• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan atas Pelaksanaan Prinsip Kehati Hatian

BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PEMBERIAN KREDIT

D. Pengawasan atas Pelaksanaan Prinsip Kehati Hatian

Berkenaan dengan aktivitas bank yang menganut prudent banking principal (prinsip kehati-hatian) ada suatu singgungan yuridis dimana di satu pihak sektor hukum menginginkan agar bank-bank dapat melakukan kegiatan secara prudent

dengan cara menggunakan rambu-rambu hukum berupa “safe” dan “sound”.

Akan tetapi, di lain pihak, banyak juga kegiatan yang sudah berada di pinggir- pinggir dari kegiatan suatu bank (kegiatan marginal), tetapi kegiatan tersebut dapat memberikan keuntungan kepada bank tersebut. Sebagaimana telah disebutkan bahwa kegiatan-kegiatan marginal tersebut, seperti juga terhadap kegiatan-kegiatan bank lainnya mestilah diukur dengan rambu-rambu hukum

sebagai berikut:20

20Ibid.

1. Kegiatan bank tersebut haruslah “safe”, maksudnya kegiatan-kegiatan yang bersangkutan haruslah tidak boleh membawa resiko yang substansial (substansive risk) kepada bank. Jadi, bank tidak boleh melakukan kegiatan misalnya yang bersifat sangat spekulatif,

2. Kegiatan bank tersebut haruslah “sound”, maksudnya adalah bahwa kegiatan bank tersebut haruslah layaknya digolongkan sebagai kegiatan suatu bank. Jadi, bank tidak boleh berbisnis yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia perbankan.

Pinjaman kredit yang telah disalurkan oleh bank kepada masyarakat dalam jumlah yang cukup besar dan tidak dibayarkan kembali kepada bank tepat pada waktunya sesuai dengan perjanjian kredit, maka akan berakibat kualitas kredit suatu bank digolongkan menjadi Non Performing Loan (NPL) dan jumlah kredit dengan NPL yang tinggi mengakibatkan terganggunya kesehatan suatu bank yang bersangkutan. Oleh karena itu, prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit dinilai akan menurunkan resiko terhadap kredit bermasalah (non performing loan/NPL).21

Sebelum memberikan bantuan kredit kepada calon debitur, tanpa mengesampingkan prinsip-prinsip dalam perbankan, dalam pemberian kredit juga menekankan kembali peran prinsip kehati-hatian sebagai prinsip yang penting sebelum persetujuan kredit yang diajukan oleh calon debitur disetujui. Dalam praktik perbankan hal-hal yang dapat mendukung debitur dalam mendapatkan

21Ibid.

kredit adalah bagaimana cara calon debitur harus dapat meyakinkan calon

krediturnya untuk mau memberikan pinjaman.22

Sehubungan dengan pelaksanaan prinsip kehati-hatian, maka dalam memberikan kredit bank tidak sembarangan. Ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi debitur. Kriteria-kriteria itu ada lima, yang disebut dengan lima

analisis kredit (The Five C’s Of Credit Analysis). Kelima kriteria itu adalah

sebagai berikut:23

a. Watak (character)

Watak debitur yang dinilai adalah kepribadian, moral dan kejujuran dalam mengajukan permohonan kredit, karena debitur yang berwatak buruk tidak dapat dipercaya, padahal syarat pemberian kredit yang utama adalah kepercayaan. b. Kemampuan (capacity)

Kemampuan yang dinilai adalah kemampuan debitur dalam

mengembalikan, memimpin dan menguasai bidang usahanya serta

kemampuannya melihat prospek masa depan sehingga usaha permohonan yang dibiayai dengan kredit itu berjalan baik dan menguntungkan.

c. Modal (capital)

Sebelum mengajukan permohonan kredit kepada bank, pemohon diwajibkan telah memiliki modal sendiri dan bukan bergantung sepenuhnya

22Ibid.

