• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Keuangan APBD dalam Pelaksanaan

BAB III : PENGELOLAAN KEUANGAN APBD DALAM

B. Pengelolaan Keuangan APBD dalam Pelaksanaan

Kebebasan bergerak yang diberikan kepada daerah otonomi berarti memberi kesempatan kepadanya untuk mempergunakan prakarsanya sendiri dari segala macam kekuasaannya untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). Pemerintahan yang demikian itu dinamakan Otonom.

Dalam uraian yang lain logemann menyatakan bahwa kekuasaan bertindak merdeka (Vrij Beweging) yang diberikan kepada satuan kenegaraan yang memerintah sendiri daerahnya itu, adalah kekuasaan yang berdasarkan inisiatif sendiri dan Pemerintahan yang berdasarkan inisiatif sendiri inilah yang disebut otonomi.68

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merumuskan, bahwa Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan perundang-undangan.

Reformasi di segala bidang yang di dukung oleh masyarakat dalam mensikapi permasalahan yang terjadi, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah menyebabkan lahirnya otonomi daerah sebagai salah satu tuntutan reformasi. Indonesia memasuki Era Otonomi Daerah dengan diterapkannya Undang-

68

Van Vollen Hoven mennyebut istilah otonomi dengan “Eigenmeesterscha selain itu juga terdapat beberapa pendapat sarjana yang menjelaskan pengertian otonomi diantaranya, Syariff Saleh yang menyimpulkan otonomi itu sebagai hak mengatur dan memerintah daerah sendiri. Atas inisiatif dan kemauan sendiri. Hak mana diperoleh dari Pemerintah Pusat. Wayong berpendapat bahwa otonomi daerah itu adalah kebebasan untuk memelihara dan memajukan kepentingan khusus daerah, dengan keuangan sendiri menetukan hukum sendiri dan berpemerintahan sendiri. F. Sugeng Istanto menyatakan bahwa otonomi diartikan sebagai hak atau wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah. Kemudian Ateng Syafruddin berpendapat bahwa istilah “otonomi” mempunyai makna kebebasan atas kemandirian (Zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (Onafhankelijkheid). Kebebasan yang yang terbatas atau kemandirian itu adalah wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. Dari sekian banyak pendapat yang telah dikemukakan tentang apa sebenarnya otonomi itu yang pada prinsipnya selalu melihat otonomi itu sebagai suatu hak dan kewenagan dari suatu daerah untuk mengatur daerahnya sendiri. Daerah yang mendapat hak otonom disebut sebagai daerah otonom. Selanjutnya menurut Sugeng Istanto yang dimaksud dengan daerah otonom sebenarnya sebagian dari Organisasi Jabatan-Jabatan Negara yang merupakan suatu kesatuan (ysng batas tugas dan wewenangnya hanya meliputi sebagian tertentu dari wilayah negara yang bersangkutan) yang mempunyai “Zelfstandigheid”. Adapun “Zelfstandigheid” ini meliputi sebagian 3 hal, yakni dalam kedudukannya secara organisatoris terhadap Pemerintah Pusat atau Pemerintah yang lebih tinggi, dalam tugas serta wewenang dan dalam pembiayaannya.,Ibid, Victor M. Situmorang, Hukum Administrasi Pemerintahan Daerah, hlm. 63.

undang Nomor 22 Tahun 1999 (kemudian menjadi UU No.32 Tahun 2004) tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 (kemudian menjadi UU No.33 Tahun 2004 ) tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Dalam UU No.32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar urusan pemerintah pusat yang ditetapkan dalam undang-undang tersebut. Selain itu juga dilaksanakan pula dengan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab.

Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip yang menegaskan bahwa urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup, dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah.

Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannnya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sebagai bagian utama dari tujuan nasional.

Penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memerhatikan kepentingan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat. Untuk itu, otonomi daerah diharapkan dapat (1) menciptakan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah, (2)

meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat, (3) membudayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Dalam otonomi daerah, pimpinan daerah memegang peran sangat srategis dalam mengelola dan memajukan daerah yang dipimpinnya. Perencanaan strategis sangat vital, karena disanalah akan terlihat dengan jelas peran kepala daerah dalam mengoordinasikan semua unit kerjanya.69

Betapapun besarnya potensi suatu daerah, tidak akan optimal pemanfaatannya bila bupati/walikota tidak mengetahui bagaimana mengelolanya. Sebaliknya, meskipun potensi suatu daerah kurang, tetapi dengan strategis yang tepat untuk memanfaatkan bantuan dari pusat dalam memberdayakan daerahnya, maka akan semakin meningkatkan kemampuan sumber daya manusia yang ada.

