PENGAWASAN DALAM PENGGUNAAN ALOKASI DANA DESA OLEH PEMERINTAH KABUPATEN
H. Peranan Badan Permusyawaratan Desa dalam Pelaksanaan Fungsi Pengawasan Pada Pengelolaan Alokasi Dana Desa
I. Pengawasan Dalam Penggunaan Alokasi Dana Desa oleh Pemerintah Kabupaten/Kota
Pemerintah daerah kabupaten/kota mengalokasikan dalam APBDaerah kabupaten/kota untuk Alokasi Dana Desa setiap tahun anggaran, paling sedikit 10% dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota. Alokasi Dana Desa merupakan sumber utama APBDes.Alokasi Dana Desa sering disebut sisa-sisa dari uang kabupaten.Meskipun kecil, ADD mempunyai banyak manfaat di desa.83
Pengawasan pelaksanaaan RPJM Desa dan RKP Desa serta APBDesa, sebagai wujud kewenangan berskala lokal desa dibedakan menjadi empat bidang penyelenggaraan pemerintahan desa, pembangunan desa, dan pembinaan kemasyarakatan desa, dilakukan secara bebas dan terbuka oleh siapa saja warga masyarakat di Desa yang bersangkutan, bukan saja oleh BPD. Masyarakat berhak melakukan pengawasan secara partisipatif terhadap penggunaan Dana Desa, antara lain melakukan pengawasan secara partisipatif terhadap pelaksanaan Pembangunan Desa dibandingkan dengan isi Peraturan Desa yang telah di terbitkan. Masyarakat juga berhak mendapatkan informasi tentang pelaksanaan kegiatan yang menggunakan Dana Desa. BPD harus menjamin hak masyarakat dalam mengakses informasi penggunaan dana desa, terutama penggunaan dana desa untuk kegiatan pelayanan publik dan pelayanan sosial dasar di Desa. Jika di pandang perlu, BPD menyelenggarakan Musyawarah Desa berdasarkan peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi No. 2 tahun
82Hanif Nurcholis., Op.Cit., hlm 77
83Sutoro, dkk, Desa Membangun Indonesia, (Yogyakarta: FPPD, 2014), hlm.137
2015 dengan melibatkan perwakilan kelompok masyarakat tersebut untuk melakukan pengawasan strategis.84
(a) pendapatan asli desa, diantaranya adalah hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa;
Pengalokasi dana desa diatur oleh UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan dijelaskan dalam PP Nomor 60 Tahun 2014 sebagai petunjuk pelaksanaan dan teknisnya. Ada 7 (tujuh) sumber pendapatan desa:
(b) alokasi anggaran pendapatan dan belanja negara;
(c) bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota;
(d) alokasi dana desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota;
(e) bantuan keuangan dari anggaran pendapatan dan belanja daerah provinsi dan belanja daerah kabupaten/kota;
(f) hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan
(g) lain-lain pendapat desa yang sah. Alokasi dana desa paling sedikit 10%
(sepuluh perseratus) dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah setelah dikurangi dana alokasi khusus.85
Penghitungan dana desa dilakukan dalam dua tahap: (1) tahap pertama, pemerintah pusat mengalokasikan dana desa kepada kabupaten/kota dihitung berdasarkan jumlah desa dan dialokasikan secara berkeadilan berdasarkan alokasi
84Sutoro Eko. Dana Desa untuk Desa Membangun Indonesia (Tanya Jawab Seputaran Dana Desa. (Jakarta: Kementria Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, 2016), hlm 91
85 Hasyim Adnan, Op.Cit, hlm 13-14
dasar, dan alokasi dihitung berdasarkan formula dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis desa.
