BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Pengembangan Hipotesis
2.3.1 Auditor Industry Specialization
Ada beberapa alasan suatu perusahaan memberikan informasi ke pasar modal. Salah satunya adalah untuk mengurangi asimetri informasi. Semakin rendah asimetri informasi maka semakin tinggi likuiditas pasar dari perusahaan tersebut. Untuk mendukung hal tersebut maka disini dibutuhkan peran auditor untuk mengaudit laporan keuangan yang digunakan sebagai media penyampaian informasi agar informasi yang disajikan baik. Semakin baik informasi menunjukkan kualitas audit yang baik juga.
Menurut Andreas (2010) auditor memiliki fungsi sebagai pihak yang memberikan kepastian terhadap integritas angka-angka akuntansi yang dihasilkan di dalam laporan keuangan. Pengetahuan yang harus dimiliki oleh auditor tidak hanya pengetahuan mengenai pengauditan dan akuntansi, melainkan juga industry klien.
Auditor dengan spesialisasi industri dipandang sebagai auditor yang memberikan audit dengan kualitas tinggi karena memiliki pengetahuan tentang industri tertentu dan juga dapat mengaudit lebih efisien melalui spesialisasinya. Auditor spesialisasi industri memberikan kontribusi positif terhadap kredibilitas auditor. Seorang auditor akan lebih baik dalam mendeteksi kesalahan jika mereka diberikan tugas audit sesuai dengan spesialis mereka sehingga dapat meminimalisasi terjadinya asimetri informasi.
Penelitian sebelumnya menemukan adanya hubungan positif antara auditor spesialis dengan kualitas audit. Owhoso (2002) yang dikutip dalam jurnal Indria (2011) menjelaskan “bahwa manajer dan senior audit spesialis akan lebih baik dalam mendeteksi terjadinya kesalahan jika mereka diberikan tugas audit sesuai dengan spesialisasi mereka”.
Atas dasar paparan diatas, maka hipotesis pertama dalam penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
H1 : Auditor Industry Specialization berpengaruh terhadap kualitas
audit.
2.3.2 Audit Tenure
Manajer (agent) sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan
datang dibandingkan pemilik (principals). Ketimpangan informasi ini biasa disebut sebagai asymetri information. Baik pemilik maupun agen diasumsikan mempunyai rasionalisasi ekonomi dan semata-mata mementingkan kepentingannya sendiri. Agen mungkin takut mengungkapkan informasi yang tidak diharapkan oleh pemilik, sehingga terdapat kecenderungan untuk memanipulasi laporan keuangan tersebut. Berdasarkan asumsi tersebut, maka dibutuhkan pihak ketiga yang independen untuk menjembataninya, dalam hal ini adalah akuntan publik (auditor).
Hal utama yang mendukung adanya hubungan negative antara lamanya penugasan audit dengan kualitas audit yaitu erosi independensi yang mungkin mucul akibat tumbuhnya hubungan pribadi antara auditor dengan kliennya dan semakin lamanya penugasan audit, kapabilitas auditor untuk bersikap kritis akan berkurang karena auditor sudah terlalu familiar. Auditor harus menyadari berbagai tekanan yang bermaksud mempengaruhi perilakunya dan sedikit demi sedikit akan mengurangi independensinya. Hubungan pribadi yang semakin panjang akan memunculkan ikatan loyalitas atau emosi yang akan mempengaruhi independensi dan objektivitas auditor. Kondisi yang paling ekstrem yaitu timbulnya familiaritas berlebihan yang akan mendorong terjadinya kolusi antara auditor dengan klien.
Terlepas dari hubungan negatif lamanya penugasan audit juga dapat memberikan hubungan positif. Fitriany (2011) dalam jurnal Indria (2011) “menyatakan bahwa kualitas audit akan meningkat seiring dengan bertambahnya tahun perikatan (tenure) audit. Hal ini dikarenakan auditor akan mendapatkan pengalaman lebih banyak dan menjadi lebih familiar dengan bisnis operasi kliennya serta isu-isu terkait”.Lamanya penugasan
audit dapat meningkatkan kualitas audit dengan berbagai alasan dan pengetahuan tentang klien dan industri yang diperoleh setelah audit selama berulang-ulang akan meningkat, sehingga dapat meningkatkan kualitas audit.
