spesialis yaitu mereka yang bertanggung jawab untuk memberikan pengalaman belajar. Hal ini bisa seperti buku panduan, kurator, dosen atau pengajar dan pemandu,

3. Perencana perjalanan yaitu individu, agen atau organisasi yang membantu dalam perencanaan dan perancangan program pembelajaran bagi peserta,

4. Tour Operator yaitu mereka yang bertanggung jawab untuk pengemasan dan penyajian pengalaman pendidikan dengan menyediakan keahlian, pengetahuan lokal dan jasa pemasaran. Pariwisata dan organisasi layanan pendukung yang berkontribusi terhadap total produk wisata edukasi adalah transportasi, jasa perjalanan, penyedia akomodasi, rekreasi, hiburan, dan organisasi tujuan pemasaran.

Hal-hal tersebutlah kemudain dielaboratif secara terukur guna memparameterkan dalam perumusan konsep pengaturan yang

(28)

menjamin adanya kepastian secara yuridis formal, ideal serta aplikatif terkait Educational Tourism atau Edutourism guna memadai untuk mendukung sustainable tourism di Indonesia, pelaksanaan Edutourism di Bali, model atau konsep pengaturan Edutourism yang memadai di Bali serta implementasi pengaturan Edutourism di Bali untuk mewujudkan

sustainable tourism di Bali.

5.2 Kebijakan Pariwisata Lokal, Nasional dan Internasional

Fenomena dunia tanpa batas (borderless world), dominance

countries Vs weakness countries, WTO (World Trade Organization) dengan Free Trade dan Region state lainnya melalui regulasi hukum positif

berdasarkan Prinsip-prinsip WTO-GATS : Non Discrimination, National Treatment dan Most Favoured Nation Treatment, dalam implementasi konkretnya ternyata melahirkan perdebatan pro dan kontra.32 Ada yang

berpendapat bahwa paasar bebas melalui WTO akan menutup arah untuk menuju keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Dilain pihak Pemerintah mempunyai argumentasi sendiri terkait persetujuannya dengan Pembentukan WTO, bahwa keikutsertaa ini membawa pengaruh

32 Ni Ketut Supasti Dharmawan, 2007, Mengelola Globalisasi Melalui Model Strategi (Proteksi Hukum

Terhadap Intangible Asset Indonesia), Jurnal Hukum, Vo. XVII No. 4, Semarang, h. 546

(29)

positif bagi Indonesia yang sekaligus menjadi alasan diterbitkannya UU No. 7 Tahun 199433 antara lain : WTO memiliki prinsip utama menjamin

tindakan-tindakan non diskriminai antar negara anggotanya, Sistem penyelesaian sengketa WTO yang meliputi posisi sejajar antar anggota, WTO dapat lebih meningkatkan arus lalu lintas barang dan jasa. Indonesia tidak mungkin hanya mengandalkan kerjasama bilateral karena akan melemahkan posisi tawar Indonesia sebagai negara berkembang.

Berkaitan dengan penyelenggaraan kepariwisatan di Indonesia, melalui Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan (UUK), perihal the right to tourism juga diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia. Bagian ini yang menunjukkan liberisasi UUK memberikan pengakuan HAM. Dengan kata lain ketentuan hukum tersebut secara yuridis formal telah eksis di Indonesia yang tentunya membutuhkan pengimplementasian secara kongkrit dalam prakteknya. Jadi, sudah ada kesepahaman bahwa urusan berwisata atau “tourism” termasuk salah satu kebutuhan mendasar manusia sehingga pantas diklasifikasikan sebagai human right.34

Dalam menimbang point c UUK dinyatakan bahwa kepariwi-sataan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup. Dalam Pasal 4 point e dan f UUK disebutkan kepariwisataan bertujuan dalam melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya dan memajukan kebudayaan. Penekanan terhadap melestarikan alam, lingkungan hidup dan sumber daya ini merupakan suatu harga mati yang merupakan keunggulan komparatif kepariwistaaan Indonesia. Secara langsung dan tidak langsung kemauan politik tersebut menjadi motor penggerak pariwisata Indonesia. Reformasi kepariwisataan (UUK) yang berwawasan budaya ini sebagai figur hukum sebagai sarana bagi pembangunan dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.35

Dalam UUK ini ditetapkan manual prosedur, ukuran kriteria, dan pedoman kinerja dalam mengembalikan dan melestarikan kekayaan budaya sebagai salah satu aset terpenting pariwisata kita. Hal ini

33 IGN Parikesit Widiatedja, 20, Kebijakan Liberalisasi Pariwisata, Konstruksi Konsep, Ragam Masalah

dan Alternatif Solusi, Udayana University Press, Denpasar, h.5

34 Ni Ketut Supasti Dharmwan.et.al.,20,loc.cit.,h.4 35 IGN Parikesit Widiatedja, 20, Op.Cit.,h. 47

(30)

merupakan modal penting dalam menghadapi tantangan internal dan eksternal di masa mendatang.

