NO NAMA KBIH KETUA KBIH ALAMAT
C. Pengelolaan Dana Setoran Awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH)
1. Biaya
Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) adalah sejumlah dana yang harus dibayar oleh warga negara yang akan menunaikan ibadah haji.74 Setoran awal BPIH merupakan salah satu syarat untuk memperoleh nomor porsi Jamaah Haji pada saat mendaftar sebagai Jamaah Haji.
Besaran pembayaran setoran awal ditetapkan oleh Menteri, dalam hal ini menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah bidang agama.
Kemudian setoran lunas BPIH dibayarkan sebesar selisih BPIH dengan setoran awal dan nilai manfaat (yang diperoleh dari hasil pengembangan Keuangan Haji).75
Berdasarkan Keputusan Menteri Agama tentang Pembayaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler tahun 2018 untuk Embarkasi Jakarta (Bekasi) sebesar Rp. 34.532.190.00, besaran BPIH tersebut dipergunakan untuk biaya penerbangan haji, sebagian biaya pemondokan di Mekkah, dan biaya hidup (living cost).76 Jamaah haji asal kota Cirebon termasuk rombongan jamaah Embarkasi Jakarta (Bekasi), sehingga biaya pelunasan yang harus disetorkan adalah dengan jumlah sebesar Rp.
34.532.190.00 dengan memperhitungkan setoran awal BPIH. Pembayaran tersebut disetorkan ke rekening Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) melalui bank penerima setoran (BPS) BPIH yang sudah ditunjuk oleh BPKH.
2. Lembaga
Keuangan haji adalah semua hak dan kewajiban pemerintah yang dapat dinilai dengan uang terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji serta semua kekayaan dalam bentuk uang atau barang yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut, baik
74 Undang-Undang No 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, (Jakarta:
Sekertaris Negara, 2009).
75 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomr 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji, (Jakarta: Sekretaris Negara, 2018).
76 Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 220 Tahun 2018 tentang Pembayaran Biaya Penyelengaraan Ibadah Haji Tahun 1439 H/ 2018 M, (Jakarta: 2018)
yang bersumber dari jamaah maupun sumber lain yang sah dan tidak mengikat.77 Dari penjelasan tersebut berarti pelaksanaan ibadah haji di Indonesia dikelola oleh pemerintah, dalam hal ini adalah Kementerian Agama.
Namun di awal tahun 2018 Kementerian Agama tidak lagi mengelola dana haji, hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 5 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji. Dalam PP yang telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 13 Februari 2018 tersebut, dana haji resmi dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Bukan hanya memegang dana pelaksanaan ibadah haji, BPKH juga nantinya akan mengelola dana efisiensi penyelenggaraan ibadah haji.
Selain itu, tertuang juga tata cara pengeluaran penempatan, dan investasi keuangan haji yang bisa dilakukan oleh BPKH.78
BPKH dalam melaksanakan tugas dan fungsinya berkoordinasi dengan kementeriaan/lembaga terkait dengan pengelolaan ibadah haji, jasa keuangan dan investasi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Hal tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan Keungan Haji serta pengembangan dan peminaaan kelembagaan BPKH.79
3. Pengelolaan
Kementerian Agama kota Cirebon mengaku tidak mengetahui secara pasti terkait dana calon jamaah haji yang terkumpul, karena setoran awal BPIH maupun pelunasannya lansung disetorkan pihak calon jamaah kepada bank BPS-BPIH.80
77 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Haji. pasal 1 ayat 1
78 https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3898408/aturan-main-pengelolaan-dana-haji-terbit-bisa-dipakai-apa-saja/6 diakses pada tanggal 15-03-2018 pkl 15:20 wib
79 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Haji. Bab VIII pasal 55
80 Jajang Badruzman, wawancara 15 Mei 2018
Dalam PP no 5 tahun 2018 paragraf 4 tentang Pengeluaran Penempatan dan/atau Investasi Keuangan Haji pasal 26 menyebutkan:
a. Pengeluaran untuk penempatan Keuangan haji dapat dilakukan dalam bentuk produk perbankan syariah.
