MODUL 03 PENGETAHUAN MEDIS KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF 81
16. Tanggungjawab Dukungan Medis Kepada Tim Penanggap
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 83 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
Metode Pembelajaran
1. Metode ceramah
Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang pengetahuan medis kimia, biologi dan radioaktif.
2. Metode tanya jawab
Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang disampaikan.
3. Metode Brainstorming (curah pendapat)
Metode ini digunakan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengemukakan pendapat tentang materi yang disampaikan.
4. Metode Penugasan
Metode ini digunakan untuk menugaskan peserta didik membuat resume materi yang disampaikan.
Alat/Media, Bahan dan Sumber Belajar
1. Alat/Media :
a. Komputer / Laptop.
b. LCD / proyektor.
c. Whiteboard.
d. Papan Flipchart.
e. Slide.
2. Bahan :
a. Kertas Flipchart.
b. Penghapus.
c. Alat Tulis.
3. Sumber Belajar :
a. Hanjar Kimia, Biologi dan Radioaktif (KBR) Detasemen E Sat 1 Gegana Korbrimob Polri tahun 2010.
b. Perkap nomor 14 tahun 2010 tentang Penanganan Ancaman Kimia, Biologi dan Radioaktif (KBR).
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 84 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
Kegiatan Pembelajaran
1. Tahap awal : 10 Menit.
Pendidik melaksanakan apersepsi :
a. Mengucapkan salam dan mengecek kehadiran peserta didik.
b. Pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksikan materi yang diberikan sebelumnya.
c. Pendidik memberikan gambaran umum tentang materi yang akan dibahas.
2. Tahap inti : 70 Menit.
a. Pendidik menjelaskan materi tentang pengetahuan medis kimia, biologi dan radioaktif.
b. Pendidik menggali pendapat tentang materi yang telah disampaikan.
c. Peserta didik merespon secara aktif kegiatan pembelajaran dengan metode tanya jawab.
d. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya atau menanggapi materi.
e. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang telah diberikan.
f. Peserta didik melaksanakan tugas yang diberikan oleh pendidik dan mengumpulkannya kepada pendidik.
g. Peserta didik memberikan penguatan kepada peserta didik untuk memotivasi semangat belajar.
h. Pendidik menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan kepada peserta didik.
3. Tahap akhir : 10 Menit.
a. Cek penguatan materi.
Pendidik memberikan ulasan dan penguatan materi secara umum.
b. Cek penguasaan materi.
Pendidik mengecek penguasaan materi pendidik dengan bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.
c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.
Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari materi pelajaran.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 85 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
Tagihan / Tugas
Peserta didik mengumpulkan resume mengenai materi yang telah diterima.
Lembar Kegiatan
Peserta didik membuat resume mengenai materi pelajaran yang telah diterima.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 86 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
Bahan Bacaan
PENGETAHUAN MEDIS KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF
1. Tanda – Tanda dan Gejala Racun Kimia a. Racun Kimia
1) Racun Syaraf
a) Tanda – tanda dan gejala
Semua petugas tanggap darurat harus mengenali efek fisik dari keracunan racun syaraf agar anda mengetahui bilamana perlu menggunakan penawar atau auto-injector. Tanda-tanda dan gejala-gejala keracunan racun syaraf baik dari paparan cairan atau uap dapat berubah dengan cepat (dalam hitungan menit) atau dapat tertunda selama satu jam setelah paparan. Berikut daftar dari gejala-gejala umum yang dikaitkan dengan paparan racun syaraf :
(1) Hidung yang berair, air ludah keluar berlebihan.
(2) Merasakan dada sesak.
(3) Otot lemas.
(4) Kram usus dan diare.
(5) Kesulitan bernapas.
(6) Kejang-kejang.
b) Penanganan Awal
Jika memungkinkan, mintalah korban untuk mengevakuasi diri sendiri ke daerah yang aman.
Hindari memegang korban atau hindari mereka memegang anda dan waspadalah akan masalah kontaminasi silang (sekunder).
