BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
12. Pengelolaan Anggaran yang Optimal
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
18
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
20
A K U N T A B I L I T A S
K I N E R J A
A. Capaian Kinerja Organisasi
Capaian kinerja organisasi pada DJA diukur dengan cara membandingkan antara target yang direncanakan pada awal tahun anggaran dengan realisasi indikator kinerja utama pada masing-masing perspektif. Pada tahun 2017, Direktorat Jenderal Anggaran memiliki 4 (empat) perspektif yaitu stakeholders perspective,
customers perspective, internal process perspective, dan learning and growth perspective.
Dari hasil pengukuran kinerja yang telah dilakukan, diperoleh data bahwa capaian Nilai Kinerja Organisasi (NKO) DJA tahun 2017 adalah sebesar 106,42 Nilai tersebut berasal dari capaian kinerja pada
masing-masing perspektif sebagai berikut:
a. Stakeholders perspective dengan bobot 25 %, capaian kinerja 110,46
b. Customers perspective dengan bobot 15 %, capaian kinerja 100,60
c. Internal process perspective dengan bobot 30%, capaian kinerja 102,74; dan
d. Learning and growth perspective dengan bobot 30 %, capaian kinerja 109,63
Selama tahun 2017, dari 21 IKU DJA, terdapat 19 IKU berstatus hijau dan 2 IKU berstatus kuning. Adapun rincian capaian masing-masing IKU sebagaimana tabel 3.1.
Tabel 3.1
Capaian IKU Kemenkeu One DJA Tahun 2017 Kode SS/
IKU
Sasaran Strategis/Indikator Kinerja Utama Target Realisasi Nilai
Stakeholder Perspective 110,46
1 Perencanaan Anggaran yang Berkualitas 110,46
1a-N Akurasi Perencanaan APBN 97% 97,9% 100,93
1b-CP Deviasi ExerciseI-account 7,5% 1,56% 120,00
Customer Perspective 100,60
2 Pemenuhan Layanan Publik 101,19
2a-CP Indeks Kepuasan Pengguna Layanan 4,2 4,25 101,19
3 Kepatuhan Penguna Layanan yang Tinggi 100,00
Kode SS/ IKU
Sasaran Strategis/Indikator Kinerja Utama Target Realisasi Nilai
Internal Process Perspective 102,74
4 Kebijakan Penganggaran yang Berkualitas 105,56
4a-N Persentase Penyelesaian Kebijakan Perbaikan Sistem Pensiun dan THT PNS
90% 100% 111,11
4b-N Persentase Penyelesaian Kebijakan terkait Peraturan Pelaksanaan dan Penyelenggaraan SJSN
100% 100% 100,00
5 Penyusunan Anggaran yang Akurat 102,50
5a-CP Deviasi Proyeksi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat 5% 3,49% 120,00 5b-N Deviasi antara Rencana dan Realisasi Penyerapan
Anggaran K/L
8% 9,20% 85,00
6 Sistem Penganggaran yang Optimal 100,86
6a-N Persentase Penerapan Arsitektur dan Informasi Kinerja dalam RKA- K/L
100% 100% 100,00
6b-N Persentase Implementasi e-revisi Tahap I 100% 100% 100,00 6c-N Persentase Implementasi RKA- K/L online 85% 87,21% 102,60
7 Sistem Pelayanan PNBP yang Optimal 103,00
7a-N Persentase Implementasi single source data PNBP 50% 52,5% 105,00 7b-N Persentase penyusunan mapping potensi PNBP 100% 100% 100,00
8 Monitoring dan Evaluasi yang Efektif 101,80
8a-CP Persentase Rekomendasi BPK atas LKPP dan LK BUN yang Telah Ditindaklanjuti
75% 77,70% 103,60 8b-N Persentase penyusunan analisis kinerja K/L atas
pelaksanaan RKA-K/L
100% 100% 100,00
Learning & Growth Perspective 109,63
9 SDM yang Kompetitif 99,50
9a-CP Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompe-tensi jabatan
100% 99,50% 99,50
10 Organisasi yang Kondusif 110,65
10a-CP Persentase Implementasi Inisiatif Transformasi Kelem-bagaan
90% 93,40% 103,78
10b-N Indeks Tata Kelola Organisasi 74 85,88 116,05
11 Sistem Manajemen Informasi yang Andal 118,13
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
22
1. Perencanaan anggaran yang berkualitas
Dalam tahun 2017, Pemerintah akan menjaga keberlanjutan reformasi struktural atas kebijakan fiskal, termasuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang telah digulirkan sejak tahun 2015. Reformasi yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkesinambungan dalam jangka panjang tersebut, mencakup tiga pilar yaitu optimalisasi pendapatan, peningkatan kualitas belanja dan menjaga kesinambungan pembiayaan anggaran.
