PENGAWASAN PEMERINTAH TERHADAP PERUSAHAAN PELAKSANA PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA SWASTA DI LUAR
NEGERI
A. Fungsi Pengawasan Pemerintah Secara Umum
Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri beserta peraturan pelaksananya maupun ratifikasi sejumlah konvensi PBB. Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk menjamin dan melindungi hak asasi warga negaranya, baik yang bekerja di dalam maupun di luar negeri. Semua berdasarkan prinsip persamaan hak, demokrasi, keadilan sosial, serta kesetaraan dan keadilan gender.42
Mengacu kepada pasal di atas, maka Undang-undang Nomor 39 Tahun 2004 seharusnya harus mampu memberikan perlindungan hukum bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri, khususnya untuk memperoleh kemudahan pelayanan penempatan yang akurat dan tetap mengutamakan keselamatan TKI dari semua aspek.43
Sebagai bagian dari sistem pemerintahan yang lebih besar, pemerintahan daerah menjadi ujung tombak pelaksanaan kewajiban tersebut terhadap masyarakat
42 Muhaimin, “Perlindungan Buruh Migran harus Dijamin, ” http://bataviase .co.id/content/perlindungan-buruh-migran-harus-dijamin. diakses tanggal 30 Maret 2010.
lokal di daerahnya.44 Pergaulan antara manusia sebagai anggota masyarakat saling mempunyai kepentingan ada yang sama dan ada yang bertentangan antara satu sama lain.
Dalam konteks pertentangan kepentingan masyarakat ini akan menimbulkan persoalan wajar dan tidak wajar, patut dan tidak patut, yang pada akhirnya pertentangan kepentingan ini dapat melanggar hak anggota masyarakat. Hal ini dapat terjadi dalam kegiatan sosial dan kegiatan-kegiatan ekonomi perusahaan karena itu perangkat hukum diperlukan untuk menciptakan dan melindungi hak anggota masyarakat.45
Holland yang dikutip oleh Wise, Percy M. Winfield dan Bias, bahwa tujuan hukum adalah menciptakan dan melindungi hak-hak (legal rights). Jadi perusahaan harus memperhatikan kepentingan hak orang lain dalam pergaulan hidup masyarakat, terutama kaum buruh, sebab perkembangan perangkat hukum untuk menciptakan dan melindungi hak manusia sebagai anggota masyarakat terus mengalami perkembangan dalam kegiatan ekonomi perusahaan sejalan dengan perkembangan masyarakat yang berperan menampung kebutuhan masyarakat yang berkepentingan (stakeholder) dari perusahaan.46
44
Perwira, I. Tanggung Jawab Negara Dalam Pemenuhan Hak Atas Kesehatan Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. Bandung: Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran, 2009, hal. 89.
45
Bismar Nasution, Hukum Perusahaan, Program Magister Ilmu Hukum, Program Pasca Sarjana, (Medan: USU Press), 2003, hal. 1.
46Ibid
Menurut Manullang, 47 pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan mengoreksi bila perlu dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana-rencana semula. Pendapat ahli lain, pengawasan adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan kerja dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan.48 koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan
Pengawasan dapat dilakukan dengan cara pengawasan preventif (preventive controlling) dan pengawasan korektif (corrective controlling). Pengawasan preventif adalah pengawasan yang mengantisipasi terjadinya penyimpangan-penyimpangan, sedangkan pengawasan korektif dapat dijalankan apabila hasil yang dinginkan terdapat banyak variasi. Pengawasan itu dapat dilakukan pada bidang-bidang produksi, waktu, kegiatan manusia, maupun keuangan.
Pengawasan di bidang ketenagakerjaan sangat penting sebagai salah satu instrumen untuk mewujudkan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar Tahun 1945. Adapun fungsi pengawasan oleh pemerintah akan semakin penting pada masyarakat industri modern, sebagai mana
47
Sedjun Manullang, Pokok-pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia, (Jakarta: Rhineka Cipta, 1995), hal. 34
48
diungkapkan oleh Rudolf Maerker dan Christian Uhlig karena persoalan-persoalan ketenagakerjaan akan mengarah kepada persetujuan-persetujuan yang ditetapkan antara lain pekerja dan pengusaha.49
Menurut Ranupandojo tujuan pengawasan adalah mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan atau hasil yang dikehendaki.50
Soekarno dalam Gouzali Saydam mengemukakan tujuan pengawasan antara lain adalah:
1. Untuk mengetahui apakah suatu kegiatan sudah berjalan sesuai dengan rencana. 2. Untuk mengetahui apakah suatu kegiatan sudah sesuai dengan instruksi.
