Menurut Kamus Bahasa Indonesia, Pengelolaan merupakan proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan (proses melakukan kegiatan tertentu) dengan menggerakkan tenaga orang lain.
Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan sosial (Soetjiningsih, 1995). Bermain adalah tindakan atau kesibukan suka rela yang dilakukan
dalam batas-batas, tempat dan waktu, berdasarkan aturan-aturan yang mengikat, tetapi diakui secara suka rela dengan tujuan yang ada dalam dirinya sendiri, disertai dengan perasaan tegang dan senang serta dengan pengertian bahwa bermain merupakan suatu yang lain dari kehidupan biasa (Suherman, 2000).
Pengelolaan aktivitas bermain merupakan proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan bermain anak, yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan sosial yang dilakukan dalam batas-batas, tempat dan waktu, berdasarkan aturan-aturan dan tujuan.
Suherman (2000) mengemukakan bahwa teori permainan terdiri dari enam teori, yaitu:
1) Teori rekreasi
Dikemukakan oleh Schaller pada tahun 1841 dan Lazarus pada tahun 1884. Permainan adalah suatu kesibukan untuk menenangkan pikiran atau untuk beristirahat.
2) Teori kelebihan tenaga
Teori ini disebut juga teori ”Pelepasan” atau ”pemunggahan”. Dikemukakan oleh Harbert Spancer seorang ahli dari Inggris. Teori ini mengatakan bahwa kegiatan bermain pada anak karena adanya kelebihan tenaga pada diri anak. Tenaga atau energi yang memupuk pada diri anak perlu digunakan atau dilepaskan dalam bentuk kegiatan bermain. Dengan demikian akan terjadi keseimbangan pada
diri anak. 3) Teori atavistis
Ditemukan oleh Stanley Hall seorang psikolog dari Amerika. Bahwa di dalam permainan akan timbul bentuk-bentuk perilaku sebagaimana bentuk kehidupan yang pernah dialami oleh nenek moyang.
Contoh: permainan berburu, menangkap dan membunuh binatang, bemain kelerang pada anak pada zaman yunani kuno hampir sama dengan bermain kelereng pada anak masa kini.
4) Teori biologis
Ditemukan oleh Karl Gross (Jerman), yang dikembangkan oleh Dr.Maria Montessori (Italia). Bahwa permainan mempunyai tugas-tugas biologis untuk melatih bermacam-macam fungsi jasmani dan rohani.
5) Teori psikologi dalam
Dikemukakan oleh Sigmud Freud dan Adler. Menurut Sigmud, Permainan adalah pernyataan napsu-napsu yang terdapat di daerah bawah sadar dan sumbernya berasal dari dorongan napsu seksual. Dalam bermain ada 2 faktor yang penting yaitu fantasi dan kebebasan. Sedangkan menurut Adler permainan merupakan usaha untuk menutup-nutupi perasaan harga diri yang kurang.
6) Teori fenomenologi
merupakan suatu fenomena atau gejala yang nyata, yang mengandung unsur suasana permainan. Maksudnya bahwa dorongan bermain merupakan dorongan untuk menghayati suasana bermain itu sendiri, tidak khusus tujuan untuk mencapai prestasi-prestasi tertentu.
2. Pengaruh bermain bagi perkembangan anak
Hurlock (1991) mengemukakan pengaruh bermain bagi perkembangan anak adalah:
a. Perkembangan fisik
Bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya.
b. Dorongan berkomunikasi
Agar dapat bermain dengan baik bersama yang lain, anak harus belajar berkomunikasi dalam arti mereka dapat mengerti dan sebaliknya mereka harus belajar mengerti apa yang dikomunikasikan anak lain.
c. Penyaluran bagi energi emosional yang terpendam
Bermain merupakan sarana bagi anak untuk menyalurkan ketegangan yang disebabkan oleh pembatasan lingkungan terhadap perilaku mereka.
d. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan
Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain seringkali dapat dipenuhi dengan bermain.
e. Sumber belajar
Bermain memberi kesempatan untuk mempelajari berbagai hal, melalui buku, televisi, atau menjelajah lingkungan yang tidak diperoleh anak dari belajar di rumah atau sekolah.