Jika para korban sedang berjalan dan berbicara, tidak ada bahaya langsung. Pasien-pasien yang diperkirakan terkontaminasi sebaiknya tidak dipindahkan menjauh dari TKP atau rumah sakit karena mereka mungkin masih menjadi bahaya bagi diri mereka sendiri atau orang lain seperti petugas ruang gawat darurat.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 87 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI 2) Vesicant (Racun Pelepuh)
Tanda – tanda dan Gejala a) Pernafasan
Terhirupnya mustar dapat mengakibatkan pulmonary edema dan kerusakan paru-paru yang parah yang menyebabkan kematian. Pasien akan mengalami iritasi hi dung, serak, batuk dansakit tenggorokan, yang mengakibatkan pharyngitis, bronchitis dan purulent sputum. Pasien juga akan menunjukan cyanosis, bronchopneumonia, pulmonary edema dan resultant leukopenia.
Pengobatan:
Jika dampak parah ke saluran pernafasan terlihat dalam beberapa jam pertama, itu menunjukkan pasien terkena racun dalam jumlah yang besar dan akan mengalami luka yang parah, bahkan fatal. Umumnya di lapangan hanya tersedia terapi pendukung. Infeksi sekunder juga bisa terjadi sehingga menyebabkan manifestasi sistemik seperti pusing, muntah, pyrexia, kebingungan dan syok.
b) Mata
Paparan terhadap uap akan terjadi langsung.
Pasien akan terlihat dengan blepharospasm (mata berkedip-kedip), lacrimation (keluarnya air mata berlebihan), nyeri, conjunctivitis, photophobia dan edema pada kelopak mata.
Paparan ini juga dapat menyebabkan kebutaan.
Pengobatan:
Mata harus dibilas dengan air atau larutan salin dalam jumlah yang banyak karena kerusakan ocular dapat terjadi dalam waktu dua menit. Jika ada luka pada mata, gunakan penutup mata dan narkotik untuk mengendalikan rasa sakit/nyeri.
Ada berbagai larutan yang tersedia untuk membilas mata, konsultasikan dengan direktur medis anda.
c) Paparan pada kulit
Tergantung dari tingkat dan jenis paparan, kemungkinan ada periode antara 2 hingga 24 jam sebelum gejala-gejala mulai terasa. Gejala awal termasuk kemerahan, radang, nyeri, keluarnya air mata, iritasi pada kelenjar mucosal, batuk dan bersin. Ini dapat diikuti dengan pelepuhan dan nekrosis kulit.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 88 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Pengobatan:
Bersihkan mustard secepatnya dari kulit dengan segala upaya yang tersedia (membilas atau menghindar). Obati lepuhan sebagaimana luka bakar dan tutupi luka di kulit dengan perban steril.
d) Reactive Skin Decontamination Lotion (RSDL) RSDL adalah losion yang dianggap sebaga dekontaminan dan RSDL mendekontaminasi senjata racun kimia dan juga efektif melawan racun biologi.
3) Racun Darah (Sianida)
Sianida digunakan secara luas pada percetakan, pertanian, fotografi, kertas, pembuatan plastik dan pertambangan. Ini juga hasil sampingan pembakaran bahan sintetis dan asap tembakau.
Sianida menyatu dengan enzim cytochrome oxidase dan memblokir sistem transportasi elektron, yang mengakibatkan kerusakan penggunaan okigen selular.
Sianida mengikat zat besi, membatasi oksidasi mitokondria, yang mencegah sel mengikat dengan oksigen. Metabolisme anaerobik terjadi dan mengakibatkan kematian sel di otak dan jantung.
Darah balik vena berwarna merah terang karena jaringan-jaringan tidak dapat menyerap oksigen yang ada di dalamnya. Tergantung dari jenis sianida yang digunakan, efeknya sangat sedikit hingga tidak ada jika terpapar dalam jumlah yang kecil.
Dosis ringan Dosis Tabel 5.2. Tanda-tanda dan Gejala-gejala
Dengan dosis tinggi pasien dapat terlihat mengalami : a) 15 detik, tachypnea (nafas yang cepat)
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 89 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI b) 30 detik, kejang-kejang
c) 2 hingga 4 menit, apnea
d) 4 hingga 8 menit, tidak ada denyut.
Pengobatan:
Pisahkan sumber dari pasien atau pindahkan pasien dari sumber. Lepaskan pakaian pasien, mandi dengan sabun dan air atau hypochlorite yang dilarutkan.
Pasien mungkin memerlukan farmakologi untuk pengobatan definitif.
Kotak sianida didalamnya terdapat obat-obatan berikut yang hanya boleh digunakan oleh paramedis atau personel medis lainnya.
a) Amyl Nitrite yang harus diberikan secepatnya setelah terpapar.
b) Sodium Nitrite (pasien yang berdiri tidak memerlukan pengobatan ini).
c) Sodium Thiosulfate.