Atas dasar paparan diatas, maka hipotesis kedua dalam penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
H2 : Audit Tenure berpengaruh terhadap kualitas audit.
2.3.3 Ukuran Perusahaan
Selain oleh efek ukuran KAP, kualitas audit juga dapat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan Klien. Auditee yang lebih besar, karena kompleksitas operasi mereka dan peningkatan pemisahan antara manajemen dan kepemilikan, sangat memerlukan KAP yang dapat mengurangi agency cost dan ancaman kepentingan pribadi auditor.
Selain itu, menurut (Palmrose, 1984) dalam Sinaga (2012) “seiring dengan ukuran perusahaan mengalami peningkatan, kemungkinan bahwa jumlah konflik agensi juga meningkat dan ini mungkin akan meningkatkan permintaan untuk membedakan kualitas auditor”. Berdasarakan argumen tersebut, perusahaan besar pastinya akan lebih memilih menggunakan jasa auditor besar yang independen dan profesional untuk menciptakan audit yang berkualitas sehingga timbul hubungan yang positif.
Perusahaan besar memiliki sistem pengendalian internal yang lebih baik dibandingkan perusahaan kecil. Dari sudut pandang Perceived Quality, ketika baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil memperoleh tingkat kepercayaan yang sama dari pengguna laporan keuangan bahwa laporan keuangan mereka telah bebas dari salah saji material, bagi perusahaan kecil tingkat kepercayaan ini menjadi lebih efektif. Outcome yang diperoleh perusahaan kecil ketika output (kepercayaan pengguna laporan keuangan) telah dicapai lebih besar dibandingkan perusahaan besar. Bagi perusahaan kecil, kepercayaan pengguna laporan keuangan bukan hanya mampu mempromosikan investasi mereka, namun tentu saja membuat perusahaan mereka lebih diperhatikan publik dan investor. Sedangkan, bagi perusahaan besar yang sudah menjadi perhatian dan sorotan publik, tingkat kepercayaan ini hanya membantu dalam mempromosikan investasi. Sehingga dari sudut pandang
Perceived Quality, jasa audit pada perusahaan kecil lebih berkualitas dibandingkan dengan perusahaan besar dan tercipta hubungan negatif.
Berdasarkan pemaparan dan perbedaan perspektif diatas, maka hipotesis ketiga dapat dinyatakan sebagai berikut :
H3 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas audit
2.3.4 Independensi Auditor
Standar Umum kedua dalam SA seksi 220 menyatakan “Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor”. Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan perkerjaannya untuk kepentingan umum.
Tidak hanya soal kompetensi, auditor dituntut untuk senantiasa mempertahankan sikap mental independen di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, dan tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.
Menurut Mulyadi (2002:62) “sikap mental independen tersebut harus meliputi independen dalam fakta (in fact) dan independen dalam penampilan (in appearance)”. Independence in fact menuntut auditor agar
membentuk opini dalam laporan audit seolah-olah auditor itu pengamat profesional, tidak berat sebelah. Independence in appearance menuntut auditor untuk menghindari situasi yang dapat membuat orang lain mengira bahwa dia tidak mempertahankan pola pikiran yang adil.
Selain harus mampu mempertahankan sikap mental independen, auditor juga diharapkan sebisa mungkin menghindari keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan independensinya. Dengan demikian, disamping auditor harus benar-benar independen, ia masih juga harus menimbulkan persepsi di kalangan masyarakat bahwa ia benar-benar independen. (Mulyadi, 2002:27).
Terlepas dari banyaknya ancaman dan fenomena yang dapat mempengaruhi independensinya, seorang auditor harus mampu bersikap profesional sehingga terjaminnya independensi dengan sendirinya juga menciptakan kualitas audit yang lebih baik.
Namun dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh Lauw Tjun Tjun dkk yang dilakukan di KAP Jakarta menghasilkan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan independensi auditor dengan kualitas audit yang dihasilkan. Di sisi lain, penelitian tersebut bertentangan dengan pendapat De Angelo bahwa kemungkinan dimana auditor akan melaporkan salah saji tergantung pada indenpendensi auditor.
Berdasarkan pemaparan dan perbedaan perspektif diatas, maka hipotesis ketiga dapat dinyatakan sebagi berikut:
H4 : Independensi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit.
H5 : Auditor industry specialization, audit tenure, ukuran perusahaan,