BAB II. PENGATURAN TENTANG TINDAK PIDANA
A. Pengaturan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik
2. Bagaimana pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana pencemaran nama baik melalui sarana informasi elektronik?
3. Bagaimana penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencemaran nama baik melalui sarana informasi elektronik berdasarkan putusan No.3006/Pid.Sus/2017/PN.Mdn?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang ada maka dapat diketahui tujuan penulisan hukum ini, sebagai berikut:
1. Tujuan Subyektif
Tulisan ini dibuat sebagai tugas akhir guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan merupakan sebuah karya ilmiah yang bermanfaat bagi perkembangan hukum di Indonesia khususnya bidang hukum yang mengatur tentang Tindak Pidana Pencemaran Nama baik di dunia maya.
2. Tujuan Obyektif
Sesuai permasalahan di atas, adapun tujuan penulisan skripsi ini antara lain adalah :
a. Untuk mengetahui Pengaturan Pidana Mengenai Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Dalam Hukum Pidana Di Indonesia
b. Untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik yang dilakukan melalui saran informasi elektronik.
c. Untuk mengetahui penerapan sistem pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana pencemaran nama baik melalui Putusan Pengadilan Negeri Medan Reg : No.3006/Pid.Sus/2017/Pn.Mdn.
D. Manfaat Penelitan
Adapun yang menjadi manfaat penulisan skripsi ini tidak dapat dipisahkan dari tujuan penulisan yang telah diuraikan di atas, yaitu :
1. Secara Teoritis
Penulis berharap penulisan ini akan menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang hukum pidana pada umumnya dan tentang Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik pada khususnya, sehingga penulisan skripsi ini dapat menjadi bahan masukan bagi mahasiswa serta dapat memperluas dan menambah pengetahuan mengenai hukum pidana pada umumnya dan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik pada khususnya.
2. Secara Praktis
a. Untuk dijadikan sebagai pedoman dalam rangka menambah pengetahuan masyarakat tentang kejahatan yang dilakukan di dunia maya seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini.
b. Untuk memberikan masukan bagi masyarakat dan kalangan praktisi hukum demi menambah wawasan tentang kejahatan pencemaran nama baik melalui sarana informasi elektronik.
c. Untuk menumbuhkan kesadaran hukum di kalangan masyarakat, khususnya bagi para pelaku tindak pidana pencemaran nama baik agar dapat meminimalisir terjadinya kejahatan tersebut di Indonesia.
E. Keaslian Penelitian
Penulisan ini dilakukan atas ide dan pemikiran dari penulis sendiri yang berasal dari literatur serta studi putusan dan berdasarkan masukan dari berbagai pihak guna membantu penulisan dimaksud. Berdasarkan penelusuran dan pemeriksaan yang telah dilakukan di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, tidak ditemukan judul yang sama dengan skripsi-skripsi yang ada di dalam arsip perpustakaan tentang PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK YANG DILAKUKAN MELALUI SARANA INFORMASI ELEKTRONIK.
(STUDI PUTUSAN REG.NO.3006/PID.SUS/2017/PN.MDN) A.N. EKINIA KAROLIN SEBAYANG.Judul skripsi ini belum pernah ditulis dan diteliti dalam bentuk yang sama di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, sehingga tulisan ini asli atau dengan kata lain tidak ada judul yang sama dengan skripsi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara serta skripsi ini dapat dipertanggung jawabkan keasliannya.Namun ada beberapa skripsi yang mengangkat tentang tindaik pidana pencemaran nama baik, tetapi ditinjau dari segi yang berbeda. Adapun skripsi yang terlebih dahulu mengangkat tentang tindak pidana pencemara nama baik pencemaran nama adalah :
Togi Robson Sirait, 2012 dengan judul penelitianKeabsahan Informasi pada Media Sosial sebagai Alat Bukti dalam Pembuktian Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2008. Penelitian ini lebih tersebut lebih terfokus pada proses serta pembuktian pada kasus Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik.
