• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan Anggaran Biaya Produksi Kelapa Sawit

BAB IV : HASIL PENELITIAN

5. Pengawasan Anggaran Biaya Produksi Kelapa Sawit

Anggaran digunakan oleh manajemen perusahaan sebagai pedoman dalam melaksanakan rencana kerja selama periode tertentu. Dalam anggaran digambarkan rencana pekerjaan apa yang akan dilakukan oleh setiap unit kerja, kapan dan dimana pekerjaan itu dilakukan selama setahun. Rencana pekerjaan itu dirinci mengenai fisik maupun biayanya. Pekerjaan yang akan dilakukan sehubungan dengan menghasilkan (pemeliharaan jalan, jembatan, saluran air, penyisipan, penyiangan, pemberantasan lalang, pemberantasan hama dan penyakit, pemupukan dan lain-lain); panen dan pengumpulan; pengangkutan ke pabrik; kegiatan umum dan pengolahan.

Kegiatan-kegiatan atau pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh setiap tingkatan manajemen diarahkan atau berpedoman pada anggaran. Hal ini dilakukan agar tujuan perusahaan (laba) dalam tahun berjalan dapat dicapai.

Anggaran digunakan sebagai alat pengukur atas pelaksanaan kerja yaitu sampai seberapa jauh kemajuan pekerjaan dari masing-masing unit kerja afdeling maupun kebun.

Dengan anggaran, manajemen dapat menelaah kembali rencana-rencana semula (pada setiap tingkat manajemen) dengan melakukan perbandingan antara hasil-hasil sebenarnya (realisasi) yang diperoleh dengan yang dianggarkan. Melihat penyimpangan realisasi dengan anggaran biaya produksi, manajemen dapat

menentukan sebab-sebab atau alasan mengapa terjadi penyimpangan-penyimpangan (variance). Dengan wewenang, direksi dapat mengambil tindakan perbaikan terhadap penyimpangan yang merugikan.

Setiap pelaksanaan kerja yang dilakukan oleh setiap tingkat manajemen di lapangan (afdeling dan kebun) yang berpedoman pada anggaran dibuat laporan bulanan, triwulan dan tahunan yang disebut dengan laporan manajemen. Laporan ini dibuat oleh tiap-tiap kebun kelapa sawit untuk memperlihatkan jumlah produksi dan biaya yang dikeluarkan selama bulan tertentu dan sampai bulan tertentu

dibandingkan dengan angka-angka anggaran.

Produksi dan biaya produksi per unit diperlihatkan dalam bentuk kilogram per Ha, biaya per kilogram dan biaya keseluruhan. Untuk pengawasan biaya produksi, laporan manajemen disajikan secara rinci masing-masing unsur biaya produksi baik realisasi maupun anggaran secara total maupun per unit.

Produksi dan biaya produksi kelapa sawit tahun 20xx dapat dilihat pada halaman 93

Tabel 4.5 : Produksi dan Biaya Produksi Kelapa Sawit

PRODUKSI (TON) JUMLAH TON JUMLAH KG/HA

REALISASI ANGGARAN REALISASI ANGGARAN

Kebun Sendiri + Inti

Tandan Buah Segar (TBS) 595.830 614.808 12,98 13,76 Minyak Sawit (M) 125.460 136.406 2,73 3,06 Inti Sawit (I) 25.672 29.004 0,56 0,65 Jumlah M + I 151.132 165.410 3,29 3,71 BIAYA PRODUKSI JUMLAH BIAYA (Rp. JUTA) HARGA POKOK PER KG Biaya Tanaman REALISASI ANGGARAN REALISASI ANGGARAN Gaji, Tunjangan, Bisos Staff 4.647 6.452 30,75 39,01 Pemeliharaan TM 42.711 54.734 282,61 330,90 Pupuk 16.727 40.326 110,68 243,79 Panen dan Pengumpulan 52.093 52.198 344,69 315,57 Pengangkutan ke pabrik 30.248 28.399 200,14 171,69 Biaya Umum 62.211 67.395 411,63 407,44 Jumlah Biaya Tanaman 208.637 249.504 1.380,50 1.508,40 Biaya Pengolahan 53.685 45.738 355,22 276,51 Biaya Penyusutan 27.552 23.987 182,30 145,02 Jumlah Biaya Produksi 289.874 319.229 1.918,02 1.929,93