Disamping Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, sejumlah kebijakan yang terkait kepariwistaan telah ditetapkan, diantaranya :

- PP RI No. 67 Th. 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan,

- Keppres RI No. 18 Tahun 2003 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat

- Kepper RI No. 103 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Keppres RI No. 18 Tahun 2003

- npres No. 16 Tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata.

- dan kebijakan lainnya.

Sedangkan kebijakan terkait kepariwisataan di Bali antara lain :

- Perda Tk.I Bali No. 3 Tahun 1991 tentang Pariwisata Budaya

- Perda Prov. Bali No. 3 Tahun 2005 tantang RTRW Provinsi Bali

- Perda Prov. Bali No. 7 Tahun 2007 tentang Usaha Penyediaan Sarana Wisata Tirta

- Perda Prov. Bali No. 5 Tahun 2008 tentang Pramuwisata. - dan Perda lainnya.

5.3 Kebijakan Pendidikan Nasional dan Internasional

Pendidikan adalah suatu hal fundamental yang merupakan suatu terpenting yang menjadi dasar majunya perkembangan suatu Negara kedepannya. Pendidikan adalah proses dialektika manusia untuk mengembangkan kemampuan akal pikirnya, menerapkan ilmu pengetahuan dalam menjawab problem-problem sosial serta mencari hipotesa-hipotesa baru yang kontekstual terhadap perkembangan manusia dan zaman. Pendidikan merupakan media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang secara langsung dapat memperbaiki taraf kesejahteraan rakyat bangsa itu, sekaligus sebagai instrumen yang akan melahirkan tenaga-tenaga intelektual dan praktisi sebagai penopang bagi perkembangan hidup masyarakat. Pendidikan mempunyai peran

(31)

yang sangat penting dalam membangun suatu negara. Kegagalan pendidikan pada suatu bangsa dapat dipastikan masyarakatnya tidak mampu membangun bangsanya.Hal tersebutlah mengapa negara-negara maju menempatkan pendidikan pada posisi yang utama.

Dalam UUD Republik Indonesia 1945 BAB XIII pasal 31 telah jelas dinyatakan bahwa

Ayat 1 : Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan (perubahan keempat)

Ayat 2 : Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya (perubahan keempat)

Ayat 3 : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang (perubahan keempat)

Ayat 4 : Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (perubahan keempat)

Ayat 5 : Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. (perubahan keempat).

Hal ini mengisyaratkan bahwa Negara memiliki peran, serta tanggung jawab yang luar biasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsanya.

Sebagai negara yang memiliki lebih dari 200 juta penduduk yang tingkat partisipasi pendidikannya tinggi, Indonesia ternyata menjadi incaran serta merupakan sasaran empuk pangsa pasar yang menggiurkan bagi negara-negara ekportir jasa pendidikan dan pelatihan, hal ini disebabkan karena perhatian pemerintah terhadap bidang pendidikan masih rendah serta secara umum mutu pendidikan nasional kita mulai

(32)

dari sekolah dasar sampai pendidikan tinggi jauh tertinggal dari standar mutu internasional. Kedua alasan tersebut sering menjadi alasan untuk mengundang masuknya penyedia jasa pendidikan dan pelatihan luar negeri ke Indonesia. Guna lebih meningkatkan ekspor jasa pendidikan tinggi ke negara-negara berkembang, intervensi pemerintah dalam sektor jasa tersebut harus dihilangkan. Liberalisasi semacam itulah yang hendak dicapai melalui General Agreement on Trade in Services (GATS).

Upaya untuk menjadikan pendidikan dan pelatihan sebagai komoditi yang tata perdagangannya diatur oleh lembaga internasional bukan oleh otoritas suatu negara apalagi secara fakta Indonesia telah meratifikasi WTO/GATS hal ini memang perlu disikapi dengan sungguh-sungguh dan dipersiapkan segala sesuatunya guna memprediksi keberlangsungannya baik itu dalam bentuk regulasi maupun kebijakan-kebijakan yang mendukung serta perlu adanya sikap bijaksana serta kritis oleh masyarakat Indonesia.