Dana desa per kabupaten/kota itu ditetapkan dalam peraturan presiden mengenai rincian APBN; (2) tahap kedua, berdasarkan alokasi dana desa kabupaten/kota, kemudian bupati/walikota akan menghitung dana desa untuk masing-masing desa dengan perhitungan yang sama dilakukan pemerintah pusat. Tata cara penghitungan dan penetapan dana Penghitungan dana desa dilakukan dalam dua tahap: (1) tahap pertama, pemerintah pusat mengalokasikan dana desa kepada kabupaten/kota dihitung berdasarkan jumlah desa dan dialokasikan secara berkeadilan berdasarkan alokasi dasar, dan alokasi dihitung berdasarkan formula dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis desa. Dana desa per kabupaten/kota itu ditetapkan dalam peraturan presiden mengenai rincian APBN; (2) tahap kedua, berdasarkan alokasi dana desa kabupaten/kota, kemudian bupati/walikota akan menghitung dana desa untuk masing-masing desa dengan perhitungan yang sama dilakukan pemerintah pusat. Tata cara penghitungan dan penetapan dana.86
Alokasi dana desa harus diawasi secara ketat dari hulu ke hilir, pengawasan sangat penting sekali dilakukan untuk meminimalkan penyelewengan dana pengembangan desa. Selain pengawasan, juga diperlukan sosialisasi dan pembekalan kepada kepala desa sebagai pengelola alokasi dana desa. Pemerintah daerah kabupaten atau kota harus mengupgrade kepala desa. Sosialisasi dan pembekalan sangat diperlukan supaya kepala desa dapat memanfaatkan alokasi
86Ibid., hlm 15-16
dana desa tersebut menjadi tepat guna. Apabila alokasi dana desa ini tidak tersosialisasikan secara benar, maka dikhawatirkan banyak kepala desa yang berurusan dengan polisi atau kejaksaan.87
Pengawasan terhadap Alokasi Dana Desa beserta kegiatan pelaksanaannya dilakukan secara fungsional oleh pejabat yang berwenang dan oleh masyarakat sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.Jika terjadi penyimpangan atau penyalahgunaan Alokasi Dana Desa, maka penyelesaiannya secara berjenjang, sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.
Pengawasan pelaksanaan alokasi dana desa tidak terlepas dari struktur tugas dan kewenangan serta pertangungjawaban sebagaimana disusun dalam struktur organisasi pelaksana. Struktur organisasi pelaksana alokasi dana desa telah dibentuk dengan baik sehingga memberikan garis kewenangan dan tugas serta arah pertanggungjawaban antar fungsi yang jelas. Akan tetapi dalam pelaksanaannya di lapangan pelaksanaan fungsi belum sepenuhnya berjalan, terutama berkaitan dengan pelaksanaan fungsi yang melibatkan beberapa pejabat pelaksana serta LPMD yang diakibatkan ketidakmengertian akan tugas dan tanggung jawab masing-masing sehingga mengurangi efektivitas pengawasan.88
Mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh Badan Perwakilan Desa, mempunyai peran yang strategis dalam ikut mengawal penggunaan dana desa tersebut agar tidak diselewengkan sesuai ketentuan Pasal 48 dan 51 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang desa dimana pengawasan penggunaan anggaran harus dilakukan secara akuntabel, transparan dan diketahui oleh
87Ibid
88 Hasman Husin Sulumin, Op.Cit., hlm 49
masyarakat. Pengawasan penggunaan ADD oleh pemerintah Kabupaten dilakukan terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan agar dalam pelaksanaannya tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan dan aturan yang berlaku berdasarkan terdahap pelaksanaan fisik maupun pengelolaan keuangan.89
1. Ditinjau dari Pasal 48 huruf c juncto Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa yang menyatakan bahwa, kepala Desa wajib menyampaikan laporan keterangan penyelengaraan pemerintahan secara tertulis kepada Badan Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran yang paling tidak memuat pelaksanaan peraturan Desa, dimana laporan tersebut akan digunakan oleh BPD dalam melaksanakan fungsi pengawasan terhadap kinerja Kepala Desa.
