Pemanfaatan aset daerah harus diawasi dan dikendalikan secara ketat agar tidak terjadi salah urus (miss management), kehilangan dan tidak termanfaat-kan. Untuk meningkatkan fungsi pengawasan tersebut, peran auditor internal sangat penting. Melibatkan berbagai profesi atau keahlian yang terkait seperti auditor internal dan appraisal (penilai)
penilai yang independen. Peran profesi penilai secara efektif dalam pengelo-laan aset daerah antara lain:
a. Identifikasi dan inventarisasi aset daerah
b. Memberi informasi mengenai status hukum harta daerah
c. Penilaian harta kekayaan daerah baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud
d. Analisis investasi dan set-up investasi/pembiayaan e. Pemberian jasa konsultasi manajemen aset daerah
Sholeh dan Rochmansjah (2010) menyatakan pelaksanaan pengelolaan aset/barang milik daerah harus memenuhi prinsip akuntabilitas publik. Akunt-abilitas publik yang harus dipenuhi paling tidak meliputi:
1. Akuntabilitas kejujuran dan akuntabilitas hukum (accountability for probity and legality)
2. Akuntabilitas proses (process accountability) 3. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability)
Akuntabilitas kejujuran terkait dengan penghindaran penyalahgunaan ja-batan (abuse of power) oleh pejabat dalam penggunaan dan pemanfaatan ke-kayaan daerah, sedangkan akuntabilitas hukum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lain yang berlaku. Akuntabilitas hu-kum juga dapat diartikan bahwa kekayaan daerah harus memiliki status huhu-kum yang jelas agar pihak tertentu tidak dapat menyalahgunakan atau mengklaim kekayaan daerah tersebut.
Akuntabilitas proses terkait dengan dipatuhinya prosedur yang digunakan dalam melaksanakan pengelolaan kekayaan daerah. Untuk itu perlu kecuku-pan sistem informasi akuntansi, sistem informasi manajemen dan prosedur ad-ministrasi. Hal ini penting untuk mewujudkan akuntabilitas kebijakan pengelo-laan aset daerah baik secara vertikal maupun secara horisontal. Akuntabilitas kebijakan terkait dengan pertanggungjawaban pemerintah daerah terhadap DPRD dan masyarakat luas atas kebijakan-kebijakan perencanaan, pengadaan, pendistribusian penggunaan atau pemanfaatan kekayaan daerah, pemeli-haraan sampai pada penghapusan barang milik daerah.
Menurut Sholeh dan Rochmansjah (2010) agar pelaksanaan pengelolaan aset daerah dapat dilakukan dengan baik dan benar sehingga dapat dicapai efektivitas dan efisiensi pengelolaan aset daerah hendaknya berpegangan teg-uh pada azas-azas sebagai berikut :
1. Azas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
peng-guna barang, pengpeng-guna barang, pengelola barang dan kepala daerah sesuai fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing
2. Azas kepastian hukum, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus
di-laksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan
3. Azas transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan barang milik
daer-ah harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar
4. Azas efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik daerah diarahkan agar
ba-rang milik daerah digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal
5. Azas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik daerah
harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat
6. Azas kepastian nilai, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus
didu-kung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik daerah serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah.
Subagya (1995) menyatakan untuk menghindarkan pemborosan perlu di-adakan pembatasan-pembatasan kebutuhan terhadap perlengkapan dan per-alatan. Kebutuhan harus ditentukan secara tepat terutama mengenai tipe dan spesifikasinya. Disamping itu ditentukan pula sumber dan jumlah dari perleng-kapan dan peralatan yang akan dibeli, hal ini perlu dilakukan untuk menen-tukan cara yang akan dilaksanakan dalam pembelian tersebut. Perencanaan proses pengadaan/pembelian sejak dari awal sampai kepada barang diterima ditempat harus telah disusun dan tergambar dengan jelas, baik tahap demi ta-hap dari kegiatannya sendiri maupun jadwal waktu secara tepat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Nomor 17 Tahun 2007, penilaian barang milik daerah dilakukan dalam rangka penyusunan neraca pemerintah daerah, pemanfaatan, dan pemindahtanganan barang milik daerah. Penetapan nilai barang milik daerah dalam rangka penyusunan neraca pemerintah daerah dilakukan dengan berpedoman pada Standar Akuntansi Pemerintah (SAP).
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 menyatakan bahwa penghapusan barang milik daerah meliputi penghapusan dari daftar barang pengguna dan/atau kuasa pengguna dan penghapusan dari daftar barang
mi-lik daerah. Penghapusan barang mimi-lik daerah dilakukan dalam hal barang mimi-lik daerah dimaksud sudah tidak berada dalam penguasaan pengguna dan/atau kuasa pengguna dan sudah beralih kepemilikannya, terjadi pemusnahan atau karena sebab-sebab lain.
Penghapusan dilaksanakan dengan keputusan pengelola atas nama Kepala Daerah untuk barang milik daerah dimaksud sudah tidak berada dalam pen-guasaan pengguna dan/atau kuasa pengguna dan dengan Keputusan Kepala Daerah untuk barang milik daerah yang sudah beralih kepemilikannya, terjadi pemusnahan atau karena sebab-sebab lain. Berdasarkan Peraturan Menteri Da-lam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 barang milik daerah yang dihapus dan masih mempunyai nilai ekonomis, dapat dilakukan melalui pelelangan umum/pele-langan terbatas; dan/atau disumbangkan atau dihibahkan kepada pihak lain. Bentuk-bentuk pemindahtanganan sebagai tindak lanjut atas penghapusan barang milik daerah meliputi penjualan, tukar menukar, hibah, dan penyertaan modal pemerintah daerah.
Menurut Sholeh dan Rochmansjah (2010), untuk menjamin kelancaran pe-nyelenggaraan dan menjamin tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah secara efisien dan efektif maka diperlukan fungsi berikut ini:
1. Pembinaan, yaitu usaha atau kegiatan melalui pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, dan supervisi
2. Pengawasan, yaitu usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan dibandingkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
3. Pengendalian, yaitu usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.