Secara total produksi TBS yang dianggarkan sejumlah 614.308 ton ternyata yang dapat direalisasi sejumlah 595.830 ton. Hal ini berarti jumlah produksi yang tidak dapat direalisasikan adalah sejumlah 18.478 ton (614.308 ton – 595.830 ton) atau sebesar 3,01 % di bawah anggaran. Produksi minyak sawit dan inti sawit dianggarkan sejumlah 165.410 ton dan dapat direalisasikan sejumlah 151.132 ton. Hal ini berarti jumlah minyak + inti yang tidak dapat direalisasikan adalah sejumlah 14.278 ton ( 165.410 ton – 151.132 ton) atau sebesar 8,63 % di bawah anggaran.

Biaya yang dikeluarkan untuk perolehan produksi di atas dianggarkan sejumlah Rp. 319.229 juta dan realisasinya sejumlah Rp 289.874 juta hal ini menunjukkan bahwa realisasi biaya masih di bawah anggaran sejumlah Rp. 29.355 juta (Rp. 319.229.000 – Rp. 289.874.000) atau 9,2 %.

Berdasarkan perbedaan jumlah yang dianggarkan dengan realisasinya baik produksi maupun biaya untuk memperoleh produksi tersebut, manajemen dapat menentukan sebab-sebab atau alasan-alasan mengapa terjadi penyimpangan (variance) dan berdasarkan itu dapat diambil tindakan sesuai dengan wewenang yang ada padanya untuk mengadakan perbaikan terhadap keadaan yang merugikan perusahaan.

Laporan produksi dan biaya produksi di atas mencerminkan sampai sejauh mana semua pedoman-pedoman dalam anggaran yang diberikan dapat diwujudkan. Dengan demikian anggaran produksi dan biaya produksi digunakan sebagai tolak ukur dan sebagai pengawasan sampai sejauh mana pekerjaan-pekerjaan maupun hasil produksi dapat dicapai.

Dapat disimpulkan bahwa anggaran merupakan alat

pengendalian/pengawasan (controlling). Pengawasan berarti melakukan evaluasi (menilai) atas pelaksanaan pekerjaaan dengan cara:

- membandingkan realisasi dengan anggaran (rencana)

- melakukan tindakan perbaikan apabila dipandang perlu (jika ada penyimpangan yang merugikan)

Membandingkan antara hasil-hasil yang benar-benar dicapai dengan yang direncanakan (anggaran), pimpinan dengan mudah mengetahui penyimpangan- penyimpangan yang merugikan dan perlu diselidiki dengan melakukan analisis- analisis.

6. Manfaat Pengawasan Biaya Produksi Terhadap Perusahaan

Anggaran digunakan oleh manajemen sebagai pedoman pelaksanaan rencana kerja selama tahun berjalan juga sebagai tolak ukur kemampuan manajemen dalam pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Dengan melakukan pengawasan pelaksanaan rencana kerja tahun berjalan dapat diketahui sampai sejauh mana tujuan perusahaan dapat dicapai.

Membandingkan anggaran dengan realisasi pekerjaan pada setiap unit kerja dapat diketahui berapa besar (significant) penyimpangan/perbedaan yang terjadi; apakah penyimpangan yang merugikan dan perlu diadakan tindakan-tindakan perbaikan.

Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi antara rencana-rencana kerja (anggaran) dengan realisasi kerja di masing-masing unit kerja/afdeling dan kebun, oleh manajemen dilakukan penganalisaan sehingga dapat diketahui dimana

terjadinya penyimpangan dan siapa yang bertanggung jawab atas penyimpangan itu baik mengenai fisik maupun pembiayaan.

Penyimpangan-penyimpangan yang perlu dilakukan tindakan perbaikan adalah penyimpangan-penyimpangan finansial yang cukup material (significant) yang merugikan perusahaan. Penyimpangan-penyimpangan finansial yang jumlahnya maksimal 5% dianggap tidak cukup material (tidak significant) mempengaruhi rugi- laba.