23

Levy Mariam Darus Badrulzaman. Perjanjian Kredit Bank, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1991), hlm. 56-59.

kepada kredit bank. Di sini kredit dari bank hanya bersifat melengkapi dan bukan pokok.

d. Kondisi ekonomi (conditional of economic)

Kondisi ekonomi di sini adalah kondisi ekonomi pemohon untuk mengetahui apakah dengan kondisi ekonominya yang sekarang pemohon memiliki kesanggupan untuk mengembalikan pinjamannya.

e. Jaminan (collateral)

Jaminan disini berarti kekayaan yang dapat dikaitkan sebagai jaminan guna kepastian pelunasan dikemudian hari jika penerima kredit tidak melunasi hutangnya.

Hal ini sejalan dengan pasal 8 Undang-Undang Perbankan nomor 10 Tahun 1998 yang menegaskan bahwa :

”Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas iktikad dan kemampuan serta kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang

diperjanjikan.”

Persyaratan adanya jaminan untuk memberikan kredit tidak menjadi keharusan. Bank hanya diminta untuk meyakini berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad baik debitur dan kemampuan dari debitur. Ukuran itikad baik sifatnya kualitatif tidak mudah untuk mengukurnya, sedangkan kemampuan dapat dianalisa dari pendapatan debitur dalam berusaha atau pendapatan dari

pekerjaannya seorang pemohon kredit.24 Jaminan disini dapat berarti material maupun inmaterial.

Apabila kita melihat ketentuan pasal 1131 KUHPerdata, Undang-Undang menentukan bahwa segala kebendaan si penghutang, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian

hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.25

Dari pasal 1131 KUHPerdata dapat kita simpulkan bahwa hak-hak tagihan

seorang kreditur dijamin dengan :26

1) semua barang yang sudah ada, artinya yang sudah ada pada saat hutang

dibuat;

2) semua barang yang akan ada; disini berarti barang-barang yang pada saat

pembuatan hutang belum menjadi kepunyaan debitur, tetapi kemudian menjadi miliiknya. Dengan perkataan lain hak kreditur meliputi barang barang yang akan menjadi milik debitur, asal kemudian benar-benar menjadi miliknya,

3) baik barang bergerak maupun tak bergerak. Hal ini menunjukan bahwa

piutang kreditur menindih seluruh harta debitur tanpa terkecuali. Maka bank dalam memberikan kredit disamping jaminan kredit berupa keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad baik dan kemampuan debitur. Bank perlu meminta agunan/jaminan tambahan yaitu

24

Sutarno. Aspek-Aspek Hukum Perkreditan pada Bank, (Jakarta: CV.Alfabeta, 2003), hlm. 141.

25

H. Budi Untung.Kredit Perbankan di Indonesia, (Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2000), hlm. 55.

26

J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan , Cetakan 4, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002), hlm. 4-6.

benda-benda bergerak atau benda tidak bergerak yang memiliki nilai dan

dokumen yang jelas dan jaminan inmateriil.27

Mengenai pentingnya suatu jaminan oleh kreditur (bank) atas suatu pemberian kredit tidak lain adalah karena jaminan merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi resiko yang mungkin timbul dalam tenggang waktu antara

pelepasan dan pelunasan kredit.28

Berdasarkan uraian tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian seksama, sehingga perlu untuk dilakukan penerapan prinsip kehati-hatian. Prinsip kehati-hatian merupakan salah satu asas penting yang wajib diterapkan atau dilaksanakan oleh bank dalam menjalankan kegiatan usahanya. Prinsip kehati-hatian bank berkewajiban untuk menyediakan informasi mengenai kemungkinan timbulnya resiko sehubungan dengan transaksi nasabah yang dilakukan bank. Ketentuan ini menunjukkan bahwa bank benar-benar memiliki tanggung jawab dengan nasabahnya. Tujuan dilakukannya penerapan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit adalah agar bank selalu dalam keadaan sehat menjalankan usahanya dengan baik dan mematuhi ketentuan-ketentuan dan norma-norma hukum yang berlaku di dunia perbankan.