4) Racun Pencekik
Racun pencekik atau pulmonary adalah bahan kimia industri yang digunakan di Perang Dunia I. Dua produk utama yang digunakan di PD I adalah chlorine dan phosgene. Chlorine digunakan secara luas di industri sebagai sebuah disinfektan, untuk pemurnian air, sintesis dari bahan-bahan lain seperti karet sintetis, plastik dan hidrokarbon berklorin. Sebagai gas, berat jenisnya lebih berat dari air, berwarna kuning kehijauan, tidak bertahan lama, dan menimbulkan iritasi yang kuat.
Chlorine merusak selaput alveoli. Plasma dari darah bocor ke dalam alveoli, membuatnya penuh dan mencegah terjadinya pertukaran oksigen. Akan memerlukan beberapa jam sebelum tanda-tanda dan gejalanya muncul. Pasien akan pendek nafas akibat kerja yang ringan dan kemudian lama kelamaan akan menjadi semakin parah. Kehilangan cairan parah juga dapat terjadi sehingga mengakibatkan hypotension dan hypovolemia.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 90 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI batuk dan rasa
tercekik
waktu 2-4 jam menit Kematian mendadak (laryngospasm) Pengobatan pendukung saja Tabel 5.3. Tanda-tanda dan Gejala-Gejala
Phosgene juga digunakan di PD I tapi bukan senjata racun kimia. Phosgene berbentuk cairan ketika disimpan dalam wadah, ketika dilepaskan menjadi gas, dia akan evaporasi dengan sangat cepat dan tidak bertahan lama. Gasnya memiliki bau seperti rumput yang baru dipotong dan memiliki tingkat racun yang sangat tinggi jika dihirup. Dia akan bereaksi dengan air yang ada di dalam paru-paru untuk kemudian membentuk asam hidroklorik dan karbon monoksida.
Karena saluran pernapasan bagian atas sangat minim terjadi, tanda-tanda peringatan dari paparan sedikit sekali. Tergantung dari intensitas paparan, gejala-gejalanya mungkin akan tertunda antara 20 menit hingga 72 jam. Dilepasnya asam hidroklorik di dalam paru-paru akan menyebabkan pulmonary edema dan mungkin akan meyebabkan pneumonia bronchial dan abses paru-paru, dalam kasus yang parah kematian dapat terjadi dalam jangka waktu 36 jam.
Pengobatan:
Dalam kasus yang tidak fatal, pengobatan akan mulai dalam waktu 48 jam sejak terpapar. Untuk paparan yang rendah, pastikan pasien beristirahat total dan diawasi terus selama minimal 6 jam. Perawatan mungkin perlu dengan bantuan pernapasan dengan menggunakan humidified oxygen (oksigen yang melembabkan) dan menggunakan bronchodilator, jika ada terlihat sesak. Bersiaplah untuk melakukan intubasi di awal sebelum terjadi laryngeal spasm atau edema. Keseimbangan cairan pasien harus dimonitor dan antibiotik akan membantu melawan infeksi.
Salbutamol dapat digunakan untuk respirasi dan furosemide dapat digunkan untuk membantu penumpukan cairan.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 91 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI 2. Perbedaan Penting antara Terorisme Kimia dan Biologi
Kimia Biologi
Kecepatan Cepat tertunda
Distribusi downwind meluas
Petugas Tanggap
TKP Pelepasan Identifikasi, pasang garis kordon
? identifikasi, tidak ada kordon Dekontaminasi Penting ? tidak perlu Langkah Medis Penawar kimiawi Vaksin, antibiotik Isolasi Karantina Tidak perlu setelah
dilakukan
Racun biologi memiliki masa inkubasi antara paparan hingga terjadinya sakit. Selain itu, paparan racun biologi akan memerlukan intervensi lain seperti isolasi atau karantina dari masyarakat umum.
