KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
MODUL
KIMIA, BIOLOGI, DAN RADIOAKTIF
untuk
PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2018
MILIK DINAS
KIMIA, BIOLOGI, DAN RADIOAKTIF v PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
KIMIA, BIOLOGI, DAN RADIOAKTIF
Penyusun :
Tim Pokja Lemdiklat Polri T.A. 2018
Editor :
1. Kombes Pol Dr. S.M. Handayani, M.Si 2. AKBP Noffan Widyayoko, S.IK., M.A.
3. Kompol R.B Firman Hidayat, Sp.,M.M 4. Penda I Rindang Galih Syahutami, S.E.
Hanjar Pendidikan Polri
Pendidikan Pembentukan Tamtama Brimob Polri
Diterbitkan oleh:
Bagian Kurikulum Bahan Ajar Pendidikan dan Pembentukan Biro Kurikulum
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Tahun 2018
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang menggandakan sebagian atau seluruh isi Bahan Ajar (Hanjar) Pendidikan Polri ini, tanpa izin tertulis dari Kalemdiklat Polri.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) vii PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
DAFTAR ISI
Cover ... i
Sambutan Kalemdiklat Polri ... ii
Keputusan Kalemdiklat Polri ... iv
Lembar Identitas ... vi
Daftar Isi ... vii
Pendahuluan ... 1
Standar Kompetensi ... 2
MODUL 01 SEJARAH KEJADIAN DAN PERALATAN KBR BERBAHAYA Pengantar ...3
Kompetensi Dasar ...3
Materi Pelajaran ...4
Metode Pembelajaran ...5
Alat/Media, Bahan dan Sumber Belajar ...5
Kegiatan Pembelajaran ...6
Tagihan / Tugas ...7
Lembar Kegiatan ...7
Bahan Bacaan ...8
Pokok Bahasan I ...8
1. Pengertian-Pengertian yang Berkaitan dengan Bahan Kimia, Biologi dan Radioaktif Berbahaya ... 8 2. Dasar Hukum yang Berkaitan dengan Bahan Kimia, Biologi dan Radioaktif Berbahaya ... 9 3. Sejarah Kejadian Bahan Kimia Berbahaya ... 9 4. Sejarah Kejadian Dengan Mengunakan Agen Biologi
Berbahaya...
13 Pokok Bahasan II ...
1. Standarisasi, Pembagian Tugas Dan Tanggung Jawab
viii KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR)
PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Serta Kemampuan Personel Yang Menangani Kimia, Biologi Dan Radioaktif ...
18
2. Alsus Kimia, Biologi Dan Radioaktif ... 22
3. Kelebihan dan kekurangan baju pelindung level A, B, C, dan D ... 28 4. Administrasi, Persiapan, Pelaksanaan Dan Konsolidasi Penanganan Ancaman Kimia, Biologi Dan Radioaktif ... 32 5. Jenis Dan Kriteria Rangkaian Kimia, Biologi Dan Radioaktif 34
6. Penanganan Rangkaian, ang Mengandung Bahan Kimia, Biologi Dan Radioaktif ... 34 7. Prosedur Penanganan Kecelakaan Bahan Kimia, Biologi Dan Radioaktif ... 35 8. Teknik Dekontaminasi ... 38
9. Kegiatan Yang Dilakukan Dalam Konsolidasi ... 38
Rangkuman ... 39
Latihan ... 40
MODUL 02 PENGETAHUAN BAHAN KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF 41 Pengantar ...41
Kompetensi Dasar ...41
Materi Pelajaran ...42
Metode Pembelajaran ...42
Alat/Media, Bahan dan Sumber Belajar ...43
Kegiatan Pembelajaran ...43
Tagihan / Tugas ...44
Lembar Kegiatan ...44
Bahan Bacaan ...45
1. Pengertian Bahan Kimia, Biologi Dan Radioaktif ...45 2. Lambang-Lambang Yang Digunakan Untuk Bahan Kimia,
Biologi Dan Radioaktif ...
48
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) ix PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
3. Klasifikasi Senjata Kimia dan Biologi ...50
4. Diseminasi/Penyebaran Senjata Kimia ...54
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terhadap Penyebaran Agen Biologi ... 56 6. Karakteristik Agen Biologi ...56
7. Pencegahan Dan Pengendalian Agen Biologi ...57
8. Jenis-Jenis, Karakteristik, Dan Daya Tembus Sinar Radiasi Radioaktif ... 58 9. Peluruhan dan Waktu Paruh Zat Radioaktif ... 64
10. Contoh Bahan Radioaktif ...64
11. Cara Penyebaran Zat Radioaktif ...68
12. Bahaya Radiasi Radioaktif Dan Manfaatnya ... 70
Rangkuman ... 79
Latihan ... 80
MODUL 03 PENGETAHUAN MEDIS KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF 81 Pengantar ...81
Kompetensi Dasar ...81
Materi Pelajaran ...82
Metode Pembelajaran ...83
Alat/Media, Bahan dan Sumber Belajar ...83
Kegiatan Pembelajaran ...84
Tagihan / Tugas ...85
Lembar Kegiatan ...85
Bahan Bacaan ...86
1. Tanda – Tanda dan Gejala Racun Kimia ... 86
2. Perbedaan Penting antara Terorisme Kimia dan Biologi ... 91
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) x PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
3. Efek dari Racun-racun Biologi ... 91
4. Pengawasan terhadap Infeksi dan Perlindungan Pribadi... 97
5. Tindakan Sterilisasi Untuk Racun-Racun Biologi. ... 99
6. Pencemaran/Kontaminasi Internal Oleh Radiasi ... 99
7. Dampak Kejadian Radiologis Pada Masyarakat ... 100
8. Pengawasan Terhadap Infeksi Dan Perlindungan Pribadi ... 100
9. Efek Radiasi Ion Terhadap Tubuh ... 100
10. Jenis-Jenis Dampak Kesehatan ... 101
11. Cara Menangani Pasien Potensi Kontaminasi ... 102
12. Pengertian Triage (Memilah) ... 103
13. Empat Tugas Utama Paramedis Di TKP Kimia, Biologi Dan Radioaktif ... 104
14. Beberapa Langkah Yang Dilaksanakan Pada Triage ... 104
15. Dukungan Medis Tim Tanggap Darurat ... 106
16. Tanggungjawab Dukungan Medis Kepada Tim Penanggap ... 107
Rangkuman ... 107
Latihan ... 108
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 1 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
MODUL
KIMIA, BIOLOGI, DAN RADIOAKTIF (KBR)
6 JP (270 menit)
Pendahuluan
Kepolisian Negara Republik Indonesia selaku alat Negara penegak hukum, pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat setiap saat dituntut untuk dapat menciptakan dan memelihara keamanan, ketertiban masyarakat, namun dengan segala keterbatasan sumber daya yang dimiliki dalam pelaksanaan tugas dilapangan memerlukan koordinasi yang lebih baik diantara fungsi – fungsi terkait.
Dinamika ancaman kriminlalitas terus mengalami peningkatan baik dalam aspek kualitas maupun kuantitas dan yang sangat dirasakan dampaknya adalah apabila kejadian tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerugian materiil yang besar. Salah satu kejadian menonjol yang memerlukan penanganan lintas sektoral adalah kasus terorisme, maka semua fungsi kepolisian dan instansi terkait baik bersifat represif, preventif, maupun preemtif terlibat dalam penanganannya.
Perkembangan ilmu dan tekhnologi selain membawa dampak positif bagi kemajuan dan peningkatan kesejahteraan umat manusia, namun disisi lain dapat berdampak negatif karena dipergunakan oleh kelompok tertentu, khususnya pelaku terorisme dalam melakukan penyerangan dan penghancuran sasarannya yang terkadang bahkan sering masyarakat yang tidak berdosa menjadi korban. Salah satu tekhnik penyerangan yang dipergunakan adalah dengan memanfaatkan bahan – bahan berbahaya jenis Kimia, Biologi, dan Radioaktif, yang mengakibatkan korban masal.
Oleh karena itu untuk menyiapakan calon Tamtama Brimob Polri yang siap operasional melaksanakan tugas sebagai pelaksana di lapangan yang berkaitan dengan ancaman teror bom dan penggunaan bahan kimia, biologi, radioaktif (KBR), maka diberikan materi tentang pengertian, dasar hukum, sejarah kejadian, peralatan bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya, penggolongan, klasifikasi, tanda- tanda korban dan penyebaran senjata kimia, biologi dan radioaktif, tanda-tanda dan gejala bahan kimia, biologi, radioaktif, triage (memilah) dan dukungan medis tim tanggap darurat,
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 2 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
Standar Kompetensi
Memahami pengetahuan tentang Kimia Biologi Radioaktif (KBR).