Pengelolaan keuangan daerah dijabat oleh kepala pemerintahan daerah, karena keuangan daerah merupakan bagian dari kekuasaan pemerintahn daerah.70

Seagaimana dijelaskan dalam Pasal 156 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004, kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. Untuk itulah, perlu kecakapan yang tinggi bagi pimpinan daerah agar pengelolaan dan terutama alokasi dari keuangan daerah dilakukan secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan daerah.

69

Aheruddin, www. Sumbawa News.Com diakses tanggal 20 Juli 2009

70

Dalam rangka kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan oleh kepala satuan kerja pengelola keuangan selaku pejabat pengelola APBD, dan kepala satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat pengguna anggaran/barang daerah.71

Otonomi daerah harus diikuti dengan serangkaian reformasi sektor publik. Dimensi reformasi sektor publik tersebut tidak sekadar perubahan format lembaga, akan tetapi menyangkut pembaruan alat-alat yang digunakan untuk mendukung berjalannya lembaga-lembaga publik tersebut secara ekonomis, efisien, efektif transparan, dan akuntabel sesuai dengan cita-cita reformasi yaitu menciptakan good

governace benar-benar tercapai.72

Untuk mewujudkan good governace diperlukan reformasi kelembagaan

(institutional reform) dan reformasi manajemen publik (public management reform).

Reformasi kelembagaan menyangkut pembenahan seluruh alat-alat pemerintahan di daerah, baik struktur maupun infrastrukturnya.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.

APBD terdiri atas Anggaran Pendapatan, dan Anggaran Belanja. Anggaran Pendapatan terdiri atas Pendapatan Daerah (PAD), yang meliputi pajak daerah,

71

Lihat Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 17 tahun 2003, tentang Keuangan Negara.

72

retribusi daerah hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain Bagian dana perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK), Lain-lain Pendapatan yang sah seperti dana hibah atau dana darurat.73

Anggaran Belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas Pemerintahan di daerah. Terdiri dari, Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang berjalan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

Reformasi manajemen sektor publik terkait dengan perlunya digunakan model manajemen pemerintahan yang baru yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, misalnya new publik management yang berfokus pada manajemen sektor publik yang berorientasi pada kinerja, bukan berorinentasi pada kebijakan. Penggunaan paradigma new public management tersebut menimbulkan beberapa konsekuensi bagi pemerintah. di antaranya perubahan pendekatan dalam penganggaran, yakni dari penganggaran tradisional (traditional budget) menjadi penganggaran berbasis kinerja (performance budget), tuntutan untuk melakukan efisiensi, pemangkasan biaya (cost cutting), dan kompetensi tender (compulsory

competitive tendering contract).74

Sejalan dengan perlunya dilakukan reformasi sektor publik, diawal periode otonomi daerah, telah keluar sejumlah peraturan pemerintah (PP) sebagai

73

’’Hal Keuangan Negara’’, www. Wikipedia.com, diakses tanggal 7 Agustur 2009

74

operasionalisasi dari Undang-undang Otonomi daerah. Kelemahan perundang- undangan dalam bidang keuangan daerah selama ini menjadi salah satu penyebab terjadinya beberapa bentuk penyimpangan dalam pengelolaan keuangan negara.

Dalam upaya menghilangkan penyimpangan tersebut dan mewujudkan sistem pengelolaan fiskal yang berkesinambungan (sustainable) sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam undang-undang dasar dan asas-asas umum yang berlaku secara universal, maka dalam penyelenggaraan pemerintahan negara diperlukan suatu undang-undang yang mengatur pengelolaan keuangan negara. Adapun kekuasaan pengelolaan keuangan daerah menurut Pasal 6 UU No. 17 Tahun 2003 merupakan bagian dari kekuasaan pengelolaan keuangan negara. Dalam hal ini presiden selaku kepala pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan, kemudian diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Selanjutnya, kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan oleh masing-masing kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku pejabat pengelola APBD dan dilaksanakan oleh kepala satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat pengguna anggaran/barang daerah.