f. Rangsangan bagi kreativitas
Melalui eksperimentasi dalam bermain, anak menemukan bahwa merancang sesuatu yang baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya mereka dapat mengalihkan minat kreatifnya kesituasi di luar dunia bermain.
g. Perkembangan wawasan diri
Dengan bermain anak mengetahui tingkat kemampuannya dibandingkan dengan temannya bermain. Ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan konsep dirinya dengan lebih pasti dan nyata. h. Belajar bermasyarakat
Dengan bermain bersama anak lain, mereka belajar bagaimana membentuk hubungan sosial dan bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.
i. Standar moral
Walaupun anak belajar di rumah dan di sekolah tentang apa saja yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral paling teguh selain dalam kelompok bermain.
j. Belajar bermain sesuai dengan peran jenis kelamin
kelamin yang disetujui. Akan tetapi, mereka segera menyadari bahwa mereka juga harus menerimanya bila ingin menjadi anggota kelompok bermain.
k. Perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan
Dari hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam bermain, anak belajar bekerja sama, murah hati dan sportif.
3. Klasifikasi pengelolaan aktivitas bermain
Menurut (Wong, 1998) Klasifikasi pengelolaan aktivitas bermain berdasarkan isi dan karakter sosial, yaitu:
a. Bermain berdasarkan isi permainan
1) Social affective play (permainan yang membuat anak belajar berhubungan sosial dengan orang lain).
2) Sense pleasure play (permainan yang berhubungan kesenangan pada anak).
3) Skill play (Permainan yang bersifat membina keterampilan anak). 4) Unocupied behavior (permainan yang hanya memperhatikan
saja).
b. Berdasarkan karakteristik sosial
1) Onlooker play (permainan dengan mengamati teman-temannya bermain).
2) Solitary play (permainan yang dimainkan sendiri).
3) Parallel play (permainan bersama teman tanpa interaksi). Anak tampak ingin berteman, tetapi sosialnya belum adekuat sehingga
mereka tidak membentuk kelompok.
4) Assosiative play (permainan dengan bermain bersama temannya dan masing-masing anak bermain sesuai keinginannya, tetapi tidak ada tujuan kelompok).
5) Cooperative play (permainan dengan bermain bersama yang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dan juga memperoleh tujuan kompetisi).
4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan aktivitas bermain Menurut Soetjiningsih (1995) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pengelolaan aktivitas bermain, antara lain: a. Ekstra energi
Untuk bermain diperlukan ekstra energi. Anak yang sakit, kecil keinginannya untuk bermain.
b. Waktu
Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain. c. Alat Permainan
Untuk bermain diperlukan alat permainan yang sesuai dengan umur dan taraf perkembangannya.
d. Ruangan untuk bermain
Ruangan tidak usah terlalu lebar dan tidak perlu ruangan khusus untuk bermain. Anak bisa bermain di ruang tamu, halaman, bahkan di ruang tidurnya.
e. Pengetahuan cara bermain
Anak belajar bermain melalui mencoba-coba sendiri, meniru teman-temannya atau diberi tahu caranya oleh orang lain. Cara yang terakhir adalah yang terbaik, karena anak tidak terbatas pengetahuannya dalam menggunakan alat permainannya.
f. Teman bermain
Anak harus merasa yakin bahwa ia mempunyai teman bermain kalau ia memerlukan, baik itu saudaranya, orang tua atau temannya. Bila kegiatan dilakukan bersama orang tuanya, maka hubungan orang tua dan anak menjadi akrab, ibu/ayah akan segera mengetahui setiap kelainan yang terjadi pada anak mereka secara dini.
