• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Pengeluaran Pemerintah

Pengeluaran pemerintah merupakan komponen ketiga dari permintaan terhadap barang dan jasa. Pengeluaran pemerintah terdiri dari : (1) Pengeluaran rutin untuk membiayai pengawai pemerintah; (2) Pengeluaran untuk membiayai pembangunan (belanja modal). Pengeluaran pemerintah untuk membiayai pembangunan dilakukan untuk membangun fasilitas publik, antara lain pembangunan infrastruktur transportasi, listrik, kesehatan, pendidikan, dll; (3) Pembayaran transfer kepada rumah tangga, seperti tunjangan kesejahteraan untuk orang-orang miskin dan pembayaran jaminan sosial. Oleh karena pembayaran transfer tidak dilakukan dalam pertukaran dengan output barang dan jasa perekonomian, maka tidak termasuk dalam

variabel pengeluaran pemerintah. Jadi dalam penelitian ini pengeluaran pemerintah yang dimaksud adalah diluar transfer, yang kita angggap sebagai variabel eksogen, sering dinotasikan dengan G = Ḡ.

Pengeluaran pemerintah merupakan komponen utama yang mempengaruhi permintaan output barang dan jasa dalam perekonomian. Jika pemerintah melakukan perubahan kebijakan fiskal dengan mengubah pengeluaran atau tingkat pajak, maka tabungan nasional, investasi dan tingkat bunga equiblirium akan berubah dan pada akhirnya mengubah permintaan output dalam perekonomian. Misalkan pemerintah menaikkan pengeluaran sebesar ∆G, secara langsung akan mengingkatkan permintaan output barang dan jasa sebesar ∆G. Pada umumnya di negara-negara sedang berkembang pengeluaran pemerintah sering digunakan sebagai alat untuk merangsang masuknya investasi. Jika pemerintah melakukan penurunan pajak, maka pendapatan disposal akan meningkat dan sejanjutnya menaikkan konsumsi. Misalnya pemerintah menurunkan pajak sebesar ∆T, maka pendapatan disposal akan meningkat sebesar ∆T, selanjutnya konsumsi juga meningkat sebesar ∆T x MPC (Marginal Propensity to Consume).

Perhitungan output perekonomian dijelaskan dalam persamaan berikut.

Y atau PDRB = C + I + G + NX

Sedangkan fungsi produksi Solow-Swan ditunjukkan dalam persamaan fungsi produksi berikut ini.

) , , (K L t f Y =

Kedua persamaan diatas saling berhubungan atau berkointegrasi dalam jangka panjang. Pengeluaran pemerintah berpengaruh positif terhadap PDRB atau output

perekonomian. Hal ini berarti, apabila pemerintah menambah pengeluarannya, maka PDRB atau output perekonomian akan naik sebesar pengeluaran pemerintah. Output perekonomian (Y) merupakan fungsi dari modal (K), tenaga kerja (L) dan teknologi (t). Berdasarkan kedua persamaan diatas, kebijakan menambah pengeluaran pemerintah khususnya untuk infrastruktur jalan, berpengaruh positif terhadap PDRB dan juga akan berpengaruh pada modal dan teknologi. Pada akhirnya modal dan teknologi akan berpengaruh positif terhadap peningkatan PDRB atau output perekonomian. Oleh karenanya pengeluaran pemerintah mempunyai peranan yang besar terhadap peningkatan PDRB.

2.4 Ekspor

Setiap negara di dunia mempunyai keterbatasan, baik sumber daya alam, sumber daya manusia maupun penguasaan teknologi. Oleh karenanya hampir tidak ada negara yang sanggup memenuhi kebutuhan sendiri. Keterbatasan ini mendorong dilakukannya spesialisasi produksi. Keputusan memproduksi barang dan jasa ditentukan dengan memperhatikan faktor efisiensi, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Sebaliknya barang dan jasa yang tidak efisien diproduksi di dalam negeri diimpor dari luar negeri. Oleh karenanya, sebagian besar negara menganut perekonomian terbuka yaitu : (1) Mengekspor barang dan jasa ke luar negeri; (2) Mengimpor barang dan jasa dari luar negeri; dan (3) Meminjam atau

memberi pinjaman di pasar modal dunia atau melakulan investasi atau penanaman modal di luar negeri. Dengan demikian net ekspor merupakan salah satu variabel yang memberikan nilai tambah terhadap ouput perekonomian suatu negara atau daerah.