Optimalisasi pendapatan diarahkan pada
perluasan basis pendapatan dengan tetap selaras dengan kapasitas perekonomian, sehingga tidak mengganggu iklim investasi. Peningkatan kualitas belanja diarahkan pada pemanfaatan anggaran untuk belanja yang bersifat produktif dan prioritas, seperti pembangunan infrastruktur, pengurangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kesenjangan. Selain itu, peningkatan kualitas belanja dari aspek pelaksanaan anggaran juga terus dioptimalkan melalui peningkatan kualitas penyerapan anggaran. Reformasi pada bidang pendapatan dan belanja tersebut, akan diikuti dengan upaya menjaga kesinambungan sumber-sumber pembiayaan.
Upaya-upaya untuk melanjutkan reformasi tersebut harus tetap dilakukan di tengah kondisi perekonomian yang diperkirakan belum
kondusif. Perekonomian global, walaupun diperkirakan membaik, tetap masih diwarnai ketidakpastian. Di sisi lain, lemahnya harga komoditas diproyeksikan masih akan terus terjadi. Hal tersebut selain menghambat upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, juga berpotensi menghambat optimalisasi pendapatan negara, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kesinambungan fiskal.
Untuk itu, dibutuhkan suatu strategi pengelolaan kebijakan fiskal dan APBN yang sehat dan berkesinambungan. Salah satu strategi tersebut diwujudkan dengan menyusun Sasaran Strategis (SS) “Pengelolaan Anggaran yang Berkualitas”. SS dimaksud diukur dengan 2 (dua) indikator yaitu “Akurasi Perencanaan APBN” dan “Deviasi Exercise I-Account” dengan target dan realisasi sebagaimana tabel sebagai berikut :
Tabel 3.2
Capaian Sasaran Strategis Kebijakan Penganggaran yang Berkualitas Kode SS/
IKU
Sasaran Strategis/Indikator Kinerja Utama Target 2017
Realisasi 2017
Nilai
1 Perencanaan anggaran yang berkualitas 110,46
1a - N Akurasi perencanaan APBN 97,00% 97,9% 100,93
1a-N Akurasi Perencanaan APBN
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh DPR. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari - 31 Desember). Perencanaan APBN yang berkualitas merupakan tujuan utama dari siklus penganggaran yang berawal dari perencanaan hingga pertanggungjawaban. Kualitas pengelolaan anggaran negara dapat diukur melalui perhitungan perkiraan besaran APBN yang
tertuang dalam tabel I-account.
Dalam rangka mengukur tingkat kualitas perencanaan APBN yang disusun Pemerintah, DJA menetapkan IKU “Akurasi Perencanaan APBN”. Tingkat akurasi perencanaan APBN adalah kesesuaian atau ketepatan antara angka exercise Pemerintah (yang disusun berdasarkan formula yang ditetapkan dan masukan-masukan dari
stakeholders terkait) dengan realisasinya.
Adapun komponen yang diukur IKU ini meliputi, antara lain :
1. Perencanaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
2. Perencanaan Belanja Pemerintah Pusat; dan 3. Perencanaan Pembiayaan.
Adapun alokasi untuk memenuhi target IKU tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp176.686.000,- dengan realisasi sebesar Rp173.579.501 (98,24%)
IKU ini diukur dengan formula sebagai berikut:
Adapun alokasi untuk memenuhi target sasaran strategis tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp2.658.711.000,- dengan realisasi sebesar Rp2.596.393.963 (97,66%).