7. Analisis Penyimpangan

Menganalisis penyimpangan yang hasilnya akan digunakan untuk

menentukan tindakan harus diteliti dengan cermat. Yang perlu dianalisis hanyalah penyimpangan-penyimpangan yang dianggap berarti (significant). Suatu

penyimpangan yang dianggap berarti dan penting sehingga memerlukan

penganalisisan bila nilai uangnya besar. Misalnya penyimpangan-penyimpangan itu sebesar 20% - 30% dari biaya, tidak berarti sama sekali bila nilainya hanya puluhan ribu atau ratusan ribu rupiah saja. Bila penyimpangannya hanya 5%- 10% tetapi nilainya mencapai puluhan atau ratusan juta rupiah ke atas, keadaan ini perlu untuk diteliti/dianalisis.

Penyimpangan-penyimpangan itu bisa timbul dari jumlah produksi dan jumlah biayanya. Bila jumlahnya cukkup significant, maka perlu diteliti/dianalisis pada unsur-unsur biayanya. Misalnya biaya pemupukan dianggarkan sejumlah Rp. 40.326 juta. realisasinya sejumlah Rp. 23.599 juta atau sebesar 58,52 %. Apakah keadaan ini disebabkan tidak/kurang dilaksanakan pemupukan karena kekurangan pupuk (fisik) atau harga pupuk yang turun drastis. Kondisi ini dapat diminta pertanggungjawaban Administratur atau Asisten Afdeling untuk pelaksanaan pemupuka n di lapangan, bagian tanaman bertanggung jawab dalam pengaturan pengiriman dan penjadwalan pemupukan, bagian pengadaan bertanggung jawab dalam pembelian/pengadaan pupuk. Pengadaan pupuk diluar penguasaan Administratur dan Asisten Afdeling.

Dengan penganalisisan ini dapat diketahui dimana dan siapa penyebab timbulnya penyimpangan.bila diantara penyimpangan-penyimpangan itu diketahui ada yang cukup besar (significant) diperoleh suatu dasar untuk mengambil tindakan korektif oleh pimpinan sesuai dengan wewenangnya.

Tujuan mengambil tindakan korektif adalah agar dapat diwujudkan rencana- rencana semula. Bila sebab-sebab timbulnya penyimpangan-penyimpangan itu di luar kekuasaan dari orang yang melakukan pekerjaan atau menjabat sesuatu fungsi, masalah itu diserahkan pada pimpinan yang lebih tinggi kedudukannya yaitu Asisten Afdeling ke Administratur dan Administratur kepada Direksi.

Dari data produksi dan biaya produksi pada halaman 96 dapat dilihat penyimpangan (variance) realisasi dan anggaran produksi minyak dan inti sawit adalah sejumlah 14.278 ton atau 8,63 % lebih rendah realisasi produksi sejumlah 151.132 ton dari anggaran sejumlah 165.410 ton dan penyimpangan (variance) biaya produksi adalah sejumlah Rp. 29.355 juta di bawah anggaran, realisasi biaya

sejumlah Rp. 289.874 juta dan anggaran sejumlah Rp. 319.229.juta. Penyimpangan- penyimpangan tersebut cukup significant dan perlu dilakukan analisis lebih lanjut.

Analisis penyimpangan (variance) dilakukan sebagai berikut: 1) Perbedaan produksi

a. perbedaan produksi minyak sawit

= (kuantitas aktual-kuantitas standar) x harga standar = 125.460 ton – 136.406 ton) x Rp. 1.929.93

= Rp. 21.125.013,78 (favorable karena kuantitas aktual lebih kecil dari kuantitas standar)

b. perbedaan produksi inti sawit

= (kuantitas aktual-kuantitas standar) x harga standar = (25.672 ton – 29.004 ton) x Rp. 1.929,93

= Rp. 6.430.526,76 (favorable karena kuantitas aktual lebih kecil dari kuantitas standar)

Sehingga:

Perbedaan produksi minyak sawit=Rp. 21.125.013,78 (favorable) Perbedaan produksi inti sawit = Rp. 6.430.526,76 (favorable) + Total perbedaan produksi = Rp. 27.555.540,54 (favorable)

2) Perbedaan Biaya Produksi a.Perbedaan Biaya Tanaman

- perbedaan biaya gaji, tunjangan, biaya sosial staff = (harga aktual – harga standar) x kuantitas aktual = (Rp. 30,75 – Rp. 39,01) x 151.132 ton