3. Efek dari Racun-racun Biologi a. Racun-racun bakteri
1) Antraks
Spora Antaks sifatnya stabil dan kuat. Spora ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, saluran makanan ataupun luka di kulit. Antraks tidak menular
a) Tanda-tanda dan gejala-gejala Inhalansi : pada tingkat awal pasien memiliki tanda-tanda seperti gejala flu dan setelah 2-4 hari memiliki tiba-tiba terjadi kegagalan fungsi pernafasan, demam, shock, dan kemungkinan pasien dapat meninggal. Jika tidak di tangani 90% dari pasien akan meninggal. Bagi pasien yang mendapat perawatan 60% dari mereka kemungkinan akan meninggal untuk mendiaknosis terhirupnya antraks sukar dilakukan karena tidak ada tanda-tanda khusus. Penyinaran dengan sinar X menunjukan tanda-tanda klasik adanya penyakit tersebut tetapi sudah dalam tingkat akhir.
b) Kutan : Cara biasa terjadinya infeksi adalah adanya kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi, pada awalnya di kulit pasien akan
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 92 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI tumbuh benjolan merah yang tidak terasa sakit yang kemudian setelah 2-6 hari pecah menjadi luka yang terasa sakit ataupun kudis. Dalam beberapa kasus pasien akan mengalami pembengkakan limpa, keracunan darah dan shock. Jarang pasien yang meninggal (jika mendapat penanganan, hanya 1 persen yang meninggal karena terinfeksi kulit dan 20 persen kalau mendapatkan pengobatan).
c) Bagian pencernaan : Infeksi dapat terjadi setelah makan daging yang terkontaminasi antraks didalam jalur gastrointestinal bagian atas pasien dapat saja mengalami sariawan (oral ulcers) dan pembengkakan kelenjar limpa. Jika infeksi terjadi pada bagian bawah, hal ini akan ditandai dengan rasa mual, hilangnya nafsu makan, demam, muntah. Kemudian hal ini akan diikuti dengan sakit perut yang hebat, muntah disertai darah dan diare serta dehidrasi. 25-60 persen kematian terjadi pada mereka yang terjadi infeksi dibagian pencernaan ini.
d) Periode Inkubasi
Inhalansi: 2-60 hari Kutan atau termakan : 1-6 hari.
e) Pengobatan
Harus diberikan IV Ciprofloxacin or IV Doxycycline.
f) Perlindungan terhadap penyakit.
Jika diberikan dalam waktu 24 jam setelah kejadian, vaksin antibiotic dapat mencegah terjadinya antraks pada saat ini vaksin tidak dapat di jual pada umum.
2) Wabah PES
Wabah PES ini sangat menular dan dapat di tularkan melalui Vecktor ataupun melalui cairan tubuh yang ada diudara melalui bersin, batuk ataupun sprei yang terkontaminasi.
(a) Tanda-tanda dan gejala-gejala baik yang sifatnya Pneumonik ataupun bubonic muncul dalam bentuk menyerupai flu.
(b) Bubonic : ini adalah jenis plague yang paling umum yang meliputi 85-90 persen pasien meninggal dunia dan penyakit ini disebabkan oleh gigitan kutu. Penderita tiba-tiba demam, pasien dingin dan sakit kepala yang diikuti perasaan
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 93 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI mual dan muntah penderita merasa tidak enak badan yang luar biasa. Kuman bacilli menyebar melalui system getah bening yang melalui saluran getah bening (nodes) jika tidak ditangani kuman bacili masuk ke dalam aliran darah maka pasien akan mengalami keracunan darah dan seringkali fatal.
(c) Pneumonic : terjadi sebanyak 1 persen dari kasus wabah PES dan biasanya kalau tidak ditangani 90 persen penderita meninggal. Penyakit ini terjadi karena pasien menghirup langsung organisme plague, organisme itu lalu dengan cepat merebak sampai terjadi pneumonia hemmorfhagic yang menutupi seluruh paru-paru.
Pasien akan menderita demam, dyspnea, stidor, cyanosis, batuk, air liur yang mengandung darah, dan gagalnya fungsi pernapasan. Plague pneumonic dapat disebabkan oleh adanya keracunan darah (septicemic).
(d) Septicemic : Jenis plague ini tidak sehebat bubonic ataupun pneumonic, tetapi kasusnya cukup tinggi, 10-15 persen. Pasien akan mengalami demam, panas dingin, rasa mual, muntah, diare dan purpura yaitu terjadinya pendarahan melalui pembuluh darah yang bocor.
(e) Periode Inkubasi
Bubonic 2-10 hari Pneumonic 1-6 hari . (f) Pengobatan
Dapat diberikan sejumlah obat antibiotic.