3. Untuk mengetahui apakah kegiatan telah berjalan efisien.
4. Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan dan kelemahan-kelemahan dalam
kegiatan.
5. Untuk mencari jalan keluar bila ada kesulitan, kelemahan atau kegagalan kearah perbaikan. 51
Tujuan utama dari pengawasan ialah mengusahakan agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan. Untuk dapat benar-benar merealisasi tujuan utama tersebut, maka pengawasan pada taraf pertama bertujuan agar pelaksanaan pekerjaan
49
Agusmidah, ”Fungsi Pengawasan Pemerintah terhadap Perlindungan Penempatanpada Perusahaan Industri di Kabupaten Deli Serdang,” (Tesis , Medan: Universitas Sumatera Utara) hal. 78.
50
Ranupandojo, Heidjrachman. Tanya Jawab Manajemen. (Yogyakarta: AMP YKPN, 1990), hal. 109
51
Gouzali Saydam, Soal Jawab Manajemen dan Kepemimpinan. (Jakarta: Djambatan, 1993), hal.197
ssesuai dengan instruksi yang telah dikeluarkan, dan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan rencana
berdasarkan penemuan-penemuan tersebut dapat diambil tindakan untuk
memperbaikinya, baik pada waktu itu maupun waktu-waktu yang akan datang.52
Bentuk-bentuk atau tipe pengawasan menurut Hamdan Mansoer sebagai berikut:
1. Pengawasan Pra Kerja
Bentuk pengawasan pra kerja ini sifatnya mempersiapkan antisipasi permasalahan yang akan datang. Sifatnya mengarahkan keadaan yang akan terjadi di masa datang, sebagai peringatan untuk tidak dilanggar. Pengawasan bentuk ini memberikan patokan kerja dan tidak memandori kerja.
2. Pengawasan Semasa Kerja
Pengawasan yang dilakukan pada saat tugas diselenggarakan, memungkinkan manajer melakukan perbaikan di tempat pada waktu penyimpangan diketahui. Perbaikan secara langsung sebelum penyimpangan terlalu jauh terjadi, yang mungkin akan sangat sukar meluruskannya, lebih menguntungkan pengawasan ini ialah supervisi. Supervisi langsung memungkinkan manajer melakukan tindakan koreksi langsung pula.
52
M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen. (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004), hal. 173
3. Pengawasan Pasca Kerja
Pengawasan dilakukan sesudah kegiatan atau pekerjaan berlangsung dan sudah berselang waktu yang lama. Kelemahannya ialah penyimpangan baru diketahui setelah pekerjaan seluruhnya selesai, sehingga tidak mungkin diperbaiki lagi. 53
Secara teoritis, ada tiga cara pokok untuk menciptakan kesempatan kerja atau berusaha dalam jangka panjang. Cara pertama adalah dengan memperlambat laju pertumbuhan penduduk yang diharapkan dapat menekan laju pertumbuhan sisi penawaran tenaga kerja. Tetapi seperti dikemukakan di atas, cara ini tidak memadai bagi Indonesia karena angka kelahiran memang tidak relatif rendah dan dampaknya terhadap pertumbuhan tenaga kerja kurang signifikan dalam jangka pendek. Cara kedua adalah dengan meningkatkan intensitas pekerja dalam menghasilkan output (labour intensity of output).54 Tetapi dalam jangka panjang, cara ini tidak selalu berhasil karena tidak selalu kondusif bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
Cara ketiga adalah melalui pertumbuhan ekonomi. Cara ini bukan tanpa kualifikasi karena secara empiris terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja tidak terdapat hubungan otomatis atau niscaya, tetapi justru tantangannya menjadi riil, karena hubungan yang tidak otomatis itu, maka peranan pemerintah menjadi strategis dan krusial untuk merancang strategi pertumbuhan
53
Hamdan Mansoer, Pengantar Manajemen. (Jakarta: Depdikbud, 1989). hal. 115
54 Rencana Tenaga Kerja Nasional 2004-2009,
http://www.tempointeraktif.com/ hg/narasi/ 2004/06/13/nrs,20040613-01,id.html, Minggu, 13 Juni 2004 00:18 WIB
ekonomi yang tinggi, tetapi juga "ramah" terhadap ketenagakerjaan (employment -
friendly - growth).55