= Rp. 1.248.350,32 (favorable karena harga aktual lebih kecil dari harga standar)

- perbedaan biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan = (harga aktual – harga standar) x kuantitas aktual = (Rp. 282,61 – Rp. 330,90) x 151.132 ton

= Rp. 7.298.164,28 (favorable karena harga aktual lebih kecil dari harga standar)

- perbedaan biaya pupuk

= (harga aktual – harga standar) x kuantitas aktual = (Rp. 110,68 – Rp. 243,79) x 151.132 ton

= Rp. 20.117.180,52 (favorable karena harga aktual lebih kecil dari harga standar)

- perbedaan biaya panen dan pegumpulan

= (harga aktual – harga standar) x kuantitas aktual = (Rp. 344,69 – Rp. 315,57) x 151.132 ton

= Rp. 4.400.963,84 (unfavorable karena harga aktual lebih besar dari harga standar)

- perbedaan biaya pengangkutan ke pabrik = (harga aktual – harga standar) x kuantitas aktual = (Rp. 200,14 – Rp. 171,69) x 151.132 ton

= Rp. 4.299.705,4 (unfavorable karena harga aktual lebih besar dari harga standar)

- perbedaan biaya umum

= (harga aktual – harga standar) x kuantitas aktual = (Rp. 411,63 – Rp. 407,44) x 151.132 ton

= Rp. 633.243 (unfavorable karena harga aktual lebih besar dari harga standar)

Sehingga

Perbedaan biaya gaji, tunjangan = Rp. 1.248.350,32 (favorable)

Perbedaan biaya pemel. TM = 7.298.164,28 (favorable)

Perbedaan biaya pupuk = 20.117.180,52 (favorable)

Perbedaan biaya panen & pengumpulan = 4.400.963,84 (unfavorable)

Perbedaan biaya pengangkutan ke pabrik= 4.299.705,4 (unfavorable)

Perbedaan biaya umum = 633.243 (unfavorable)

Total perbedaan biaya tanaman = Rp.19.329.782,88 (favorable)

b. Biaya Pengolahan

Perbedaan biaya pengolahan

= (harga aktual – harga standar) x kuantitas aktual = (Rp. 355,22 – Rp. 276,51) x 151.132 ton

= Rp. 11.895.599,72 (unfavorable karena harga aktual lebih besar dari harga standar

c. Biaya Penyusutan Perbedaan biaya penyusutan

= (harga aktual – harga standar) x kuantitas aktual = Rp. 182,30 – Rp. 145,02) x 151.132 ton

= Rp. 5.634.201 (unfavorable karena harga aktual lebih besar dari harga standar)

Berdasarkan perbedaan produksi dan perbedaan biaya produksi, maka:

Perbedaan produksi (favorable) = Rp.27.555.540 Perbedaan biaya produksi:

Perbedaan biaya tanaman (favorable) = Rp.19.329.782,88 Perbedaan biaya pengolahan (unfavorable)= Rp.11.895.599,72 Perbedaan biaya penyusutan (unfavorable)= Rp. 5.634.200,96

Perbedaan biaya produksi (favorable) = Rp.1.799.982 Total Perbedaan (favorable) = Rp.29.355.522

B. Analisis Hasil Penelitian

a. Analisis Biaya Produksi Kelapa Sawit

PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa membuat laporan pertanggungjawaban pelaksanaan rencana kerja khusus di areal tanaman

menghasilkan sehubungan dengan produksi dan biaya produksi kelapa sawit yang memperlihatkan jumlah produksi dan biaya produksi yang dikeluarkan selama suatu periode dibandingkan dengan angka-angka anggaran. Laporan tersebut menyajikan jumlah produksi kelapa sawit (TBS, Minyak Sawit dan Inti Sawit) secara total dan jumlah kg per Ha. Biaya produksi disajikan secara total dan biaya produksi per kg minyak sawit dan inti sawit untuk masing-masing unsur biaya produksi yaitu:

- biaya tanaman terdiri dari gaji dan biaya sosial staff, biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan, biaya panen dan pengumpulan, pengangkutan ke pabrik dan biaya umum,

- biaya pengolahan, - biaya penyusutan.