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 3 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
MODUL
01
SEJARAH KEJADIAN DAN PERALATAN KBR BERBAHAYA
2 JP (90 menit)
Pengantar
Dalam modul ini dibahas materi tentang pengertian-pengertian yang berkaitan dengan bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya, Dasar hukum yang berkaitan dengan bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya, Sejarah kejadian bahan kimia berbahaya, Sejarah kejadian dengan mengunakan agen biologi berbahaya, Sejarah kejadian bahan radioaktif berbahaya, Standarisasi, pembagian tugas dan tanggung jawab serta kemampuan personel yang menangani kimia, biologi dan radioaktif, Alsus kimia, biologi dan radioaktif, Kelebihan dan kekurangan baju pelindung level A, B, C dan D, Administrasi, persiapan, pelaksanaan dan konsolidasi penganan ancaman kimia, biologi dan radioaktif, Jenis dan kriteria rangkaian kimia, biologi dan radioaktif, Penanganan rangkaian, yang mengandung bahan kimia, biologi dan radioaktif, Prosedur penanganan kecelakaan bahan kimia, biologi dan radioaktif, Teknik dekontaminasi, Kegiatan yang dilakukan dalam konsolidasi.
Tujuannya agar peserta didik memahami pengertian, dasar hukum, sejarah kejadian, peralatan bahan kimia, biologi, dan radioaktif berbahaya.
Kompetensi Dasar
1. Memahami pengertian, dasar hukum dan sejarah kejadian bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya.
Indikator Hasil Belajar :
a. Menjelaskan pengertian-pengertian yang berkaitan dengan bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya.
b. Menyebutkan dasar hukum yang berkaitan dengan bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya.
c. Menjelaskan sejarah kejadian bahan kimia berbahaya.
d. Menjelaskan sejarah kejadian dengan mengunakan agen biologi berbahaya.
e. Menjelaskan sejarah kejadian bahan radioaktif berbahaya.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 4 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI 2. Memahami peralatan kimia, biologi dan radioaktif serta
kegunaannya
Indikator hasil belajar :
a. Menjelaskan standarisasi, pembagian tugas dan tanggung jawab serta kemampuan personel yang menangani kimia, biologi dan radioaktif.
b. Menjelaskan alsus kimia, biologi dan radioaktif.
c. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan baju pelindung level A, B, C dan D.
d. Menjelaskan administrasi, persiapan, pelaksanaan dan konsolidasi penganan ancaman kimia, biologi dan radioaktif.
e. Menjelaskan jenis dan kriteria rangkaian kimia, biologi dan radioaktif.
f. Menjelaskan penanganan rangkaian, yang mengandung bahan kimia, biologi dan radioaktif.
g. Menjelaskan prosedur penanganan kecelakaan bahan kimia, biologi dan radioaktif.
h. Menjelaskan teknik dekontaminasi.
i. Menjelaskan kegiatan yang dilakukan dalam konsolidasi
Materi Pelajaran
Pokok Bahasan :
1. Pengertian, dasar hukum dan sejarah kejadian bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya.
Sub Pokok Bahasan :
a. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya.
b. Dasar hukum yang berkaitan dengan bahan kimia, biologi dan radioaktif berbahaya.
c. Sejarah kejadian bahan kimia berbahaya.
d. Sejarah kejadian dengan mengunakan agen biologi berbahaya.
e. Sejarah kejadian bahan radioaktif berbahaya.
2. Peralatan kimia, biologi dan radioaktif serta kegunaannya Sub Pokok Bahasan
a. standarisasi, pembagian tugas dan tanggung jawab serta kemampuan personel yang menangani kimia, biologi dan radioaktif.
b. Alsus kimia, biologi dan radioaktif.
c. Kelebihan dan kekurangan baju pelindung level A, B, C dan D.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 5 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI d. Administrasi, persiapan, pelaksanaan dan konsolidasi
penganan ancaman kimia, biologi dan radioaktif.
e. Jenis dan kriteria rangkaian kimia, biologi dan radioaktif.
f. Penanganan rangkaian, yang mengandung bahan kimia, biologi dan radioaktif.
g. Prosedur penanganan kecelakaan bahan kimia, biologi dan radioaktif.
h. Teknik dekontaminasi.
i. Kegiatan yang dilakukan dalam konsolidasi.
Metode Pembelajaran
1. Metode ceramah
Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang sejarah kejadian dan peralatan KBR berbahaya.
2. Metode tanya jawab
Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang disampaikan.
3. Metode Brainstorming (curah pendapat)
Metode ini digunakan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengemukakan pendapat tentang materi yang disampaikan.
4. Metode Penugasan
Metode ini digunakan untuk menugaskan peserta didik membuat resume materi yang disampaikan.
Alat/Media, Bahan dan Sumber Belajar
1. Alat/Media :
a. Komputer / Laptop.
b. LCD / proyektor.
c. Whiteboard.
d. Papan Flipchart.
e. Slide.
2. Bahan :
a. Kertas Flipchart.
b. Penghapus.
c. Alat Tulis.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 6 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI 3. Sumber Belajar :
a. Hanjar Kimia, Biologi dan Radioaktif (KBR) Detasemen E Sat 1 Gegana Korbrimob Polri tahun 2010.
b. Perkap nomor 14 tahun 2010 tentang Penanganan Ancaman Kimia, Biologi dan Radioaktif (KBR).
Kegiatan Pembelajaran
1. Tahap awal : 10 Menit.
a. Pendidik memperkenalkan diri kepada peserta didik.
b. Peserta didik memperkenalkan diri secara singkat kepada Pendidik dan peserta lainnya.
c. Pendidik melakukan pencairan suasana kelas agar tercipta interaksi antara pendidik dan peserta didik.
d. Pendidik melakukan apersepsi tentang materi yang akan disampaikan.
2. Tahap inti : 70 Menit.
a. Pendidik menjelaskan materi tentang sejarah kejadian dan peralatan KBR berbahaya.
b. Pendidik menggali pendapat tentang materi yang telah disampaikan.
c. Peserta didik merespon secara aktif kegiatan pembelajaran dengan metode tanya jawab.
d. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya atau menanggapi materi.
e. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang telah diberikan.
f. Peserta didik melaksanakan tugas yang diberikan oleh pendidik dan mengumpulkannya kepada pendidik.
g. Peserta didik memberikan penguatan kepada peserta didik untuk memotivasi semangat belajar.
h. Pendidik menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan kepada peserta didik.
3. Tahap akhir : 10 Menit.
a. Cek penguatan materi.
Pendidik memberikan ulasan dan penguatan materi secara umum.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 7 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI b. Cek penguasaan materi.
Pendidik mengecek penguasaan materi pendidik dengan bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.
c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.
Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari materi pelajaran.
Tagihan / Tugas
Peserta didik mengumpulkan resume mengenai materi yang telah diterima.
Lembar Kegiatan
Peserta didik membuat resume mengenai materi pelajaran yang telah diterima.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 8 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
Bahan Bacaan
POKOK BAHASAN I
PENGERTIAN, DASAR HUKUM DAN SEJARAH KEJADIAN BAHAN KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF
BERBAHAYA
1. Pengertian-Pengertian yang Berkaitan dengan Bahan Kimia, Biologi dan Radioaktif Berbahaya
a. Kimia adalah bahan kimia berbahaya berupa uap, aerosol, cairan, racun toksik, pelepuh kulit atau yang melumpuhkan, termasuk juga bahan kimia dalam industri, yang dapat menyebabkan kematian, cacat, atau bahaya permanen pada manusia dan makhluk hidup lainnya.
b. Biologi adalah mikro organisme hidup atau bahan yang diambil dari organisme hidup berupa racun biologis, tetesan cairan, aerosol, atau serbuk kering yang dapat merusak dan/atau menyebabkan penyakit bagi manusia atau mahkluk hidup lainnya.
c. Radioaktif adalah partikel-partikel alfa, beta, sinar gama maupun sinar neutron berenergi tinggi yang dipancarkan oleh atom dalam proses pembusukan/peluruhan radioaktif yang dapat menyebabkan penyakit bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
d. KBR yang selanjutnya disingkat KBR adalah bahan yang dapat menyebabkan terganggunya kesehatan atau mengakibatkan kematian, bila terkena atau digunakan pada manusia dan mahkluk hidup lain.
e. Kontaminasi adalah Pencemaran dan/atau penyerapan Racun kimia, biologi atau radiologi pada orang atau benda.
f. Dekontaminasi adalah Penghilangan dan/atau penetralan kontaminasi kimia, biologi atau radiologi dari orang, benda atau lokasi.
g. Rangkaian KBR adalah benda yang dimuati dengan zat berbahaya kimia, biologi, dan/atau radioaktif yang apabila tersebar dapat menimbulkan efek kontaminasi atau radiasi h. Tempat Kejadian Perkara yang selanjutnya disingkat TKP
adalah suatu tempat terjadinya tindak pidana atau kecelakaan yang diakibatkan oleh bahan rangkaian KBR.
i. Unit KBR adalah satuan kekuatan yang dimiliki oleh detasemen satuan Brimob Polri yang bertugas menangani
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 9 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI ancaman KBR.