Undang-Undang Dasar 1945 telah menggariskan bahwa negara
bertanggungjawab untuk menjaga kehormatan dan harta benda warga negaranya yang berada di luar wilayah Republik Indonesia. Amanah Undang-Undang Dasar ini sangat relevan untuk direnungkan oleh setiap orang yang menjadi penyelenggara negara, terutama dalam konteks globalisasi ekonomi, dimana banyak Warga Negara Indonesia bekerja atau mencari kehidupan di luar negeri.56
Dalam melaksanakan perlindungan Warga Negara Indonesia di luar negeri khususnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI), negara membuka hubungan konsuler (consular relation) dengan banyak negara lain. Namun dalam pelaksanaannya, hubungan konsuler lebih dititik beratkan pada upaya memajukan hubungan dagang Indonesia dengan negara lain. Sedangkan perlindungan TKI masih terkebelakang, walaupun TKI merupakan salah satu sumber devisa negara. Perlindungan TKI hanya bersifat responsif ketimbang struktural dan sistematis. Pada umumnya, perlindungan TKI hanya dilakukan apabila masalah-masalah yang dialami TKI telah menjadi berita di media masa.
Dengan terungkapnya beberapa kasus besar TKI di negara tetangga Malaysia dan Singapura serta di beberapa negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, seluruh komponen bangsa tersentak. Banyak orang berpendapat bahwa persoalan itu
55Ibid
,
56Sjah Djohan Darwis, “Peluang Tenaga Kerja di Luar Negeri (Kabupaten Tulung Agung,
terjadi karena rendahnya tingkat pendidikan para TKI. Ada lagi yang mengatakan bahwa persoalan ini terjadi karena pengusaha perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI, sekarang disebut PPTKIS) tidak berwawasan nasional dan hanya mengejar keuntungan (profit-oriented). Ada juga yang berpendapat bahwa kasus-kasus TKI terjadi karena tidak berjalannya fungsi regulatif dan punitif Pemerintah RI.
Kejadian-kejadian yang mengenaskan terhadap TKI membuat Pemerintah bekerja keras untuk mencari solusi atas permasalahan TKI di luar negeri. Salah satu dari solusi yang telah diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia adalah dengan diundangkannya Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Undang-Undang meluruskan perilaku menyimpang dari Perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) dan memberikan fungsi kontrol kepada Pemerintah untuk mengatur dengan baik penempatan TKI di luar negeri.
B. Peran Pemerintah dalam Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri
Perlindungan TKI diluar negeri tak lepas dan masa persiapan, penempatan, hingga purna kerja seorang TKI. Pengaturan atas perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri dapat dilihat dalam Undang-Undang No.39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Undang-undang ini mengatur mekanisme penempatan TKI di luar negeri hingga
pemulangan dan penanggulangan berbagai permasalahan yang selama ini dihadapi oleh TKI.
Peran pemerintah dalam hal melakukan fungsi pengawasan terhadap penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri terdiri dari:
1. Sebelum penempatan
Bentuk pengawasan terhadap tenaga kerja dimulai sejak sebelum penempatan tenaga kerja Indonesia. Hal yang perlu diawasi sebelum penempatan tenaga kerja adalah pembuatan perjanjian kerja mulai dari perekrutan, pendidikan dan pelatihan dan lain-lain.
Perbedaan penafsiran terhadap implementasi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri antara 2 (dua) lembaga negara yaitu Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), secara spesifik persoalannya adalah apakah BNP2TKI hanya melakukan penempatan dan perlindungan TKI yang dilaksanakan pemerintah. Sejak 2007, BNP2TKI telah melakukan pelayanan penempatan TKI yang dilaksanakan pemerintah, Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS), TKI mandiri dan penempatan perusahaan sendiri.