Dalam era otonomi daerah, penelitian dan kajian mengenai kondisi makro ekonomi daerah semakin besar kebutuhannya, kondisi makro ekonomi daerah yang perlu dikaji adalah :75

a. Pertumbuhan ekonomi daerah

b. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)

c. Perkembangan ekonomi sektoral daerah, misalnya : 1) Pertanian

2) Industri pengolahan 3) Pertambangan

4) Listrik, gas, dan air bersih 5) Bangunan

6) Perdagangan, hotel, dan restoran 7) Pengangkutan dan komunikasi

8) Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 9) Perbankan daerah

10)Jasa-jasa

d. Perkembangan harga-harga di daerah (laju inflasi di daerah) e. Arus investasi di daerah (PMDN dan PMA)

f. Kependudukan, antara lain: 1) Pertumbuhan penduduk

75

2) Ketenagakerjaan (tingkat pengangguran) 3) Kemiskinan

4) Perkembangan Pendidikan 5) Pertumbuhan kesehatan

g. Keuangan pemerintah daerah (APBD)

Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal akan memberikan implikasi penting terhadap kinerja perekonomian daerah. Kinerja perekonomian daerah dipengaruhi oleh arah dan kebijakan fiskal dan moneter. Oleh karena itu, perlu dilakukan harmonisasi kebijakan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah yang dilakukan melalui penetapan perpajakan, kebijakan pinjaman luar negeri dan pengaturan surplus dan defisit anggaran harus tetap memperhatikan kepentingan dan kondisi daerah.

Pelaksanaan otonomi daerah sudah tentu akan mempengaruhi sektor perbankan di daerah. Seiring dengan tujuan pelaksanaan otonomi daerah perbankan di daerah perlu menyelaraskan perkembangan ekonomi di daerah. Perbankan di daerah dihadapkan pada tantangan baru yaitu :76

a. Peran perbankan daerah dalam mendorong perekonomian daerah

b. Mengembangkan kerjasama dengan DPRD, pemerintah daerah, dan kemitraan dengan pengusaha daerah terutama usaha kecil dan menengah.

c. Meningkatkan mutu pelayanan dan produk-produk perbankan

76

d. Meningkatkan kualitas SDM

e. Meningkatkan kualitas penelitian dan riset mengenai potensi ekonomi daerah f. Memperbaiki manajemen perbankan daerah

g. Persaingan antar bank di daerah, misalnya BRI, BPD, BPR, Bank Syariah, dan sebagainya.

Dalam era otonmi daerah, pemerintah daerah tidak lagi diwajibkan untuk menggunakan satu bank (BPD) untuk administrasi keuangan daerah. Pada prinsipnya, pemerintah dapat bekerja sama dengan bank yang memberikan keuntungan terbesar bagi pemerintah daerah.

Oleh karena itu perbankan di daerah dituntut untuk dapat bersaing dalam memberikan pelayanan dan menghasilkan produk-produk perbankan yang menarik bagi masyarakat daerah. Perbankan di daerah juga dituntut dapat mengembangkan kerjasama (contract culture) dengan cara membina hubungan baik dengan pelaku kunci (key players) di daerah, yaitu :77

1) Masyarakat daerah 2) DPRD 3) Pemerintah Provinsi 4) Pemerintah Kabupaten/Kota 5) Pengusaha Daerah 77 Ibid., hlm. 71

Di sisi lain, pelaksanaan otonomi daerah juga menyebabkan munculnya

key players di daerah. Pemain baru yang menjadi pemain kunci nantinya adalah

DPRD. Perbankan di daerah perlu melakukan kerjasama dengan pemain di daerah, terutama adalah DPRD, masyarakat, pemerintah daerah, dan pengusaha di daerah. Perbankan di daerah juga dituntut untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja manajemennya karena mereka dihadapkan pada persaingan di tingkat daerah.78

Selain itu perbankan daerah juga harus mengikuti perkembangan moneter yang terjadi, diantaranya adalah perkembangan tingkat suku bunga, nilai tukar, perkembangan uang kartal, dana masyarakat yang berhasil dihimpun perbankan, perkembangan kredit dan perkembangan system pembayaran.

