BAB III SITUASI PEMBANGUNAN MANUSIA
3.2 SITUASI PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan elemen penting pembangunan dan perkembangan sosial-ekonomi masyarakat. Telah disadari bersama, pendidikan memiliki arti penting bagi upaya meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, proses pendidikan sesungguhnya merupakan upaya sadar individu atau masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta memperluas wawasannya. Berbekal pendidikan yang cukup, setiap individu dituntut dapat meningkatkan partisipasinya dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga dapat hidup secara lebih layak.
Tujuan pendidikan dalam UUD 1945 (versi amandemen) dalam pasal 31, ayat 3 menyebutkan "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang“. Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”
3.2.1. Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan baik sekolah swasta maupun negeri terlihat cukup memadai.
Menurut Kemendikbud tercatat 745 sekolah dasar (SD), 121 sekolah menengah pertama (SMP), 27 sekolah menengah atas (SMA), 70 sekolah menengah kejuruan (SMK) dan 22 sekolah luar biasa (SLB). Sedangkan Kemenag mencatat sebanyak 163 madrasah ibtidaiyah (MI), 107 madrasah tsanawiyah (MTs) dan 44 madrasah aliyah (MA).
Tabel 3.3 Jumlah Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan di Kabupaten Ciamis
Tingkat Pendidikan Negeri Swasta Total
(1) (2) (3) (4)
Sumber : http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id dan http://emispendis.kemenag.go.id
Sebaran sekolah dasar yang dikelola Kemendikbud terlihat merata. Namun, tingkat SMP hingga SMA/SMK mulai kurang merata, bahkan terdapat kecamatan yang tidak ada SMA/SMK. Untuk tingkat SMP, Kecamatan Banjarsari dan Ciamis sangat menonjol jumlahnya dibandingkan kecamatan lain. Beberapa kecamatan yang belum ada sekolah setingkat SMA/SMK yaitu Kecamatan Banjaranyar, Tambaksari dan Sukamantri.
Keberadaan fasilitas pendidikan di setiap kecamatan, disinyalir berpengaruh terhadap kemudahan akses masyarakat dalam pendidikan. Partisipasi sekolah bisa saja menjadi rendah akibat terhambat oleh jarak, biaya transportasi, biaya tempat tinggal dan biaya penunjang pendidikan. Murid yang melanjutkan sekolah pun menjadi sedikit.
Tabel 3.4 Sebaran Sekolah yang Dikelola Kemendikbud Menurut Kecamatan di Kabupaten Ciamis
3.2.2. Partisipasi Sekolah
Ketersediaan sarana pendidikan belum menjamin keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan. Pemerintah Kabupaten Ciamis berupaya meningkatkan partisipasi sekolah melalui Kartu Calakan. Dengan kartu ini, siswa dari keluarga miskin yang tidak tercakup dalam Program Indonesia Pintar dari Pemerintah Pusat mendapat bantuan biaya pendidikan.
Pemantauan pembangunan pendidikan seyogyanya dimulai dari prosesnya yaitu partisipasi sekolah. Tidak hanya kesempatan belajar yang dibuka tetapi juga mengawal keikutsertaan masyarakat dalam pendidikan. Indikator yang sering digunakan antara lain Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Murni (APM). APS mengukur partisipasi sekolah menurut kelompok umur. APM mengukur parisipasi sekolah pada jenjang tertentu menurut kelompok umurnya.
Di tahun 2018, Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun mencapai 99,48 persen. Selanjutnya APS penduduk usia 13-15 tahun mencapai 96,18 dan usia 15-18 tahun mencapai 71,34 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa di Kabupaten Ciamis masih ada penduduk usia sekolah yang belum/tidak bersekolah lagi.
Apabila dicermati bedasarkan kelompok umurnya, terlihat APS usia 7-12 tahun terlihat sangat bagus tetapi APS usia 13-15 tahun dan usia 15-18 kondisinya kurang menggembirakan. Keadaan ini patut diduga terdapat anak putus atau tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa alasan belum/tidak bersekolah lagi antara lain disabilitas, sekolah jauh, memilih bekerja bahkan merasa sudah cukup.
Gambar 3.4
Angka Partisipasi Sekolah di Kabupaten Ciamis Tahun 2018
Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat Kab. Ciamis 2018
Indikator pendidikan berikutnya yakni Angka Partisipasi Murni (APM). Jika nilai APM mencapai 100 persen berarti seluruh penduduk suatu kelompok umur sedang/ masih sekolah sesuai jenjang pendidikannya. Untuk APM SD/sederajat maka penduduk yang diamati yakni usia 7-12 tahun. APM SMP/sederajat maka penduduk yang diamati usia 13-15 tahun. APM SMA/sederajat mengamati penduduk usia 16-18 tahun.