Perjalanan sejarah penempatan TKI menjadi alasan pembenar bahkan apa yang biasanya dilakukan di masa lalu, itulah yang paling benar. Penempatan dan perlindungan TKI paling tidak harus berpedoman kepada 2 (dua) undang-undang
yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksanaannya.
Apabila kedua undang-undang dan peraturan pelaksanaannya dipahami dengan benar, niscaya, siapapun atau lembaga manapun tidak akan terjebak ke masalah kewenangan. Karena, siapapun sebagai pemangku kewenangan, bukanlah menjadi ukuran utama, namun siapa yang mengambil peran yang paling besar dalam menjamin hak-hak TKI. Penanganan kewenangan pelayanan penempatan dan perlindungan TKI harus berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, artinya pemerintah berfungsi merumuskan standar, pedoman, norma, dan kriteria yang diwujudkan dalam berbentuk Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan pembahasannya dengan Menteri Dalam Negeri dan pemangku kepentingan lainnya termasuk BNP2TKI.
Pasal 38 ayat (1) UU No. 39 Tahun 2004 tentang PPTKILN mengharuskan kepada Pelaksana Penempatan TKI swasta untuk membuat dan mendatangani perjanjian penempatan dengan pencari kerja yang telah dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi dalam proses perekrutan. Dalam hal ini peran Pemerintah daerah Kabupaten/Kota, melalui instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan, adalah untuk:
a) Mengetahui perjanjian penempatan kerja itu (Pasal 38 (ayat (2));
b) Menerima laporan perjanjian penempatan dari pelaksana penempatan TKI swasta (Pasal 54 ayat (1));
c) Menyaksikan penandatanganan perjanjian kerja (Pasal 55 (3)).
Ketentuan yang menyangkut tentang perjanjian kerja ini sangat perlu jika konsekuen dalam pelaksanaannya. Hal ini terkait dengan suatu fenomena bahwa para calon TKI banyak yang belum memiliki perjanjian kerja yang harus mereka pelajari terlebih dahulu sejak pra penempatan. Bahkan menurut Aritonang, di antara mereka baru memperoleh naskah perjanjian kerja ketika akan berangkat. Tidak sedikit pula yang tidak betul-betul memahami perjanjian tersebut.
2. Semasa penempatan
Dalam rangka pemberian perlindungan selama masa penempatan TKI di luar negeri, Perwakilan Republik Indonesia melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap perwakilan Pelaksana Penempatan TKI swasta dan TKI yang ditempatkan di luar negeri.
Pasal 85 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 mengatur, “Dalam
hal penyelesaian secara musyawarah tidak tercapai, maka salah satu atau kedua belah pihak dapat meminta bantuan instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan di Kabupaten/Kota, Provinsi atau Pemerintah”. Ketentuan ini
permasalahan terhadap pekerja migran. Jika ada masalah, pemerintah daerah harus ikut bertanggungjawab, sementara remitan masuk kepada institusi pemerintah pusat.57
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004, Pasal 95 ayat (1), secara tegas menyebutkan bahwa BNP2TKI mempunyai fungsi pelaksanaan kebijakan di bidang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri secara terkoordinasi dan terintegrasi, lebih lanjut Pasal 95 ayat (2) BNP2TKI bertugas:
a. Melakukan penempatan atas dasar perjanjian secara tertulis antara pemerintah dengan pemerintah negara pengguna TKI atau pengguna berbadan hukum di negara tujuan penempatan sebagaimana Pasal 11 ayat (1),
b. Memberikan pelayanan, mengkoordinasikan, dan melakukan pengawasan
mengenai: 1) Dokumen;
2) Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP); 3) Penyelesaian masalah;
4) Sumber sumber pembiayaan;
5) Pemberangkatan sampai pemulangan; 6) Peningkatan kualitas calon TKI; 7) Informasi;
8) Kualitas pelaksanaan penempatan TKI; dan 9) Meningkatan kesejahteraan TKI dan keluarganya.
