• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan tanaman pokok sengon juga sangat bergantung pada sistem pengelolaan lahan dan pemeliharaannya. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan meliputi: penyiangan, pendangiran, pemangkasan, dan pemupukan. Penyiangan gulma pada pola AF1 dan AF2 dilakukan setiap 2 minggu sekali bersamaan dengan kegiatan pendangiran. Pada pola AF3, penyiangan dilakukan setiap 3 minggu sekali bersamaan dengan pendangiran. Menurut Anino (1997) diacu dalam Krisnawati (2011), selama satu tahun pertama pohon harusbersih dari alang-alang paling tidak 2 m di sekitar pohon. Penyiangan dilakukan untuk memberikan ruang tumbuh pada tanaman pokok yang lebih baik dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan persen jadi tanaman, serta untuk memperkecil persaingan dalam hal cahaya, kelembaban tanah dan nutrisi pada tanaman pokok (Hartini dan Anna 2010).

Secara umum kegiatan pendangiran sering dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan dan pemupukan. Pendangiran merupakan kegiatan penggemburan tanah di sekitar tanaman dalam upaya memperbaiki sifat fisik tanah (aerasi tanah) untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Manfaat utama dari

pengolahan tanah adalah tersebarnya bahan organik dan pupuk yang lebih merata, sehingga ketersediaan bahan organik bagi mikroorganisme akan meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan aktivitas dan jumlah mikroorganisme (Anas dan Bangun 2010). Selain itu, pengolahan tanah juga dapat meningkatkan akumulasi karbon yang larut dalam air maupun karbon total dan juga meningkatkan senyawa N yang dapat dimineralisasi pada lapisan 0‒7,5 cm.

Pemangkasan cabang merupakan kegiatan pembuangan cabang bagian bawah untuk memperoleh batang bebas cabang yang panjang yang bebas dari mata kayu (Hartini dan Anna 2010). Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh pasokan cahaya untuk mendukung pertumbuhan tanaman tumpang sari. Pemangkasan cabang umumnya dilakukan pada tanaman masih muda. Menurut Siahaya (2007) untuk setiap kali pemangkasan digunakan intensitas 30%, yaitu tajuk yang dibuang sebesar 30%. Pemangkasan tajuk yang dilakukan pada AF1 yaitu dengan menyisakan 4‒5 ranting tiap pohon, untuk AF2 2‒3 ranting, dan pola AF3 3‒4 ranting per pohon.

Pemangkasan tajuk berhubungan dengan nilai Live Crown ratio (LCR). Nilai LCR yang disajikan pada Tabel 3, menggambarkan sisa tajuk yang terdapat pada pohon. Bedasarkan data pola AF2 mempunyai nilai LCR yang terendah. Hal ini dapat dijadikan salah satu faktor pembatas pertumbuhan pada pola AF2, karena proses fotosintesis berjalan kurang optimal.

Kegiatan pemupukan yang dilakukan pada masing-masing pola agroforestri umumnya hampir sama, termasuk dalam hal jenis pupuknya, namun untuk frekuensi dan dosisnya ada sedikit perbedaan. Pemupukan hanya dilakukan pada tanaman semusim saja, sedangkan tanaman pokok sengon hanya mengandalkan asupan nutrisi melalui pemupukan yang diberikan pada tanaman semusim. Nutrisi yang diberikan pada tanaman semusim akan mengalami leaching ke bagian bawah dan akan ditampung oleh jaringan di bawahnya, dalam hal ini adalah akar dari tanaman pokok sengon. Pupuk kandang hanya diberikan sekali pada saat penanaman tanaman semusim. Kegiatan pemupukan pada masing-masing pola agroforestri disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 Kegiatan pemupukan pada 3 (tiga) pola agroforestri di RPH Jatirejo No Pola

Agroforestri

Jenis

Tanaman Jenis Pupuk Dosis Frekwensi 1 AF1 Jagung Urea 20 kg/1000 m2 1 x (umur

15 hari) Urea 20 kg/1000 m2 1 x (umur 40 hari) Kompos 90 kg/1000 m2 1 x (awal tanam) Cabai ZA+Phonska+Puradam (4 kg + 3 kg + 0,5 kg)/1000 m2 1 x (umur 20 hari) Burat + ZA + Puradam + Phonska (1kg + 10kg + 1kg + 5 kg)/1000 m2 1 x (umur 2 bulan)