Selain dari laporan produksi dan biaya produksi seperti tersebut di atas perusahaan juga membuat laporan secara rinci baik produksi maupun biaya produksi. Biaya produksi diikhtisarkan menurut rekening pengawasan biaya untuk biaya-biaya yang dikeluarkan selama periode tertentu. Biaya perkilogram diperlihatkan untuk setiap rekening pengawasan biaya dengan memperbandingkan angka-angka anggaran yang menunjukkan adanya perbedaan/penyimpangan.

Dalam laporan biaya produksi seperti tersebut di atas tidak memperlihatkan unsur-unsur biaya produksi (bahan, upah langsung dan bahan, upah tidak langsung). Unsur-unsur biaya diuraikan secara rinci pada lampiran-lampiran pendukung laporan biaya produksi

Laporan biaya produksi demikian sudah memadai memberikan informasi pada manajemen sebagai dasar pengambilan kebijakan terhadap pekerjaan-pekerjaan apa saja yang perlu tindakan perbaikan agar sasaran dapat dicapai.

Untuk kepentingan pengawasan biaya produksi, sistem pelaporan demikian belum sepenuhnya dapat digunakan untuk menganalisis penyimpangan biaya penggunaan bahan dan penggunaan tenaga kerja. Untuk menganalisis pemakaian

unsur-unsur biaya bahan dan tenaga kerja dalam setiap jenis pekerjaan, harus mengutip angka yang ditampilkan dalam lampiran pendukung laporan biaya produksi. Bila cara ini dilakukan memerlukan waktu yang lebih lama dan tidak efisien.

Analisis biaya produksi yang dilakukan perusahaan adalah terhadap penyimpangan yang terjadi antara realisasi jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan/mendapatkan produksi dengan angka anggaran. Dari penyimpangan realisasi dan anggaran tersebut dianalisis apa penyebab perbedaan (yang significant) apakah produksi dan atau biaya produksi.Yang diperhitungkan sebagai bahan adalah produksi minyak sawit dan inti sawit dan biayanya dihitung berdasarkan harga pokok perkilogram minyak sawit dan inti sawit yaitu jumlah biaya produksi yang dibagi dengan jumlah produksi minyak sawit dan inti sawit.

Produksi utama (hasil jadi) perusahaan adalah minyak sawit dan inti sawit. Harga pokok produksi per kilogram diperhitungkan sama (harga pokok produksi per kilogram rata-rata) yaitu membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk menghasilkan minyak sawit dan inti sawit. Berdasarkan data di atas bahwa jumlah biaya produksi adalah realisasi sejumlah Rp. 289.874.000 dan anggaran adalah sejumlah Rp.319.229.000 sedangkan jumlah produksi minyak dan inti sawit adalah realisasi 151.132 ton dan anggaran sejumlah 165.410 ton. Harga pokok produksi per kilogram adalah realisasi Rp.289.874.000 : 151.132 ton adalah Rp. 1.918,07 dan anggaran Rp. 319.229.000 : 165.410 ton = Rp. 1.929.93. Oleh perusahaan harga pokok produksi ini digunakan sebagai komponen biaya dalam perhitungan laba-rugi.

Perhitungan laba-rugi dalam hal ini oleh perusahaan adalah perhitungan laba-rugi kelapa sawit, tidak ada perhitungan laba-rugi masing-masing minyak sawit dan inti sawit.

Perhitungan harga pokok produksi kelapa sawit tersebut di atas tidak cukup realistis karena harga pokok produksi minyak sawit dan inti sawit tidak dipisahkan sehingga harga pokok produksi per kilogramnya diperhitungkan sama. Dalam proses produksi/pengolahan TBS mendapatkan minyak sawit dan inti sawit berbeda dengan untuk mendapatkan minyak sawit berbeda dengan untuk mendapatkan inti sawit. Dengan demikian pengeluaran biaya untuk mendapatkan kedua jenis produksi tersebut dapat diperkirakan akan berbeda.

b. Analisis Pengawasan Biaya Produksi Kelapa Sawit

Pengawasan biaya produksi dilakukan dengan berdasarkan pedoman yang telah ditetapkan juga berdasarkan anggaran yang telah disahkan. Perusahaan membandingkan antara anggaran tersebut dengan realisasi biaya pada tahun tertentu. Melalui perbandingan tersebut dapat diketahui ada tidaknya penyimpangan.