27

Sutarno, Op. Cit, hlm. 142.

28

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Indonesia tidak dapat di pisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan para pelaku ekonomi yang secara

terus–menerus dari waktu ke waktu yang di dukung oleh kebijakan politik

ekonomi yang semakin kondisif.1

Meningkatnya perkembangan pembangunan Nasional di segala bidang industri perbankan dituntut untuk dapat lebih meningkatkan peranannya, baik dalam mobilisasi tabungan masyarakat maupun penyalurannya untuk pembiayaan investasi, pengembangan pasar modal, dan yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pemberian berbagai macam kredit perbankan. Kegiatan pembangunan yang terus-menerus meningkat memang memerlukan dana yang semakin besar. Kredit sindikasi adalah kredit yang diberikan oleh sindikasi kredit. Sindikasi kredit adalah suatu sindikasi yang peserta-pesertanya terdiri dari lembaga- lembaga pemberi kredit dan yang dibentuk dengan tujuan untuk memberikan kredit kepada suatu perusahaan yang memerlukan kredit untuk membiayai suatu proyek. Dengan kredit sindikasi dimungkinkan nasabah untuk memupuk record dengan banyak bank dan juga memungkinkan nasabah untuk memperoleh kredit yang berjumlah besar. Dengan kredit sindikasi, bank dapat memenuhi permintaan kredit dalam jumlah besar tanpa melanggar legal lending limit sehingga bank

1

Sri Rejeki Hartono.Beberapa Aspek Tentang Permodalan Perseroan Terbatas, (Bandung: Mandar Maju, 2000), hlm. 1.

tidak akan kehilangan nasabahnya dan sekaligus juga telah mengurangi resiko dari kredit itu yang harus ditanggung bank karena diadakan penyebaran resiko diantara

bank-bank peserta sindikasi.2

Baik Bank maupun lembaga keuangan non-bank sama-sama memiliki fungsi sebagai lembaga keuangan untuk turut memajukan perekonomian bangsa. Akan tetapi, fungsi menghimpun dana dari masyarakat, yang dimiliki oleh Bank memberikan perbedaan antara Bank dengan lembaga keuangan non-bank. Fungsi menyalurkan dana dalam bentuk kredit memang merupakan salah satu fungsi utama bank, akan tetapi konsentrasi kredit yang berlebihan dapat membahayakan bank. Untuk itu Bank Indonesia (BI) mewajibkan bank menerapkan prinsip kehati-hatian penyaluran kredit dan melakukan penyebaran portofolio penyediaan dana terutama dengan pembatasan penyediaan dana dengan persentase tertentu terhadap pihak terkait maupun pihak yang tidak terkait dengan memperhatikan keadaan modal bank. Hal inilah yang lebih dikenal dengan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7/3/PBI/ 2005 yang telah diubah dengan PBI No. 8/13/PBI/2006 tentang Batas Umum Pemberian Kredit Bank Umum. Ketentuan ini diatur lebih lanjut pada Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 7/14/PBI/DPNP tertanggal 18 April 2005. Oleh karena adanya aturan BMPK, bank tidak dapat memberikan kredit melebihi batas maksimum yang telat ditentukan, meskipun pada kenyataannya ada kalanya suatu nasabah, pada umumnya perusahaan besar,

2

Tinjauan Hukum Terhadap Kredit Sindikasi Sebagai Alternatif Penyaluran Kredit Secara Sindikasi dalam

https://www.researchgate.net/publication/42353900_Tinjauan_Hukum_Terhadap_Kredit_Sindikas i_Sebagai_Alternatif_Penyaluran_Kredit_Secara_Sindikasi (diakses tanggal 19 Juli 2016).

membutuhkan dana yang sangat besar yang melebihi batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh suatu bank untuk pembiayaan suatu proyek atau kegiatan lainnya.

