YANG DITERBITKAN 500.000.000.000 500.000.000.000 DANA SYIRKAH TEMPORER
46. PENGELOLAAN RISIKO
Dalam melakukan kegiatan usaha, Bank menghadapi berbagai risiko yaitu risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategis, dan risiko kepatuhan.
a. Pengelolaan Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) dalam memenuhi kewajibannya. Risiko kredit yang timbul dari kegiatan pembiayaan dikelola baik pada tingkat transaksi maupun portofolio. Pengelolaan risiko kredit dirancang untuk menjaga independensi dan integritas proses penilaian risiko, serta diversifikasi risiko kredit.
Dalam upaya menurunkan potensi risiko kredit, Bank perlu melakukan berbagai teknik mitigasi risiko kredit.
Mitigasi risiko kredit dapat dilakukan dengan menggunakan agunan dan jaminan untuk melindungi Bank dari kemungkinan kerugian yang disebabkan oleh debiturnon-performing.
Kualitas aset Bank yang memiliki risiko kredit sesuai peraturan Bank Indonesia and analisa atas konsentrasi risiko kredit berdasarkan sektor industri telah dilakukan pada bagian lain dari catatan atas laporan keuangan.
Langkah-langkah yang dilakukan Bank untuk meminimalkan risiko kredit adalah:
1) Menyempurnakan kebijakan pembiayaan untuk masing-masing segmen pembiayaan.
2) Menyempurnakan standar prosedur operasional pembiayaan untuk masing-masing segmen pembiayaan.
3) Menetapkan batasan pemutusan pembiayaan untuk masing-masing level Komite Pembiayaan. 4) Penyesuaian batasan wewenang pemutus pembiayaan dariex officio ke personil.
5) Menyempurnakan scoring pembiayaan mikro, small, dan konsumer sebagai sarana yang membantu dalam memitigasi risiko kredit.
6) Memutakhirkan peringkat sektor industri untuk menghindari penyaluran pembiayaan kepada sektor industri yang kurang menarik.
a. Pengelolaan Risiko Kredit (lanjutan)
Langkah-langkah yang dilakukan Bank untuk meminimalkan risiko kredit adalah: (lanjutan)
7) Mengembangkan watch list sebagai sarana pemantauan debitur yang berpotensi turun peringkat(downgrade) atau menjadinon-performing financing (NPF).
8) Memantau perkembangan portofolio pembiayaan untuk masing-masing sektor industri melalui penetapan limit sektoral.
9) Membuat Risk Acceptance Criteria (RAC) beberapa sektor industri yaitu telekomunikasi,
multifinance, jasa kesehatan, gas, batubara, kelapa sawit, angkutan laut, makanan dan minuman, perorangan eceran dan ketenagalistrikan.
10) Menetapkan batasan inhouse Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). 11) Menetapkan batasan eksposur 25 debitur terbesar.
12) Menetapkan batasan pembiayaan masing-masing sektor industri untuk memitigasi terkonsentrasinya risiko kredit dalam suatu sektor ekonomi.
13) Menetapkan batasan pembiayaan mata uang asing.
14) Menerapkan prinsipfour eye dalam pemrosesan pembiayaan. 15) Menerapkan standardisasi Nota Analisa Pembiayaan.
16) Membentuk task force penanganan pembiayaan bermasalah yang efektif berjalan sejak Mei 2013. Task force ini beranggotakan divisi pengelola pembiayaan, divisi restrukturisasi dan divisi penyelesaian pembiayaan. Penanganan pembiayaan bermasalah dilakukan Bank dengan 5 pilar program yaitu:
a. Penagihan secara intensif. b. Restrukturisasi.
c. Klaim asuransi. d. Penjualan agunan. e. Write off.
b. Pengelolaan Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko pada laporan posisi keuangan dan rekening administratif akibat perubahan harga pasar, antara lain risiko berupa perubahan nilai dari aset yang dapat diperdagangkan atau disewakan. Risiko pasar meliputi risiko nilai tukar dan risiko perubahan tingkat imbal hasil pasar.
