• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan Langsung dan Pengawasan Tidak Langsung

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 22-29)

a. Pengawasan langsung, adalah pengawasan yang dilakukan secara pribadi oleh pimpinan atau pengawas dengan mengamati, meneliti, memeriksa, mengecek sendiri secara langsung di tempat pekerjaan, dan menerima laporan secara langsung dari pelaksana kegiatan dengan cara melakukan inspeksi.

b. Pengawasan tidak langsung, dilakukan dengan cara mempelajari laporan-laporan yang diterima dari pelaksana baik lisan maupun tertulis, mempelajari pendapat-pendapat masyarakat dan sebagainya tanpa pengawasan langsung dilapangan.

2. Pengawasan Preventif dan Represif.

a. Pengawasan preventif, melakuakn tindakan pra-audit sebelum pekerjaan dimulai. Salah satu tindakan pengawasan preventif adalah dengan mengadakan pengawasan terhadap persiapan kerja, rencana kerja, rencana anggaran, rencana penggunaan tenaga dan sumber-sumber lain.

b. Pengawasan represif, dilakukan melalui post-audit dengan melakuakn tindakan inspeksi mendadak, meminta laporan pelaksanaan dan sebagainya.41

3. Pengawasan Intern dan Pengawasan Ekstern.

a. Pengawasan intern, adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat dalam organisasi itu sendiri. Pengawasan intern harus dilakukan oleh pimpinan sendiri. Setiap pimpinan unit dalam suatu organisasi berkewajiban membantu pimpinan pusat untuk mengadakan pengawasan secara fungsional sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

40Ibid

41Ibid

40

b. Pengawasan ekstern, adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat dari luar organisasi sendiri, seperti halnya pengawasan dibidang keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang meliputi seluruh Aparatur Negara dan Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara terhadap departemen dan instansi pemerintah lain.

Siagian sendiri mengatakan42 bahwa dalam proses pengawasan pada dasarnya dilaksanakan oleh administrasi dan manajemen dengan mempergunakan dua macam teknik, yakni :

1. Pengawasan langsung (direct control) adalah dimana pimpinan suatu organisasi mengadakan sendiri pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan. Pengawasan langsung ini dapat berbentuk:

(a) inspeksi langsung, (b) on the spot observation,

(c) on the spot report, yang sekaligus berarti pimpinan melakukan pengambilan keputusan on the spot pula jika diperlukan. Kompleksitas tugas-tugas seorang pimpinan terutama dalam organisasi yang besar sehingga seorang pimpinan tidak mungkin dapat selalu menjalankan pengawasan langsung itu.

2. Pengawasan tidak langsung (indirect control) ialah pengawasan jarak jauh.

Pengawasan ini dilakukan melalui laporan yang disampaikan oleh para bawahan. Laporan itu dapat berbentuk: (a) tertulis, (b) lisan. Kelemahan dari pada pengawasan tidak langsung itu adalah sering para bawahan hanya melaporkan hal-hal yang positif saja. Para bawahan itu mempunyai kecenderungan hanya melaporkan hal-hal yang diduganya akan menyenangkan pimpinan.

Disisi lain Bohari membagi beberapa macam teknik pengawasan sebagai berikut :

1. Pengawasan preventif, dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan. Pengawasan

42Op.cit 139-140

41

preventif ini biasanya berbentuk prosedur-prosedur yang harus ditempuh dalam pelaksanaan kegiatan. Pengawasan preventif ini bertujuan:

a. Mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang dari dasar yang telah ditentukan.

b. Memberi pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efisien dan efektif.

c. Menentukan saran dan tujuan yang akan dicapai.

d. Menentukan kewenangan dan tanggung jawab sebagai instansi sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan.43

2. Pengawasan represif, dilakukan setelah suatu tindakan dilakukan dengan membandingkan apa yang telah terjadi dengan apa yang seharusnya terjadi.

Pengawasan represif bertujuan untuk mengetahui apakah kegiatan dan pembiayaan yang telah dilakukan itu telah mengikuti kebijakan dan ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengawasan represif ini biasa dilakukan dalam bentuk:

a. Pengawasan dari jauh, adalah pengawasan yang dilakukan dengan cara pengujian dan penelitian terhadap surat-surat pertanggungan jawab disertai bukti-buktinya mengenai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

b. Pengawasan dari dekat, adalah pengawasan yang dilakukan di tempat kegiatan atau tempat penyelenggaraan administrasi.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka teknik pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik, semuanya tergantung pada berbagai kondisi dan situasi yang akan terjadi, maupun yang sedang terjadi atau berkembang padamasing-masing organisasi. Penentuan salah satu teknik pengawasan ini adalah agar dapat dilakukan perbaikan-perbaikan pada tindakan yang telah dilakukan atau agar penyimpangan yang telah terjadi tidak berdampak yang lebih buruk, selain itu.agar dapat ditentukan tindakan-tindakan masa depan yang harus dilakukan oleh organisasi.

43Bohari.Pengawasan Keuangan Negara. Jakarta. Rajawali Press. 1992. hlm 25

42 F. Dana Desa

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa, dana desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam perwujudan keuangan desa yang tertib dan disiplin anggaran, maka pengelolaan dana desa harus memenuhi 5 Taat yakni taat hukum, harus tepat waktu, harus tepat jumlah, dan sesuai dengan prosedur yang ada. Tujuannya dari 5 Taat adalah untuk menghindari penyimpangan, dan meningkatkan profesionalitas pengelolaanya.

