2.1 Tinjauan Teori dan Konsep
2.1.13 Pengeluaran Pemerintah dan pembangunan Manusia
Memperhatikan indikator-indikator yang digunakan dalam penghitungan IPM, pemerintah dalam melakukan pengeluaran juga harus memperhatikan aspek- aspek tersebut. Perhatian pemerintah terhadap aspek-aspek pembangunan manusia tercermin dari pengalokasian pengeluaran pemerintah kedalam sektor-sektor yang berpengaruh pada pembangunan manusia. Sektor-sektor dimaksud antara lain sektor pendidikan, kesehatan, kependudukan dan kesejahteraan rakyat.
2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan Cheminghui (2007) di Yaman, yang bertujuan mengevaluasi dampak dari perbedaan tipe pengeluaran pemerintah dengan sumberdaya yang tersedia untuk mendapat target yang lebih baik sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan lebih cepat dalam pengurangan kemiskinan. Secara empiris menunjukan pentingnya investasi di pelayanan sosial dalam memperbaiki modal manusia dan terutama untuk pengurangan kemiskinan selama beberapa periode ini. Pendidikan yang baik dan pemeliharaan kesehatan menolong orang miskin untuk hidup lebih produktif, meningkatkan return dalam investasi. Dalam melakukan eksperimen tersebut efek dari pengeluaran publik untuk sektor pertanian, pendidikan dan kesehatan. Terlihat bahwa pengeluaran sektor publik di bidang pertanian hanya meningkatkan TFP di sektor tersebut saja. Sementara untuk pengeluaran publik di sektor pendidikan dan kesehatan ternyata mampu meningkatkan TFP untuk semua sektor.
Sedangkan dalam jurnal “Fiskal Decentralization and Economic Growth: A Cross-Country Study”, Davoodi dan Zou (1998) menggunakan model pertumbuhan endogenous (Simple endogenous growth model) yang menunjukkan hubungan derajat desentralisasi fiskal dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan
ekonomi dengan menggunakan data panel dari 46 negara selama periode 1970-1989 untuk menyelidiki hubungan antara desentralisasi fiskal dan
pertumbuhan ekonomi. Pada penelitiannya disimpulkan bahwa adanya hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan desentralisasi fiskal dalam 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) tahun terutama untuk sampel data dunia dan negara berkembang, sedangkan untuk negara maju berkorelasi positif. Selain itu, penelitiannya menunjukkan bahwa negara-negara maju secara rata-rata cenderung lebih desentralistik dibandingkan negara berkembang dan kecenderungan mempunyai tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita yang tinggi. Namun, setelah melakukan penelitian ternyata di negara berkembang memiliki hubungan negatif antara desentralisasi fiskal dengan tingkat pertumbuhan ekonomi.
Studi yang dilakukan oleh Akai dan Sakata (2005) di Amerika Serikat memperlihatkan bukti baru bahwa desentralisasi fiskal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Dengan data cross section dan time series (panel data) maka terdapat 50 observasi (rata-rata tahun 1992-1994 untuk time series dan 50 negara bagian di Amerika Serikat). Penelitian empiris tersebut memperlihatkan desentralisasi fiskal memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Tidak seperti paper-paper sebelumnya, paper ini menemukan bahwa desentralisasi fiskal memainkan peranan utama dalam pertumbuhan ekonomi. Namun penelitian ini juga mengindikasikan bahwa ada faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi selain desentralisasi fiskal.
Peranan pengeluaran pemerintah menurut penelitian yang dilakukan oleh Hasibuan (2006) di Provinsi Sumatera Utara, juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengurangan jumlah penduduk miskin. Namun karena keterbatasan data, maka besarnya pengeluaran pemerintah yang berkaitan dengan masalah kemiskinan diproksi dengan besarnya penerimaan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). Besarnya nilai APBD diharapkan mampu meningkatkan peran pemerintah daerah dalam penyediaan fasilitas pelayanan seperti pendidikan
dan kesehatan serta penyediaan lapangan pekerjaan terutama untuk penduduk miskin.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Mulyaningsih (2008). Ada empat tujuan dari penelitian ini, pertama melihat apakah ada pengaruh pengeluaran pemerintah di sektor publik terhadap pembangunan manusia, kedua melihat apakah ada pengaruh pengeluaran pemerintah di sector public terhadap kemiskinan, ketiga melihat apakah ada pengaruh pembangunan manusia terhadap kemiskinan, dan keempat mengkaji nilai-nilai Islam dalam mengatasi permasalahan umat yang terkait dengan kemiskinan. Penelititan ini menggunakan metode regresi data panel (Pooled Least Square, Fixed effect, dan Random Effect). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah di sektor publik tidak berpengaruh terhadap pembangunan manusia dan kemiskinan. Namun pembangunan manusia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemiskinan.