Pemantauan atas pergerakan nilai tukar telah dilakukan secara cermat dan real time sehingga Bank dapat mengelola portofolio mata uang asing pada kondisi yang paling kondusif bagi Bank. Selain akibat pergerakan nilai tukar, Bank juga terekspos risiko pasar akibat perubahan tingkat imbal hasil pasar. Sebagian portofolio pembiayaan yang dimiliki Bank berdasarkan pada perjanjian jual beli dengan menggunakan harga jual yang tetap. Oleh karena itu, apabila terjadi kenaikan tingkat imbal hasil pasar, maka Bank tidak diperkenankan untuk melakukan perubahan harga jual yang telah disepakati. Meskipun demikian, karena Bank beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil, hal tersebut tidak mengakibatkan Bank mengalaminegative spread.
b. Pengelolaan Risiko Pasar (lanjutan)
Bank menerapkan pemisahan fungsi yang jelas antarafront office, middle office, dan back office. Unit bisnis sebagai front office berfungsi untuk melaksanakan transaksi tresuri dan investasi. Unit manajemen risiko sebagaimiddle office berfungsi untuk mengusulkan sistem limit dan memantau risiko pasar. Unit kerja operasional berfungsi untuk melakukansettlement transaksi.
Langkah-langkah yang dilakukan Bank untuk meminimalkan risiko pasar adalah: 1) Menetapkan dan me-review kebijakan manajemen risiko pasar.
2) Menetapkanlimit risiko pasar antara lain Posisi Devisa Neto (PDN) dan limitbank notes.
3) Mengukur risiko pasar menggunakanstandardize model dan internal model. 4) Memantau pergerakan eksposur risiko pasar secara rutin.
5) Menganalisa risiko pasar yang melekat pada produk dan aktivitas baru. 6) Melaksanakanstress test risiko pasar.
c. Pengelolaan Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi liabilitas yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, likuiditas bank dipengaruhi oleh struktur dana, likuiditas aset, dan komitmen pembiayaan kepada debitur.
Langkah-langkah yang dilakukan Bank untuk meminimalkan risiko likuiditas adalah: 1) Menetapkan dan me-review kebijakan manajemen risiko likuiditas.
2) Menetapkan limit risiko likuiditas antara lain: limit Giro Wajib Minimum (GWM), limit saldo kas minimum di cabang, limitSecondary reserve, dan limit deposan.
3) Mengukur kecukupan likuiditas Bank melalui penyusunan proyeksicash flow danliquidity gap. 4) Menjaga akses Bank ke pasar uang antar bank syariah melalui perolehan dan pemberian
credit line dari dan untuk bank lain.
5) Memantau rasio likuiditas antara lain monitoring rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga, rasio liabilitas antar bank, dan rasio kas terhadap dana pihak ketiga.
6) Melaksanakanstress test risiko likuiditas secara berkala.
Giro Wajib Minimum (GWM) dan analisa jatuh tempo aset, liabilitas dan dana syirkah temporer berdasarkan jangka waktu kontrak yang tersisa telah dilakukan pada bagian lain dari catatan atas laporan keuangan.
d. Pengelolaan Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko yang timbul karena kurang memadainya proses internal, kegagalan sistem, manusia, dan kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Risiko operasional merupakan risiko terbesar yang perlu dikelola secara hati-hati karena dampak risiko operasional yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha bank.
d. Pengelolaan Risiko Operasional (lanjutan)
Pengendalian risiko operasional perlu dilakukan untuk memitigasi risiko operasional. Pengendalian risiko dilakukan melalui pemisahan tugas dan tanggung jawab, mekanisme dual control/dual custody dalam pelaksanaan transaksi, fungsi override/otorisasi, pembatasan wewenang akses sistem, pendidikan karyawan secara berkelanjutan, dan proses penilaian dan pelaksanaan fungsi internal audit.
Langkah-langkah yang dilakukan Bank untuk meminimalkan risiko operasional adalah: 1) Menetapkan dan me-review kebijakan manajemen risiko operasional.
2) Menetapkan dan me-review limit transaksi operasional cabang dan unit kerja operasional di kantor pusat.
3) Menggunakan aplikasi Operational Risk Management Information System (ORMIS) untuk mengidentifikasi, memantau, dan memitigasi kejadian risiko/kerugian operasional yang dialami oleh Bank.
4) Menerapkan risk tools/model risk and control self assessment (RCSA) untuk menilai dan memitigasi risiko operasional yang dilakukan secara mandiri oleh unit kerja.
5) Mengembangkan risk tools/model key risk indicator (KRI) untuk mengetahui secara dini potensi kejadian risiko sehingga dapat dilakukan langkah mitigasi yang cepat dan tepat waktu. 6) Memberikan kajian/opini risiko atas setiap usulan produk dan atau aktivitas baru yang akan
diluncurkan oleh Bank.
7) Mengembangkan kebijakan business continuity management untuk menjamin kegiatan operasional Bank tetap dapat berfungsi walaupun terdapat gangguan (disaster) guna melindungi kepentinganstakeholders.