Penyimpangan dapat berupa penyimpangan yang menguntungkan (favorable) karena realisasi biaya di bawah anggaran dan ada juga penyimpangan yang merugikan (unfavorable) karena realisasi biaya di atas anggaran. Perusahaan harus mampu menganalisis penyimpangan tersebut sehingga dapat diketahui penyebab terjadinya.

Perusahaan mengadakan pengawasan biaya produksi mulai dari proses pengelolaan budidaya tanaman kelapa sawit di kebun sampai dengan pengolahan

kelapa sawit di pabrik. Perusahaan telah menetapkan bahwa Administratur yang bertanggung jawab penuh terhadap pengawasan biaya produksi di kebun dan pabrik supaya biaya yang dikeluarkan tidak melebihi anggaran yang telah ditetapkan.

Berikut ini digambarkan informasi mengenai perbandingan antara anggaran dan relisasi biaya produksi:

Tabel 4.6 : Perbandingan antara Anggaran dan Realisasi Biaya Produksi Kelapa Sawit Tahun 20XX

BIAYA REALISASI RKAP S E L I S I H

PRODUKSI (Rp.Juta) (Rp. Juta) (Rp. Juta) F/UF %

Biaya Tanaman 208.637 249.504 40.867 F 16,38

Biaya Pengolahan 53.685 45.738 (7.947) UF 17,37

Biaya Penyusutan 27.552 23.987 (3.565) UF 14,86

Total 289.874 319.229 29.355 F 9,2

Jumlah Produksi (kg) 151.132 165.410 14.278 F 8,63

KETERANGAN : F : Favorable (Menguntungkan)

UF : Unfavorable (Tidak menguntungkan)

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa ada penyimpangan pada biaya produksi yaitu sebesar Rp. 29.355.000 atau 9,2 %. Penyimpangan ini merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favorable) karena di bawah anggaran. Target produksi tidak tercapai sesuai anggaran yang mana berdasarkan anggaran, produksi adalah sebesar 165.410 ton dan kenyataannya produksi sebesar 151.132 ton. Produksi di bawah anggaran disebabkan karena

a. jumlah tandan per pokok pada areal tanaman muda dan

tanaman tua rendah

b. kehilangan produksi akibat pencurian

c. penggarapan liar dan claim masyarakat atas HGU sehingga TBS tidak dapat dipanen

d. pemupukan pada tahun sebelumnya tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Tindakan perbaikan

a. meningkatkan pengamanan dengan melibatkan aparat dan efektifitas pengamanan internal perusahaan

b. meningkatkan pengawasan pelaksanaan panen (TBS) sampai ke pabrik dengan melibatkan semua pimpinan pada masing- masing tingkat pertanggungjawaban,

c. pengadaan dan pelaksanaan pemupukan tepat waktu.

d. memberikan penyuluhan kepada tenaga kerja megenai

kuantitas pemakaian pupuk yang sesuai dengan rekomendasi e. memperbaiki sarana dan prasarana

f. meningkatkan pengawasan pengelolaan tanaman,

pengawasan panen (dari mulai pelaksanaan panen sampai ke pabrik) dan pengawasan pengolahan di pabrik

Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi di masa yang akan datang

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari pembahasan diatas yang dikaitkan dengan pengawasan biaya produksi kelapa sawit, penulis mencoba menarik kesimpulan dan memberikan saran dengan membandingkan antara teori dengan praktek yang telah dilaksanakan di perusahaan yakni:

A) Kesimpulan

1. Penyajian laporan biaya produksi dengan membandingkan angka realisasi dengan angka anggaran memberikan informasi yang memadai bagi manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan.

2. Unsur-unsur biaya poduksi pada PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa yang terdiri dari biaya langsung (biaya tanaman, biaya pengolahan) dan biaya tidak langsung (biaya umum dan biaya penyusutan). 3. Perusahaan tidak merinci harga pokok produksi untuk setiap jenis produk

(minyak sawit dan inti sawit) yang dihasilkan padahal kuantitas dan harga jualnya berlainan

4. Setiap tahunnya perusahaan menyusun anggaran dengan melibatkan setiap bagian/unit kerja karena perusahaan menerapkan pola top down dan bottom up. 5. Anggaran produksi dan biaya produksi digunakan sebagai tolak ukur dan

sebagai pengawasan sampai sejauh mana pekerjaan-pekerjaan maupun hasil produksi dapat dicapai.