Sejalan dengan semakin pesatnya pertumbuhan pembangunan di Indonesia dan semakin meningkatnya permintaan dana dari para pelaku usaha dan masyarakat pada umumnya, adanya penetapan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) menjadi penghalang bagi para pelaku usaha untuk memperoleh dana dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu, dibentuklah lembaga yang bernama sindikasi kredit, yaitu pemberian kredit dimana ada satu orang debitur yang diberikan kredit oleh dua atau lebih kreditur. Kredit yang diberikan oleh

Sindikasi Kredit disebut Kredit Sindikasi.3

Pemberian kredit sindikasi dalam prakteknya untuk lebih mengamankan dana atau pinjaman yang diberikan kepada debitur diperlukan adanya jaminan tambahan atau jaminan khusus seperti corporate guarantee, obligasi dan/atau jaminan kebendaan. Pengaturan kredit sindikasi dibuat sendiri oleh para pihak. Kredit sindikasi juga menggunakan kontrak seperti kredit yang lain sehingga diperlukan pengetahuan yang baik mengenai aspek hukum kontrak kredit sindikasi tersebut. Apalagi para pihak yang ada dalam kredit sindikasi lebih banyak. Hal ini akan meminimalisir penyimpangan yang bisa saja terjadi.

Perkembangan kredit sindikasi di Indonesia mulai menuju ke arah dipilihnya kredit sindikasi sebagai suatu alternatif yang timbul karena kebutuhan

3Mulia Pandapotan Harahap. Tinjauan Yuridis Tentang Perjanjian Kredit Sindikasi Berdasarkan Hukum Kontrak Tesis. FH. USU dalam

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33892/4/Chapter%20I.pdf (diakses tanggal 15 Juli 2016)

akan kredit dalam jumlah yang melebihi BMPK suatu bank semakin meningkat. Kredit sindikasi yang dilakukan oleh bank-bank berkembang pesat baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pola sindikasi itu akan semakin banyak dilakukan oleh bank-bank karena terbukti pembiayaan seperti ini mempunyai dampak positif baik

bagi bank, debitur, kreditur maupun perekonomian pada umumnya.4

Masalah kredit sindikasi merupakan masalah yang sangat serius dan perlu ditindaklanjuti secara hukum karena menyangkut masalah yang berhubungan dengan masyarakat. Namun, dalam prakteknya penyelesaian secara koordinatif tidaklah mudah dilakukan, karena tidak semua kreditur memiliki

pemahaman yang sama. Adanya kebebasan berkontrak menimbulkan

permasalahan-permasalahan baru sehingga diperlukan aturan main yang jelas bagi para pihak. Apalagi hampir di semua kegiatan menggunakan kontrak.

Dalam rangka penyaluran kredit kepada perusahaan-perusahaan dan masyarakat untuk kepentingan pembiayaan, maka setiap bank diwajibkan untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian (Prudential Banking Principles) dalam menyalurkan kredit-kreditnya.

Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib

melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Prinsip kehati-

hatian adalah suatu prinsip yang menegaskan bahwa bank dalam menjalankan kegiatan usaha baik dalam penghimpunan terutama dalam penyaluran dana

4Perkembangan Kredit Sindikasi dan Latar Belakang di Indonesia dalam

http://www.landasanteori.com/2015/10/perkembangan-kredit-sindikasi-dan-latar.html?m=0 (diakses tanggal 18 Juli 2016).

kepada masyarakat harus sangat berhati-hati. Tujuan dilakukannya prinsip kehati- hatian ini agar bank selalu dalam keadaan sehat menjalankan usahanya dengan baik dan mematuhi ketentuan-ketentuan dan norma-norma hukum yang berlaku di dunia perbankan.

