• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN MIKRO HIDRO BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI BENTUK MODEL ENERGI TERBARUKAN DI SUB DAS WAY BESAI

BERBASIS MASYARAKAT

PENGELOLAAN MIKRO HIDRO BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI BENTUK MODEL ENERGI TERBARUKAN DI SUB DAS WAY BESAI

MODEL 1

PENGELOLAAN MIKRO HIDRO BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI BENTUK MODEL ENERGI TERBARUKAN DI SUB DAS WAY BESAI

Oleh: Gandi

(Fasilitator Lapangan Program SCBFWM )

Latar Belakang

Pada umumnya masyarakat di wilayah kawasan hutan Kabupaten Lampung Barat sudah mengunakan air bersih yang disalurkan melalui paralon dari sumber air untuk konsumsi masyarakat yang berdomisili di sekitarnya. Namun untuk penerangan listrik tidak semua wilayah dapat dilayani jaringan listrik baik oleh pemerintah maupun swasta karena keterbatasan infrastruktur dengan lokasi yang sangat terpencil dan sulit dijangkau. Padahal banyak sekali potensi yang dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik secara mikro untuk kelompok masyarakat dengan jumlah tertentu. Secara khusus sub DAS Way Besai ini berada di Kabupaten Lampung Barat dengan wilayah 5 Kecamatan yaitu Sumber Jaya, Kebun Tebu, Gedung Surian, Way Tenong, dan Air Hitam, dimana masih ada wilayah pelosok yang belum menikmati listrik. Sehari-harinya masyarakat di daerah pelosok masih menggunakan lampu minyak tanah untuk kebutuhan penerangan pada malam hari.

Dengan kondisi tersebut program SCBFWM menawarkan peluang untuk hibah kecil, untuk mendapatkan hibah ini kelompok masyarakat melakukan urun rembug bersama dalam mengajukan usulan kegiatan untuk kebutuhan penerangan. Kelompok yang diberikan hibah kecil antara lain KWT Rimba Sejati Pekon Rigis Jaya dan kelompok Jaya Tani Pekon Suka Damai keduanya berada di Kecamatan Air Hitam, sedangkan HKm Mardi Rukun Pekon Simpang Sari berada di Kecamatan Sumber Jaya. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut jauh dari jangkauan listrik PLN karena kondisi wilayah yang sangat terpencil, keterbatasan infrastruktur dan dekat dengan kawasan hutan lindung. Kelompok masyarakat ini dipilih melalui tim seleksi juga verifikasi lapang, dan disetujui untuk mendapatkan hibah kecil (Small Grant Programme) dalam rangka menuntaskan ide besar kelompok agar masyarakat yang bermukim di daerah pedalaman namun di luar hutan lindung dapat juga menikmati listrik dengan dikelola secara mandiri dan berkelanjutan (Buletin Bina DAS, 2011).

Dalam pelaksanaan program SCBFWM kelompok masyarakat ikut serta menanggung biaya pembangunan mikro hidro secara swadaya selain dana hibah yang

24

diberikan, dan kelompok masyarakat tersebut telah menunjukkan partisipasinya mengadakan musyawarah, hasil dari musyawarah tersebut mendapatkan kesepakatan yaitu, sanggup mengadakan material secara swadaya, sanggup menyediakan bibit dalam melindungi sumber mata air serta menyediakan lokasi tempat mikro hidro. Tujuan dan Hasil Yang Diharapkan

Tujuan dari kegiatan ini adalah memanfaatkan potensi air sebagai pembangkit tenaga listrik (mikro hidro/Turbin), meningkatnya kualitas hidup masyarakat dan pelestarian hutan di sekitar pekon.

Sedangkan hasil yang diharapkan dengan dibangunnya mikro hidro terpenuhinya kebutuhan listrik masyarakat setempat, adanya rencana kegiatan dan aktifitas bersama dalam pelestarian SDA/Hutan untuk menjaga debit air, terbangunnya kelembagaan yang kuat dan mampu menjadi penggerak masyarakat baik secara ekonomi maupun sosial.