Satu bidang yang cukup berkembang saat ini adalah bidang perdagangan bebas (free trade), termasuk perdagangan bebas antara Negara-negara di dunia ini, di mana secara prinsip perdagangan bebas ini diakui suatu solusi terbaik dan adil bagi berjalannya roda perekonomian dunia.36

Globalisasi ekonomi dengan perdagangan bebasnya telah semakin memperluas jangkauan kegiatan ekonomi sehingga tidak lagi terbatas pada suatu negara. Globalisasi ekonomi juga meningkatkan persaingan antar negara bahkan menimbulkan proses penyatuan ekonomi dunia.37

Pada satu sisi kenyataan ini adalah merupakan tantangan dan kendala yang membatasi, sedangkan di pihak lain merupakan peluang baru yang dapat dimanfaatkan untuk keberhasilan pembangunan nasional. Globalisasi tersebut harus dicermati dan dihadapi secara optimis.38

Bernard M. Hoekman dan Michael M.Kostecki39 mengatakan “modern

economies areservice economies” (ekonomi modern adalah ekonomi jasa),

selanjutnya dikatakan, jasa-jasa seperti konstruksi, transport, keuangan, pendidikan, profesional dan lain-lainnya mencangkup 60 persen dari GDP (Gross Domestic Product) di Negara-negara OECD (Organisation

36 Munir Fuady,2004 Hukum Dagang Internasional, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, , h. 

37 Hendra Halmani,2002,Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi, Ghalia Indonesia, Jakarta, h. 224

3 Sri Rejeki Hartono, Kapita Selekta Hukum Ekonomi, Mandar Maju, Bandung, h. 

3 Bernard M Hoekman and Michael M.Koestecki,5, The Political Economy of The World Trading System

(33)

for Economic Cooperation and Development). Industri jasa di

Negara-negara tersebut telah mengalami peningkatan. Sektor jasa yang efisien merupakan pra-syarat bagi pembangunan ekonomi. Tanpa adanya infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, sistem pendidikan yang baik, dan tanpa tersedianya bisnis jasa yang berkualitas tinggi, suatu negara akan menemukan kesulitan di dalam memprediksi investasi sektor privat dan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu hasil kesepakatan dari terbentuknya perjanjian WTO adalah kesepakatan di bidang jasa (General Agreement on Trade in Services atau GATS). Tujuan utama dibentuknya GATS adalah untuk menyusun perjanjian umum yang merupakan kerangka yang menentukan aturan main di bidang perdagangan jasa dan menetapkan kerangka hukum serta prinsip-prinsip mengenai perdagangan Internasional di bidang jasa.40

Indonesia dengan meratifikasi GATS tersebut maka akan memberikan suatu dampak terhadap konsep perdagangannya terutama dalam sektor jasa. Hal yang pasti akan dilakukan adalah membuat suatu komitmen serta meliberalisasi beberapa sektor jasa yang memang sudah disepakati untuk dibuka secara bebas. Pengimplementasian dari perjanjian tersebut inilah yang diperkirakan akan menimbulkan suatu yang serius dan menjurus merugikan apabila Indonesia tidak mempersiapkan diri dengan menciptakan regulasi yang harmonis antara memperhatikan prinsip-prinsip dari ketentuan-ketentuan GATS dengan tidak juga mengorbankan kepentingan nasional agar tidak terjadinya

inkonstitusional (pengabaian hak-hak warga negaranya), sesuatu hal

yang sulit pastinya.

Indonesia telah mengikatkan diri dan terlibat dalam perundingan liberalisasi perdagangan sejak tahun 2000 dalam kerangka Putaran Doha. Pada putaran tersebut telah diputuskan bahwa GATS mencakup 12 bidang jasa, termasuk pendidikan. Selanjutnya pada Putaran Hong Kong dibahas langkah-langkah untuk meningkatkan komitmen untuk melaksanakan keputusan Doha dengan meminta kepada masing-masing negara anggota untuk menawarkan atau melakukan “offering” sektor-sektor yang akan diliberalisasi. Indonesia telah menawarkan 5 sektor-sektor jasa, yaitu konstruksi, telekomunikasi, bisnis, angkutan laut, pariwisata, dan keuangan. Pada Putaran Hongkong, Indonesia telah memasukkan lagi sektor jasa pendidikan dan menawarkan liberalisasi jasa-jasa

(34)

pendidikan berikut:41

(1) Jasa pendidikan menengah teknikal dan vokasional (2) Jasa pendidikan tinggi teknikal dan vokasional (3) Jasa pendidikan tinggi

(4) Jasa pelatihan dan kursus bahasa

(5) Jasa pendidikan dan pelatihan sepakbola dan catur.

