• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II METODOLOGI PENGHITUNGAN 9

2.6 PENGELOMPOKAN INDEKS PEMBANGUNAN

Untuk melihat capaian IPM antar wilayah dapat dilihat melalui pengelompokan IPM ke dalam beberapa kategori. Pengelompokan IPM di suatu wilayah di bagi kedalam 4 (empat) golongan yaitu Rendah, Sedang, Tinggi dan Sangat Tinggi, dengan kriteria sebagai berikut :

Tabel 2.4. Tingkat Status Indeks Pembangunan Manusia

Kategori Kriteria

(1) (2)

Rendah IPM  60

Sedang 60  IPM  70

Tinggi 70  IPM  80

Sangat Tinggi IPM  80

Nilai Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Ciamis pada Tahun 2018 sebesar 69,34 telah mencapai klasifikasi Sedang.

BAB III

SITUASI PEMBANGUNAN MANUSIA

BAB III

SITUASI PEMBANGUNAN MANUSIA

3.1. Situasi Kependudukan 3.1.1 Sebaran Penduduk

Penduduk dalam suatu daerah merupakan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dalam proses pembangunan. Penduduk berperanan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA). Penyebaran penduduk berdampak positif kepada pemerataan dalam pengelolaan SDA. Namun, sebaran penduduk juga dapat menjadi kendala dalam pemerataan pembangunan manusia. Akhirnya, supaya akses masyarakat terjamin maka berbagai sarana harus dibangun secara proporsional terhadap sebaran penduduk.

Berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk, di Kabupaten Ciamis pertengahan tahun 2018 terdapat 1.188.629 orang, terdiri dari 587.512 laki-laki dan 601.117. Penduduk tersebut sebagian besar (8,58%) terdapat di Kecamatan Ciamis dan paling sedikit (1,34%) di Kecamatan Cimaragas.

Bila jumlah penduduk dibandingkan dengan luas wilayah 1.433,87 km2 maka kepadatan penduduk di Kabupaten Ciamis mencapai 829 jiwa per kilometer persegi.

Kecamatan terpadat yakni Kecamatan Ciamis (3.104 orang/km2), diikuti Kecamatan Baregbeg (1.804 orang/km2). Sedangkan Kecamatan Cidolog menjadi yang paling jarang penduduknya (326 orang/km2).

Gambar 3.1

Sebaran Penduduk di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

Tabel 3.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

No Kecamatan Luas Wilayah

Km2 Penduduk Kepadatan

Analisis tentang komposisi penduduk diperlukan untuk mengenal karakteristik populasi. Beberapa komposisi yang sering dicermati antara lain penduduk menurut jenis kelamin (rasio jenis kelamin), penduduk menurut kelompok umur, penduduk menurut status perkawinan dan penduduk menurut kelompok usia ketenagakerjaan.

Rasio jenis kelamin menunjukkan perbandingan antara jumlah laki-laki dengan perempuan. Pada tahun 2018, rasio jenis kelamin di Kabupaten Ciamis sebesar 97,74 persen yang berarti terdapat 97 hingga 98 laki-laki diantara 100 perempuan. Hampir seluruh kecamatan di Kabuapaten Ciamis memiliki rasio jenis kelamin kurang dari 100.

Hanya Kecamatan Sidangkasih dan Jatinagara yang berbeda yaitu masing-masing 100,00 dan 100,08. Keadaan ini memberi petunjuk bahwa pembangunan di Kabupaten Ciamis perlu lebih memperhatikan kebutuhan kaum perempuan yang populasinya lebih dominan.

Gambar 3.2

Rasio Jenis Kelamin Penduduk di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

Komposisi selanjutnya yakni penduduk menurut umur. Secara umum, komposisi ini memberi petunjuk berbagai sasaran pembangunan manusia. Sasaran tersebut antara lain kelompok balita, kelompok anak, kelompok wajib belajar, kelompok usia subur dan kelompok lanjut usia.

Gambar 3.3

Piramida Penduduk di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

Kelompok balita (0-4 tahun) di Kabupaten Ciamis terlihat masih cukup besar.