Manfaat

Manfaat sumber air yang tersedia untuk tenaga listrik, diharapkan akan lebih memberikan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hutan sehingga kemudian tergerak untuk melindungi potensi tersebut, di samping itu dengan dibangunnya mikro hidro/turbin diharapkan akan menguatkan kelembagaan kelompok masyarakat karena semangat kebersamaan, rasa memiliki, dan terbangunnya aturan bersama, sedangkan dari segi ekonomi dengan dibangunnya mikro hidro/turbin juga akan memperkuat permodalan usaha simpan-pinjam yang selama ini dilakukan. Adanya kesepakatan untuk membayar jasa yang diterima dari mikro hidro maka dana tersebut dapat digunakan untuk pemeliharaan, pelestaraian dan simpan pinjam. Dengan demikian kelompok mampu mendorong tumbuhnya usaha produktif anggota dan berbagai usaha baru yang berbasis listrik.

Apa itu Mikro Hidro dan Peranan Hutan Sebagai Penghasil Air?

PLTMH merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro, yaitu alat yang menghasilkan listrik dengan menggunakan sumber tenaga air. Sedangkan mikro menunjukkan ukuran kapasitas pembangkit yang berkapasitas kecil yaitu antara 5 kW sampai 100 kW, cara kerja PLTMH secara sederhana yaitu air dalam jumlah tertentu yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu menggerakkan kincir yang ada pada turbin. PLTMH, kemudian putaran turbin tersebut digunakan untuk menggerakkan generator (dynamo listrik). Listrik yang dihasilkan akan dialirkan melalui kabel ke rumah-rumah. Jadi PLTMH mengubah tenaga gerak yang berasal dari air menjadi listrik (Kristian. M dkk, 2010)

25

PLTMH mempunyai beberapa bagian penting yang mendukung kemampuan kerjanya. Peralatan penting yang ada antara lain :

1. Saluran Pengambilan (Intake)

Intake adalah penyadapan air bendungan sungai, atau dam atau danau ke saluran air. Biasanya berada di bibir sungai ke arah hulu sungai, Pada pintu air biasanya terdapat perangkap sampah.

2. Saluran Pembawa (Headrace).

Membawa air dari saluran pemasukan (Intake) kea rah bak pengendap 3. Bak Pengendap/Bak Penenang (Forebay)

Mengendapkan tanah yang terbawa dalam air sehingga tidak masuk ke pipa pesat. Bak Pengendap sama dengan Bak penenang pada PLTMH kecil

4. Pipa pesat (Penstock)

Penstock adalah pipa yang membawa air jatuh ke arah mesin Turbin. Disamping itu, pipa pesat juga mempertahankan tekanan air jatuh sehingga energi di dalam gerakan air tidak terbuang. Air di dalam pipa pesat tidak boleh bocor karena dapat mengakibatkan hilangnya tekanan air.

5. Rumah Pembangkit (Power House)

Power house adalah rumah tempat semua peralatan mekanik dan elektrik PLTMH. Peralatan Mekanik seperti Turbin dan Generator berada dalam rumah pembangkit, demikian pula peralatan elektrik seperti kontroler

6. Mesin PLTMH atau Turbin

Berada dalam rumah pembangkit, mesin ini mengubah tenaga air menjadi mekanik (tenaga putar/gerak) Turbin termasuk alat mekanik, Turbin dengan bantuan sabuk pemutar (v belt) memutar generator (dinamo besar penghasil listrik) untuk mengubah tenaga putar/gerak menjadi listrik. Generator termasuk alat mekanik.

7. Panel atau peralatan pengontrol listrik.

Biasanya berbentuk kotak yang di tempel di dinding. Berisi peralatan elektronik untuk mengatur listrik yang dihasilkan generator. Panel termasuk alat elektrik

26

8. Jaringan Kabel listrik

Kabel yang menyalurkan listrik dari rumah pembangkit ke rumah pelanggan dengan bantuan tiang. (Kristian Mairi dkk, 2010)

Peranan Hutan Sebagai Penghasil Air

Menurut Asdak (2004), dalam suatu sistem DAS, hutan di daerah hulu merupakan “daerah penghasil air” untuk daerah di bawahnya dan diposisikan sebagai zona konservasi air. Sumber mata air yang menjadi awal munculnya anak sungai dan menentukan kontinuitas aliran sungai berada di wilayah ini. Stabilitas dan fluktuasi aliran sungai sangat tergantung pada kualitas penutupan hutan. Sehingga apabila terjadi kerusakan hutan maka konsekuensinya terjadi berbagai gangguan sistem DAS seperti banjir, longsor dan kekeringan.

