• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Sanitasi Lingkungan

2.5.2 Pengelolaan Makanan Warga Binaan Pemasyarakatan

Pengelolaan makanan di Rutan dan Lapas sehingga setiap warga binaan dimungkinkan mendapatkan makanan yang layak adalah :

1) Penetapan menu makanan bagi tiap-tiap narapidana dalam satu hari ditetapkan oleh menteri kehakiman.

2) Besarnya kalori tidak boleh kurang dari : a. 2.500 kalori perhari bagi orang dewasa

b. Tambahan 300 kalori per hari bagi wanita yang sedang hamil

c. Tambahan 800 – 1000 kalori per hari bagi wanita yang sedang menyusui.

3) Menu makanan bagi narapidana yang sedang ditetapkan oleh dokter lembaga pemasyarakatan.

4) Tanpa saran/nasehat dokter lembaga pemasyarakatan, perubahan menu makanan bagi narapidana yang sakit tidak diperbolehkan.

Beberapa faktor pada sanitasi lingkungan sebagai determinan penyakit tuberkulosis paru adalah :

a. Penghuni Rumah

Penghuni rumah dapat mempengaruhi kualitas udara didalam rumah. Adapun hal- hal yang menyebabkan menurunnya kualitas udara ini dapat dibedakan menjadi 2 hal hal pokok :

1) Kepadatan hunian. Semakin banyak jumlah penghuni maka akan semakin cepat udara didalam rumah mengalami pencemaran. Manusia dalam kehidupan sehari-hari akan membutuhkan udara 33 m² per jam atau 40 liter/menit. Dari 40

liter itu jumlah oksigen yang diambil adalah sebanyak 2 liter dan akan menghasilkan 1,7 liter gas asam arang . Dengan Demikian akan meningkatkan kadar CO2

2) Kesehatan para penghuni. Kesehatan penghuni juga memegang peranan penting dalam mempengaruhi kualitas udara terutama ditinjau dari segi bakteriologisya. Hal itu akan lebih nyata apabila penghuni rumah tersebut, ialah mereka yang mempunyai penyakit saluran pernapasan, dan bila mereka mengeluarkan bakteri melalui pernapasannya maka akan ditularkan kepada penghuni lainnya melalui udara yang kotor tersebut.

yang telah ada di dalam rumah dan akan menurunkan kadar oksigen di dalam udara. Konsep Departemen Kesehatan RI yang menggunakan luas lantai kamar menimal sebesar 4,5 m² dan anak-anak usia 1–10 tahun memerlukan 1,5 m², sedangkan ketentuan luas ruangan untuk setiap orang di Lapas menurut Surat Edaran Dirjen Pemasyarakatan tahun 2005 adalah 1,80 x 3,00 m/orang.

Sebenarnya udara bukanlah merupakan habitat atau tempat hidup bakteri. Oleh karena itu bakteri di udara hanya kejadian yang sewaktu-waktu terkontaminasi. Bakteri pathogen dapat ditularkan melalui udara dalam bentuk partikel debu dan pengeringan dari drooplet liur. Meskipun demikian pada dasarnya perjalanan bakteri di udara mempunyai pola umum berupa garis lurus yang terus menerus jumlahnya sesuai dengan lamanya waktu di udara.

Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memberikan pengaruh bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya

akan menyebabkan berjubelan (overcrowded). Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabakan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, terutama tuberkulosis akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain, dimana seorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumahnya. Kepadatan merupakan faktor awal yang berperan (pre-requisite) dalam proses penularan penyakit, semakin padat maka perpindahan penyakit khususnya penyakit melalui udara akan semakin mudah dan cepat. Oleh sebab itu kepadatan hunian dalam rumah tempat tinggal merupakan variabel yang berperan dalam kejadian tuberkulosis b. Ventilasi.

Udara segar diperlukan dalam rumah untuk mengganti udara ruangan yang yang sudah terpakai. Udara segar diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan. Sebaiknya temperatur udara dalam ruangan harus lebih rendah paling sedikit 4ºC dari temperatur udara luar untuk daerah tropis. Umumnya temperatur kamar 22 ºC – 30 ºC sudah cukup segar. Pergantian udara bersih untuk orang dewasa adalah 33 m³/orang/jam. Kelembaban udara berkisar 50 – 75 % optimum. Untuk memperolah kenyamanan udara seperti dimaksud di atas diperlukan adanya ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik dalam ruangan harus memenuhi syarat lainnya. Untuk luas lubang ventilasi tetap, minimum 5 % dari luas lantai ruangan. Sedangkan luas lubang insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5 % dari luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10 % kali luas lantai ruangan. Ukuran

luas ini diatur sedemikian rupa sehingga udara yang masuk tidak terlalu deras dan tidak selalu sedikit.

c. Pencahayaan

Pencahayaan yang cukup untuk penerangan ruang di dalam rumah merupakan kebutuhan kesehatan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya buatan dan cahaya alam. Kebutuhan standar cahaya alam yang memenuhi syarat kesehatan untuk berbagai keperluan manusia.

Standar pencahayaan diatas sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon- pohon maupun tembok pagar yang tinggi. Cahaya matahari ini berguna selain untuk penerangan juga dapat mengurangi kelembaban ruang, mengusir nyamuk, membunuh bakteri penyebab penyakit tertentu seperti tuberkulosis paru. Pencahayaan alami dalam rumah yang kurang dari 60 lux meter mempunyai risiko meningkatkan kejadian tuberkulosis paru.

d. Kelembaban

Kelembaban udara dalam rumah minimal 40% – 70 % dan suhu ruangan yang ideal antara 180C – 300C (Keman, 2005).Bila kondisi suhu ruangan tidak optimal, misalnya terlalu panas akan berdampak pada cepat lelahnya saat bekerja dan tidak cocoknya untuk istirahat. Sebaliknya, bila kondisinya terlalu dingin akan tidak menyenangkan dan pada orang-orang tertentu dapat menimbulkan alergi (Atmosukarto, 2000). Hal ini perlu diperhatikan karena kelembaban dalam rumah akan mempermudah perkembangbiakan mikroorganisme antara lain bakteri spiroket, ricketsia dan virus.

Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara ,selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. Kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri termasuk bakteri tuberkulosis (Atmosukarto, 2000).

e. Lantai rumah

Komponen yang harus dipenuhi rumah sehat memiliki lantai kedap air dan tidak lembab. Jenis lantai tanah memiliki peran terhadap proses kejadian Tuberkulosis paru, melalui kelembaban dalam ruangan. Lantai tanah cenderung menimbulkan kelembaban, pada musim panas lantai menjadi kering sehingga dapat menimbulkan debu yang berbahaya bagi penghuninya (Atmosukarto, 2000).

Dokumen terkait