Kelompok ini merupakan sasaran penting bagi pembangunan manusia. Tumbuh kembang balita perlu terjamin. Derajat kesehatan mereka berdampak langsung pada capaian usia harapan hidup dan kualitas sumber manusia di masa mendatang.

Selanjutnya kelompok usia pra sekolah dan sekolah (5-24 tahun) sangat banyak.

Ini merupakan sasaran pembangunan pendidikan. Partisipasi mereka dalam pendidikan formal akan berdampak langsung pada capaian Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah. Oleh karena itu, kelompok ini sangat perlu perhatian pemerintah.

Kelompok lain yang perlu dicermati yakni kelompok perempuan usia subur (15-49 tahun). Ini merupakan sasaran penting dalam program pengendalian penduduk. Di Kabupaten Ciamis, jumlah perempuan usia subur tampak cukup besar. Walaupun yang terbesar kelompok usia 45-49 tahun (menjelang manopause), peluang menambah anak masih ada. Apabila tidak ada intervensi dapat meningkatkan laju pertumbuhan penduduk.

Seiring peningkatan derajat kesehatan di Kabupaten Ciamis, kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas) semakin banyak. Perhatian pemerintah terhadap kelompok ini sangat diharapkan. Kelompok usia lanjut sering dianggap kelompok rentan. Kemampuan mereka untuk mengurus diri dan memenuhi kebutuhan hidup disinyalir mulai terbatas.

Analisis selanjutnya yakni komposisi penduduk menurut umur ketenagakerjaan.

Komposisi ini sangat penting untuk dicermati. Potensi penduduk tercermin dari angka beban ketergantungan (dependency ratio) yang semakin kecil. Penduduk usia produktif (kelompok umur 15-64 tahun) lebih banyak daripada yang tidak produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan 65 ke atas).

Angka beban tanggungan kurang dari 50 persen menunjukkan daerah tersebut telah memasuki periode bonus demografi. Bila bonus demografi dimanfaatkan secara baik maka akan membuka window of opportunity. Kesempatan untuk mempercepat roda ekonomi menjadi lebih besar karena berlimpahnya penduduk usia produktif. Namun, bila bonus demografi tidak termanfaatkan maka yang terjadi yakni bencana sosial. Tingkat pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas bisa jadi meningkat.

Puncak bonus demografi dapat terasa manfaatnya bila sebagian besar penduduk usia produktif bekerja, tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat dan pengangguran berkurang. Untuk mencapai itu, maka pembangunan manusia khususnya usia produktif seyogyanya dilakukan secara masif. Pendidikan dan keterampilan mereka ditingkatkan dan disertai penyediaan lapangan kerja.

Tersedianya lapangan kerja akan mencegah SDM berpendidikan tinggi mencari dan pindah ke kabupaten lain. Semakin banyak SDM berkualitas tinggal di daerahnya maka keberhasilan pembangunan manusia semakin kentara.

Tabel 3.2 Angka Beban Tanggungan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

No Kecamatan Laki-laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4) (5)

Kabupaten Ciamis 50,54 48,06 49,28

Angka beban tanggungan di Kabupaten Ciamis pada tahun sebesar 49,28. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk di Kabupaten Ciamis mulai mamasuki periode bonus demografi. Namun demikian, belum seluruh kecamatan berada pada periode bonus demografi. Di Kecamatan Lakbok, Purwadadi, Cikoneng, Sindangkasih, Cihaurbeuti, Sadananya, Cipaku, Panawangan, Lumbung, Panjalu, Sukamantri dan Panumbangan masih memiliki angka beban tanggungan di atas 50 persen.

3.2. Situasi Pendidikan

Pendidikan merupakan elemen penting pembangunan dan perkembangan sosial-ekonomi masyarakat. Telah disadari bersama, pendidikan memiliki arti penting bagi upaya meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, proses pendidikan sesungguhnya merupakan upaya sadar individu atau masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta memperluas wawasannya. Berbekal pendidikan yang cukup, setiap individu dituntut dapat meningkatkan partisipasinya dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga dapat hidup secara lebih layak.