Di banyak negara, khususnya negara-negara industri yang sudah maju, perdagangan internasional menjadi faktor utama untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Disamping itu perdagangan internasional juga mendorong tumbuhnya industrialisasi, kemajuan transportasi dan masuknya investasi ke suatu negara atau daerah. Perdagangan internasional memberikan beberapa manfaat yaitu : (1) Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri; (2) Memperoleh keuntungan dari spesialisasi; (3) Memperluas pasar dan menambah keuntungan. Perdagangan internasional mendorong pengusaha untuk berproduksi secara maksimal dan menjual kelebihan produknya ke luar negeri (ekspor) dan (4) Transfer teknologi modern.

Sejak terjadinya krisis ekonomi dunia tahun 1997/1998, sektor ekspor merupakan pendorong pulihnya perekonomian di Negara-Negara Asia Tenggara. Pada tahun 2004 Thailand mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7,2 persen yang didorong oleh peningkatan ekspor dan belanja pemerintah. Vietnam juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi pada tahun 2004 sebesar 7,5 persen dan tahun 2005 sebesar 7,6 persen juga didorong oleh tumbuhnya ekspor dan permintaan dalam negeri. Malaysia mencatat pertumbuhan yang cukup baik pada tahun 2004 sebesar 5,8

persen dan tahun 2005 sebesar 5,6 persen. Pertumbuhan ini juga didorong oleh permintaan ekspor yang tinggi dan konsumsi masyarakat.

Pertumbuhan ekspor yang tinggi menghasilkan devisa bagi Negara, yang selanjutnya akan digunakan untuk membiayai impor dan pembangunan sektor ekonomi lainnya. Secara teoritis, terdapat korelasi positif antara pertumbuhan ekspor dan PDB/PDRB, disamping perannya untuk meningkatkan cadangan devisa, pertumbuhan impor, pertumbuhan output dalam negeri, peningkatan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Berkaitan dengan besarnya manfaat ekspor dalam perekonomian suatu negara, beberapa kebijakan yang harus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekspor antara lain : (1) Meningkatkan daya saing global produk Indonesia; (2) Menyederhanakan prosedur kepabeaan; (3) Penyempurnaan dan pembaharuan perangkat peraturan perundang-undangan dan (4) Peningkatan kapasitas infrastruktur (termasuk infrastruktur jalan).

Salah satu upaya meningkatkan daya saing produksi adalah dengan menurunkan biaya marginal produk. Biaya transportasi merupakan unsur dari biaya marginal produk. Untuk menurunkan biaya transportasi harus dilakukan penambahan panjang jalan baik atau pemeliharaan jalan sedang, rehabilitasi jalan rusak ringan dan rekonstruksi jalan rusak berat. Oleh karenanya jalan dengan kondisi rusak, berpengaruh positif terhadap peningkatan biaya transportasi, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada penurunan ekspor.

Dalam perekonomian terbuka sebagian output digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan sebagian lagi diekspor ke luar negeri. Dengan demikian pengeluaran output dibagi menjadi 4 komponen yaitu: 1) konsumsi, 2) investasi, 3) pengeluaran pemerintah dan 4) ekspor. Ekspor merupakan pengeluaran luar negeri atas barang dan jasa domestik, sedangkan impor merupakan jumlah pengeluaran domestik atas barang dan jasa luar negeri. Barang dan jasa yang diimpor dari luar negeri bukan merupakan output suatu negara, sehingga dalam perhitungan pendapatan nasional tidak diperhitungkan. Selisih antara ekspor (X) dan impor (M) disebut dengan export netto (NX) atau (NX = X – M). Dengan demikian komponen output perekonomian dapat dijelaskan dalam persamaan berikut.