2. Dasar Hukum yang Berkaitan dengan Bahan Kimia, Biologi dan Radioaktif Berbahaya
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
d. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2008 tentang Penggunaan Bahan Kimia dan Larangan Penggunaan Bahan Kimia Sebagai Senjata Kimia.
e. Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2017 tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Satuan Organisasi Pada Tingkat Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia.
f. Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2010 tentang Penanganan Ancaman Kimia, Biologi dan Radioaktif (KBR).
3. Sejarah Kejadian Bahan Kimia Berbahaya a. Serangan Gas Beracun Halabja 1988 di Irak
Serangan gas beracun Halabja terjadi pada periode 15 Maret s/d 19 Maret 1988 selama perang Iran dengan Irak, Ketika bahan kimia berbahaya digunakan oleh pemerintah Irak terhadap orang–orang kurdi di kota Halabja dengan populasi 80.000 jiwa. Korban dalam peristiwa ini diperkirakan 5000 jiwa tewas. Ali Hasan Almajid ( sepupu presiden Irak Saddam Hussein ) mendapat julukan “Ali Kimia “ setelah melakukan perintah serangan gas beracun ini. Serangan gas di Halabja menggunakan pesawat yang menjatuhkan gas beracun yang menyerang syaraf, sekitar 5000 orang tewas, kebanyakan perempuan dan anak–anak.
Insiden ini terjadi menjelang akhir perang Iran dengan Irak.
Mereka yang selamat dalam serangan ini rawan terkena kanker dan bayi yang lahir kemungkinan besar akan cacat.
Pada saat itu jet Irak menukik kewilayah Halabja dan selama lima jam menyemprot wilayah tersebut dengan gas
mustard campuran dengan racun saraf sarin, tabun, dan VX.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 10 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Gambar. 1.1. Korban serangan gas kimia beracun di Halabja tahun 1988
b. Serangan kelompok Aum Shinrikyo tahun 1995 di Tokyo Jepang
Pada tahun 1995 kelompok Aum Shinrikyo yang didirikan oleh Shoko Asahara melakukan penyerangan di kereta bawah tanah dengan menyebarkan gas Sarin, 12 orang meninggal dunia, 54 orang sakit parah / kritis, serta mengkontaminasi lebih dari 980 orang. Setelah Polisi melakukan penggeledahan di markas Aum Shinrikyo ditemukan bahan peledak, bahan kimia berbahaya, dan Helikopter militer Rusia Mil Mi -17. Pemerintah Kanada dan Amerika Serikat pun memasukkan jaringan / kelompok Aum Shinrikyo sebagai jaringan teroris.
Gambar. 1.2. Shoko Asahara pendiri kelompok Aum Shinrikyo
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 11 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Gambar. 1.3. Korban serangan kelompok Aum Shinrikyo th 1995 di Jepang
c. Serangan Klorin di propinsi Dinyala Irak tahun 2007
Serangan Klorin di propinsi Dinyala Irak mengakibatkan sedikitnya 32 0rang tewas dan 50 lainnya cidera akibat serangan tersebut, serangan dilakukan disebuah pasar terbuka di desa Abu sayda. Seorang juru bicara Kepolisian di ibukota propinsi Baquba mengatakan para dokter di sebuah rumah sakit setempat percaya bahwa luka–luka bakar para korban adalah akibat keracunan gas.
Penggunaan bahan kimia khususnya Klorin sebagai senjata telah menjadi hal yang cukup sering terjadi sejak awal 2007.
Militer AS juga melaporkan penemuan pabrik bom dekat Faluja, dimana bom mobil dengan Klorin sedang dibuat.
d. Sejarah kejadian di Palestina tanggal 06 januari 2009
Israel menggunakan zat berbahaya untuk membantai warga Gaza dalam serangan daratnya, bom–bom yang digunakan pasukan zionis mengandung Fosfor putih, sebuah zat kimia yang sangat berbahaya dan mematikan bagi manusia.
Fosfor putih oleh badan intelijen AS dimasukkan kedalam kategori “ Bahan berbahaya Kimia “.
Gambar. 1.4. Bom yang mengandung Fosfor putih
Orang yang terkena serpihan dari bom yang mengandung Fosfor putih akan mengalami luka bakar yang sangat mengerikan. Hal ini dengan jelas Israel telah menggunakan
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 12 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI bahan kimia berbahaya yang penggunaanya masih menjadi kontroversi didunia.
Israel juga menggunakan bom- bom yang mengandung Fosfor putih dalam perang 34 hari dengan Hizbullah di Libanon sehingga banyak menimbulkan korban jiwa.
Gambar. 1.5. Bom yang mengandung fosfor putih
Gambar. 1.6. Contoh akibat terkena bom yang mengandung fosfor putih
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 13 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Gambar. 1.7. Akibat terkena bom yang mengandung fosfor putih
Gambar. 1.8. Akibat terkena bom yang mengandung fosfor putih
4. Sejarah Kejadian Dengan Mengunakan Agen Biologi Berbahaya
a. Penggunaan agen Biologi berbahaya di Iran tahun 400 SM Sejarah penggunaan agen biologi berbahaya dimulai pada tahun 400 SM, ketika orang Iran kuno ( Scythians ) menggunakan panah yang dicelupkan kedalam feses ( kotoran ) dan mayat yang telah membusuk. Hal serupa juga dilakukan oleh bangsa Roma yang mencelupkan pedangnya kedalam pupuk dan sisa hewan yang telah membusuk sebelum berperang dengan musuhnya. Apabila musuhnya terluka oleh senjata tersebut maka terjadi infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian.
Peristiwa penting dalam sejarah kuno penggunaan agen biologi berbahaya terjadi ketika bangsa Mongol mengusir bangsa Genoa dari kota Kaffa ke laut mati dengan memanfaatkan mayat–mayat manusia yang terinfeksi wabah PES. Ketika bangsa Genoa menyingkir hingga ke Venice mereka tetap diikuti oleh kutu dan tikus yang terinfeksi PES sehingga akhirnya menimbulkan kematian hitam di wilayah Eropa.
b. Penggunaan agen biologi berbahaya pada tahun 1754 – 1760
Pada tahun 1754 – 1760 terjadi peperangan antara bangsa Britania Utara ( Inggris dan Perancis ) melawan bangsa Indian yang melibatkan penggunaan virus cacar. Ketika itu bangsa Britania Utara memberikan pakaian dan selimut dari Rumah Sakit yang merawat penderita cacar, kepada bangsa Indian untuk memusnahkan bangsa tersebut. Pada perang dunia pertama Jerman menggunakan dua bakteri
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 14 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Patogen yaitu Burkholderia mallei penyebab Glander dan Bacillus Antrhacis penyebab Antrax, untuk menginfeksi ternak dan kuda tentara sekutu.
Gambar 1.9. Orang yang terkena Bakteri Anthraxs dan Virus Cacar
c. Sejarah penggunaan Agen biologi berbahaya pada tahun 1932 –1935
Pada tahun 1932 – 1935 Jepang mengembangkan program pembuatan agen biologi berbahaya di China yang dinamakan Unit 731. Sebanyak 3000 ilmuwan Jepang bekerja untuk melakukan penelitian terhadap berbagai agen biologi yang berpotensi sebagai senjata misalnya Kolera PES dan Penyakit seksual yang menular. Eksperimen yang dilakukan menggunakan tahanan China yang mengakibatkan sekitar 10.000 tahanan mati pada masa itu.
Sejak saat itu tidak hanya Jepang yang mengembangkan agen biologi berbahaya, namun juga diikuti oleh negara–
negara lain seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet ( Rusia ).
Gambar. 1.10. Mayat korban Eksperimen 731
d. Rangkaian kejadian aksi terorisme yang menggunakan agen biologi berbahaya
1) Tahun 1972 kelompok Fascist group / Rissing sun di Amerika yang mencoba untuk mengkontaminasi air minum di Chicago, St. Louis USA dengan menggunakan bakteri Typhoid namun dapat digagalkan.