Tujuan pendidikan dalam UUD 1945 (versi amandemen) dalam pasal 31, ayat 3 menyebutkan "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang“. Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

3.2.1. Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan baik sekolah swasta maupun negeri terlihat cukup memadai.

Menurut Kemendikbud tercatat 745 sekolah dasar (SD), 121 sekolah menengah pertama (SMP), 27 sekolah menengah atas (SMA), 70 sekolah menengah kejuruan (SMK) dan 22 sekolah luar biasa (SLB). Sedangkan Kemenag mencatat sebanyak 163 madrasah ibtidaiyah (MI), 107 madrasah tsanawiyah (MTs) dan 44 madrasah aliyah (MA).

Tabel 3.3 Jumlah Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan di Kabupaten Ciamis

Tingkat Pendidikan Negeri Swasta Total

(1) (2) (3) (4)

Sumber : http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id dan http://emispendis.kemenag.go.id

Sebaran sekolah dasar yang dikelola Kemendikbud terlihat merata. Namun, tingkat SMP hingga SMA/SMK mulai kurang merata, bahkan terdapat kecamatan yang tidak ada SMA/SMK. Untuk tingkat SMP, Kecamatan Banjarsari dan Ciamis sangat menonjol jumlahnya dibandingkan kecamatan lain. Beberapa kecamatan yang belum ada sekolah setingkat SMA/SMK yaitu Kecamatan Banjaranyar, Tambaksari dan Sukamantri.

Keberadaan fasilitas pendidikan di setiap kecamatan, disinyalir berpengaruh terhadap kemudahan akses masyarakat dalam pendidikan. Partisipasi sekolah bisa saja menjadi rendah akibat terhambat oleh jarak, biaya transportasi, biaya tempat tinggal dan biaya penunjang pendidikan. Murid yang melanjutkan sekolah pun menjadi sedikit.

Tabel 3.4 Sebaran Sekolah yang Dikelola Kemendikbud Menurut Kecamatan di Kabupaten Ciamis

3.2.2. Partisipasi Sekolah

Ketersediaan sarana pendidikan belum menjamin keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan. Pemerintah Kabupaten Ciamis berupaya meningkatkan partisipasi sekolah melalui Kartu Calakan. Dengan kartu ini, siswa dari keluarga miskin yang tidak tercakup dalam Program Indonesia Pintar dari Pemerintah Pusat mendapat bantuan biaya pendidikan.

Pemantauan pembangunan pendidikan seyogyanya dimulai dari prosesnya yaitu partisipasi sekolah. Tidak hanya kesempatan belajar yang dibuka tetapi juga mengawal keikutsertaan masyarakat dalam pendidikan. Indikator yang sering digunakan antara lain Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Murni (APM). APS mengukur partisipasi sekolah menurut kelompok umur. APM mengukur parisipasi sekolah pada jenjang tertentu menurut kelompok umurnya.

Di tahun 2018, Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun mencapai 99,48 persen. Selanjutnya APS penduduk usia 13-15 tahun mencapai 96,18 dan usia 15-18 tahun mencapai 71,34 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa di Kabupaten Ciamis masih ada penduduk usia sekolah yang belum/tidak bersekolah lagi.

Apabila dicermati bedasarkan kelompok umurnya, terlihat APS usia 7-12 tahun terlihat sangat bagus tetapi APS usia 13-15 tahun dan usia 15-18 kondisinya kurang menggembirakan. Keadaan ini patut diduga terdapat anak putus atau tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa alasan belum/tidak bersekolah lagi antara lain disabilitas, sekolah jauh, memilih bekerja bahkan merasa sudah cukup.

Gambar 3.4

Angka Partisipasi Sekolah di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat Kab. Ciamis 2018

Indikator pendidikan berikutnya yakni Angka Partisipasi Murni (APM). Jika nilai APM mencapai 100 persen berarti seluruh penduduk suatu kelompok umur sedang/ masih sekolah sesuai jenjang pendidikannya. Untuk APM SD/sederajat maka penduduk yang diamati yakni usia 7-12 tahun. APM SMP/sederajat maka penduduk yang diamati usia 13-15 tahun. APM SMA/sederajat mengamati penduduk usia 16-18 tahun.