57
Lestari, ”Statemen ATKI tentang Revisi UU No. 39 2004,” publikasi Front Perjuangan
Fungsi BNP2TKI dapat dikatakan sebagai lembaga penempatan pemerintah semata, jika memperhatikan konstruksi Pasal 95 yang terdiri dari 2 (dua) ayat dan penulisan dalam satu pasal, hal ini karena ada kesamaan materi antara ayat (1) dan ayat (2) dan rangkaian materi yang tidak dapat dipisahkan (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Peraturan Pemerintah, penjelasan dalam angka 50 dan 59).
Perlindungan hukum selama masa penempatan di luar negeri, diwujudkan antara lain dalam bentuk:
a. Pemberian bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di negara tujuan serta hukum dan kebiasaan intemasional.
b. Pembelaan atas pemenuhan hak-hak sesuai dengan perjanjian kerja dan atau penawaran perundang-undangan di negara TKI ditempatkan.
Setiap calon TKI yang bekerja ke luar negeri, baik secara perseorangan maupun yang ditempatkan oleh Pelaksana Penempatan TKI swasta, wajib mengikuti progam pembinaan dan perlindungan TKI. Ketentuan mengenai pemberian perlindungan selama masa penempatan TKI di luar negeri dan kewajiban untuk mengikuti program pembina dan perlindungan sebagaimana tersebut di atas, akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
3. Sesudah penempatan
Setelah TKI bekerja di tempat yang dituju, bukan berarti perlindungan dari Pemerintah berhenti. Setelah penempatan hingga masa pemulangan TKI kembali ke negara asalnya. Bentuk perlindungan TKI yang dapat diberikan Pemerintah adalah
berupa penyelesaian masalah, pembelaan terhadap dipenuhinya hak-hak TKI dan pemulihan harkat (fisik dan spikis) TKI serta pengurusan kepulangan TKI
Pemerintah memberikan perlindungan dengan memberlakukan open
management dalam hal perlindungan dan penanganan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sejak Juni 2010. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) membebaskan para buruh migran yang pulang dari negara penempatan untuk memilih terminal kedatangan. Langkah itu ditempuh untuk menekan angka pungutan liar (pungli) dan ancaman penipuan pada TKI yang baru pulang dari luar negeri.
Hal yang dialami TKI selama ini, pada saat pemulangan kembali ke Indonesia, banyak dikenai pungli. BNP2TKI telah mengambil tindakan tegas dengan menskors 104 armada angkutan pemulangan TKI. Karena diduga terlibat pungli TKI. Pada tahun 2009, 35 unit angkutan yang diskors selama enam bulan tidak boleh melakukan operasi. Kemudian, pada Tahun 2010 ada 69 unit angkutan yang diskors.58
C. Eksistensi Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia
Karakteristik calon TKI/TKI yang sebagian besar terbatas aksesnya untuk mendapatkan informasi disebabkan kualitas calon TKI/TKI memiliki pendidikan dan keterampilan yang rendah, biasanya disebut sebagai tenaga kerja informal, sehingga perlu mendapat perlindungan ekstra dari pemerintah. Fakta, tanggung jawab PPTKIS
58Jawa Pos Nasional Network, ”TKI Boleh Pilih Bandara Kedatangan,” http://www.jpnn.com /index.php?mib=berita.detail&id=63527, diakses tanggal 26 Agustus 2010.
lebih besar dari pemerintah, lihatlah penjelasan Undang Undang Nomor 39 Tahun 2004 menyebutkan bahwa calon TKI/TKI yang belum dapat menikmati akses informasi menjadi tanggung jawab pemerintah.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004, peran PPTKIS atau yang biasa disebut perusahaan jasa TKI sangat menentukan kesuksesan program penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Untuk itu, perlu kerja sama yang baik antara PPTKIS dan pemerintah, dalam hal ini Depnakertrans serta Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). PPTKIS harus melakukan penempatan dan perlindungan TKI sesuai aturan serta mekanisme dan prosedur yang ada. Dalam aturan jelas bahwa hanya TKI yang berkualitas dan memenuhi syarat yang akan ditempatkan ke luar negeri. Jika terdapat masalah yang menimpa TKI, tentunya PPTKIS bersama pemerintah harus bekoordinasi untuk menyelesaikannya. Pemerintah juga harus siap turun tangan untuk membantu jika ada hambatan-hambatan dalam proses penempatan.
