• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENGATURAN TINDAK PIDANA DALAM UNDANG-

B. Pengaturan Tindak Pidana dalam UU No.10 tahun 2008 tentang

1. Pelanggaran Pidana Pemilu

Yang dimaksud dengan pelanggaran pidana Pemilu adalah pelanggaran terhadap ketentuan pidana Pemilu yang diatur dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2008 yang penyelesaiannya dilaksanakan melalui Pengadilan Umum.

Menurut wujud dan sifatnya, perbuatan atau tindak pidana adalah perbuatan yang melawan hukum, perbuatan itu merugikan masyarakat dalam arti bertentangan dengan atau menghambat akan terlaksananya tata pergaulan masyarakat yang dianggap baik dan adil.59

Penyidik Kepolisian Negara RI menyampaikan hasil penyidikannya disertai berkas perkara kepada Penuntut Umum, paling lama 14 (empat belas) hari sejak menerima laporan Bawaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/ Kota. Apabila

58 Ibid 59

Abdul Rasyid Thalib, Wewenang Mahkamah Konstitusi dan Implikasinya dalam Sistem

hasil penyidikan belum lengkap, dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari, Penuntut Umum, mengembalikan berkas kepada penyidik kepolisian, dengan disertai petunjuk tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi. Selanjutnya penyidik Kepolisian negara RI, dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari sejak tanggal penerimaan berkas, harus sudah menyampaikan berkas perkara tersebut kepada Penuntut Umum. Kemudian barulah Penuntut Umum melimpahkan berkas perkara dimaksud kepada Pengadilan Negeri, paling lama 5 (lima) hari sejak menerima berkas perkara.

Selanjutnya, Pengadilan Negeri memeriksa, mengadili dan memutus perkara tindak pidana Pemilu menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), kecuali ditentukan lain dalam UU No. 10 Tahun 2008. Sidang pemeriksaan pidana Pemilu, dilakukan oleh Hakim Khusus, diatur dengan peraturan Mahkamah Agung.60

Pengadilan Negeri memeriksa, mengadili dan memutus perkara pidana pidan Pemilu, paling lama 7 (tujuh) hari setelah pelimpahan berkas perkara. Apabila terdapat putusan Pengadilan dimaksud diajukan banding, permohonan banding diajukan paling lama 3 (tiga) hari setelah putusan dibacakan. Pengadilan Negeri melimpahkan berkas perkara permohonan banding kepada Pengadilan Tinggi, paling lama 3 (tiga) hari setelah permohonan banding diterima.61

60

Abdullah, Rozali Mewujudkan Pemilu yang Lebih Berkualitas, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009).

61 Ibid.

Pengadilan Tinggi memeriksa dan memutuskan perkara banding paling lama 7 (tujuh) hari setelah permohonan banding diterima. Putusan Pengadilan Tinggi dalam hal ini, merupakan putusan akhir dan mengikat, serta tidak ada upaya hukum lain.

Kemudian, putusan pengadilan dimaksud harus sudah disampaikan kepada Penuntut Umum paling lama 3 (tiga) hari setelah putusan dibacakan dan harus dilaksanakan paling lama 3 (tiga) hari setelah putusan diterima oleh Jaksa.

Putusan Pengadilan terhadap perkara tindak pidana pemilu yang dapat mempengaruhi perolehan suara Peserta Pemilu harus sudah selesai paling lama 5 (lima) hari setelah KPU menetapkan hasil Pemilu secara nasional. KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota wajib menindaklanjuti putusan Pengadilan tersebut. Salinan putusan Pengadilan harus diterima oleh KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/ Kota dan peserta Pemilu pada hari putusan Pengadilan tersebut dibacakan.62

2. Perselisihan Hasil Pemilu

Perselisihan hasil Pemilu adalah perselisihan antara KPU dan Peserta Pemilu mengenai penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. Perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional, adalah perselisihan penetapan perolehan suara yang dapat mempengaruhi perolehan kursi peserta Pemilu.63

62 Ibid. 63

Apabila terjadi perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional, peserta Pemilu dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil perhitungan suara oleh KPU kepada Mahkamah Konstitusional. Peserta Pemilu mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi, paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam, sejak diumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional oleh KPU. Dalam hal ini, KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/ Kota wajib menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstiusi.

3. Ketentuan Pidana

Ketentuan pidana dalam UU No. 10 Tahun 2008 ini, memuat sejumlah tindak pidana Pemilu beserta sanksinya, yang mungkin terjadi dalam penyelenggaraan Pemilu. Dalam undang-undang ini terdapat 51 (lima puluh satu) pasal yang merumuskan berbagai macam tindak pidana Pemilu, disertai sanksinya, baik berupa penjara, maupun denda. Di samping itu, ada juga sanksi berupa larangan tidak boleh mengikuti kampanye Pemilu khususnya untuk tindak pidana Pemilu yang berkaitan dengan kegiatan kampanye.64

Ketentuan pidana Pemilu dimaksud, dapat kita lihat rumusan dan sanksinya (dalam lampiran 1).65

Pengaturan mengenai Pelanggaran Pidana Pemilu dalam UU No. 10 tahun 2008 tercantum dalam Pasal 252 sampai dengan Pasal 259. Dengan demikian,

64 Ibid. 65

ketentuan yang tercantum dalam Pasal 260 sampai dengan Pasal 311 UU No. 10 tahun 2008 (51 Pasal) adalah ketentuan Pidana Pemilu yang apabila dilanggar akan dikategorikan sebagai pelanggaran pidana pemilu.66

Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 253 UU No. 10 tahun 2008 ini memuat tenggang waktu yang dibutuhkan dalam proses penyampaian hasil penyidikan kepada penuntut umum (termasuk perbaikannya) hingga pelimpahan berkas perkara ke Pengadilan Negeri mengenai pelanggaran pidana pemilu yaitu secara keseluruhan memakan waktu 14 hari + 3 hari + 3 hari + 5 hari = 25 hari.67

Pasal 255 UU No. 10 tahun 2008 memuat tenggang waktu yang dibutuhkan untuk proses peradilan perkara pidana pemilu yang secara keseluruhan (termasuk putusan banding) memakan waktu 7 hari + 3 hari + 3 hari + 7 hari = 20 hari.68

Pasal 256 UU No. 10 tahun 2008 memuat tenggang waktu penerimaan putusan pengadilan oleh Pentuntut umum dan eksekusinya yang memakan waktu 6 (enam) hari.69

Pasal 257 UU No. 10 tahun 2008 memuat tenggang waktu putusan pengadilan terhadap kasus pelanggaran pidana pemilu yang mempengaruhi perolehan suara Peserta pemilu, yaitu (5) hari sebelum KPU menetapkan hasil pemilu secara nasional. Jadi, untuk pemilu legislatif 2009 yang pemungutan suaranya tanggal 9 April 2009, menurut Pasal 201 ayat (1) UU No. 10 tahun 2008 paling lambat 30 hari setelah

66

A. Mukhtie Fadjar, Pemilu yang Demokratis dan Berkualitas: Penyelesaian Hukum

Pelanggaran Pemilu dan PHPU, Jurnal Konstitusi Volume 6 Nomor 1, April 2009. Mahkamah

Konstitusi RI, hal. 8 67 Ibid hal. 9 68 Ibid 69 Ibid hal. 10

tanggal pemungutan suara, yaitu tanggal 9 Mei 2009, KPU sudah harus menetapkan hasil Pemilu secara nasional. Kelemahan Pasal 257 ayat (1) ini adalah tidak menjelaskan pelanggaran pidana pemilu mana saja yang dikategorikan dapat mempengaruhi hasil perolehan suara Peserta Pemilu, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda antara Bawaslu/Panwaslu, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, serta juga Peserta Pemilu.70

Dari aturan-aturan tersebut di atas, jelas terlihat tenggang waktu yang relatif singkat dalam penyelesaian penanganan perkara tindak pidana pemilu. Hal mana sangat jauh berbeda dengan pelaksanaan (hukum acara) penyelesaian penanganan perkara tindak pidana umum sebagaimana yang diatur dalam KUHAP.

Jadi, dalam hal ini, penyidik Polri tidak lagi sebagai pintu terdepan dalam penyelesaian penanganan perkara tindak pidana pemilu. Selain itu, antara Penyidik, Penuntut Umum, dan Pengadilan Negeri dipacu bekerja secara cepat. Keadaan ini sangat mempengaruhi kualitas pembuktian apalagi kalau tersangkanya adalah politikus yang berpengaruh sehingga waktu yang relatif singkat sangat berpengaruh dalam mengumpulkan fakta-fakta guna mendukung alat bukti sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 184 KUHAP. Dari sini terlihat, sebagaimana yang telah disebut pada bagian awal, bahwa warna politik sangat menentukan mau dibawa kemana arah hukum itu sendiri. Aspirasi politik untuk melindungi kepentingan politik beserta seluruh pengikutnya lebih mendominasi warna UU No.10 tahun 2008. Ruang gerak yang sangat terbatas membuat para pelaku kriminal sulit untuk dibawa ke meja

70

hijau sehingga kepentingan politik dari partai politik tetap dapat berjalan sesuai keinginan mereka.

Dengan demikian, sesuai dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Internal Kejaksaan dalam Pengawasan Pemilu Panwaslu Provinsi dan Kesekretariatan (27 November 2008) di Jakarta, membagi ancaman hukuman pidana pemilu berdasarkan 7 (tujuh) tahapan, sebagaimana tercermin dalam Pasal 260-310 UU No. 10/2008 tentang Pemilu Legislatif dikelompokkan sebagai berikut :

1. Pasal 260-264 : Tindak Pidana Pemilu terkait dengan tahapan Pemutakhiran Data Pemilih dan Penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT).

2. Pasal 265-268 : Tindak Pidana Pemilu terkait dengan tahapan Pendaftaran Peserta Pemilu dan Penetapan Peserta Pemilu.

3. Pasal 269-281 : Tindak Pidana Pemilu terkait dengan tahapan Pelaksanaan Kampanye

4. Pasal 282 : Tindak Pidana Pemilu terkait dengan tahapan Masa Tenang

5. Pasal 283 s/d 305 : Tindak Pidana Pemilu terkait dengan tahapan Pemungutan Suara dan Penghitungan Suara

6. Pasal 307 s/d 308 : Tindak Pidana Pemilu terkait dengan tahapan Penetapan Hasil Pemilu.

7. Pasal 309 s/d 310 : Tindak Pidana Pemilut terkait dengan Pelaksanaan Putusan Pengadilan.71

71

Sisi Gelap Pemilu 2009 Potret Aksesori Demokrasi Indonesia, Ramdansyah, (Jakarta : Rumah Demokrasi, Cetakan I, Maret 2010), hal. 44

Dokumen terkait