Pada tahun 2018, APM SD/sederajat di Kabupaten Ciamis mencapai 97,60 persen. APM SMP/sederajat mencapai 84,67 persen dan APM SMA/sederajat mencapai 51,38 persen. Seperti halnya APS, fenomena yang sama juga terlihat pada APM yakni nilai APM semakin rendah seiring naiknya jenjang sekolah. Selain itu, APM perempuan pada jenjang SMP/sederajat dan SMA/sederajat juga lebih rendah daripada APM laki-laki.

Gambar 3.5

Angka Partisipasi Murni di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

Kejadian putus ataupun tidak melanjutkan sekolah akan berdampak langsung pada Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Semakin banyak yang tidak sekolah ataupun berhenti pada jenjang pendidikan yang rendah menjadikan proporsi penduduk yang masih sekolah semakin kecil dan pendek. Pemerintah Kabupaten Ciamis seyogyanya terus berupaya agar angka putus sekolah dapat diperkecil.

Selanjutnya persentase murid yang melanjutkan sekolah juga perlu dikawal hingga jenjang pendidikan tertinggi. Apabila jarak ke sekolah, biaya transportasi akibat sebaran sekolah yang kurang merata, maka sekolah satu atap patut dipertimbangkan. Misalnya, murid yang telah lulus SD dapat melanjutkan ke SMP di gedung sekolah yang sama.

Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat Kab. Ciamis 2018

3.2.3. Dampak Pembangunan Pendidikan

Salah satu dampak dari pembangunan pendidikan terlihat dari tingkat pendidikan.

Hasil survei menunjukkan secara umum sebagian besar (50,30%) penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Ciamis pada tahun 2018 memiliki ijasah tertinggi setingkat SD/sederajat. Kondisi ini terlihat hampir di seluruh kecamatan.

Tabel 3.5 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Ijasah Tertinggi Per Kecamatan di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

No Kecamatan punya Tidak Sederajat SD/ Sederajat SMP/ Sederajat SMA/ Perguruan Tinggi Total Terkait Indeks Pembangunan Manusia, dampak pembangunan pendidikan diukur dengan Rata-rata Lama Sekolah (RLS25+) dan Harapan Lama Sekolah (HLS7). Rata-rata lama sekolah dihitung dari penduduk usia 25 tahun ke atas. Harapan Lama Sekolah dihitung dari penduduk usia 7 tahun ke atas.

Hasil sementara menunjukkan RLS25+ di Kabupaten Ciamis tahun 2018 sekitar 7,63 tahun. Hal ini meningkat dibandingkan RLS25+ tahun 2017 yang tercatat sebesar 7,59 tahun. RLS25+ meningkat perlahan karena perubahan pendidikan penduduk memerlukan waktu dan diperlukan upaya yang masif.

Gambar 3.6

Perkembangan RLS25+ di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

Ditinjau per kecamatan, terlihat Kecamatan Ciamis memiliki RLS25+ tertinggi (9,17 tahun) atau setara SMP. Namun Kecamatan Banjaranyar, Purwadadi, Pamarican, Cimaragas, Rajadesa dan Sukamantri masih di bawah RLS25+ Kabupaten Ciamis.

Gambar 3.7

RLS25+ di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

*)Angka sementara

Indikator pendidikan lain terkait Indeks Pembangunan Manusia yakni Harapan Lama Sekolah (HLS7). Berdasarkan hasil Survei Parameter Pembangunan Manusia diperoleh hasil sementara HLS7 Kabupaten Ciamis tahun 2018 sekitar 13,68 tahun.

Sementara capaian tahun 2017 tercatat sekitar 13,66 tahun.

Gambar 3.8

Perkembangan HLS25+ di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

HLS7 Kecamatan Ciamis merupakan yang tertinggi (15,58 tahun), sedangkan Kecamatan Tambaksari terendah (12,15 tahun). Disparitas antar kecamatan tampaknya masih menjadi masalah yang perlu segera ditindaklanjuti agar HLS7 nya relatif merata.