Y = C + I + G + NX

Output dalam perekonomian suatu negara menunjukkan hubungan antara output domestik (Y), pengeluaran domestik (C+I+G) dan ekspor neto (NX), sebagaimana ditunjukkan dalam persamaan berikut.

NX = Y – (C + I + G)

Persamaan ini menjelaskan bahwa jika output lebih besar dari pengeluaran domestik, maka selisihnya diekspor atau ekspor neto positif. Sebaliknya jika output lebih kecil dari pengeluaran domestik, maka selisihnya diimpor atau ekspor neto negatif.

Dalam perekonomian terbuka, terdapat kaitan yang sangat erat antara pasar uang dan pasar barang. Tabungan nasional (S) merupakan hasil dari output (Y) dikurangi konsumsi (C) dan pengeluaran pemerintah (G) atau S = Y – C – G, dengan demikian,

S = I + NX atau NX = S – I Persamaan ini menunjukkan bahwa, ekspor neto suatu perekonomian sama dengan selisih antara tabungan dan investasi. Ekspor neto merupakan ekspor neto barang dan jasa suatu Negara yang juga sering disebut dengan neraca perdagangan (trade balance). Selisih tabungan domestik dan investasi domestik (S-I) merupakan arus modal keluar neto (net capital outflow). Arus modal keluar neto merupakan jumlah dana yang dipinjamkan penduduk suatu negara ke luar negeri dikurangi jumlah dana yang dipinjamkan luar negeri atau disebut juga dengan investasi asing neto (net foreign investment).

2.5 Nilai Tukar (Exchange Rate)

Nilai tukar (exchange rate) antar dua negara adalah tingkat harga yang disepakati penduduk kedua negara untuk saling melakukan perdagangan (Mankiw, 2006). Para ekonom membedakan nilai tukar atau kurs menjadi dua yaitu : (1) Nilai tukar riil (real exchange rate) yaitu harga relatif diantara barang-barang dua Negara; dan (2) Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) yaitu harga relatif dari mata uang dua negara.

2.5.1 Nilai Tukar Riil (Kurs Riil).

Kurs riil berhubungan negatif dengan ekspor neto. Jika kurs riil tinggi, barang-barang luar negeri relatif murah dan barang-barang domestik relatif mahal. Kondisi ini berpengaruh pada penurunan ekspor dan menaikkan impor atau net ekspor berkurang. Sebaliknya jika kurs riil rendah, barang-barang luar negeri relatif

lebih mahal dan barang-barang domestik relatif lebih murah. Kondisi ini berpengaruh positif terhadap kenaikan ekspor dan menurunkan impor sehingga ekspor neto bertambah. Dengan demikian ekspor neto (NX) merupakan fungsi dari kurs riil (є) dan hubungan kedua variabel adalah negatif sebagaimana persamaan berikut.

NX = NX (є)

2.5.2 Nilai Tukar Nominal (Kurs Nominal).

Model Mundell-Fleming menjelaskan bahwa output dalam perekonomian dijelaskan sebagaimana persamaaan berikut (Mankiew, 2006).

Y = C(Y – T) + I(r) + G + NX(e)

Persamaan tersebut menjelaskan bahwa pendapatan agregat Y adalah jumlah dari konsumsi C, investasi I, belanja pemerintah G, dan ekspor netto NX. Konsumsi bergantung secara positif pada disposable income Y – T. Investasi berhubungan secara negatif dengan tingkat bunga dan ekspor berhubungan secara negatif terhadap kurs e.

Kurs nominal e adalah jumlah mata uang asing per unit mata uang domestik. Misalnya, e adalah 0,0001 Dollar Amerika per satu Rupiah (equivalen dengan Rp. 10.000,00 per US$ 1,00. Menurut model Mundell – Flemming (Mankiew, et al, 2006) dijelaskan, jika e adalah kurs nominal, maka kurs riil adalah :

є = e x (P/P*)

Keterangan :