Di dalam pengelolaan keuangan desa terdapat asas umum keuangan desa dan asas pengelolaan keuangan desa. Asas umum keuangan desa diatur di dalam Bab VI Keuangan dan Kekayaan Desa, Bagian Kesatu Keuangan Desa, Paragraf 1 Umum, Pasal 90 sampai dengan Pasal 94 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Sedangkan asas-asas pengelolaan keuangan desa sebagaimana yang diatur di dalam Bab II Asas Pengelolaan Keuangan Desa, Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.

Adapun asas umum keuangan desa sebagaimana yang diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, yaitu:

1. Penyelenggaraan kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa didanai oleh APB Desa;

2. Penyelenggaraan kewenangan lokal berskala Desa selain didanai oleh APB Desa, juga dapat didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah;

3. Penyelenggaraan kewenangan Desa yang ditugaskan oleh Pemerintah didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja Negara;

43

4. Dana anggaran pendapatan dan belanja negara dialokasikan pada bagian anggaran kementerian/lembaga dan disalurkan melalui satuan kerja perangkat daerah kabupaten/kota;

5. Penyelenggaraan kewenangan Desa yang ditugaskan oleh pemerintah daerah didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja daerah;

6. Seluruh pendapatan Desa diterima dan disalurkan melalui rekening kas Desa dan penggunaannya ditetapkan dalam APB Desa;

7. Pencairan dana dalam rekening kas Desa ditandatangani oleh kepala Desa dan bendahara Desa;

8. Pengelolaan keuangan Desa meliputi:

a. perencanaan;

b. pelaksanaan;

c. penatausahaan;

d. pelaporan; dan e. pertanggungjawaban.

9. Kepala Desa adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan Desa;

10. Dalam melaksanakan kekuasaan pengelolaan keuangan Desa, kepala Desa menguasakan sebagian kekuasaannya kepada perangkat Desa; (9). Pengelolaan keuangan Desa dilaksanakan dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember.

Sedangkan, asas-asas pengelolaan keuangan desa sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, yaitu:

1. Asas transparan, yaitu prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang pengelolaan keuangan desa;

2. Asas akuntabel, yaitu prinsip setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat desa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

44

3. Asas partisipatif, yaitu prinsip yang mengikutsertakan kelembagaan desa dan unsur masyarakat desa dalam tata kelola keuangan desa;

4. Asas tertib dan disiplin anggaran, yaitu prinsip bahwa keuangan desa dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan

45 G. Kerangka Berpikir

Diagram 1 : Kerangka Berpikir

Keterangan :

Pengaturan mengenai kedudukan serta tugas pokok dan fungsi Camat telah diatur dalam Undang-Undang Nomor23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan serta Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dalam kedua peraturan perundang-undangan tersebut mengatur secara garis besar mengenai tugas pokok dan fungsi Camat mengalami perubahan yang sangat besar, Camat yang sebelumnya merupakan Kepala Wilayah setelah adanya Undang-Undang Nomor23 Tahun 2014 Camat menjadi perangkat Daerah. Dalam Undang –Undang Nomor 6 Tahun 2014

Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2008 Pasal 154 Mengenai Pembinaan dan Pengawasan Desa oleh Camat atau Sebutan Lain

Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa

Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Pembinaan Pengelolaan Dana Desa Pengawasan Pengelolaan Dana

Model Pembinaan dan Pengawasan Pengelolaan Dana Desa

46

tentang Desa Camat memiliki kewenangan Pembinaan dan Pengawasan kembali, namun peran Pembinaan dan Pengawasan ini lebih kepada pengelolaan Dana Desa yang ada sejak disahkannya peraturan-peraturan tersebut. Sebelum adanya kedua peraturan perundang-undangan tersebut peran Camat secara detail terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2008 yang merupakan turunan dari Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Besar kecilnya fungsi pengawasan dan pembinaan Camat yang juga sebagai Organisasi Perangkat Daerah lebih ditentukan kepada Peraturan Daerah dalam hal ini Bupati/Walikota yang tidak boleh melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2008. Dalam pengelolaan dana desa selama ini, kedudukan Camat “antara ada dan tiada” dikarenakan alur penyaluran dan evaluasi yang langsung dari Kabupaten/Kota langsung kepada Desa.

Fungsi Camat sebagai penanggung jawab pengelolaan ini tidak terlalu siginifikan karena batas waktu evaluasi yang diberikan oleh Undang –Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa hanya diberikan waktu maksimal 7 hari sehingga pelaksaan pembinaan dan pengawasan yang dilakuka oleh Camat tidak maksimal dan hanya lebih kepda formalitas belaka. Penelitian hukum ini memberikan sebuah model pembinaan dan pengawasan Camat terhadap pengelolaan Dana Desa sehingga nantinya Camat memiliki peran yang signifikan dalam melakukan pembinaan dan pengawasan sehingga Dana Desa yang berjumlah milyaran bukan menjadi ajang korupsi bagi Pemerintah Desa.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 22-29)

Dokumen terkait