Faktor yang dinilai paling strategis dalam pencapaian tujuan kelestarian fungsi hutan adalah pengembagan partisipasi masyarakat dalam menjaga hutan disekitarnya yang muncul sebagai dampak dari hubungan timbal balik positif antara kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat. Apabila pengelola hutan sukses mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan maka sebagian besar persoalan yang dihadapi sudah terpecahkan. Kunci dari kesuksesan pengembangan partisipasi masyarakat dalam menjaga hutan disekitarnya adalah apabila hutan mampu memberikan manfaat nyata bagi mereka dan masyarakat dapat melihat dan merasakan langsung keterkaitan yang tegas antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian hutan. Salah satu fungsi hutan yang sangat vital bagi hajat hidup manusia adalah sebagai pengatur tata air (water regulator). Hutan dan hasil air adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena air, sebagai unsur utama dalam DAS, secara alamiah mengalir dari hulu ke hilir dari atas menuju bawah, upaya pemecahan masalah dalam pengelolaan DAS juga dimulai dari pengelolaan hutan di daerah hulu baik berkaitan dengan persoalan biofisik maupun sosial ekonomi kelembagaan. Salah satu bentuk kegiatan pemanfaatan hasil air yang dilakukan sebagai bagian dari upaya menjalin hubungan baik hutan dan masyarakat yang ada di sekitarnya adalah dalam bentuk pembangunan mikro hidro elektrik. Mikro hidro elektrik adalah pembangkit listrik skala kecil (< 100 kW) yang digerakkan dengan menggunakan tenaga air, (Hadinungroho dkk, 2006).

Siapa saja yang terlayani ?

Berikut beberapa kelompok penerima hibah kecil program SCBFWM di sub DAS Way Besai yang diwujudkan dalam bentuk mikro hidro :

27

a. KELOMPOK WANITA TANI RIMBA SEJATI

Kelompok Wanita Tani (KWT) Rimba Sejati dibentuk sebagai wadah untuk tukar informasi antar anggota, tempat pelatihan dan membangun kebersamaan baik dalam bidang sosial, agama, maupun ekonomi. KWT Rimba Sejati didirikan pada tahun 2004 yang diinisiasi oleh Watala dan aparat Pekon Gunung Terang. Saat ini kegiatan yang dilakukan adalah simpan pinjam, iuran kerja di kebun untuk membantu pertanian dari awal sampai pasca panen. Dari iuran kerja inilah terkumpul modal yang kemudian digulirkan untuk simpan pinjam. Sumber dana lainnya adalah arisan, dan tabungan yang biasanya dibagikan pada saat hari raya. Kegiatan lainnya adalah pengajian rutin. Jumlah anggota dari awal berdiri sampai sekarang tetap berjumlah 30 orang yang semuanya membantu suami yang mempunyai lahan garapan di areal HKm. Keberadaan KWT ini sudah sangat membantu kegiatan ibu-ibu walaupun masih sangat banyak keterbatasan. Untuk mengatur kegiatan kelompok diatur dalam aturan internal kelompok yang masih sederhana ini. Pembuatan mikro hidro dirasakan sebagai kebutuhan yang sangat mendesak yang dibutuhkan oleh anggota KWT Rimba Sejati, mengingat sebelum adanya mikrohidro dari SCBFWM penerangan seluruh anggota KWT Rimba Sejati adalah lampu Teplok dari minyak tanah

Menurut ibu Mariani ketua KWT Rimba Sejati, “dengan adanya mikro hidro maka anak kami bisa belajar di rumah dan tidak perlu menggunakan lampu minyak tanah lagi, dan kami sadar untuk menjaga kelestarian hutan sebagai sumber mata air bagi kelangsungan hidup kami “.

Gambar 3.1. Pembangunan mikro hidro tidak terlepas dari peran serta bapak-bapak anggota kelompok HKm Rigis Jaya

28

Secara Ekonomi: Membantu menurunkan biaya pengeluaran untuk penerangan seiring adanya kebijakan pemerintah yang menghapus subsidi minyak tanah sehingga harga minyak tanah menjadi sangat mahal, bahkan mencapai Rp 12.000,- /liter. Jika dalam waktu satu bulan satu anggota rata-rata menghabiskan minyak tanah sebanyak 10 liter, maka dana yang harus dikeluarkan utuk membeli minyak tanah dalam satu bulan kira-kira sejumlah Rp 120.000,-.