Dengan melihat latar belakang permasalahan yang ada, maka penulis

tertarik untuk membahas skripsi dengan judul : ”Penerapan Prinsip Kehati Hatian dalam Pelaksanaan Kredit Sindikasi.”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian Latar Belakang yang telah dijelaskan tersebut diatas,

dalam skripsi yang berjudul “Penerapan Prinsip Kehati-Hatian Dalam

Pelaksanaan Kredit Sindikasi”, maka penulis memuat rumusan masalah skripsi ini sebagai berikut:

1. Bagaimana Pengaturan Kredit Sindikasi menurut Peraturan Perbankan di

Indonesia?

2. Bagaimana Pengawasan atas Pelaksanaan Kredit Sindikasi ?

3. Bagaimana Penerapan Prinsip Kehatian-hatian dalam Pelaksanaan Kredit

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengaturan Kredit Sindikasi menurut Peraturan Perbankan

di Indonesia.

2. Untuk mengetahui Pengawasan atas Pelaksanaan Kredit Sindikasi.

3. Untuk mengetahui Penerapan Prinsip Kehatian-hatian dalam Pelaksanaan

Kredit Sindikasi.

Sementara hal yang diharapkan menjadi manfaat dari adanya penulisan skripsi ini adalah:

1. Manfaat teoritis

Tulisan ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka perkembangan ilmu hukum pada umumnya, khususnya di bidang pengaturan Kredit Sindikasi menurut Peraturan Perbankan di Indonesia, Pengawasan atas Pelaksanaan Kredit Sindikasi, Penerapan Prinsip Kehatian-hatian dalam Pelaksanaan Kredit Sindikasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Manfaat praktis

Uraian dalam skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran serta menambah wawasan dan pengetahuan secara khusus bagi Penulis dan secara umum bagi masyarakat tentang pengaturan dan pengawasan atas pelaksanaan Kredit Sindikasi yang tetap memperhatikan prinsip kehati- hatian dalam pelaksanaan Kredit Sindikasi.

D. Keaslian Penelitian

Sepanjang pengamatan dan pengetahuan penulis, belum ada penelitian tentang Penerapan Prinsip Kehati-Hatian Dalam Pelaksanaan Kredit Sindikasi sesuai dengan judul skripsi ini, kemudian penulis juga melakukan pemeriksaan judul skripsi tersebut kepada Arsip Perpustakaan Universitas cabang Fakultas Hukum USU/Pusat Dokumentasi dan Informasi Fakultas Hukum USU, yang

menyatakan bahwa ”Tidak Ada Judul yang Sama”. Surat keterangan tersebut

merupakan bukti yang sah, yang brarti bahwa tidak ada judul skripsi yang sama dengan judul skripsi penulis. Maka berdasarkan hal itu wajarlah bila penulis melanjutkan penelitian terhadap judul skripsi tersebut.

Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini murni hasil pemikiran penulis yang didasarkan pada pengertian-pengertian, teori-teori dan aturan hukum yang diperoleh melalui referensi media cetak maupun media elektronik. Penelitian ini disebut asli sesuai dengan asas keilmuan yaitu jujur, rasional, objektif dan terbuka serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penulis juga telah melewati pengujian tentang kesamaan dan keaslian judul yang diangkat di Perpustakaan Fakultas Hukum USU. Hal ini dapat mendukung tentang keaslian penulisan.

E. Tinjauan Kepustakaan

Adapun judul yang dikemukakan oleh penulis adalah “Penerapan Prinsip

Kehati-Hatian Dalam Pelaksanaan Kredit Sindikasi”. Dalam tinjauan kepustakaan

sorotan dalam mengadakan studi kepustakaan. Hal ini akan berguna bagi penulis untuk membantu melihat ruang lingkup skripsi agar tetap berada didalam topik yang diangkat dari permasalahan yang telah disebutkan diatas. Adapun yang menjadi pengertian secara etimologis dari pada judul skripsi ini adalah sebagai berikut.

Pasal 1313 KUHPerdata disebutkan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Sedangkan menurut Subekti, perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.

Kredit menurut Undang-Undang No 10 tahun 1998, “Kredit adalah

penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan dan kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga “.

