C. Tahap Operasi Pertambangan Batu Bara
3. Pengelolaan Dan Pemantauan Kualitas Kebisingan
1. Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui pengelolaan dan pemantauan kualitas kebisingan yang ada disekitar area stockpile, genset dan conveyor.
2. Dasar Teori
Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat minumbulkan gangguan kesehatan masnusia dan kenyamanan lingkungan. Tingkat kebisingan adalah uraian energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan mansusia dan kenyamanan lingkungan. (KepMen LH No.48 Tahun 1996).
Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Bising menyebabkan berbagai gang guan terhadap tenaga kerja, seperti gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi dan ketulian, atau ada yang menggolongkan gangguannya berupa gangguan auditory, misalnya gangguan terhadap pendengar dan gangguan non auditory seperti komunikasi terganggu, ancaman bahaya keselamatan, menurunnya performance kerja, kelelahan dan stress. (Kusumaatmadja, 1996).
3. Alat dan Bahan
a. Alat : sound level meter. b. Bahan : buku catatan, alat tulis. 4. Prosedur Kerja
a. Menentukan jarak sampling dengan titik/sumber kebisingan. b. Ambil sampilng sesuai dengan jarak yang telah ditentukan. c. Catat hasil sampling yang telah diperoleh.
Hasil yang di capai dalah kegiatan ini adalah memperoleh data kualitas kebisingan yang ada di sekitar titik pengambilan sampel.
6. Pembahasan
Pengelolaan lingkungan yang dilakukan pihak manajemen perusahaan PT. Pipit Mutiara Jaya menurut hasil pengamatan peneliti telah dilaksanakan dengan baik dan dapat mengurangi tingkat kebisingan terutama pada kendaraan alat-alat berat, genset dan conveyor serta crushing plat, berdasarkan hasil swapantau kebisingan menunjukkan angka penilaian untuk daerah pangkalan rata-rata 94 dBA dan dibawah standar Baku Mutu Kebisingan untuk areal tambang serta pengolahan batubara adalah 70 dBA berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-48/MENLH/11/1996. Akan tetapi pihak manajemen perusahaan PT. Pipit Mutiara Jaya telah membekali karyawan dengan ear plug dan bagi operator mesin diberikan ear muff, merawat dan mengontrol peralatan yang menimbulkan suara bising dan menyediakan sarana kesehatan dan tenaga medis.
4. Proses Pengangkutan Batu Bara Ke StockPile 1. Tujuan
Kegiatan pengangukutan batubara ini bertujuan untuk mengangkut batubara dari tambang menuju ke stockpile.
Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan batubara dari tempat pengolahan yang ada diareal tambang menuju ke tempat penimbunan akhir (stockpile).
Menurut Anonim (2011), bahwa pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut atau membawa material atau endapan bahan galian dari front penambangan dibawa ke tempat pengolahan untuk proses lebih lanjut. Kegiatan pengangkutan menggunakan DT yang kemudian dibawa ke tempat pengolahan untuk dilakukan proses peremukan (crushing), jumlah truk yang akan digunakan tergantung dari banyaknya material batubara hasil pengerukan yang akan diangkut.
Setelah dilakukan kegiatan coal getting, kegiatan lanjutan adalah pengangkutan batubara (coal hauling) dari lokasi tambang (pit) menuju stockpile atau langsung ke unit pengolahan.
3. Alat dan Bahan
a. Alat : excavator dossan 500, dump truck nissan CWA (kapasitas muatan 20 ton).
b. Bahan : batubara. 4. Prosedur Kerja
a. Batubara diangkut dengan menggunakan dump truck dari tambang menuju ke stockpile.
b. Sebelum mobil pengangkut (dump truck) masuk ke stockpile terlebih dahulu harus melewati jembatan timbang batubara (JBB) untuk ditimbang.
c. Harus memastikan batubara akan ditempatkan di stockpile sesuai dengan kualitas dari batubara itu sendiri.
5. Hasil Yang Dicapai
Hasil yang dicapai dalam kegiatan ini adalah untuk memastikan penempatan batubara di stockpile sesuai dengan jenis dan kualitasnya. 6. Pembahasan
Proses pemuatan batubara ke alat angkut dilakukan oleh unit excavator dengan tipe dan jumlah alat yang digunakan adalah Dossan 500 1 Unit, dimana alat angkut yang digunakan yaitu dump truck dengan tipe dan jumlahnya adalah Nissan CWA 7 unit dengan kapasitas muatan 20 ton . Selanjutnya batubara tersebut diangkut menuju ke stock room dan stock pile. Hal ini mengingat jalur dari tambang ke pangkalan (stock room dan stock pile) berjarak ± 7 km dengan kondisi jalan agregat 1 ½, yang cukup bagus.
Rata-rata volume batubara yang dihasilkan selama proses pengangkutan adalah sebanyak:
a. Untuk daerah Pit 2 jumlah batubara yang dihasilkan sebanyak 1.252 Ton/hari.
b. Untuk daerah Pit 3 jumlah batubara yang dihasilkan sebanyak 1.252 Ton/hari.
