HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pengelolaan Zakat proesi, Infaq, dan Shadaqah
Usaha mewujudkan pelaksanaan Otonomi Daerah yang nyata dan bertanggung jawab sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, maka pemerintah daerah dituntut berupaya seoptimal mungkin untuk menggali sumber-sumber pendapatan guna membiayai sendiri kebutuhan pembangunan daerahnya. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan Pengelolaan Zakat, Infaq, dan Shadaqah adalah merupakan rangkaian kegiatan amaliah untuk mencapai kemaslahatan dan keridhoan ilahi. Pelaksanaan atau Pengelolaan Zakat ini merupakan cerminan
59
nilai-nilai religi islamiyah yang termaktub dalam visi dan misi Kabupaten Bulukumba kedepan yakni membangun masyarakat Bulukumba seutuhnya yang bernafaskan Islam.
Agar tidak terjadi kesimpangsiuran Pengelolaan dan realisasi pemberian zakat tepat pada sasarannya, maka pemerintah Kabupaten Bulukumba mengeluarkan PERDA No. 02 tahun 2003 tentang tata cara Pengelolaan guna meningkatkan sumber dana yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat terutama untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan menghilangkan kesenjangan sosial.
Hal ini bila dicermati dengan teliti dan seksama, maka pada aturan main yang ditetapkan dengan adanya PERDA tersebut terdapat akurasi nilai-nilai sosial yang tinggi yang pada gilirannya membawa masyarkaat Bulukumba kepada masyarakat yang madani dengan tingkat harmonisasi kehidupan yang berdaya guna dan berhasil guna sebagaimana ajaran yang terkandung dalam nilai-nilai agama Islam.
Berdasarkan pokok pikiran tersebut di atas, maka dengan melihat aspek-aspek sosial dan tatanan keagamaan yang dijalankan masyarakat Bulukumba, maka sudah barang tentu pemerintah mengeluarkan PERDA tersebut sebagai sebuah pertimbangan untuk meretas jalan kebenaran menuju Pengelolaan Zakat, Infaq, dan Shadaqah yang juga berlandaskan ajaran Islam sebagai berikut:
60 1. Pengelolaan Zakat Profesi
Pengelolaan Zakat profesi yang tengah dijalankan oleh BAZ Bulukumba dengan didasari pada titik tolak Peraturan Daerah No. 02 tahun 2003 tambahan UU RI No. 38 tahun 1999 dan Keputusan Menteri Agama RI, maka dibentuklah beberapa Badan yang mengurus dan mengelolanya. Badan-badan itu yang kemudian dikenal dengan Badan Amil Zakat baik di tingkat Kabupaten, Kecamatan maupun Desa. Pembentukan dan penunjukkan Badan Amil Zakat tersebut merupakan salah satu bentuk usaha pemerintah kabupaten Bulukumba guna mengurangi tingkat kesalahpahaman atau penyalahgunaan Pengelolaan Zakat, Infaq, dan Shadaqah tersebut. Di samping itu, Pengelolaan Zakat profesi, Infak dan Shadaqah juga mempunyai tujuan jelas yakni sebagaimana yang dijabarkan dalam Perda yakni meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penunaian dan dalam pelayanan ibadah zakat, meningkatkan fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial serta meningkatkan hasil guna dan daya guna zakat. Selain itu pelaksanaan Perda No. 02 tentang Pengelolaan Zakat profesi, Infak dan Shadaqah tersebut diharapkan agar dapat mencapai sasaran yang diinginkan BAZ dengan bertitik tolak pada terciptanya sumber dana yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat terutama untuk kesenjangan sosial dan pengentasan kemiskinan. Untuk mewujudkan tujuan agar dapat mencapai sasaran yang dikehendaki oleh pemerintah kabupaten Bulukumba, maka ditetapkannya badan-badan amil mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Pemilihan atau