2) Tahun 1984, kelompok Oregon yang dipimpin oleh Bhagwan Shree Rajhnes mengkontaminasi dengan menggunakan bakteri Salmonella yang menyebabkan 750 orang keracunan.
3) Tahun 1995 bulan Mei, Larry Wayne harris salah satu anggota kelompok dari The White Suppremicis organization arrian nation telah terbukti menyimpan dan mengembangkan mikroorganisme bakteri Bubonic
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 15 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Plague sebanyak 40 kg.
4) Pada tahun 2001, Serangan bakteri Anthrax berupa bubuk yang dikirimkan melalui sepucuk surat dikantor pusat American media Inc di Washington, tepatnya pada tanggal 5 oktober 2001, telah membuat 5 orang meninggal dunia dan 22 orang jatuh sakit.
5) Pada tahun 2005 serangan terror dengan menggunakan virus Smallpox ( Virus penyebab cacar air ) tepatnya pada tanggal 1 , 2, dan 4 Januari 2005 yang telah menyebabkan ribuan orang terinveksi dalam waktu singkat. Sebanyak 16.000 orang di Frankfurt air Port, 8000 orang di RET Metro system Amsterdam, 12.000 orang di Metro Warsawa Polandia, 16.000 orang di Los Angeles Air port, 24.000 orang di Penn Station New york, dan 8.000 orang di Grand Bazaar Turki terserang cacar air.
6) Pada tahun 2005 kejadian serupa juga terjadi pada KBRI ( Kedutaan Besar Republik Indonesia ) di Canberra Australia, tepatnya pada awal Juni 2005 lalu, pihak KBRI mendapatkan kiriman paket mencurigakan yang dialamatkan pada Dubes Imron Cotan. Paket itu berisi serbuk putih yang berisi bakteri Anthrax. Diduga pengiriman paket itu berkaitan dengan kasus pengadilan terhadap warga Negara Australia, Schapelle L Corby yang kedapatan membawa Narkoba di Bali.
5. Sejarah Kejadian Bahan Radioaktif Berbahaya
a. Ledakan sumber tenaga listrik di Chernobyl, Ukraina Tahun 1986
Pada tanggal 26 April 1986, pusat tenaga nuklir Chernobyl yang berada di Ukraina, yang saat itu menjadi bagian dari Uni Soviet meledak. Pusat Nuklir Chernobyl merupakan sumber utama tenaga listrik di Ukraina ini meledak dengan menyebarkan berbagai zat Radioaktif yang sangat berbahaya.
Pemerintah Uni Soviet awalnya menyangkal adanya ledakan ini namun akhirnya mengaku setelah terlihatnya awan yang mengandung bahan radio aktif di angkasa dan menyatakan ledakan itu adalah akibat kesalahan tekhnis.
Korban meninggal 31 orang dan 135.000 orang lainya harus dievakuasi.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 16 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Gambar. 1.11. Kecelakaan nuklir menyebabkan terlepasnya bahan radioaktif
b. Bahan Radioaktif berbahaya AS merenggut korban di Irak tahun 1991 & 2003
Bertahun–tahun setelah serangan AS di Irak, orang–orang di Negara teluk Persia merasakan penderitaan akibat kontaminasi radioaktif yang disebabkan oleh penggunaan bahan radioaktif berbahaya berupa Uranium. Menteri lingkungan hidup Irak Narmin Othman Hasan, mengatakan pada hari senin tanggal 24 Agustus 2009 bahwa bahan radioaktif berbahaya Depleted Uranium ( DU ) yang digunakan oleh pasukan pimpinan Amerika terhadap Irak selama perang teluk Persia tahun 1991 dan Invasi tahun 2003 masih merusak negeri ini.
Othman Hasan mengatakan bahwa penggunaan senjata oleh pasukan pimpinan Amerika memiliki dampak pada bangsa dan telah menjadi tantangan yang serius bagi lingkungan karena telah mengkontaminasi di beberapa bagian Negara.
Bahan radioaktif berbahaya yang terbuat dari Uranium pertama kali digunakan dalam peperangan oleh pasukan pimpinan AS selama perang teluk Persia tahun 1991 dan selama invasi tahun 2003 mengubah banyak wilayah Irak menjadi wilayah pembuangan sampah radioaktif.
Delepted Uranium ( DU ) logam radioaktif yang 2 kali lebih padat menjadi penyebab sejumlah masalah kesehatan, mulai dari kanker hingga cacat sejak lahir. DU menyisakan radioaktif selama sekitar 4,5 milliar tahun.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 17 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI Gambar. 1.12. Cacat sejak lahir akibat DU Delepted Uranaium logam Radioaktif
Gambar. 1.13. Pasukan AS sedang mendekontaminasi bahan radioaktif berbahaya
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 18 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI
POKOK BAHASAN II
PERALATAN KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF SERTA KEGUNAANNYA
1. Standarisasi, Pembagian Tugas Dan Tanggung Jawab Serta Kemampuan Personel Yang Menangani Kimia, Biologi Dan Radioaktif.
a. Standarisasi
1) Satu Unit Kimia, Biologi dan Radioaktif Gegana berjumlah 15 orang dan diorganisasikan dengan susunan sebagai berikut :
a) Kepala Unit Kimia,
Biologi dan Radioaktif (Kanit : 1 orang b) Petugas Safety : 1 orang.
c) Spesialis Teknis : 1 orang.
d) Tim Entri dan operator : 4 orang.
e) Petugas Akses kontrol : 2 orang.
f) Tim Dekontaminasi : 4 orang.
g) Petugas Logistik : 1 orang.
h) Petugas Medis : 1 orang.
2) Satu Subden kimia, biologi dan radioaktif terdiri dari 3 unit berjumlah 48 orang dan diorganisasikan dengan sususan sebagai berikut
a) Kasubden : 1 orang.
b) Pamin : 1 orang.
c) Bamin : 1 orang.
d) Unit 1 : 15 orang.
e) Unit 2 : 15 orang.
f) Unit 3 : 15 orang.
b. Pembagian Tugas Dan Tanggung Jawab
1) Kepala Unit kimia, biologi dan radioaktif (Kanit)
a) Memimpin penanganan kimia, biologi dan radioaktif dan bertanggung jawab menentukan kategori ancaman kimia, biologi dan radioaktif serta pilihan cara bertindak dengan mempertimbangkan situasi lingkungan, ancaman dan resiko yang dihadapi.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 19 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI b) Mengidentifikasikan permasalahan di lapangan
dan identifikasi kebutuhan akan sistem pengelolaan kejadian.
c) Mengembangkan kemampuan “berpikir sambil berjalan” dan menugaskan sumber daya tersebut dengan cara efektif sesuai ancaman kejadian dan peralatan yang memadai.
2) Petugas Safety
a) Petugas yang bertanggung jawab menentukan keamanan perlengkapan atau peralatan yang digunakan oleh tim penanggap serta keadaan dari seluruh peralatan kimia, biologi dan radioaktif.
b) Petugas Safety bisa terdiri dari 1 (satu) orang.
3) SpesialisTeknis
a) Petugas specialist atau ahli kimia, biologi dan radioaktif agar dapat menyediakan informasi teknis dan membantu identifikasi grup bahan- bahan berbahaya dengan menggunakan beragam referensi sumber daya seperti internet atau literatur.
b) Menyediakan identifikasi produk dengan menggunakan uji pemilihan bahan berbahaya atau cara lain mengenali bahan yang tidak diketahui.
c) Menentukan perlengkapan pakaian dan alat deteksi yang akan digunakan oleh tim penanggap.
d) Petugas specialist teknis minimal satu orang atau sesuai kebutuhan dari kejadian.
4) Tim Entri dan Operator
a) Petugas yang pertama kali memasuki TKP atau Zona Panas dengan mengunakan baju level A dan membawa perlengkapan alat deteksi untuk mendeteksi bahan-bahan kimia, biologi dan radioaktif.
b) Melaporkan ke Kepala unit kimia, biologi dan radioaktif apa yang dilihat, didengar dan dirasakan secara periodik 15 (lima belas) menit sekali.
c) Mengidentifikasi korban apakah meninggal, luka berat, luka ringan serta memberikan pertolongan kepada korban yang bisa berjalan.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 20 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI d) Membuat sketsa atau menggambar tempat
kejadian perkara serta mendokumentasikan tempat kejadian perkara.
e) Menemukan barang bukti lalu merespon dan diambil tindakan memindahkan benda-benda atau serpihan untuk diselamatkan, menstabilkan atau mengendalikan zat berbahaya. Untuk zat-zat berbahaya segera diambil tindakan untuk meminimalkan dampaknya pada area dan orang.
