• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah keseluruhan dana APBD baik yang berasal dari PAD maupun dana perimbangan menjadi sumber pembiayaan daerah dalam melakukan pembangunan daerah, untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan suatu daerah dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada kebijakan dari masing-masing pemerintah daerah. Kebijakan tersebut tercermin pada alokasi belanjanya, yang terdiri dari belanja rutin dan belanja pembangunan.

Secara umum, total belanja daerah dari tahun 1996 hingga tahun 2009 mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Belanja rutin mempunyai pertumbuhan rata-rata setiap tahunnya sebesar 35.05%, sedangkan belanja pembangunan rata-rata tumbuh sebesar 27.70%. Menarik untuk diperhatikan adalah secara proporsional ternyata pengeluaran pemerintah daerah sebagian besar diperuntukkan bagi pengeluaran rutin dimana nilainya hampir mencapai 65%, bahkan proporsinya terus bertambah seiring berjalannya waktu. Pada tahun 1996 proporsinya sekitar 59.74%, kemudian meningkat menjadi 67.78% pada saat awal dilaksanakannya desentralisasi yaitu tahun 2001 dan meningkat kembali menjadi 73.33% pada tahun 2009. Sebaliknya terjadi untuk pengeluaran pembangunan yang menurun dari 40.26% pada tahun 1996 menjadi 26.67% pada tahun 2009.

Tabel 7 Belanja daerah di Indonesia dirinci menurut jenis belanja tahun 1996, 2001dan 2009 (milyar rupiah)

1996 2001 2009 Jenis Belanja Total Belanja Share (%) Total Belanja Share (%) Total Belanja Share (%) Belanja Rutin 14 604.91 59.74 66 688.28 67.78 314 809.96 73.33 Belanja Pembangunan 9 844.40 40.26 31 706.60 32.22 114 518.33 26.67 Total 24 449.31 100.00 98 394.88 100.00 429 328.29 100.00 Sumber : Kemenkeu, diolah

Besarnya total belanja tidak terlepas dari bagaimana kondisi belanja masing- masing daerah. Adanya perbedaan potensi, kondisi dan kebijakan dari masing-

masing daerah, mengakibatkan prioritas pembangunan dari masing-masing daerah juga berbeda. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan alokasi belanja untuk masing-masing daerah, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8.

Sumber : Kemenkeu, diolah.

Gambar 8 Belanja daerah di Indonesia menurut jenis belanja tahun 1996-2009.

Apabila distribusi belanja rutin dan pembangunan ini ditinjau per pulau terlihat sedikit perbedaan pola distribusi. Hal ini tentu dipengaruhi oleh perbedaan potensi, kondisi dan kebijakan dari masing-masing daerah dalam mengalokasikan belanja daerahnya. Distribusi belanja daerah ditinjau per pulau, yang dibagi ke dalam Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa dan Bali, Pulau Sulawesi dan Lainnya (Maluku, Pulau Irian Jaya, NTB, dan NTT) dapat dilihat selengkapnya dalam Tabel 8.

Tabel 8 Distribusi belanja daerah di Indonesia menurut pulau tahun 1996, 2001 dan 2009 (%) 1996 2001 2009 Pulau Belanja Rutin Belanja Pembangunan Belanja Rutin Belanja Pembangunan Belanja Rutin Belanja Pembangunan Sumatera 58.82 41.18 61.96 38.04 70.50 29.50 Jawa + Bali 61.39 38.61 72.65 27.35 81.07 18.93 Kalimantan 54.60 45.40 57.19 42.81 62.11 37.89 Sulawesi 59.03 40.97 71.43 28.57 71.78 28.22 Lainnya 58.05 41.95 66.53 33.47 70.20 29.80 Sumber : Kemenkeu, diolah

Bila dilihat perbandingan belanja rutin dan pembangunan, terlihat bahwa hampir diseluruh pulau belanja rutin lebih mendominasi dibandingkan belanja pembangunan. Bila dilihat perbandingan antar pulau, maka Pulau Kalimantan memiliki pengeluaran pembangunan terbesar dibandingkan pulau lainnya. Daerah yang memiliki potensi SDA yang banyak, relatif banyak mengalokasikan belanja daerahnya untuk belanja pembangunan dibandingkan untuk belanja rutin, seperti Pulau Kalimantan yang pada umumnya daerahnya relatif kaya akan sumber daya alam, distribusi belanja daerahnya banyak dialokasikan untuk belanja pembangunan. Pembangunan daerah diharapkan dapat memperbaiki fasilitas publik, selain untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat juga ditujukan untuk meningkatkan daya tarik investasi di daerah tersebut, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

4.3 Pertumbuhan Ekonomi

Jika kita tinjau perkembangan pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat cukup fluktuatif. Pada era sebelum desentralisasi, sejak tahun 1986 sampai tahun 1996 pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil antara 7% sampai 10% (Usman). Pada medio 1997 pondasi perekonomian Indonesia yang sudah terbangun sekian lama mengalami guncangan hebat, krisis ekonomi yang di awali krisis moneter telah meluluh lantakkan perekonomian Indonesia. Dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi mengalami kontraksi dan melonjak turun hingga mencapai angka 4.7% pada tahun 1997, kemudian merosot tajam menjadi sekitar minus 13.2% pada tahun 1998. Kondisi perekonomian seperti diatas dialami hampir di semua wilayah di Indonesia.