61
penunjukan Badan Amil Zakat tersebut dilakukan agar dapat melakukan kegiatan Pengelolaan dengan baik dan benar sesuai dengan ajaran agama dan isi dari Perda tersebut. Adapun kegiatan Pengelolaan ini dilakukan dengan beberapa tahap dasar antara lain:
a. Penyusunan Rencana
Setiap perumusan sebuah permasalahan baik itu dalam skala yang global ataupun kecil sekalipun tidak akan mungkin terlepas dari prosedur perencanaan. Penyusunan rencana tersebut dimaksudkan agar dalam tahap pengelolaan zakat tersebut dapat berjalan sesuai ketetapan atau prosedur yang berlaku sebagaimana aturan yang telah ditentukan. Untuk mengetahui lebih jelas tentang perencanaan pengelolaan zakat ini dapat dijelaskan melalui tabel berikut:
Tabel 1 Tanggapan Responden Tentang Prosedur Perencanaan Pengelolaan Zakat profesi
No Kategori Jawaban Frekuensi Prosentase 1 Sangat baik 8 27.59 2 Cukup baik 10 34.48 3 Kurang baik 6 20.69 4 Tidak baik 5 17.24 Jumlah 29 100 Sumber Data: Hasil Olahan Kuisioner, Mei 2014
Sesuai data yang terdapat pada tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa prosedur Perencanaan Pengelolaan Zakat oleh BAZ Bulukumba cukup
62
baik, hal ini ditandai dengan jumlah responden yang memberikan kategori jawaban seperti ini sebanyak 10 orang atau 34.48% dengan asumsi bahwa Perencanaan Pengelolaan Zakat tersebut cukup memberikan kejelasan alur dan tata cara dalam tahap pengelolaan, sebanyak 8 orang atau 27.59 % mengatakan sangat baik dengan alasan yang sama. Sedangkan sebanyak 6 orang atau 20.69 % memberikan jawaban kurang baik dan 5 orang atau 17.24% mengatakan tidak baik dengan alasan Perencanaan Pengelolaan tersebut kurang sesuai dengan aturan yang berlaku.
b. Pengumpulan
Tahap Pengumpulan merupakan sebuah tahap yang dilakukan oleh pihak Pengelola zakat dengan melakakan pendataan pegawai instansi terkait yang terkena wajib zakat. Adapun proses Pengumpulan tersebut dilakukan dengan dimulainya pendataan pendapatan terhadap pegawai/ karyawan yang terkena wajib Zakat profesi. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2 Tanggapan Responden Tentang Pengumpulan Zakat profesi No Kategori Jawaban Frekuensi Prosentase
1. Sangat sesuai 10 34.48 2. Cukup sesuai 14 48.28 3. Kurang sesuai 5 17.24 4. Tidak sesuai - - Jumlah 29 100
Sumber Data: Hasil Olahan Kuisioner, Mei 2014
Berdasarkan uraian tabel 2 diatas membuktikan bahwa tahap Pengumpulan Zakat profesi yang dijalankan tersebut cukup sesuai dengan
63
jumlah responden sebanyak 14 orang atau 48.28 % dengan alasan bahwa tahap pengumpulan tersebut susah sesuai dengan tingkat pendapatan ataupun golongan kepangkatan para pegawai yang ada, sebanyak 10 orang atau 34.48% mengatakan sangat sesuai dan sebanyak 5 orang atau 17.24 % responden menyatakan kurang sesuai dengan memberikan argumen bahwa dalam pelaksanaan Pengumpulan Zakat profesi itu masih terdapat ketidakcocokan pengeluaran zakat dengan pendapatan muzakki. Namun demikian dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Pengumpulan Zakat tersebut berjalan cukup sesuai berdasarkan jumlah dan pendapatan para muzakki.