Desentralisasi di sektor kesehatan akan menimbulkan perubahan-perubahan dalam sistem kesehatan nasional, yaitu :79

a. Struktur otoritas kesehatan

Struktur otoritas kesehatan ini perlu adanya Kejelasan wewenang dan yang bertanggungjawab mengurusi masalah kesehatan apakah pemerintah propinsi atau kabupaten, apakah kepala dinas atau kepala departemen kesehatan. Dengan adanya UU No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintan Daerah hal tersebut sudah jelas. 78 Ibid., hlm. 72 79 Ibid.,hlm. 75

b. Jaringan dan fungsi-fungsi penting

Berdasarkan PP No. 45 Tahun 1992 terdapat perbedaan fungsi yang jelas berkenaan dengan fungsi pemerintah propinsi dan kabupaten. Pemerintah pusat menyerahkan wewenang kepada pemerintah propinsi untuk urusan-urusan sebagai berikut :

1. Kepentingan yang melibatkan lebih dari satu kabupaten dan kota. 2. Pengaruhnya kecil terhadap pembangunan dan pertumbuhan daerah.

3. Penerapannya akan lebih efisien dan efektif jika dikerjakan oleh pemerintah propinsi.

Karena tidak semua urusan pemerintah pusat dapat diberikan kepada pemerintah daerah, maka pengelolaan urusan-urusan pemerintah pusat di daerah dipegang oleh kantor wilayah. Dalam bidang kesehatan urusan tersebut adalah petunjuk teknis dan pengawasan yang meliputi perencanaan pembangunan kesehatan, standarisasi, perijinan, pengendalian dan evaluasi. Petunjuk teknis dan pengawasan terhadap puskesmas, rumah sakit daerah, akademi kesehatan dan keperawatan diserahkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota.80

Berdasarkan PP No. 47 Tahun 1987 urusan-urusan kesehatan dan fasilitasnya yang akan dimiliki pemerintah daerah menjadi tanggungjawab sendiri. Pemerintah daerah diberi hak untuk menyediakan pelayanan kesehatan dasar termasuk pelayanan

80

kesehatan utama.81 Berdasarkan Pasal 4 urusan-urusan yang diserahkan kepada pemerintah daerah adalah :82

a. Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana b. Perbaikan gizi

c. Sanitasi dan higienis d. Kesehatan lingkungan

e. Pengawasan dan pencegahan penyakit f. Kesehatan sekolah

g. Perawatan kesehatan umum h. Kesehatan mulut dan gigi i. Laboratorium sederhana j. Penelitian terhadap penyakit

k. Pengembangan peran serta masyarakat l. Pemeliharaan kesehatan

m. Penyembuhan dan pengobatan n. Keperawatan

o. Kesehatan utama

p. Penyediaan obat-obatan dan layanan kesehatan

Sedangkan tanggung jawab dan wewenang didelegasikan kepada pemerintah propinsi adalah :83

81

Lebih lanjut lihat Pasal 3 PP No. 47 Tahun 1987

82

1) Perencanaan urusan-urusan kesehatan pemerintah daerah dalam bidang kesehatan mempertimbangkan seluruh sumber dana dan dilaksanakan secara integral dengan melibatkan rumah sakit-rumah sakit dan unit-unit teknis pelaksanaan kesehatan pemerintah daerah.

2) Pelaksanaan urusan-urusan kesehatan pemerintah daerah melalui rumah sakit- rumah sakit dan unit-unit pelaksana kesehatan yang lain.

2) Pengawasan, evaluasi dan monitoring pelaksanaan urusan-urusan kesehatan secara internal yang dijalankan oleh rumah sakit dan unit-unit pelaksana teknis lainnya.

3) Perijinan.

4) Standarisasi pelayanan kesehatan

5) Penyelenggaraan pendidikan kesehatan sesuai dengan kemampuan pemerintah daerah dan peraturan yang ada.

6) Penaksiran kebutuhan pelayanan kesehatan dan membentuk rencana pelatihan pegawai pemerintah daerah.

7) Penyelenggaraan pelatihan pegawai-pegawai pemerintah daerah.

8) Pengaturan administrasi pegawai meliputi : pengangkatan, pergeseran, dan pemindahan.

9) Menggunakan bantuan pegawai pemerintah pusat untuk melaksanakan urusan kesehatan.

83

10) Pendirian dan pemeliharaan kesehatan.

11) Pelaksanaan kerjasama dalam bidang kesehatan sesuai dengan arahan Menteri Kesehatan.

12) Mencatat dan melaporkan kegiatan-kegiatan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan kegiatan-kegiatan lainnya sesuai dengan arahan Menteri Kesehatan.

