BAB III PENGATURAN MENGENAI SHORT SELLING DALAM
B. Pengaturan Mengenai Short Selling Dalam Pasar Modal
Transaksi short selling merupakan salah satu bentuk kegiatan transaksi efek yang dilakukan oleh investor dimana investor meminjam efek dari perusahaan.Transaksi short selling bukanlah suatu transaksi yang terjadi pada akhir-akhir ini, transaksi tersebut telah terjadi dari tahun bahkan abad-abad sebelumnya. Transaksi short selling ini sudah menjadi sebuah kasus sejak munculnya pasar saham di tahun 1600-an di negara Belanda.102 Saat itu akibat dari transaksi short selling membuat harga saham di bursa Belanda meledak sehingga banyak orang yang kehilangan tabungannya. Sejak saat itu pelaku short selling menjadi objek cemoohan dari masyarakat, misalnya di Amerika Serikat short selling digolongkan dalam praktik melanggar hukum hingga tahun 1850-an, Napoleon sebagai pimpinan Perancis pada saat itu mengumumkan bahwa short selling sebagai pengkhianatan oleh karena menghalangi pembiayaan perangnya, pada tahun 1995 Menteri Keuangan Malaysia mengusulkan agar para pelau short
selling dihukum dengan pukulan rotan.103
101 Ibid. 102
Tom Taulli, Short Selling Trik Kaya Dari Kejatuhan Harga Saham. Diterjemahkan
oleh Dedes Ekarini, Op.Cit., hlm. 1. 103
Transaksi short selling di Indonesia memiliki dua pandangan yang berbeda diantara masyarakat, menurut beberapa pihak short selling diperbolehkan asalkan praktiknya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan berdasarkan peraturan Bapepam terdahulu, disisi lain ada juga pihak yang menyatakan bahwa short selling merupakan suatu transaksi yang tidak boleh di lakukan bahkan Majelis Ulama Indonesia meminta agar transaksi short selling tidak dilakukan di pasar modal Indonesia. Hal tersebut dikarenakan praktik transaksi short selling berpotensi melanggar prinsip syariah.104 Dua hal yang berbeda tersebut memiliki alasan yang kuat, dikarenakan bagi pihak yang merasa transaksi short selling dapat diberlakukan berpendapat bahwa short selling dapat merangsang para investor untuk bertransaksi di dalam pasar modal. Pihak yang menolak short selling menilai bahwa dalam transaksai short selling memiliki resiko yang lebih besar terjadinya gagal serah dibandingkan dengan transaksi jual beli saham lainnya, oleh karena pada saat transaksi short selling penjual tersebut belum memiliki saham yang di transaksikan. Hal tersebut membuat penjual saham tersebut mencari saham di bursa atau dalam hal likuiditas atas efek tidak tersedia, penjual dapat mencari pinjaman saham baik dari perusahaan efeknya maupun dengan menggunakan fasilitas pinjam-meminjam yang diberikan oleh PT KPEI.105
Pengaturan mengenai short selling di dalam pasar modal Indonesia terdapat di dalam Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal, yaitu
104
m.detik.com/finance/read/2011/05/03/141626/161364/6/mui-haramkan-transaksi- marjin-dan-short-selling(diakses pada tanggal 30 Agustus 2015).
105
Putu Suryastuti, Analisa Hukum Terhadap Transaksi Short Seliing di Indonesia dan
Perlindungan Hukum Bagi Pihak Lawan Transaksi Dalam Transaksi Short Selling (Tesis,
PeraturanBapepam V.D.6 mengenai Pembiayaan Penyelesaian Transaksi Efek oleh Perusahaan Efek bagi Nasabah. Peraturan Bapepam V.D.6 ini disahkan oleh Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dengan nomor keputusan Kep-09/PM/1997 pada tanggal 30 April 1997. Pada perkembangannya Bapepam-LK merevisi Peraturan Bapepam V.D.6 tahun 1997 dengan disahkannya Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor Kep-258/BL/2008 pada tanggal 30 Juni 2008 tentang Pembiayaan Transaksi Efek oleh Perusahaan Efek bagi Nasabah dan Transaksi Short Selling oleh Perusahaan Efek.106
Peraturan Bapepam V.D.6 tidak secara khusus mengatur tentang bagaimana suatu transaksi short selling dilakukan, peraturan tersebut lebih mengatur tentang pembiayaan transaksi short selling oleh perusahaan efek. Peraturan Bapepam V.D.6 memberikan ilustrasi mengenai transaksi short selling, pada lampiran tersebut ilustrasi transaksi short selling yang dilakukan oleh nasabah sebagai berikut :107
Nasabah B membuka rekening efek pembiayaan transaksi short selling dengan menyetorkan jaminan awal kepada perusahaan efek senilai Rp200.000.000.Dengan transaksi short selling, perusahaan efek dapat memberikan pembiayaan efek atas transaksi short selling sebesar nilai efek yang ditransaksikan secara short selling oleh nasabah yang dibiayai oleh perusahaan efek dan dicatat pada saldo posisi short rekening efek pembiayaan transaksi short selling di buku pembantu efek.Dengan jaminan sebesar Rp200.000.000 (50% dari
106
Slamet Widodo. “Pengaturan Mengenai Short
Selling.”m.hukumonline.com/klinik/detail/cl4663/pengaturan-mengenai-short-selling(diakses pada
tanggal 10 Juli 2015).