Setiap penemuan dan tindakan apa yang
digunakan dalam meminimalkan
gangguan/dampak pada area dan orang haruslah didokumentasikan.
f) Tim Entri dapat minimal berjumlah 4 (empat) orang, dapat bertambah disesuaikan dengan insiden kejadian.
5) Petugas Akses Kontrol
a) Petugas yang mengatur organisasi Unit dan yang menentukan pos aman / poskotis berdasarkan situasi dan kondisi TKP.
b) Bertanggung jawab atas pengendalian pergerakan semua orang dan peralatan sepanjang area hangat dan panas.
c) Memastikan penyebaran pencemaran / contaminant tetap terkendali hanya di daerah TKP.
d) Melakukan koordinasi dengan tim penanggap lain, tim dekontaminasi serta melapor langsung ke Kepala unit kimia, biologi dan radioaktif kelompok zat berbahaya apa yang ada.
6) Tim Dekontaminasi
a) Petugas yang melepaskan atau menetralisasi zat berbahaya dari korban, petugas penanggap dan peralatan yang keluar dari zona panas ke zona hangat, serta dari zona hangat ke zona dingin.
b) Tim Dekontaminasi bertanggung jawab atas semua kegiatan yang berlangsung di zona hangat dan melaporkan langsung ke Kepala unit kimia, biologi dan radioaktif
c) Melakukan koordinasi dengan Petugas Akses kontrol dan tim area pengungsian.
d) Tim Dekontaminasi minimal berjumlah 4 (empat) orang atau lebih sesuai kebutuhan kejadian.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 21 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI 7) Logistik
a) Petugas yang bertanggung jawab atas semua peralatan dan perlengkapan yang digunakan oleh tim penanggap, tim medis, tim dekontaminasi serta petugas lainnya.
b) Petugas Logistik berjumlah 1 (satu) orang.
8) Tim Medis
a) Petugas yang mengecek kesehatan dari semua tim penanggap baik sebelum masuk atau sesudah keluar dari zona panas.
b) Mengevaluasi dan memprioritaskan perawatan korban serta mencegah menyebarnya kontaminasi dari korban serta mengumpulkan informasi dari korban dengan cara pelacakan, pengumpulan dan pengelompokan korban.
c) Melakukan koordinasi dengan tim penanggap dan tim dekontaminasi serta melaporkan langsung kejadian ke Kepala unit kimia, biologi dan radioaktif.
d) Mengurutkan dan mengkategorikan berdasarkan parahnya cidera korban, melakukan perawatan pasien dan disiapkan untuk dipindah.
e) Dalam hal transportasi dipastikan pergerakan cepat dari titik pengumpulan ke Unit udara dan darat dan koordinasi dengan sarana yang menerima.
f) Jumlah petugas Medis dapat 1 (satu) atau lebih disesuaikan dengan kebutuhan dari kejadian.
c. Kemampuan personel kimia, biologi dan radioaktif.
1) Pengetahuan bahan peledak.
2) Pengetahuan tentang bom.
3) Pengetahuan Switching.
4) Pengetahuan teknik dan taktik penjinakan bom.
5) Pengetahuan Prosedur Penjinakan Bom.
6) Pengetahuan TPTKP Teror Bom.
7) Pengetahuan tentang zat-zat berbahaya kimia, biologi dan radioaktif.
8) Pengetahuan Prosedur Penjinakan Bom kimia, biologi dan radioaktif.
9) Pengetahuan peralatan khusus kimia, biologi dan
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 22 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI radioaktif.
10) Pengetahuan teknik dan taktik dasar sterilisasi.
11) Pengetahuan teknik dan taktik penjinakan bom kimia, biologi dan radioaktif.
12) Pengetahuan taktik dan teknik dekontaminasi.
13) Pengetahuan taktik dan teknik penanganan kasus bom kimia, biologi dan radioaktif.
14) Pengetahuan Harwat alsus kimia, biologi dan radioaktif.
15) Pengembangan dan penelitian tentang kimia, biologi dan radioaktif.
16) Pengembangan dan penelitian teknik dan taktik penjinakan bom kimia, biologi dan radioaktif.
17) Pengembangan dan penelitian Taktik dan teknik pemusnahan zat-zat berbahaya kimia, biologi dan radioaktif.
18) Penelitian dan Pengembangan alsus kimia, biologi dan radioaktif.
2. Alsus Kimia, Biologi Dan Radioaktif
Unit kimia, biologi dan radioaktif dalam melaksanakan tugas penanganan kejadian kimia, biologi dan radioaktif memerlukan beberapa alsus yang dikelompokkan menjadi:
a. Peralatan perorangan kimia, biologi dan radioaktif.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai masing – masing alsus kimia, biologi dan radioaktif. Peralatan perorangan kimia, biologi dan radioaktif Adalah peralatan yang digunakan oleh tim entri didalam melaksanakan tugas di zona panas meliputi:
1) Kotak alat.
2) Ikat pinggang.
3) Crimper.
4) Kantong alat.
5) Lampu senter.
6) Pahat kayu.
7) Benang nilon,gulungan 500.
8) Buku catatan.
9) Tali nilon.
10) Isolasi plastic hitam.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 23 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI 11) Isolasi nilon.
12) Tang diagonal ukuran 4” , 6”.
13) Tang buaya.
14) Tang potong.
b. Peralatan unit kimia, biologi dan radioaktif.
Peralatan unit terdiri dari peralatan deteksi, peralatan proteksi, SCBA, dan peralatan pendukung lainnya.
1) Peralatan deteksi a) M-8 paper
(1) Peralatan ini biasa digunakan oleh tim penanggap ketika pertama kali masuk ke TKP.
(2) Dapat digunakan untuk menentukan adanya zat syaraf termasuk vx zat pelepuh.
(3) Hanya digunakan untuk menguji zat kimia yangberbentuk tetesan-tetesan atau cairan.
(4) Bereaksi 30 detik setelah ditetesi zat kimia tergantung dari kemurnian produk tersebut.
(5) Prinsip kerja dari m-8 ini ialah satu ke suatu kertas yang mengandung indicator yang berubah warna.
b) M-9 paper
Kertas m-9 memiliki sifat yang sama dengan m-8 dengan bagian belakang lengket untuk bisa ditempel ke sepatu, kaki bagian bawah dari kendaraan digunakan untuk mendeteksi zat-zat yang lebih berat dari udara, bisa ditaruh pada kaki dan apabila zat – zat tersebut lebih ringan dari udara bisa di taruh diatas.
Beberapa Kelebihan Dari Kertas M-8 Dan M-9:
(1) Kertas m-8 dan m-9 memiliki hasil yang akurat dan dapat diandalkan.
(2) Termasuk tehnologi sederhana dan mudah digunakan.
Beberapa kelemahan kertas M-8 Dan M-9 yaitu : Hanya untuk mendeteksi bahan kimia yang berbentuk cairan dan tidak dapat digunakan untuk mendeteksi bahan kimia yang berbentuk uap.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 24 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI c) Kertas pH
Dapat digunakan untuk menentukan ke korosifan cairan dan gas.
(1) Satu strip kertas yang telah diberi indicator yang dapat berubah warna ketika terkena zat korosif cair.
(2) Iindicator adalah zat kimia yang berubah warna pada ph tertentu
Merah = Asam Kuat = Ph < 5 Orange= Asam Lemah = Ph 6-7 Hijau = Basa Lemah = Ph 7-8 Biru = Basa Kuat = Ph > 8.
d) Meteran gas segi empat.
Yaitu alat deteksi yang digunakan untuk mengukur atmosfer yang mudah terbakar, level oxygen, level carbon monoksida, dan hydrogen sulfida. Alat ini biasa digunakan untuk pengambilan sampel suatu titik/tempat udara sekitar.
Kelemahan Meteran Gas Segi Empat:
(1) Untuk Sensor Oxygen Harus Diganti Setiap Tahun.
(2) Untuk Sensor EX, CO, HS, Harus Diganti Setiap 2 Tahun.
Kelebihan Meteran Gas Segi Empat (1) Mudah digunakan .
(2) Membaca keseluruhan dari keempat pengaturan secara simultan.
(3) Kokoh dan informasi dapat dimasukkan kedalam komputer.
e) Saw mini cad
Yaitu peralatan deteksi kimia yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya zat-zat yang berbahaya seperti zat syaraf yang menguap (1) Ga : tabun - zat pelepuh.
(2) Gb : sarin - hd mustard.
(3) Gd : soman - l lewisite.