Gambar 3.9

HLS7 di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

*)Angka sementara

3.3. Situasi Kesehatan

Pembangunan di bidang kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat setiap orang (Renstra Kemenkes 2015-2019).

Keberhasilan dalam melakukan pembangunan di bidang kesehatan ditandai dengan pen-duduk yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang tinggi. Departemen Kesehatan RI memperlihatkan skema kaitan antara investasi di bidang kesehatan dengan pembangunan manusia.

Sumber : Depatemen Kesehatan RI, Juni 2003

Gambar 3.10.

Kaitan Investasi Bidang Kesehatan dengan Pembangunan Manusia

Pemerintah Kabupaten Ciamis telah berupaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu program unggulan di bidang kesehatan yaitu Kartu Waluya. Dengan program ini, masyarakat miskin yang belum mendapat bantuan bidang kesehatan dari Pemerintah Pusat akan memperoleh layanan kesehatan gratis. Harapannya, seluruh warga terjamin kesehatannya sehingga mampu melakukan aktivitas dengan baik.

3.3.1. Derajat Kesehatan

Kesehatan menjadi dimensi penting dalam pembangunan manusia. Hal ini karena kesehatan berkaitan dengan produktivitas manusia. Seseorang dalam keadaan sehat dapat menjalankan segala aktivitas seperti bekerja, bersekolah, mengurus rumah tangga, berolahraga maupun aktivitas lainnya lebih baik dibandingkan saat kondisi tubuhnya sedang sakit. Tentunya output yang dihasilkan juga dapat lebih baik.

Berdasarkan teori Henrik L. Blum, derajat kesehatan penduduk dapat diukur dari angka kematian (mortalitas) dan angka kesakitan (morbiditas). Angka mortalitas menun-jukkan jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun. Morbiditas adalah penduduk yang mengalami keluhan kesehatan dan menyebabkan terganggunya kegiatan sehari-hari (Notoadmodjo, 2007).

Tabel 3.6 Persentase Penduduk Yang Mengalami Keluhan Kesehatan Sebulan Yang Lalu Per Kecamatan di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

No Kecamatan

Pada tahun 2018, penduduk yang mengalami keluhan kesehatan sekitar 23,79 persen. Dilihat per jenis kelamin, sekitar 22,90 persen laki-laki mengalami keluhan kesehatan sedangkan pada perempuan sekitar 24,65 persen. Kemudian ditinjau per kecamatan, terlihat penduduk Kecamatan Lumbung banyak (48,26%) yang mengalami keluhan kesehatan. Begitu pula di Kecamatan Lakbok sekitar 40,70 persen penduduknya mengalami keluhan kesehatan. Sebaliknya di Kecamatan Sukamantri hanya 12,57 persen yang mengalami keluhan kesehatan.

Secara umum, angka morbiditas (yang mengalami kesehatan dan terganggu aktivitasnya) di Kabupaten Ciamis tahun 2018 sebesar 10,86 persen dari total penduduk.

Selanjutnya, apabila dibandingkan antar kecamatan, terlihat mordibitas di Kecamatan Lumbung cukup tinggi (43,62%), sedangkan Kecamatan Rancah sangat rendah (4,23%).

Berbagai faktor dapat menjadi penyebab tingginya angka mordibitas misalnya cuaca, pekerjaan, jenis penyakit dan daya tahan tubuh.

Upaya masyarakat dalam mengatasi keluhan kesehatannya dapat dengan berobat sendiri, berobat jalan maupun rawat inap. Ternyata sekitar 73,57 persen dari penduduk yang mengalami keluhan kesehatan mengaku pernah berobat sendiri. Mereka berupaya mengobatinya dengan membeli obat dari warung, jamu/obat tradisional dan sebagainya.

Selain dengan berobat sendiri, sekitar 48,44 persen dari penduduk yang mengalami keluhan kesehatan berupaya dengan berobat jalan. Mereka mengunjungi fasilitas/layanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik ataupun fasilitas kesehatan lainnya.