107
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan Republik Indonesia. Peraturan V.D.6.
nilai transaksi short selling, ketentuan angka 6 huruf c butir (3)) nasabah dapat melakukan transaksi short selling sebesar Rp400.000.000 (dengan asumsi harga saham adalah Rp1.000,- per saham dan jumlah saham adalah 400.000 saham).
Pada saat penyelesaian transaksi, perusahaan efek akan menerima dana senilai Rp400.000.000,- dari lembaga kliring dan penjaminan. Dana yang diterima dari penjualan tersebut selanjutnya menjadi jaminan pembiayaan, sehingga rasio jaminan pembiayaan terhadap posisi short adalah :
��200.000.000 (�����������) +��400.000.000 (����ℎ�����ℎ����������)
��400.000.000 (������������������������������ℎ���) = 150% Kondisi harga saham mengalami kenaikan :
1. jika nilai pasar wajar saham pada posisi short mengalami peningkatan menjadi Rp 1.100, maka peningkatan tersebut akan mengakibatkan nilai pasar wajar efek pada posisi short mengalami kenaikan menjadi Rp 1.100 x 400.000 = Rp440.000.000,-, sehingga rasio jaminan pembiayaan terhadap posisi short akan mengalami penurunan menjadiRp600.000.000 : Rp440.000.000 (yaitu dari Rp1.100 x 400.000 saham) = 136%
2. jika nilai pasar wajar saham pada posisi short mengalami kenaikan menjadi Rp 1.111,- maka rasio jaminan pembiayaan terhadap posisi short menjadiRp600.000.000 : Rp444.400.000 (yaitu dari Rp1.111 x 400.000 saham) = 135%
3. jika nilai pasar wajar saham pada posisi short mengalami kenaikan lebih lanjut menjadi Rp1.200, maka rasio jaminan pembiayaan terhadap posisi short menjadiRp600.000.000 : Rp480.000.000 (yaitu dari Rp1200 x 400.000 saham) = 125%
Pada saat rasio jaminan pembiayaan terhadap posisi short kurang dari 135%, maka perusahaan efek wajib melakukan permintaan pemenuhan jaminan kepada nasabah untuk menyerahkan tambahan dana atau efek ke rekening efek pembiayaan transaksi short selling sehingga nilai jaminan pembiayaan terhadap nilai pasar wajar saham pada posisi short menjadi paling kurang 135% (seratus tiga puluh lima perseratus).
Pada saat nilai pasar wajar saham pada posisi short sebesar Rp480.000.000, maka jaminan pembiayaan seharusnya Rp480.000.000 x 135% = Rp.648.000.000. Oleh karena jaminan yang ada adalah Rp600.000.000, maka nasabah wajib menyerahkan tambahan dana dan atau efek paling kurang sebesar Rp48.000.000, jika nasabah tidak melakukan penyerahan dana dan atau efek tambahan sedangkan nilai pasar wajar saham pada posisi short mengalami peningkatan lebih lanjut menjadi Rp1.300, maka nilai jaminan pembiayaan terhadap nilai pasar wajar saham pada posisi short menjadiRp600.000.000 : Rp520.000.000 (yaitu dari Rp1.300 x 400.000 saham) = 115%
Dalam kondisi ini, perusahaan efek wajib melakukan eksekusi jaminan untuk membeli saham pada posisi short dalam rangka memperbaiki rasio antara jaminan pembiayaan terhadap nilai pasar wajar saham pada posisi short sehingga menjadi 135% (seratus tiga puluh lima perseratus). Adapun jaminan yang wajib dieksekusi adalah sebesar saham pada posisi short yang wajib dibeli yaitu :
��600.000.000����������
��520.000.000����������= 135%
Saham pada posisi short yang wajib dibeli oleh perusahaan efek adalah senilai Rp 291.077.467 atau sebanyak Rp 291.077.467 : Rp1300 = 223.923 saham sehingga rasio antara jaminan pembiayaan terhadap nilai pasar wajar saham pada posisi short adalah 135% (seratus tiga puluh lima perseratus) dengan perhitungan sebagai berikut :
��600.000.000−��291.077467
��520.000.000−��291.077467= 135% Tabel Ilustrasi Transaksi Short Selling:
Lembar 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 Harga Saham (Rp) 1.000 1.100 1.111 1.200 1.300 Nilai Posisi Short (Rp) 400.000.0 00 440.000.0 00 444.444.4 44 480.000.0 00 520.000.000 Nilai Jaminan Pembiayaan (Rp) 600.000.0 00 600.000.0 00 600.000.0 00 600.000.0 00 600.000.000 Rasio 150% 136% 135% 125% 115% Tambahan dana / Efek (Rp) - - - 48.000.00 0 - Pembelian (Rp) - - - - 291.077.467
Apabila nasabah B bermaksud menutup rekening efek pembiayaan transaksi short selling pada saat harga mencapai Rp 1.300, maka perusahaan efek akan melakukanpembelian atas saham dalam posisi short senilai Rp1.300 x 400.000 = Rp520.000.000.