6. Analisis perbedaan/penyimpangan dilakukan terhadap selisih anggaran dan realisasi yang nilai uangnya besar (significant) dan merugikan perusahaan sehingga perlu diambil tindakan korektif.

B. Saran

1. Perbedaan antara anggaran dan realisasi harus diawasi secara ketat dan penyimpangan dianalisis guna memahami mengapa realisasi berbeda dengan anggaran. Analisis ini harus diikuti tindakan koreksi jika merugikan perusahaan 2. Sebaiknya unsur-unsur biaya produksi yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga

kerja langsung, biaya bahan dan tenaga kerja tidak langsung disajikan dalam laporan biaya produksi kebun dan perusahaan baik anggaran maupun realisasinya. Dengan demikian dapat diketahui pada unsur biaya mana perbedaan yang cukup significant dan dapat diketahui dimana dan siapa yang bertanggung jawab. Dengan penerapan siteem tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas dan dapat lebih memudahkan pengawasan biaya dan kejelasan pihak yang bertanggung jawab jika penyimpangan biaya terjadi.

3. Harga pokok produksi minyak sawit dan inti sawit baik jumlah maupun harga pokok produksi per kilogram oleh perusahaan diperlakukan sama dalam komponen biaya untuk perhitungan laba-rugi. Sebaiknya perhitungan jumlah harga pokok produksi maupun harga pokok produksi per kilogram (untuk rincinya) dipisahkan sehingga perbedaan nilai dari kedua jenis produksi itu dapat diketahui.

DAFTAR PUSTAKA

Assaury, Sofyan, 2003. Akuntansi Suatu Pengantar, Edisi Keempat. Penerbit Liberty, Yogyakarta:

Azhari, Ahmad, 2006. Prinsip-prinsip Akuntansi , Edisi 1, Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Fess, Niswonger, Warren, Reeve, 2001. Prinsip-prinsip Akuntansi, Edisi 19, Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Hadibroto, S., 2000. Dasar Akuntansi. Penerbit Lembaga Pendidikan Pengkajian Pengembangan Sarjana, Jakarta.

Harahap, Sofyan Syafri, 2003. Akuntansi Suatu Pengantar. Edisi Keempat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Hartanto, 2001. Akuntansi Untuk Usahawan, Edisi Kelima, Cetakan Kesatu, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesiaa, Jakarta. Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi Keuangan, Buku Satu, Penerbit

Salemba Empat, Jakarta.

Matz, Adolph dan Usry, Milton F., 2000. Akuntansi Biaya, Perencanaan dan

Pengendalian, Terjemahan Alfonsus Sirait dan Elterman Wibowo,

Cetakan Kesembilan, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Mulyadi, 2003. Akuntansi Biaya, Edisi Kelima, Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi Yayasan Kelurga Pahlawan Nasional, Yogyakarta

Munandar, M., 2000. Budjeting Perencanaan Kerja Pengawas Kerja, Edisi Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Rangkuti, Freddy, 2001. Manajemen Persediaan, Edisi Keempat, Penerbit Liberty, Jakarta.

Simamora, Henry, 2001. Pengantar Akuntansi, Edisi Kedua, Penerbit Liberty, Jakarta.

Sugiyono, 2002. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Kelima, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Supomo, Bambang dan Indrianto, Nur, 2001. Metode Penelitian Bisnis Untuk

Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama, Balai Penerbitan Fakultas

Ekonomi-Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Tambunan, Loran, 2001. Akuntansi Biaya Konsep, Sistem dan Metode, Edisi Kedua, Penerbit Universitas HKBP Nommensen, Medan.

Welsch, Glenn A., Hilton, Ronald W., Gordon, Paul N., 2000. Anggaran,

Perencanaan dan Pengendalian Laba, diterjemahkan oleh

Purwatiningsih, Edisi Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Wilson, James D., Campbell, 2001. Akuntansi Biaya Perencanaan dan

Pengendalian, Edisi Kesepuluh, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Dokumen terkait