Tabel 3.7 Wanita Pernah Kawin Yang Melahirkan Anak Lahir Hidup Terakhir Dalam Periode 2 Tahun Yang Lalu atau Kurang Menurut Tempat Melahirkan

dan Penolong Proses Kelahiran Terakhir di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

No Rincian Jumlah Persentase

(1) (2) (3) (4)

1 Tempat melahirkan

a. Rumah sakit/Rumah Bersalin/

Klinik/Praktek nakes 15 984 59,32

b. Puskesmas/Pustu/Polindes/Poskesdes 8 235 30,56

c. Lainnya 2 727 10,12

Total 26 946 100,00

2 Penolong Proses Kelahiran Terakhir

a. Dokter kandungan 4 926 18,28

b. Bidan 22 020 81,72

Total 26 946 100,00

Terkait dengan pembangunan manusia, kesehatan anak menjadi sangat penting.

Kesehatan anak manusia sejak lahir sangat mempengaruhi keberlangsungan hidupnya.

Oleh karena itu, derajat kesehatan saat lahir berdampak pada capaian Angka Harapan Hidup. Proses persalinan, pemberian ASI, imunisasi dan asupan gizi perlu dicermati.

Salah satu peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan dan keberlangsungan hidup anak yaitu proses persalinan. Harapannya, seluruh persalinan dapat dilakukan dan ditangani di fasilitas kesehatan sehingga kesehatan dan keselamatannya lebih terjamin.

Hasil Survei Parameter Pembangunan Manusia tahun 2018 menunjukkan wanita yang pernah melahirkan terakhir dalam periode 2 tahun yang lalu atau kurang telah melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Secara rinci, sekitar 59,32 persen persalinan di Rumah sakit/Rumah bersalin/klinik/praktek tenaga kesehatan, 30,56 persen di puskesmas/pustu/

polindes/poskesdes dan hanya 10,12 persen yang persalinan di rumah/lainnya. Selain itu, penolong persalinan juga seluruhnya oleh tenaga medis. Sekitar 18,28 persen proses kelahiran ditolong dokter kandungan dan 81,72 persen oleh bidan.

3.3.2. Kesehatan Lingkungan

Tingkat mortalitas dan morbiditas penduduk dipengaruhi oleh empat faktor yaitu lingkungan, perilaku kesehatan, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang paling besar yaitu 45 persen. Sementara itu, pengaruh peri-laku kesehatan sebesar 30 persen, pelayanan kesehatan sebesar 20 persen, dan kepen-dudukan/keturunan sebesar 5 persen. Keempat faktor tersebut saling terkait dan berinter-aksi dengan faktor lingkungan dan perilaku kesehatan yang paling besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan manusia (Kasnodihardjo dkk, 1997).

Kondisi lingkungan tercermin dari kepemilikan tempat buang air besar, kondisi sanitasi, dan akses terhadap air minum bersih dan jenis lantai terluas. Sekitar 87,04 persen rumah tangga Kabupaten Ciamis yang sudah memiliki fasilitas tempat buang air besar baik digunakan anggota rumah tangga sendiri ataupun bersama rumah tangga lain.

Kualitas sanitasi tercermin dari persentase akses terhadap sanitasi layak. Fasilitas sanitasi harus memenuhi syarat kesehatan, antara lain klosetnya menggunakan leher angsa atau plengsengan dengan tutup, tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tanki septik (septic tank) atau Sistem Pengolahan Air Limbah (SPAL), dan fasilitas sanitasi tersebut digunakan oleh rumah tangga sendiri atau bersama dengan rumah tangga lain tertentu. Secara umum, pada tahun 2018 akses terhadap sanitasi layak mencapai 61,27 persen. Namun demikian, kondisi di Kecamatan Sadananya perlu perhatian karena akses sanitasi layaknya hanya 24,97 persen.

Gambar 3.11.