Jumlah produksi batubara di PT. Pipit Mutiara Jaya sebanyak 50.000 Ton/bln.
5. Proses Pengapalan Batu Bara 1. Tujuan
Kegiatan pengapalan batubara bertujuan untuk mengangkut batubara dari lokasi penimbunan akhir di crusher menuju ke kapal ponton.
2. Dasar Teori
Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan batubara dari daerah tambng ketempat pengolahan dan pemurnian sampai tempat penyerahan.
Anonim (2012), menyatakan bahwa kegiatan pengapalan batubara dilakukan dengan menggunakan sistem Conveyor, yaitu stock batubara diambil (sesuai spesifikasi permintaan pasar) dan diangkut oleh unit DT dan di dumping ke hopper conveyor, untuk selanjutnya belt conveyor mengangkut batubara hingga ke ujung jetty dan menuangkan batubara ke tongkang yang telah tersandar secara aman.
Jika kebetulan sistem Conveyor ini mengalami kendala teknis, maka system pengapalan penggantinya berupa system trucking, yaitu unit dump truck membawa muatan batubara dari stockpile menuju ujung jetty dan
naik masuk ke dalam tongkang dan menurunkan muatannya. Demikian seterusnya secara berulang-ulang hingga kapasitas muat tongkang terpenuhi, yaitu sekitar lebih kurang 6.000 MT.
Pengiriman batu bara merupakan batu bara yang sudah dipisahkan berdasrkan jenis dan kualitasnya yang siap dipasarkan keberbagai tempat (lokal maupun internasional).
3. Alat dan Bahan
a. Alat : buku catatan, bolpoin.
b. Bahan : Hasil Observasi dengan Manager Mine Opration 4. Prosedur Kerja
a. Batubara olahan diagkut menuju ke crusher dengan menggunakan dump truck.
b. Batubara yang telah melewati crusher selanjutnya akan dibawa ke ponton melalui belt konveyor (BC) 1 dan 2.
c. Tiap-tiap batubara yang melewati belt konveyor akan diambil sampelnya untuk memastikan kualitas batubara yang akan dimuat ke kapal ponton. d. Terdapat pengawasan di kapal ponton oleh forman untuk mengarahkan
crew pada saat proses pemuatan. 5. Hasil Yang Dicapai
Untuk mengisi satu kapal ponton dengan kapasitas angkut 5.000-6.000 ton diperlukan waktu selama 1 hari dengan dengan 8 unit dump truck, 4 unit exacavator PC 400 dan 2 unit bulldozer.
6. Pembahasan
Kegiatan pengapalan yang dilakukan oleh PT. Pipit Mutiara Jaya menggunakan sistem otomatis yaitu dengan cara loading yang menggunakan transfer conveyor untuk mengangkut batubara kedalam kapal ponton.
D. Tahap Pasca Operasi Pertambangan Batu Bara 1. Kegiatan Coorporate Social Responsibility (CSR) 1. Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensejahterahkan masyarakat desa Pembliangan yang ada di sekitar wilayah areal tambang.
2. Dasar Teori
Tanggung jawab sosial perusahaan atau Coorporate Social Responsibility (selanjutnya disingkat CSR) adalah suatu konsep organisasi, khususnya tanggung jawab perusahaan terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.
Lebih lanjut dikatakan bahwa CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjuta n", di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.
Pendanaan CSR biasanya diambil dari beberapa persen dari keuntungan perusahaan setelah pajak. Dalam dokumen Kementerian BUMN, ditetapkan dana CSR yang juga disebut di kalangan BUMN dengan PKBL, program kemitraan dan bina lingkungan, masing masing 2% dalam program kemitraan dan 2% untuk program bina lingkungan. Jadi total dana CSR maksimal adalah 4% di kalangan BUMN. Beberapa perusahaan menetapkan 10% keuntungan dari perusahaan. (Anonim, 2012).
3. Alat dan Bahan
a. Alat : buku catatan, bolpoin.
b. Bahan : data dari kantor desa (data penduduk kurang mampu). 4. Proseder Kerja
a. Melakukan diskusi dengan tokoh masyarakat.
b. Mendata jumlah penduduk kurang mampu yang ada di desa Pembliangan.
c. Mengobservasi kebutuhan warga sekitar yang ada di desa Pembliangan.
d. Membeian bantuan dan pelatihan kepada masyarakat. 5. Hasil Yang Dicapai
Hasil yang dicapai dalam kegiatan ini adalah untuk mengetahui jumlah warga sekitar desa Pembliangan yang kurang mampu dan memberikan bantuan kepada masyarakat.
Sebelum pemberian bantuan pihak perusahaan PT. Pipit Mutara Jaya terlebih dahulu melakukan pendekatan dengan beberapa tokoh masyarakat yang ada di desa Pembliangan Kecamatan Sebuku Kabupaten Nunukan. Bantuan yang diberikan oleh perusahaan adalah berupa pelatihan keterampilan (otomotif/bengkel), uang tunai dan beasiswa bagi mahasiswa yang berpestasi dan kurang mampu yang berdomisili di desa Pembliangan.