Secara konservasi membantu meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya menjaga dan memellihara lingkungan. Operasional mikrohidro tergantung dari ketersediaan air, jika musim kemarau maka debit air berkurang yang mengakibatkan listrik menjadi tidak normal. Jika musim penghujan bendungan cepat penuh dengan sedimentasi pasir, sehingga dibutuhkan gotong royong untuk mengangkat pasir.

Gambar 3.2. Pembibitan secara swadaya oleh anggota kelompok KWT Rimba Sejati Dengan adanya kenyataan yang demikian maka anggota kelompok mulai sadar bahwa penanaman pohon perlu dilakukan agar kondisi air tetap stabil dan mengurangi resiko pengikisan tanah oleh air sungai yang dapat menyebabkan penumpukan sedimen.

b. KELOMPOK HKM MARDI RUKUN

Kelompok HKm Mardi Rukun merupakan kelompok HKm yang terletak di Pekon Simpang Sari, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat. Kelompok ini memiliki anggota sebanyak 405 orang dengan luas areal kerja Izin Usaha Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) seluas 706,5 Ha yang terdiri dari blok budidaya 646,5 Ha dan blok hutan perlindungan seluas 60 Ha. Izin UPHKm sendiri

29

diterbitkan oleh Bupati Kabupaten Lampung Barat pada bulan Februari tahun 2007 yang lalu. Lokasi HKm ini relatif terpencil dan salah satu persoalan yang dihadapi oleh anggota adalah ketiadaan fasilitas listrik dari PLN. Atas dasar itulah, maka kelompok HKm ini mengusulkan pembuatan sarana pembangkit mikro hidro. Usulan tersebut meliputi pembelian turbin, pembuatan bak untuk terjunan, dan instalasi jaringan. Sementara, untuk kegiatan fisik di lapangan, kelompok melaksanakannya secara swadaya. Jumlah hibah yang diberikan adalah Rp 23 juta rupiah untuk pembelian dinamo, turbin, kabel dan lampu. Sedangkan pemasangannya dilakukan secara gotong royong. Hasil yang didapatkan adalah fasilitas listrik yang dapat melayani sekitar 20 kepala keluarga dimana masing-masing keluarga mendapat alokasi dua lampu.

Gambar 3.3. Gotong royong warga dalam pembangunan mikro hidro

Fasilitas ini benar-benar telah memberikan manfaat yang besar untuk masyarakat yang memang berada pada lokasi yang agak terpencil. Menurut Pak Suroto selaku pengurus kelompok HKm Mardi Rukun, “program ini sangat menyentuh bagi kami dimana masyarakat yang berada dilokasi terpencil seperti ini tidak mampu membangun mikro hidro kini melalui program SCBFWM bisa mendapatkan penerangan listrik. Tantangan terbesar untuk HKm Mardi Rukun adalah bagaimana fasilitas tersebut dapat tetap dikelola sehingga dapat berfungsi untuk jangka waktu yang panjang. Tentunya hal ini membutuhkan ketekunan pengurus dalam memelihara serta meningkatkan fasilitas yang telah didapat tersebut.”

Untuk memelihara turbin anggota kelompok memberikan iuran sebesar Rp. 10.000,- per/bulan, uang tersebut digunakan untuk memelihara mikro hidro dan sisanya dimasukkan ke KAS kelompok.

30

Gambar 3.4. Anggota keluarga penerima manfaat mikro hidro

Sedangkan untuk menjaga sumber mata air di lokasi mikro hidro anggota melaksanakan pembibitan secara swadaya, yang terdiri dari Cempaka, Karet, Jengkol, dan Durian yang ditanam di lokasi anakan sungai tempat pembangunan mikro hidro, diharapkan fasilitas hibah SCBFWM ini memberi manfaat yang berkelanjutan.

Gambar 3.5. Penanaman bibit secara swadaya oleh HKm Mardi Rukun dalam menjaga dan melindungi sumber mata air

C. Kelompok Jaya Tani

Kelompok Jaya Tani berada di pekon Suka Damai Kecamatan Air Hitam Kabupaten Lampung Barat, kelompok ini berjumlah 17 orang yang berada diwilayah lokasi terpencil dan jauh dari jangkauan listrik, melalui program SCBFWM tahun 2014 mereka difasilitasi untuk pembangunan mikro hidro yang dapat menerangi sebanyak