Agaknya ada beberapa kejanggalan berkaitan dengan konsepsi yang dipilih dan strategi yang diterapkan oleh BAZ Kabupaten Bulukumba dalam hal Pengelolaan Zakat terutama dari sisi Pengumpulan. Pertama, tenaga operasional yang bertugas dalam penerimaan dana zakat tidak mengetahui seberapa besar harta kekayaan muzakki. Karena mereka hanya menerima. Jadi mereka tidak mengetahui apakah zakatnya itu sesuai dengan kekayaannya muzakki atau tidak. Kedua, dalam penerimaan dana Zakat, Infaq dan Shadaqah tidak melakukan pencatatan data muzakki berdasarkan jenis usaha.
c. Pendistribusian
Pendistribusian Zakat merupakan tahap ketiga setelah tahap Perencanaan dan Pengumpulan. Pada tahap Pendistribusian ini, Badan Amil Zakat melakukan pendataan para penerima zakat profesi atau yang disebut Mustahiq.
64
Tabel 3 Tanggapan Responden Tentang Ketepatan Pendistribusian Pengelolaan Zakat profesi
No Kategori Jawaban Frekuensi Prosentase 1 Sangat tepat 8 27.59 2 Cukup tepat 16 55.17 3 Kurang tepat 5 17.24 4 Tidak tepat - -
Jumlah 29 100 Sumber Data: Hasil Olahan Kuisioner, Mei 2014
Berdasarkan gambaran tabel 3 diatas menunjukkan bahwa Pendistribusian Pengelolaan Zakat profesi cukup tepat dengan jumlah responden sebanyak 16 orang atau 55.17 % dari keseluruhan responden dengan alasan bahwa pada tahap Pendistribusian zakat tersebut cukup mengena pada sasarannya yakni pihak penerima (Mustahiq), sebanyak 8 orang atau 27.59 % mengatakan sangat tepat, sedangkan 5 orang lainnya atau 17.24
% mengatakan kurang tepat dengan asumsi bahwa masih terdapat ketidakcocokan Pendistirbusian zakat terhadap para penerima zakat.
d. Pendayagunaan
Pada tahap ini hasil Pengumpulan Zakat profesi, Infak dan Shadaqah diberdayagunakan berdasarkan skala prioritas dan diutamakan untuk usaha yang produktif agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam
65
artian bahwa bagian Pengelolaan Zakat yang tidak kalah pentingnya setelah pengumpulan zakat adalah penyaluran.
Arti penting penyaluran zakat tampak jelas bila ternyata dana yang terkumpul tidak sampai kepada mustahiq atau tidak tepat sasaran. Suatu ironi bila masyarakat telah berduyun-duyun membayar zakat dan mempercayakannya kepada Amil, namun setelah itu dana zakat yang besar itu menguap atau tidak sampai kepada mustahiq yang benar-benar membutuhkan.
Sebab, dengan demikian hal terpenting dari tujuan dan hikmah disyari‟atkannya zakat tidak tercapai.
Seperti telah disinggung diatas, penyaluran zakat perlu memperhatikan antara lain hal-hal berikut : adanya dua pos utama yaitu Pendistribusian dan Pendayagunaan, penekanan pada kelangsungan hidup fakir miskin, penekanan pada upaya pembinaan umat Islam, dan penekanan pada upaya pemberdayaan ekonomi umat.
Badan Amil Zakat, dalam penyalurannya juga mengetahui permasalahan yang ada pada mustahiq. Apabila permasalahannya adalah permasalahan kemiskinan, harus diketahui penyebab kemiskinan tersebut, sehingga BAZ dapat mencari solusi yang tepat demi tercapainya target yang telah direncanakan.
Proses pembagian dana ZIS di Kabupaten Bulukumba, BAZ bekerja sama dengan setiap UPZ Kecamatan diseluruh Kabupaten Bulukumba.
Perwakilan dari setiap BAZ Kecamatan tersebut datang ke BAZ Kabupaten/
66
Kota untuk mengambil zakat untuk kemudian dibagikan kepada para mustahiq di setiap desa masing-masing kecamatan.