Kharisma (2006) yang melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh anggaran pemerintah daerah dari sisi penerimaan dan pengeluaran terhadap pertumbuhan ekonomi daerah provinsi di Indonesia. Penelitian yang menggunakan data sekunder dari 26 provinsi di Indonesia selama periode 1995- 2004 yang diestimasi dengan menggunakan model ekonometrik data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pelaksanaan desentralisasi selama periode 1995-2000, peran anggaran pemerintah daerah dari sisi penerimaan dan pengeluaran terhadap pertumbuhan berpengaruh negatif, baik di Jawa maupun luar jawa. Sedang kurun waktu 2001-2004, peran anggaran Pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sisi pengeluaran lebih besar dibandingkan sisi penerimaan, baik di Jawa maupun luar Jawa. Di era desentralisasi peran PAD terhadap pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan, walaupun masih di bawah dana perimbangan. Selain itu selama masa era desentralisasi, peran anggaran pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengeluaran pembangunan maupun pengeluaran rutin mengalami peningkatan dibandingkan era sebelumnya.
Makrifah (2010) melakukan penelitian dengan tujuan (1) Menganalisis perkembangan kinerja keuangan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur dari sisi
penerimaan maupun pengeluaran; (2) Menganalisis perkembangan pertumbuhan ekonomi, IPM, persentase penduduk miskin dan kesenjangan pembangunan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur; (3) Mengidentifikasi pengaruh alokasi belanja daerah terhadap pertumbuhan ekonomi, IPM, dan jumlah penduduk miskin Provinsi Jawa Timur. Metode analisis deskriptif yang digunakan untuk melihat perkembangan kinerja keuangan daerah, pertumbuhan ekonomi, IPM, persentase penduduk miskin adalah analisis boxplot, analisis GIS dan analisis cluster. Analisis inferensia dengan menggunakan model Vector Autoregressive (VAR) dalam data panel digunakan untuk mengkaji pengaruh alokasi belanja daerah terhadap pertumbuhan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan jumlah penduduk miskin. Hasil penelitian menunjukkan alokasi belanja daerah berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan IPM baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa teori Keynes yang menyatakan belanja pemerintah akan mempengaruhi hasil pembangunan berlaku di Jawa Timur.
Suparno (2010) melakukan penelitian dengan tujuan untuk melihat dampak desentralisasi terhadap pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan ketenagakerjaan di Indonesia serta bagaimana kondisi kinerja keuangan pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan data panel berupa data seluruh provinsi di wilayah Indonesia dalam kurun waktu dari tahun 1994 hingga tahun 2008. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan metode ekonometrika regresi panel data. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan pemerintah daerah (yang diukur dari derajat desentralisasi fiskal dan rasio kemandirian keuangan daerah) masih rendah. Justru di era desentralisasi, tingkat ketergantungan daerah terhadap pemerintah pusat semakin meningkat. Berdasarkan hasil estimasi regresi data panel terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi output ekonomi daerah di Indonesia adalah modal swasta (K), modal pemerintah yang meliputi:dana bagi hasil (BH), dana alokasi khusus (DAK), pajak daerah (PD), retribusi daerah (RD), dan laba dari pengelolaan kekayaan daerah (LD), tenaga kerja (L), tingkat keterbukaan daerah (XM) dan variabel dummy otonomi daerah.
Penelitian yang dilakukan Usman (2006) menghasilkan kesimpulan desentralisasi fiskal menguntungkan kelompok miskin dan dapat mengurangi tingkat kemiskinan. Dalam jangka pendek, pengeluaran pemerintah untuk sektor pertanian terbukti efektif menciptakan pemerataan distribusi pendapatan dan mengurangi tingkat kemiskinan.
Penelitian yang dilakukan Panjaitan (2006) menghasilkan kesimpulan bahwa sumber-sumber kebutuhan fiskal daerah baik sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal didominasi oleh dana perimbangan dari pemerintah pusat. Kemudian peningkatan DAU ke daerah berhasil meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat dan kesempatan kerja dan distribusi pendapatan.