Pengaturan terkait Lembaga Pengawas Pengelolaan Dana Desa di Indonesia, selain Pasal 55 Undang-undang Desa tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
2. Ditinjau dari Pasal 2 dan 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, yang menyatakan bahwa pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan desa meliputi administrasi pemerintahan desa yang salah satunya dilakukan terhadap keuangan desa (meliputi dana desa) dimana pengawasan tersebut
89Ibid., hlm 50
dilakukan oleh Pejabat Pengawas Pemerintah pada Inspektorat Kabupaten/Kota.
3. Ditinjau dari Pasal 44 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
Pasal 44 ayat (1) menyebutkan bahwa, Pemerintah Provinsi wajib membina dan mengawasi pemberian dan penyaluran Dana Desa, Alokasi Dana Desa, dan Bagi hasil Pajak dan Retribusi Daerah dari Kabupaten/Kota kepada Desa serta Pasal 44 ayat (2) menyatakan bahwa, Pemerintah Kabupaten / Kota wajib membina dan mengawasi pelaksanaan pengelolaan keuangan desa. Namun, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang dinyatakan dalam ketentuan pasal tersebut tidaklah spesifik dan masih mengandung makna yang luas, karena tidak menyebutkan lembaga atau institusi mana dalam Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang berwenang mengawasi pengelolaan dana desa.90
Dalam pelaksanaan hak, kewenangan dan kebebasan dalam penyelenggaraan otonomi desa harus tetap menjunjung nilai-nilai tanggung jawab terhadap Negara Kaesatuan Republik Indonesia dengan menekankan bahwa Desa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa dan negara Indonesia.Pelaksanan hak, wewenang dan kebebasan otonomi Desa menuntut
90Ni Kadek Lisna Adnyani Dewi, Kajian Terhadap Lembaga Pengawas Pengelolaan Dana Desa Ditinjau Dari Perspektif Hukum Keuangan Negara, Artikel. Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2018, hlm 7-8
tanggungjawab untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang dilaksanakan dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku.91
Organisasi atau satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang memonitoring jalannya alokasi dana desa pada setiap desa di Kabupaten/kota dari mulai penyusunan anggaran, penatausahaan (pencairan dana) sampai dengan pertanggung jawabannya yaitu Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa dan semua kecamatan yang ada di Kabupaten/Kota.
Pertanggungjawaban ADD terintegrasi dengan pertanggung jawaban APBDesa, sehingga bentuk pertanggung jawabannya adalah pertanggung jawaban APBDesa.
Penyampaian laporan dilaksanakan melalui jalur struktural, yaitu dari tim pelaksana tingkat desa dan diketahui kepala desa ke tim pendamping tingkat kecamatan secara bertahap. Tim pendamping tingkat kecamatan membuat laporan/ rekapan dari seluruh laporan tingkat desa di wilayah dan secara bertahap melaporkannya kepada bupati cq. Tim fasilitas tingkat kabupaten/ kota.
Pembiayaan dalam rangka pelaksanaan tugas pendampingan tim pendamping dibeban kan kepada APBD kabupaten diluar dana Alokasi Dana Desa (ADD).92
Mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh Badan Perwakilan Desa, mempunyai peran yang strategis dalam ikut mengawal penggunaan dana desa tersebut agar tidak diselewengkan sesuai ketentuan Pasal 48 dan 1 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang desa dimana pengawasan penggunana anggaran harus dilakukan secara akuntabel, transparan dan diketahui oleh masyarakat. Pengawasan penggunaan ADD oleh pemerintah Kabupaten dilakukan
91Widjaja, HAW, Op.Cit., hlm. 166.
92Hasman Husin Sulumin., Op.Cit., hlm 50
terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan agar dalam pelaksanaannya tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan dan aturan yang berlaku berdasarkan terdahap pelaksanaan fisik maupun pengelolaan keuangan.93
Pengawasan atau kontrol terhadap tindakan aparatur pemerintah diperlukan agar pelaksanaan tugas yang telah ditetapkan dapat mencapai tujuan dan terukur dari penyimpangan-penyimpangan.