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
24
Selanjutnya, rincian atas capaian IKU ini adalah sebagai berikut :
URAIAN PNBP BELANJA PEMERINTAH
PUSAT PEM-BIAYAAN Realisasi s.d. 30 Juni 2017 146,1T 498,6T 209,4T Proyeksi 150,4T 510,1T 203,3T Tingkat Akurasi 97,14% 97,75% 97,00% Bobot perhitungan 25% 50% 25% Hasil 24,29% 48,87% 24,25% Realisasi IKU 97,41% Target IKU 97,00%
Indeks capaian IKU 100,42
Tabel 3.3
Proyeksi dan Realisasi Semester I Tahun 2017
Perhitungan di atas diperoleh berdasarkan proyeksi perhitungan Laporan Semester I (Lapsem) yang diajukan Pemerintah ke DPR.
Tabel 3.4
Proyeksi dan Realisasi Semester I dan II Tahun 2017
URAIAN PNBP BELANJA PEMERINTAH
PUSAT PEM-BIAYAAN Realisasi s.d. 31 Desember 2017 308,3T 1.259,6T 364,5T Pagu APBNP 2016 294,6T 1.252,7T 355,4T Tingkat Akurasi 95,35% 99,45% 97,44% Bobot perhitungan 25% 50% 25% Hasil 23,84% 49,72% 24,36% Realisasi IKU 97,92% Target IKU 97,00%
Selanjutnya, perhitungan di atas diperoleh berdasarkan konferensi pers yang dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2018 oleh Menteri Keuangan.
Mempergunakan jenis konsolidasi periode metode
take last known, maka perhitungan atas IKU ini
memperoleh capaian sebesar 100,95 (melebihi target yang telah ditetapkan sebesar 97,00%). IKU ini tergolong sangat menantang karena capaian atas IKU ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar kendali pemerintah.
Berbagai langkah mitigasi telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Anggaran pada tahun 2017 agar deviasi IKU tersebut dapat diminimalisasi, antara lain :
1. Monitoring secara intensif pelaksanaan APBN 2017 dan menyusun opsi-opsi kebijakan dalam rangka mitigasi risiko pelaksanaan APBN.
2. Melakukan rapat koordinasi secara berkala dalam rangka pengamanan pelaksanaan APBN tahun 2017, yaitu pertemuan bulanan Asset Liability Management (ALM), pertemuan bulanan/mingguan Tim Evaluasi dan
Pengawasan Realisasi Anggaran (TEPRA), dan pertemuan bulanan/mingguan Cash Planning Information Network (CPIN).
3. Melakukan penyusunan analisis sensitivitas APBN 2017 terhadap asumsi dasar ekonomi makro.
4. Melakukan konsolidasi supporting belanja pemerintah pusat yang dapat digunakan untuk cross check dengan pergerakan I-account
Pada tahun mendatang, beberapa upaya dilakukan Grafik 3.1
Perkembangan IKU Akurasi perencanaan APBN
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
26
1b-CP Deviasi
Exercise I-account(IKU Baru)
IKU ini bertujuan untuk mengukur tingkat akurasi atas ketepatan dan kesesuaian angka pada RUU APBN/ APBNP dibandingkan dengan UU APBN/APBNP atas komponen yang ada dalam I-account. Adapun komponen dihitung adalah pendapatan negara, belanja negara, dan pembiayaan. Obyek yang dihitung untuk mengukur IKU Deviasi Exercise I-Account ini adalah proyeksi usulan RUU APBNP 2017 dibandingkan dengan UU APBNP 2017, serta proyeksi usulan RUU APBN 2018 dibandingkan dengan UU APBN 2018. Data yang akurat akan menunjukkan seberapa
besar deviasi yang dihasilkan. Semakin baiknya nilai deviasi ditandai dengan semakin kecilnya nilai yang dihasilkan dari perhitungan IKU ini. Masukan-masukan dari stakeholder dan perubahan kebijakan pemerintah terkait dengan
penyusunan APBN maupun APBN perubahan sangat mempengaruhi hasil perhitungan. Adapun alokasi untuk memenuhi target sasaran strategis tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp2.482.025.000,- dengan realisasi sebesar Rp2.422.814.462,- (97,61%)
Formula perhitungan IKU Deviasi Exercise I-account adalah sebagai berikut:
Untuk tahun 2017, Deviasi exercise I-account di-peroleh capaian sebesar 1,56 dengan target 7,5%. Dari perhitungan menggunakan jenis konsolidasi
periode metode average dan polarisasi indikator kinerja minimize, didapatkan nilai capaian IKU sebesar 189,54 (di-capping menjadi 120).