(g) Perlindungan terhadap penyakit Berikan Streptomycin (diajukan), Gentamicin, Doxycycline, or ciprofloxacin. Vaksin untuk penyakit ini tidak dijual untuk umum.
b. Racun VIRAL 1) Cacar
Cacar sangat menular, berbahaya kepada jiwa yang dinyatakan punah pada tahun 1980, sekarang satu kasus cacar dapat dianggap sebagai kasus yang membahayakan secara Global karena pemberian vaksin secara rutin sudah tidak lagi dilakukan selama 20 tahun. Hal ini menyebabkan masyarakat umum sangat rentan terhadap serangan cacar dikutip bahwa jumlah korban berkisar antara 10-50 persen tetapi mungkin lebih tinggi untuk kelompok tertentu. Orang Rusia berusaha untuk mencari genetic memodifikasi
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 94 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI cacar dan mengelompokannya dengan demam hemorrhagic.
Virus cacar dapat dihirup melalui particle yang ada diudara berasal dari orang yang batuk dan bersin karena ukuranya kecil. virus cacar ini mudah dapat diterbangkan angin atau menempel pada abu. virus ini dapat dihirup banyak orang dalam waktu yang sangat singkat dan juga ditularkan langsung melalui kudis , kulit ataupun cacar tubuh dan melalui benda-benda seperti baju dan sperei orang yang terkena penyakit.
a) Tanda-tanda dan Gejala-gejala Cacar tidak akan menginfeksi sampai adanya serbuan, walaupun demikian kasus-kasus kecil bersifat Infektif.
Pasien mula-mula akan merasa demam rasa tidak enak badan dan sakit kepala dua atau tiga hari kemudian akan timbul bintik-binti merah kecil dalam mulut dan dilengan atas, ditelapak tangan dan akan menyebar ke badan dan kaki, bintik-bintik merah yang kecil itu dinamakan macula adalah bagian kulit yang berubah tetapi biasanya tidak tinggi, ini adalah ciri-ciri penyakit cacar.
Terbentuk papules (keras dan berbentuk kerucut) kemudian menjadi benjolan kering dan copot dari kulit. Pasien dapat menularkan penyakit ini sampai cacar mengering dan rontok tahap awal dari cacar memiliki ciri-ciri seperti cacar air.
Kadang-kadang pasien menggigau dan terjadi pendarahan dikulit dan gusi.
b) Priode inkubasi
6-16 hari (rata-rata 12 hari).
c) Pengobatan
Pasien harus dikarantina selama paling sedikit 16-19 hari untuk mencegah penyebaran pengobatan termasuk pula pemberian infuse dan obat-obatan untuk menjaga panas dan rasa sakit dalam keadaan darurat, vaksin dapat diakses oleh masyarakat umum.
d) Perlindungan terhadap penyakit
Jika ada tanda-tanda berikan vaksin sesegera mungkin.
2) Demam Hemorrhagic (VHF)
Semua demam viral hemorrhagic menular dan memiliki fitur-fitur klinis yang sama. Virus-virus ini dapat menular ke manusia melalui vector laba-laba pengisap darah manusia, nyamuk dan binatang pengerat, selain
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 95 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI itu dapat juga melalui aerosol yang ada dalam debu pengisap ataupun kotoran binatang pengerat yang telah kering, adanya kontak langsung dengan darah penderita, cairan ataupun organ dari penderita.
a) Tanda-tanda dan gejala-gejala pada awalnya penderita VHF akan mengalami gejala-gejala seperti flu, sakit kerongkongan dan sakit batuk, sakit di dada maupun di punggung, demam, muntah, diare, bintik-bintik merah, merasa lemas, menggigau dan timbul memar-memar yang tidak dapat dijelaskan asalnya dan atau darah keluar dari mata, hidung dan mulut.
b) Periode Inkubasi
2-21 hari tergantung jenisnya. Pengobatan hanya perlu dukungan dan perhatian saja.
c) Perlindungan terhadap penyakit.