Alat ini menggunakan detektor gelombang akustik yang terdiri dari kristal-kristal piozoelektrik berlapiskan film yang menyerap zat kimia dari
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 25 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI udara. Dengan mengamati frekuensi resonansi, pola tanggapan untuk uap tertentu muncul. Ketika pola tanggapan untuk uap sasaran cocok dengan pola yang sudah tersimpan maka alarm sistem akan berbunyi, dan memerlukan sekitar 30 detik untuk mendapatkan pembacaan.
f) Tuba kolorimetrik kimia
Alat ini digunakan untuk mendeteksi gas-gas atau uap-uap yang diketahui dan tak teridentifikasi (1) Senyawa padat yang bereaksi yang ada
dalam tuba kaca tertutup.
(2) Material bereaksi dengan suatu zat kimia dan berubah warna.
(3) Bahan sorbent bereaksi dengan zat kimia dan berubah warna .
(4) Tiap tuba hanya khusus untuk sebuah zat kimia.
(5) Cukup akurat dan hanya sekali pakai.
g) Monitor radiologis (probe telur dadar)
Alat ini mampu mendeteksi/mengukur jenis radiasi seperti alpha, beta dan gamma. Cara kerja dari alat ini adalah:
(1) Alat periksa (probe) menentukan radiasi jenis apa yang dapat dideteksi dengan monitor ini.
(2) Probe kue dadar digunakan sebagai alat penggeledah untuk survey personil.
(3) Probe internal untuk level radiasi yang lebih tinggi.
(4) Tekhnologi berdasarkan pertikel radioaktif yang memiliki muatan listrik unik .
(5) Alat ini memanfaatkan tampilan digital dengan alarm dengan nada yang dapat didengar.
h) Pager Radiasi
Alat ini hanya dapat digunakan untuk mendeteksi radiasi sinar gamma.yang bersifat sensitif dan ringan bisa dengan peringatan suara atau getar serta indikator intensitas. Cara kerja dari alat ini dengan menekan tombol tampilan yang akan menyebabkan led berkedip sebanding dengan jumlah gamma/sinar x yang terseteksi. Tampilan
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 26 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI numerik mengindikasikan intensitas radiasi dengan angka antara 0-9, tiap nomor menunjukkan intensitas radiasi dua kali harga sebelumnya (suatu level 5 adalah dua kali intensitas level 4), level 8 terjadi pada intensitas radiasi sekitar 2 MR/Hr.
i) M256 A1
Perangkat yang dikembangkan oleh militer untuk mendeteksi adanya zat syaraf, pelepuh, dan darah dan hanya dapat untuk mendeteksi zat kimia yang berbentuk uap saja.
Cara kerja:
(1) Menggunakan bahan kimia basah untuk menentukan adanya zat di udara.
(2) Bila ada zat perang, perubahan warna akakn terjadi pada waktu tersebut.
(3) Setiap kemasan perangkat uji m 256 ai di lengkapi dengan kertas m-8.
(4) Memerlukan waktu 25 menit untuk melalui prosedur pengujian.
(5) Dan membutuhkan 2 personel penanggap untuk melakukan pengujian dan membaca instruksinya.
j) Strip pintar
Alat yang menggunakan indikator bujur sangkar reagon yang diberi bahan kimia yang dapat mendeteksi syaraf, pelepuh, zat darah, oxidizer, arsenik, clorine, dan sulfides. Kertas lengket yang memiliki 8 bujur sangkar kolometrik yang dipenuhi dengan bahan kimia, perubahan warna apabila apabila bersentuhan dengan cairan tertentu/aerosol.
c. Peralatan kimia, biologi dan radioaktif tingkat detasemen.
1) Peralatan dekontaminasi
a) Mobile decontamination system on trailer rids.
b) Decontamination chemical.
c) The handy portable decontamination system.
d) Ember.
e) Sikap.
f) Tabung penyemprot.
g) Kolam dekontaminasi.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 27 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI h) Pompa busa dekontaminasi.
2) Peralatan pendukung a) Megaphone.
b) Compressor pengisi udara.
c) Tandu.
d) Police line.
e) Teropong.
f) Tenda komando.
g) Kursi.
h) Cones lalu lintas.
i) Isolasi.
j) PPPK komando.
k) Tempat sampah.
l) Stetoskop.
m) Papan punggung.
n) Self aid kit.
o) CS netutralising agent.
p) Injector atropine.
q) Medical casualty full bag.
r) Water clean 5000-GT.
s) Pillow water tank.
t) Truck for container.
u) Fire helmet.
v) Filter escape apparatus.
w) Protection clothing for fire fighting.
x) Robot.
y) Stick manipulator.
z) Kotak barang bukti radioaktif dari timbale/timah hitam.
3) Peralatan Detasemen
Peralatan kimia, biologi dan radioaktif untuk tingkat detasemen terdiri dari:
a) Laboratorium mikro biologi.
b) Traktor dekon pengupas tanah.
c)
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 28 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI 3. Kelebihan dan kekurangan baju pelindung level A, B, C, dan
D.
a. Kelebihan dan kekurangan baju pelindung level A.
1) Memberikan perlindungan secara maksimal terhadap kulit, mata dan pernafasan dari racun kimia berbentuk air atau uap dan juga racun biologi berbentuk cair/padat.
2) Diperlukan ketika memasuki daerah/lingkungan yang diasumsikan ada potensi terhirupnya uap, gas atau partikel-partikel dalam konsentrasi tinggi, atau kemungkinan kepercik oleh cairan zat yang berbahaya.
Pemilihan Baju level A tergantung dari beberapa hal,, yaitu : ketika zat kimia telah diidentifikasi dan memerlukan perlindungan dengan level tertinggi terhadap kulit, mata dan pernafasan.
3) Level A terdiri dari:
a) Alat pernafasan mandiri
(SCBA) dengan penutup wajah bertekanan positif, atau respirator dengan suplai udara positif dengan SCBA.
b) Pakaian pelindung kimia yang menutup keseluruhan (anti cairan dan uap).
c) Sarung tangan luar anti bahan kimia.
d) Sarung tangan dalam anti bahan kimia.
e) Sepatu bot,anti bahan kimia, penutup jari dan tulang kering baja.
f) Alat komunikasi, dikenakan di bagian dalam pakaian pelindung.
4) Baju pelindung Level A
Kelebihan dan kekurangan baju level A adalah :
a) Bahan baju dapat rusak oleh beberapa zat kimia.
b) Perangkat uji tersedia untuk memastikan baju pelindung kedap udara.
c) Diperlukan untuk di uji, sebagai unit lengkap terhadap 23 jenis bahan kimia yang berbeda.
Baju level A harus diperiksa pada saat :
a) Begitu menerima dari pabrik pembuatan .
b) Setelah setiap kali dipakai latihan atau insiden sesungguhnya.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 29 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI c) Pemeriksaan berkala (bulanan atau empat
bulanan).
Level A melindungi dari berbagai zat yang beracun tinggi ini mencakupi:
a) Pestisida Tingkat Teknis.
b) Zat Mustard.
c) Zat Vx.
d) Senyawa Racun A.
e) Bahan Korosif Beruap.
Keterbatasan Level A adalah :
a) Level stress panas tertinggi bagi penggunanya b) Persediaan udara dalam tabung yang terbatas.
c) Sebagian orang mungkin mengalami claustrophobia (rasa takut dalam ruang tertutup).
d) Komunikasi lebih sulit.
e) Dibuthkan waktu lebih sebelum operasi dapat dimmulai.
f) level a tidak cocok ketika ada kemungkinan resiko adanya ledakan dan kebakaran.
Pemeriksaan berkala (bulanan atau empat bulanan) yang harus dilakukan terhadap baju level A adalah : a) Simpan di tempat yang aman dan jauhkan dari
zat kimia yang dapat merusak baju level a.
b) Tempatkan pada kotak yang bisa menahan ancaman kerusakan dari benda runcing atau tajam
c) Simpan di tempat kering dalam suhu yang rendah.
b. Kelebihan dan kekurangan baju pelindung level B.
PPE tingkat B digunakan ketika zat telah diketahui dan membutuhkan perlindungan pernafasan tingkat tinggi tapi perlindugan kulit lebih sedikit dari pada level A .
Memilih Pakaian Pelindung Level B
1) Kemungkinan besar pekerjaan yang sedang dilakukan tidak akan menimbulkan konsentrasi tinggi uap, gas, atau cipratan yang akan mempengaruhi kulit.
2) Bahan kimia tidak di curigai mengandung konsentrasi peracun kulit.
3) Anda ditugaskan untuk melakukan prosedur
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 30 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI dekontaminasi.
Level B melindungi diri dari :
1) Cipratan yang tidak di harapkan
2) Konsentrasi bahan kimia di udara yang berjumlah rendah.