Secara perlahan, Indonesia mulai bangkit dari keterpurukan, pada tahun 1999 pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali ke tingkat pertumbuhan positif sebesar 0.79% dan terus meningkat lagi pada tahun selanjutnya. Pada periode 1996-2000 rata-rata pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 2.55%. Selanjutnya pada periode 2001-2009 angka pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata mencapai 4.76%.

Selain perkembangan pertumbuhan secara nasional dapat dilihat pula perkembangan pertumbuhan ekonomi pada masing-masing provinsi, sehingga

distribusi pertumbuhan ekonomi masing-masing provinsi dapat tergambarkan. Jika pertumbuhan ekonomi terdistribusi secara merata dalam arti bahwa pertumbuhan ekonomi satu provinsi relatif tidak berbeda dengan provinsi lainnya maka hal ini dapat memberikan indikasi bahwa kebijakan desentralisasi berpotensi memiliki dampak positif. Hal ini dikarenakan tujuan dari desentralisasi fiskal ialah diantaranya pemerataan dan keadilan.

Sumber : BPS, diolah.

Gambar 9 Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1995-2009.

Menjelang desentralisasi dilaksanakan, rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi mengalami penurunan. Dari tahun 1997 hingga tahun 1999 pertumbuhannya berturut-turut 5%, -6.34%, dan 1.19%, namun di tahun 2000 meningkat menjadi 5.27%. Penurunan ini disebabkan oleh krisis ekonomi yang melanda hampir seluruh kawasan Asia Tenggara. Variasi pertumbuhan ekonomi yang digambarkan oleh nilai standar deviasi semakin meningkat, disetiap provinsi mulai mengalami ketidakstabilan yang dipicu oleh krisis ekonomi dan berbagai sebab lainnya seperti kondisi politik nasional, ketidaksiapan politik, ekonomi dan sosial di masing-masing provinsi. Terlihat pada tahun 2000 meskipun rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi mulai meningkat, namun perbedaan pertumbuhan ekonomi antar daerah cukup besar. Hal ini memperlihatkan menjelang desentralisasi persoalan yang dihadapi adalah ketimpangan pertumbuhan antar daerah yang cukup besar.

Sejak tahun 2001 dimana kebijakan desentralisasi mulai diterapkan, perekonomian di setiap provinsi tampak mulai stabil dengan rata-rata

pertumbuhan ekonomi sebesar 3.44%, serta ketimpangan pertumbuhan antar provinsi mulai membaik dengan semakin menurunnya nilai standar deviasi.

Tabel 9 Rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi di Indonesia sebelum desentralisasi dan di era desentralisasi

Provinsi Sebelum Desentralisasi (1996-2000) Era Desentralisasi (2001-2009) NAD -5.62 -1.84 Sumatera Utara 1.87 5.46 Sumatera Barat 2.08 5.31 Riau 2.30 3.38 Jambi 3.64 6.08 Sumatera Selatan -1.06 4.32 Bengkulu 1.90 5.20 Lampung 2.33 5.03 DKI Jakarta 0.08 5.58 Jawa Barat -1.63 4.95 Jawa Tengah 1.11 4.85 Yogyakarta 1.06 4.51 Jawa Timur 0.90 5.21 Bali 2.70 4.76

Nusa Tenggara Barat 8.88 4.65

Nusa Tenggara Timur 3.48 4.74

Kalimantan Barat 3.66 4.59 Kalimantan Selatan 3.89 5.02 Kalimantan Tengah 2.34 5.35 Kalimantan Timur 4.24 2.78 Sulawesi Utara 6.84 5.30 Sulawesi Tengah 7.12 6.98 Sulawesi Selatan 7.48 5.88 Sulawesi Tenggara 2.47 7.17 Maluku -8.97 4.33 Papua 13.12 4.04 Rata-rata 2.55 4.76 Standar Deviasi 6.40 3.46 Sumber : BPS, diolah

Pada tahun 2009 kinerja perekonomian di sebagian besar provinsi mengalami sedikit perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2008. Perlambatan pertumbuhan terjadi pada provinsi-provinsi yang memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional seperti provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara. Bahkan terdapat provinsi yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif yaitu provinsi Nanggroe Aceh

Darussalam. Perlambatan perekonomian yang terjadi di sebagian besar provinsi menyebabkan pertumbuhan ekonomi secara nasional ikut melambat menjadi 4.55%.

Melihat perkembangan pertumbuhan antar provinsi serta ketimpangan pertumbuhan sejak sebelum desentralisasi dan sesudah desentralisasi, tampak bahwa ada suatu indikasi yang membaik sejak diterapkannya desentralisasi. Hal ini terutama ditandai dengan meningkatnya rata-rata pertumbuhan ekonomi serta semakin kecilnya jarak ketimpangan pertumbuhan antar provinsi.

Dokumen terkait