F. Tinjauan Kepustakaan
1. Pertanggungjawaban Pidana
Dalam pertanggungjawaban pidana, terdapat dua pandangan, yaitu pandangan yang monistis dan pandangan yang dualistis. Pandangan yang monistis dikemukakan oleh Simon yang merumuskan strafbaar feit sebagai suatu perbuatan yang oleh hukum diancam dengan hukuman, bertentangan dengan hukum, dilakukan oleh seorang yang bersalah dan orang itu dianggap bertanggungjawab atas perbuatannya.23
Menurut aliran monistis, unsur-unsur strafbaar feit itu meliputi baik unsur perbuatan, yang lazim disebut sebagai unsur objektif maupun unsur pembuat yang lazimnya dinamakan unsur subjektif. Oleh karena itu, disatukannya unsur perbuatan dan unsur pembuatnya maka dapat disimpulkan bahwa strafbaar feit adalah sama dengan syarat-syarat penjatuhan pidana, sehingga seolah-olah dianggap bahwa jika strafbaar feit terjadi maka sudah pasti pelakunya dapat dipidana.24
Pandangan dualistis pertama kali digunakan oleh Herman Kontorowics, dimana beliau menentang kebenaran pendirian mengenai kesalahan yang ketika itu berkuasa yang oleh beliau dinamakan “objektive schuld”, oleh karena kesalahan disitu dipandang sebagai sifat daripada kelakukan (merkmal del
23Lamintang, P.A.F, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung:Citra Aditya Bakti, 1997), hlm.185.
24Ibid, hlm. 64
handlung).25Pandangan dualistis memisahkan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana. Menurut pandangan dualistis, tindak pidana hanya mencakup criminal act sedangkan criminal responsibility tidak menjadi unsur tindak pidana, oleh karena itu untuk menyatakan sebuah perbuatan sebagai tindak pidana cukup dengan adanya perbuatan yang dirumuskan oleh undang-undang yang memiliki sifat melawan hukum tanpa adanya suatu dasar pembenar.26
Elemen terpenting dari pertanggungjawaban pidana adalah kesalahan.
Dengan unsur kesalahan, pelaku tindak pidana tidak semua dapat dijatuhi pidana, hal ini sesuai dengan asas pertanggungjawaban dalam hukum pidana adalah “geen straf zonder schuld; Actus non facit reum nisi mens sit rea” yang artinya tidak dipidana jika tidak ada kesalahan.Asas ini tidak terumuskan dalam hukum tertulis tapi dalam hukum yang tak tertulis yang juga di Indonesia berlaku27.
Roeslan Saleh berpendapat bahwa, pertanggungjawaban pidana diartikan sebagai diteruskannya celaan yang objektif yang ada pada perbuatan pidana dan secara subjektif yang memenuhi syarat untuk dapat dipidana karena perbuatannya itu. Dasar untuk adanya perbuatan pidana adalah asas legalitas sedangkan dasar dapat dipidananya suatu perbuatan adalah asas kesalahan. Ini berarti bahwa pelaku perbuatan pidana hanya akan dipidana jika ia mempunyai kesalahan dalam melakukan perbuatan pidana tersebut. Kapan seseorang dikatakan mempunyai kesalahan menyangkut pada pertanggungjawaban pidana.
Oleh karena kesalahan merupakan penentu dalam menentukan pertanggungjawaban pidana dari pelaku tindak pidana. Maka untuk menentukan adanya kesalahan seseorang harus memenuhi beberapa unsur, yaitu :
25Ibid
26 Lamintang, Loc.cit.
27Marhus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Jakarta:Sinar Grafika, 2011), hlm. 155.
a. Adanya kemampuan bertanggung jawab pada si pembuat;
b. Hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa) yang disebut sebagai bentuk kesalahan;
c. Tidak ada alasan penghapusan kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf.28
2. Pelaku Tindak Pidana
Pelaku Tindak Pidana adalah orang yang melakukan tindak pidana yang bersangkutan, dalam arti orang yang dengan suatu kesengajaan atau suatu
\tidak sengajaan seperti yang diisyaratkan oleh Undang-Undang telah menimbulkan suatu akibat yang tidak dikehendaki oleh Undang-Undang, baik itu merupakan unsur-unsur subjektif maupun unsur-unsur obyektif, tanpa memandang apakah keputusan untuk melakukan tindak pidana tersebut timbul dari dirinya sendiri atau tidak karena gerakkan oleh pihak ketiga.29
Pelaku tindak pidana (dader) menurut doktrin adalah barang siapa yang melaksanakan semua unsur-unsur tindak pidana sebagaimana unsur-unsur tersebut dirumuskan di dalam undang-undang menurut KUHP. Seperti yang terdapat dalam pasal 55 (1) KUHP yang berbunyi :
(1) Dipidana sebagai pelaku tindak pidana
1. Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan.
2. Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.
28Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana:Dua Pegertian Dasar Dalam Hukum Pidana,(Jakarta:Centra, 1998), hlm. 57.
29E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi. Op.Cit, hlm.338.
Sebagaimana diatur dalam pasal 55 KUHP (1) diatas, bahwa pelaku tindak pidana itu dibagi dalam 4 (empat) golongan :30
1. Orang Yang Melakukan Tindak Pidana (plager)
Dari berbagai pendapat ahli dan dengan pendekatan praktik dapat diketahui bahwa untuk menentukan seseorang sebagai yang melakukan (plager) pembuat pelaksana tindak pidana secara penyertaan adalah dengan 2 kriteria:
a) Perbuatannya adalah perbuatan yang menentukan terwujudnya tindak pidana.
b) Perbuatannya tersebut memenuhi seluruh unsur tindak pidana.
2. Orang Yang Menyuruh Orang Lain Untuk Melakukan Tindak Pidana ( doen plager )
Undang-undang tidak menjelaskan tentang siapa yang dimaksud dengan yang menyuruh melakukan itu. Untuk mencari pengertian dan syarat untuk dapat ditentukan sebagai orang yang melakukan ( doen plager), pada umumnya para ahli hukum merujuk pada keterangan yang ada dalam MvT WvS Belanda, yang berbunya bahwa :
“yang menyuruh melakukan adalah dia juga yang melakukan tindak pidana, tapi tidak secara pribadi melainkan dengan perantara orang lain sebgai alat di dalam tangannya apabila orang lain itu melakukan perbuatan tanpa kesengajaan, kealpaan atau tanpa tanggung jawab, karena sesuatu hal yang tidak diketahui, di sesatkan atau tunduk pada kekerasan”
a. Orang lain sebagai alat di dalam tangannya
30Ibid, hlm.339
Yang dimaksud dengan orang lain sebagai alat di dalam tangannya adalah apabila orang/pelaku tersebut mempererat orang lain untuk melakukan tindak pidana. Karena orang lain itu sebagai alat, maka secara praktis pembuat penyuruh tidak melakukan perbuatan aktif. Dalam doktrin hukum pidana orang yang diperalat disebut sebagai manus ministra, sedangkan orang yang memperalat disebut sebgai manus domina atau juga disebut sebagai middelijke dader ( pembuat tindak pidana langsung) Ada tiga konsekuensi logis, terhadap tindak pidana yang dilakukan dengan cara memperalat orang lain :
1) Terwujudnya tindak pidana bukan disebabkan langsung oleh pembuat penyuruh, tetapi oleh perbuatan orang lain ( manus ministra )
2) Orang lain tersebut tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang pada kenyataannya telah melahirkan tindak pidana
3) Manus ministra ini tidak boleh dijatuhi pidana, yang dipidana adalah pembuatan penyuruh.
b. Tanpa kesengajaan atau kealpaan
Yang dimaksud dengan tanpa kesengajaan atau tanpa kealpaan adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang disuruh ( manus ministra ) tidak dilandasi oleh kesengajaan untuk mewujudkan tindak pidana, terjadinya tindak pidana bukan karena adanya kealpaan, karena sesungguhnya inisiatif perbuatan datang dari pembuat penyuruh,demikian juga niat untuk mewujudkan tindak pidana itu hanya berada pada pembuata penyuruh ( doen plager ).
c. Karena tersesatkan
Yang dimaksud dengan tersesatkan disini adalah kekeliruan atau kesalah pahaman akan suatu unsur tindak pidan yang disebabkan oleh pengaruh
dari orang lain dengan cara yang isinya tidak benar, yang atas kesalah pahaman itu maka memutuskan kehendak untuk berbuat. Keadaan yang menyebabkan orang lain itu timbul kesalah pahaman itu adalah oleh sebab kesenjangan pembuat penyuruh sendiri.