Persentase Rumah Tangga Menurut Akses terhadap Sanitasi Layak di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

Indikator selanjutnya yakni akses terhadap air bersih. Pembangunan sarana air bersih di suatu daerah, beberapa infeksi oleh mikrobakteria, misalnya kolera, desentri, thypus dan lainnya dapat dikurangi (Said, 1999). Di Kabupaten Ciamis, rumah tangga yang menggunakan air kemasan/isi ulang/leding/sumur bor/pompa/sumur terlindung/

mata air terlindung sebagai sumber air utama untuk minum sekitar 87,27 persen. Hal ini berarti terdapat 12,73 persen bersumber dari sumur/mata air tidak terlindung/lainnya.

Harapannya, seluruh rumah tangga di Kabupaten Ciamis memanfaatkan sumber air terlindung sehingga program air minum dan penyehatan lingkungan seperti WESLIC perlu terus direalisasikan.

Tabel 3.8. Rumah Tangga Menurut Sumber Utama Air Minum di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

No Sumber Utama Air Minum Jumlah Persentase

(1) (2) (3) (4)

1

Air kemasan bermerk/Air isi ulang/Leding/

Sumur bor/ pompa/ Sumur terlindung/

Mata air terlindung

310 783 87,27

2 Lainnya 45 354 12,73

Total 356 137 100,00

3.3.3. Kualitas Perumahan

Selain beberapa indikator lingkungan di atas, jenis lantai rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Lantai yang baik harus selalu kering (Achmadi, 2008).

Jenis lantai yang baik berasal dari ubin atau semen, bukan dari tanah, karena tanah cenderung lembab dan tidak memenuhi kriteria tersebut. Pada tahun 2018, sebagian besar (60,27%) rumah tangga di Kabupaten Ciamis bertempat tinggal di rumah yang jenis lantai terluasnya berupa marmer/granit/keramik/parket/vinil. Namun sekitar 7,64 persen yang tinggal di rumah berlantaikan papan/bambu/tanah/lainnya.

Tabel 3.9. Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Terluas Rumah Per Kecamatan di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

No Kecamatan

Selanjutnya, salah satu kriteria rumah sehat menurut Kementrian Kesehatan yakni luas lantai per kapita minimal 8 m2. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mensyaratkan luas lantai minimal 10 m2 tidak termasuk kamar mandi dan WC. Di Kabupaten Ciamis pada tahun 2018, 53 persen rumah tangga tinggal di dalam rumah dengan luas lantai per kapita sekitar 20 m2 atau lebih. Sementara itu masih terdapat 8 persen umah tangga yang tinggal di rumah yang tidak memenuhi kriteria rumah sehat. Keterbatasan lahan dan ekonomi seringkali menjadi alasan mereka terpaksa berdesakan tinggal di rumah yang sempit. Kondisi ini dapat menjadi gambaran kekumuhan lingkungan yang seyogyanya dapat diintervensi melalui berbagai program pembangunan perumahan semisal program revitalisasi Rumah Tidak Layak Huni.

Gambar 3.12

Persentase Rumah Tangga Menurut Luas Lantai Rumah per Kapita di Kabupaten Ciamis Tahun 2018

Kenyamanan tempat tinggal dapat pula ditinjau dari segi jenis atap dan dinding terluas. Untuk jenis atap terluas, sebagian besar (98,75%) rumah tangga di Kabupaten Ciamis tinggal di rumah beratapkan beton/genteng dan hanya 1,25 persen beratapkan lainnya (asbes/seng/bambu/kayu/jerami/ijuk). Namun demikian, khusus bagi rumah yang beratapkan asbes diharapkan dapat diganti dengan bahan ramah kesehatan. Kandungan material asbes disinyalir dapat menyebabkan gangguan pada organ pernafasan.

Selanjutnya terkait jenis dinding terluas, sebagian besar (77,67%) rumah tangga tinggal di rumah dengan diding terluasnya berbahan tembok. Sekitar 17,47 persen lagi tinggal di rumah berdindingkan ayaman bambu dan 4,86 persen di rumah berdindingkan kayu/papan/bambu/lainnya. Ini dapat menjadi sasaran program backlog perumahan.

3.3.4. Dampak Pembangunan Kesehatan

Salah satu alat untuk mengukur dampak dari situasi pembangunan kesehatan

Salah satu alat untuk mengukur dampak dari situasi pembangunan kesehatan

Dokumen terkait