Perlindungan Level B
1) Menyediakan perlindungan kulit yang terbatas terhadap cipratan
2) Perlindungan pernafasan yang sama dengan level a.
Keterbatasan Level B
1) Tidak memberikan perlindungan maksimum terhadap kulit
2) Pakaian terusan berkualitas baik dengan pergelangan tangan dan kaki yang tertutup yang menyediakan perlindungan yang cukup.
Baju pelindung level B terdiri dari:
1) Peralatan pernafasan mandiri (SCBA ), berada diluar baju
2) Pakaian tahan kimia bertudung kepala
3) Sarung tangan dalam dan luar yang tahan kimia
4) Sepatu boot tahan kimia dengan baja pelindung pada jari kaki dan tulang kering
c. Kelebihan dan kekurangan baju pelindung level C.
Baju level c tidak tepat untuk pekerjaan di lingkungan yang ada senjata racun kimia dalam bentuk cair dengan padat menyediakan perlindungan kulit terbatas terhadap cipratan sama dengan level B untuk perlindungan pernafasan lebih rendah dari level A dan B
Perlindungan Level C
1) Melindungi diri dari bahaya cipratan yang tak di duga 2) Tidak akan digunakan dalam atmosfer yang tidak
diketahui atau dengan oksigen yang tidak mencukupi ( kurang dari 19,55 % oksigen )
3) Jenis zat yang ada di udara di ketahui
4) Kemungkinan besar kerja yang dilakukan tidak akan menimbulkan konsentrasi tinggi uap, gas, atau cipratan dari bahan yang akan mempengaruhi kulit.
Baju Level C Terdiri Dari
1) respirator pemurni udara yang menutup muka penuh
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 31 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI dan ada termosnya ( filter )
2) pakaian tahan kimia bertudung kepala
3) sarung tangan luar dan dalam yang tahan kimia
4) sepatu boot tahan kimia dengan baja pelindung pada jari kaki dan tulang kering
Penyebab Kegagalan Pakaian Pelindung
1) Peresapan : Bahan kimia memasuki baju pelindung melalui resliting, jahitan, dan penutup lainnya atau ada sobekan /robekan
2) Penetrasi : bahan kimia memasuki baju pelindung pada tingkat molekuler tanpa kerusakan yang kasat mata
3) Degradasi : pakaian usang karena kontak dengan bahan kimia dan lingkungannya.
Dari penjelasan diatas dapat diambi kesimpulan bahwa : 1) Kriteria bagi pemilihan pakaian pelindung tidak di
definisikan semudah pelindung pernafasan
2) Pemilihan level A di atas level B adalah suatu penilaian berdasarkan bahaya dan resiko yang ada pada insiden tertentu
Respirator pemurni udara terdiri dari:
1) Bagian penutup muka penuh
2) Bagian penyesuai muka yang di sebut ( “T”fitting ) 3) Elemen penyaring atau filter jenis selongsong tunggal
atau ganda yang didesain untuk menghilangkan atau menyerap zat partikel.
Keuntungan dari respirator pemurni udara ini adalah : 1) Ringan.
2) Waktu kerja 8 jam sebelum penyaring ( filter ) perlu di ganti.
3) Mengurangi potensi stress.
Keterbatasan dari respirator pemurni udara ini adalah : 1) Memerlukan minimal 19,5 % oksigen
2) Kontaminan harus dikenali secara pasti
3) Konsentrasi kontaminan harus dibawah tingkat bahaya terhadap nyawa dan kesehatan yang telah ditetapkan 4) Mungkin tak efektif terhadap dua atau lebih bahan
kimia
5) Rambut yang ada di wajah dapat menghalangi segel
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 32 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI kedap udara
6) Tidak sesuai untuk memadamkan api.
Perawatan Respirator
1) Sebaiknya masker di bersihkan setiap habis pakai.
2) Semprot dengan air bersih.
3) Semprot bagian mika bagian dalam dan luar dengan disinfektan.
4) Biarkan sepuluh menit.
5) Semprotkan lagi dengan air dan bersihkan dengan tissue.
Hal yang harus di perhatikan
1) Periksa bagian-bagian usang atau termakan usia sebelum pemakaian atau penyimpanan.
2) Simpan dalam kotak atau wadah yang telah di sediakan.
d. Kelebihan dan kekurangan baju pelindung level D.
PPE level D tidak tepat digunakan bila bekerja dalam lingkungan dengan uap senjata racun kimia, untuk lingkungan yang sudah diketahui. Tidak dianggap sebagai pakaian perlindungan senjata racun kimia. Baju ini di kenakan dalam kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan- pekerjaan yang dilakukan di tingkat D berasumsi atmosfer tidak mengandung bahaya kimia, biologi dan radioaktif yang di kenal atau tidak adanya potensi atau kontak dengan racun kimia, biologi dan radioaktif dalam tingkat berbahaya.
Tingkat D Terdiri
1) Pakaian Pelindung.
2) Sarung Tangan Pilihan.
3) Topi Keras.
4) Kaca Pelindung.
5) Pelindung Wajah/Masker.
6) Sepatu Boot/Anti Bahan Kimia, Pelindung Jari Dan Tulanh Kering dari Baja
4. Administrasi, Persiapan, Pelaksanaan Dan Konsolidasi Penanganan Ancaman Kimia, Biologi Dan Radioaktif.
a. Administrasi Penanganan Ancaman Kimia, Biologi Dan Radioaktif.
Setiap permintaan bantuan unit kimia, biologi dan radioaktif harus dicatat dalam buku mutasi piket satuan dan
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 33 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI penugasannya berdasarkan surat perintah dari:
1) Kasat I Gegana pada tingkat pusat dan atau 2) Kasat Brimob Daerah pada tingkat daerah.
Penyerahan obyek dan barang bukti yang ditemukan di TKP dari Kanitkimia, biologi dan radioaktif kepada penyidik satuan kewilayahanPolri setempat harus disertai dengan berita acara.
3) Kanitkimia, biologi dan radioaktif membuat laporan tertulis hasil penanganan ancaman kimia, biologi dan radioaktif yang telah dilakukan, dalam waktu 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam setelah sampai kembali di kesatuan.
4) Laporantersebut memuat a) uraiansingkatkejadian.
b) urutan tindakan yang dilakukan.
c) hasil yang dicapai.
d) keterangan tambahan yang bernilai taktis dan teknis.
b. Tahap Persiapan Penanganan Ancaman Kimia, Biologi Dan Radioaktif.
Setelah menerima laporan dari perwira siaga dan mendapat surat perintah tugas, Kanit kimia, biologi dan radioaktif segera mempersiapkan dan mengecek:
1) Kelengkapan personel.
2) Peralatan yang harus dibawa.
3) Kendaraan taktis (rantis) yang akan digunakan.
4) Kelengkapan administrasi berupa surat perintah dan blanko berita acara serah terima.
c. Tahap Pelaksanaan Penanganan Ancaman Kimia, Biologi Dan Radioaktif.
Kanit kimia, biologi dan radioaktif melaksanakan Acara Pengarahan Pimpinan (APP) yang membahas:
1) Kegiatan dan cara bertindak yang akan dilaksanakan.
2) Rute yang ditempuh.
3) TKP yang dituju.
d. Konsolodasi Penanganan Ancaman Kimia, Biologi Dan Radioaktif.
Melaporkan kepada perwira siaga bahwa unit kimia, biologi dan radioaktif siap berangkat menuju TKP.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 34 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI 5. Jenis Dan Kriteria Rangkaian Kimia, Biologi Dan Radioaktif.
Meliputi rangkaian yang mengandung:
a. bahan radioaktif.
b. bahan kimia atau biologi.
6. Penanganan Rangkaian, ang Mengandung Bahan Kimia, Biologi Dan Radioaktif.
a. Penanganan Rangkaian Yang Mengandung Bahan Kimia Atau Biologi.
Penanganan rangkaian yang mengandung bahan kimia atau biologi dilkasanakan sebagai berikut:
1) Penanganan dilakukan dengan manual untuk rangkaian kimia, biologi dan radioaktif yang tidak memiliki kontainer atau kemasan dan bisa melihat secara kasat mata elemen-elemennya.
2) Apabila rangkaian kimia, biologi dan radioaktif berada di dalam kontainer atau kemasan, diyakinkan isinya dengan alat x-ray.
3) Memasangkan masker kepada sandera untuk mengantisipasi apabila rangkaian dikalungkan pada tubuh sandera dan untuk mengantisipasi terjadi kebocoran rangkaian kimia, biologi dan radioaktif.