Tabel 3.5
Perkembangan IKU Deviasi Exercise I-account
No Akun Usulan
(Miliar rupiah)
Persetujuan (Miliar rupiah)
Capaian Bobot Nilai
APBN-P 2017 1. Pendapatan Negara 1.714.128,1 1.736.060,1 1,28% 40% 0,51% 2. Belanja Negara 2.111.363,9 2.133.295,9 1,04% 40% 0,42% 3. Pembiayaan 397.235,8 397.235,8 0,00% 20% 0,00% JUMLAH 0,93% No Akun Usulan (Miliar rupiah) Persetujuan (Miliar rupiah)
Capaian Bobot Nilai
APBN 2018 1. Pendapatan Negara 1.878.447,3 1.894.720,3 0,87% 40% 0,35% 2. Belanja Negara 2.204.383,9 2.220.656,9 0,74% 40% 0,30% 3. Pembiayaan 325.936,9 325.936,6 0,00% 20% 0,00% JUMLAH 0,64% JUMLAH RATA-RATA 2017 0,78%
IKU ini memiliki tingkat kendali low (rendah) karena realisasinya (angka akhir) berdasarkan kesepa-katan pembahasan bersama antara Pemerintah dengan DPR. Adanya faktor di luar kendali yang cukup besar (dominan unsur politik), yang secara langsung sangat mempengaruhi hasil IKU, maka pada tahun-tahun selanjutnya upaya yang akan dilakukan untuk mempertahankan capaian IKU ini adalah:
1. Monitoring dan evaluasi atas kebijakan-kebija-kan yang diterbitkebijakan-kebija-kan.
2. Update model estimasi yang dilaksanakan untuk mendapatkan estimasi/exercise yang berkualitas.
3. Secara berkaladan berkelanjutan melakukan update data.
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
28
2. Pemenuhan Layanan Publik
Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, layanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Perbaikan layanan publik merupakan salah satu amanat dari reformasi birokrasi di pemerintahan. Dari waktu ke waktu, pemerintah dituntut untuk senantiasa berinovasi meningkatkan layanan yang diberikan kepada masyarakat. Sebagai jawaban atas tuntutan tersebut, pada tahun 2017 Direktorat Jenderal Anggaran menempatkan pemenuhan layanan publik sebagai salah satu sasaran strategis yang ditetapkan di dalam dokumen kontrak kinerja. Sasaran Strategis Pemenuhan Layanan Publik diturunkan menjadi IKU Indeks Kepuasan Pengguna Layanan. Indeks Kepuasan Pengguna Layanan ini dilaksanakan dengan mengukur kepuasan pelanggan atas layanan unggulan DJA terhadap pihak eksternal, yang terdiri dari 4 (empat) jenis layanan unggulan DJA, yaitu: a. Layanan Penyelesaian Usulan Standar Biaya
Keluaran (SBK);
b. Layanan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA);
c. Layanan Penyelesaian Revisi DIPA non Angga-ran Pendapatan dan Belanja Negara Perubah-an (non-APBN-P);
d. Layanan Sistem Informasi Penerimaan Negara Bukan Pajak Online (SIMPONI).
Pemenuhan layanan publik diukur berdasarkan hasil survei kepuasan pelanggan oleh lembaga independen berdasarkan pemenuhan atas asas penyelenggaraan pelayanan publik sesuai Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Adapun komponen yang dinilai yaitu: (a) kepentingan umum; (b) kepastian hukum; (c) kesamaan hak; (d) keseimbangan hak dan kewajiban; (e) keprofesionalan; (f) partisipatif; (g) persamaan perlakuan/tidak diskriminatif; (h) keterbukaan; (i) akuntabilitas; (j) fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan; (k) ketepatan waktu; dan (l) kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.
Tabel 3.6
Capaian Sasaran Strategis Pemenuhan Layanan Publik Kode
SS/IKU
Sasaran Strategis/ Indikator Kinerja Utama
Target 2017
Realisasi 2017
Nilai
2 Pemenuhan layanan publik 101,19
2a-CP Indeks Kepuasan Pengguna Layanan
Indeks Kepuasan Pengguna Layanan merupakan nilai kepuasan pelanggan atas layanan unggulan Kemenkeu yang pelaksanaannya dinilai oleh pihak eksternal.