Dengan pengecualian dari demam Argentine dan demam Yellow, tidak ada vaksin yang mengobati demam-demam Viral hemorrhagic, Ribavin, obat anti-viral dapat digunakan untuk beberapa jenis VHF.
c. Zat racun (Toksin)
Toksin adalah zat racun yang dihasilkan oleh tanaman hidup, binatang ataupun organisme, dua jenis racun yang mempunyai resiko tinggi adalah Risin dan Botulism dibandingkan dengan racun-racun biologi lainnya reaksi yang yang disebabkan oleh kedua zat beracun ini sangat cepat sekali, dalam hal ini keduanya ini mirip dengan reaksi dari racun kimia, bagian apa yang rusak tergantung dari jenis racun misalnya Botox berakibat pada pusat saraf (CNS) dan ricin merusak tubuh pada tingkat selular, racun dapat dihirup, dicerna ataupun disuntikan. biasanya bahayanya tidak bersifat perkutan.
1) Ricin
Ricin adalah zat racun yang dapat dengan mudah dibuat dari sisa-sisa pemrosesan biji jarak. Resep untuk membuat racun ini mudah didapat dari internet.
Tidak menular dan dapat dihirup ataupun dicerna, melalui makanan ataupun minuman ataupun suntikan dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan air ataupun bubuk.
Memakan 10-20 biji jarak dapat berkibat fatal. Hanya 0,1 miligram, zat ricin untuk membunuh Geogi Markov seorang pemberontak Bulgaria, racun ini menyerang langsung sel-sel dan menghentikan pembentukan
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 96 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI protein yang menyebabkan kematian selular/ tissue necrosis.
a) Tanda-tanda dan Gejala-gejala Inhalansi : Efek awal terlihat 1-12 jam setelah racun terhirup:
dyspnea, rasa sakit didada, batuk dan otot sakit yang berkembang menjadi radang paru-paru dan saluran pernapasan yang parah. Delapan belas hinga 24 jam, setelah keracunan penderita akan menunjukan tanda-tanda sesak nafas (SOB) dan cyanosis antara 36-72 jam, setelah keracunan system pernapasan dan kardio gagal dan kematian terjadi karena hypoxemia
b) Termakan : penderita merasa mual, muntah, iritasi yang parah didaerah lambung , diare, pendarahan internal dilambung dan usus, hati/
ginjal/ gagal limpa dan kematian terjadi karena system peredaran darah rusak.
c) Suntikan : diawali dengan matinya otot dan kelenjar getah bening didekat tempat yang disuntik lalu kematian akan terjadi setelah organ-organ utama gagal berfungsi.
d) Periode Inkubasi Inhalansi : 1-12 jam Ingestion : 5 min to 1 hari e) Pengobatan
Tidak ada tetapi percobaan imunisasi dengan mengunakan binatang tampaknya menjanjikan.
f) Perlindungan terhadap penyakit tidak ada 2) Botulism
Botulism tidak menular, dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan melalui makanan atau kontak langsung dengan luka. Banyak terdapat dilingkungan disekitar kita (tanah, sedimen laut) dan dapat terkontaminasi melalui makanan yang tidak dimasak dengan baik ataupun disimpan dengan baik.
Dalam berbagai kasus 60% merupakan kasus yang fatal jika tidak ditangani hal ini disebabkan lumpuhnya otot dan gagal fungsi pernafasan hanya diperlukan sedikit sekali saja dosis toksin ini untuk menyebabkan seorang sakit parah dan menyebabkan meninggal.
Racun ini 26.5 lebih hebat dari racun sianida.
a) Tanda-tanda dan gejala-gejala.
Gejala-gejala seperti awal flu, selain itu juga penglihatan dobel ataupun kabur sulit untuk
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 97 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI berbicara ataupun menelan, mulut terasa kering dan lelah, kerusakan syaraf memyebabkan terjadi kelumpuhan di wajah, kepala, tenggorokan, dada dan kaki dan tangan tanda-tanda pertama adanya kelumpuhan adalah kelopak mata yang turun, Mulut dan tenggorokan terasa kering, dysphagia dan dyspasia, pemandangan menjadi dua dan kabur. Kelumpuhan merambat kebawah malalui tenggorokan, dada, kaki dan tangan. Otot-otot diafragma dan dada ikut menjadi lumpuh, yang berakibat pada pernapasan, dan diikuti dengan kematian.
b) Daerah pencernaan : setelah botulism dicerna, pasien akan mengalami hal-hal seperti muntah, diare dan diikuti dengan tanda-tanda CNS.
Inkapasitas penyakit ini lamanya 2-6 bulan.
c) Periode inkubasi
Inhalasi : sampai 6.2 jam sesudah terkena.
Inhalasi : sampai 6.2 jam sesudah terkena.