d. Karena kekerasan
Yang dimaksud dengan kekerasan (gaweld) di sini adalah perbuatan yang dengan menggunakan kekerasan fisik yang besar, yang ditujukan pada orang, mengakibatkan orang itu tidak berdaya. Dari apa yang telah diterangkan di atas maka jelaslah bahwa orang yang disuruh melakukan tidak dapat dipidana. Di dalam hukum orang orang yang disuruh melakukan ini dikategorikan sebagai manus ministra, sementara orang menyuruh melakukan dikategorikan manus domina.
3. Orang yang turut melakukan tindak pidana ( mede pleger )
KUHP tidak memberikan rumusan secara tegas siapa saja yang dikatakan turut melakukan tindak pidana, sehingga dalam hal ini menurut doktrin untuk dapat dikatakan turut melakukan tindak pidana harus memenuhi dua syarat :
a) Harus adanya kerjasama fisik
b) Harus ada kesadaran bahwa mereka satu sama lain bekerjasama untuk melakukan tindak pidana.
4. Orang yang dengan sengaja membujuk atau menggerakan orang lain untuk melakukan tindak pidana (uit lokken) syarat-syarat uit lokken :
a) Harus adanya seseorang yang mempunyai kehendak untuk melakukan tindak pidana.
b) Harus ada orang lain yang digerakan untuk melakukan tindak pidana
c) Cara menggerakan harus menggunakan salah satu daya upaya yang tersebut di dalam Pasal 55(1) sub 2e (pemberian, perjanjian, ancaman, dan lain sebagainya)
d) Orang yang di gerakan harus benar-benar melakukan tindak pidana sesuai dengan keinginan orang yang menggerakan.
Ditinjau dari sudut pertanggung jawaban maka Pasal 55 (1) KUHP tersebut tersebut maka di atas kesemua mereka adalah sebagai penanggung jawab penuh, yang artinya mereka semua diancam dengan hukuman maksimum pidana pokok dari tindak pidana yang dilakukan.
Ditinjau dari sudut pertanggung jawaban maka Pasal 55 (1) KUHP tersebut tersebut maka di atas kesemua mereka adalah sebagai penanggung jawab penuh, yang artinya mereka semua diancam dengan hukuman maksimum pidana pokok dari tindak pidana yang dilakukan.
3. Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik a. Pengertian Tindak Pidana
Istilah tindak pidana (strafbaar feit) dengan tindakan atau perbuatan (gedraging/handeling) memiliki makna yang berbeda. Sudarto mengemukakan, bahwa unsur pertama dari tindak pidana adalah tindakan/perbuatan (gedraging), perbuatan orang ini merupakan titik penghubung antara dasar untuk pemberian
utama.31Tidak ada ditemukan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit di dalam KUHP maupun luar KUHP.oleh karena itu para ahli hukum berusaha untuk memberikan arti dari istilah itu, yang sampai saat ini belum ada keseragaman pendapat. Pengertian tindak pidana penting dipahami untuk mendukung unsur-unsur yang ada di dalammya. Mengenai apa yang diartikan dengan tindak pidana (strafbaar feit) para sarjana memberikan pengertian/pembatasan seperti ini :32
1) D.Simons
Dalam rumusannya straafbaarfeit itu adalah “ tindakan melawam hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tindakan dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakkannya dan oleh undangundang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum”. Alasan dari Simon mengapa straafbaarfeit harus dirumuskan seperti di atas karena :
a) Untuk adanya suatu straafbaarfeit disyaratkan bahwa disitu terdapat suatu tindakan yang dilarang ataupun yang diwajibkan dengan undang-undang dimana pelanggaran terhadap larangan atau kewajiban seperti itu telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum;
b) Agar suatu tindakan seperti itu dapat dihukum maka tindakan itu harus memenuhi semua unsur dari delik seperti yang dirumuskan dengan undang-undang;
c) Setiap straafbaarfeit sebagian pelanggaran terhadap suatu larangan atau kewajiban menurut undang-undang itu, pada hakikatnya
31Mohammad Ekaputra,Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan: USU Press, 2013), hlm. 78.