31

17 kepala keluarga, dengan aturan yang diterapkan yaitu 1 kepala keluarga wajib membayar iuran sebesar Rp. 10.000,- perbulan, sedangkan jika menggunakan televisi mereka menambah iuran sebesar Rp, 15.000,- perbulan. Dalam melaksanakan programnya kelompok ini mendapat fasilitas dari SCBFWM berupa I unit mikro hidro dengan anggaran Rp. 23.000.000,-. Dengan adanya mikro hidro mereka sadar untuk memelihara kawasan hutan dan sumber mata air. Sumber mata air yang bermanfaat dalam hal penerangan, serta kebutuhan lainnya seperti : magic com, setrika listrik dan TV sebagai media hiburan dan informasi bagi kelompok masyarakat di pekon Suka Damai

Gambar 3.6. Kelompok Jaya Tani melakukan pemasangan mikro hidro

Dari pemasangan mikro hidro kelompok ini tidak kesulitan lagi mendapatkan penerangan. Mayoritas masyarakat ini merupakan masyarakat pendatang yang berasal dari Jawa Barat yang sudah lama menetap di pekon Suka Damai dengan ketiadaan listrik.

32

Gambar 3.7. Keluarga penerima manfaat penerangan mikro hidro saat menonton televisi

Selama ini di wilayah sub DAS Way Besai telah ada seperangkat kelompok- kelompok yang muncul dan timbul dari inisiatif masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang harus dipenuhinya. Umumnya kelompok-kelompok masyarakat lokal ini masih bersifat sangat tradisional dengan berbagai kekurangan-kekurangan yang ada dari segi organisasi atau kelembagaan modern. Peranan kelompok masyarakat sangat penting untuk menjadi wadah atau saluran pembangunan bahkan sarana paling tepat untuk percepatan pembangunan pedesaan sekaligus sebagai pemegang estafet pemeliharaan investasi pemerintah agar berkelanjutan.

Pengembangan kelembagaan lokal memang tidak mudah sebuah kelembagaan bersama bisa berjalan dengan baik ada kesepakatan bersama dari seluruh stakeholders untuk merumuskan tujuan bersama, karena pada esensinya kelembagaan dibentuk untuk mengatur dan mengarahkan perilaku seluruh stakeholders agar mengarah pada tujuan yang sama. Kesepakatan itu penting untuk terbentuknya tujuan sosial untuk memulai suatu kerjasama. Kerjasama timbul apabila individu menyadari mempunyai tujuan yang sama/kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian diri untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Soekanto, 1990).

Salah satu faktor pendorong bertumbuhnya kelembagaan lokal yang baik di sub DAS Way Besai dalam kegiatan pembangunan mikro hidro di Kecamatan Air Hitam dan Kecamatan Sumber Jaya adalah bahwa dengan adanya PLTMH maka ada kegiatan rutin kelompok masyarakat yang menjamin kelompok ini tetap eksis seperti, terbentuknya struktur pengurus kelompok yang disepakati bersama, adanya aturan

33

kelompok yang telah disepakati bersama, adanya kegiatan rutin pemeliharaan turbin dan sarana pendukungnya, adanya kegiatan penanaman pohon dan pemeliharaan tanaman di saluran air dan cathchment area sungai menjadi sumber air penggerak turbin, adanya iuran bulanan listrik, kelengkapan administrasi kelompok dan adanya rapat rutin kelompok tiap bulan dan rapat tahunan.

Selain faktor pendorong tersebut di atas, hal yang paling penting bagi tumbuh kembangnya kelembagaan lokal adalah karena adanya tujuan bersama yang jelas yang dapat dirasakan langsung manfaatnya secara bersama-sama yaitu masyarakat dapat menikmati listrik yang murah yang selama ini mereka damba-dambakan.

KESIMPULAN

1. Adanya mikro hidro tidak hanya menjadi sumber penerangan bagi masyarakat daerah terpencil, namun juga menjadi sumber pendapatan kelompok dalam mengelola keuangan yang diperoleh dari iuran pembayaran langganan listrik. 2. Pengembangan mikro hidro tidak hanya memberi dampak pada kesejahteraan

warga, namun juga dalam meningkatkan kualitas hutan dan DAS yang ada di sekitar mereka, karena setiap anggota akan terdorong untuk melindungi hutan dan DAS sebagai sumber energi terbarukan yang menggerakkan turbin mikro hidro. 3. Proses pendampingan kelompok masyarakat harus terus menerus dilakukan

walaupun kegiatan pembangunan fisik selesai sampai masyarakat dianggap bisa mengelola secara mandiri pembangunan mikro hidro yang telah diberikan.