5. Tahapan perkembangan bermain
Hurlock (1991) mengemukakan tahapan perkembangan bermain, yaitu:
a. Tahap eksporasi
Hingga bayi berusia sekitar 3 bulan, permainan mereka terutama terdiri atas melihat orang dan benda serta melakukan usaha acak untuk menggapai benda yang diacungkan dihadapannya.
b. Tahap permainan
Bermain barang mainan dimulai pada tahun pertama dan mencapai puncaknya pada usia 5 dan 6 tahun. Pada mulanya anak hanya mengeksplorasi mainanya. Antara 2 dan 3 tahun, mereka membayangkan bahwa mainannya mempunyai sifat hidup dapat
bergerak, berbicara, dan merasakan. c. Tahap bermain
Setelah masuk sekolah, jenis permainan mereka sangat beragam. Semula mereka meneruskan bermain dengan barang mainan, terutama bila sendirian. Selain itu mereka merasa tertarik dengan permainan, olah raga dan bentuk permainan matang lainnya.
d. Tahap melamun
Semakin mendekati masa puber, mereka mulai kehilangan minat dalam permainan yang sebelumnya disenangi dan banyak menghabiskan waktunya dengan melamun.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak
Menurut Hurlock (1991) faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak, yaitu:
a. Kesehatan
Semakin sehat anak semakin banyak energinya untuk bermain aktif, seperti permainan dan olah raga. Anak yang kekurangan tenaga lebih menyukai hiburan.
b. Perkembangan motorik
Permainan anak pada setiap usia melibatkan koordinasi motorik. Pengendalian motorik yang baik memungkinkan anak terlibat dalam permainan aktif.
c. Intelegensi
lebih menunjukkan kecerdikan. Dengan bertambahnya usia, mereka lebih menunjukkan perhatian dalam permainan kecerdasan dramatik, konstruksi, dan membaca, termasuk upaya menyeimbangkan faktor fisik dan intelektual yang nyata.
d. Jenis kelamin
Anak laki-laki bermain lebih kasar ketimbang anak perempuan dan lebih menyukai permainan dan olah raga ketimbang berbagai jenis permainan lain.
e. Lingkungan
Anak dari lingkungan yang buruk kurang bermain ketimbang anak lainnya karena kesehatan yang buruk, kurang waktu, peralatan dan ruang.
f. Status sosial ekonomi
Anak dari kelompok sosial ekonomi yang lebih menyukai kegiatan yang mahal, sedangkan mereka dari kalangan bawah terlihat dalam kegiatan yang tidak mahal.
g. Jumlah waktu bebas
Jumlah waktu bermain terutama bergantung pada status ekonomi keluarga.
h. Peralatan bermain
Peralatan bermain yang dimiliki anak mempengaruhi permainannya. Soetjiningsih (1995) menemukan kesalahan-kesalahan di dalam memilih alat permainan, diantaranya:
1) Orang tua memberikan sekaligus banyak macam alat permainan 2) Banyak orang tua membeli alat permainan yang mereka pikir
indah dan menarik. Tetapi mereka tidak berpikir apa yang akan dikerjakan anak terhadap alat permainan tersebut.
3) Banyak orang tua membayar terlalu mahal untuk alat permainan. 4) Alat permainan tidak sesuai dengan umur anak.
5) Memberikan terlalu banyak alat permainan dengan tipe yang sama.
6) Banyak orang tua yang tidak meneliti keamanan dari alat permainan yang dibelinya.
7) Alat permainan yang terlalu lengkap/sempurna, sehingga sedikit peluang bagi anak untuk melakukan eksplorasi dan konstruksi. Alat permainan edukatif (APE) merupakan alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya.
Diungkapkan oleh Soetjiningsih (1995) APE yang memenuhi syarat, yaitu:
a) Aman
Alat permainan dibawah usia 2 tahun, tidak boleh terlalu kecil, catnya tidak boleh mengandung racun, tidak ada bagian yang tajam, dan tidak ada bagian yang mudah pecah. b) Ukuran dan berat
sebaliknya kalau terlalu kecil akan berbahaya karena dapat mudah tertelan oleh anak.
c) Disainnya harus jelas
APE harus mempunyai ukuran-ukuran, susunan, dan warna tertentu, serta jelas maksud dan tujuan.
d) APE harus mempunyai fungsi untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak, seperti motorik, bahasa, kecerdasan dan sosialisasi.
e) Harus dapat dimainkan dengan berbagai variasi, tetapi jangan terlalu sulit sehingga membuat anak frustasi.
f) Walaupun sederhana harus tetap menarik baik warna maupun bentuknya.
g) APE harus tidak mudah rusak.
E. Hubungan antara pengelolaan aktivitas bermain dengan perkembangan