32 E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta:Storia Grafika, 2012), hlm. 204-207.
merupakan tindakan melawan hukum atau suatu onrechtmatige handeling.
2) Pompe
Tindak pidana (strafbaar feit) adalah suatu pelanggaran kaidah (penggangguan ketertiban hukum), terhadap pelaku yang mempunyai kesalahan untuk mana pemidanaan adalah wajar untuk menyelenggarakan ketertiban hukum dan menjamin kesejahteraan umum.
3) Moeljatno
Moeljatno menggunakan istilah perbuatan pidana, yang didefenisikan sebagai “perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai dengan ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut”.
4) Utrecht
Utrecht mengajukan pengajuan peristiwa pidana, karena istilah peristiwa itu meliputi perbuatan (handelen/doen,positif) atau melalaikan (verzuin atau nalaten atau niet-doen,negatif) maupun akibatnya.
Berdasarkan defenisi diatas maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa suatu perbuatan dikatakan sebagai suatu tindak pidana apabila:
a) Melawan hukum b) Merugikan masyarakat c) Dilarang oleh aturan pidana d) Pelakunya dapat dijatuhi pidana
b. Unsur- Unsur Tindak Pidana
Pengertian unsur unsur tindak pidana hendaklah dibedakan dari pengertian unsur unsur tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam rumusan undang undang (rumusan pasal). Pengertian unsur unsur tindak pidana lebih luas daripada pengertian unsur unsur tindak pidana sebagaimana dimaksud dalm ndang undang, yang dalam bahasa Belanda disebut elementen van de wettelijke delictsome scrhijving, misalnya: unsur unsur (dalam arti sempit) dari tindak pidana pencurian ialah unsur nsur yang tercantum dalam Pasal 362 KUHP.33
Menurut Moeljatno unsur unsur atau elemen elemen yang harus ada dalam suatu perbuatan pidana adalah:34
a) Kelakuan dan akibat (dapat disamakan dengan perbuatan);
b) Hal atau kedaan yang menyertai perbuatan;
c) Kedaan tambahan yang memberatkan pidana;
d) Unsur melawan hukum yang objektif;
e) Unsur melawan hukum yang subjektif
Kelima unsur atau elemen diatas pada dasarnya dapat diklasifikasikan dalam dua unsur pokok, yaitu unsur objektif dan unsur subjektif.
Unsur objektif dapat dibagi menjadi :35
1) Perbuatan manusia yang termasuk unsur pokok objektif adalah sebagai berikut :
a. Act ialah perbuatan aktif yang disebut juga perbuatan positif;
dan
33Mohammad Ekaputra mengutip dari Moeljatno,Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan: USU Press, 2013).
34Ibid,hlm.113.
35Ibid, hlm.114
b. Ommision, ialah tidak aktif berbuat dan disebut juga perbuatan negatif;
2) Akibat Perbuatan Manusia
Hal ini erat hubungannya dengan ajaran kausalitas. Akibat yang dimaksud adalah dengan membahayakn atau menghilangka kepentingan-kepentingan yang dipertahankan oleh hukum, misalnya nyawa, badan, kemerdekaan, hak milik/harta, atau kehormatan;
3) Keadaan-keadaan
Pada umumnya keadaan-keadaan ini dibedakan atas : a. Keadaan pada saat perbuatan itu dilakukan ;dan b. Keadaan setelah perbuatan itu dilakukan;
4) Sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum
Sifat dapat dihukum itu berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan terdakwa dari hukuman. Sifat melawan hukum bertentangan dengan hukum, yakni berkenaan dengan larangan atau perintah
Sedangkan unsur pokok subjektif tercermin dalam asas pokok pidana , yaitu “tiada pidana tanpa kesalahan” (an act does not make guilty unless the mind is guilty; actus non facit reum nisi mens sitrea). Kesalahan yang dimaksud dalam konteks ini adalah :36
1) Kesengajaan terdiri dari tiga bentuk, yritu : a. Sengaja sebagai maksud;
36Ibid.