Pendayagunaan dana ZIS di BAZ Kabupaten Bulukumba diklasifikasikan menjadi dua bentuk:
1. Bentuk konsumtif, yaitu Zakat, Infaq dan Shadaqah yang dibagikan kepada mustahiq secara langsung (bersifat bantuan sesaat untuk menyelesaikan masalah yang mendesak). Diantaranya disalurkan untuk bantuan konsumtif fakir miskin, ibnu sabil dan lain-lain sesuai syariat, bantuan anak berprestasi dan bantuan bencana alam. Agar pendayagunaan hasil pengumpulan zakat, infak dan shadaqah berjalan dengan baik, maka oleh pemerintah Kabupaten menetapkan beberapa persyaratan sebagaimana persyaratan yang terdapat dalam Islam tersebut adalah sebagai Islam.
Pendayagunaan hasil Pengumpulan Zakat di BAZ Kabupaten Bulukumba untuk kebutuhan konsumtif mustahiq dilakukan berdasarkan persyaratan sebagai berikut:
a. Hasil pendataan dan penelitian kebenaran mustahiq delapan anhsaf yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, sabilillah dan ibnusabil.
b. Mendahulukan orang-orang yang paling tidak berdaya memenuhi kebutuhan dasar secara ekonomi dan sangat memerlukan bantuan.
c. Mendahulukan mustahiq dalam wilayahnya masing-masing
2. Bentuk produktif, yaitu zakat, infaq dan shadaqah yang diberikan dalam bentuk pemberdayaan modal untuk membangun usaha. Misalnya untuk
67
bantuan produktif berupa modal usaha atau alat ketrampilan usaha untuk mengentaskan kemiskinan. Adapun Pendayagunaan hasil Pengumpulan Zakat profesi untuk kebutuhan usaha produktif di BAZ Kabupaten Bulukumba dilakukan berdasarkan pertimbangan sebagai berikut :
a. Apabila pendayagunaan zakat sebagaimana dimaksud sudah terpenuhi dan ternyata masih terdapat kelebihan
b. Terdapat usaha-usaha nyata yang berpeluang menguntungkan c. Mendapat persetujuan tertulis dari Dewan Pertimbangan Zakat.
Agar dapat mengetahui lebih jelas tentang Pendayagunaan hasil Pengumpulan Zakat tersebut dapat digambarkan melalui tabel berikut:
Tabel 4 Tanggapan Responden Tentang Pendayagunaan Pengelolaan Zakat profesi
No Kategori Jawaban Frekuensi Prosentase 1 Sangat berguna 8 27.59 2 Cukup berguna 10 34.48 3 Kurang berguna 6 20.69 4 Tidak berguna 5 17.24
Jumlah 29 100 Sumber Data: Hasil Olahan Kuisioner, Mei 2014
Berdasarkan hasil olahan data yang terdapat pada tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa Pendayagunaan Pengumpulan hasil zakat cukup berguna bagi kepentingan masyarakat sebagai pihak penerima zakat. Kategori jawaban seperti ini sebanyak 10 orang atau 34.48 % responden, sebanyak 8 oarang atau
68
27.59 % mengatakan sangat berguna, dan sebanyak 6 orang atau 20.69%
mengatakan kurang berguna serta 5 orang atau 17.24 % mengatakan pendayagunaan pengumpulan hasil zakat tersebut tidak berguna.
Demi mewujudkan pencapaian hasil Pengelolaan yang lebih profesional dan berkualitas, maka BAZ Bulukumba juga melakukan penyuluhan dan pemantauan sebagai bentuk tindak lanjut dan kesinambungan pengelolaan zakat. Untuk itu, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba menetapkan beberapa tugas pokok Badan Amil sebagai pengelola antara lain:
1) Menyelenggarakan tugas administrasi dan teknis Pengumpulan Pendistribusian, serta Pendayagunaan Zakat.
2) Mengumpulkan dan mengolah data yang diperlukan untuk penyusunan rencana pengelolaan zakat.
3) Meyelenggarakan bimbingan di bidang Pengelolaan, Pengumpulan, Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat.