Pupuk daun 1 botol Setiap

minggu 2 AF2 Jagung Kompos ayam 180 kg/1000 m2 1 x (awal

tanam) Redumil+Puradam+ZA (2 bungkus+0,5 kg + 2,5 kg)/1000 m2 1 x (awal tanam) Urea 25 kg/1000 m2 1 x (umur 15 hari) Urea 30 kg/1000 m2 1 x (umur 36 hari) 3 AF3 Jagung Kompos ayam 150 kg/1000m2 1 x (awal

tanam) Phonska + ZA 3kg + 4 kg 2 x (umur

25; 30 hari) Phonska ± 5 gr/batang 1 x (umur

45 hari) Cabai Kompos ayam 150 kg/1000 m2 1 x (awal

tanam) ZA + Phonska (4kg+3kg)/1000m2 3 x (umur 1,5; 2,5; 3 bulan) ZA + TSP + KCl + Pupuk organik 1 : 2 : 1: 1 1 x (di atas umur 3 bulan) Tetes 60 liter/larik 3 x (tiap

1,5 bulan) HNO (Pupuk daun) 1 botol Tiap 2

minggu (mulai umur 20 hari) Nanas Tetes 60 liter/larik 4 x (tiap 3

bulan) Pola AF3 mendapat perlakuan pemupukan yang lebih intensif dibandingkan dengan pola agroforestri lainnya. Adanya penambahan pupuk tetes

(limbah pengolahan tebu) pada pola ini juga dapat meningkatkan aktivitas mikroba dalam tanah. Tetes tebu merupakan sumber karbon dan nitrogen. Tetes tebu berfungsi untuk menyuburkan mikroba yang ada di dalam tanah, karena dalam tetes tebu terdapat nutrisi bagi mikroba (Martinsari et al. 2010). Selain itu, tetes tebu juga mengandung karbohidrat dalam bentuk gula yang tinggi (64%) disertai berbagai nutrien yang diperlukan jasad renik. Untuk pola ini, penggarap juga memberikan tetes ke tanaman pokok sengon bersamaan dengan nanas.

Adanya pemberian bahan organik yang lebih banyak pada pola AF2 berupa pupuk kandang, secara kimiawi dapat meningkatkan KTK tanah. Namun kandungan unsur hara dalam pupuk organik tidak terlalu tinggi, maka memerlukan kapasitas pemberian yang lebih besar, sehingga kurang ekonomis. Selain itu, pupuk organik juga mudah terurai habis di alam dan respon tanaman lebih lambat dibandingkan dengan pupuk buatan. Jenis pupuk organik seperti pupuk kandang, memiliki beberapa kelebihan dalam memperbaiki sifat-sifat fisik tanah antara lain permeabilitas tanah, porositas tanah, struktur tanah, daya menahan air dan lain sebagainya.

6.1Kesimpulan

1. Semakin banyak kombinasi tanaman semusim, maka masukan unsur hara melalui kegiatan pemupukan akan semakin tinggi sehingga ketersediaan nutrisi bagi tanaman pokok dapat tercukupi

2. Kombinasi tanaman yang lebih banyak pada sistem agroforestri di RPH Jatirejo menunjukkan pertumbuhan tanaman pokok yang lebih baik dibanding dengan kombinasi tanaman yang lebih sedikit.

3. Pertumbuhan tanaman pokok pada pola AF 2 yang terhambat diduga dari rendahnya rata-rata panjang dan lebar tajuk serta LCR sehingga dapat mengurangi luasan penyerapan cahaya matahari untuk fotosintesis, serta kondisi pH tanah yang rendah memungkinkan ditemukan banyak ion-ion Al yang memfiksasi P sehingga unsur P tidak dapat diserap oleh tanaman. 6.2 Saran

1. Kegiatan pemupukan pada tanaman tumpang sari perlu ditingkatkan agar tanaman pokok yang tidak dipupuk dapat memperoleh asupan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya.

2. Budidaya tanaman tumpang sari yang berpengaruh negatif pada pertumbuhan tanaman pokok seperti tanaman singkong sebaiknya dilakukan pergiliran tanaman dan pemupukan yang intensif agar tidak terjadi persaingan yang berdampak negatif.

DI RPH JATIREJO, KECAMATAN PUNCU,

Dokumen terkait