b. Sengaja sebagai kepastian;
c. Sengaja sebagai kemungkinan (dolus eventualis);
2) Kealpaan, adalah bentuk kesalahan yang lebih ringan daripada kesengajaan. Ada dua bentuk kealpaan, yaitu :
a. Tidak berhati-hati;dan
b. Tidak menduga-duga akibat perbuatan itu.37 c. Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik
Pencemaran nama baik dikenal juga istilah penghinaan, yang pada dasarnya adalah menyerang nama baik dan kehormatan seseorang yang bukan dalam arti seksual sehingga orang itu merasa dirugikan. Kehormatan dan nama baik memiliki pengertian yang berbeda, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, karena menyerang kehormatan akan berakibat kehormatan dan nama baiknya tercemar, demikian juga menyerang nama baik akan berakibat nama baik dan kehormatan seseorang dapat tercemar. Oleh sebab itu, menyerang salah satu diantara kehormatan atau nama baik sudah cukup dijadikan alasan untuk menuduh seseorang telah melakukan penghinaan.38Oemar Seno Adji mendefinisikan pencemaran nama baik sebagai menyerang kehormatan atau nama baik (aanranding of geode naam).39
4. Informasi Eletronik
Berdasarkan ketentuan umum dalam Pasal 1 Bab 1 Undang – Undang No. 11 tahun 2008, pada angka 1, bahwa yang dimaksud dengan informasi elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak
37Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana:Dua Pegertian Dasar Dalam Hukum Pidana,(Jakarta:Centra, 1998), hlm. 57.
38 Mudzakir,, Delik Penghinaan dalam Pemberitaan Pers Mengenai Pejabat Publik, Dictum 3, hlm 18
39 Ibid.
terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta rancangan, foto, Elektronik Data Interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perfrasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.40
Informasi elektronik merupakan salah satu hal yang diatur secara substansial dalam Undang-Undang ITE selain transaksi elektronik. Perkembangan pemanfaatan informasi elektronik dewasa ini, sudah memberikan kenyamanan dan kemanfaatannya. Sebagai contoh penggunaan email untuk memudahkan setiap orang untuk berkomunikasi. Pemanfaatan informasi elektronik, memberikan manfaat dengan menjamurnya usaha kecil dan menengah di bidang penjualan jasa seperti warung-warung internet (warnet). Pemanfaatan informasi elektronik juga dimanfaatkan oleh kalangan pemerintah, seperti lembaga – lembaga pemerintah baik sipil maupun TNI/ Polri, Komisi Pemilihan Umum, untuk secara otomatismemanfaatkan informasi elektronik untuk kepentingan pengawasan dan pengendalian fungsi pemerintah.41
Perbuatan yang dilarang oleh undang – undang berkaitan dengan informasi elektronik adalah mendistribusikan, atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik yang muatannya berisi melanggar kesusilaan, muatan perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik atau pemerasan dan atau pengancaman.42
G. Metode Penelitian
40Raida L. Tobing, Penelitian Hukum Tentang Efektivitas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,(Jakarta : Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, 2012) , hlm. 19.
41Ibid, hlm.20.
42Ibid.
Metode adalah cara kerja untuk memahami atau mawas objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.43Menurut Peter R. Senn,44 sebagaimana dikutip Bambang Sunggono dalam bukunya yang berjudul metode penelitian hukum “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang memiliki langkahlangkah yang sistematis”, untuk lebih memahami mengenai metode dapat dilihat dari peranan metode dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai berikut:45
a. Menambah kemampuan para ilmuan untuk mengadakan atau melaksanakan penelitian secara lebih baik dan lengkap;
b. Memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk meneliti hal-hal yang belum diketahui;
c. Memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan penelitian interdisipliner;
d. Memberikan pedoman untuk pengetahuan mengenai masyarakat, mengorganisasikan serta mengintegrasikan
Adapun metode penelitian hukum yang digunakan dalam mengerjakan skripsi ini meliputi:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif46 yaitu metode penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bagian pustaka atau data sekunder. Penelitian hukum normatif disebut juga
43M. Solly Lubis, Filsafat Hukum dan Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1994), hlm. 21.
44Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hlm.46.
45 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 2010), hlm.7.
46Ibid, hlm. 51