Pada tahun 2017, penilaian dilaksanakan melalui metode survey kepada pihalk eksternal yang dilaksanakan oleh Universitas Gadjah Mada dengan koordinasi dari Biro Organta. Adapun formula perhitungan IKU ditetapkan sebagai berikut :
IKU = Indeks Kepuasan Pengguna Layanan (Hasil Survei)
Adapun alokasi untuk memenuhi target IKU tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp197.726.000,- dengan realisasi sebesar Rp191.590.910,- (96,90%) Hasil survei kepuasan pengguna layanan DJA tahun 2017 yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan skor Indeks Kepuasan Pengguna Layanan DJA pada tahun 2017 sebesar 4,25 (skala 5). Adapun rincian skor yang didapatkan Direktorat Jenderal Anggaran untuk setiap jenis layanan yang disurvey adalah sebagai berikut:
Tabel 3.7
Skor Kepuasan Pengguna Layanan DJA per Jenis Layanan
Adapun alokasi untuk memenuhi target sasaran strategis tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp197.726.000,- dengan realisasi sebesar Rp191.590.910,- (96,90%)
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
30
Capaian tersebut lebih tinggi dari target yang telah ditetapkan sebesar 4,20 (indeks capaian 101,19). Pada tahun 2017, Direktorat Jenderal Anggaran telah melakukan beberapa langkah guna menjaga tingkat kepuasan pelanggan DJA agar di atas nilai yang ditargetkan. Beberapa langkah yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Anggaran antara lain:
1. Terus menyempurnakan aplikasi e-revisi yang ditujukan untuk pengajuan usulan revisi DIPA secara daring serta membuat monitoring proses penyelesaian usulan revisi anggaran yang disampaikan secara daring. Dari hasil penyempurnaan ini, dapat diketahui bahwa
pada triwulan keempat tahun 2017 seluruh pengajuan revisi Kementerian/Lembaga telah diproses malalui aplikasi e-revisi.
2. Melanjutkan kegiatan forum DJA mendengar yang bertujuan untuk menjaring masukan dari Kementerian/Lembaga terkait layanan yang diberikan oleh DJA. Pada tahun 2017, kegiatan
Grafik 3.2
Perkembangan Indeks Kepuasan Pengguna Layanan terhadap Kinerja Layanan DJA
DJA Mendengar dilaksanakan pada tanggal 29 Agustus di Aula lantai 20 Gedung Sutik-no Slamet dan 1 September 2017 di gedung Dhanapala.
3. Melakukan integrasi sistem penerimaan PNBP K/L dengan aplikasi SIMPONI.
Pada tahun 2018 nanti, DJA akan merumuskan langkah-langkah perbaikan untuk meningkatkan kepuasan pengguna layanan DJA, misalnya melalui perbaikan SOP Layanan Unggulan, pembuatan maklumat layanan, atau pembuatan sistem mon-itoring proses penyelesaian layanan unggulan di DJA. Dari grafik dapat dilihat bahwa trend kepua-san pelanggan DJA dari tahun 2010 ke tahun 2017
menunjukkan hasil yang semakin baik/positif. Skor 4,25 (skala 5) yang diperoleh oleh DJA juga menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang cukup untuk terus melaksanakan langkah-langkah perbaikan agar di masa yang akan datang kepua-san pelanggan atas layanan yang diberikan oleh DJA semakin meningkat.
3. Kepatuhan Pengguna Layanan yang tinggi
Meningkatkan kepatuhan pengguna layanan adalah salah satu strategi yang ditujukan untuk peningkatan kualitas penganggaran. Sebagai pengelola anggaran negara, DJA memiliki ekspektasi terhadap pengguna layanan agar patuh terhadap berbagai peraturan dan kebijakan yang ditetapkan dalam bidang
penganggaran. Untuk itu, DJA berkepentingan agar setiap peraturan dan kebijakan di bidang penganggaran yang diinisiasi langsung DJA dapat dipatuhi dan diimplementasikan Kementerian Negara/Lembaga.
Dalam rangka mewujudkan hal di atas, disusunlah Sasaran Strategis yang dimaksudkan untuk memenuhi keinginan tersebut yaitu Sasaran Strategis “Kepatuhan Pengguna Layanan yang Tinggi”. Sasaran Strategis ini diterjemahkan dalam IKU Persentase Implementasi KPJM.