4) Melaksanakan Pengumpulan, Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat, menyusun rencana dan program pelaksanaan Pengumpulan, Pendistribusian, Pendayagunaan Zakat, serta penelitian dan pengembangan Pengelolaan zakat.
Selain itu juga, prosedur Pendayagunaan hasil Pengumpulan Zakat untuk usaha produktif ditetapkan sebagai berikut:
1) Melakukan studi kelayakan 2) Menetapkan jenis usaha produktif
69 3) Melakukan bimbingan dan penyuluhan
4) Melakukan pemantauan dan pengendalian serta pengawasan 5) Mengadakan evaluasi
6) Membuat laporan.
Berangkat pada item tersebut di atas, maka dalam Pengelolaannya, pemerintah Kabupaten Bulukumba lebih menitik beratkan pada peningkatan koordinasi sebagai salah satu bentuk usaha kesinambungan kerjasama antara pihak-pihak pengelola (Badan Amil Zakat) dengan Pemerintah setempat guna mengoptimalisasikan kinerja pihak pengelola. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5 Tanggapan Responden Tentang Tingkat Koordinasi dalam Peningkatan Pendayagunaan Pengelolaan Zakat profesi
No Kategori jawaban Frekuensi Prosentase 1 Sangat baik 8 27.59 2 Cukup baik 15 51.72 3 Kurang baik 6 20.69 4 Tidak baik - - Jumlah 29 100
Sumber Data: Hasil Olahan Kuisioner, Mei 2014
Berdasarkan data yang terdapat pada tabel 5 tersebut di atas menunjukkan bahwa tingkat koordinasi dalam Pengelolaan dan Pendayagunaan zakat profesi berjalan cukup baik dengan jumlah responden sebanyak 15 orang atau 51.72 % dari total responden yang ada
70
dengan alasan bahwa koordinasi yang dilakukan pihak pemerintah dengan Pengelola (Badan Amil Zakat) Kabupaten Bulukumba berjalan sesuai dengan garis kerja masing-masing bidang dengan tingkat sosialisasinya yang cenderung menguntungkan. Sebanyak 8 orang atau 27.59 % responden mengatakan sangat baik, sebanyak 6 orang atau 20.69 % mengatakan kurang baik dan tidak ada responden yang memberikan kategori jawaban tidak baik.
2. Pengelolaan Infak dan Shadaqah
Pengelolaan Infak dan Shadaqah sebagai yang diatur dalam Peraturan Daerah tersebut sedang dijalankan oleh Pemerintah dan Masyarakat Bulukumba secara keseluruhan. Adapun pelaksanaan Pengelolaannya dilakukan oleh Badan Amil Zakat (BAZ) tingkat kabupaten dengan didasari oleh keputusan Bupati atas usul Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Bulukumba. Dalam pelaksanaannya pengeluaran Infak dan Shadaqah tersebut ditentukan juga batas minimal dana sesuai dengan golongan kepangkatan para pegawai yakni berkisar antara:
a. Golongan I : Rp. 1.500,- /bulan b. Golongan II : Rp. 3.000,- /bulan c. Golongan III : Rp. 4.000,- /bulan d. Golongan IV : Rp. 5.000,- /bulan e. Pejabat Negara : Rp. 7.000,- /bulan
71
Batas minimal pengeluaran Infak dan Shadaqah tersebut merupakan salah satu dari Peraturan Daerah No. 02 tahun 2003 yang didalamnya terdapat aturan-aturan atau ketentuan pengeluaran Infak dan Shadaqah. Ketentuan dan aturan ini kemudian diperkuat oleh keputusan Bupati Bulukumba No. 39/EX/2003 tentang pelaksanaan daerah tersebut dalam lingkup BAZ Kabupaten Bulukumba serta hasil pertemuan Tim Unit Pengumpul Zakat (UPZ) tanggal 8 Mei tentang mekanisme pengumpulan zakat, infak dan shadaqah dengan perincian sebagaimana tersebut di atas.