b. Pengeluaran untuk investasi Keuangan Haji dapat dilakukan dalam bentuk surat berharga, emas, investasi langsung dan investasi lainnya.
c. Pengeluaran untuk penempatan dan/atau investasi Keuangan Haji dilakukan sesuai prinsip syariah dengan mempertimbangkan aspek keamanan, kehati-hatian, nilai manfaaat, dan likuiditas.
d. Pengeluaran investasi Keunagan Haji wajib dilakukan dengan mengoptimalkan pengelolaan resiko.
Produk perbankan syariah sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 ayat (1) meliputi;
a. giro,
b. deposito berjangka, c. tabungan.
Selama 3 (tiga) tahun sejak BPKH terbentuk, pengeluaran Keuangan Haji dalam bentuk penempatan pada produk perbankan syariah paling banyak 50% (lima puluh persen) dari total penempatan dan investasi Keuangan Haji. Untuk selanjutnya setelah 3 (tiga) tahun BPKH terbentuk, pengeluaran Keuangan Haji dalam bentuk penempatan produk perbankan syariah paling banyak 30% (tiga puluh persen) dari total penempatan dan investasi Keuangan Haji. Sisa dari total penempatan Keuangan Haji pada produk perbankan syariah dialokasikan untuk investasi.
Investasi Keungan Haji dalam bentuk surat berharga sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 ayat (2) meliputi:
a. surat berharga syariah yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
b. surat berharga syariah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.
c. efek syariah yang diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
meliputi:
1) saham syariah yang dicatatkan dibursa efek 2) sukuk
3) reksadana syariah
4) efek beragun aset syariah 5) dana investasi real estat syariah 6) efek syariah lainnya
Investasi Keungan Haji dalam benrtuk emas sebagimana dimaksud dalam pasal 26 ayat (2) hanya dapat dilakukan dalam bentuk emas batangan bersertifikat yang diproduksi dan/atau dijual dalam negeri dana/atau dalam bentuk rekening emas yang dikelola oleh lembaga keuangan syariah yang diatur diawasi oleh Otoritas jasa keuangan.
Investasi dalam bentuk emas paling banyak 5% (lima persen dari total penempatan dan/atau investasi Keuangan haji. Investasi lainnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 ayat (2) ditetapkan oleh BPKH dan paling banyak 10% (sepuluh persen) dari total penempatan dan/atau investasi Keuangan Haji. Investasi yang dilakukan dalam rangka mengembangkan Keuangan Haji dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.81
BPKH baru mengelola dana pada awal Januari 2018, hingga Maret 2018 total dana yang dikelola BPKH sebanyak Rp. 105.191.373.936.614.
Menurut Anggito Abimanyu selaku Kepala BPKH dana tersebut dikelola dengan berbagai bentuk investasi yang berhubungan langsung dengan jamaah haji seperti investasi langsung di Arab Saudi. Selain itu dana tersebut dikelola dalam bentuk surat berharga.
BPKH baru terbentuk satu tahun lalu, selama setahun itu BPKH telah banyak melakukan berbagai upaya untuk mengelola dana haji, diantaranya melakukan penunjukan 31 Bank Penerima Setoran Biaya
81 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 5 tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tetang Pengelolaan Keuangan Haji. Paragraf 4 pasal 26 dan 27.
Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS-BPIH) dan 15 manajer investasi, membuat kesespakatan kerja sama keuangan haji dengan Kementerian Keuangan, IDB (Islamic Development Bank), kerjasama dengan pemilik hotel dan katering di Arab Saudi.82
82 http://www.bpkh.go.id/berita-783-bpkh-kelola-dana-haji-rp-105-triliun-investasikan-kemana.html diakses pada tanggal 18 Juli 2018 pukul 21.45 wib.