8) Menerapkan manajemen risiko teknologi informasi melalui:
a) mengembangkan kebijakan dan prosedur manajemen risiko teknologi informasi yang terkait dengan standardisasi perangkat jaringan komunikasi data dan software, pengelolaan kewenangan akses sistem, pengembangan layanan perbankan elektronik dari segi keamanan aksesibilitas, danDisaster Recovery Plan;
b) melaksanakan User Acceptance Test (UAT) atas setiap pembuatan dan pengembangan sistem aplikasi baru untuk meminimalisasi potensi kegagalan sistem aplikasi.
9) Memiliki tim khusus audit investigasi kecurangan. Pada tahun 2013 Bank menemukan beberapa kasus kecurangan di beberapa cabang dengan total potensi kerugian Rp270.384.565.234 per 31 Desember 2013. Bank telah membentuk penyisihan atas potensi kerugian dari kasus kecurangan tersebut sebesar Rp175.325.158.977 setelah dikurangi agunan yang tersedia sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia. Bank telah membentuktask force dalam upaya penyelesaian kasus-kasus kecurangan tersebut. Sebagai antisipasi atas risiko berulangnya peristiwa tersebut dimasa yang akan datang, maka Bank telah melakukan beberapa hal diantaranya:
a) Memisahkan proses pencairan pembiayaan dari cabang dengan mendirikan Financing Operation Center;
e. Pengelolaan Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis yang antara lain disebabkan adanya tuntutan hukum, keadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak dan pengikatan agunan yang tidak sempurna.
Sebagai sebuah perusahaan yang berdiri dalam yuridiksi hukum Indonesia, Bank harus selalu tunduk terhadap segala peraturan hukum yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku regulator industri perbankan di Indonesia. Selain itu, Bank juga harus mengikuti segala bentuk peraturan perundangan yang berlaku di masyarakat baik yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan usaha Bank. Kegagalan Bank dalam mengikuti peraturan hukum yang berlaku dapat mengakibatkan pada timbulnya tuntutan hukum yang akan ditujukan kepada Bank. Apabila tuntutan-tuntutan hukum yang diajukan kepada Bank memiliki nilai yang material, maka hal tersebut dapat memberikan dampak secara langsung terhadap kinerja keuangan Bank.
Dalam mengelola risiko hukum, Bank melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Membangun organisasi legal yang kuat.
2) Memberikan perlindungan hukum seluruh jajaran Bank.
3) Melakukanreview dan mitigasi atas produk Bank (dana, jasa dan pembiayaan) sesuai dengan peraturan yang berlaku.
4) Melakukanreview dan mitigasi hubungan hukum Bank dengan pihak ketiga guna memberikan posisi hukum Bank yang kuat.
5) Melakukan penanganan proses litigasi sesuai peraturan yang berlaku.
6) Memberikan kajian dan/atau legal opinion terhadap permasalahan hukum yang diajukan. 7) Melakukan mitigasi hukum dalam Corporate Action.
8) Melakukan upaya-upaya peningkatan legalawareness pegawai Bank. 9) MengembangkanLegal Risk Profile.
10) Membantu Manajemen dengan cara memastikan kecukupan dokumentasi hukum, manajemen risiko hukum dan melaksanakan dukungan dalam segi hukum setiap operasional di seluruh unit kerja dan jajaran Bank Syariah Mandiri dalam mengendalikan risiko hukum yang wajar.
f. Pengelolaan Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaanstakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Bank. Risiko ini melekat dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh Bank. Kegagalan Bank dalam menjaga reputasinya di mata masyarakat dapat menimbulkan pandangan maupun persepsi negatif masyarakat terhadap Bank. Apabila risiko ini dihadapi oleh Bank, maka dalam waktu singkat dapat terjadi penurunan atau hilangnya kepercayaan nasabah terhadap Bank yang pada akhirnya akan memberikan dampak negatif terhadap pendapatan dan volume aktivitas Bank.
f. Pengelolaan Risiko Reputasi (lanjutan)
Adapun metode untuk memitigasi risiko reputasi yang telah dilakukan oleh Bank selama ini adalah sebagai berikut:
1) Menetapkan dan me-review kebijakan manajemen risiko reputasi. 2) Menyusun inisiatif strategis komunikasi pemasaran.
3) Melakukanredesign iklan baik pada tingkat Bank maupun produk, melaksanakan iklan dengan skala nasional dan lokal.