Ada beberapa jenis pengawasan yang menjamin akuntabilitas administrasi secara rutin dan usaha-usaha pembangunan yaitu:84

1) Pengawasan internal

Pengawasan internal adalah pengawasan yang dijalankan oleh pengawas terhadap bawahannya dalam unit kerjanya. Pencapaian tujuan organisasi dan pelaksanaannya atau gambaran tentang organisasinya adalah tanggungjawab pemimpin organisasi. Demikian juga masalah-masalah yang dihadapi organisasi atau kualitas sumber daya manusia organisasi.

2) Pengawasan fungsional

Pengawasan fungsional adalah pengawasan yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga yang kewajiban utamanya adalah mengawasi seperti unit internal, Inspektorat Propinsi, Inspektorat Kabupaten/Kota, Keuangan dan pembangunan, Inspektorat Jenderal Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

84

Philipus M Hadjon, dkk, Pengantar Hukum administrasi Indonesia, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1994), hlm. 74-78

3) Pengawasan legislatif

Pengawasan Legislatif adalah pengawasan yang dijalankan oleh DPR dan DPRD, berdasarkan UUD 1945 DPR memilki kewajiban untuk menjalankan pengawasan terhadap pemerintah

4) Pengawasan Masyarakat

Pengawasan masyarakat adalah pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat seperti media massa, LSM, ormas, dan lain-lain

5) Pengawasan hukum

Pengawasan hukum adalah pengawasan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung (MA). MA memiliki wewenang dan kewajiban untuk menjalankan pengawasan atas pemerintah dalam bidang perundang-undangan.

Desentralisasi kesehatan menuntut perbaikan system pembiayaan dan manajemen keuangan daerah. Masalah pembiayaan selalu menjadi hambatan utama dalam mewujudkan otonomi daerah termasuk sektor kesehatan. Permasalahan kedua adalah pemerintah daerah kabupaten pada umumnya memiliki Pendapan Asli Daerah (PAD) yang rendah. Oleh karena itu pemerintah daerah kabupaten/kota perlu melakukan usaha-usaha sebagai berikut :

1. Meninjau Perda yang berhubungan dengan tarif yang tidak sesuai lagi.

2. Memperbaiki fasilitas-fasilitas pelayanan umum agar menarik masyarakat untuk menggunakannya.

3. Meningkatkan kegiatan komunikasi dan pendidikan kesehatan untuk masyarakat. 4. Memperbaiki pengawasan atas manajemen keuangan daerah.

Pembangunan sistem kesehatan nasional tidak hanya menjadi tanggungjawab dari sektor kesehatan seperti dokter, paramedik, dinas kesehatan, departemen kesehatan dan sejenisnya tetapi merupakan tanggungjawab seluruh elemen bangsa. Tanggung jawab itu dapat berupa partisipasi dalam pelaksanaan ataupun pada level makro yaitu penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan. Kebijakan pembangunan kesehatan hendaknya diwujudkan dengan paradigma health for all

dalam praktek yang sesungguhnya melalui desentralisasi kesehatan.

Konsekuensi logis dari paraktek health for all sejalan dengan prinsip-prinsip yang mendasari pelaksanaan otonomi luas dan desentralisasi yaitu keadilan demokrasi, partisipasi, efisiensi, dan efektifitas.

Desentralisasi kekuasaan dan otonomi daerah termasuk bidang kesehatan menuntut kita untuk mengetahui gambaran-gambaran mengenai bentuk-bentuk desentralisasi yang berupa struktur otoritas kesehatan; jaringan dan fungsi-fungsi penting; tangungjawab dan wewenang yang didelegasikan dan akuntabilitas.

Kedudukan perguruan tinggi di suatu daerah tidak terlepas dari misi kemasyarakatannya. Oleh karena itu penerapan desentralisasi dan otonomi daerah merupakan perubahan lingkungan eksternal yang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi.

Jika perguruan tinggi tersebut mampu berperan dalam pembangunan masyarakat didaerahnya maka kehidupan perguruan tinggi di tengah masyarakat akan menjadi lebih bermakna, sehingga perguruan tinggi bukan hanya untuk kepentingan

perguruan tinggi semata melainkan untuk kepentingan masyarakat (education for society).