Tabel 3.8
Capaian Sasaran Strategis Kepatuhan Pengguna Layanan yang Tinggi Kode
SS/IKU
Sasaran Strategis/ Indikator Kinerja Utama
Target 2017
Realisasi 2017
Nilai
3 Kepatuhan Pengguna Layanan yang Tinggi 100,00
3a - N Persentase implementasi KPJM 100% 100,00% 100,00
3a-N Persentase implementasi KPJM
KPJM adalah pendekatan penyusunan anggaran berdasarkan kebijakan, dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran. Hal tersebut ditempuh dengan mempertimbangkan implikasi biaya keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam sebuah prakiraan maju. Dalam prakteknya, KPJM berisi proyeksi pengeluaran untuk tahun berikutnya, sebagai bentuk penuangan rencana fiskal tahunan, yang disertai dengan prakiraan maju tiga tahun berikutnya (sebagai dasar proyeksi jangka menengah).
Adapun alokasi untuk memenuhi target sasaran strategis tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp358.406.000,- dengan realisasi sebesar Rp341.608.500,- (95,31%)
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
32
memperbaiki kualitas belanja negara menjadi lebih efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
Dalam rangka mengimplementasikan harapan tersebut, IKU Persentase Implementasi KPJM diharapkan dapat mengawal maksud reformasi di bidang penganggaran. IKU ini disusun untuk
Tabel 3.9
Target dan Status Penyelesaian IKU Persentase Implementasi KPJM
mengukur kepatuhan penanggung jawab program dalam menyusun rencana kerja pemerintah jangka menengah sebagaimana yang dituangkan ke dalam aplikasi RKA-K/L. Untuk mengukur tingkat capaian IKU ini, dengan target capaian sebagai berikut:
No Kegiatan Target PIC Status
1. Penyempurnaan aplikasi dengan memasukkan perubahan parameter-parameter
Triwulan I Direktorat SP Selesai
2. a. pemantauan atas input, proses pengguliran, evaluasi kinerja tahun lalu, penyesuaian parameter yang dilakukan oleh K/L, dan kebijakan baru
b. pembahasan hasil reviu KPJM yang disusun K/L (kertas kerja output aplikasi KPJM) Triwulan IV Direktorat Anggaran Bidang Ekontim, Direktorat Anggaran Bidang PMK, Direktorat Anggaran Bidang Polhukhankam dan BA BUN Selesai
Adapun formula perhitungan IKU ditetapkan sebagai berikut :
IKU = % Implementasi Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah oleh K/L
Adapun alokasi untuk memenuhi target IKU tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp358.406.000,- dengan realisasi sebesar Rp341.608.500,- (95,31%)
Grafik 3.4
Perkembangan Implementasi KPJM
Pada masa mendatang, DJA telah menetapkan beberapa rencana aksi dalam rangka mencapai IKU ini diantaranya melalui asistensi atas KPJM yang disusun K/L dalam RKA-K/L pada saat penelaahan Pagu Anggaran dan Pagu Alokasi melalui perbaikan
sebagai berikut :
1. Perbaikan top down dalam menetapkan base-line
2. Penggunaan output standar
3. Pemetaan struktur data yang terintegrasi Pada tahun 2017, seluruh penanggung jawab program atau unit eselon I di setiap K/L telah menyusun RKA-K/L atau DIPA 2018 termasuk KPJM dengan memperhitungkan alokasi multiyears. Disamping itu, telah dilaksanakan forum penelaahan antara DJA dan penanggung jawab program guna meminimalisir anomali dalam KPJM, serta dilakukan perbaikan pada RKA-K/L atau DIPA 2018.
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
34
4. Kebijakan Penganggaran yang Berkualitas
Kebijakan penganggaran yang berkualitas adalah kebijakan yang berimplikasi pada penyusunan dan pengelolaan anggaran kementerian/lembaga yang merupakan hal mendasar yang perlu diwujudkan agar keseluruhan program kerja pemerintah dapat berjalan optimal. Dalam rangka mewujudkan hal ini, disusunlah Sasaran Strategis “Kebijakan Penganggaran yang Berkualitas” yang dimaksudkan untuk memenuhi keinginan tersebut. Sasaran Strategis itu diterjemahkan dalam IKU Persentase persetujuan atas rekomendasi harmonisasi peraturan bidang penganggaran.