є = Kurs riil

e = Kurs nominal

Misalnya : e1 = US$ 0,0001 per Rp 1,00 eq. Rp 10.000,00 per US$ 1,00

e2 = US$ 0,00011 per Rp 1,00 eq. Rp 9.000,00 per US$ 1,00

P = Tingkat harga domestik

P* = Tingkat harga luar negeri

Model Mundell – Fleming mengasumsikan bahwa tingkat harga domestik dan luar negeri adalah tetap, sehingga kurs riil proporsional terhadap kurs nominal. Ketika kurs nominal domestik terapresiasi, misalnya US$ 0,0001 per Rp 1,00 (equivalen dengan Rp 10.000,00 per US$ 1,00) menjadi US$ 0,00011 per Rp 1,00 (equivalen dengan Rp 9.000,00 per US$ 1,00), barang-barang luar negeri lebih murah bila dibandingkan dengan barang-barang domestik, yang menyebabkan ekspor turun dan impor naik. Dalam kasus Indonesia ketika nilai tukar naik misalnya dari Rp. 9.000,00 per US$ 1,00 menjadi Rp. 10.000,00 per US$ 1,00 maka ekspor akan naik dan sebaliknya. Model Mudell- Fleming sebagaimana gambar 2.3 berikut.

Gambar 2.3 Kurva Ekspor Neto

Keseimbangan nilai tukar ditentukan berdasarkan iteraksi kekuatan permintaan dan penawaran (Rahardja dan Manurung, 2005). Faktor-faktor yang

mempengaruhi permintaan valuta asing terutama adalah impor, harga mata uang asing tersebut (nilai tukarnya), tingkat pendapatan, tingkat bunga relatif, selera, ekspektasi dan kebijakan pemerintah. Bila nilai tukarnya makin murah, permintaan terhadap valuta asing akan meningkat, akan tetapi hanya pergerakan sepanjang kurva permintaan (movement along demand curve). Kurva permintaan akan bergeser (shifting) bila yang berubah adalah impor. Impor yang makin banyak menggeser kurva permintaan ke kanan, dan impor yang makin sedikit menggeser kurva permintaan ke kiri.

Penawaran terhadap valuta asing meningkat jika (1) ekspor meningkat; (2) arus modal masuk (capital inflow) lebih besar dari arus modal keluar (capital outflow). Bila ekspor dan arus modal masuk meningkat, kurva penawaran bergeser ke kanan dan sebaliknya bila ekspor makin berkurang dan arus modal keluar juga meningkat, kurva penawaran akan bergeser ke kiri.

Pergeseran kurva permintaan dan kurva penawaran akan menentukan keseimbangan nilai tukar, sebagaimana diperagakan dalam gambar 2.4. berikut.

E2 E1 E0 0 DF2 DF0 SF0 SF1 e0 Q0 Kuantitas US$ Kurs, e e1 Q1 DF1 SF2 e2 Q2

Gambar 2.4 Keseimbangan Pasar Valuta Asing

2.6 Perkembangan Nilai Tukar di Indonesia

Penerapan nilai tukar yang berlaku di dunia berdasarkan runtun waktu secara garis besar dibagi menjadi 2 sistem nilai tukar, yaitu sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate) dan sistem nilai tukar tidak tetap (floating exchange rate). Masing- masing sistem nilai tukar tersebut mempunyai karakteristik dan kekuatan serta kelemahan tersendiri. Karena masing-masing sistem mempunyai kekuatan dan kelemahan, dalam prakteknya tidak ada Negara di dunia yang secara konsisten hanya menggunakan salah satu sistem saja, termasuk Indonesia.

Pergerakan nilai tukar di pasar dipengaruhi oleh faktor fundamental dan non fundamental. Faktor fundamental tercermin dari beberapa variabel ekonomi makro antara lain pertumbukan ekonomi, laju inflasi, perkembangan ekspor-impor (net export). Sedangkan faktor non fundamental antara lain sentimen pasar terhadap perkembangan sosial politik, faktor psikologi dalam perhitungan informasi dan

rumors. Dalam teori keuangan internasional terdapat beberapa pendekatan untuk menentukan nilai tukar secara fundamental (Rahardjo, 2009) yaitu : (1) Teori

Purchasing Power Parity (PPP); (2) Real Effective Exchange Rate (REER); dan (3)

Fundamental Effective Exchange Rate (FEER).