Prinsip kehati-kehatian adalah suatu prinsip yang menyatakan bahwa bank dalam menjalankan fungsi dan kegiatan usahanya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam rangka melindungi dana masyarakat yang dipercayakan padanya. Hal ini disebutkan dalam Pasal 2 Undang-Undang Perbankan yang diubah, bahwa perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Kemudian disebutkan pula dalam Pasal 29 Undang-Undang Perbankan yang Diubah bahwa bank wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian (ayat

(2)) dan bank dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank (ayat (3)).

Menurut buku Prof. Dr. Sutan Remi Sjahdeini, S.H., kredit sindikasi dapat diartikan sebagai dana yang diberikan secara bersama-sama oleh beberapa bank berdasarkan satu perjanjian kredit saja, dan pada saat yang sama diberikan juga oleh masing-masing bank tersebut.

Definisi tersebut di atas mencakup semua unsur – unsur yang penting dari

suatu kredit sindikasi, yaitu :5

1. Kredit sindikasi melibatkan lebih dari satu lembaga pembiayaan dalam

suatu fasilitas sindikasi.

2. Definisi tersebut menyatakan bahwa kredit sindikasi adalah kredit yang di

berikan berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang sama bagi masing-masing peserta sindikasi. Hal ini diwujudkan dalam bentuk hanya ada satu perjanjian kredit antara nasabah dan sebuah bank peserta sindikasi.

3. Definisi tersebut menegaskan bahwa hanya ada satu dokumentasi kredit,

karena dokumentasi inilah yang menjadi pegangan bagi semua bank peserta sindikasi secara bersama-sama.

4. Sindikasi tersebut di administrasikan oleh satu agen (agent) yang sama

bagi semua bank peserta sindikasi. Bila tidak, maka terpaksa harus ada

5

Sutan Remy Syahdeni. Kredit Sindikasi, Proses Pembentukan dan Aspek Hukumnya. (Jakarta: Grafiti, 1997), hlm. 2-3.

serangkaian fasilitas bilateral (dua pihak), yang sama tetapi mandiri, antara masing-masing bank peserta dengan nasabah. Kredit yang berbentuk sindikasi atau kredit patungan yang dilakukan oleh bank ini, berbeda dari kredit-kredit yang biasa di berikan oleh bank kepada nasabahnya.

F. Metode Penulisan

Metode penelitian adalah urutan-urutan bagaimana penelitian itu dilakukan. Untuk mendapatkan data yang akurat penelitian harus dilakukan secara sistematis dan teratur. Dalam penulisan skripsi ini, metode yang dipakai adalah sebagai berikut :

1. Spesifikasi penelitian

Jenis penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau bahan sekunder. Pada penelitian hukum jenis ini, seringkali hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan

patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas.6 Dalam penelitian ini, adapun

undang-undang yang digunakan antara lain: Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undangn Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan peraturan perundang- undangan lainnya yang terkait.

6

Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 118.

Sifat penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan masalah dengan cara menjabarkan fakta secara sistematik, faktual, dan akurat. Pendekatan penelitian dalam skripsi ini adalah pendekatan yuridis, yaitu dengan menganalisis permasalahan dalam penelitian melalui pendekatan terhadap asas-asas hukum, yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan.

2. Sumber data

Materi dalam skripsi ini diambil dari data primer dan data sekunder. Penelitian yuridis normatif menggunakan jenis data sekunder sebagai data utama. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kepustakaan. Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh

pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain.7 Data sekunder berfungsi untuk

mencari data awal/informasi, mendapatkan batasan/definisi/arti suatu istilah. Data sekunder yang dipakai adalah sebagai berikut :

a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum terkait tentang ketentuan-

ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mempunyai kekuatan hukum mengikat, seperti:

1)Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2)Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan.

3)Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.

7

Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 41.

4)Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7/3/PBI/ 2005 yang telah diubah dengan PBI No. 8/13/PBI/2006 tentang Batas Umum Pemberian Kredit Bank Umum.

Dokumen terkait