4) Tim entri mengenakan pakaian proteksi level A memasukkan kemasan bahan kimia atau biologi tersebut ke dalam wadah khusus dan ditutup rapat serta dipindahkan ke tempat yang aman.
b. Penanganan Rangkaian Yang Mengandung Bahan Radioaktif.
Penanganan rangkaian yang mengandung bahan radioaktif dilaksanakan sebagai berikut:
1) Menggunakan robot dan hook and line untuk mengangkat dan mengevakuasi bahan radioaktif ke dalam kontainer anti radiasi, bila tidak memungkinkan menggunakan sistem semi remote.
2) Memakai pakaian anti radiasi dan memperhatikan jarak aman antara tim entri dan bahan radioaktif.
3) Rantis harus mempunyai tameng dan kotak anti radiasi dari baja berlapis timah hitam sebagai pelindung personel unit kimia, biologi dan radioaktif.
4) Rantis bergerak secara perlahan mendekati bahan radioaktif sampai terdeteksi paparan radiasi yang diukur dari belakang perlindungan yaitu sebesar 1
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 35 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI micro sivert (nilai aman paparan radiasi untuk tubuh manusia).
5) Personel unit kimia, biologi dan radioaktif berjalan di belakang rantis yang bergerak secara perlahan sambil berlindung di belakang tameng anti radiasi.
6) Personel menyiapkan tongkat penjepit (stick manipulator) yang terbuat dari bahan non logam untuk mengangkat dan memindahkan bahan radioaktif.
7) Memasangkan masker kepada sandera untuk mengantisipasi bila rangkaian dikalungkan pada tubuh sandera dan untuk mengantisipasi terjadi kebocoran rangkaian kimia, biologi dan radioaktif.
8) Personel unit kimia, biologi dan radioaktif harus memindahkan bahan radioaktif ke dalam kotak anti radiasi secepat mungkin secara bergantian.
9) Masing masing personel hanya boleh berada di dekat bahan radioaktif paling lama selama 10 (sepuluh) detik.
10) Setelah 10 (sepuluh) detik, meletakkan tongkat penjepit dan bahan radioaktif tersebut kemudian berlari menuju rantis dan segera digantikan oleh personel yang lain, sampai bahan radioaktif dimasukkan ke dalam kotak anti radiasi dan ditutup rapat.
11) Mendeteksi kembali bagian luar kotak anti radiasi apakah radiasi masih bisa menembus kotak anti radiasi atau tidak.
7. Prosedur Penanganan Kecelakaan Bahan Kimia, Biologi Dan Radioaktif
a. Setelah tiba di TKP, Kanit kimia, biologi dan radioaktif segera melakukan koordinasi dengan Kasatwil atau manajer TKP dan mengumpulkan data-data atau informasi umum mengenai detail kejadian.
b. Kanit kimia, biologi dan radioaktif memperhatikan keamanan disekitar area kejadian, mewaspadai akan adanya tindakan perlawanan terhadap unit kimia, biologi dan radioaktif, serta diperlukan evaluasi dan implementasi tindakan perlindungan pribadi.
c. Kanit kimia, biologi dan radioaktif mempersiapkan rute yang akan dilalui oleh unit kimia, biologi dan radioaktif, dengan memperhatikan arah angin dibelakang posdaltis.
d. Kanit kimia, biologi dan radioaktif mendirikan posdaltis di zona dingin serta memperhatikan arah angin dan keamanan dari posdaltis.
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 36 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI e. Kanit kimia, biologi dan radioaktif mengidentifikasi dan
menunjuk area persiapan untuk kesatuan atau instansi lain (pemadam kebakaran, petugas medis darurat, Bapeten, Batan, PLN) yang akan datang membantu.
f. Kanit kimia, biologi dan radioaktif mencari indikator fisik dan pertanda bahaya kimia, biologi dan radioaktif di lingkungan sekitarnya dan melihat tanda atau gejala terkenanya bahan kimia, biologi dan radioaktif pada korban seperti pelepuhan kulit, iritasi, kejang-kejang, dan kesulitan bernafas.
g. Mengidentifikasi lingkungan yang rusak atau terkontaminasi seperti keterbukaan terhadap arah angin, keterbukaan terhadap lingkungan, tingkat kepadatan penduduk di daerah tersebut serta memonitor keterbukaan arah angin dan ramalan cuaca.
h. Tim entri mempersiapkan diri untuk masuk ke zona panas dengan terlebih dahulu diperiksa kesehatannya oleh petugas medis.
i. Tim entri memastikan atau mendeteksi bahan kimia, biologi dan radioaktif pada tempat kejadian, dan mengurangi/memperlambat penyebaran bahan kimia, biologi dan radioaktif dengan cara mengambil sisa pecahan bahan kimia, biologi dan radioaktif lalu menyimpan pada tempatnya, menutup atau menyumbat aliran bahan kimia, biologi dan radioaktif yang akan keluar, sehingga memperluas area terkontaminasi.
j. Pada waktu tim entri masuk dan melakukan tugasnya, tim dekontaminasi mempersiapkan dan memasang peralatan, perlengkapan dekontaminasi, pakaian proteksi level B, dan pakaian proteksi level C.
k. Menentukan jalur yang akan dilewati oleh personel yang akan didekontaminasi dan menyiapkan 3 (tiga) bak dekontaminasi dan bak penampung air hasil dekontaminasi.
l. Membawa perlengkapan dekontaminasi seperti penyemprot air, sikat air sabun, bak, tempat sampah, terpal, dekontaminasi, dan kursi.
m. Melakukan teknik dekontaminasi sesuai dengan kebutuhan dari kejadian perkara atau kasus yang terjadi.
n. Timentri yang keluar dari zona panas masuk kebakdekontaminasi, lalu seluruh pakaian didekontaminasi dengan cara menyirami tubuh tersebut dengan air dari bagian atas (kepala) sampai kebagian bawah tubuh (kaki) secara merata, lalu menyikat dengan air sabun merata keseluruh pakaian timentri dan begitu seterusnya hingga tiga bakdekontaminasi terlewati.
o. Peralatan atau perlengkapan yang dibawah masuk oleh
KIMIA, BIOLOGI DAN RADIOAKTIF (KBR) 37 PENDIDIKAN PEMBENTUKAN TAMTAMA BRIMOB POLRI timentrike zona panas, tetap didekontaminasi setelah keluar dari zona panas.
p. korban yang dibawa keluar dari zona panas oleh timentri dilakukan juga langkah dekontaminasi, dengan cara membuang pakaian yang dikenakan korban lalu menganti dengan pakaian yang disediakan, serta menyemprot tubuh korban dengan air.
q. Setelah timentri, peralatan, dan korban didekontaminasi, dilakukan tindakan pengecekan ulang dengan menggunakan alat deteksi, untuk memastikan apakah vahan kimia, biologi dan radioaktif benar-benar bersih dari tubuh atau peralatan yang didekontaminasi tadi.
r. Setelah dilaksanakannya pendekontaminasian terhadap segala sesuatu yang keluar dari zona panas ke zona hangat, seluruh timdekontaminasi melaksanakan dekontaminasi diri sendiri secara bergantian, dan memastikan tidak ada vahan kimia, biologi dan radioaktif pada tubuh dengan melakukan deteksi menggunakan alat deteksikimia, biologi dan radioaktif.
s. Air hasil dekontaminasi yang ada di dalam kolam dekontaminasi harus dimasukkan kedalam drum yang telah disediakan untuk dimusnahkan.
Tindakan yang dilakukan oleh tim kimia, biologi dan radioaktif selanjutnya adalah :
a. setelah memperoleh cukup data/informasi mengenai situasi yang dihadapi, Kanit kimia, biologi dan radioaktif bersama tim entri, menentukan cara bertindak dan alternatif tindakan dengan mempertimbangkan bahaya yang dihadapi dan peralatan yang tersedia.
b. tim entri mengutamakan tindakan penanganan dengan menggunakan robot dan x-ray untuk mendeteksi objek yang diduga sebagai rangkaian kimia, biologi dan radioaktif.
c. tim entri melaksanakan proses penanganan sesuai dengan jenis dan kriteria rangkaian kimia, biologi dan radioaktif yang ditemukan berdasarkan hasil analisis foto x-ray.
d. melakukan pencarian/pemeriksaan ulang pada tempat- tempat lain yang dimungkinkan adanya rangkaian kimia, biologi dan radioaktif berikutnya (secondary device).
e. apabila tidak ditemukan lagi rangkaian kimia, biologi dan radioaktif berikutnya di TKP, Kanit kimia, biologi dan radioaktif melaporkan bahwa lokasi telah aman dan steril serta menyerahkan kembali lokasi kepada manajer TKP.