Krisana Wijaya (Kompas 26 Juni 2000), menjelaskan manajemen nilai tukar yang dilakukan Pemerintah Indonesia dapat dibagi menjadi : (1) Sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate); (2) Sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate); dan (3) Sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate). Pemerintah Indonesia telah melaksanakan 3 (tiga) sistem nilai tukar, yang mempunyai kekuatan dan kelemahan masing-masing. Dari ketiga sistem ini, mana yang lebih efektif tidak hanya tergantung pada kekuatan dan kelemahan masing- masing sistem, akan tetapi juga sangat tergantung pada faktor lain antara lain tingkat keterbukaan ekonomi, tingkat kemandirian dalam melaksanakan kebijakan ekonomi dan aktivitas perekonomian suatu negara.

2.6.1 Sistem Nilai Tukar Tetap

Pemerintah Indonesia memberlakukan sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate) pada tahun 1970 s.d. 1978, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1964. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditetapkan dengan kurs resmi Rp. 250 per satu Dollar Amerika. Sedangkan nilai tukar dengan mata uang lainnya ditetapkan atas dasar nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika di pasar domestik maupun internasional. Dalam periode ini Pemerintah Indonesia sangat ketat mengontrol nilai devisa. Apabila nilai tukar tidak dapat dipertahankan, bank sentral

(Bank Indonesia) melakukan devaluasi atau revaluasi atas nilai tukar yang ditetapkan. Devaluasi adalah kebijakan yang diambil pemerintah untuk secara sepihak menurunkan nilai tukar mata uang negaranya, sedangkan revaluasi adalah kebijakan yang diambil pemerintah untuk secara sepihak menaikkan nilai mata uang negaranya terhadap mata uang negara lain.

Dalam periode ini Pemerintah Indonesia telah melakukan devaluasi sebanyak 3 (tiga) kali, yaitu (1) Pertama dilakukan pada tanggal 17 April 1970 dimana nilai tukar Rupiah ditetapkan menjadi Rp 378 per satu Dollar Amerika; (2) Kedua dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus 1971 dan nilai tukar Rupiah ditetapkan sebesar Rp 415 per satu Dollar Amerika; dan (3) Devaluasi ketiga dilaksanakan pada tanggal 15 Nopember 1978 dan nilai tukar Rupiah ditetapkan sebesar Rp 625 per satu Dollar Amerika.

2.6.2 Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali

Sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate) adalah sistem nilai tukar yang berada diantara sistem nilai tukar tetap dan sistem nilai tukar mengambang bebas. Dalam sistem nilai tukar ini, bank sentral (Bank Indonesia) menetapkan batasan pergerakan nilai tukar yang disebut dengan intervention band.

Dalam sistem nilai tukar ini, bank sentral mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjaga pergerakan nilai tukar. Apabila nilai tukar berada diluar intervention band, bank sentral melakukan intervensi ke pasar valuta asing dengan menjual atau membeli devisa yang diperlukan oleh pasar sehingga nilai tukar kembali pada posisi

Sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate) diberlakukan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1978 s.d. Juli 1997. Dengan sistem nilai tukar mengambang terkendali, nilai tukar rupiah diambangkan terhadap mata uang (basket of currencies) negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Sejak sistem ini dilaksanakan, pemerintah menetapkan kurs indikasi dan membiarkan kurs bergerak di pasar dengan spread tertentu. Pada tahun 1992 sampai dengan bulan Agustus 1997, fleksibilitas nilai tukar rupiah semakin dikembangkan dengan penerapan crawling band.

2.6.3 Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas

Sistem nilai tukar mengambang bebas adalah sistem nilai tukar yang terjadi sesuai dengan mekanisme pasar (kekuatan permintaan dan penawaran). Dalam sistem nilai tukar ini, bank sentral masih dapat berperan melakukan intervensi di pasar valuta asing, dengan menjual atau membeli devisa dalam hal terjadi kekurangan atau kelebihan penawaran untuk menghindari gejolak nilai tukar yang berlebihan. Akan tetapi intervensi tidak diarahkan untuk mencapai tingkat nilai tukar tertentu. Hanya saja peran ini dibutuhkan untuk menjaga kestabilan nilai tukar yang sangat penting untuk menghindari ketidakpastian dunia usaha.