Dimasukkannya sektor pendidikan ke dalam rumusan GATS yang diratifikasi oleh Indonesia akan menimbulkan suatu paradigma serta kebijakan baru bagi sistem pendidikan khususnya pendidikan tinggi di Indonesia.42

Indonesia harus mempersiapkan secara matang serta berusaha untuk bisa mengharmonisasikan secara proporsional dan menganut azaz keseimbangan dalam menuangkan serta mentransformasikan perjanjian Internasional yang sudah diratifikasi tersebut ke dalam hukum nasionalnya (regulasinya) sebelum membuka pasar jasa pendidikan secara bebas, sehingga pada akhirnya akan dapat terwujud serta tercapainya tujuan kepentingan nasional.

Upaya Pemerintah guna mengakomodir serta meng-harmonisasikan

domestic regulation terkait dengan Indonesia meratifikasi GATS

sesungguhnya sudah dituangkan, namun sangat terasa parsial, Pasal 7 ayat (5), Pasal 24 ayat (6), Pasal 25 ayat (6), Pasal 26 ayat (8), Pasal 43 ayat (4), Pasal 60 ayat (7), dan Pasal 68 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, kemudian diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi. Pengaturan Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi meliputi: a. Tanggung jawab, tugas, dan wewenang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi; b. Pendirian Perguruan Tinggi, Program Studi, dan program Pendidikan Tinggi; dan c. Gelar, ijazah, dan sertifikat profesi.

Adapun pengaturan Pengelolaan Perguruan Tinggi meliputi: a. Otonomi Perguruan Tinggi; b. Pola Pengelolaan Perguruan Tinggi; c.

4 Sofian Effendi Makalah pada Diskusi “GATS: Neo-imprialisme modern dalam Pendidkan” diselenggarakan oleh BEMKM UGM, Yogyakarta, 22 September 2005.

42 Dengan ditempatkannya pendidikan sebagai sektor yang diliberalisasi maka tatanan global telah menempatkan pendidikan sebagai sektor jasa yang bersifat komersial. Lihat juga, Victor Nalle,20,Mengembalikan Tanggung Jawab Negara Dalam Pendidikan: Kritik Terhadap Liberalisasi

Pendidikan Dalam UU Sisdiknas Dan UU Bhp Jurnal Konstitusi Volume  Nomor,MK, Jakarta, 4 Agustus

(35)

Tata kelola Perguruan Tinggi; dan d. Akuntabilitas publik. Dalam PP ini ditegaskan, tanggung jawab Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi mencakup: a. Pengaturan; b. Perencanaan; c. Pengawasan, pemantauan, dan evaluasi; dan d. Pembinaan dan koordinasi. Pasal 4 PP ini menegaskan, dalam melaksanakan tanggung jawab di bidang pengaturan, Mendikbud memiliki tugas dan wewenang mengatur mengenai sistem Pendidikan Tinggi, anggaran Pendidikan Tinggi, hak mahasiswa, akses yang berkeadilan, mutu Pendidikan Tinggi, relevansi hasil Pendidikan Tinggi, dan ketersediaan Perguruan Tinggi. PP ini menegaskan, Perguruan Tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Otonomi dimaksud terdiri atas: a. Otonomi di bidang akademik (meliputi penetapan norma dan kebijakan operasional serta pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat); b. Otonomi di bidang nonakademik (meliputi penetapan norma dan kebijakan operasional serta pelaksanaan organisasi, keuangan, kemahasiswaan, ketenagakerjaan, dan sarana prasarana.