4) Melaksanakan program pada acara-acara khusus.
5) Menetapkan standar kualitas layanan melalui inisiatifSyariah Service Champion.
6) Memantau eksposur risiko reputasi melalui laporan publisitas, Complaint Management System, danElectronic Banking Information System.
g. Pengelolaan Risiko Strategis
Risiko strategis adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategis serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Bank telah menetapkan rencana strategis dan rencana bisnis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang hal ini menjadi mutlak untuk dilakukan, mengingat Bank sebagai bank syariah terbesar di Indonesia senantiasa ditantang dan dipacu untuk selalu berdiri di posisi terdepan. Adapun metode untuk memitigasi risiko strategis yang telah dilakukan oleh Bank selama ini adalah sebagai berikut:
1) Menetapkan dan me-review kebijakan manajemen risiko strategis.
2) Menyusun Rencana Bisnis Bank (RBB) yang berisi sasaran dan inisiatif strategis Bank. RBB juga berfungsi sebagai pedoman mengendalikan risiko khususnya risiko strategis.
3) Menyusun target bisnis kantor wilayah berdasarkan RBB.
4) Melakukan sosialisasi penetapan target usaha ke seluruh wilayah usaha.
5) Memantau kinerja seluruh unit kerja melalui perhitungan Key Performance Indicator dengan metodebalance scorecard.
6) Menyusun rencana inti untuk strategi usaha jangka panjang yang mencakup seluruh unit kerja, dengan mengundang konsultan bisnis eksternal.
h. Pengelolaan Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan merupakan risiko akibat Bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan RI dan ketentuan yang berlaku bagi bank syariah. Dalam menjalankan kegiatan usaha pada industri perbankan, Bank diwajibkan untuk selalu tunduk terhadap peraturan perbankan yang diterbitkan baik oleh Pemerintah, Bank Indonesia dan Dewan Syariah Nasional.
Pada umumnya, risiko kepatuhan melekat pada sebuah perseroan terbatas yang terkait erat pada peraturan perundang-undangan RI dan ketentuan lain yang berlaku, yang mengatur kewajiban Bank sebagai sebuah lembaga perbankan syariah, seperti: risiko kredit terkait dengan ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM); Kualitas Aset Produktif; Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aset Produktif (PPAP); Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK); penerapan tata kelola yang baik (GCG); risiko pasar terkait dengan ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN), serta risiko strategis terkait dengan ketentuan Rencana Bisnis Bank (RBB), Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) dan risiko lain yang terkait dengan ketentuan tertentu. Ketidakmampuan Bank untuk mengikuti dan mematuhi seluruh peraturan perundangan yang terkait dengan kegiatan usaha perbankan dapat berdampak terhadap kelangsungan usaha Bank.
h. Pengelolaan Risiko Kepatuhan (lanjutan)
Dalam mengelola risiko kepatuhan, Bank melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Bekerjasama dengan Dewan Pengawas Syariah dalam mengawal kepatuhan operasional Bank sesuai prinsip syariah.
2) Peningkatan pemahaman ketentuan Good Corporate Governance (GCG) dan Code of Conduct(CoC) pada jajaran manajemen Bank melalui:
a) sosialisasi kepada pengurus;
b) sosialisasi kepada divisi kantor pusat; c) workshop dengan kantor wilayah.
3) Penguatan penerapan GCG dan memastikan bahwa semua nasabah pembiayaan memenuhi seluruh persyaratan pembiayaan.
4) Pembuatan pelaporanaction plan dari GCG ke Bank Indonesia, antara lain: a) penyusunan laporan rencana kegiatan pengkinian data nasabah;
b) penguatan fungsi corporate secretary dan human capital sebagai unit kerja khusus penerapan GCG dan CoC.
5) Penyempurnaan ketentuan Know Your Customer (KYC), Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT):
a) pedoman APU dan PPT;
b) pengukuran index KYC, APU dan PPT;
c) penetapan petugas Unit Kepatuhan dan Pengenalan Nasabah (UKPN) di unit kerja; d) kelengkapan data nasabah;
e) kewaspadaan terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU); f) melaksanakan penerapan APU dan PPT ke cabang.
6) Merevisi dan melengkapitools Compliance Procedure dengan menyediakanchecksheet.
7) Meningkatkan pelaksanaan pengujian sertifikat kepatuhan (Compliance Certificate).
8) Memberdayakan Sharia Compliance Officer untuk mengkaji dan menganalisa kesesuaian Syariah dari suatu produk/aktivitas Bank.