Sistem nilai tukar mengambang bebas mulai diberlakukan Pemerintah Indonesia sejak bulan Agustus 1997 sampai dengan sekarang. Pada periode ini nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi, bahkan pada tahun 1997 pernah mengalami tekanan dengan semakin melemahnya dilai tukar rupiah yang diakibatkan oleh adanya currency turn moil yang melanda Thailand dan menyebar ke kawasan

ASEAN termasuk Indonesia. Sejak Agustus 1997 nilai tukar Rupiah terus melemah sampai pada titik terlemah mencapai Rp 16.000 per satu Dollar Amerika Serikat pada tanggal 15 Juni 1998.

2.7 Kebijakan Pembangunan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari kebijakan fiskal pemerintah dalam meningkatkan output perekonomian. Menurut Keynes, pemerintah dituntut untuk mendorong konsumsi publik dengan cara membangun infrastruktur dan membuka sebanyak mungkin lapangan kerja. Adam Smith juga mengakui peran negara dalam bidang ekonomi yang mencakup : (1) Memberi perlindungan hukum; (2) Fungsi pertahanan dan keamanan; dan (3) Pembangunan infrastruktur. Dari ketiga pandangan tersebut, terlihat bahwa pembangunan infrastruktur merupakan salah satu fungsi penting negara untuk meningkatkan output perekonomian.

Pembangunan Infrastruktur direpresentasikan melalui : (1) Peningkatan produktivitas; (2) Penurunan biaya marjin (biaya transportasi); dan (3) Peningkatan stok kapital (PT. Sarana Multi Infrastruktur (Persero), (2006).

Peningkatan produktivitas adalah peningkatan output yang disebabkan oleh pembangunan/pengembangan sarana infrastruktur. Dalam hal ini tidak termasuk peningkatan output yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan atau faktor lain seperti peningkatan sarana-sarana. Misalnya peningkatan produktivitas transportasi, diukur dari pengembangan infrastruktur sektor transportasi seperti pertambahan panjang jalan, perbaikan kualitas jalan, penambahan panjang jembatan,

pengembangan/pembangunan bandar udara dan sarana penunjangnya, penambahan panjang rel kereta api dan sarana penunjangnya. Peningkatan output karena pertambahan jumlah sarana transportasi seperti mobil, kereta api, pesawat udara, kapal laut dan sarana transportasi lainnya tidak termasuk dalam kategori peningkatan produktivitas infrastruktur.

Penurunan biaya transportasi diuwujudkan sebagai akibat dari pengembangan dan pembangunan infrastruktur transportasi seperti jalan raya, infrastruktur perkeretaapian, infrastruktur pelabuhan dan infrastruktur bandar udara. Pengembangan infrastruktur ini berpengaruh pada penurunan biaya marginal transportasi.

Peningkatan stok kapital adalah peningkatan modal atau anggaran yang akan digunakan dalam pembangunan infrastruktur. Fokus kapital disini adalah keterbatasan anggaran pemerintah dalam membiayai pembangunan infrastruktur, sehingga dalam pengalokasiannya harus hati-hati dengan memperhatikan azas manfaat (benefit) yang akan disumbangkan oleh infrastruktur yang dibangun terhadap perekonomian.

Penilaian The Global Competitiveness Index (2011), Infrastruktur dimasukkan dalam pilar kedua penilaian, Indonesia hanya berada pada peringkat ke-83 dari 139 negara dengan skor 3,6 dari skor 1 sampai 7. Sedangkan untuk kualitas jalan raya (quality of roads) Indonesia hanya berapa pada peringkat 84 dari 139 negara dengan skor 3,7. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan infrstruktur jalan raya di Indonesia masih jauh tertinggal.