BNP2TKI membawahi 19 (sembilan belas ) organisasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) serta 13 (tiga belas) Pos Pelayanan di embarkasi atau debarkasi yang tugas pokoknya memberikan kemudahan pemrosesan dokumen dan penyelesaian permasalahan TKI. Pelayanan langsung melalui pelayanan terpadu satu pintu. Dalam pelayanan satu pintu, kedudukan Dinas ketenagakerjaan merupakan instansi yang sangat berperan dalam pelayanan tersebut. Selain itu, keberadaan BP3TKI
sebelumnya BP2TKI, sejak diberlakukannya undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 yang sekarang menjadi undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, UPT tersebut tidak diserahkan ke pemerintahan daerah. Alasannya karena bersifat lintas negara dan lintas provinsi.
PPTKIS juga memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah adanya TKI-TKI ilegal serta tindak-tindak pelecehan terhadap calon TKI yang biasa terjadi di tempat penampungan. Banyaknya kasus pelacuran yang terjadi pada calon TKI adalah karena mereka tidak disalurkan sebagaimana mestinya oleh PPTKIS liar. Oleh karena itu, PPTKIS harus benar-benar melakukan prosedur resmi pemberangkatan TKI, meliputi:
1. Melaksanakan proses pra pemberangkatan dan penempatan TKI sesuai prosedur dan mekanisme yang telah digariskan oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan, yaitu antara lain:
a. Pengurusan surat ijin pengerahan b. Perekrutan dan seleksi
c. Pendidikan dan pelatihan kerja d. Pemeriksaan kesehatan dan psikologi e. Pengurusan dokumen
f. Uji Kompetensi
g. Pembekalan akhir pemberangkatan h. Pemberangkatan
2. Melakukan kerjasama dengan NGO dalam memberikan penyuluhan, sosialisasi dan perlindungan terhadap TKI.
Kerjasama NGO dan PPTKIS dapat dilakukan dengan cara-cara:
a. Bantuan Sosial Ketenagakerjaan
Bantuan sosial ketenagakerjaan diarahkan untuk membantu tenaga kerja agar dapat masuk ke pasar kerja memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang layak. Bantuan tersebut dilakukan baik pada tahap pre employment, employment maupun
post employment. Bantuan pada tahap pre employment diberikan antara lain dalam bentuk bimbingan dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan oleh pasar kerja. Bantuan pada tahap employment antara lain diberikan dalam bentuk informasi pasar kerja, perlindungan yang berkaitan dengan kondisi dan kesejahteraan pekerja, tunjangan pengangguran dan sebagainya. Sedang bantuan sosial pada tahap post employment antara lain diberikan dalam bentuk promosi ketenagakerjaan bagi lansia produktif untuk berkarya sesuai dengan kemampuan, pengetahuan dan pengalamannya.
Bantuan sosial ketenagakerjaan dilakukan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai leading sektor dengan berkoordinasi dengan sektor-sektor terkait lainnya.
b. Bantuan Sosial Lainnya
Selain bantuan sosial yang dilakukan oleh sektor-sektor sebagaimana disebutkan di atas juga ada upaya bantuan sosial yang dilakukan oleh berbagai
sektor lain seperti sektor Kependudukan dan KB (oleh Departemen Dalam Negeri dan BKKBN), sektor agama (oleh Departemen Agama) dan sebagainya.
Berbagai bentuk bantuan sosial tersebut perlu dikoordinasikan satu sama lain baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasinya. Koordinasi tersebut sangat diperlukan sehingga tidak terjadi duplikasi baik duplikasi dalam kegiatan maupun duplikasi dalam sasaran. Dengan demikian dana yang terbatas yang disediakan untuk berbagai upaya bantuan sosial tersebut dapat benar-benar tepat sasaran penggunaannya.
3). Pengembangan kearifan lokal
Upaya ini diarahkan untuk menggali, mempertahankan, dan mengembangkan kearifan-kearifan sosial yang telah tumbuh di berbagai komunitas lokal. Secara
informal berbagai komunitas di berbagai daerah sebenarnya telah
mengembangkan berbagai skema sosial guna menanggulangi berbagai persoalan sosial yang dihadapi anggotanya. Hanya selama ini berbagai skema sosial yang telah berkembang secara informal tersebut tidak berada dalam jangkauan