Adapun pembayaran Zakat profesi, Infak dan Shadaqah tersebut dilakukan oleh Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dengan menyetorkannya ke Sekretariat Unit Pengumpul Zakat (UPZ) pada bagian pemberdayaan perempuan dan Kesra Sekretariat Kabupaten Bulukumba. Hal ini dilakukan guna menghindari kesimpangsiuran Pengelolaan serta menjaga keamanan Pengelolaan Infak dan Shadaqah tersebut. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan Infak dan Shadaqah maka penulis menggunakan beberapa item penilaian hasil antara lain: 1) Kesesuaian, 2) Ketepatan, dan 3) Manfaat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 6 Tanggapan Responden Tentang Tingkat Kesesuiaan Pengelolaan Infak dan Shadaqah
No Kategori jawaban Frekuensi Prosentase 1 Sangat sesuai 11 37.93 2 Cukup sesuai 13 44.83
72
3 Kurang sesuai 5 17.24 4 Tidak sesuai - - Jumlah 29 100 Sumber Data: Hasil Olahan Kuisioner, Mei 2014
Berdasarkan data yang terdapat pada table 6 di atas menunjukkan bahwa Pengelolaan Infak dan Shadaqah cukup sesuai dengan jumlah responden sebanyak 13 orang atau 44.83 % dengan alasan bahwa Pengelolaan Infak dan Shadaqah tersebut cukup sesuai dan sejalan dengan aturan yang berlaku. Sebanyak 11 orang atau 37.93 % responden mengatakan sangat sesuai dengan alasan yang sama, sedangkan sebanyak 5 orang atau 17.24% responden menyatakan kurang sesuai dan tidak tidak ada responden yang mengatakan tidak sesuai.
Selanjutnya penulis mengemukakan tingkat ketepatan Pengelolaan Infak dan Shadaqah dan batas minimal jumlah Infak dan Shadaqah yang dikeluarkan.
Tabel 7 Tanggapan Responden Tentang Infak dan Shadaqah Pada Tingkat Ketepatan Pengelolaan
No. Kategori Jawaban Frekuensi Prosentase 1 Sangat tepat 6 20.69 2 Cukup tepat 20 68.96 3 Kurang tepat 3 10.35 4 Tidak tepat - -
73
Jumlah 29 100 Sumber Data: Hasil Olahan Kuisioner, Mei 2014
Berdasarkan uraian tabel tersebut diatas dapat dilihat dengan jelas bahwa Pengelolaan Infak dan Shadaqah tersebut cukup tepat, dimana jawaban seperti ini sebanyak 20 orang atau 68.96 % responden dengan asumsi bahwa pengelolaan kontribusi positif terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Sebanyak 6 orang atau 20.69 % sangat tepat dan 3 orang atau 10.35 % kurang tepat, sedangkan kategori jawaban tidak tepat tidak nampak pada jawaban responden.
Tabel 8 Tanggapan Responden Tentang Infak dan Shadaqah Manfaat dan Pengelolaan
No Kategori Jawaban Frekuensi Prosentase 1 Sangat bermanfaat 10 34.48 2 Cukup bermanfaat 17 58.62 3 Kurang bermanfaat 2 6.90 4 Tidak bermanfaat - -
Jumlah 29 100 Sumber Data: Hasil Olahan Kuisioner, Mei 2014
Tabel di atas menunjukkan bahwa pengelolaan infak dan shadaqah cukup bermanfaat dengan jumlah responden sebanyak 17 orang atau
74
58.62% dengan asumsi bahwa pengelolaan ini cukup memberikan manfaat bagi kemaslahatan umat. Sejumlah 10 orang atau 34.48 % responden mengatakan sangat bermanfaat dengan alasan yang sama dan sejumlah 2 orang atau 6.90 % responden mengatakan kurang bermanfaat dan tidak ada responden yang mengatakan tidak bermanfaat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pengelolaan Infak dan Shadaqah cukup bermanfaat dan dapat dikategorikan cukup optimal.
C. Faktor-faktor yang Menjadi Pengaruh, Kelebihan dan Kelemahan