Peran dan kedudukan perguruan tinggi diatur berdasarkan tridharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Bila dilihat dari tridharma tersebut, maka perguruan tinggi di Indonesia seharusnya memiliki misi sosial yaitu pengabdian masyarakat selain menjalankan fungsi pengajaran dan penelitian.

Dalam konteks penerapan desentralisasi dan otonomi daerah terdapat hubungan timbal balik yang kuat antara perguruan tinggi pada satu sisi dengan pemerintah daerah dan masyarakat pada sisi lain. Perguruan tinggi dengan tridharma memungkinkan dirinya memiliki kedudukan sebagai mitra pemerintah daerah dan masyarakat daerah.

Dengan kedudukan tesebut perguruan tinggi merupakan potensi sumber daya intelektual yang dimiliki masyarakat daerah. Peranan perguruan dalam suatu daerah otonom adalah menciptakan wacana publik atau ruang-ruang publik yang bebas (free

public sphere) dan kondusif untuk tumbuhnya suatu horizontal communication yang

merupakan prasyarat dari terselengaranya otonomi daerah yang luas dan demokratis. Sebaliknya penyelenggaraan otonomi daerah, maka kedudukan masyarakat terhadap perguruan tinggi adalah sebagai laboratorium penelitian dan pendidikan dari perguruan tinggi.

Masyarakat dan pemerintah dapat belajar segala sesuatu dari perguruan tinggi sehingga akan terbentuk komunitas masyarakat yang cerdas. Keuntungan masyarakat

dengan berperannya perguruan tinggi adalah pembangunan sumber daya masyarakat. Disinilah letaknya hubungan simbiosis mutualisme dari hubungan antara masyarakat dan perguruan tinggi, masyarakat dapat mengembangkan potensi kemanusiaannya dan perguruan tinggi dapat mengembangkan potensi ilmu pengetahuannya kepada masyarakat.

Berdasarkan paparan diatas dijelaskan bahwa kedudukan perguruan tinggi adalah sebagai mitra masyarakat dan masyarakat daerah yang sejajar, ia berperan menumbuh kembangkan iklim yang kondusif bagi terciptanya horizontal

communication. Permasalahan selanjutnya adalah bahwa untuk menumbuhkan dialog

yang sederajat memerlukan prasyarat yaitu pembangunan sumber daya yang seimbang antara masyarakat dan pemerintah daerah, oleh karena itu perguruan tinggi memiliki tugas atau peranan secara khusus untuk membangun prasyarat-prasyarat tersebut.

Dengan kata lain hal-hal tersebut adalah peluang-peluang sekaligus tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dalam era otonomi daerah sebagai berikut :

1) Pendidikan 2) Penelitian

3) Pembangunan sumber daya aparat 4) Pusat data

5) Jaringan Internasional

6) Konsultan ekonomi masyarakat 7) Pengembangan kesehatan masyarakat

8) Pengembangan kebudayaan daerah 9) Perencanaan pembangunan

10) Pengelolaan keuangan daerah

Adapun peran perguruan tinggi dalam hal ini adalah :

1. Merumuskan visi misi pengelolaan keuangan daerah yang berorientasi kepada publik

2. Pengembangan sistem informasi keuangan daerah untuk menyediakan informasi anggaran yang akurat dan pengembangan komitmen pemerintah daerah terhadap penyebarluasan informasi sehingga memudahkan pelaporan dan pengendalian, serta memudahkan informasi

3. Melakukan pembinaan dan pengawasan yang meliputi batasan pembinaan, peran asosiasi, dan peran anggota masyarakat guna pengembangan profesionalisme aparatur pemerintah daerah.

Masyarakat juga diuntungkan dengan adanya perguruan tinggi dalam menghadapi otonomi daerah berupa sumbangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi dan lain lain. Satu hal sumbangan perguruan tinggi terhadap penyelenggaraan otonomi daerah adalah perannya dalam menciptakan ruang-ruang publik yang bebas (free public sphere) bagi proses demokratisasi sebagai landasan dari penyelenggaraan otonomi daerah.

Pengelolaan keuangan daerah harus transparansi yang mulai dari proses perencanaan, penyusunan, pelaksanaan anggaran daerah. Selain itu, Akuntabilitas dalam pertanggungjawaban publik juga diperlukan, dalam arti bahwa proses

penganggaran mulai dari perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan harus benar- benar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada DPRD dan masyarakat.

Dokumen terkait