Pada tahun 2018, APM SD/sederajat di Kabupaten Ciamis mencapai 97,60 persen. APM SMP/sederajat mencapai 84,67 persen dan APM SMA/sederajat mencapai 51,38 persen. Seperti halnya APS, fenomena yang sama juga terlihat pada APM yakni nilai APM semakin rendah seiring naiknya jenjang sekolah. Selain itu, APM perempuan pada jenjang SMP/sederajat dan SMA/sederajat juga lebih rendah daripada APM laki-laki.
Gambar 3.5
Angka Partisipasi Murni di Kabupaten Ciamis Tahun 2018
Kejadian putus ataupun tidak melanjutkan sekolah akan berdampak langsung pada Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Semakin banyak yang tidak sekolah ataupun berhenti pada jenjang pendidikan yang rendah menjadikan proporsi penduduk yang masih sekolah semakin kecil dan pendek. Pemerintah Kabupaten Ciamis seyogyanya terus berupaya agar angka putus sekolah dapat diperkecil.
Selanjutnya persentase murid yang melanjutkan sekolah juga perlu dikawal hingga jenjang pendidikan tertinggi. Apabila jarak ke sekolah, biaya transportasi akibat sebaran sekolah yang kurang merata, maka sekolah satu atap patut dipertimbangkan. Misalnya, murid yang telah lulus SD dapat melanjutkan ke SMP di gedung sekolah yang sama.
Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat Kab. Ciamis 2018
3.2.3. Dampak Pembangunan Pendidikan
Salah satu dampak dari pembangunan pendidikan terlihat dari tingkat pendidikan.
Hasil survei menunjukkan secara umum sebagian besar (50,30%) penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Ciamis pada tahun 2018 memiliki ijasah tertinggi setingkat SD/sederajat. Kondisi ini terlihat hampir di seluruh kecamatan.
Tabel 3.5 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Ijasah Tertinggi Per Kecamatan di Kabupaten Ciamis Tahun 2018
No Kecamatan punya Tidak Sederajat SD/ Sederajat SMP/ Sederajat SMA/ Perguruan Tinggi Total Terkait Indeks Pembangunan Manusia, dampak pembangunan pendidikan diukur dengan Rata-rata Lama Sekolah (RLS25+) dan Harapan Lama Sekolah (HLS7). Rata-rata lama sekolah dihitung dari penduduk usia 25 tahun ke atas. Harapan Lama Sekolah dihitung dari penduduk usia 7 tahun ke atas.
Hasil sementara menunjukkan RLS25+ di Kabupaten Ciamis tahun 2018 sekitar 7,63 tahun. Hal ini meningkat dibandingkan RLS25+ tahun 2017 yang tercatat sebesar 7,59 tahun. RLS25+ meningkat perlahan karena perubahan pendidikan penduduk memerlukan waktu dan diperlukan upaya yang masif.
Gambar 3.6
Perkembangan RLS25+ di Kabupaten Ciamis Tahun 2018
Ditinjau per kecamatan, terlihat Kecamatan Ciamis memiliki RLS25+ tertinggi (9,17 tahun) atau setara SMP. Namun Kecamatan Banjaranyar, Purwadadi, Pamarican, Cimaragas, Rajadesa dan Sukamantri masih di bawah RLS25+ Kabupaten Ciamis.
Gambar 3.7
RLS25+ di Kabupaten Ciamis Tahun 2018
*)Angka sementara
Indikator pendidikan lain terkait Indeks Pembangunan Manusia yakni Harapan Lama Sekolah (HLS7). Berdasarkan hasil Survei Parameter Pembangunan Manusia diperoleh hasil sementara HLS7 Kabupaten Ciamis tahun 2018 sekitar 13,68 tahun.
Sementara capaian tahun 2017 tercatat sekitar 13,66 tahun.
Gambar 3.8
Perkembangan HLS25+ di Kabupaten Ciamis Tahun 2018
HLS7 Kecamatan Ciamis merupakan yang tertinggi (15,58 tahun), sedangkan Kecamatan Tambaksari terendah (12,15 tahun). Disparitas antar kecamatan tampaknya masih menjadi masalah yang perlu segera ditindaklanjuti agar HLS7 nya relatif merata.
Gambar 3.9
HLS7 di Kabupaten Ciamis Tahun 2018
*)Angka sementara