Investasi bidang jalan sangat ditentukan oleh tingkat kelayakan investasi, yang secara umum dapat ditinjau dari 3 aspek utama, yaitu aspek teknis, aspek ekonomi/ finansial dan aspek lingkungan. Aspek teknis perlu dipastikan apakah koridor yang akan dilewati memungkinkan untuk dibangun prasarana jalan secara mudah dan murah, serta memenuhi standar teknis yang dipersyaratkan. Aspek ekonomi/finansial pada umumnya terkait dengan perhitungan biaya dan manfaat investasi yang akan dilakukan. Investasi bidang jalan pada umumnya dilakukan dengan prinsip ”ship follows trade”, yaitu pembangunan jalan dilakukan apabila ada kepastian demand terhadap keberadaan jalan yang akan dibangun, yang ditunjukkan dengan volume lalu lintas atau aktifitas perekonomian wilayah yang ada atau diperkirakan akan tumbuh di kawasan koridor rencana pembangunan jalan. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari adanya unsur spekulasi dan terjadinya resiko kerugian akibat penyediaan prasarana jalan yang tidak tepat, baik dari penetapan lokasi maupun waktu pelaksanaannya.

Pada kawasan-kawasan yang relatif baru berkembang, pada umumnya kelayakan ekonomi maupun finansial sulit dipenuhi, karenanya penyediaan prasarana lebih bersifat perintis untuk mendorong pengembangan wilayah ataupun membuka daerah-daerah terisolir. Pada kasus seperti ini, peran pemerintah lebih dominan khususnya dalam konteks tugas pemerintah untuk memenuhi kewajiban pelayanan publik. Sebaliknya pada kawasan perkotaan yang sudah berkembang, pembangunan prasarana pada umumnya dapat lebih layak secara ekonomi maupun finansial, bahkan

sudah menjadi tuntutan kebutuhan kawasan, sehingga tingkat keterlibatan pihak swasta lebih tinggi.

2.7.2 Strategi Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Tantangan utama Indonesia dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur adalah keterbatasan dana (financial gap) antara kemampuan menyediakan dana dan kebutuhan dana untuk pembangunan infrastruktur. Berdasarkan data Bappenas, kebutuhan pembiayaan infrastruktur setiap tahun idealnya minimal 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan target pertumbuhan ekonomi 6,2 persen dan nominal PDB Rp 6.718,3 triliun pada tahun 2011, kebutuhan dana infrastruktur sebesar Rp 335,9 Triliun. Kebutuhan pembiayaan infrastruktur dengan asumsi 5 persen dari PDB setiap tahun dan target pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 7 persen, maka kebutuhan dana infrastruktur tahun 2010 s.d. 2014 mencapai Rp 1.924 Triliun, sedangkan kemampuan pemerintah hanya sebesar Rp 560 Triliun atau 29,11 persen. Kekurangan pendanaan sebesar Rp 1.041 Triliun diharapkan berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta dan pemerintah daerah, namun demikian masih terdapat kekurangan pendanaan sebesar Rp 323 Triliun (Harian Umum Kompas, tanggal 21 April 2011; hal. 1 dan hal. 15). Besarnya financial gap

tersebut tidak terlepas dari rendahnya realisasi investasi di Indonesia. Berdasarkan data di atas, kemampuan pemerintah untuk membiayai infrastruktur hanya sebesar 0,49 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), bandingkan dengan investasi infrastruktur di negara-negara maju yang mencapai 5 persen s.d. 6 persen dari PDB. Perbandingan lainnya adalah Pemerintah China menargetkan membangun 1.000 km

jalur rel kereta api per tahun. Amerika Serikat menginvestasikan Rp 300 Triliun per tahun untuk kereta api. Sedangkan Indonesia hanya mampu mengalokasikan Rp 4 Triliun per tahun untuk kereta api (Harian Kompas, 21 April 2011; hal. 1 dan hal. 15).

Pada bulan April 2010, ketika Indonesia menjadi tuan rumah, Asia-Pacific Ministerial Conference on Public-Private Partnership (PPP), Pemerintah menawarkan 30 proyek infrastruktur transportasi yang potensial dikerjasamakan dengan pihak swasta dengan nilai total US$ 11 milyar. Pada kesempatan tersebut, pemerintah juga menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia terkendala dengan keterbatasan pendanaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur transportasi

Dokumen terkait