5.4 Pengembangan Edutourism dalam Mendukung Sustainable

Tourism

5.4.1 Sustainable Tourism

Definisi tourism maupun visitor sebagaimana diacu dalam the UN

WTO Global Code of Ethics for Tourism jika dikaitkan dengan

Undang-Undang Kepariwisataan di Indonesia, tampaknya definisi tersebut lebih mendekati difinisi “wisata”, meskipun di Indonesia batasan bepergian untuk berwisatanya hanya disebutkan dalam jangka waktu “sementara” , sedangkan dalam definisi the UN WTO Global Code of Ethics43secara

tegas disebutkan batasannya yaitu “ tidak lebih dari satu tahun”. Dari konsep “tourism” yang dikemukakan baik dalam konteks the UN

WTO Global Code of Ethics yang sudah jelas mengemukakan tentang

lama kunjungan adalah “tidak lebih dari setahun” atau dalam konteks pengertian “wisata” UUK yang batas waktunya adalah “sementara”, maka kemudian berawal dari rentang waktu inilah dapat dikaji tentang persoalan-persoalan HAM apa saja yang berkaitan dengan suatu kegiatan wisata.

43 UNWTO,20,Global Code of Ethics for Tourism for Responsible Tourism and Related Documents, UNWTO,Madrid, h.

(36)

Kehadiran pariwisata mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memungkinkan masyarakat menjadi cerdas, memiliki pergaulan yang lebih luas, meningkatkan citra daerah, serta, memberikan dampak positif yang sangat luas, baik di bidang ekonomi, lingkungan fisik, maupun sosial budaya, sehingga kehadirannya harus disambut dan diterima secara obyektif.44 Pengelolaan secara profesional dalam

pengembangan pariwisata merupakan proses pencerdasan masyarakat dan mengantarkan masyarakat ke arah perubahan yang lebih baik.45

Dalam perspektif nasional di Indonesia, senada dengan difinisi

sustainable development sebagaimana diatur dalam the UN WTO Global Code of Ethics for Tourism, melalui ketentuan Pasal 1 (3) Undang-Undang

No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Hidup juga dikemukakan pengertian tentang pembangunan berkelanjutan sebagai upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahtraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Dalam Undang-Undang Kepariwisataan di Indonesia pengaturan tentang sustainable development tercantum pada bagian “Menimbang huruf c” yang menyebutkan bahwa kepariwisataan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggungjawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup, serta kepentingan nasional.

Berkaitan dengan pencapaian tourism sustainable development (pengembangan kepariwisataan berkelanjutan) ada tiga pilar penting yang wajib diperhatikan dan dijaga keharmonisannya yaitu : keseimbangan ekonomi, lingkungan dan sosial serta ditambah dengan pilar climate change. Persoalan climate change mempunyai pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan ekonomi dan sosial budaya.46

44 I Nyoman Madiun, 200, Nusa Dua, Model Pengembangan Kawasan Wisata Modern, Udayana University Press, Denpasar, h. v

45 Ibid., h. vi

46 Navamin Chatarayamontri, 200, Sustainable Tourism And The Law: Coping wih Climate Change, Dissertation & Theses, Paper 6,http://digitalcommons.pace.edu/lawdissertations/6, p. 2

Referensi

Dokumen terkait

Multi Prima Sejahtera Tbk (LPIN) yang bergerak dalam produksi busi atau suku cadang mobil diketahui dari laporan keuangan LPIN terus merugi selama tahun

Pelaksanaan pasal 81 s/d pasal 83 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 bagi pekerja perempuan dalam suatu perusahaan dalam prakteknya, sudah

Hukum Perjanjian Internasional (Prasyarat Lulus Hk.Internasional) BII 3220 2 3 32 A I Gede Pasek Eka Wisanjaya,SH.,MH/I Gede Putra Ariana,SH.,MH/Komang Widiana Purnawan,SH.,MH

PASAL 288 KUHP: BARANG SIAPA DALAM PERKAWINAN BERSETUBUH DENGAN SEORANG WANITA YANG DIKETAHUINYA ATAU SEPATUTNYA HARUS DIDUGANYA BAHWA YANG BERSANGKUTAN BELUM WAKTUNYA UNTUK

ADIN MUKHTARUDIN, SH.,MH

Oleh karena itu presiden yang memiliki hak konstitusional telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam mengeluarkan Peraturan Pemerintah

⌁ Setelah calon mahasiswa tersebut diterima di suatu PT, segala sesuatu belum berakhir, bahkan ia baru akan memulai perjalanan yang begitu panjang dalam usaha

Hal ini tentunya menjadi pertimbangan menarik bagi peneliti karena berdasarkan data yang diperoleh peneliti tidak semua koperasi memiliki kinerja yang maksimal atau SHU yang