Dengan pembelian tersebut maka sisa nilai jaminan pembiayaan menjadiRp600,000,000 – Rp520.000.000 = Rp80.000.000.
Dengan ditutupnya rekening tersebut, perusahaan efek mendapatkanpengembalian saham sebanyak 400.000 lembar dengan nilai Rp 520.000.000 dannasabah menerima sisa jaminan pembiayaan sebesar Rp 80.000.000,-
Ilustrasi yang digambarkan oleh peraturan V.D.6 tersebut mengungkapkan bahwa peraturan tersebut tidak menyatakan bahwa transaksi short selling tidak boleh dilakukan di pasar modal, transaksi tersebut dapat dilakukan dengan sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan di peraturan V.D.6 tersebut. Tom Taulli dalam bukunya memberikan enam tahap utama dalam proses transaksi short
selling, yaitu :108
1. Membuka Rekening
Tahap ini menganjurkan untuk setiap pihak yang mau melakukan short selling untuk membuka rekening broker, seperti sejumlah uang tunai dan surat berharga.
2. Lakukan riset pada perusahaan
108
Tom Taulli, Short Selling Trik Kaya Dari Kejatuhan Harga Saham. Diterjemahkan
Pada tahap ini pihak yang akan melakukan transaksi short selling harus membenamkan dirinya kedalam data-data rinci suatu perusahaan. Pada tahap ini diharapkan pihak yang akan melakukan transaksi short selling tersebut dapat melakukan spekulasi terhadap harga saham perusahaan tersebut apakah akan naik atau turun. Saham yang dicari oleh para pelaku short selling adalah saham yang dapat dengan mudah turun harganya, karena para pelaku short selling akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga saham pada saat dijual dan dibeli. Saham yang mudah turun akan memberikan keuntungan kepada pelaku short selling.
3. Memulai short selling
Pada tahap ini para pelaku short selling akan memulai transaksi tersebut dengan menghubungi broker atau menekan tombol rekening on line untuk melakukan short terhadap sejumlah saham perusahaan yang telah terlebih dahulu diteliti. Kendalanya adalah pelaku short tersebut belum memiliki saham yang diinginkannya.
4. Meminjam saham
Pada tahap ini pelaku short selling akan mencari pinjaman saham yang ada di pasar bursa agar dapat melanjutkan transaksi short selling tersebut.
5. Menjual saham
Pada tahap ini setelah mendapatkan pinjaman saham, pelaku short akan mulai menjual saham tersebut dalam harga tertentu yang telah diprediksi bahwa dengan membuat harga tersebut saham yang dijual akan turun harganya
sehingga pelaku short tersebut nantinya akan mendapatkan keuntungan dari selisih harganya nanti.
Ilustrasi untuk mempermudah memahami transaksi short seling adalah sebagai berikut, misalnya ada tiga investor yaitu A, B, dan C. Saham yang akan diperdagangkan adalah saham X. Misalnya A sebagai pelaku short selling menjual saham X kepada B. Katakan A menjual saham X sebanyak 1000 lembar kepada B dengan harga Rp 1.000 pada sesi pertama bursa. Sebelumnya A berspekulasi bahwa saham X akan terjadi penurunan harga apabila A menjualnya pada posisi harga Rp 1.000 per lembar menjadi Rp 800 per lembar pada sesi kedua bursa. Apabila B bersedia membeli 1000 lembar saham X yang di jual A, maka B akan menyerahkan uang sejumlah Rp 1.000.000,- kepada A. Misalnya apa yang diprediksi oleh A benar-benar terjadi, pada sesi kedua bursa harga saham X menunjuk angka Rp 800 per lembar. A dengan segera melakukan order beli yang secara kebetulan C bersedia menjual 1000 lembar saham X kepada A dengan harga Rp 800 per lembar. Maka A akhirnya akan menyerahkan uang kepada C sejumlah Rp 800.000,-. Dari ilustrasi tersebut dapat diberikan kesimpulan bahwa A menerima uang sejumlah Rp 1.000.000,- dari B, A segera membayar Rp 800.000,- kepada C, A menerima 1000 lembar saham X dari C, A memberikan 1000 lembar saham X kepada C. Maka dapat disimpulkan bahwa A mendapatkan keuntungan sebesar Rp 200.000,-
Pada tahap ini apabila pelaku short selling telah menyadari bahwa harga saham tersebut turun maka akan mendapatkan keuntungan dan pelaku short tersebut harus menutupi posisi short dengan membeli kembali saham perusahaan sebanyak yang telah dijual tadi kemudian mengembalikan saham yang telah dipinjam tadi.