Tabel 3.10
Capaian Sasaran Strategis Kebijakan Penganggaran yang Berkualitas Kode
SS/IKU
Sasaran Strategis/ Indikator Kinerja Utama
Target 2017
Realisasi 2017
Nilai
4 Kebijakan penganggaran yang berkualitas 105,56
4a - N Persentase penyelesaian kebijakan perbaikan sistem pensiun dan THT PNS
90 100% 111,11
4b - N Persentase penyelesaian kebijakan terkait peraturan pelaksanaan dan penyelenggaraan SJSN
100% 100% 100
4a-N Persentase penyelesaian kebijakan perbaikan sistem pensiun dan THT PNS
Untuk meningkatkan kualitas penyelesaian rekomendasi kebijakan perbaikan sistem jaminan pensiun dan THT PNS, DJA pada tahun 2016 menetapkan IKU “Persentase penyelesaian kebijakan perbaikan sistem pensiun dan THT PNS”. IKU ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas penyelesaian rekomendasi kebijakan perbaikan sistem jaminan pensiun dan THT PNS berupa penyusunan kajian dan peraturan. Perhitungan IKU ini didasarkan pada penyelesaian kegiatan berikut ini:
1. Menyusun kajian pensiun dan THT PNS
2. Menyusun draft PP Jaminan Pensiunan dan Jaminan Hari Tua (tahap pembahasan internal Kementerian Keuangan dan unit-unit terkait).
Adapun alokasi untuk memenuhi target sasaran strategis tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp501.995.000,- dengan realisasi sebesar Rp494.298.500,- (98,47%)
Adapun formula perhitungan IKU ditetapkan sebagai berikut :
IKU = % penyelesaian kebijakan perbaikan sistem pensiun dan THT PNS
Pagu dan realisasi atas IKU ini pada DIPA DJA tahun 2017 dapat dirinci sebagai berikut:
IKU Pagu 2017
(Rp)
Realisasi 2017 (Rp)
% Persentase penyelesaian kebijakan perbaikan sistem
pensiun dan THT PNS
148.200.000 147.966.000 99,84%
Berdasarkan data yang didapat dari PIC kegiatan, diketahui bahwa tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk mencapai target IKU ini seluruhnya telah dilaksanakan. Dengan demikian, realisasi atas IKU ini pada tahun 2017 adalah sebesar 100%
Grafik 3.5
Perkembangan Capaian IKU Persentase penyelesaian kebijakan perbaikan sistem pensiun dan THT PNS
Untuk rencana selanjutnya yang akan dilak-sanakan, Direktorat Jenderal Anggaran memiliki beberapa rencana tindak lanjut, yaitu:
1. Mengintensifkan komunikasi dan koordinasi dengan unit/instansi terkait melalui pemba-hasan yang dilakukan secara terencana &
perhitungan beban pensiun sesuai skema yang akan dipilih (Skema DB untuk Pegawai Lama dan Skema DC untuk Pegawai Baru) dan pihak Kemen PAN-RB akan fokus pada reformasi kelembagaan program pensiun.
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan
36
4b-N Persentase penyelesaian kebijakan terkait peraturan pelaksanaan dan
penyelenggaraan SJSN
IKU ini bertujuan untuk meningkatkan Kualitas penyelesaian Kebijakan peraturan pelaksanaan dan penyelenggaran SJSN berupa penyusunan kajian dan peraturan. IKU dihitung berdasarkan penyelesaian kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Pembahasan konsep monev dana operasional SJSN 2. Pelaksanaan monev dana operasional SJSN
3. Pengumpulan data dukung terkait dana operasional SJSN 4. Penyelesaian PMK dana operasional SJSN
Adapun formula perhitungan IKU ditetapkan sebagai berikut :
IKU = % penyelesaian kebijakan terkait peraturan pelaksanaan dan penyelenggaraan SJSN
Adapun alokasi untuk memenuhi target IKU tersebut di dalam DIPA DJA TA 2017 telah dialokasikan pendanaan dengan pagu sebesar Rp5353.795.000,- dengan realisasi sebesar Rp346.332.500,- (97,89%) Keseluruhan pentahapan di atas telah diselesaikan sesuai dengan waktu yang direncanakan sehingga capaian untuk IKU ini adalah 100%
Grafik 3.5
Perkembangan Capaian IKU Persentase penyelesaian kebijakan terkait peraturan pelaksanaan